Nabi Yusuf dan Istri Pembesar (Sebuah Renungan), bag 1


Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Harist

Surat Yusuf termasuk di antara surat-surat yang nyata-nyata mengandung sejumlah kisah ujian dan cobaan. Di dalam surat ini pula kita melihat sejelas-jelasnya bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Di dalam perjalanan kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam terdapat pula berbagai pelajaran dan tanda-tanda keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bagi mereka yang mau bertanya serta mencari petunjuk dan bimbingan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ ءَايَاتٌ لِلسَّائِلِينَ

“Sesungguhnya ada beberapa tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (Yusuf: 7)

Awal kisah ini bermula dari sejak Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjejakkan kakinya di bumi Mesir, jauh dari kampung halamannya, jauh dari ayah, ibu, dan saudara-saudaranya. Diperjualbelikan sebagai budak belian, hingga jatuh ke tangan seorang pembesar Mesir.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لِامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ. وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ ءَاتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ. وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ. وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ. وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ. فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ. يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ. وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ. فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَءَاتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ وَءَاتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ. قَالَتْ فَذَلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا ءَامُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونَنْ مِنَ الصَّاغِرِينَ. قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ. فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّى حِينٍ

Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.” Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Rabbnya. Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” Yusuf berkata: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (Hai) Yusuf: “Berpalinglah dari ini dan (kamu hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.” Dan wanita-wanita di kota berkata: “Istri Al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” Wanita itu berkata: “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.” Yusuf berkata: “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai suatu waktu.”

Sebagian ulama menceritakan bahwa pembesar itu adalah salah seorang menteri raja yang tidak mempunyai anak. Sebagian lagi mengatakan bahwa dia seorang kebiri (kasim, sida-sida), tidak menyentuh wanita. Pembesar tersebut membeli Nabi Yusuf ‘alaihissalam untuk istrinya agar menjadi pelayannya. Inilah salah satu alasan dia membeli Nabi Yusuf ‘alaihissalam untuk istrinya. Adapun alasan lainnya, karena ketika itu usia Nabi Yusuf ‘alaihissalam masih kecil, sehingga perlu perhatian. Sementara tidak ada yang dapat memberi perhatian dan asuhan selayaknya untuk anak seusia itu kecuali seorang wanita (ibu).

Sesungguhnya godaan wanita yang dialami Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah cobaan paling besar yang beliau hadapi dalam hidup beliau. Hal itu karena banyaknya faktor yang mendukung untuk terjadinya kekejian antara seorang laki-laki dengan perempuan. Padahal satu saja dari beberapa faktor tersebut sudah cukup untuk menjerumuskan sepasang pria dan wanita ke dalam kehinaan tersebut. Sementara faktor yang ada di sekitar Nabi Yusuf dan istri pembesar itu sendiri justru sangat banyak.

Semua itu, berangkat dari ketertarikan kepada rupa atau bentuk (shuurah). Sementara di dalamnya terdapat berbagai kerusakan yang dapat terjadi saat itu juga atau pada suatu ketika. Karena sesungguhnya ketertarikan kepada rupa atau bentuk itu dapat merusak hati. Dan apabila hati sudah rusak, maka rusak pula kehendak (niat), ucapan dan perbuatan. Selanjutnya, rusak pula pos-pos tauhid.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisahkan kepada kita tentang ketertarikan istri pembesar itu kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam, rayuan berikut tipu dayanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menceritakan tentang keadaan yang dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam karena sifat ‘iffah, kesabaran, dan ketakwaannya. Padahal cobaan yang dihadapi oleh beliau ini, adalah keadaan yang tidak seorang pun dapat bersabar menghadapinya kecuali orang yang diberi kesabaran oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apalagi terjadinya sebuah perbuatan sesuai dengan kuatnya dorongan dan tidak adanya penghalang untuk bertindak. Sedangkan keadaan yang dialami beliau sangat kuat pendorongnya, yaitu:

1. Naluri laki-laki yang suka kepada wanita, seperti orang yang sedang kehausan membutuhkan air dan orang kelaparan yang ingin makan. Bahkan kebanyakan laki-laki, mampu bersabar untuk tidak makan dan minum, tetapi tidak sabar dari kaum wanita. Namun, naluri ini tidaklah tercela, apabila diletakkan pada tempat yang halal, bahkan dipuji.

2. Kondisi Nabi Yusuf ‘alaihissalam sebagai seorang pemuda gagah yang rupawan, sedangkan syahwat seorang pemuda sangat kuat.

3. Keadaan beliau yang masih jejaka, belum pernah menikah, dan tidak pula mempunyai budak perempuan untuk menyalurkan hasratnya.

4. Beliau berada di negeri asing, yang memungkinkan seseorang yang jauh dari negeri asalnya melampiaskan sesuatu yang tidak mungkin dilakukannya di tanah kelahirannya, di antara sanak keluarganya dan orang-orang yang mengenalnya.

5. Wanita yang merayunya itu memiliki kedudukan dan kecantikan. Padahal salah satunya saja, sudah cukup mengundang laki-laki untuk menggaulinya.

6. Wanita itu tidak mencegah dan menolak. Biasanya, banyak laki-laki yang padam keinginannya karena ada penolakan dan ketidaksukaan dari si wanita, karena dia merasa hina dan tunduk serta mengemis kepada wanita itu. Meski banyak pula dengan adanya ketidaksukaan dan penolakan dari wanita itu justru semakin menambah syahwat dan keinginannya. Seperti diungkapkan:

وَزَادَنِي كَلَفًا فِي الْحُبِّ إِن ْمُنِعْتُ
أَحَبُّ شَيْءٍ إِلَى الْإِنْسَانِ مَا مُنِعَا
Semakin besar cintaku kalau aku dihalangi
Yang paling dicintai seseorang adalah apa yang terhalang

7. Wanita itu meminta, menginginkan, dan membujuk serta mengusahakan dengan sungguh-sungguh. Sedangkan Nabi Yusuf ‘alaihissalam tidak demikian. Beliau justru dalam keadaan mulia serta diharapkan.

8. Nabi Yusuf ‘alaihissalam tinggal di rumah wanita itu, di bawah kekuasaannya dan ada kekhawatiran akan disiksa bila tidak menuruti kemauannya. Sehingga terkumpullah pada beliau dorongan keinginan sekaligus adanya rasa takut.

9. Beliau tidak khawatir wanita itu akan menceritakan perbuatannya, bahkan tidak satu pun dari pihak wanita itu, sebab wanita itulah yang memiliki keinginan dan tuntutan. Bahkan dia telah mengunci semua pintu, serta pengawas pun tidak ada.

10. Secara lahiriah Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah budak yang dimiliki oleh wanita itu. Beliau keluar-masuk rumah bersama wanita itu, tak seorang pun mengingkarinya. Apalagi kedekatan serta kebersamaan adalah awal sebuah keinginan, dan ini termasuk pendorong yang sangat kuat.
Sebagaimana pernah ditanyakan kepada seorang wanita Arab bangsawan, mengapa dia berzina? Kata wanita itu: “Dekatnya jarak dan panjangnya malam.” Artinya, karena dekatnya laki-laki itu kepadaku dan panjangnya malam yang kami lalui.

11. Wanita itu mengancam Nabi Yusuf ‘alaihissalam akan dipenjarakan dan dihinakan. Ini termasuk pemaksaan. Karena hal tersebut adalah ancaman dari orang yang besar kemungkinannya melaksanakan ancaman tersebut, sehingga menyatu dalam diri Nabi Yusuf ‘alaihissalam dorongan syahwat dan keinginan selamat dari penjara serta kehinaan.

12. Suami wanita itu tidak menampakkan rasa cemburu dan kejantanan yang mendorongnya memisahkan wanita itu dan Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Bahkan perkataannya yang paling tinggi ditujukan kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam hanyalah sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَعْرِضْ عَنْ هَذَا
“Berpalinglah dari ini.”
Sedangkan kepada istrinya dia mengatakan sebagaimana dalam ayat:
وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ
“Dan (kamu hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.”
Padahal, besarnya kecemburuan seorang suami termasuk penghalang paling besar terjadinya penyelewengan seorang istri, namun ternyata hal itu tidak terlihat dari suami wanita tersebut.

Akan tetapi, dengan segala faktor pendorong ini, ternyata Nabi Yusuf ‘alaihissalam lebih mengutamakan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasa takut kepada-Nya. Cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mendorong beliau untuk memilih penjara daripada zina. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ
Yusuf berkata: “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.”

Semua ini mendekatkan kepada kita bentuk kesabaran yang dijalani oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan memberikan bekal serta pelajaran dasar kepada kita dimana beliau terdidik di atasnya. Bahkan itu semua menjadi salah satu alasan ketegaran beliau. Sebab, tidak mungkin akan dapat menahan diri dalam situasi seperti ini mereka yang terbiasa membiarkan dirinya berkecimpung di mana saja dia mau lalu baru berangan-angan untuk tabah (menahan diri).

Dengan semua faktor tersebut, Nabi Yusuf ‘alaihissalam lebih memilih kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersabar sehingga beliau memperoleh kebahagiaan, kemuliaan di dunia dan surga di akhirat. Kesabaran yang beliau rasakan menghadapi godaan wanita ini jauh lebih berat daripada kesabaran yang beliau alami ketika berada dalam sumur. Beliau lebih memilih penjara daripada menuruti keinginan istri pembesar itu demi mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan takut akan siksa-Nya.

Karena itu pula betapa agung kedudukan mereka yang mampu menahan dirinya dari kehinaan karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang salah satu dari tujuh golongan yang dinaungi Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam naungan yang tidak ada lagi naungan pada hari itu selain naungan-Nya:

رَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتَ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافَ اللهُ
“Laki-laki yang diajak oleh seorang wanita bangsawan dan cantik, tapi dia berkata: ‘Aku takut kepada Allah’.”

Akhirnya beliau menjadi pembesar negara, sedangkan istri pembesar itu menjadi seperti budak di sisi beliau. Karena itu, orang yang cerdik hendaknya jeli memandang setiap persoalan dan tidak mengedepankan kesenangan sesaat daripada kesenangan abadi.

Siapa yang sabar memelihara farji-nya, niscaya tidak akan digunakannya kecuali pada tempat-tempat yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala demi mengamalkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (Al-Mu’minun: 5-6)

Karena dengan cara itu dia akan selamat dari zina dan liwath (homo) serta terjamin pula selamatnya kehormatan dirinya dari kesia-siaan.
Dalam kisah ini, Nabi Yusuf ‘alaihissalam sama sekali tidak melakukan dosa apapun. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menyebutkan satu dosa dari salah seorang Nabi-Nya melainkan Dia sertakan pula istighfar Nabi tersebut. Dalam surat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebutkan adanya istighfar dari Nabi Yusuf ‘alaihissalam, tidak pula menceritakannya di awal terjadinya peristiwa tersebut bersama istri pembesar. Dari sini jelaslah bahwa beliau tidak pernah berbuat dosa. Bahkan yang ada hanyalah sekadar keinginan yang beliau tinggalkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga beliau memperoleh pahala karenanya.

Di dalam kisah istri pembesar ini terdapat pelajaran berharga, di antaranya:
1. Apabila cinta melampaui batasan syariat, niscaya menimbulkan mudharat, baik terhadap yang mencinta maupun yang dicintai.
2. Bagi yang mencinta, maka cinta seperti itu akan menghilangkan akalnya sehingga muncul berbagai tindakan yang tidak benar; resah, gelisah, lalai, seolah-olah dia tidak hidup di atas dunia ini. Demikianlah yang pernah dinukil, bahwa cinta itu kalau bukan sihir maka dia adalah sekelumit kegilaan. Sementara kegilaan itu beraneka ragam bentuknya. Wallahul musta’an.

Dalam sebuah hadits disebutkan pula:
أحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْناً مَا، عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْماً مَا. وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْناً مَا، عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْماً مَا
“Cintailah orang yang kau cintai sedang-sedang saja, boleh jadi suatu ketika dia menjadi yang paling kau benci. Bencilah orang yang kau benci sedang-sedang saja, karena bisa jadi suatu ketika dia menjadi yang paling kau cintai.”1

3. Di dalam kisah ini kita lihat betapa berbahayanya berduaan (khalwat) dengan wanita yang bukan mahram. Karena itu pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:
إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ
Janganlah kamu masuk kepada kaum wanita (yang bukan mahram/istri). Seorang sahabat Anshar bertanya: “Bagaimana pendapat anda tentang al-hamwu (kerabat suami, anak paman, dan sebagainya).”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Al-Hamwu adalah maut (kematian).” (Muttafaqun ‘alaihi)

Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullahu ketika menukil keterangan tentang hadits ini, mengatakan: “Yang dimaksud adalah bahwa berdua dengan al-hamwu ini, akan menggiring pada kehancuran agama kalau terjadi maksiat. Dan membawa kepada kematian kalau terjadi maksiat yang mengharuskan adanya rajam. Atau kehancuran bagi si wanita karena dicerai oleh suaminya, apabila dia terdorong oleh kecemburuannya.”
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu mengatakan, “Sebenarnya yang dimaksud adalah bahwa berduaan dengan kerabat suami lebih sering terjadi daripada dengan yang lainnya, dan kejahatan yang mungkin terjadi pun lebih sering daripada dengan yang lain. Bahkan fitnah juga demikian. Semua itu karena adanya kesempatan dan kemungkinan dia berhubungan dan berduaan dengan wanita tersebut tanpa ada pengingkaran dari orang lain. Berbeda halnya dengan ajnabi (bukan mahram, bukan suami).” Wallahu a’lam.

Keadaan seperti inilah yang dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Tidak ada orang yang mengingkari, karena status beliau adalah budak bagi keluarga tersebut. Atau anak angkat mereka. Sehingga apa yang hendak dilakukan wanita itu kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam, juga tidak dipedulikan orang. Namun, keimanan dan ketakwaan yang ada di dalam diri Nabi Yusuf ‘alaihissalam, memelihara beliau untuk tidak menuruti keinginan wanita tersebut.

Lantas, setelah Nabi Yusuf ‘alaihissalam siapakah lagi yang selamat dari fitnah wanita dan mampu menahan diri (bersabar) dari perbuatan keji (zina)? Apalagi dengan kondisi seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam? Terlebih di zaman yang banyak terjadi perbuatan keji yang dikemas dengan label agama? Wallahul Musta’an.

Berbagai buku cerita tentang kisah “kasih” sepasang anak manusia begitu laris digelar. Dengan berbagai versi, lakon, dan latar belakang. Bahkan tidak segan-segan pula dipenuhi dengan berbagai dalil dari ayat Al-Qur’an atau hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya, tertipulah orang-orang yang tertipu dan senantiasa mementingkan syahwat dunianya. Mereka anggap itulah ajaran Islam. Wallahul Musta’an.
(Insya Allah bersambung)

1 HR. At-Tirmidzi dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 178 dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Dinukil dari: http://asysyariah.com/print.php?id_online=908

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s