Hukum Sekolah Formal (Berijazah)


Tanya:

Bismillah,ana ingin bertanya bagaimana hukum menyekolahkan anak-anak seperti (SD-SMU,Perguruan tinggi) jazakumullah khairan katsiro!
“Jumroni” <auni_zumronh@yahoo.com>

Jawab:
Selama sekolah tersebut mengajarkan hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariat dan juga tidak ada maksiat dalam proses belajar mengajarnya, maka tidak ada dalil yang melarang untuk bersekolah di sekolah formal. Karenanya para ulama besar di zaman ini, seperti Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Al-Albani, Asy-Syaikh Muqbil, Asy-Syaikh Abdul Muhsin, dan selainnya, mereka semua adalah para ulama yang mengenyam pendidikan formal.

Masalah pengharaman sesuatu adalah masalah yang berat maka hendaknya seorang muslim berhati-hati dalam mengharamkan sesuatu. Karena mengharamkan sesuatu yang halal tidaklah lebih kecil dosanya dibandingkan menghalalkan sesuatu yang haram. Karenanya Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari -hafizhahullah- telah memfatwakan -pada daurah JOGJA tahun 2009 kemarin- bolehnya sekolah formal (berijazah) dengan persyaratan yang tersebut di atas, ini sebagaimana yang sebagian asatidz -yang mendengar langsung ucapan beliau- kabarkan kepada kami.

Adapun kritikan sebagian orang terhadap sekolah formal berbasis islam dengan alasan adanya ijazah, maka berikut jawaban Al-Ustadz Zulqarnain -hafizhahullah- dari milis An-Nasihah (5 april 2009):
Bismillah,
Saya tidak mengerti dari mana sumber pegangan orang-orang yang mensyaratkan bahwa sekolahan tidak boleh memakai ijazah, apalagi menjatuhkan vonis hizbiyah terhadapnya. Kalau hal tersebut benar, maka betapa banyak dari ulama kita yang menyandang gelar ilmiyah; doktor, master, dan selainnya yang terkena vonis hizbiyah. Dan betapa banyak ulama yang pernah mengajar di universitas islam yang terkemuka, seperti syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Albany, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Rabi’ dan selainnya yang akan dianggap mengajar di tempat hizbiyah lantaran universitas tersebut memberi ijazah dan mensyaratkan ijazah untuk masuk.

Masalah foto untuk masuk sekolah, itu adalah kebijaksanaan dan kemashlahatan yang dipandang sesuai dengan kebutuhan dan keadaan, baik dari sisi keamanan, pewajiban dari pemerintah atau selainnya. Hal ini adalah hal yang dimaklumi dan masih difatwakan sejumlah ulama kita.

Maka Ana sangat heran melihat sebagian ikhwah yang terlalu cepat menjatuhkan vonis hizbiyah terhadap saudara-saudaranya sendiri yang berjalan di atas manhaj salaf, apalagi ustadz-ustadz mereka sendiri.

Hendaknya setiap orang menjaga lisannya dan mengetahui bahwa ucapan seperti itu bisa memberi dampak negatif terhadap dakwah sehingga dia harus menanggung dosa dari perbuatan yang dia lakukan.
Siapa yang ada nasehat untuk saudara hendaknya dia sampaikan dengan hujjah yang benar dan berbaik sangka kepada mereka.
Semoga Allah memberi taufiq-Nya kepada kita semua.
Wallahu A’lam

=====================

Ummu Muhammad said:
February 3rd, 2010 at 9:53 am

Subhanalloh…. jazakallohu khoir ya Ustadz Abu Muawiah… hati ana begitu lega dengan jawab antum atas pertanyaan ini.
Ada yang masih mengganjal dalam hati ana … bagaimana dengan keadaan dibawah ini :
– sekolah tsb sejak TK sudah dipisah antara bannin wa bannat
– Mulai SMP sudah diwajibkan bercadar bagi siswi akhwat namun diijinkan bila usia klas 5 atw 6 SD siswi tsb ingin menggenakan cadar
– sekolah tsb menitik beratkan kepada aqidah
– Tidak ada upacara bendera dsb. Allohu a’lam dengan acara ke-bid’ahan, apakah mereka melakukan atau tidak ana belum tau.

NAMUN… mengenai manhaj, disana campur aduk.
Bagaimana Ustadz ?

Barokallohu fiik ya Ustadz Abu Muawiah…

Jawab:

Wallahu a’lam

Kalau memang sudah dipastikan ajaran aqidah yang ada di dalamnya sesuai dengan aqidah ahlussunnah dan tidak ada penyimpangan lain dalam materinya, maka -wallahu a’lam- kami tidak mengetahui adanya larangan dalam masalah ini. Tapi tentunya tetap dengan catatan bahwa kita tidak berhubungan dengan sekolah tersebut dan tidak pula memberikan dukungan kecuali sebatas apa yang seharuskan dilakukan oleh wali murid.

Karena mereka dalam hal ini adalah penjual jasa (pendidikan) dan kita sebagai pemakainya (pembelinya). Dan sebagaimana diperbolehkan berjual beli barang dengan orang2 yang kurang bagus aqidahnya -sebagaimana dibolehkan jual beli dengan orang kafir- selama kekurang bereasan aqidah dan kekafirannya tidak berkaitan dengan barang dagangannya, maka tentunya diperbolehkan pula jual beli jasa selama jasa yang dia tawarkan tidak berhubungan dengan ketidakberesan manhaj dan aqidahnya.

Catatan:

Ini semua hanya dalam masalah boleh tidaknya. Adapun dari sisi afdhaliah maka tentunya mencari sekolahan yang beraqidah lurus dengan terpenuhi semua syarat di atas, itu lebih utama. Dan kami mengakui dan memaklumi keadaan ikhwan salafiyin terkhusus di daerah jabodetabek dan semacamnya, dimana sekolahan yang bersih dari maksiat yang disertai lurusnya aqidah adalah hal yang sangat sulit ditemukan. Kalaupun ada maka mungkin baru sampai taraf SD (atau bahkan belum sampai kelas 6), sementara banyak di antara mereka yang anaknya sudah harus masuk SMP.

Ini tentunya sebagai tantangan bagi kita semua yang menghendaki kebaikan bagi putra-putrinya untuk bahu membahu dalam mewujudkan pendidikan yang islami lagi beraqidah yang bersih.
Wallahul musta’an ala dzalik wahuwa yahdi ila sawais sabil

============================

Ahmad said:
February 8th, 2010 at 11:34 am

Assalamu’alaikum..
Afwan ustadz,kalau yg dimaksud dg tdk ada kemaksiatan didalamnya adalah tidak ikhtilat,guru dan murid wanitanya berhijab yg syar’i dstny,maka mencari sekolah formal yg sprt itu -terutama ditempat ana-kayaknya mustahil.seperti mencari jarum ditumpukan jerami..
Mungkinkah ada sekolah SD,SMP,SMA yg mau menerima murid wanita yg mengenakan hijab yg syar’i? Wallahulmusta’an

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullah
Ia memang itu yang dimaksud, yakni sekolah yang tidak terjadi ikhtilath antara lelaki dan wanita di dalamnya. Tidak adanya sekolah yang seperti itu (syar’i) tidak menjadikan kita berkeluh kesah apalagi sampai menyatakannya darurat, karena pada dasarnya mempelajari ilmu dunia tidaklah wajib dan tidak pula sunnah tapi mubah. Karenanya saya katakan hal ini merupakan tantangan bagi kita semua untuk mewujudkannya. Wallahul musta’an.

=======================

Husen said:
July 1st, 2010 at 9:48 pm

Bismillah
Assaalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Afwan ustad ana ingin bertanya :

1. Ana megelola sebuah lembaga pendidikan anak – anak (TK Islam)dan supaya tidak ilegal akan di daftarkan ke pemerintahan/Badan pendidikan yag ada di daerah ana sehingga bisa di akui/terdaftar,karena kadang – kadang ada yang menanyakan statusnya terutama dari calon wali anak didik. yang agak menjadi ganjalan adalah biasanya klo sdh di daftarkan ke badan resmi dlm ijazahnya di tempelkan poto anak didik karena ijazahnya di kasih dari pemerintah.

2. Bolehkah mengambil pengajar dri luar salafy (muslimah)untuk mengajar pelajaran umum di karenakan dari kita kekurangan pengajar. tentunya setelah memenuhi syarat2 yg kita tentukan?
Jazakallah Khairan

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

1. Tidak ada masalah insya Allah, hal itu termasuk darurat dan dosanya ditanggung oleh yang mewajibkannya (pemerintah). Ini sama halnya dengan foto pada KTP atau SIM dan semacamnya.

2. Tidak ada masalah insya Allah, selama dia memang hanya mengurus pelajaran umum. Dan tentunya pemilik sekolah punya tanggung jawab mengenai keagamaan orang-orang yang berada di bawahnya. Karenanya, guru-guru juga hendaknya diberikan bimbingan agama yang benar.

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/?p=1820#more-1820

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s