ADAB BERPAKAIAN DAN BERHIAS:Hukum Memakai Ghamis, Jubah, Baju Koko, Baju Batik, dan Surban


Penulis: Al Ustadz Hammad Abu Muawiah

Allah -Ta’ala- berfirman :

“Wahai bani Adam, telah kami turunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi auratkalian dan juga perhiasan. Sedangkan pakaian takwa , demikian itu lebih baik. Demikian itu adalah salah satu dari ayat-ayat Allah, agar mereka mau mengingatnya. Wahai Bani Adam, janganlah sampai syaithan menimpakan fitnah kepada kalian sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga, dan meninggalkan pakaian mereka berdua sehingga auratnya tersingkap. Sesungguhnya syaithan, dia dan pengikutnya dapat melihat kalian dari tmepat yang kalian tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan para syaithan sebagai wali bagi orang-orang yang tidak beriman.“ ( Al-A’raf : 26 – 27 ).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiallahu ‘anhuma, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Makan, minum, bersedekah dan berpakainlah kalian tanpa berlebih-lebihan dan berbuat kesombongan” .

Di antara adab-adab mengenakan pakaian dan berhias : Wajibnya Menutup Aurat

  1. Haramnya Laki-laki Menyerupai Wanita Dan Wanita Menyerupai Laki-laki
  2. Haramnya Menyeret Kain Dengan Kesombongan
  3. Haramnya Pakaian Syuhroh (agar menjadi terkenal karena pakaian tersebut)
  4. Haramnya Emas Dan Sutra bagi Laki-laki Kecuali Ada Udzur
  5. Haramnya Wanita Menampakkan Perhiasannya Kecuali Kepada Mereka Yang Allah Kecualikan
  6. Haramnya Memakai Pakaian Yang Ada Padanya shalban (salib) atau gambar.
  7. Sunnahnya Memakai Pakaian Putih.
  8. Perhiasan Apa Saja Yang Haram Atas Wanita

*********************************************************************

Heriyanto said:
March 17th, 2009 at 7:30 am

Assalaamu’alaykum,
Ustadz, didalam Riyadhush shalihiin disebutkan dari Ummu Salamah, bahwa “Pakaian yang disukai oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam adalah pakaian gamis”. Apakah hadits ini shahih?

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullah. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkan haditsnya dalam tahqiq beliau terhadap kitab Mukhtashar Asy-Syama`il Al-Muhammadiyah karya Imam At-Tirmizi, pada hadits no. 46. Wallahu a’lam.

*********************************************************************

Rahmat Fansurna said:
June 7th, 2009 at 7:19 am

Assalammualaikum.wrwb,
Ustadz saya mau tanya, boleh ga laki-laki kelihatan keduabelah bahunya pada saat sholat?
karena saya penah ikut pengajian di masjid, di buku Ensiklopedi Islam karangan Ustadz Quraish Shihab, tidak sah sholatnya laki-laki yang keduabelah bahunya pada saat sholat.
Buat jawabannya aq ucapin Syukron Kasiiron Ustadz. Jazakallah, Wassalam

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullah. Ia itu benar. Nabi -shallallahu alaihi wasallam bersabda-, “Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian shalat dengan hanya menggunakan satu helai kain, tidak ada sesuatu yang menutupi bahunya.” HR. Al-Bukhari dan Muslim

*********************************************************************

Abu Muhammad Abdul Malik al Faqir said:
December 11th, 2009 at 6:00 am

Assalaamu’alaykum,
Ummu Salamah menyatakan: “Pakaian yang disukai oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam adalah pakaian gamis”.

Apakah hadits ini menunujkkan sunnahnya memakai pakaian gamis dan yang semisalnya?
Mohon penjelasan dari ustadz.

Baarokallaahu fiykum..

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullah.
Hadits Ummu Salamah di atas diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan selainnya.

Kalau hadits ini shahih maka itu menunjukkan disunnahkannya memakai qhamish, hanya saja yang dimaksud dengan qhamish di sini bukan terbatas pada gamis yang kita kenal sekarang, akan tetapi yang dimaksud dengan qhamis di sini adalah semua pakaian yang mempunyai dua lengan dan kantong, dan disebutkan dalam riwayat At-Tirmizi bahwa panjang lengan qhamis beliau adalah sampai ke pergelangan tangan. Adapun panjangnya maka lahiriah hadits-hadits yang ada serta ucapan para ulama menunjukkan bahwa disunnahkan panjangnya sampai ke pertengahan betis dan boleh juga di bawahnya selama tidak melewati mata kaki. Wallahu a’lam. Lihat Aun Al-Ma’bud: 11/47-49

*********************************************************************

Acha At-Tamini said:
January 30th, 2010 at 3:22 pm

Bismillah,

Assalamu’alaykum ustadz,

mengutip dari perkataan asy-Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah. Beliau Berkata Faqiihuz Zamaan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah,

“Apakah makna ittiba’ (meneladani sunnah) (dalam permasalahan pakaian) itu; mengikuti persis seperti apa yang dikenakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam? Ataukah mengikuti jenis yang beliau pakai (yakni beliau mengikuti adat kebiasaan manusia pada waktu itu)? Jawabnya adalah yang kedua, yaitu mengenakan pakaian yang menjadi adat kebiasaan manusia pada waktu itu. Oleh karenanya kami tegaskan bahwa, sunnah dalam hal ini adalah mengenakan pakaian yang menjadi adat kebiasaan manusia, sepanjang tidak haram. Namun jika ternyata yang dikenakan oleh kebanyakan manusia tersebut adalah sesuatu yang diharamkan, maka wajib untuk menjauhinya.” (Syarhu Hilyati Tholibil ‘Ilmi, hal. 118)

Salah satu faidah yang ana dapatkan, bahwa termasuk perkara penting yang insya Allah bisa lebih mendekatkan dakwah kepada ummat adalah penampilan dan cara berpakaian seorang da’i yang mengikuti adat kebiasaan masyarakat di sekitarnya, sepanjang itu tidak dosa dan tidak bertentangan dengan sifat muruah (menjaga kehormatan).

Apakah dengan faidah tsb, bisa ditetapkan bahwasanya di negri kita indonesia, dimana kebanyakannya orang memakai sarung ketika shalat, itu lebih mendekati sunnah dibanding memakai gamis, dimana kebanyakan orang masih merasa asing dan yg memakainya terkadang suka diliatin oleh orang2 kebanyakan dan terlihat beda sendiri ketika berada di masyarakat awam. Pengalaman pribadi ana, malah jd terkadang ada bisikan setan, menjadi diri merasa paling sholeh diantara kebanyakan orang. Padahal ilmu masih rendah.

Mohon penjelasannya ustadz.
Jazaakallaahu khairan wa barakallaahu fiik.

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Jazakallahu khairan atas nukilan di atas, sungguh ucapan tersebut menunjukka kefaqihan dan hikmah dari yang mengucapkannya -rahimahullahu Ta’ala-.

Seperti yang sudah dimaklumi bahwa jubah bukanlah sunnah secara mutlak, akan tetapi dia adalah sunnah jibilliyah, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama. Maksudnya adalah bahwa pakaian tersebut merupakan adat orang arab lalu Nabi r pun memakainya karena itulah pakaian manusia di zaman tersebut. Karenanya memakai jubah hanya menjadi ibadah dan mendapatkan pahala jika diniatkan untuk mengikuti Nabi  Sholalohu ‘Alaihi Wassallam dan hanya bernilai adat (tidak berpahala) jika tanpa diniatkan mengikuti Nabi Sholalohu ‘Alaihi Wassallam.

Adapun masalah pemakaian sarung dan jubah maka dikembalikan kepada hal di atas, tapi yang jelas termasuk kekeliruan jika yang berjubah menegur dan menyalahkan orang yang pakai sarung, karena selama pakaian itu menutupi aurat dan tidak menyerupai kaum kafir maka insya Allah hal itu diperbolehkan.

Kembali kepada masalah sarung dan jubah, yang mana yang lebih utama?
Kita katakan: Ini tentunya dikembalikan kepada setiap tempat dan daerah. Jika di tempat tersebut jubah masih asing maka sepantasnya dan lebih utama dia pakai sarung, dan demikian pula sebaliknya. Wallahu a’lam. Hanya saja yang butuh ditekankan di sini bahwa jubah bagi masyarakat indonesia secara umum -kecuali beberapa daerah- adalah hal yang sudah masyhur. Dari zaman pangeran diponegoro, imam bonjol, bahkan dalam sejarah wali songo yang ditayangkan di TV (terlepas dari benar tidaknya kisah tersebut) yang juga menampilkan pemerannya dengan berjubah, bahkan sampai di zaman ini para habaib dan juga kaum muslimin yang pulang dari haji, mereka semua mengenakan jubah. Maka salah juga kalau dikatakan memakai jubah di indonesia ini tidak sejalan dengan adat kebiasaan manusia, wallahu a’lam bishshawab.

*********************************************************************

Abu Abdil Halim said:
March 5th, 2010 at 2:40 pm

Assalamu’alaikum Ustadz,

Sebagian kaum muslimin berpandangan bahwa dalam kehidupan umum, seorang muslimah wajib mengenakan jilbab (=jubah).

[[Adapun dalil bahwa jilbab merupakan pakaian dalam kehidupan umum, adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu ‘Athiah RA, bahwa dia berkata :

‘Rasulullah SAW memerintahkan kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah berkata,’Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?” Maka Rasulullah SAW menjawab: ‘Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya!’(Muttafaqun ‘alaihi) (Al-Albani, 2001 : 82).

Berkaitan dengan hadits Ummu ‘Athiyah ini, Syaikh Anwar Al-Kasymiri, dalam kitabnya Faidhul Bari, Juz I hal. 388, mengatakan : “Dapatlah dimengerti dari hadits ini, bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah, dan ia tidak boleh keluar [rumah] jika tidak mengenakan jilbab.” (Al-Albani, 2001 : 93).]]

Karena jilbab itu pakaian terusan, maka tidak dibolehkan untuk mengenakan potongan (terdiri dari dua potong: atas dan bawah). Apakah walaupun sudah menutup aurat, seorang muslimah masih harus mengenakan jubah? Kalau tidak, bagaimana kita memahami hadis di atas?

Baarokallaahu fiikum wa nafa’a bikum.

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullah.

Jilbab tidak sama dengan jubah. Jilbab kata Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid adalah, “Pakaian tebal yang digunakan wanita dari kepalanya hingga ke kedua kakinya, yang mana jilbab ini menutupi semua tubuhnya dan juga menutupi pakaian serta perhiasan yang ada di dalamnya.”
Jilbab inilah yang dinamakan mula`ah, milhafah, rida`, ditsar, dan kisa`. Dan inilah yang dikenal dengan aba`ah yang banyak dipakai oleh wanita di jazirah arab.

Cara memakainya: Seorang wanita memasukkan jilbab ini pada kepalanya, lalu membiarkannya menutupi khimarnya (penutup kepala sampai ke dadanya) serta menutupi tubuh dan perhiasannya, sampai menutupi kedua kakinya. Jadi, khimar di dalam terlebih dahulu baru jilbab di luar.
Tidak diragukan, cara seperti ini lebih utama. Tapi yang menjadi masalah, apakah cara selain ini tidak diperbolehkan?

Yang nampak -wallahu a’lam-, yang menjadi tujuan hijab adalah seorang wanita menutupi seluruh tubuh dan perhiasannya. Karenanya kapan seorang wanita telah menutupi seluruh tubuh dan perhiasannya walaupun dengan menggunakan dua kain atau dua potongan, maka dia telah melaksanakan perintah. Karenanya kami tidak sependapat dengan yang tidak membolehkan memakai dua potongan. Yang benarnya hal itu diperbolehkan insya Allah, berdasarkan dalil-dalil umum akan syariat hijab, dimana dalil-dalil tersebut tidak menyebutkan kaifiat tertentu dalam memakai hijab tersebut.

Hanya saja kembali kami tekankan bahwa cara yang disebutkan di atas, itulah yang lebih utama. Wallahu a’lam

O ia, terkait beberapa atsar sebagian sahabat yang antum pertanyakan. Alhamdulillah kami sempat menanyakan hal itu kepada Asy-Syaikh Abdullah Mar’i di makassar kemarin. Ana sudah memahami makna jawaban beliau, akan tetapi sengaja belum ana tampilkan karena ana masih menunggu rekaman nash ucapan beliau untuk ana terjemah. Insya Allah menukil ucapan beliau sesuai lafazhnya itu lebih berberkah

*********************************************************************

ummu hanif said:
April 27th, 2010 at 5:36 am

assalamu’alaykum, sekarang ini hari jum’at sdh identik dengan hari batik. sementara bagi lelaki muslim ada shalat jum’at. sangat disayangkan sekali teman kantor ana yg biasanya pakai baju koko utk shalat jum’at sekarang ini beralih ke batik dengan alasan hari batik nasional. mohon bantuannya agar ana dapat mengingatkan teman ana dengan ilmu dan santun. jazakallahu khair

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullah.

Saya rasa tidak ada yang butuh dipermasalahkan di sini, selama pakaian yang dikenakan untuk shalat adalah menutup apa yang seharusnya ditutup dan dianggap sopan juga oleh manusia. Lagipula baju koko bukanlah pakaian yang diharuskan dalam shalat jumat dan juga shalat selainnya. Bahkan menurut pengabaran beberapa ikhwan, bahwa di bekasi sini ada sebuah tempat dimana umat nashrani datang ke gereja dengan memakai koko dan kopiah hitam. Mereka beralasan bahwa kedua pakaian ini adalah pakaian nasional betawi dan bukan pakaian khusus umat Islam.

Ala kulli hal, kembali kepada inti permasalahan, tidak ada yang butuh dipermasalahkan dari teman anda yang memakai batik dalam shalat jumat, selama apa yang kami sebutkan di atas terpenuhi. Wallahu a’lam

*********************************************************************

umar m alfath said:
May 31st, 2010 at 3:24 am

assalamu’alaikum wr wb.
saya mau tanya, kalau fungsi sorban untuk apa ya? selama ini saya sholat dengan sorban,tapi sorban tersebut saya pakai untuk sajadah ( alas sujud )sekaligus sebagai pembatas dalam sholat ?
bagaimana idealnya kita berpakaian saat sholat menurut sunnah rosul ?
trimakasih atas jawaban yang diberikan, mohon dijawaban di cc kan ke email saya.
wasalamu’alaikum

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullah.

Sorban itu dipakai dan dililitkan di kepala. Hukumnya sunnah jika dia meniatkan untuk mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Adapun pakaian dalam shalat maka:

1. Menutup apa yang diperintahkan oleh syariat untuk ditutup.

2. Tidak ketat dan transparan yang karenanya aurat bisa terlihat atau terbentuk.

3. Tidak ada sesuatu pada pakaian tersebut yang bisa membuat orang yang shalat atau orang di belakangnya menjadi tidak khusyu’.

4. Hendaknya memakai pakaian yang sopan dan indah, karena dia akan menghadap Allah Ta’ala.

Tentunya disertakan dengan ketentuan pakaian secara umum, seperti:
1. Tidak menyerupai pakaian orang kafir.
2. Bukan pakaian syuhrah.
3. Tidak isbal (menutupi mata kaki) bagi laki-laki.

Wallahu a’lam

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/adab-berpakain-dan-berhias.html

4 responses to “ADAB BERPAKAIAN DAN BERHIAS:Hukum Memakai Ghamis, Jubah, Baju Koko, Baju Batik, dan Surban

  1. Asalamualikum.saya senang dengan pendapat ustat.tapi saat ini ada sebagian klompok yang memaksakan pakayan juba atau gamis di tengah masyarakat awam yang kebiasaanya memakai baju koko dan sarung , yang ahirya menimbulkan pitnah.

  2. kalau mau ikut kanjeng nabi, jubah atau gamis lebih utama jangan di lihat adat atau bukan adat karena itu lebih baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s