Hukum Dan Tanya Jawab Seputar Sumpah


Hukum Seputar Sumpah

Penulis: Al Ustadz Hammad Abu Muawiyah

 

Allah Ta’ala berfirman:

فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan pertengahan yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa yang tidak sanggup melakukannya, maka hendaknya dia berpuasa selama tiga hari. Itulah kaffarat sumpah-sumpah kalian bila kalian bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpah-sumpah kalian. Demikianlah Allah menerangkan kepada kalian ayat-ayatNya agar kalian bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Maidah: 89)

Yang dimaksud dengan makanan pertengahan adalah makanan yang terbaik dan ada yang mengatakan yang pertengahan mutunya.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَلْيَأْتِهَا وَلْيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ

“Barangsiapa yang bersumpah kemudian dia melihat selainnya lebih baik daripada apa yang dia bersumpah atasnya maka hendaklah dia melakukan hal yang lain itu dan dia membayar kafarah atas (pembatalan) sumpahnya”. (HR. Muslim no. 1649)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

وَاللَّهِ لَأَنْ يَلِجَّ أَحَدُكُمْ بِيَمِينِهِ فِي أَهْلِهِ آثَمُ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ أَنْ يُعْطِيَ كَفَّارَتَهُ الَّتِي افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْهِ

“Demi Allah, sungguh, orang yang berkeras hati untuk tetap melaksanakan sumpahnya, padahal sumpah tersebut dapat membahayakan keluarganya, maka dosanya lebih besar di sisi Allah daripada dia membayar kaffarah yang diwajibkan oleh Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 6625 dan Muslim no. 1655)

Penjelasan ringkas:

Di antara ibadah yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah bahwa ketika seorang muslim ingin menekankan suatu perkara dengan menggunakan sumpah, maka hendaknya mereka bersumpah dengan menggunakan nama-nama Allah Ta’ala. Dan syariat sumpah dengan nama Allah ini telah ditunjukkan dalam Al-Qur`an, As-Sunnah, dan juga telah disepakati oleh kaum muslimin. Di antara dalilnya adalah hadits Abdullah bin Umar secara marfu’:

مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang mau bersumpah maka hendaknya dia bersumpah dengan nama Allah atau dia diam saja.” (HR. Al-Bukhari no. 2482 dan Muslim no. 3105)

Catatan:

Termasuk bersumpah dengan nama Allah adalah bersumpah dengan menggunakan sifat Allah. Karenanya dibenarkan bersumpah dengan Al-Qur`an karena Al-Qur`an adalah firman Allah dan firman Allah merupakan sifat Allah. Ini adalah pendapat sahabat Abdullah bin Mas’ud, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Malik, Asy-Syafi’i, Abu Tsaur, dan selainnya.
Adapun bersumpah dengan mushaf, jika yang dia maksudkan adalah mushafnya (yang terdiri dari lembaran kertas dan tinta) maka tidak boleh bersumpah dengannya, karena mushaf dalam artian ini adalah makhluk. Tapi jika yang dia maksudkan adalah apa yang tertulis dalam mushaf berupa ayat-ayat Al-Qur`an, maka ini sama hukumnya bersumpah dengan Al-Qur`an. Ini adalah pendapat Qatadah, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, dan selainnya.

Hukum Sumpah

Hukum sumpah berbeda-beda disesuaikan dengan hukum masalah yang dia bersumpah untuknya. Karenanya hukum sumpah ada lima:

1.    Wajib. Jika sumpahnya bertujuan untuk menyelamatkan atau menghindarkan dirinya atau muslim lainnya dari kebinasaan

2.    Sunnah. Jika sumpahnya bertujuan untuk mendamaikan dua pihak yang bertikai atau untuk menghilangkan kedengkian dari seseorang atau untuk menghindarkan kaum muslimin dari kejelekan.

3.    Mubah. Misalnya dia bersumpah untuk melakukan atau meninggalkan suatu amalan yang hukumnya mubah.

4.    Makruh. Jika dia bersumpah untuk melakukan hal yang makruh atau meninggalkan amalan yang sunnah. Misalnya sumpah dalam jual beli karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah:

الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ

“Sumpah itu memang bisa melariskan dagangan akan tetapi menghapuskan berkahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1945)

5.    Haram. Bersumpah untuk suatu kedustaan atau dia berdusta dalam sumpahnya. Termasuk juga di dalamnya bersumpah dengan selain nama dan sifat Allah, karena itu adalah kesyirikan. Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda dalam hadits Ibnu Umar:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang bersumpah dengan menggunakan selain nama Allah maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan.” (HR. Abu Daud no. 2829 dan At-Tirmizi no. 1455)

Termasuk di dalam kesyirikan ini adalah bersumpah dengan menggunakan nama Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dalam hal apakah ada kaffaratnya, sumpah terbagi menjadi tiga jenis:

1.    Sumpah yang tidak butuh kaffarat jika dilanggar.

Yaitu sumpah yang diucapkan secara tidak sengaja, semisal dia mengatakan: Tidak demi Allah, betul demi Allah. Termasuk juga di dalamnya orang yang bersumpah atas sesuatu yang dia kira seperti yang dia pikirkan akan tetapi ternyata tidak demikian kenyataannya.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah kalian yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah yang kalian sengaja.” (QS. Al-Maidah: 89)

2.    Sumpah yang tidak bisa ditebus dengan kaffarat.

Yaitu sumpah dusta dimana dia bersumpah atas sesuatu padahal dia tahu bahwa itu adalah dusta. Misalnya dia mengatakan, “Demi Allah saya tidak melakukannya,” padahal dia telah melakukannya. Demikian pula sebaliknya. Termasuk di dalamnya bersumpah dengan menggunakan selain nama Allah. Karena sumpahnya tidak syah, maka tidak ada kewajiban kaffarat atasnya. Yang ada hanyalah bertaubat dari syirik asghar yang telah diperbuatnya dan mengucapkan ‘laa ilaha illallah’. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ حَلَفَ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى فَلْيَقُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ فَلْيَتَصَدَّقْ

“Barangsiapa yang bersumpah dan berkata dalam sumpahnya, “Demi Laata dan Uzza,” maka hendaknya dia mengatakan, “Laa Ilaaha Illallaah.” Dan barangsiapa yang berkata kepada temannya, “Ayo kita taruhan,” maka hendaknya dia bersedekah.” (HR. Al-Bukhari no. 4482)

3.    Sumpah yang bisa ditebus dengan kaffarat.

Yaitu dia bersumpah dengan menggunakan nama atau sifat Allah untuk sesuatu yang akan datang tapi ternyata kenyataan yang terjadi tidak demikian. Misalnya dia mengatakan dengan jujur, “Demi Allah aku akan melakukannya,” kemudian ternyata dia tidak jadi melakukannya. Atau sebaliknya dia mengatakan, “Demi Allah aku tidak akan melakukannya,” lalu di kemudian hari dia melakukannya. Ibnu Qudamah dan Ibnu Al-Mundzir menukil kesepakatan ulama akan wajibnya membayar kaffarat atas sumpah jenis ini.

Istitsna` (pengecualian) dalam sumpah.

Yang dimaksud dengan istitsna` di sini adalah dia menambahkan kalimat ‘insya Allah’ pada sumpahnya.” Misalnya dia mengatakan, “Demi Allah aku akan melakukannya insya Allah.”

Jika dia membatalkan sumpahnya yang mengandung istitsna` maka tidak ada kaffarat atasnya, karena pada dasarnya istitsna` itu merupakan pemutus sumpahnya. Diriwayatkan dalam sebuah hadits:

من حلف وقال: إن شاء الله، فقد حنث

“Barangsiapa yang bersumpah dan dia mengatakan dalam sumpahnya, “Insya Allah,” maka dia telah memutuskan sumpahnya.”

Dalam hadits Ibnu Umar secara marfu’:

مَنْ حَلَفَ فَاسْتَثْنَى فَإِنْ شَاءَ مَضَى وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ غَيْرَ حَنِثٍ

“Barangsiapa yang bersumpah tapi dia melakukan istitsna`, maka jika dia mau maka dia boleh tetap melanjutkan sumpahnya, dan jika dia mau maka dia boleh meninggalkan sumpahnya tanpa ada dosa.” (HR. Abu Daud no. 2839 dan An-Nasai no. 3733 -dan ini adalah lafazhnya-)

Al-Qurthubi berkata, “Jika sumpah telah syah diucapkan maka dia bisa diputuskan dengan membayar kaffarat atau melakukan istitsna`.” Ini adalah mazhab para fuqaha` dan inilah pendapat yang dinyatakan kuat oleh Ibnul Araby. Hanya saja Ibnul Araby mengatakan, “Dipersyaratkan untuk keabsahan istitsna` ini adalah dia terlafazhkan dan bersambung dengan sumpahnya dalam pengucapan.”

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Jika ini (istitsna`) syah, maka dipersyaratkan pada istitsna` dia harus bersambung dengan sumpahnya, tidak dipisahkan dari kalimat sumpahnya oleh ucapan lain dan tidak juga diselingi oleh diam yang lamanya memungkinkan dia berbicara saat itu. Adapun jika istitsna`nya terputus dari kalimat sumpahnya akibat dia menarik nafas, atau suaranya habis, karena dia sakit, atau ada gangguang tiba-tiba, atau karena bersin, atau sesuatu yang lain, maka semua itu tidak membuat istitsna`nya tidak syah, akan tetapi hukumnya syah. Ini adalah pendapat Malik, Asy-Syafi’i, Ats-Tsauri, Abu Ubaid, Ishaq, dan Ashhab Ar-Ra’yi.” Kemudian beliau berkata selanjutnya, “Dipersyaratkan untuk keabsahan istitsna` dia harus mengucapkannya, tidak ada manfaatnya melakukan istitsna` dengan hatinya. Ini adalah pendapat sejumlah ulama, di antaranya: Al-Hasan, An-Nakhai, Malik, Ats-Tsauri, Al-Auzai, Al-Laits, Asy-Syafi’i, Ishaq, Abu Tsaur, Abu Hanifah, Ibnul Mundzir, dan kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini.”

Mengganti sumpah dengan yang lain

Barangsiapa yang bersumpah untuk melakukan sesuatu yang haram atau yang makruh atau yang mubah, kemudian dia menilai ada amalan lain yang lebih baik darinya maka wajib atasnya untuk melakukan yang lebih baik itu dan membatalkan sumpahnya dengan membayar kaffarat. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah yang pertama di atas.

Kaffarat pembatalan sumpah
Telah dijelaskan di atas sumpah jenis bagaimana yang bisa ditebus dengan kaffarat. Adapun kaffaratnya maka sebagaimana yang tersebut dalam surah Al-Maidah di atas:

1.    Kaffarat pertama berisi 3 perkara yang harus dipilih salah satunya: Memberikan makan 10 orang miskin, atau memberikan pakaian 10 orang miskin, atau membebaskan seorang budak.

2.    Jika dia tidak sanggup ketiganya maka barulah dia beranjak ke kaffarat yang kedua, yaitu berpuasa selama 3 hari.

Berikut rinciannya:

a.    Memberi makan 10 orang miskin.

Makanan yang diberikan sebanyak 1 sha (dua telapak tangan lelaki dewasa). Orang miskin di sini selain dari kerabat yang dia wajib memberikan nafkah kepadanya misalnya anaknya atau orang tuanya atau istrinya atau kerabat lain yang berada di bawah tanggungannya. Ini adalah pendapat Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan selain keduanya.

Tidak boleh memberikan makan kepada satu orang sebanyak 10 kali sebagaimana tidak boleh mengganti makanan dengan uang, karena semua ini bertentangan dengan nash ayat di atas.
Apakah boleh memberikannya kepada orang miskin yang kafir? Ada silang pendapat di kalangan ulama.

b.    Memberikan pakaian 10 orang miskin.

Sama seperti di atas tidak boleh memberikan 10 baju kepada satu orang miskin atau mengganti baju dengan uang. Adapun ukuran bajunya, maka ada silang pendapat di kalangan ulama. Hanya saja Ibnu Qudamah berkata, “Pakaian bagi lelaki adalah satu pakaian yang bisa menutupi seluruh tubuhnya. Adapun bagi wanita, maka ukuran minimalnya adalah pakaian yang mereka bisa pakai dalam shalat.” Wallahu a’lam

c.    Membebaskan budak.

Pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran dalam hal ini adalah, dipersyaratkan budaknya harus seorang muslim. Berdasarkan hadits Muawiah bin Al-Hakam As-Sulami tentang ‘dimana Allah’, di dalamnya disebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam membebaskan budak wanita Muawiah  setelah beliau menguji keislamanannya. Maka hadits ini menunjukkan bahwa semua kaffarat dosa yang sifatnya pembebasan budak, maka dipersyaratkan haruslah budak yang muslim.

d.    Berpuasa 3 hari.

Dia tidak boleh berpuasa 3 hari kecuali jika dia sudah tidak sanggup melakukan salah satu dari ketiga kaffarat di atas. Apakah dipersyaratkan dalam keabsahannya harus puasa 3 hari berturut-turut? Ada silang pendapat di kalangan ulama, hanya saja tidak diragukan bahwa mengerjakannya secara berurut jauh lebih utama.

Faidah:

1.    Apakah boleh membayar kaffarat sebelum sumpah dibatalkan?

Banyak ulama yang membolehkannya, di antara mereka adalah:
Dari kalangan sahabat ada Umar, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Salman Al-Farisi, Maslamah bin Makhlad radhiallahu anhum.
Dari kalangan tabi’in: Al-Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Sirin, Rabiah bin Abdirrahman, Abdurrahman Al-Auzai, dan selainnya.
Dari kalangan imam: Sufyan Ats-Tsauri, Abdullah bin Al-Mubarak, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Ubaid, dan selainnya.

2.    Jika dia meninggal sebelum sempat membayar kaffarat maka diambil dari hartanya sebelum warisan dibagikan. Ini adalah mazhab Asy-Syafi’i dan Abu Tsaur.

[sumber: Diterjemahkan secara ringkas dari:  http://www.islamadvice.com/ibadat/ibadat1.htm#_ftn34]

 

***

Ahmad Tanya:
Assalamualaikum..ana prnh brkta pd seseorang; “jika kamu mnyuruh saya bersumpah,maka saya berani bersumpah demi Allah bahwa saya tdk prnah memberikan pinjaman uang kpd si fulan.”akan tetapi beberapa saat kemudian (-/+ 2 jam),ana baru teringat bhw ana pernah melakukannya tp sdh ana ikhlaskan hutang si fulan tsb.
1.apakah ana telah bersumpah dusta?
2.jika ya,apakah ana harus menjelaskan kpd dia bhw sbenarnya ana pernah memberikan pinjaman kpd si fulan tsb?tp kalau ana jelaskan,ana khawatir akan menyebabkan brtambah buruknya hubungan dia dg si fulan tsb.
3.apakah kafarat sumpah dalam bentuk makanan itu,harus dg lauk pauknya dan sudah masak atau cukup beras saja?
4.apakah harus dijelaskan kpd yg menerima kaffarat bahwa makanan/ pakaian ini adalah kafarat sumpah?
Jazakallahu khair

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullah
1. Insya Allah tidak, karena antum mengucapkan apa yang antum kira itu benar.
2. Jika memang akan memperburuk keadaan maka sebaiknya tidak perlu dijelaskan. Wallahu a’lam
3. Tidak harus, hanya saja sebaiknya menggunakan lauk, karena demikian makanan yang biasa pada zaman ini.
4. Tidak harus dijelaskan.

***

Fulan tanya:

Ustadz yang saya hormati, ada beberapa hal ingin saya sampaikan:
1. Sewaktu usia SD dulu, saya ingat belum baligh-insya Allah, saya saling meledek dengan teman bermain di kampung. Suatu waktu ia bertanya kepada saya tentang seorang teman putri, karena malu, sayapun menjawab dengan berbohong pertanyaan tersebut. Akan tetapi, teman saya mendesak jawaban saya agar disertai sumpah. Karena saya malu, sayapun akhirnya juga bersumpah dalam keadaan jawaban saya adalah bohong. Adakah kaffarah atas perbuatan saya yg masih belum baligh itu? Semoga Allah mengampuni saya, amin..

2. Saat menjelang masuk kuliah, saudara saya mendaftar CPNS melalui ‘jalur belakang’, menggunakan uang pelicin. Karena saya tahu nomor telpon oknum penghubungnya, dengan kecemburuan saya terhadap saudara saya akan keselamatan agama kami sekeluarga, saya pun diam-diam menghubungi oknum tersebut supaya membatalkan upaya ini hingga pada akhirnya saudara saya gagal menjadi CPNS. Dan pada akhirnya, saudara saya tahu ada pihak yang menghubungi oknum tadi untuk menggagalkan usaha ini tapi belum tahu persis siapa orangnya. Maka, tiba saatnya dia menghubungi saya menanyakan sayakah orangnya yang meminta kepada oknum tersebut menggagalkan usaha ini. Karena ada rasa takut dan segan, sayapun berbohong dengan menyatakan bahwa saya bukan orangnya. Lebih dari itu, seingat saya diapun mendesak dengan sumpah sehingga singkat kata saya pun mengucapkan sumpah dalam kebohongan saya tersebut. Semoga Allah mengampuni saya, amin…

Maka bagaimanakah hukumnya dengan sumpah saya tersebut ya ustadz, adakah saya harus menunaikan kaffarahnya….?

Jazakallah khairan

Jawab:

1. Tidak ada kaffarat karena itu adalah sumpah dusta, lagipula ketika itu antum belum balig.
2. Juga tidak ada kaffarat karena itu adalah sumpah yang dusta atas sesuatu yang telah terjadi. Dia wajib bertaubat kepada Allah Ta’ala.

***

Liga tanya:
Ustadz saya mau bertanya: dulu saya pernah mengatakan: “kusumpahkan dia melarat seumur hidup”
Hal ini terucap krn uang saya sering hilang,indikasinya Tuyul krn ada beberapa tetanga mengalami hal serupa.Dia maksudnya adalah pemilik tuyul tersebut,kita tdk tahu siapa dia.
Pertanyaan saya:1.betulkah cara sumpah saya itu (tidak menyebutkan demi Allah, hanya maksud dlm hati). 2. Bagaimana hukum sumpah saya itu..dibenarkan atau tidak? 3. Kl tidak dibenarkan bagaimana cara mencabutnya..

Jawab:

Ala kulli hal ucapan di atas adalah ucapan cercaan dan laknat, dan tidak sepantasnya seorang mukmin itu mencela dan melaknat, apalagi dalam permasalahan yang belum jelas. Ucapan di atas bukanlah sumpah, jadi tidak berlaku hukum sumpah padanya. Wallahu a’lam

***

Manap tanya:

assalamualaikum ustadz …
saya ingin bertanya ,
baru baru ini saya bermasalah dengan orang tua karena saya ketahuan merokok …
akhirnya saya di sumpah di atas al-qur’an dan saya mengucapkan ” saya tidak akan merokok lagi atau berbuat lebih dari itu” .
apakah bisa sumpah itu di batalkan ?
mohon jawabannya ustadz .
syu’ran …….

Jawab:

Waalaikumussalam.

Yang menjadi patokan dalam sumpah adalah mengucapkan kalimat sumpah. Adapun sekedar meletakkan mushaf di atas kepala lalu berkata ‘saya tidak akan mengulanginya’ maka itu bukanlah sumpah karena tidak ada kata sumpah di dalamnya.

Tapi yang jelas merokok adalah perbuatan yang diharamkan dalam agama, tidak sepantasnya seorang muslim yang baik melakukannya.

***

joe tanya:

Assalamualaikum ustad. saya mau bertanya. saya pernah mengucap sumpah pada tmen saya. waktu itu saya mengucap sumpah “demi Allah saya ga akan datang kerumahnya tanpa seijin kamu, dan saya ga akan berhubungan lagi sama dia asla kamu jangan datang ke basecamp” waktu itu saya ucapin smpah itu karena saya takut akan ada perkelahian di basecamp kalo dia sampe datang ke basecamp, karena dia sudah mengancam akan acak2 basecamp. dan kemarin saya sudah melanggar sumpah saya yaitu saya masih telponan dan sms. gimana baikanya pak ustad? saya ga sanggup jalanin sumpah itu. dan ada yg bilang saya harus memenuhi tuntutan orang yg aku tunjukin sumpahku itu, menurut pak ustad apa yg seharusnya saya lakukan?
terimakasih pak ustad saya tunggu saran pak ustad.

Jawab:

Waalaikumussalam.
Karena anda telah membatalkan sumpah, maka anda wajib membayar kaffarat.

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/hukum-seputar-sumpah.html

 

===

 

Tidak Boleh Bersumpah Dengan Selain Nama Allah

Penulis: Al Ustadz Hammad Abu Muawiyah

 

Dari Abdullah bin Umar -radhiallahu anhuma- dia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَدْرَكَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ وَهُوَ يَسِيرُ فِي رَكْبٍ يَحْلِفُ بِأَبِيهِ فَقَالَ أَلَا إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ

“Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- menjumpai Umar bin Al-Khaththab yang sedang menaiki hewan tunggangannya, seraya dia bersumpah dengan nama ayahnya. Maka beliau -Shallallahu alaihi wasallam- menegur, “Ketahuilah sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama ayah-ayah kalian. Karenanya barangsiapa yang mau bersumpah, hendaklah dia bersumpah dengan nama Allah atau lebih baik dia diam.” (HR. Al-Bukhari no. 5643, 6155, 6156 dan Muslim no. 3104)

Dari Buraidah -radhiallahu anhuma- dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

مَنْ حَلَفَ بِالْأَمَانَةِ فَلَيْسَ مِنَّا

 

“Barangsiapa yang bersumpah dengan amanah, maka bukan dari golongan kami.” (HR. Abu Daud no. 3253 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6203)

Dari Sa’ad bin Ubaidah bahwa Ibnu Umar mendengar seorang laki-laki mengucapkan, “Tidak, demi Ka’bah.” Ibnu Umar lalu berkata, “Tidak boleh bersumpah dengan selain Allah. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. Abu Daud no. 2829, At-Tirmizi no. 1535, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6204)

Penjelasan ringkas:

Di antara bentuk ibadah adalah pengagungan kepada Allah Ta’ala, karenanya barangsiapa yang mengagungkan selain Allah Ta’ala dengan pengagungan ibadah maka dia telah terjatuh ke dalam kesyirikan. Di antara bentuk mengagungkan Allah adalah bersumpah dengan menggunakan nama-Nya, karena sumpah biasanya diucapkan untuk menguatkan dan membenarkan ucapannya, bahwa dia tidak berdusta dan tidak salah dalam pengabarannya. Dalam keadaan seperti ini tentunya seseorang akan bersumpah dengan menggunakan siapa yang dia merasa segan dan hormat kepadanya, dan zat yang paling pantas untuk disegani, dihormati, dan diagungkan adalah Allah Ta’ala. Karenanya bersumpah dengan menggunakan nama Allah adalah ibadah, dan sebaliknya bersumpah dengan menggunakan selain nama-Nya adalah kesyirikan -sebagaimana hadits Ibnu Umar di atas- karena mengandung pengagungan kepada selain Allah Ta’ala walaupun hanya berupa lafazh.

Kesyirikan yang kami maksudkan di sini adalah syirik asghar (kecil), karena definisi dari syirik asghar adalah semua amalan yang menjadi wasilah atau bisa mengantarkan kepada syirik akbar (besar). Orang yang bersumpah dengan selain nama Allah, walaupun dia tidak berniat mengagungkan selai Allah tersebut, akan tetapi sumpahnya dia ini bisa mengantarkan dia untuk mengagungkan selain Allah tersebut dengan pengagungan yang berlebihan, dan jika dia sampai seperti itu maka dia telah terjatuh ke dalam syirik akbar. Karenanya walaupun kita katakan hukum asal bersumpah dengan selain nama Allah adalah syirik asghar, akan tetapi hukumnya bisa menjadi syirik akbar yang mengeluarkan dari agama, yaitu jika orang yang bersumpah ini mengagungkan selain Allah itu dengan pengagungan yang sama dengan Allah atau bahkan lebih.

Di antara contoh sumpah selain Allah yang tersebar adalah: Bersumpah dengan menggunakan orang tua, bersumpah dengan amanah, bersumpah dengan ka’bah, bersumpah dengan nama Nabi Muhammad -alaihishshalatu wassalam-, bersumpah dengan tanah air, dan seterusnya.

Bolehkah bersumpah dengan menggunakan sifat-sifat Allah?

Ia boleh, berdasarkan nash ayat, Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shad: 82) Maka di sini Iblis bersumpah dengan sifat izzah (keperkasaan) Allah dan Allah Ta’ala tidak mengingkarinya.

Maka dari sini kita bisa dengan mudah menjawab pertanyaan yang lain: Apa hukum bersumpah dengan menggunakan mushaf?

Kita katakan dalam hal ini ada rincian:

Jika yang dia maksudkan dengan mushaf adalah lembaran-lembaran kertas yang tertulis di dalamnya Al-Qur`an, maka tidak boleh bersumpah dengan mushaf dalam makna ini. Karena kertas dan tinta yang ada di dalamnya adalah makhluk.

Tapi jika yang dia maksudkan dengan mushaf adalah Al-Qur`an (firman Allah ) yang tertulis di dalam mushaf tersebut, maka boleh bersumpah dengannya. Karena Al-Qur`an termasuk dari sifat kalam Allah, dan telah berlalu penjelasan bolehnya bersumpah dengan menggunakan sifat Allah.

Jadi, bersumpah dengan Al-Qur`an boleh secara mutlak, sementara bersumpah dengan mushaf, butuh dirinci dengan rincian di atas, wallahu a’lam. Hanya saja perlu diingat bahwa bersumpah dengan Al-Qur`an pada perkara dusta merupakan dosa yang sangat besar. Ibnu Mas’ud -radhiallahu anhu- berkata, “Barangsiapa yang bersumpah dengan menggunakan satu surah dari Al-Qur`an (untuk kedustaan) maka dia akan menjumpai Allah dalam keadaan memikul dosa sebanyak jumlah ayat dari surah tersebut.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah no. 206 dengan sanad yang shahih)

Faidah dari dalil-dalil di atas:

  1. Wajib mengingkari kesyirikan dan kekafiran dengan segera. Berbeda halnya dengan maksiat biasa yang dibawah dari kesyirikan dan kekafiran, terkadang nahi mungkarnya bisa diundurkan jika ada maslahat yang lebih besar.
  2. Tidak boleh mengundurkan penjelasan dari waktu dibutuhkannya. Dimana Nabi -alaihishshalatu wassalam- tidak mengundurkan penyebutan sebab dari larangan beliau karena penjelasannya dibutuhkan saat itu tatkala bersumpah dengan selain nama Allah ini tersebar di kalangan kaum musyrikin dahulu.
  3. Hendaknya bagi orang yang melarang sesuatu, dia memberikan solusi atau jalan lain untuk mendapatkan apa yang dituju tanpa menempuh jalan yang terlarang tersebut. Tatkala Umar ingin menguatkan ucapannya dengan bersumpah dengan selain nama Allah, Nabi -alaihishshalatu wassalam- melarangnya tapi kemudian memberikan solusi agar dia bisa tetap menguatkan ucapannya dengan cara yang tidak terlarang, yaitu bersumpah dengan nama Allah. Dan metode seperti ini merupakan sifat umum dari syariat Islam.
  4. Orang yang mengucapkan kesyirikan dalam keadaan dia tidak tahu itu syirik, lalu ada orang yang menegurnya sehingga dia berhenti dari ucapannya, maka dia tidak dihukumi terjatuh ke dalam syirik. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Umar -radhiallahu anhu- di sini, juga pada kisah sahabat dalam kisah ‘dzatu anwath’ tatkala mereka meminta pohon kepada Nabi sebagai pendatang berkah dari Allah, dan juga pada ucapan Bani Israil tatkala mereka meminta sembahan selain Allah kepada Musa. Mereka semua mengucapkan kesyirikan tapi tidak dihukumi terjatuh dalam syirik, karena mereka semua berhenti ketika dilarang. Tapi tidak diragukan bahwa seandainya Bani Israil dan para sahabat melanjutkan permintaan mereka setelah dilarang, maka mereka dipastikan terjatuh ke dalam kesyirikan. Hal ini sebagaimana yang diterangkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dalam Kasyf Asy-Syubuhat.
  5. Makna ‘maka bukan dari golongan kami’ adalah tidak berada di atas petunjuk kami. Para ulama menyatakan bahwa kapan hukuman seperti ini disebutkan pada sebuah dosa maka menunjukkan larangan itu merupakan dosa besar, bukan dosa kecil.
  6. Di antara kesyirikan/kekafiran ada yang bersifat lafzhi (pengucapan), sehingga kapan dia telah diucapkan maka pelakunya sudah dihukumi berbuat syirik walaupun dia tidak meniatkan dan tidak mengamalkannya.

Tambahan:

Barangsiapa yang  bersumpah dengan nama Allah tapi dia dusta dalam sumpahnya maka dia wajib untuk membayar kaffarah, yaitu kaffarah yang tersebut dalam surah Al-Maidah ayat 89:
1.    Mengandung 3 perkara yang boleh dipilih salah satunya:
a.    Memberi makan 10 orang miskin dengan makanan yang dimakan dalam keluarganya.
b.    Memberi pakaian 10 orang miskin.
c.    Membebaskan seorang budak, yakni budak yang beriman
2.    Jika dia tidak bisa menjalankan ketiga perkara di atas, maka kaffarahnya adalah berpuasa 3 hari, dan dalam qiraah Ibnu Abbas harus 3 hari berturut-turut, wallahu a’lam.
Kedua kaffarah ini berurut, karenanya tidak syah membayar kaffarah ke-2 jika dia masih bisa menjalankan salah satu dari 3 kaffarah yang pertama.

Adapun bagi siapa yang bersumpah dengan selain nama Allah walaupun dia benar (apalagi jika dusta), maka tidak ada kaffarah atasnya karena itu merupakan kesyirikan dan sumpahnya tidak syah. Karena dia terjatuh ke dalam kesyirikan, maka dia disyariatkan untuk memperbaharui keislamannya dengan mengucapkan: لا إله إلا الله

Walhamdulillahi Rabbil alamin.

***

Bekam, Fatwa Kesehatan & Thibbunnabawiy tanya:

Bismillah,
Ustadz, apakah para salaf dan khalifah jg melakukan “sumpah jabatan” ketika dilantik? Apakah dalam bentuk Bai’at?
Bagaimana dgn hukum mengangkat mushaf ketika sumpah, sementara yg diucapkannya tetap ” Demi Allah..”?
Jazaakallaahu khairan.

Jawab:

Wallahu a’lam sepanjang pengetahuan ana, ana tidak pernah dengar adanya semacam sumpah jabatan di kalangan sahabat dan setelahnya. Bahkan yang nampak dari kisah pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah, beliau langsung diangkat menjadi khalifah oleh seluruh para sahabat tanpa ada ritual ‘bersumpah’ sebelumnya.

Adapun baiat, maka dia hanya diserahkan oleh rakyat kepada ulil amri mereka, itupun jika mereka meminta. Adapun jika ulil amri atau yang mewakilinya tidak meminta untuk dibaiat maka tetap wajib mendengar dan taat kepada mereka walaupun tanpa baiat.

Bersumpah di bawah Al-Qur`an termasuk dari bid’ah yang mungkar, karena sumpah dengan nama Allah adalah ibadah lafzhiah dan sudah syah dengan sekedar diucapkan. Bahkan menempatka Al-Qur`an pada posisi itu adalah merupakan imtihan (penghinaan) kepada Al-Qur`an, tatkala dia digunakan tidak sesuai dengan fungsinya dia diturunkan. Wallahu a’lam.

 

===

 

Bersumpah Dengan Al-Qur`an

Penulis: Al Ustadz Hammad Abu Muawiyah

Tanya:

Apakah boleh bersumpah dengan Al-Qur`anul Karim ?. Saya telah bersumpah dengan Al-Qur`an tentang tidak akan terjadinya suatu perkara, akan tetapi perkara tersebut ternyata terjadi. Apakah wajib atas saya untuk membayar kaffarah (penebus) atas sumpah ini ?

Jawab:

Boleh bersumpah dengan Al-Qur`anul Karim karena dia adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan firmanNya adalah salah satu sifat dari sifat-sifatNya sedangkan sumpah yang disyari’atkan adalah bersumpah dengan Allah atau dengan salah satu sifat dari sifat-sifatNya.

Jika engkau bersumpah dengan Al-Qur`anul Karim atas perkara yang akan datang, maka sumpahmu syah dan benar, maka jika engkau menyelisihi sumpah tersebut dengan sengaja dan dalam keadaan ingat maka wajib atasmu kaffarah, yaitu : membebaskan satu budak jika kamu mampu atau memberi makan 10 orang miskin yang setiap miskinnya (mendapat) setengah sho’  makanan dan lauk di negeri itu atau memberikan pakaian kepada 10 orang miskin, engkau boleh memilih di antara ketiga perkara ini : membebaskan budak atau memberi makan atau memberi pakaian. Jika engkau tidak menemukan atau tidak mampu (melaksanakan) salah satu dari tiga perkara ini maka (wajib) bagi kamu untuk berpuasa 3  hari, berdasarkan firmanNya Ta’ala :

فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

“Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari”. (QS. Al-Ma`idah : 89)

(Al-Muntaqo min Fatawa Asy-Syaikh Al-Fauzan hafizhohullah jilid 1 soal no. 10)

 

***

 

abu ramiza tanya:
March 11th, 2011 at 9:34 am

Bismillaah,

Ustadz Abu Muawiyah hafizhohullah, ana mau bertanya,” Apakah diperbolehkan oleh syariat bila seorang muslim bersumpah dengan Al Qur’an yang diletakkan di atas kepala orang tersebut?”

Atas perhatian dan jawabannya ana ucapkan jazakalloohu khoir wa baarokallohufiik

Jawab:

Bersumpah dengan menggunakan nama Al-Qur`an dibolehkan, hanya saja dengan meletakkan Al-Qur`an di atas kepala ini tidak diperbolehkan karena tidak ada tuntunannya dalam sumpah harus seperti itu.

Dinukil dari:

http://al-atsariyyah.com/hukum-nyontek-bersumpah-dengan-al-quran.html

8 responses to “Hukum Dan Tanya Jawab Seputar Sumpah

  1. Assalamualaikum.
    Saya ingin bertanya,jika kita bersumpah dengan Al-Qur’an dan mengatakan “Saya bersumpah bahwa itu BUKAN saya”,tetapi kata “Bukan” tersebut tidak di ucapkan,hanya di ucapkan dalam hati.
    Yang ingin saya tanyakan,apakah kata “Bukan” tersebut tetap termasuk dalam sumpah tersebut atau tidak,mohon penjelasannya.

  2. Assalamu Alikum……… apakah seseorang boleh membayar kaffar apabilah dia telah berjajanji dengan mengatakan : saya berjajanji jika saya melakukan lagi maka saya tidak akan ada baik ku???? tolong dijawb mksh

    • Wa’alaykumussalam warrohmatulloohi wa barokatuh…maaf saya tidak tahu, karena saya bukanlah seorang ustadz..coba anda tanyakan kepada ustadz/orang berilmu yang ada di sekitar anda…Baarokalloohufiik

  3. sumpah palsu
    jika kita bersumpah di atas alQuran dan dengan menyebut demi allah itu bukan perbuatan saya..dan jika itu perbuatan saya maka saya dan seluruh keluaraga sengsara..padahal itu perbuatan saya bagaimana menurut pandangan islam apakah ada kaffaratnya dan apak sumpah itu juga berlaku untuk keluarag yg dia sumpahi?

  4. Siang ustadz, saya mau tanya, saya pernah melakukan suatu sumpah atas nama Allah untuk tidak melakukan suatu hal, namun ditengah jalan saya ternyata tidak kuat untuk menjalankan sumpah saya dan memutuskan untuk membatalkan sumpah saya. Kemudian saya membayar salah satu tiga opsi kiparat sumpah, apakah pembatalan sumpah saya sah?

  5. Assalamu’alaikum Ustadz, saya mau bertanya, Ada seorang wanita yang dekat dengan saya, dr awal dia minta ke saya untuk tidak meninggalkan dia selamanya dan dan jadikan dia yg terakhir dalam hidup saya, lalu saya menyanggupi sampai sekarang, kemudian Dia pun Bersumpah Atas Nama Alloh SWT dan Nabi Muhammad SAW, sumpahnya dia janji akan sehidup semati, tidak akan pernah tinggalkan saya, mau dalam suka dan duka,setia selamanya, Jadikan saya yang terakhir dalam hidupnya, dan cuma mau menikah hanya dengan saya, jika dia melanggar dia akan membujang seumur hidup atau jika sampai dia menikah dengan orang lain maka kemaluan dia akan membusuk, saya pegang janji dan sumpahnya itu sampai sekarang, dia sudah melanggar dengan pernah jalan dengan orang lain dan meninggalkan saya dalam keadaan susah, dan terpuruk tidak punya apa2, dan sekarang dia melepas saya tanpa komunikasi (putus silaturahmi) dan gak mau tau saya lagi,dan minta jangan di ganggu, Jujur saya tidak terima, ketika saya tagih Janji dan sumpahnya itu, dia selalu bilang itu urusan dia dengan Alloh SWT (seperti menantang), Pertanyaan saya: Apa Hukuman Alloh yang akan terjadi, dengan dia?? dan apa yg akan terjadi dengan dia jika dia melanggar yg berat (sampai menikah dengan orang lain) karena melanggar sumpahnya yang berkali2 dia ucapkan..??

  6. Assalamu’alaikum
    mau tnya…
    Misalnya Sya bersumpah ntuk tidak berbohong, tapi pd suatu hari saya melanggarnya. Kmudian sya membayar kaffarat. Lalu beberapa hari kmudian saya berbohong lagi. Apakah saya harus membayar kaffarat lagi ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s