HUKUM SENGGAMA


Tanya:

Assalamu’alaykum Ustadz,….
Ustadz mohon jawaban dan nasihatnya.

1. Bagaimana hukumnya bercerita lewat telepon dengan istri hal-hal yang menjurus kepada hubungan suami istri sampai keluar madzi?

2. Bolehkah melakukan hubungan suami istri di dekat anak (usia kurang lebih 1th) yang sudah tidur karena kamar kami cuma satu?

3. Terkadang saya ketika jauh dari istri (karena satu dan lain hal), selalu teringat hal-hal yang berkaitan dengan hubungan suami istri hingga akhirnya saya melakukan onani. Padahal saya tahu bahwa itu haram, tapi saya merasa tidak tahan dan akhirnya melakukan perbuatan tersebut. Apa yang harus saya lakukan dan apa nasihat Ustadz kepada saya?

Dijawab oleh: Al Ustadz Hammad Abu Muawiyah

Waalaikumussalam warahmatullah
1. Tidak ada masalah, selama tidak kedengaran oleh orang lain.

2. Boleh saja, tapi sebaiknya diberikan pembatas. Karena sebagian salaf tetap tidak menyenangi melakukan jima’ sementara di dekatnya ada anak bayi.

3. Silakan baca komentar yang ada dalam artikel: ‘Hukum Onani atau Masturbasi’

***

Tanya:

assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh…
Ustadz, saya mau tanya,

Pertama, terkadang ketika kami mandi bersama, istri saya memainkan kemaluan saya hingga keluar mani. Apakah hal tersebut tidak mengapa, karena mirip dengan onani hanya saja yang melakukannya adalah istri?

Kedua, bolehkah melakukan jima’ di dalam kamar mandi?

Dijawab oleh: Al Ustadz Hammad Abu Muawiyah

Waalaikumussalam warahmatullah

1. Tidak mengapa jika yang melakukannya istri.

2. Sebaiknya tidak dilakukan di kamar mandi. Karena sudah kita ketahui bahwa kamar mandi adalah tempat yang dihadiri oleh setan-setan.

Dinukil dari:

http://al-atsariyyah.com/perbedaan-mani-madzi-kencing-dan-wadi.html/comment-page-4#comment-4324

***

Tanya:

Assalamualaikum.

Pak Ustadz saya mau tanya apakah hukumnya bila seorang istri tidak mau melayani suami,sampai suami melakukan onani, sedangkan untuk menikah lagi suami tidak mau, dan itu dilakukan suami agar terhindar dr perbuatan zina

Dijawab oleh: Al Ustadz Hammad Abu Muawiyah

Waalaikumussalam.
Ini adalah istri yang durhaka dan mendapatkan doa keburukan dari para malaikat sampai suaminya ridha. Kalaupun dia mau melakukan onani maka sebaiknya dia menggunakan tangan istrinya karena hal itu diperbolehkan.

Dinukil dari:

http://al-atsariyyah.com/hukum-onani-atau-masturbasi.html

~**~

Hukum Jima’ Menghadap dan Membelakangi Kiblat

Tanya:

Assalamualaikum Wr.Wb.
Ustad kami yang terhormat, saya mau menanyakan hal2 yang sebenarnya bikin saya resah. Begini ustad, saya dulu pernah bertanya kepada seorang ikwah perihal adab hubungan suami istri, saya pernah diberitahu bahwa  :

1. Makruh berhubungan suami istri menghadap kiblat atau membelakangi-nya

2. Tidak boleh (maaf) memegang kemaluan istri saat berhubungan suami istri.
Benarkah hal tersebut secara syariah, mohon solusinya, soalnya hal tersebut sangat mengganggu dalam kehidupan saya. Terimakasih banyak.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Hartono H [Yanti_sri02@yahoo.com]

Dijawab Oleh: Al Ustadz Abu Muawiyah Hammad

Waalaikumussalam warahmatullah.

1. Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا

“Jika kalian mendatangi masuk ke dalam WC, maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya.” (HR. Al-Bukhari no. 380 dan Muslim no. 388)

Hadits ini di antara dalil yang digunakan oleh para ulama yang melarang buang air menghadap dan membelakangi kiblat. Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai sebab larangan ini menjadi 3 pendapat:

1.    Sebabnya adalah adanya najis yang keluar.
2.    Sebabnya adalah membuka aurat.
3.    Kedua sebab ini merupakan sebab larangan di atas.

Dari perbedaan pendapat di atas inilah dan juga perbedaan dalam hal najis tidaknya mani, dibangun perbedaan pendapat dalam masalah jima’ menghadap kiblat.

Bagi yang berpendapat dengan pendapat yang pertama, maka dia membolehkan jima’ menghadap dan membelakangi kiblat karena tidak adanya najis yang keluar.

Sementara bagi yang berpendapat dengan pendapat pertama dan ketiga dan berpendapat akan najisnya mani, maka dia akan melarang jima’ menghadap dan membelakangi kiblat karena adanya najis yang keluar.

Sementara yang berpendapat dengan pendapat kedua maka dia akan melarang jima’ menghadap dan membelakangi kiblat secara mutlak. Bahkan kelazimannya akan melarang mandi atau tidur telanjang menghadap dan membelakangi kiblat, karena adanya amalan memperlihatkan aurat.

Sementara yang berpendapat dengan pendapat ketiga tapi tidak menganggap mani itu najis, maka mereka tetap memperbolehkannya karena kedua sebab itu tidak berkumpul.

Kesimpulannya, ada 2 pendapat dalam masalah hukum jima’ menghadap dan membelakangi kiblat:

Pendapat pertama: Tidak membolehkan. Ini adalah pendapat Ibnu Habib dan sebagian Al-Malikiah.

Pendapat kedua: Boleh jima’ menghadap dan membelakangi kiblat. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad, dan Daud Azh-Zhahiri.

Dan pendapat yang lebih kuat insya Allah pendapat kedua. Hal itu dikarenakan menurut pendapat yang paling kuat: Mani bukanlah najis dan sebab larangan dalam hadits Abu Ayyub di atas adalah karena adanya najis yang keluar, bukan karena terbukanya aurat. Maka tatkala mani bukanlah najis dan tidak ada dalil yang tegas dan shahih melarang dari membuka aurat menghadap dan membelakangi kiblat, maka pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang membolehkan jima’ menghadap dan membelakangi kiblat, dan pendapat inilah yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Al-Mulaqqin rahimahullah dalam Al-I’lam: 1/450. Wallahu a’lam.

2. Adapun menyentuh kemaluan antara suami istri, maka hal itu diperbolehkan berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala yang artinya, “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 223)

Dan juga sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang yang dibolehkan dari wanita haid:

اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ

“Perbuatlah segala sesuatu kecuali jima’”. (HR. Muslim no. 455)
Dan ‘segala sesuatu’ di sini mencakup menyentuh kemaluan.

Dinukil dari:

http://al-atsariyyah.com/hukum-jima-menghadap-dan-membelakangi-kiblat.html

~**~

Saat Senggama Membayangkan Orang Lain

Tanya:

Lutung said:
January 31st, 2011 at 11:58 am

Assalamualaikum..
Ustadz, saya memiliki kelainan sex-meskipun kebanyakan orang juga seperti saya- yaitu saya lebih tertarik (red:bernafsu) kepada wanita yang lebih tua atau setengah baya, sedangkan istri saya seumur dengan saya. yang saya tanya apakah hukumnya bila saya “mencampuri” istri saya sambil membyangkan orang lain?? apakah yang mesti saya lakukan jika itu dilarang?? itu saya lakukan demi membahagiakan istri saya. terimakasih
wassalam..

Dijawab Oleh: al Ustadz Hammad Abu Muawiah

Waalaikumussalam.

Itu tidak boleh dan merupakan hal yang haram, karena itu adalah bentuk perbuatan zina dengan hati. Sepantasnya anda bersyukur kepada Allah dengan nikmat istri yang telah anda peroleh, bersabar menahan hawa nafsu, dan tentunya bertaubat kepada Allah dan berdoa kepada-Nya agar Dia berkenan menghilangkan ‘penyakit’ anda tersebut.

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/hukum-oral-sex.html

~**~

Zikir Setelah Jima’

Penulis: al Ustadz Hammad Abu Muawiah

Tanya:

ASALLAMUALAIKUM UZTD saya mau bertanya:
1. Adakah bacaan/doa selesai berjima?
2. Bolehkah kita membaca hamdalalah atau bertasbih karena mendapat nikmat stlah melakukan hubungan? afwan ustad ana sangat perlu jawabannya assalamuallaikum
LAANE DAHLAN [anedahlan@gmail.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
1.    Wallahu a’lam, kami tidak pernah mendengar satupun dalil dalam masalah ini.
2.    Boleh saja insya Allah, karena tidak diragukan bahwa jima’ termasuk di antara nikmat yang harus disyukuri dan kita memuji Allah karenanya. Hanya saja yang perlu diingat adalah, jangan sampai meyakini hamdalah atau ucapan syukur itu sebagai zikir/doa khusus setelah jima’, karena pada dasarnya tidak ada doa/zikir di waktu itu.
Wallahu a’lam bishshawab.

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/3243.html

~**~

Menjaga Mata ketika Jima’ (Bersetubuh)

Melihat kemaluan istri ketika berhubungan adalah boleh berdasarkan hadits-hadits shahih. Adapun hadits yang berbunyi:

إِذَا جَامَعَ أَحَدُكُمْ زَوْجَتَهُ أَوْ جَاِريَتَهُ فَلَا يَنْظُرْ إِلَى فَرْجِهَا فَإِنَّ ذَلِكَ يُوْرِثُ الْعَمَى

“Apabila seorang diantara kalian berhubungan dengan istrinya atau budaknya, maka janganlah ia melihat kepada kemaluannya, karena hal itu akan mewariskan kebutaan”. [HR. Ibnu Adi dalam Al-Kamil (2/75)].

Maka hadits ini adalah palsu karena dalam sanadnya terdapat Baqiyah ibnul Walid. Dia adalah seorang mudallis yang biasa meriwayatkan dari orang-orang pendusta sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hibban. Lihat Adh-Dho’ifah (195)

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 36 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Dinukil dari: http://almakassari.com/artikel-islam/fiqh/menjaga-mata-ketika-jima-bersetubuh.html

Artikel Terkait:

Doa Sebelum Senggama

6 responses to “HUKUM SENGGAMA

  1. assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh… pak ustadz saya mau tanya di luar tema ne. saya kan kerja di counter. biasa saya maaf “kencing” di botol. karena kalo ke kamar mandi agak males agak jauh dikit dan pake air sumur. Dan airnya juga kuning banged. jadi kalo mau bersih harus di saring dulu. itu hukumnya gmn pak ustadz. mohon penjelasannya di tunggu jawabannya.

  2. ustad saya ingin tanya, bagaimana hukumnya njimak dengan istri dalam kurun waktu setiap hari? benar-benar setiap hari

  3. Assalamu’alaikum..
    Mohon maaf sebelumnya. Saya ingin bertanya tentang beberapa hal:
    1. mohon maaf jika ini tidak sopan, tapi hal ini sering mengganggu fikiran saya, mohon nasihat dan ilmunya. Pada saat berhubungan suami istri, saya terkadang memegang kemaluan saya untuk (maaf) memasukkan kemaluan saya ke dalam kemaluan istri saya.
    bagaimana hukumnya jika saya memegang air madzi istri saya yang ada di kemaluan saya itu (terasa basah). apakah hukumnya sama dengan memegang madzi? haruskah saya mencuci tangan saya setelahnya?
    2. jika ada air yang tidak memancar yang keluar lagi dari kemaluan laki-laki (berselang beberapa detik setelah mani memancar-mancar) apakah namanya? tergolong air mani juga ataukah tergolong madzi?
    atas ilmu dan nasihatnya saya ucapkan terimakasih.
    Assalamu’alaikum..

  4. Assalamu’alaikum wr wb.
    Ustadz, bagaimana hukumnya orang yang selalu ngentot pakai tangannya sendiri.
    #mohon di jelaskan

    *Trims √

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s