Manhaj ‘Sana-Sini’ dalam sorotan Ulama’


Manhaj ‘Sana-Sini’ dalam sorotan Ulama’ (I)

Pertanyaan dan Jawaban dengan Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkhali, Ulama’ Ahlusunnah dari Saudi Arabia.

Ini adalah suatu sesi tanya jawab dengan Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali selama bulan puasa (Ramadhan, red) 1424 H mengenai hubungan antara tabdi’ (membid’ahkan), jarh (mencela), hajr (mengkucilkan) dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Artikel tersebut telah dipostingkan pada AnaSalafy.Net hari ini atau barangkali kemarin (yang ditulis oleh Abu Hamaam Nasir Al-Qath’ani). Insya Allah akan ditampilkan pada forum ini (Salafitalk).

Pertanyaan 1: Masalah Persahabatan dan Memberi Nasihat

Pertanyaan: Syaikh, Jika seseorang bergabung dengan penentang (pengingkar Ahlusunnah, red), apakah ia digabungkan dengan mereka?!

Syaikh Muhammad bin Hadi: Ya, ia termasuk mereka

Pertanyaan: Apakah perlu waktu yang lama untuk menasehati mereka ?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Tidak, hal itu tidak (harus, red)memakan waktu yang lama, yang demikian itu sesuai dengan apa yang seseorang lihat, kadang-kadang bisa dalam satu kali majlis, kadang-kadang bisa jadi dua kali majlis, kadang-kadang bisa jadi dalam tiga kali ketika orang tersebut mempunyai suatu syubhat (keraguan, salah paham), dan kadang-kadang bisa jadi dengan hanya satu kata saja. Hal ini tergantung pada situasi orang yang dinasehati, juga tergantung sebab masalah seseorang itu dinasehati karenanya.

Pertanyaan : Penggabungan ini (ilhaaq), wahai Syaikh, seseorang yang berada di sisi ahlul bid’ah, maka apakah ia diboikot juga?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Bagaimana mungkin kita tidak memboikot dia, tempatkan dia bersamanya (ahlul bid’ah), maksudnya boikot dia!

Pertanyaan: Ada seorang Salafy yang bergabung dengan seorang Ikhwani, apakah dia juga disamakan?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Ya, tempatkan dia di sisinya (mubtadi’).

Pertanyaan: Walaupun dengan tetap melihat manfaat (masaalih) dan kejelekan (mafaasid) mereka, wahai Syaikh?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Manfaat yang orang ini sampaikan dalam keadaan tetap berada di sekeliling hizbi, maka kejelekan yang ditimbulkan dalam situasi seperti ini adalah lebih besar dari manfaatnya. Karena kejelekan yang seperti ini (yaitu seorang Salafy yang bergabung dengan suatu Hizbi) adalah lebih besar bagi Ahlus-Sunnah, lebih parah dibanding kejahatan Hizbiyun atas mereka (Ahlus-Sunnah). Sebab tahdzir dapat digunakan untuk menyerang kepada yang jelas-jelas hizbi, barang siapa yang berada diantara ini dan itu, ia datang kepada hizb-hizb itu dan ia datang kepada Salafy juga, ia dirusak oleh Hizb-hizb, sedangkan ia tidak dinasehati oleh Salafy. Oleh karena itu hati-hati dari orang ini, maka hal itu (tahdzir, red) merupakan kewajiban dan sangat diperlukan.

Pertanyaan 2-4: Tentang pemboikotan, jenis penentangan, dan membedakan mubtadi’ dan para pengikutnya

Pertanyaan 2: Sebagian orang di masa ini berpendapat tidak perlunya hajr (memboikot) dalam waktu sekarang ini dan bahwa hajr tidak lagi diperlukan, dengan menggunakan fatwa Syaikh Naasir Al-Abaani, maka bagaimana cara kita membantahnya?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Ini adalah tidak benar… perkataan ini tidaklah benar, Syaikh Al-Albaani (Rahmatullaah ‘alaihi) sedang membicarakan apa yang ia ketahui, dan kemudian tahdzir membawa manfaat pada sebagian orang ketika itu dilaksanakan olehnya, maka menyelisihi Sunnah ini tidaklah benar, SECARA MUTLAK, itu tidaklah benar!

Pertanyaan 3: Apakah setiap penentang (mukhaalif) adalah Mubtadi’, wahai Syaikh?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Tidak… tidak. Ada perbedaan yang diperbolehkan (khilaaf saa ‘igh) selagi perbedaan itu memang diperbolehkan, artinya suatu masalah ketika itu adalah masalah pengambilan hukum fiqih, sehingga dia mengambil hukum itu dari pandangannya kemudian memutuskan bahwa dalilnya lebih kuat, maka ini tidak menjadikan pertimbangannya sebagai ibtidaa (mengada-adakan sesuatu). Sebagaimana pengingkaran yang diharapkan oleh orang yang berhasrat bertanya ini, Kemudian apa yang diharapkan dari hal ini yakni perkataan mengenai asas (ushuluddin) agama. Ya, mengenai keimanan muslimin, tidak semua orang yang menyelisihi hal ini (keimanan, red) adalah mubtadi’, sebab orang yang bodoh bisa tergelincir/menentang, ia tidak mengetahui, ia tidak mengetahui apakah ini adalah penyelisihan, ia meyakini bahwa ini adalah kebenaran. Maka adalah suatu kewajiban untuk menjelaskan kepadanya, dan ketika ia tetap berbuat seperti itu setelahnya, maka ia adalah seorang Mubtadi’ disebabkan karena penentangannya, pentingnya untuk menjelaskan dan menyampaikan keterangan (bayaan).

Bersambung ke Manhaj “Sana-Sini” dalam sorotan Ulama’ (II)

(Sumber URL http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=2970. Alih bahasa ke Inggris oleh Abu Iyaad, da’i Salafy dari Inggris dan pengelola Maktabah As Salafiyyah (Salafipublications.com). URL asli dalam bahasa Arab http://www.sahab.net/sahab/showthread.php?threadid=299633)

Dinukil dari: http://www.salafy.or.id/?p=530

~**~

Manhaj ‘Sana-Sini’ dalam sorotan Ulama’ (II)

Pertanyaan 4: Apakah suatu perbedaan antara seorang pemimpin (ra’s) dan seorang pengikut (tabi’) ?

Syaikh Muhammad bin Hadi: [Ya] Tidak diragukan lagi… bahwa ada suatu perbedaan antara Mubtadi’ sebagai pemimpin dari kebid’ahan, atau da’i kepada bid’ah, atau suatu pencetus bid’ah, dengan para pengikutnya, sebab para pengikutnya berbeda-beda, karena diantara mereka ada orang yang mengetahui dan ada orang yang tidak mengetahui.

Pertanyaan 5-7: Seseorang yang mengingatkan (mentahdzir, red) supaya hati-hati atas orang-orang yang ditinggalkan (karena menyimpang, red) di luar kota mereka sendiri, dan kewajiban nasihat ketika hal itu diperlukan telah diberikan, dan tentang mendengarkan kajian-kajian para mubtadi’

Pertanyaan 5: Seseorang ditinggalkan (karena hizbiyyahnya, red) di kota tertentu, dan ia tidaklah dikenal di kota lain… apakah diizinkan untuk memperingatkan supaya hati-hati terhadap orang ini?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Jika ia tidak dikenal, selama ia bukanlah seorang da’i, maka cukuplah dihukumi sebagaimana dihukumi masyarakat di kotanya. Bagaimanapun, ketika ia (yang diabaikan) mendatangi orang di kota lain, maka pada dasarnya, nasehat (tentang memperingatkan supaya hati-hati terhadap dia) dalam hal ini agar kembali kepada perkataan ‘alim (Ulama’ red) dan orang yang masyarakat kota (orang yang ditinggalkan) bergantung padanya, yaitu mereka yang sudah membicarakan dia. Hal ini disebabkan warga-warga kota itu lebih banyak mengetahui tentang dia, tentunya selama perkataan terhadap orang itu di atas kebenaran dan keadilan.

Pertanyaan 6: Ada suatu contoh, seseorang yang dikatakan padanya, ” Nasehati saudaramu”, ia berkata kepada anda, “Itu tidaklah wajib atasku untuk menasehati, jika anda mau, maka anda yang menasehati, aku akan mendukung”. Apakah ini benar? Maksudnya, benarkah tidaklah diwajibkan atas individu-individu tertentu (untuk menasehati, red) ?

Syaikh Muhammad bin Hadi : Nabi ( Shalallahu ‘alaihi wassalam) katakan, ” Siapapun diantara anda yang melihat suatu kejahatan (kemungkaran), maka hendaknya dia merubah dengan tangannya, dan jika ia tidaklah mampu, maka dengan lidahnya, dan jika ia tidaklah mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah yang paling lemah iman”. Maka ketika anda lihat seseorang yang mempunyai suatu hak berupa nasihat yang wajib dari anda, kemudian wajib atas anda untuk memberi (nasihat) kepadanya sebelum dia (orang lain), kecuali jika anda mempunyai yakin benar bahwa ia tidak akan menerimanya dari anda, dan barangkali ia dapat menerima dari dia (orang lain) dalam kaitan dengan kedekatan padanya, atau sebab ia adalah ramah (yaitu akrab, ramah) dengan dia. Maka kemudian, penyampaian nasihat terus-menerus kepadanya, dan hal ini dipalingkan bagi anda, dan ini suatu yang benar dan sudut pandang yang dipertimbangkan.

Pertanyaan: Jadi, penyampaian nasihat tidaklah dipalingkan (dari orang pertama) secara total?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Tidak, tidaklah dipalingkan (kewajiban memberi nasihat tersebut, red) dari dia secara keseluruhan.

Pertanyaan : Beberapa pemuda di Libya mendengar beberapa perkataan Syaikh Rabi bahwa tidak wajib untuk memberi nasihat…(kata-kata tidak dipahami)

Syaikh Muhammad bin Hadi: Apa yang ia maksudkan …?(meminta pengulangan)

Pertanyaan: (Yakni tidak wajib untuk, red) memperingatkan (tahdzir) orang darinya tanpa terlebih dahulu nasihat!

Syaikh Muhammad bin Hadi: Tidak, penjelasan (al-bayaan), penjelasan telah disampaikan kepadanya (para pemuda), nasihat justru untuk kemaslahatan dirinya. Tidak ada kaitan antara peringatan dan antara eengajaknqa (ke jalan yang benar), yakni, menyeru dia kepada kebenaran adalah satu topik, dan memperingatkan dari dia adalah topik lain yang terpisah.

Pertanyaan: Jadi mereka memperingatkan orang darinya tanpa nasihat, ya syaikh?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Seseorang yang menjadi dikenal karena memiliki kebid’ahan, ada penjelasan (kepadanya) dan penyampaian nasihat kepadanya telah berlangsung, maka bukanlah kewajiban atas orang-orang untuk menasehati dia. Namun wajib bagi mereka untuk mengikuti para Ulama mereka untuk menyikapi dia, ya.

Pertanyaan 7: Apakah diizinkan untuk mendengarkan kaset kajian dari Ahlul Bid’ah?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Demi Allaah, lebih tepat jika hal itu tidak dilakukan, sebab kadang-kadang hatinya bisa menjadi terkait dengan dia, dan telah dikatakan kepada Ibnu Sirrin, “Bolehkah aku (ahli bid’ah, red) membacakan suatu ayat kepada anda ?”, dan ia berkata, ” Tidak, bahkan tidak separuh ayat”. Mengapa? Sebab sesuatu kekaguman dengannya mungkin masuk ke hati, dan cinta bacaannya, dan demikian ia mencintai dia dari sisi ini, dan dengan begitu ia menjadi suatu pecinta Ahlul ‘Ahwa wal Bid’ah.

(Sumber URL http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=2970. Alih bahasa ke Inggris oleh Abu Iyaad, da’i Salafy dari Inggris dan pengelola Maktabah As Salafiyyah (Salafipublications.com). URL asli dalam bahasa Arab http://www.sahab.net/sahab/showthread.php?threadid=299633)

Dinukil dari: http://www.salafy.or.id/?p=531

~**~

Manhaj ‘Sana-Sini’ dalam sorotan Ulama’ (III)

Pertanyaan 8-10: Bagaimana cara mengatasi pemuda yang dibingungkan dan tak berdaya, berkenaan dengan para Ulama yang berbeda, dan bagaimana cara berhadapan dengan Ahlul Bid’ah, disaat mereka memiliki kekuatan dan kekuasaan

Pertanyaan 8: Apa yang merupakan cara yang paling memberikan contoh dalam berhadapan dengan pemuda yang telah dibuat bingung, ditipu oleh Ahlul Bid’ah, demi untuk mengarahkan mereka kepada jalan yang selamat ?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Cara yang paling tepat dalam memberikan contoh adalah bahwa mereka diajak rujuk kepada Ahlul Ilmi tentang siapa-siapa orang-orang (mubtadi’) yang mereka (pemuda, red) sudah dibuat bingung, ditipu, (sementara) para Ahlul Ilmi sudah berbicara mengenai dia (Ahlul Bid’ah). Bagaimana?!! Sebagai contoh, ketika Ulama fulan membicarakan Zaid di antara orang-orang, dan kemudian mereka dikacaukan, ditipu mengenai dia (yaitu mengenai orang yang telah terlebih dahulu berbicara dan bertentangan), kemudian dikatakan, “Tanyalah fulan, sebab ia telah membicarakannya, dan ia adalah di antara orang-orang yang paling mengetahui tentangnya”. Maka ia merujuk kembali kepadanya (Ulama itu). Sebab bagi orang-orang yang demikian itu, Allaah – dengan Kemurahan dan KasihNya – membongkar talbis (pengkaburan) yang dibuat terhadap orang-orang tersebut (Ulama’).

Pertanyaan 9: Mengenai adanya da’i, dimana para Ulama sudah berbeda menyikapinya, dengan tautsiq mereka dan tajrih, atau ta’dil dan tajrih, apa wajib atas orang-orang yang umum di kalangan Salafiyyin memperhatikan mereka (yaitu. perbedaan yang ada pada mereka)?
Syaikh Muhammad bin Hadi: Adalah wajib atas orang-orang yang umum di antara Salafiyyin untuk melihat perkataan seseorang disertai pendalilan dan kesaksian mengenai seseorang yang para Ulama sudah berbeda bersikap, dalam jarh dan ta’dil. Seperti halnya situasi mengenai mereka yang para Ulama berbeda baik dalam Jarh (mencela) atau Ta’dil (memuji) di masa periwayatan (hadits-hadits). Karena kita temukan bahwa Abu Haatim, Ahmad, Al-Bukhaari, Abu Dawud, An-Nasaa’I dan yang selevel dengan mereka, semoga Allaah merahmati mereka, berbeda pendapat terhadap seorang periwayat, dan yang lain menentang mereka. Maka seseorang datang dan ia memuji salah satu dari mereka, dan yang lain datang dan meremehkan. Maka Ahmad, Abu Haatim, dan al-Bukhaari memuji, dan Abu Daawud mengabaikan, dan an-Nasaa’i mengabaikan, dan Abu Zur’ah mengabaikan, dan seperti ini… Maka kemudian kita memperhatikan pernyataan mereka dan kita tergantung pada pendalilan, maka siapapun membawa dalil, kemudian ia diberi hak yang lebih tinggi. Ketika orang yang membuat peremehan (jarh), menyampaikan jarhnya secara lengkap, maka kasus jarh tadi diberi hak kedudukan yang lebih tinggi, sebab seseorang yang mengabaikan (jarh), mempunyai pengetahuan lebih tentangnya, dan kemudian perkataannya dijadikan tempat bergantung. Dan ta’dil di hadapan jarh mufassar tidaklah diterima, sekalipun itu adalah dari seorang yang besar/mulia. Ini adalah apa yang wajib, adalah wajib bahwa ia lihat di sisi pendalilan tiap kelompok, dan siapapun membawa dalil, kemudian ia telah menempuh alur (kepada tujuan yang benar), dan adalah wajib untuk berittiba’ (mengikuti) dia.

Pertanyaan: Tetapi syaikh, orang yang umum (awam, red) tidak mengetahui dalil (hujjah)!!!

Syaikh Muhammad bin Hadi: pembicaraan mengenai orang tersebut (yang sedang dibicarakan) adalah untuk satu yang mempunyai kemampuan! Perihal orang-orang yang umum (awam, red) yang tidak mempunyai pengetahuan apapun, kemudian tidak ada apapun untuk mereka kecuali taqlid pada para Ulama, dan berittiba’ kepada para Ulama mengenai hal ini.

Pertanyaan: Para Ulama dapat kadang-kadang berbeda dalam at-ta’dil dan at-tajrih…

Syaikh Muhammad bin Hadi: [menyela]… orang-orang yang umum berittiba’ kepada mereka, mereka mengikuti para Ulama tersebut.

Pertanyaan: Para Ulama berbeda mengenai ta’dil seseorang, dan tajrih terhadapnya!

Syaikh Muhammad bin Hadi: Siapa yang akan menunjuki orang-orang yang umum? Itu adalah kalian, para thalabul Ilmi, kalian perhatikan pada siapa orang yang berdalil, dan kemudian kalian arahkan orang-orang, anda katakan “yang benar, perkataan benar adalah perkataan begini dan begitu, bukti yang ada padanya”, ya, orang-orang yang umum tidaklah ditinggalkan untuk disia-siakan!

Pertanyaan 10: Ketika Ahlul Bid’ah mempunyai kekuatan di daratan/wilayah, dan mereka mempunyai kekuasaan, kemampuan untuk melawan dakwah, apakah mereka diboikot?!!!

Syaikh Muhammad bin Hadi: Tidak… Tidak… hati-hati, hati-hati, waspada terhadap mereka, ya, Berhati-hati adalah sikap yang diambil terhadap Ahlul Ahwa dan bid’ah ketika Ahlus Sunnah lemah. Untuk itu adalah wajib atas Ahlus Sunnah untuk berhati-hati, waspada tentang Ahlul Bid’ah dan bahwa Ahlu Bid’ah adalah murka terhadap mereka (ahlussunnah). Karena apabila mengambil jalan ini (memboikot) menimbulkan pemberantasan garis keturunan (yaitu. kelanjutan) Ahlus Sunnah, maka tidaklah diperbolehkan bagi mereka untuk mengambil cara ini. Wajib atas ahlussunnah berhati-hati, waspada terhadap ahli bid’ah yang murka, waspada, dan bagi mereka untuk bertahan, semaksimal yang mereka bisa, karena mereka adalah lemah.

Bersambung ke Manhaj “Sana-Sini” dalam sorotan Ulama’ (IV)

(Sumber URL http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=2970. Alih bahasa ke Inggris oleh Abu Iyaad, da’i Salafy dari Inggris dan pengelola Maktabah As Salafiyyah (Salafipublications.com). URL asli dalam bahasa Arab http://www.sahab.net/sahab/showthread.php?threadid=299633)

Dinukil dari: http://www.salafy.or.id/?p=532

~**~

Manhaj ‘Sana-Sini’ dalam sorotan Ulama’ (IV)

Pertanyaan 11-12: Kapan memulai mengambil posisi/sikap yang jelas terhadap mereka yang menyimpang dari kalangan Salafiyyin, berkenaan dengan hubungannya dengan dengan Ahlul Bid’ah

Pertanyaan 11: Ketika seseorang jatuh ke dalam penyimpangan-penyimpangan (inhiraafaat), dan tidak kembali dari(penyimpangan-penyimpangan itu), sebagian dari pemuda menyatakan bahwa ia adalah Salafi dan ia mempunyai kesalahan-kesalahan. Maka apakah perkataan ini [... tidak jelas]… tentang individu-individu itu?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Penyimpangan (Inhiraafaat) itu bermacam-macam (aqsaam) dan bertingkat-tingkat (maraatib), karenanya baik penyimpangan yang menjurus ke arah kebid’ahan, atau mereka yang kurang/ lebih rendah tingkatnya tetap berarti fisq (dosa), maka ketika penyimpangan-penyimpangan menuju ke kebid’ahan, maka semua pembicaraan mengenai hal ini adalah apa yang telah telah yang didahului (dalam jawaban-jawaban yang terdahulu).

Pertanyaan 12: Ketika seorang pemuda memperingatkan dari seseorang yang bermanhaj jahat/sesat , kemudian orang-orang(tertentu) menyerang kepada kami, sambil berkata, ” ia adalah Salafi, ushul-nya adalah Salafiyyah, dan kita akan bersabar atasnya seperti halnya Syaikh Rabi’ bersabar dengan al-Maghraawi dan Adnaan Ar’ur, dan seperti halnya Nuh bersabar dengan kaumnya”… maka apa perkataanmu?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Ini adalah tidak benar, ketika orang-orang (yang sudah membuktikan) kesabaran (dalam hubungannya dengan orang itu (bermanhaj sesat)) sudah mengakhiri (waktu) kesabaran mereka, maka apa yang anda inginkan?! Wajib atas kita untuk mengikuti mereka(orang yang membuktikan kesabarannya), ketika mereka (orang-orang yang menunjukkan kesabaran atasnya) sudah mengakhiri (waktu kesabaran mereka), maka itu sudah cukup/berakhir. Sedangkan apabila belum, maka pembicaraan tersebut bukanlah tugas kita, melainkan tugas Ahlul Ilmi yang mengerti tentang hal ini, mereka adalah yang dinanti untuk ini (yaitu. menantikan mereka), mereka adalah orang-orang yang akan mengeluarkan (suatu ketetapan mengenai ini).

Pertanyaan: Sebagian dari pemuda Salafi memberi salam kepada Ahlul Bid’ah dan berjabat tangan dengan mereka, maka ketika anda menjelaskan (perkara-perkara) kepadanya dan menasehati dia ia katakan (sebagai suatu alasan) bahwa ada manfaat duniawi (masaalih) antara dia dan orang itu, maka apakah ini suatu alasan (sah)?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Ketika ia mempunyai suatu ta’wil saa’igh (suatu penafsiran dalam perkara yang diizinkan, bisa diterima), maka tidak ada larangan, sedangkan ketika ta’wil nya (untuk penafsiran perkara ini) tidak diizinkan, maka tidak. Agama diberi hak yang lebih tinggi di atas keuntungan-keuntungan dunia. Ya.

Bersambung ke Manhaj “Sana-Sini” dalam sorotan Ulama’ (V)

(Sumber URL http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=2970. Alih bahasa ke Inggris oleh Abu Iyaad, da’i Salafy dari Inggris dan pengelola Maktabah As Salafiyyah (Salafipublications.com). URL asli dalam bahasa Arab http://www.sahab.net/sahab/showthread.php?threadid=299633)

Dinukil dari: http://www.salafy.or.id/?p=533

~**~

Manhaj ‘Sana-Sini’ dalam sorotan Ulama’ (V)

Pertanyaan 13-15: Contoh Ilustratif dari apa-apa yang tidak merugikan atau manfaat dalam memboikot, dan menguji mereka bagi yang mengaku bertobat dari hizbiyyah dengan mengamati apa mereka lakukan

Pertanyaan 13: Ada seorang laki-laki yang bersama kami, Syaikh Rabi pernah ditanya tentangnya beberapa waktu yang lalu
Syaikh Muhammad bin Hadi: [menyela]… di mana, di Libya?

Penanya: Di Libya

Syaikh Muhammad bin Hadi: Ya

Penanya: Maka beliau [Syaikh Rabi'] berkata bahwa ia adalah dari Ahlul Bid’ah, dan ia harus diboikot, dan [bahwa ia adalah] seorang Hizby. Dan menindaklanjuti pembicaraan yang telah disimpulkan ini, para pemuda mengambil fatwa ini, dan mereka memboikot individu ini. Tetapi ia mempunyai beberapa kekuatan di negeri tersebut dan ia bisa memindahkan sebagian dari pemuda Salafi dari mimbar (mesjid, yaitu memenjarakan mereka), dan pemuda tidak berhenti untuk memboikot dia dan tetap menyeru untuk memboikot dia!!

Syaikh Muhammad bin Hadi: Ketika hal itu tidak mempengaruhi Ahlus Sunnah, dan segala puji bagi Allaah, dan satu atau dua (diantara mereka) dipenjarakan, kemudian ini adalah bukan [dianggap] suatu pengaruh, hal ini tidaklah berpengaruh, dan Sunnah tetap dan [masih] nampak. Sedangkan ketika dikhawatirkan bagi Ahlus Sunnah secara umum dari yang serupa dengan ini [seperti] garis keturunan mereka (yaitu. kesinambungan) akan dipotong [dan diakhiri], maka tidak! Syaikh Rabi tidak berbicara dengan ini, dan kita mengetahui dia sebagai yang terbesar dari orang-orang dalam menjaga di atas manfaat dan mudharat.

Pertanyaan 14: Ketika kita ingin memperingatkan dari seseorang, mereka katakan bahwa “Ia mempunyai ushul Salafy”, jadi siapakah orang yang harus menilai bahwa ia mempunyai ushul Salafy?

Syaikh Muhammad bin Hadi: Ini adalah pertanyaan yang mengambang… Ushul Salafy, apa maksudnya ?!!! Orang yang ushul-nya adalah Salafi, ia adalah seorang Salafi, dan seorang Salafi tidaklah dingatkan supaya hati-hati terhadapnya. Hanyalah seorang khalafi yang dingatkan supaya hati-hati terhadapnya, dan oleh karena itu, tidak akan tersisa bersamanya ushul Salafy, atau [Kata tidak jelas] suatu asal dari asas Salafiyyah bersamanya, apa yang akan tersisa?!! Maksudnya, pembicaraan tersebut tidaklah tepat, jelaskan kepada kami dengan suatu contoh yang menjelaskannya sedemikian sehingga aku dapat memahaminya!

Pertanyaan 15: Apakah pernyataan taubat seseorang dari Hizbiyyah yang diterima, dan apakah boikot disingkirkan darinya dengan seketika, atau setelah satu tahun sebagaimana Umar (Radiyallaahu ‘anhu) lakukan atas Subaigh bin ‘Asal?!!

Syaikh Muhammad bin Hadi: seseorang yang bertaubat dari Hizbiyyah, kita uji (perhatikan) dia, kita uji dia! [Kita] tidak [lakukan], ketika ia datang mendekat kepada kita, (kita) tinggalkan dia dan untuk semata-mata kedengkian (kita) mengatakan “mencari-cari kesalahannya”? Tidak! Kita uji dia. Bagaimana cara kita menguji dia? Dengan dia tinggal bersama kita (yaitu. bercampur di antara kita). Ya, ia telah menentang kita, lalu ketika ia berkata “Aku bertaubat kepada Allah”…kemudian kita katakan “Selamat datang”, kita hanya mempunyai (manifestasi/kenampakan) yang keluar darinya [untuk menilai], tetapi manifestasi yang keluar ini dibuat nyata dengan apa? Dengan interaksi, pencampuran (dengan dia), dan jika ia sedang menyembunyikan sesuatu dari kita, maka sesungguhnya Allaah, ‘Azza wa Jalla akan membongkarnya. Dan kita katakan, “berjalan di antara manusia”, dan kita akan lihat dia, dalam sikapnya, dalam tindakannya, dan dalam istiqamahnya di atas manhaj Salafy, dan jika kita lihat dia atas selain dari itu, maka (kenyataan) yang tersembunyi padanya akan sudah menjadi nyata, dan kita akan sudah mengenal dia sebagai seorang kadzdzab (pendusta). Dan di samping itu bahwa kita juga menjaga diri kita.

Selesai.

(Sumber URL http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=2970. Alih bahasa ke Inggris oleh Abu Iyaad, da’i Salafy dari Inggris dan pengelola Maktabah As Salafiyyah (Salafipublications.com). URL asli dalam bahasa Arab http://www.sahab.net/sahab/showthread.php?threadid=299633)

Dinukil dari: http://www.salafy.or.id/?p=534

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s