Penulis: Syaikh Robi’ bin Hadi al Madkholi
عن معاذ بن جبل – رضي الله عنه – قال كنت رديف النبي صلى الله عليه وسلم على حمار، فقال لي : « أتدري ما حق الله على العباد وما حق العباد على الله؟ قلت : الله ورسوله أعلم. قال حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئاً، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئاًِ. قلت : يا رسول الله أفلا أبشر الناس؟ قال : لا تبشرهم فيتكلوا ».
(أخرجه البخاري ومسلم والترمذي وابن ماجه وأحمد).
Dari Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Saya pernah membonceng Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam di atas himar, beliau berkata kepada saya, “Tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-hambaNya dan apa hak hamba atas Allah?” Saya berkata, “Allah dan RosulNya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Hak Allah atas hambaNya ialah agar mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun. Dan hak hamba atas Allah ialah tidak diadzab selama dia tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.” Saya berkata, “Wahai Rosulullah, bolehkah aku memberi kabar gembira ini kepada manusia?” Beliau berkata, “Jangan engkau kabarkan, nanti mereka bersandar dengannya.”
(Dikeluarkan oleh al Bukhori[1], Muslim[2], Tirmidzi[3], ibnu Majah[4], dan Ahmad[5]).
Periwayat Hadits:
Beliau adalah Mu’adz bin Jabal bin ‘Amr bin Aus al Anshori al Khozroji Abu Abdirrohman, sahabat yang terkenal termasuk sahabat yang terkemuka. Beliau mengikuti perang Badr dan setelahnya. Telah sampai kepada beliau ilmu, hukum-hukum, dan al Qur’an. Meninggal tahun 18 H di Syam dalam bencana penyakit pes.
Kosakata:
رديف : menunggang di belakang seseorang.
حق الله على العباد : apa-apa yang menjadi hak Allah atas para hambaNya dari ibadah dan ketaatan.
حق العباد على الله : pemberian nikmat-nikmat dan keutamaan, Allah mewajibkan hal tersebut kepada diriNya sendiri sebagai keutamaan dan kebaikan atas orang-orang yang bertauhid dan ikhlas. Dan tidak ada bagi Allah, hak yang diwajibkan oleh akal sebagaimana sangkaan kaum Mu’tazilah.
أفلا أبشر الناس : mengabari mereka berita yang menggembirakan.
يتكلوا : bersandar.
Makna secara Global:
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadits ini tujuan Allah menciptakan makhluk, yaitu mengesakan Allah semata dalam ibadah dan ikhlas untukNya. Karena sungguh ini hak yang paling besar, tidak dimiliki oleh siapa-siapa kecuali hanya milik Allah Maha Pencipta, Maha Agung, Maha Pemberi nikmat, dan Maha Pemberi Keutamaan.
Sebagaimana Rosul yang mulia telah menjelaskan balasan yang berhak diperoleh hamba dari Allah – jika mereka menegakkan kewajiban yang paling besar ini (mengikhlaskan ibadah) – yaitu balasan bahwa Dia menyelamatkan mereka dari adzab neraka dan memasukkan mereka ke surga yang penuh kenikmatan.
Perkara ini menyenangkan dan menggembirakan orang yang beriman sehingga berkata Mu’adz meminta ijin Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam: “Bolehkah aku memberi kabar gembira ini kepada manusia?” Tetapi Rosul shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang Mu’adz untuk kemaslahatan umatnya dan rasa kasih sayang beliau supaya umatnya bersungguh-sungguh dalam beramal yang dapat mendekatkan kepada Allah dan supaya mereka berlomba-lomba di dalamnya sehingga mereka memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah karena kesungguhan, jihad, dan berlomba-lombanya mereka. Sebaliknya, jika mereka berlambat-lambat dalam beramal dan menyandarkan kepada janji semacam ini maka sungguh mereka akan kehilangan banyak kebaikan dan pahala yang besar.
Faidah yang diperoleh dari hadits:
1. Sikap hikmah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengajar di mana beliau membuka pelajaran dengan pertanyaan supaya lebih berpengaruh dalam diri dan lebih terang bagi pemahaman orang yang belajar.
2. Tawadhu’ dan baik akhlaqnya Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau menaiki himar (keledai) memboncengkan sahabatnya di atas tunggangan.
3. Terdapat penjelasan hak Allah yang paling besar atas hamba-hambaNya, yaitu tauhid kepada Allah dan mengesakanNya dalam ibadah.
4. Terdapat keutamaan yang diberikan Allah kepada hambaNya yang menunaikan hak tersebut dengan balasan terbaik.
5. Disunnahkan memberi kabar gembira kepada kaum muslimin.
6. Sikap takut dari bersandar kepada luasnya rahmat Allah, karena akan banyak merugikan orang-orang yang bodoh.
Sumber: مذكّرة الحديت النبوي في العقيدة والإتباع
[1] Kitab al Libas: hadits nomor 5967.
[2] Kitab al Iman: hadits nomor 48-51, 53.
[3] Kitab al Iman: hadits nomor 2643, 26/5.
[4] Kitab az Zuhd: hadits nomor 4269, 1435/12.
[5] 3/260-261.
Dinukil dari:


