Category Archives: FATWA ULAMA

Fatwa Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Tentang ad-Daulah al-Islamiyyah fi al-Iraq wa asy-Syaim (DAIS) atau Islamic State in Iraq and Syam (ISIS)


Judul asli: Awas!! Deklarasi Khilafah Islamiyyah Khayal di Iraq!!

Baru-baru ini,  orang-orang dungu dari kalangan Khawarij di Iraq, membikin “kejutan” baru lagi dengan mendeklarasikan apa yang mereka sebut sebagai “Khilafah Islamiyyah” sebagai ganti dari ad-Daulah al-Islamiyyah fi al-Iraq wa asy-Syaim (DAIS) atau Islamic State in Iraq and Syam (ISIS). “Khilafah Islamiyyah” merupakan sebuah nama yang benar-benar mengundang simpati kaum muslimin secara luas. Membuat banyak pihak terkecoh dan terpesona, bahkan tertipu dengannya. Sehingga tidak jarang dari mereka yang turut mengelu-elukan, dan menganggap bahwa asy-Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi al-Husaini yang dibai’at dan dinobatkan sebagai khalifah tersebut, benar-benar sebagai khalifah Islam. Tanpa mereka (kaum muslimin tersebut) mengetahui apa hakekat sebenarnya “Daulah Islamiyyah” atau pun “Khilafah Islamiyyah” itu, yang didirikan tidak lain oleh orang-orang khawarij. Belum apa-apa,  sudah ada pernyataan, bahwa mereka bersumpah akan menghancurkan Ka’bah jika berhasil menguasai Arab Saudi. Mereka menyatakan Ka’bah menyebabkan seseorang “menyembah batu selain Allah”.  Lahaula wala Quwwata illa billah!

Sebenarnya orang-orang khawarij yang selama ini menyerukan “jihad” di Iraq dan di Syam itu terpecah belah dalam banyak kelompok/parta/pergerakan, dan terjadi persaingan antar mereka. Tentu saja kita tahu, siapa dan bagaimana sepak terjang Khawarij salama ini. Iya, tidak lain mereka adalah kelompok-kelompok teroris, yang selama ini banyak merugikan dan memberikan citra yang buruk terhadap Islam dan kaum muslimin. Akibat berbagai tindakan dan aksi mereka selama ini yang ternyata tidak selaras dengan Syari’at Islam. Walhasil, sebenarnya kelompok Khawarij – dengan berbagai macam pecahan dan variasinya – adalah kelompok sempalan dan sesat dari Islam.

Sementara itu, di sisi lain, kalangan Islamphobia, baik dari kalangan Islam Liberal, Sekuler, atau pun lainya, menunjukkan sikap anti dan kebenciannya dengan “Daulah Islamiyyah” yang baru diproklamirkan tersebut. Momen ini benar-benar mereka jadikan kesempatan untuk menghantam kaum muslimin dan menjatuhkan nama baik Islam.

Alhamdulillah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah pihak yang paling tenang dalam menghadapi berbagai fitnah dan kemelut yang terjadi. Mereka tidak gampang tertipu dan “terseret arus”. Karena Ahlus Sunnah memiliki pedoman yang jelas dalam menyikapi berbagai persoalan, termasuk persoalan-persoalan kontemporer kekinian. Para ‘ulama Ahlus Sunnah senantiasa tegar tampil dalam tataran International, memberikan bimbingan kepada kaum muslimin.

Menyikapi “gegap-gempita” lahirnya “Khilafah Islamiyyah” ini, berikut kami bawakan penjelasan dari Dua ‘Ulama Besar Ahlus Sunnah masa ini: asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah dan asy-Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah.

Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah.

Tatkala disampaikan kepada beliau apa yang terjadi di kalangan orang-orang dungu di negeri Haramain, yaitu mereka ikut-ikutan membait Abu Bakr al-Baghdadi sebagai Khalifah kaum Muslimin. Maka asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin al-’Abbad mengatakan, “Mereka telah membait syaithan!!”

Sumber :

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=145178

 

asy-Syakh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah

Pertanyaan : Mohon penjelasan tentang Khilafah Islamiyah yang dideklarasikan kemarin.

Jawab :

Wahai saudaraku. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Telah tampak berbagai kerusakan di daratan dan lautan, akibat perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum : 41)

Kerusakan ini, disebabkan oleh sikap esktrim (radikal) atau, sebaliknya disebabkan oleh sikap lembek (deradikal).

Pertama : at-Tafrith (Deradikal) : Yang dilakukan oleh orang-orang mulhid, sekuler, dan liberal. Orang-orang yang mengajak kepada kejelekan, kekotoran, kefajiran, kebebasan, dan kedungungan. Ini bagian pertama.

Kedua : al-Ifrath (Radikal) : Yang dilakukan oleh orang-orang khawarij dan semua kelompok yang berjalan di atas manhaj (prinsip) mereka.

Hari ini orang-orang dungu tersebut memdeklarasikan berdirinya Daulah “Khilafah Islamiyyah” khayal!! Ini sudah “cerita lama” yang sudah kami ketahui sejak 80 tahun lalu!! Mereka membaiat khalifah sirriyyah (sembunyi-sembunyi/rahasia) berdasarkan manhaj mereka yang bejat itu. Masing-masing mereka memiliki baiat sirriyyah untuk orang-orang yang majhul (tidak dikenal).

Hari ini mereka memproklamirkan – dan sudah sangat sering mereka memproklamirkan – kemudian apabila sang proklamator dibunuh atau hilang, mereka akan mendatangkan khalifah baru lagi!! Ini semua mirip dengan “Mahdi” versi Rafidhah – wal’Iyya dzu billah.

Khilafah yang dideklarasikan ini kata mereka adalah Khilafah untuk kaum muslimin semuanya!! Demikian mereka mengklaim, bahwa itu untuk kaum muslimin. Setelah mereka menyembelih dan melakukan berbagai hal terhadap saudara-saudara kita di Iraq. Padahal, baik dia (negara khayal ini) maupun rival mereka yaitu kaum Syi’ah Rafidhah, dua pihak ini sebenarnya sama-sama tidak menginginkan kebaikan untuk umat Islam!!

Maka wajib atas kita untuk mentahdzir (memperingatkan dan waspada) dari dua jenis ini, kelompok ini (pendiri “Khilafah Islamiyyah” ini) dan juga lawan mereka, yaitu kaum Rafidhah. Dua jenis kelompok ini sama-sama di atas kejelekan yang berkepanjangan. Semuanya di atas kesesatan. Semuanya sama-sama sepakat secara diam-diam untuk memusuhi Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Maka waspadalah dari bai’at khurafat ini. Kedustaan yang mereka namakan “Khalifah Muslimin masa ini”. Dia ini adalah Dajjal, pendusta, termasuk para du’at kebatilan. Dia telah menyembelehi kaum muslimin di Syam, dan sekarang dia datang menyembelehi kaum muslimin di Iraq!! Dia bekerjasama dengan Thaghut Syam dalam menyembelehi kaum muslimin. Oleh karena itu thaghut Syam membiarkan dia, tidak memeranginya.

Kemudian sekarang, seluruh kekuatan jelek bersatu, dan Barat ada dibelakang mereka dengan segala dukungan. Para penyeru kejelekan dalam barisan yang dinamakan sebagai “Daulah Khilafah!” “Daulah Rafidhah”, semua nama-nama ini sekarang berupaya menyambar Islam dan Muslimin.

Maka kita memohon kepada Allah – Tabaraka wa Ta’ala – agar meninggikan kalimat-Nya, membela agama-Nya, menumpas orang-orang jelek dari kalangan para ahlul bid’ah, pengekor hawa nafsu, dan para musuh agama dari jenis manapun, baik para radikalis maupun deradikalis. Mereka itu semua adalah para Dajjal, hati-hatilah kalian jangan sampai kagum dan tertipu dengan mereka!!

….

Sebagaimana pula aku telah mewasiatkan kepada penduduk Iraq kemarin, demikian pula telah aku wasiatkan kepada penduduk negeri lain sejak lama :

Yaitu, hendaknya mereka tinggal di rumah masing-masing. Kalau mereka diserang/dizhalimi, maka silakan membela diri. Barangsiapa yang terbunuh demi membela harta, kehormatan, atau jiwanya, maka dia syahid.

Namun jangan ikut berperang bersama kelompok-kelompok/partai-partai itu semua. Mereka semua itu berada di atas kesesatan. Baik Daulah Rafidhah, atau Daulah Syam dan Iraq (DEAS/ISSI), ataupun Daulah “Khilafah Khayalan” .

Mereka itu semua adalah lawan Ahlus Sunnah, janganlah kita tersibukkan dengan mereka. tidak ada kepentingan kita terhadap mereka. Bahkan, kita tetap beribadah kepada Allah, belajar, dan mendalami agama Allah, terus demikian hingga akhir hayat.

Ditranskrip dari Pelajaran Syarh “Ushulus Sunnah” al-Imam Ahmad, pelajaran ke-3 tanggal 3 Ramadhan 1435 H / 1 Juli 2014

Sumber http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=145025

Dinukil dari: http://miratsul-anbiya.net/2014/07/08/awas-deklarasi-khilafah-islamiyyah-khayal-di-iraq/#comment-3454

Bagaimana Seseorang Tahu Bahwa Dirinya Mendapatkan Lailatul Qadr?


Pertanyaan :

Bagaimana seseorang muslim bisa mengetahui bahwa dia telah menepati Lailatul Qadr, dengan upaya dia mencari pada malam-malam yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Al-’Allamah al-Albani rahimahullah menjawab :

“Itu merupakan perkara yang dirasakan oleh hati, yang dirasakan oleh setiap orang yang diberi nikmat oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala kepadanya berupa bisa melihat (mendapatkan) Lailatul Qadr. Karena seseorang pada malam-malam (10 terakhir) tersebut berkosentrasi untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, berdzikir dan shalat. Maka Allah ‘Azza wa Jalla tampakkan kepada sebagian hamba-Nya dengan perasaan yang tidak seperti biasanya. Sampai-sampai orang-orang shalih pun, dia tidak merasakan pada semua waktunya.

Perasaan inilah yang mungkin untuk dijadikan sandaran, bahwa orangnya melihat (mendapatkan) Lailatul Qadr.

Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah pertanyaan yang menunjukkan bahwa seseorang merasakan bisa melihat Lailatul Qadr merupakan suatu yang memungkinkan. Yaitu tatkala ‘Aisyah menyampaikan pertanyaannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Wahai Rasulullah, Apabila aku melihat Lailatul Qadr maka apa yang seharusnya aku ucapkan?”

Nabi menjawab, “Ucapkanlah :

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau pema’af, suka pada ma’af, maka ma’afkanlah aku.”

Pada hadits ini ada dua faidah,

Pertama, Bahwa seorang muslim memungkinkan untuk bisa merasakan secara pribadi bahwa dirinya telah mendapatkan Lailatul Qadr.

Kedua, Bahwa seorang muslim apabila merasakan itu (bahwa dirinya mendapatkan Lailatul Qadr) maka do’a terbaik yang dia ucapkan adalah do’a tersebut.

Dalam kesempatan ini, dalam kitab kami at-Targhib – pada sebagian durus terakhir – terdapat faidah : bahwa sesuatu terbaik yang diminta oleh seorang manusia kepada Rabb-nya Tabaraka wa Ta’ala adalah : permohonan ma’af dan ‘afiyah (penjagaan) di dunia dan di akhirat.

Ya, pada Lailatul Qadr terdapat beberapa tanda dan alamat yang tampak. Namun tanda-tanda tersebut bisa jadi tidak semua orang yang mengetahui Lailatul Qadr tersebut bisa melihat semua tanda-tanda tersebut. Karena tanda-tanda tersebut sebagiannya berkaitan dengan cuaca global di luar. Misalnya, tandanya adalah malam tersebut tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas, namun pertengahan. Bisa jadi seseorang berada dalam cuaca yang tidak memungkinkan bisa merasakan kondisi cuaca alami di negeri tersebut. demikian pula ada pula tanda-tanda yang terjadi setelah berlalunya Lailatul Qadr tersebut. Tanda-tanda tersebut terdapat pada pagi harinya, ketika matahari terbit. Yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa Lailatul Qadr pagi harinya matahari terbit seperti bejana – seperi bulan – tidak ada sinar yang menyilaukan. Demikianlah kondisi matahari ketika terbit pada pagi hari Lailatul Qadr. Tanda ini bisa jadi terlihat oleh sebagain orang shalih, yang memiliki perhatian untuk mengamati tanda-tanda tersebut pada banyak Lailatul Qadr.

Yang penting, bagi seorang yang beribadah, tidak perlu berpegang pada tampaknya tanda-tanda seperti itu. Karena tampaknya tanda-tanda tersebut bersifat umum, yakni itu pembawaan cuaca. Tidak semua orang yang berada pada cuaca tersebut bisa melihat Lailatul Qadr. Yakni bisa jadi, seorang yang berada pada tingkat kejernihan jiwa, pada salah satu kesempatan dari malam yang penuh barakah tersebut, yaitu Allah dengan rahmat dan fadhilah-Nya menampakkan padanya, mengilhamkan dan menguatkan dengan tanda-tanda di atas, dan tanda-tanda lainnya.

Jadi, tanda-tanda yang tampak itu, tidak menunjukkan bahwa siapa yang menyaksikannya dan mengalaminya berarti dia telah telah melihat (mendapatkan) Lailatul Qadr. Ini permasalahan yang jelas.

Namun, satu kondisi yang seseorang mendapati dalam dirinya kejernihan ruhiyyah dan perasaan melihat (mendapati) Lailatul Qadr, dia mengarahkan kepada Allah permintaan (do’a)nya sebagaimana ketentuan syari’at. Inilah sisi yang semestinya kita dengungkan dan kita pentingkan. Semoga Allah mengkarunikan kepada kita malam tersebut.

Dari kaset : Muhadharat Mutafarriqah  no. 360

Dinukil dari: http://miratsul-anbiya.net/2014/07/23/bagaimana-seseorang-tahu-bahwa-dirinya-mendapatkan-lailatul-qadr/

Berkunjung Kepada Karib Kerabat Para Hari ‘Idul Fithri


Pertanyaan : Apa hukum mengkhususkan berkunjung kepada karib kerabat dan teman-teman pada hari ‘Id (Idul Fithri, pen)?

Dijawab : Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

Ini amalan yang bagus. Karib kerabat adalah orang-orang yang paling berhak untuk kita menyambung silaturrahmi dengan mereka. Karena mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan (dengan kita). Mereka adalah orang yang paling berhak, maka mulailah dari mereka. kemudian baru setelah itu orang-orang yang selain mereka.

Ini merupakan hal yang dituntut, yaitu seseorang memulainya dengan karib kerabat. Karena karib kerabat adalah orang yang paling kuat/besar haknya dibanding selainnya. Maka ketika itu, hendaknya berbuat baik kepada mereka dulu. Kemudian setelah itu, apabila didapati waktu lain, maka bisa mengunjungi saudara-saudaranya (yang lainnya).

Jika itu bisa terwujud, maka Alhamdulillah. Jika tidak terwujud, maka itu bukanlah sunnah pada kesempatan tersebut. Namun mencukupkan mencukupkan bertemu dengan mereka di mushalla (tempat shalat ‘Id), juga dengan bertemu dengan mereka di masjid, pada shalat lima waktu. Jika ini terwujud maka cukup, Alhamdulillah.

Tidak dipersyaratkan engkau pergi ke rumahnya. Namun hal ini telah menjadi adat. Sedangkan adat ini tidaklah bertentangan dengan syari’at, dan mereka (muslimin) tidak meyakini ini sebagai ibadah. Hal itu karena, hari itu (Hari ‘Idul Fithri, pen) adalah hari gembira dan bahagia. Maka itu semua tidak mengapa.

 والله أعلم وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وأتباعه بإحسان

Sumber http://ar.miraath.net/fatwah/4062

Dinukil dari: http://miratsul-anbiya.net/2014/07/25/berkunjung-kepada-karib-kerabat-para-hari-idul-fithri/

Berbuka Puasa Menggugurkan Shalat Maghrib Berjamaah?


Tanya:

Apakah berbuka puasa menggugurkan kewajiban shalat maghrib berjamaah?

Dari: +628568XXXXXX

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Pada asalnya, berbuka puasa tidak menggugurkan kewajiban shalat berjamaah. “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan beberapa biji kurma segar sebelum shalat. Jika tidak ada, dengan beberapa kurma kering. Jika tidak ada, dengan beberapa teguk air.” (HR. Ahmad dan lainnya dari Anas radhiyallahu ‘anhu)
Namun, seandainya ada orang berpuasa yang sangat lapar dan tidak mampu menahan diri untuk langsung makan besar (nasi dan lauknya) padahal telah terhidang, tidak mengapa apabila ia ketinggalan shalat jamaah karenanya.

Dinukil dari: http://tanyajawab.asysyariah.com/berbuka-puasa-menggugurkan-shalat-maghrib-berjamaah/

Hukum Mendirikan Usaha Laundry


Soal : sebagian ikhwah ingin membuka tempat Laundry, padahal telah dimaklumi bahwasanya kebanyakan yang memberikan pakaian atau barang tuk dilaundry adalah kalangan awam, karena ikhwah salafiyiin di Indonesia masih sedikit, maka saat-saat ini kalangan awam meletakan celana jeans – pada tempat-tempat laundry – bahkan juga meletakan pakaian-pakaian wanita mutabarrijah (bukan pakaian islami), maka gimana hukum mendirikan tempat laundry tersebut ?

Dijawab oleh:  Syaikh Muhammad bin Abdillah Al Imam (Mudiir Ma’had Darul Hadets di Ma’bar, Yaman)

segala puji bagi Allah Ta’ala, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan aku bersaksi bahwa Muhammad shalallohu ‘alaihi wassalam adalah hamba juga Rasul (utusan Allahu Ta’ala) shalallohu ‘alaihi wassalam, amma ba’du. Barangsiapa yang menjauh dari pekerjaan pada tempat-tempat laundry di atas atau tidak mendirikan tempat laundry sebagai usaha baginya, barangsiapa yang meninggalkan perkara ini karena waro (berhati-hati), maka ini adalah amalan yang baik dan ia akan diberi pahala karena waro tersebut, inilah amalan ahli waro dalam agama islam. adapun orang yang tidak meninggalkan yang demikian, maka ia tidaklah sampai kepada keharoman -maksudnya bekerja pada atau mendirikan tempat laundry dengan kondisi diatas-, thoyyib (maksudnya kepada penanya, paham). Kondisi dia mencuci pakaian manusia, diantaranya pakaian yang mubah (dibolehkan syariat) ataukah padanya sedikit tasyabbuh (menyerupai pakaian orang-orang kafir), ataukah yang lainnya, dia tidaklah melakukan suatu perkara yang harom. Thoyyib (maksudnya, paham) semoga Allah menjagamu.

Alih bahasa: Ahmad bin Ibrahim Ar Riany

Dinukil dari: http://adhwaus-salaf.or.id/tanya-jawab-ringkas/

Hukum Memakai Kalung Atau Gelang Kesehatan


Judul Asli: KALUNG KESEHATAN ; Batu giok, gelang magnetik, terapi segala penyakit?

Tanya:

Apa hukum memakai kalung atau gelang batu yang dipakai sebagian manusia yang lebih terkenal dengan kalung atau gelang kesehatan. Dikatakan gelang atau kalung tersebut dapat meningkatkan kesehatan, imunitas, atau mengobati beberapa penyakit.

Dijawab oleh: al Ustadz Muhammad Rijal, Lc

Memakai kalung atau gelang dengan alasan meningkatkan kesehatan, imunitas atau sebagai sebab kesembuhan beberapa penyakit sebagaimana disebutkan oleh penanya termasuk dari amalan syirik Ashghar (kecil).

Karena si pemakai meyakini gelang atau kalung tersebut adalah sebab kesembuhan, padahal Allah dan Rasul-Nya tidak menerangkan hal tersebut sebagai sebab, secara ilmiyah juga tidak terbukti adanya hubungan sebab akibat memakai gelang atau kalung dengan kesembuhan.

Dalam sebuah hadits dikisahkan, rasulullah shallallohu’alaihi wasallam pernah menjumpai seorang memakai gelang dari kuningan di tangannya. Rasul pun menegur: Apa ini? Dia menjawab: “Saya pakai karena tanganku sakit.” Rasul pun bersabda: “Buanglah gelangmu, ia tidak menambah kecuali kelemahan. Sungguh seandainya engkau mati masih dalam keadaan memakainya, engkau tidak akan beruntung selamanya.”

Dalam hadits lain rasulullah bersabda: “Barang siapa menggantungkan tamimah[1] sungguh dia telah melakukan kesyirikan.”

Ada jenis kalung kesehatan yang terkenal dengan kalung magnetic. Mereka yang memperdagangkannya menyebut sekian manfaat kalung atau gelang maghnetik dengan argumentasi-argumentasi yang ingin menetapkan adanya hubungan sebab akibat yang jelas antara pemakaian gelang atau kalung dengan kesehatan.

Kita katakan, argument tersebut belum jelas, masih sangat samar. Taruhlah seandainya memang ada sisi kebenaran, namun dalam kaedah syareat kita wajib untuk menutup segala pintu yang bisa mengantar kepada kesyirikan, maka tetap hukum memakainya tidak diperbolehkan (haram).

Telah disebutkan bahwa memakai kalung atau gelang dengan keyakinan sebagai sebab kesembuhan termasuk syirik kecil, (maksudnya kecil: tidak mengeluarkan dari islam). Namun demikian Syirik kecil lebih besar di sisi Allah dosanya dari membunuh, berzina, minum Arak, judi dan dosa besar lainnya.

Kemudian perlu diketahui bahwasannya setiap syirik kecil bisa berpindah menjadi syirik besar dan mengeluarkan seseorang dari islam, jika ketawakalan benar-benar tertuju kepada kalung, gelang batu giok dan meyakini bahwa benda-benda itulah yang menyelamatkan dan mendatangkan kesembuhan. Karena pada hakekatnya dia telah menetapkan adanya pengatur alam selain Allah subhanahu wata’ala.

. Wallâhu A’lam.


[1] Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan atau digantungkan dengan keyakinan bahwa sesuatu itu memberikan manfaat menolak penyakit ‘Ain atau lainnya.

Dinukil dari: http://salafartikel.wordpress.com/2014/03/18/kalung-kesehatan-batu-giok-gelang-magnetik-terapi-segala-penyakit/

Memaksakan Diri Dalam Menjamu Tamu


Judul Asli: TAKALLUF DALAM MENJAMU TAMU ; memaksa diri dalam jamuan tamu.

Penulis: al Ustadz Muhammad Rijal, Lc

Tanya:

Ketika datang tamu, terlebih kerabat dekat, haruskah kita memaksakan diri semewah mungkin dalam menjamu mereka sebagai bentuk penghormatan, dalam keadaan kita memang tidak mampu ?

Jawab:

Secara umum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seseorang melakukan perbuatan diluar kemampuan yakni takalluf sebagaimana dalam sebuah hadits:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ نُهِينَا عَنْ التَّكَلُّفِ

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Kami pernah bersama ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kami dilarang dari perbuatan yang memaksakan diri”. [HR al-Bukhâri, no. 6749].[3]

Bahkan secara khusus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang takalluf dalam menjamu tamu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لاَيَتَكّلَّفَنَّ أَحَدٌ لِضَيْفِهِ مَا لاَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ

“Janganlah seseorang memaksakan diri (untuk melayani) tamunya dengan sesuatu yang tidak ia sanggupi”. [Riwayat Abu Nu'aim, al Khathiib dan ad-Dailami. Lihat ash-Shahîhah, no. 2440)]

Dari hadits ini hendaknya tuan rumah saat datangnya tamu memberikan perlakuan istimewa kepada tamunya sebagai bentuk penghormatan namun tidak melampaui batas, tidak takalluf dengan memaksakan sesuatu yang diluar kemampuannya.
Imam al-Hâkim meriwayatkan dari A’masy dari Syaqîq, ia berkata: Saya dan temanku mendatangi Salmân  Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian ia menyuguhkan roti dan garam kepada kami sembari berkata :

لَولاَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا عَنِ التَّكَلُّفِ لََتَكّلْتُ لَكُمْ

“Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang kami untuk berbuat takalluf, niscaya saya akan mengusahakannya”. Wallahuta’ala a’lam.

Dinukil dari: http://salafartikel.wordpress.com/2014/03/24/takalluf-dalam-menjamu-tamu-memaksa-diri-dalam-jamuan-tamu/