Arsip Kategori: FATWA ULAMA

HUKUM OTOPSI JENAZAH


Hukum otopsi jenazah muslim untuk belajar ilmu kedokteran Islam sebagai agama yang sempurna menetapkan beberapa kaedah untuk menjawab permasalahan yang belum terjadi pada zaman Rosululloh.

Diantara kaedah tersebut adalah:

Apabila bertentatangan antara dua kemaslahatan maka diambil maslahat yang terbesar demikian juga bila bertentangan antara dua mafsadah maka diambil yang paling ringan. (Al Qowaidul Fiqhiyah karya Asy Syaikh As Sa’di)

Masalah otopsi dan bedah mayat muslim atau dzimmi masuk dalam kaedah ini, karena otopsi banyak mengandung faedah yang sangat besar seperti mengungkap tindakan kriminalitas mendeteksi sedini mungkin adanya wabah menular sehingga cepat bisa diatasi dan beberapa manfaat lainnya.

Juga apa yang lakukan oleh mahasiswa kedokteran untuk melakukan bedah mayat dalam rangka belajar banyak mengandung manfaat untuk ummat. Semua ini walaupun bertentangan dengan maslahat menjaga kehormatan mayat, maka harus dilihat mana yang lebih besar masalahatnya sehingga bisa dihukumi boleh ataukah tidak ?

Kalau dilihat secara umum tentang keharusan menjaga kelangsungan hidup manusia maka prektek bedah dengan tujuan seperti ini diperbolehkan. Wallahu A’lam.

Jika ada yang bertanya : Kenapa tidak digunakan jasad binatang saja ?

Jawab : Ada perbedaan yang besar antara organ tubuh manusia dengan organ tubuh binatang yang dengannya tidak mungkin dijadikan dasar dalam belajar kedokteran. Sebagaimana dengan sangat jelas bagi mahasiswa fakultas kedokteran.

Namun kalau jasad yang di bedah itu mayat yang tidak ma’shum, maka itulah yang lebih selamat.

Ada baiknya kita nukilkan teks fatwa Haiah kibarul Ulama’ no 47 tanggal 20/8/1396 H tentang pandangan Hai’ah terhadap praktek otopsi dan pembedahan mayat muslim untuk tujuan kemaslahatan medis.

Jawab :
Setelah ditelaah ternyata masalah ini mengandung tiga unsur, yaitu : Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian saat terjadi tindakan kriminalitas, Otopsi mayat untuk mengetahui adanya wabah penyakit agar bisa diambil tindakan preventif secara dini, Otopsi mayat untuk belajar ilmu kedokteran, Setelah di bahas dan saling mengutarakan pendapat, maka majelis memutuskan sebagai berikut :

Untuk masalah pertama dan kedua, majelis berpendapat tentang diperbolehkannya untuk mewujudkan banyak kemaslahatan dalam bidang keamanan, keadilan dan tindakan preventif dari wabah penyakit.  Adapun mafsadah merusak kehormatan mayat yang di otopsi bisa tertutupi kalau dibandingkan dengan kemaslahatannya yang sangat banyak. Maka majlis sepakat menetapkan diperbolehkan melakukan otopsi mayat untuk dua tujuan ini, baik mayat itu ma’shum ataukah tidak. Adapun yang ketiga yaitu yang berhubungan dengan tujuan pendidikan medis, maka memandang bahwa syariat islam datang dengan membawa serta memperbanyak kemaslahatan dan mencegah serta memperkecil mafsadah dengan cara melakukan mafsadah yang paling ringan serta maslahat yang paling besar, juga karena tidak bisa diganti dengan membedah binatang, dan karena pembedahan ini banyak mengandung maslahat seiring dengan perkembangan ilmu medis, maka majlis berpendapat bahwa secara umum diperbolehkan untuk membedah mayat muslim. Hanya saja karena memang islam menghormati seorang muslim baik hidup maupun mati sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu majah dari Aisyah bahwa

Rosululloh bersabda :
Mematahkan tulang mayit sama seperti mematahkanya ketika hidup. Juga melihat bahwa bedah itu mengihanakan kehormatan jenazah muslim, padahal itu semua bisa dilakukan terhadap jasad orang yang tidak ma’shum, maka majlis berpendapat bahwa bedah tersebut boleh. Hanya saja dilakukan terhadap mayat yang tidak ma’shum bukan terhadap mayat orang yang ma’shum.

Wallahul Muwaffiq.

Faidah dari : Ustadz Abu Sufyan Sedayu Gresik

Sumber website: http://forumsalafy.net/?p=1082

Nasihat Syaikh Mahir Al Qohthony Untuk Pengguna Whatsapp


Arahan dari As Syaikh Mahir Al Qahthany teruntuk Ikhwan yang memanfaatkan fasilitas Whatsapp, dalam rangka menyebarkan kebaikan.

Saya Nasehatkan kepada kalian semua, seluruh saudara dan ikhwan, dengan beberapa wejangan. Saya mengharapkan ganjaran dari Allah semata, dan mengharapkan kebaikan dari amalan yang kalian laksanakan karenanya. Semua yang didasari atas keikhlasan kepada Allah semata.

Pertama: “Bahwa kalian yang sedang mengerjakan amalan ini. Menukilkan ilmu dari Ahlinya dan mengikutinya. Hendaknya didasari karena Thalabul Ilmi, dan didalamnya terdapat fadhilah yang agung.
Dalam sebuah Hadits:”Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan ganjaran semisal dengan orang yang mengerjakannya” (Riwayat Muslim)

Dalam hadits yang lain: “Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu karenanya, maka Allah akan mudahkan jalan baginya menuju Surga”. (Riwayat Muslim)

Kedua: “Wajib dikerjakan dengan niat Ikhlas untuk Allah semata”
Allah Ta’ala Berfirman:”Tidaklah mereka diperintah, kecuali agar mereka beribadah kepada Allah, menjalankan Agama ikhlas kepadaNya”.
Tanda keikhlasan adalah, sebandingnya nilai antara pujian dan celaan orang-orang atas dirimu. Demikian juga engkau tidak merasa marah karena suatu nasehat. Maka kemarahanmu (atas suatu nasehat), ini akan mencemari Keikhlasanmu.

Ini menunjukkan, bahwa amalanmu ini sesungguhnya dikerjakan karena Riya’ dan Sum’ah saja (jika marah). Demikian ini terjadi apabila mereka menasehatimu, kemudian engkau menganggap nasehat tersebut seolah-olah celaan, cacian, penghinaan. Lalu engkau justru membantahnya. Demikian ini termasuk kategori Kesombongan yang tentu tercela.

Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam telah mendefinisikan “sombong”. Beliau sabdakan: “Menolak Al Haq dan Merendahkan orang lain”–(yaitu merendahkan dan melecehkan orang lain)–
Maka jangan sekali-kali engkau membantah nasehat, terlebih lagi bila ditopang dengan hadits. Demikian ini akan menyebabkan dirimu akan hancur binasa, dan engkau akan tertimpa fitnah yaitu kesyirikan.

Allah Ta’ala berfirman, (artinya):”Hendaknya berhati-hati bagi siapa saja yang menyelisihi perintah Rasul-Nya, berakibat mereka akan ditimpa fitnah, ataukah mereka juga akan ditimpa dengan adzab yang pedih”. (An Nur:63).
Al Imam Ahmad menuturkan:” Apakah kalian tahu yang dimaksud dengan Fitnah? Yaitu kesyirikan”.

Seseorang yang membantah Hadits, maka akan berakibat, Allah akan menimpakannya dengan kesyirikan.
Maka terimalah suatu nasehat, jangan engkau membantahnya, jangan pula engkau membalasnya dengan nasehat yang lainnya. Demikian itu bukanlah amalan orang-orang generasi yang terdahulu.

Rasulu Rabbul Alamin Shallallahu alaihi wa sallam, ketika ada seorang yahudi mengatakan kepadanya: “Kalian ternyata berbuat kesyirikan, kalian mengatakan –”Jika Allah DAN Dirimu Menghendaki”–”.
Rasulullah waktu itu tidak membalas dengan ucapan :”Kalian sendiri juga berbuat kekufuran, kalian menyatakan “Allah itu faqir, sedangkan kami adalah orang-orang Kaya!”.
Bahkan Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam menerima nasehat tersebut, padahal ia seorang yahudi. Maka Beliau sampaikan kepada Para Sahabatnya :”Hendaknya kalian katakan,–”Jika Allah menghendaki, KEMUDIAN engkau juga menghendakinya”.

Beliau tidak khawatir dengan celaan manusia hanya karena sebab Kembali kepada Al Haq. Tentunya Allah akan mengangkat derajat seorang yang menegakkan Al Haq, Ruju’ kepada Al Haq. Sebaliknya, Allah akan hinakan orang yang bertahan diatas kebathilan, karena didasari riya’ dan sum’ah.
Maka janganlah suatu nasehat justru dibalas dengan nasehat, bahkan semestinya ia terima nasehat tersebut dengan lapang dada, karena itu adalah Al Haq.

Ketiga:
Hendaknya berprasangka baik kepada orang yang telah menukilkan nukilan dari semua yang dikutip dari Al Kitab, Ilmu dan Para Ulama. Kemudian ia arahkan kutipan tersebut pada sebaik-baik kemungkinan.
Jangan ia katakan :”Wah itu yang dimaksudkan adalah saya, membuka aib saya”, dengan adanya kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

Sebagaimana demikian ini telah diriwayatkan dari Umar Radhiyallahu anhu: “Jangan kalian beranggapan bahwa kalimat yang meluncur dari lisan saudaramu itu adalah kejelekan, sedangkan kalian bisa membawa kepada kemungkinan yang baik”.
Dalam Shahih Al Bukhari, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu Marfu’ (dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam):”Berhati-hatilah kalian dengan Prasangka. Karena prasangka adalah seburuk-buruk ucapan”.

Keempat:
Janganlah kalian sibuk dengan menilik Whatsapp (Dengan sikap-sikap kalian selalu menunggu komentar yang memuji ucapan kalian), sehingga melalaikan dari Thalabul ilmi, beramal shalih, Bertasbih, Qiyamul Lail, Shalat Dhuha, Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Semestinya hal itu dikerjakan karena sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan karena mengharapkan pujian manusia.

Demikian pula seharusnya, jangan sampai menyibukkan dirimu sehingga lalai untuk bercengkrama bersama keluargamu dengan kelembutan. Bersama Ibu bagi anak-anakmu, dan belahan hatimu.
Allah berfirman (artinya):”Bersikaplah kepada istri-istrimu dengan cara yang ma’ruf”

Demikian pula, orang yang paling utama didalam صلة (menyambung kekeluargaan): Dialah Ibu, Ibu, Ibu kemudian Ayah.

Dalam Shahih Al Bukhary: Ada seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan ia berkata: Wahai Rasulullah, Siapakah orang yang paling pantas untuk aku perlakukan dengan baik? Beliau jawab:”Ibu-mu”. Kemudian siapa lagi? Beliau jawab:”Ibu-mu”. Kemudian siapa lagi? Beliau jawab:”Ibu-mu. Kemudian siapa lagi? Beliau jawab:”Ayah-mu”.

Kenyataannya perilaku sebagian orang menunjukkan: Whatss, kemudian whatss, kemudian whatss.

Sehingga Alhasil, Whatsapp telah menyibukkan diri mereka dari Al Birr, amalan-amalan Al Haq dan As Sunnah. Sehingga mereka sering menengoknya, dan banyak berkomentar dengan berbagai pernyataan.
Allah Ta’ala berfirman (artinya):”Bermegah-megahan telah melalaikanmu. Sampai kalian mendatangi kubur”.

Maka janganlah kamu sibuk menunggu pujian manusia, takut dari kritikan mereka atas pernyataanmu, ataupun takut komentar mereka atas diskusimu.

Hendaknya engkau banyak mengingat kubur, beramal untuk hari akhirat, membaca Al Qur’an yang kebaikannya dihitung tiap hurufnya, sedangkan satu kebaikan dihitung sepuluh kali lipatnya.

Seringnya dirimu menilik Whatsapp karena mengharapkan keramahan manusia, dan pujian mereka yang diposisikan lebih besar daripada Kitabullah. Demikian ini menunjukkan engkau lebih mencintai pujian manusia dibanding kecintaanmu kepada Allah Subhanah. Maka tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada Allah sebanding dengan yang Allah berikan kepadanya. Jadikanlah bagi dirimu sesuatu yang datang dari Kitabullah.

Wassalamualaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh

Ditulis oleh Saudara Kalian:
Abu Abdillah Mahir bin Dzhafir Al Qahthany
Kamis/13 Rajab 1434 H

توجيه الشيخ ماهر القحطاني لمستخدمي الواتساب whatsApp‎ في نشر الخير
بسم الله الرحمن الرحيم

أوصيكم معشر الاصحاب والاخوة بوصايا ارجو بها من الله الثواب ثم منكم العمل بها مخلصين له الدين.

أولاً:
انكم في عملكم هذا بنقل العلم عن أهله ومتابعته بنية طلب العلم في فضل عظيم، ففي الحديث: ” من دل على خيرٍ فله مثلُ أجر فاعله ” (رواه مسلم).
وفي حديث آخر: ” … ومن سلك طريقاً يلتمس فيه عِلماً، سهّل اللهُ له به طريقاً الى الجنة ” (رواه مسلم).

ثانياً:
يجب اخلاص النية لله.
قال تعالى: ﴿وما اُمِروا الا ليعبدوا الله مخلصين له الدين﴾ (سورة البينة: 5)
وعلامته ان يستوي عندك مدح الناس وقدحهم وأن لا تغضب من النصيحة،
فغضبك يخدش في اخلاصك.
فمرادك بعملك اذا كان للناس رياءً وسمعة،
فإنهم اذا نصحوك فستكون النصيحة عندك ذماً وشتماً وفضيحة فتردها،
فهذا من الكبر المذموم،
فقد عرف النبي صلى الله عليه وسلم الكِبْر فقال: بطر الحق وغمط الناس. (اي ازدراءهم واحتقارهم).
فلا ترد النصيحة، وخاصة اذا دعمت بالحديث، فتهلك وتبتلى بالفتنة وهي الشرك،
قال تعالى: ﴿فليحذر الذين يخالفون عن أمره ان تصيبهم فتنة او يصيبهم عذاب اليم﴾ (سورة النور: 63).
قال الامام احمد: اتدري ما الفتنة؟ الشرك.
يرد الرجل الحديث فيبتليه الله بالشرك.
فاقبلها ولا تردها ولا تقابلها بنصيحة، فليس ذلك من عمل الاولين،
فرسول رب العالمين صلى الله عليه وسلم لما قال له يهودي: انكم تشركون تقولون ” ما شاء الله وشئت “،
لم يقل له الرسول: ” وانتم تكفرون تقولون الله فقير ونحن اغنياء! “
بل قَبِلَ منه وهو يهودي، فقال لأصحابه قولوا ” ما شاء الله ثم شئت “.
ولم يخف من مذمة الناس بالرجوع للحق،
فالله يرفع صاحب الحق الراجع اليه ويخفض المصر على الباطل رياءً وسمعة.
فما رد النصيحة بنصيحة، بل قبلها وأذاعها لأنها حق.

ثالثاً:
أن يحسن كل من الكتاب ونقلة العلم للعلماء الظن بصاحبه فيحمل كلامه على احسن المحامل ولا يقول ” يقصدني، يعيرني ” مع احتمال الكلام،
كما روي عن عمر رضي الله عنه: ولا تظن بكلمة خرجت من اخيك شرا وانت تجد لها في الخير محملاً.
وفي صحيح البخاري عن ابي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: ” اياكم والظن، فإن الظن اكذب الحديث “.

رابعاً:
الا يشغلكم كثرة النظر في الواتساب (وما تنتظرونه من المدح لمقالاتكم) عن القرآن وطلب العلم والعمل الصالح من التسبيح وقيام الليل وصلاة الضحى والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، تقرباً لله لا لمدحة الناس.
وكذلك ينبغي الا يشغلك ذلك عن مسامرة العشيرة اللطيفة أُم عيالك وسلوة فؤادك، قال تعالى: ﴿وعاشروهن بالمعروف﴾.
وكذلك الاعظم في الصلة: الام ثم الام ثم الام ثم الاب.
وفي البخاري أن رجلاً جاء إلى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسولَ اللهِ، من أحقُّ الناسِ بحُسنِ صَحابتي؟ قال: “أُمُّك”. قال: ثم من؟ قال: “ثم أُمُّك”. قال: ثم من؟ قال: “ثم أُمُّك”. قال: ثم من؟ قال: “ثم أبوك”.
ولسان الحال عند البعض: الواتس ثم الواتس ثم الواتس!
اشغلهم الواتساب عن البر والعمل بالحق والسنة فأكثروا المطالعة والمكاثرة بالمقالات.
قال تعالى: ﴿ألهاكم التكاثر حتى زرتم المقابر﴾. فلا يشغلك انتظار مدح الناس والخوف من قدهم لمقالاتك وجواباتهم لمحاوراتك
عن تذكر القبر والعمل للآخرة وقراءة القرآن، فكل حرف بحسنة والحسنة بعشر امثالها.
ومطالعتك للواتساب طلباً للأُنس بالناس وحب مدحهم اكثر من كتاب الله، دليل على تقديمك حبهم على حبه سبحانه، فما تقرب اليه احد بمثل ما خرج منه، فاجعل لك ورد من كتاب الله.

والكتبه أخوكم:
أبو عبد الله ماهر بن ظافر القحطانيسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Dinukil dari: http://postinganwsi.wordpress.com/2013/10/07/nasihat-syaikh-mahir-al-qothony-untuk-pengguna-whatsapp/

Sunnah Menempati Rumah Baru


Tanya :

Apa saja sunnah sebelum menempati rumah baru? Apakah membaca Al Baqarah saja? Rumah cukup lama tidak ditempati sebelumnya.

Dijawab oleh Al Ustadz Rishky AR:
Bismillahirrahmanirrahim,

Di antara sunnah menempati rumah baru,
Pertama: Adalah dengan menyebut nama Allah dan ta’awwudz (meminta perlindungan dari syaitan. Diriwayatkan dari hadits Jabir radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيتَهٌ فَذَكَرَ اللهَ عِندَ دُخُولِهِ وَعِندَ طَعَامِهِ ، قَالَ الشَّيطَانُ : لَا مَبِيتَ لَكُم وَلَا عَشَاءَ ، وَإِذَا دَخَلَ فَلَم يَذكُرِ اللهَ عِندَ دُخُولِهِ ، قَالَ الشَّيطَانُ : أَدرَكتُمُ المَبِيتَ ، وَإِذَا لَم يَذكُرِ اللهَ عِندَ طَعَامِهِ قَالَ : أَدرَكتُمُ المَبِيتَ وَالعَشَاء

“Apabila seseorang di antara kalian masuk kedalam suatu rumah, lalu dia menyebut nama Allah di saat masuk dan di saat makan, maka syaitan akan berujar: tiada tempat menginap dan tiada makan malam. Dan apabila dia masuk ke dalam rumah tersebut dan tidak menyebut nama Allah, maka syaitan akan mengatakan: Kalian telah mendapatkan tempat menginap. Dan apabila orang tersebut tidak menyebut nama Allah disaat makan, syaitan akan berkata: ‘kalian telah mendapatkan tempat menginap dan makan malam’ “ Diriwayatkan oleh Imam Muslim
Dan diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari,

Kedua: Membaca doa

مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ

“Masya Allah, tiada kekuatan kecuali bagi Allah semata.”
Allah subhanahu wata’ala berfirman di dalam al-Qur`an al-Kariim,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِن تُرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالاً وَوَلَداً

“Dan sekiranya ketika engkau memasuki kebunmu dan engkau mengatakan, ‘Masya Allah tiada kekuatan kecuali bagi Allah semata’, sungguh engkau akan mencapatiku lebih sedikit harta dan keturunan darimu.” (al-Kahfi: 39)

Ketiga: Juga disunnahkan untuk membaca doa

الحَمدُ لِلَّهِ الذِي بِنِعمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Segala puji bagi Allah, yang dengan segala nikmat-Nya, setiap amal-amal kebaikan menjadi sempurna.”

أَنَّهُ كَانَ إِذَا رَأَى مَا يَسُرُّهُ قَالَ : الحَمدُ لِلَّهِ الذِي بِنِعمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat sesuatu yang menggembirakan beliau, beliau mengucapkan: Segala puji bagi Allah, yang dengan segala nikmat-Nya, setiap amal-amal kebaikan menjadi sempurna.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Hakim dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha dan dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah di dalam ash-Shahihah.

Keempat: Disunnahkan pula, dan berlaku umum termasuk disaat memasuki rumah yang baru untuk. Membaca al-Qur`an di dalam rumah tersebut, terlebih surah al-Baqarah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَجعَلُوا بُيُوتَكُم مَقَابِرَ ، إِنَّ الشَّيطَانَ يَنفِرُ مِنَ البَيتِ الذِي تُقرَأُ فِيهِ سُورَةُ البَقَرَةِ

“Janganlah jadikan rumah-rumah kalian layaknya pemakaman, karena sesungguhnya syaitan akan lari menjauh dari rumah yang dibacakan surah al-Baqarah di dalam rumah tersebut.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah.

Kelima: Oleh sebagian ulama, disunnah untuk mengadakan ‘walimah’ sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan berupa kediaman/rumah yang baru.

Allah ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan disaat Rabb kalian menyeru: Sesungguhnya jika kalian bersyukur niscaya akan Saya akan menambah nikmat bagi kalian dan apabila kalian ingkar maka sungguh siksaku amatlah pedih.”
Walimah semacam ini oleh sebagian ulama, dinamakan ‘al-wakiirah. Dengan mengadakan jamuan serta mengundang beberapa orang.

Wallahu A’lam.

Dinukil dari:

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=453968678057788&id=236041046517220

HUKUM KUPU-KUPU YANG DIAWETKAN


Tanya :
Apa hukum hiasan kupu2 yang diawetkan ?

Dijawab oleh Al Ustadz Dzulqarnain Bin Muhammad Sunusi:

Hewan-hewan yang diawetkan, baik itu hewan yang boleh dimakan atau tidak boleh dimakan, yang dihalalkan dengan cara disembelih atau dihalalkan tanpa sembelihan adalah hal yang tidak diperbolehkan. Hal tersebut karena beberapa alasan,Pertama, dimaklumi bahwa hewan-hewan yang diawetkan akan disimpan dan dipajang sebagaimana gambar-gambar makhluk bernyawa diperlakukan seperti itu. Telah dimaklumi bahwa salah satu sebab terjadinya kesyirikan adalah gambar-gambar orang-orang shalih yang kemudian menjadi hal yang disembah. Syari’at ini menutup seluruh jalan yang bisa mengantar kepada kesyirikan.

Kedua, hewan terbagi dua; haram dimakan dan halal dimakan. Juga hewan itu ada yang halal dengan cara disembelih dan ada yang halal tanpa penyembelihan. Membuka pintu pembolehan pengawetan hewan akan membawa manusia untuk tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan syari’at dalam masalah ini. Pada masa ini, telah kita saksikan perbuatan manusia yang meluas dalam pengawetan hewan. Bahkan pada sebagian Negara, mereka mengawetkan manusia sebagai hiasan.Ketiga, dalam proses pengawetan dan pembeliaan hewan-hewan yang diawetkan banyak terjadi pemborosan harta dan sikap mubadzdzir. Perbuatan yang seperti ini telah diterangkan keharamannya dalam berbagai dalil Al-Qur’an dan hadits.

Sejumlah ulama masa ini, seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan selainnya, telah mengharamkan untuk mengoleksi hewan-hewan yang diawetkan. Wallahu A’lam.

Dinukil dari:

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=467054840082505&id=236041046517220

Hukum Menetapkan Maulid Nabi Sebagai Hari Libur


Penulis: Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia

Pertanyaan Kesebelas Fatwa no. 4091

Pertanyaan 11:

Bagaimana pendapat Anda semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjaga Anda sebagai salah satu pilar penunjang Ummat Islam, dimana sekolah dan perusahaan menetapkan hari libur atau memberikan khutbah, kuliah, dan lain-lain, seperti yang kita lakukan di sini (Afrika) pada saat Maulid Nabi?

Jawaban:

Merayakan Maulid Nabi dan menetapkannya sebagai hari libur pada kesempatan ini adalah Bid `ah, karena Nabi sholalloohu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya radhialloohu’anhum tidak melakukannya. Nabi sholalloohu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak“. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohihnya (2697), Muslim(1718), Sunan Abu Dawud dalam Kitabus Sunnah (4606), Sunan Ibnu Majah dalam Mukadimah (14), Musnad Imam Ahmad (VI/240)]

Wabillaahi taufiq, wa sholalloohu wassalam ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa shohibi ajma’in.

Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia

Ketua             : ` Abdul Aziz  bin` Abdullah bin Baz

Wakil Ketua: ` Abdul Razzaq `Afify

Anggota         : `Abdullah ibn Ghudayyan

Walloohu ta’ala a’lam bishowab

Dengan sedikit perubahan dinukil dari:

http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&PageID=227&PageNo=1&BookID=10