Arsip Kategori: KISAH HIKMAH

Kisah Ashhabis Sabti

Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Turunnya Azab

Sedikit demi sedikit mulai bertambah mereka yang ikut menangkap ikan tersebut. Sementara orang-orang yang menasihati terus berulang-ulang mengingatkan mereka. Bahkan mengancam: “Kamu masih juga melakukannya, wahai musuh-musuh Allah. Demi Allah, kami tidak akan bertetangga lagi dengan kalian dalam satu desa.” Akhirnya mereka membagi desa itu dengan sebuah tembok.

Tatkala mereka tidak mau memerhatikan nasihat orang-orang yang melarang perbuatan buruk tersebut, bahkan terus menerus tenggelam dalam penyelewengan dan pelanggaran: “Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat.” (Al-A’raf: 165)

Yaitu orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar; Kami selamatkan mereka dari azab. Demikianlah ketetapan (sunnah) Allah l terhadap hamba-hamba-Nya; apabila siksaan itu turun, selamatlah orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Allah l berfirman: “Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim.” (Al-A’raf: 165)
Yaitu mereka yang melakukan pelanggaran di hari Sabtu tersebut: “Siksaan yang keras.” (Al-A’raf: 165)
Yakni yang menyakitkan. “Disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Al-A’raf: 165)
Kemudian Allah l terangkan azab yang ditimpakan kepada mereka itu dengan firman-Nya: “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: ‘Jadilah kamu kera yang hina’.” (Al-A’raf: 166)
Merekapun menjadi kera-kera yang hina, padahal sebelumnya mereka adalah manusia yang terhormat.
Keesokan harinya, orang-orang yang beriman tidak melihat seorangpun keluar dari balik tembok tersebut. Tidak terdengar aktivitas mereka seperti biasa. Akhirnya, mereka memasuki pintu pembatas kampung tersebut dan melihat kenyataan yang menyedihkan. Seorang pria berikut istri dan anaknya telah berubah menjadi kera. Mulailah mereka masuk menemui kera-kera yang dahulunya adalah orang-orang yang mereka kenal.
“Wahai Fulan, bukankah sudah aku peringatkan kepadamu azab Allah? Bukankah… bukankah?” Tapi tak ada sahutan, yang ada hanya tangis. Sebagian kera yang mendekat mencium pakaian orang yang datang dan dia mengenalnya, maka kera itupun menangis. Demikian dikisahkan oleh Ibnu Jarir t dalam Tafsir-nya. Wallahu a’lam.
Beberapa Faedah Kisah Ini
1. Kisah yang terkandung dalam ayat ini dan yang semakna, menegaskan kebenaran Nubuwwah Nabi Muhammad n. Sebab, kisah-kisah seperti ini, yang bercerita tentang Bani Israil, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali melalui berita dari Allah l, sementara mereka (ahli kitab) menutup-nutupinya.
2. Apabila Allah l memberi nikmat kepada satu umat lalu mereka berpaling dari mensyukurinya, niscaya mereka ditimpa petaka pertama kali kemudian menerima azab.
3. Pentingnya amar ma’ruf nahi munkar, di mana Allah l selamatkan orang-orang yang mencegah kemungkaran dan membinasakan orang-orang yang berbuat kemungkaran dan tidak mau berhenti darinya.
4. Kisah ini juga memberikan pelajaran kepada kita betapa pentingnya amar ma’ruf nahi munkar.
Amar ma’ruf nahi munkar itu sendiri mempunyai tiga tingkatan sebagaimana diuraikan oleh Asy-Syinqithi t (Adhwa`ul Bayan, 1/408), yaitu:
a. Iqamatul hujjah (menegakkan hujjah) Allah l terhadap makhluk-Nya, sehingga mereka tidak punya alasan untuk berkilah. Sebagaimana firman Allah l:
“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.”
b. Lepasnya orang yang memerintahkan kebaikan dari tanggung jawab. Sebagaimana firman Allah l tentang orang-orang shalih di kalangan masyarakat yang melanggar hari Sabtu tersebut: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabb kamu.” (Al-A’raf: 164)
Juga firman Allah l: “Maka berpalinglah kamu dari mereka, dan kamu sekali-kali tidak tercela.” (Adz-Dzariyat: 54)
Maka ini menunjukkan bahwa sekiranya dia tidak keluar dari tanggung jawab tersebut, tentulah dia tercela.
c. Berharap agar yang diperintah mendapatkan manfaat, sebagaimana firman Allah l: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertakwa.” (Al-A’raf: 164)
Firman Allah l: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat: 55)
Kita tentu masih ingat dengan sabda Rasulullah n tentang amar ma’ruf nahi munkar ini. Al-Imam Ahmad, Al-Bukhari, dan At-Tirmidzi rahimahumullah meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir c, dia berkata: “Rasulullah n bersabda:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا. فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

“Perumpamaan orang yang menjaga hudud (batas-batas hukum) Allah l dan orang yang melanggarnya, seperti suatu kaum yang mengundi bagiannya di atas sebuah kapal. Sebagian mereka menempati bagian atas dan yang lain di bagian bawahnya. Lalu orang-orang yang berada di bagian bawahnya apabila ingin minum, melewati orang-orang yang ada di sebelah atas. Maka berkatalah mereka: ‘Seandainya kita lubangi bagian kita (di bawah) ini, dan kita tidak mengganggu orang-orang di atas kita.’ Maka apabila mereka (yang di atas) membiarkan orang-orang di bawah itu (melubangi dasar kapal) dan apa yang mereka inginkan, niscaya mereka binasa (tenggelam) semua. Dan apabila mereka menahan tangan mereka (agar tidak melubangi kapal), niscaya mereka selamat dan selamat pula semuanya.”
Al-Mubarakfuri t mengatakan tentang syarah hadits ini: “Seandainya orang-orang yang fasik itu dicegah dari kefasikan mereka, niscaya dia (yang fasik itu) selamat, dan mereka semua juga selamat dari azab Allah l. Tapi jika mereka membiarkan dia berbuat fasik, niscaya mereka ditimpa azab dan binasa karena kesialan yang dilakukan orang fasik tersebut. Inilah makna firman Allah l: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” (Al-Anfal: 25)
Yakni juga menimpa kamu secara merata disebabkan sikap mudahanah yang kamu lakukan.
Padahal sikap mudahanah ini termasuk perkara yang diharamkan, karena Allah l berfirman: “Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (Al-Qalam: 9)
Mudahanah artinya menyetujui penyimpangan dan kesesatan yang dianut dan dilakukan oleh semua orang yang menyimpang, baik dari kalangan orang kafir, ahli bid’ah maupun pelaku kemaksiatan. Jadi, anda mengakui kesesatan itu dengan sikap menyetujui atau ikut dalam aktivitas mereka.
Sikap seperti ini jelas tidak layak dimiliki seorang muslim. Bahkan ujian ini banyak dialami kaum muslim sehingga mereka merasakan kehinaan dalam hidup dan kehidupan mereka. Padahal semestinya dia bangga dan berani menampakkan keyakinan dan keimanan yang dimilikinya, menyelisihi perilaku kebanyakan masyarakatnya. Terlebih lagi bagi seorang da’i yang mengajak manusia kepada Allah l.
Asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi t ketika menerangkan prinsip al-wala` wal bara` menguraikan bahwasanya termasuk sikap loyal (muwalah) kepada orang-orang kafir adalah mudahanah, mudarah, dan mujamalah dengan mereka atas dasar agama. Inilah yang dialami kebanyakan kaum muslimin dewasa ini. Bahkan inilah faktor internal yang menjadi sebab kekalahan mereka. Di mana mereka melihat musuh-musuh Allah l unggul dalam kekuatan materi sehingga membuat mereka terkagum-kagum.
Menurut mereka –yang tertipu ini– musuh-musuh tersebut adalah simbol kekuatan dan teladan. Akhirnya mereka mulai secara perlahan meninggalkan upaya mempelajari dien mereka karena sikap mujamalah (basa-basi) terhadap orang-orang kafir itu, agar jangan dikatakan fanatik. Alangkah benar sabda Rasulullah n yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari t dari Abu Sa’id Al-Khudri z:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

“Sungguh-sungguh, kamu pasti akan mengikuti jalan (hidup) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan seandainya mereka masuk ke lubang dhab (sejenis biawak), pasti kamu juga mengikutinya.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, (apakah mereka) Yahudi dan Nashara?” Kata beliau: “Siapa lagi?”
Mudahanah ini bermula dari persoalan kecil yang beranjak sedikit demi sedikit kepada hal-hal yang besar hingga –na’udzu billahi­– berujung kepada kemurtadan. Ini adalah salah satu upaya setan menggelincirkan manusia. Maka hendaklah kaum muslimin berhati-hati terhadap diri dan keluarganya. Camkanlah, bahwa dia lebih tinggi dan mulia apabila dia menjalankan manhaj Allah l dan mengikat dirinya dengan syariat Allah l serta tuntutan aqidah-Nya.
Kisah ini menjadi peringatan bagi kita bagaimana Allah l mengazab orang-orang yang melakukan pelanggaran terhadap apa yang dilarang-Nya dengan melakukan muslihat (hilah). Sebagaimana Dia menyiksa tuan-tuan kebun (ash-habul jannah) yang melakukan muslihat agar tidak bersedekah. Demikian pula dalam kisah ini.
Rasulullah n mengingatkan kita dalam sabdanya dari hadits Abu Hurairah z:

لَا تَرْتَكِبُوا مَا ارْتَكَبَ الْيَهُودُ فَتَسْتَحِلُّوا مَحَارِمَ اللهِ بِأَدْنَى الْحِيَلِ

“Janganlah kamu melakukan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi, sehingga kamu menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah dengan serendah-rendah muslihat.”
Rasulullah n juga mengingatkan kita dalam hadits lainnya:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

“Siapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”
Beliau n bersabda dalam hadits Jabir z:

إِنَّ اللهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ؟ فَقَالَ: لَا، هُوَ حَرَامٌ. ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ n عِنْدَ ذَلِكَ: قَاتَلَ اللهُ الْيَهُودَ، إِنَّ اللهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi, dan berhala (arca, patung, dan sebagainya).” Lalu dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda tentang gajih (lemak) bangkai? Karena dipakai untuk mengecat perahu, meminyaki kulit, dan dipakai untuk penerangan oleh manusia.” Maka beliau bersabda: “Tidak. Hal itu (yakni menjualnya) tetap haram.” Ketika itu Rasulullah n bersabda: “Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi. Sesungguhnya Allah, ketika mengharamkan gajih atas mereka, mereka mencairkannya dan menjualnya kemudian memakan harganya (hasil penjualan itu).”
Mudah-mudahan Allah l memberi taufik kepada kita, untuk meninggalkan sikap minder terhadap orang-orang kafir, lalu bersemangat menjalankan perintah Allah l dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh keikhlasan. Wallahu a’lam.

Kisah Nabi Yusuf dan Meminta Jabatan

Penulis: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Penjelasan Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani tentang Kisah Nabi Yusuf
Orang yang berdalil dengan kisah masuknya Nabi Yusuf dalam siyasah (pemerintahan) telah tenggelam dalam kesalahan. Yaitu ketika beliau mengatakan:

اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ
“Jadikanlah aku bendaharawan negara Mesir.” (Yusuf: 55)

Padahal beliau tidak memasuki tugas ini kecuali setelah mendapatkan persaksian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tertulis pada persaksian tersebut:

إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi sangat berpengetahuan.” (Yusuf: 55)1

Ahli balaghah (sastra Arab) dapat membedakan antara kata الْحَافِظُ (yang berarti menjaga) dengan kata الْحَفِيظُ (yang sangat pandai menjaga), juga antara kata الْعَالِمُ(yang berilmu) dengan kata الْعَلِيمُ (yang sangat berpengetahuan). Maka perhatikan hal ini, karena sesungguhnya ini termasuk rahasia-rahasia Al-Qur`an yang penuh hikmah.

Sebagaimana diherankan dari yang lain juga, yang membolehkan diri mereka menerima jabatan politik masa ini –bersamaan dengan apa yang ada di dalamnya berupa sistem parlemen kafir atau jahat– berdalil dengan perbuatan Nabi Yusuf, sembari melalaikan bahwa Nabi Yusuf tidak memintanya. Namun raja itulah yang menawarkannya kepada beliau. Beliau juga tidak menerimanya melainkan ketika raja tersebut menjamin keamanan dan kebebasan baginya. Sehingga tidak ada tekanan, atau ancaman, atau mengorbankan agama, atau tarik ulur, atau tawar menawar, atau adu argumentasi. Oleh karena itu, perhatikan urutannya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ. قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Dan raja berkata: ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.’ Berkata Yusuf: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi sangat berpengetahuan’.” (Yusuf: 54-55)

Adapun mereka (para politikus, pen), mereka telah takjub dan berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri. Sehingga setan menggambarkan suatu gambaran yang terbayang dalam benak mereka bahwa mereka akan kokoh dalam kebenaran. Sementara sebenarnya mereka leleh dalam keridhaan terhadap aturan manusia. Allah lah tempat memohon pertolongan.

Adapun Nabi Yusuf, beliau tidak mengorbankan agamanya dan tidak menyia-nyiakan kesungguhannya dalam siyasah (politik) yang syar’i. Tidak pula beliau melaksanakan undang-undang raja yang kafir, dengan dalih maslahat dakwah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
“Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” (Yusuf: 76)

Bila kita mengalah (pada anggapan mereka yakni beliau minta jabatan, pen) maka kamipun akan mengatakan sebagaimana yang dinyatakan ulama ushul fiqih, ‘syariat umat sebelum kita bukanlah syariat bagi kita pada perkara yang menyelisihi syariat kita’. Padahal di sini syariat kita menyelisihinya, karena kita dilarang untuk minta jabatan. Seperti dalam hadits Abdurrahman bin Samurah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan, karena jika engkau diberi karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong). Namun jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong” (Muttafaqun ‘alaih)

Kami akan menjawab bahwa Nabi Yusuf telah disebutkan kesuciannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak bekerja kecuali dengan bimbingan Allah. Yakni, semua manusia berlaku padanya kaidah “jika engkau diberi kepemimpinan karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak ditolong) ….” kecuali yang diberi predikat kesucian oleh wahyu yang tidak akan salah. Adapun mereka yang sok pandai pada masa ini, mereka tunduk pada kondisi undang-undang pada hari ini ataupun besok. Bahkan sebelum melaksanakan tugas poltiik tersebut, mereka harus bersumpah untuk menghormati undang-undang. Dan ini telah terjadi, bahkan kami tidak tahu bahwa selainnya juga telah terjadi. Maka sungguh ajaib orang yang menyingkirkan kekafiran dengan kekafiran.

Maka tersimpulkan dari ketergesaan ini lima jawaban:

1. Nabi Yusuf tidak meminta kepemimpinan, namun ditwarkan kepada beliau, sebagaimana ditunjukkan oleh susunan ayat. Maksimal yang ada dalam ucapan beliau

اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ
“Jadikan aku bendaharawan negeri (Mesir)” adalah keterangan tentang spesialisasinya dan pilihannya.

2. Beliau aman dari tekanan peraturan (negara) dan dipersilakan untuk mengamalkan syariat Islam. Dua hal ini hanyalah sebuah khayalan dalam realita aturan-aturan di muka bumi masa ini.

3. Bahwa beliau mendapat persaksian kesucian di mana beliau juga seorang Rasul. Sehingga tidak dikhawatirkan pada beliau apa yang dikhawatirkan pada orang lain.

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sirin rahimahullahu, bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu menugaskan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagai gubernur di daerah Bahrain. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu datang membawa uang 10.000. Maka Umar mengatakan kepadanya: “Apakah engkau peruntukkan harta ini untuk kepentingan pribadimu, wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya?!”
Maka Abu Hurairah menjawab: “Aku bukan musuh Allah ataupun musuh kitab-Nya, akan tetapi justru musuh yang memusuhi keduanya.”
Umar menukas: “Lalu darimana hartamu ini?”
“Itu adalah kuda yang berkembang biak, dan hasil kerjaan budakku, serta pemberian yang datang beberapa kali,” jawab Abu Hurairah.
Mereka pun memeriksanya. Ternyata mereka mendapatkannya seperti apa yang dikatakan Abu Hurairah. Setelah hal itu berlalu, Umar memanggil Abu Hurairah untuk ditugaskan kembali akan tetapi beliau menolak. Maka Umar berkata: “Apakah kamu tidak suka jabatan ini, padahal telah memintanya orang yang lebih baik darimu, Yusuf ‘alaihissalam?”
Abu Hurairah menjawab: Yusuf adalah seorang nabi, putra seorang nabi, dan cucu seorang nabi. Sedangkan saya, Abu Hurairah, putra seorang ibu yang kecil. Dan aku khawatir tiga tambah dua (perkara -pent).”
Umar berkata: “Tidakkah kamu katakan lima saja?”
Abu Hurairah menjawab: “Saya khawatir berkata tanpa ilmu, memutuskan tanpa kesabaran dan pikir panjang, takut punggungku dicambuk, hartaku diambil dan kehormatanku dicela.”2

4. Syariat umat sebelum kita bukanlah syariat bagi kita pada perkara yang menyelisihi syariat kita. Dalam hal ini, syariat kita telah menyelisihinya.

5. Nabi Yusuf melakukan apa yang beliau lakukan pada tugasnya tersebut dengan posisi beliau sebagai seorang rasul. Seandainya pun seseorang diperbolehkan mengikuti beliau dalam urusan itu, maka pewarisnya secara syar’i adalah seorang mujtahid. Ibnu Abdil Bar berkata: “Bila yang demikian itu (menyebut keahliannya dalam kondisi terpaksa -pent), maka boleh bagi seorang ulama saat itu untuk memuji dirinya dan mengingatkan tentang kedudukannya, maka saat itu berarti dia membicarakan nikmat Allah pada dirinya dalam rangka mensyukurinya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilm wa Fadhlihi, 1/176).
Wallahu a’lam.

Penjelasan Asy-Syaikh As-Sa’di

Asy-Syaikh Al-Mufassir Abdurrahman As-Sa’di mengatakan: “Jawabannya ada pada firman Allah:

إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi sangat berpengetahuan.”

Yakni, beliau memintanya demi mewujudkan maslahat ini yang tidak mungkin dilakukan orang lain. Yaitu, menjaga harta dengan sempurna, mengetahui segala sisi yang terkait dengan perbendaharaan tersebut, baik pengeluaran, pembelanjaan maupun penegakan keadilan yang sempurna. Maka ketika beliau melihat sang raja mendekatkan dirinya kepadanya (menjadikannya orang khusus) dan mengutamakannya atas raja itu sendiri, serta pada kedudukan yang tinggi, maka menjadi wajib baginya untuk memberikan pengarahan yang sempurna bagi raja maupun rakyat. Itu adalah suatu keharusan dalam tugasnya.

Oleh karenanya, ketika beliau melakukan tugas menjaga perbendaharaan Mesir, beliau sangat berusaha untuk menguatkan pertanian, sehingga tidak tersisa satu tempat pun dari tanah Mesir, dari ujung ke ujung yang lain, yang pantas untuk ditanami melainkan ia tanami selama tujuh tahun. Lalu beliau bentengi dan jaga dengan penjagaan yang sangat ajaib. Setelah itu, datanglah tahun-tahun paceklik. Manusia sangat membutuhkan pangan. Maka, beliaupun berusaha menimbang dengan penuh keadilan, sehingga beliau larang para pedagang untuk membeli makanan, khawatir mendesak orang-orang yang butuh. Maka terwujudlah dengan itu maslahat yang banyak dan manfaat yang tidak terhitung, sebagaimana telah diketahui.” (Bahjatul Qulub Al-Abrar)

Catatan Kaki:

1 Lihat kitab Bahjatu Qulubil Abrar karya Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu, hal. 150-151.

2 Riwayat Ibnu Sa’d dalam kitab Thabaqat Al-Kubra (4/335). Dalam sanadnya Abu Hilal Ar-Rasibi dan dia –walaupun haditsnya tidak sangat dibuang– tapi juga didukung dalam riwayat ini oleh Ayyub As-Sikhtiyani sebagaimana dalam kitab As-Siyar karya Adz-Dzahabi (2/612). Dengan itu, riwayat ini menjadi shahih.

Dinukil dari: http://asysyariah.com/print.php?id_online=772

Rahmat Islam untuk Rahmat Purnomo (bagian II – habis)

Penulis: Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsary
Aku melanjutkan pencarianku tentang beberapa hal yang berkaitan dengan keyakinan, pada suatu hari kuletakkan Injil dan Al Quran di depanku, kutujukan pertanyaan pada injil, “Apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?”, jawabannya: tidak ada, karena nama Muhammad tidak terdapat dalam Injil. Kemudian kutujukan pertanyaan berikutnya pada Isa seperti Al Quran telah bercerita tentangnya, “Wahai Isa ibnu Maryam, apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?” Jawabannya: sungguh Al Quran telah menyebutkan perkara yang tidak ada keraguan sedikitpun bahwa seorang Rasul yang pasti akan datang setelahku namanya adalah Ahmad. Allah berfirman atas lisan Isa ‘alaihis salam, “Dan ingatlah ketika Isa putra Maryam berkata: Hai bani Isroil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurot dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad), maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata.” (QS Ash Shaff: 6). Lihatlah! Mana yang benar?!
Di sana ada satu Injil yakni Injil BARNABAS, berbeda dengan empat injil yang telah kusebutkan sebelumnya, namun sayang para pemuka-pemuka agamanya (Nashrani) mengharamkan pengikutnya untuk mentelaahnya. Tahukah kenapa? Yang paling benar ialah karena inilah satu-satunya Injil yang memuat kabar gembira tentang Muhammad, di dalamnya terdapat beberapa tambahan dan penyimpangan yang sangat, seperti halnya tedapat pula kenyataan yang sesuai dengan apa yang ada dalam Al Quran Al Karim. Dalam Injil Barnabas (Ishaah: 163), “Waktu itu para murid bertanya kepada Al Masih: Wahai guru! Siapa yang akan datang sesudahmu? Al Masih menjawab dengan senang dan gembira: Muhammad utusan Allah pasti akan datang sesudahku bagaikan awan putih akan menaungi orang-orang yang beriman seluruhnya.”
Kemudian kubaca lagi ayat lainnya dari Injil Barnabas yakni ucapannya pada (Ishaah: 72), “Waktu itu seorang murid bertanya kepada Al Masih: Wahai guru! Saat Muhammad datang apa tanda-tandanya hingga kami mengenalnya? Al Masih menjawab: Muhammad tidak akan datang pada masa kita, tetapi akan datang setelah seratus tahun kemudian ketika Injil diubah (direkayasa) dan orang-orang yang beriman kala itu jumlah mereka tidak sampai tiga puluh orang, maka ketika itu Allah subhanahu wa ta’ala akan mengutus penutup para Nabi dan Rasul-rasul yaitu Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Telah disebutkan berulang-ulang yang demikian itu dalam Injil Barnabas, aku telah menghitungnya dan kudapatkan sebanyak empat puluh lima ayat menyebutkan tentang Muhammad. Aku sebutkan dua ayat di atas di antaranya sebagai satu bukti.
Setelah ini semua aku berazzam untuk keluar dari gereja dan tidak akan pernah pergi lagi padanya, saat ini tidak ada di hadapanku kecuali Islam. (Lihat kitab ‘Uluwul Himmah, karya Muhammad Ahmad Ismail Al Muqoddim).
Para pembaca rahimakumullah demikianlah Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi semesta alam, menuntut kita selaku para pemeluknya untuk bersyukur. Allah berfirman, “Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu, dan Dia tidak meridhoi kekafiran bagi hamba-Nya, dan jika kamu bersyukur niscaya Dia meridhoi kesyukuranmu itu, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan di (dada)mu.” (QS Az Zumar: 7).
Di sini ada beberapa hal yang perlu untuk kita perhatikan, wallahul haadi ila sabilir rosyad.
Pertama: manusia itu satu umat, memeluk agama yang satu. Allah berfirman, “Manusia dahulunya hanyalah satu umat kemudian mereka berselisih, kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (QS Yunus: 19).
Kedua: Islam adalah agama tauhid. Allah berfirman, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu) tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian (yang ada) di antara mereka, barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam) maka katakanlah: Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’ Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah) dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imron: 18-20).
Ketiga: Aqidah tauhid adalah fitroh manusia. Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). Atau agar kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (QS Al A’raaf: 172-173).
Keempat: Petunjuk Allah mutlak harus diikuti. Allah berfirman, “… Katakanlah sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu. Katakanlah sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunianya kepada siapa yang dikehendakinya. Dan Allah maha luas karunianya lagi maha mengetahui.” (QS Ali Imron: 73).
Kelima: Isa ‘alaihis salam adalah Nabi dan Rasul Allah. Allah berfirman, “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan dengan (tiupan roh) dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga’. Berhentilah (dari ucapan itu). Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak. Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya, cukuplah Allah sebagai pemelihara.” (QS An Nisaa: 171).
Walhamdulillahi robbil alamin.
Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari.

 

Termasuk ke dalam pokok aqidah al Islamiyyah, bahwa seorang muslim wajib berpegang teguh dengan aqidah ini, memberikan wala’ / loyalitas kecintaan kepada ahlinya dan memberikan sikap bara’ / antipati kebencian terhadap musuh-musuhnya. Maka wajib mencintai ahli tauhid dan ikhlas dan menolong mereka serta membenci ahli syirik dan memusuhinya. Yang demikian itu adalah milahnya Ibrohim dan orang-orang yang bersamanya di mana kita diperintah untuk mengikutinya. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari kekafiranmu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS Al Mumtahanah: 4). Ia juga sebagai diennya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS Al Maidah: 51). Dan Allah juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (QS Al Mumtahanah: 1). Bahkan Allah telah mengaharamkan kaum muslimin berloyalitas kepada orang-orang kafir walaupun mereka kerabat dekatnya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudaramu pemimpin-pemimpinmu. Jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zholim.” (QS At Taubah: 23). Allah berfirman, “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya sekalipun orang-orang itu bapak-bapaknya atau anak-anaknya atau saudara-saudaranya ataupun keluarganya.” (QS Al Mujaadilah: 22).

Sungguh telah banyak dari kaum muslimin yang bodoh akan prinsip yang agung ini, bahkan sebagian yang menisbatkan dirinya pada ilmu dan da’wah sekalipun! Dengan alasan kemaslahatan agama dan persamaan kemanusiaan serta segudang alasan-alasan lainnya mulai terjerumus untuk menyerukan persamaan dan penyatuan agama, innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Perhatikanlah beberapa bahaya yang akan menimpa kaum muslimin dari seruan syaithon ini:

Pertama: menghalalkan persaudaraan dengan Yahudi dan Nashrani.

Kedua: menahan tulisan-tulisannya kaum muslimin dan lisan-lisannya dari mengkafirkan Yahudi dan Nashrani dan yang lainnya yang telah dikafirkan Allah dan rasul-Nya.

Ketiga: menggugurkan hukum-hukum Islam yang diwajibkan atas kaum muslimin di hadapan kaum kafirin dan yang lainnya yang tidak beriman dengan Islam.

Keempat: meninggalkan jihad yang ia sebagai puncak ketinggian Islam.

Kelima: menghancurkan kaidah Islam dan pondasinya yakni al wala’ dan al bara’ serta masih banyak lagi yang lainnya.

Oleh karena itu dengan bahayanya seruan ini bagi Islam dan muslimin, maka Lembaga Fatwa dari kalangan para ulama yang diketuai ketika itu oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah mengeluarkan fatwa bernomor 19402 pada tanggal 25/1/1418 H. Yang isinya kurang lebih, “Sesungguhnya seruan kepada penyatuan agama jika muncul dari seorang muslim maka berarti ia telah murtad dengan kemurtadan yang jelas karena telah melabrak pokok-pokok aqidah, ridlo dengan kekufuran terhadap Allah dan menggugurkan kebenaran Al Quran serta menolak bahwa Al Quran telah menghapus seluruh syariat dan ajaran sebelumnya, berdasarkan atas hal itu maka ia adalah fikroh (pemikiran) tertolak secara syariat, diharamkan secara pasti dengan seluruh dalil-dalil baik Al Quran, Sunnah, maupun ijma’.”
Seperti halnya Allah telah mengharamkan memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir, Allah juga mewajibkan memberikan loyalitas kepada orang-orang mu’min. Allah berfirman, “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk kepada Allah. Dan barangsiapa mengambil Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang.” (QS Al Maidah: 55-56). “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS Al Fath: 29). “Sesunggunya orang-orang mu’min adalah bersaudara.” (QS Al Hujuraat: 10).

Maka orang-orang yang beriman adalah bersaudara dalam agama dan aqidah walaupun berjauhan nasab, tempat, dan zaman. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Hasyr: 10).

Wal hamdulillahi robbil ‘alamin.

Sumber: Bulletin Al Wala Wal Bara’  Edisi ke-12 Tahun ke-1 / 07 Maret 2003 M / 04 Muharrom 1424 H

Dinukil dari: http://fdawj.atspace.org/awwb/th1/12.htm

 

Rahmat Islam untuk Rahmat Purnomo (bagian I)

Penulis: Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari.

Ia adalah seorang laki-laki keturunan sang ayah Holandia dan ibu Indonesia dari kota Ambon yang terletak di pulau kecil di ujung timur kepulauan Indonesia. Kristen adalah agama yang diwariskan keluarganya dari bapak dan kakeknya.
Kakeknya adalah seorang yang punya kedudukan tinggi pada agama kristen yang bermadzhab protestan, bapaknya juga demikian namun ia bermadzhab panticosta. Sedangkan ibunya sebagai pengajar injil untuk kaum wanita, adapun dia sendiri juga punya kedudukan dan sebagai ketua bidang da’wah di sebuah gereja “Bethel Injil Sabino”.
Tidak terbetik dalam hatiku walau sedikitpun untuk menjadi seorang muslim, sebab sejak kecil aku mendapatkan pelajaran dari orang tuaku yang selalu mengatakan padaku bahwa Muhammad adalah seorang laki-laki badui, tidak punya ilmu, tak dapat membaca dan menulis. Bahkan lebih dari itu aku telah membaca buku profesor doktor Ricolady seorang nasrani dari Prancis bahwa Muhammad itu seorang dajjal yang tinggal di tempat ke sembilan dari neraka. Demikianlah kedustaan itu dibuat untuk menjatuhkan pribadi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, sejak itulah tertanam pada diriku pemikiran salah yang mendorongku untuk menolak Islam dan menjadikannya sebagai agama.
Pada suatu hari pimpinan gereja mengutusku untuk berda’wah selama tiga hari tiga malam di kecamatan Dairi, letaknya cukup jauh dari ibu kota Medan yang terletak di sebelah selatan pulau Sumatra Indonesia. Setelah selesai, aku hendak menemui penanggung jawab gereja di tempat itu. Tiba-tiba seorang laki-laki muncul di hadapanku lalu bertanya dengan pertanyaan aneh, “Engkau telah mengatakan bahwa Isa Al Masih adalah tuhan, mana dalilmu tentang ketuhanannya?” Aku menjawab, “Baik ada dalil ataupun tidak, perkara ini tidak penting bagimu, jika kamu mau beriman berimanlah, jika tidak kufurlah.”
Namun ketika aku pulang ke rumah, suara laki-laki itu mengganggu pikiranku dan selalu terngiang-ngiang di telingaku, mendorongku untuk melihat kitab Injil mencari jawaban yang benar dari pertanyaannya. Telah diketahui bahwa di sana ada empat kitab Injil yang berbeda-beda, salah satunya MATHIUS, yang lainnya MARKUS, yang ketiga LUKAS, dan yang keempat YOHANNES, semuanya buatan manusia. Ini aneh sekali, aku bertanya-tanya pada diriku, “Apakah Al Qur’an dengan nuskhoh yang berbeda-beda juga buatan manusia?” Aku mendapatkan jawaban yang tak bisa lari darinya yakni dengan pasti, “Bukan!”
Aku mempelajari keempat Injil tersebut, lalu apa yang kudapatkan? Injil MATHIUS berbicara apa tentang Al Masih Isa ‘alaihis salam? Kami membaca di dalamnya sebagai berikut, “Sesungguhnya Isa Al Masih bernasab kepada Ibrohim dan kepada Daud…” (1-1), lalu kalau begitu siapa Isa? Bukankah ia anak manusia? Ya, kalau begitu dia manusia. Injil LUKAS berkata, “Dialah yang merajai atas rumah Ya’kub untuk selama-lamanya. Kerajaannya tidak akan berakhir.” (1-33). Dan Injil MARKUS berkata, “Inilah silsilah yang menasabkan Isa Al Masih anak Allah.” (1) Dan yang terakhir injil YOHANNES berbicara apa tentang Isa Al Masih? Ia berkata, “Pada awalnya ia adalah kalimat, dan kalimat itu di sisi Allah, maka kalimat itu adalah Allah.” (1:1). Makna dari nash ini dia pada awalnya adalah Al Masih dan Al Masih di sisi Allah, maka Al Masih adalah Allah.
Aku bertanya pada diriku, “Berarti di sana ada perbedaan yang jelas pada empat kitab ini seputar dzat Isa ‘alaihis salam, apakah ia manusia ataukah anak Allah ataukah Raja ataukah Allah? Hal itu telah menyulitkanku dan aku belum menemukan jawabannya. Di sini aku ingin bertanya kepada teman-temanku orang-orang kristen, “Apakah didapatkan dalam Al Qur’an pertentangan antara satu ayat dengan yang lainnya?” Pasti tidak! Kenapa? Karena Al Qur’an datang dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala, adapun Injil-injil ini hanyalah buatan manusia. Kalian tahu dan tidak ragu kalau Isa ‘alaihis salam sepanjang hidupnya berdakwah kepada Allah di sana-sini, kita patut bertanya: apa landasan awal yang dida’wahkan oleh Isa ‘alaihis salam?
Ini injil MARKUS berkata, “Seseorang datang dari Al Katbah, ia mendengar mereka berbincang-bincang, ketika terlihat bahwa ia adalah (Al Masih) mereka menerimanya dengan baik, menanyainya tentang ayat wasiat pertama? Ia menjawab sambil berjalan: Sesungguhnya wasiat yang pertama ialah ‘Dengarkan wahai Bani Isroil! Robb Tuhan kita adalah Robb yang Esa.’” (12: 28-29). Inilah pengakuan yang jelas dari Isa ‘alaihis salam, jadi kalau Isa telah mengaku bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa / Satu, maka siapakah Isa kalau begitu? Jika Isa adalah Allah juga, maka takkan pernah ada keesaan bagi Allah. Bukankah begitu?
Kemudian aku lanjutkan pencarianku, dan aku temukan pada injil YOHANNES nash-nash yang menunjukkan do’a dan ketundukan Isa Al Masih ‘alaihis salam kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Aku bertanya pada diriku: Jika sekiranya Isa adalah Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, lalu apakah ia membutuhkan kepada ketundukan dan do’a? Tentu tidak! Oleh karena itu, Isa bukan tuhan tetapi dia adalah makhluk seperti kita. Simaklah bersamaku do’a yang terdapat dalam injil YOHANNES, inilah nash do’anya: “Inilah kehidupan yang abadi agar mengetahui bahwa Engkaulah Tuhan yang haqiqi, dan berjalanlah Al Masih yang Engkau telah mengutusnya, aku pekerjamu di bumi, amal yang Engkau telah berikan padaku ialah amalan yang aku telah menyempurnakannya.” (17-3-4). Ini do’a yang panjang, yang akhirnya berkata, “Wahai Rabbul Baar, sesungguhnya alam tidak mengenalMu, adapun aku mengenalMu dan mereka telah mengetahui bahwa Engkau telah mengutusku dan Engkau telah mengenalkan mereka akan namaMu dan aku akan mengenalkan mereka agar pada mereka ada kecintaan seperti Engkau telah mencintaiku.” (17-25-26).
Do’a ini menggambarkan pengakuan Isa ‘alaihis salam bahwa Allah Dialah Yang Maha Esa dan Isa adalah utusan Allah yang diutus pada kaum tertentu, bukan pada seluruh manusia, siapakah kaumnya itu? Kita baca dalam injil MATHIUS (15:24) di mana ia berkata, “Aku tidak diutus melainkan pada kaum di rumah Isro’il yang sasar.” Kalau demikian, jika kita gabungkan pengakuan-pengakuannya ini dengan yang lainnya, sangat mungkin untuk kita katakan bahwa, “Allah adalah Tuhan Yang Esa dan Isa adalah utusan Allah kepada Bani Isroil.” Kemudian kulanjutkan pencarianku, maka aku teringat saat aku sholat aku selalu membaca kalimat berikut: (Allah Bapak, Allah Anak, Allah Roh Qudus, tiga dalam satu). Aku berkata pada diriku: Perkara yang sangat aneh! Kalau kita bertanya pada siswa kelas satu sekolah dasar “1 + 1 + 1 = 3 ?” Pasti akan menjawab ya. Kemudian jika kita katakan padanya “Akan tetapi 3 juga = 1 ?” Tentu dia takkan menyepakati hal itu, sebab di sana terdapat pertentangan yang jelas pada apa yang kami ucapkan, karena Isa ‘alaihis salam berkata dalam injil seperti yang kami lihat, bahwa Allah Esa tidak ada serikat baginya.
Telah terjadi pertentangan kuat antara aqidah yang menancap di jiwaku sejak kecil yakni: tiga dalam satu, dengan apa yang diakui Isa Al Masih sendiri dalam kitab-kitab injil yang ada di tengah-tengah kita sekarang bahwa sesungguhnya Allah itu satu tidak ada serikat baginya. Mana dari keduanya yang paling benar? Belum ada usahaku untuk mengikrarkannya waktu itu, namun yang benar dikatakan bahwa sesungguhnya Allah itu Esa / satu. Kemudian aku cari lagi dari kitab injil dari awal, barangkali aku temukan apa yang kuinginkan. Sungguh telah kutemukan dalam pencarianku nash berikut ini: “Ingatlah wali-wali sejak dulu, karena sesungguhnya Aku adalah Allah, sedang yang lainnya bukan tuhan dan tak ada yang menyerupaiku.” (46: 9). Sungguh perkara yang menakjubkan saat aku berpegang teguh dengan Islam, aku mendapatkan dalam surat Al Ikhlash firman Allah Ta’ala, “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung padaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” Ya, selama kalam itu adalah kalam Allah, maka tidak akan berbeda di manapun didapatkannya. Inilah pelajaran pertama pada agamaku masihiyyah yang dulu, dengan demikian “tiga dalam satu” tidak ada keberadaannya dalam jiwaku.
Adapun pelajaran kedua dalam agama masihiyyah bahwa di sana ada yang disebut dengan warisan dosa atau kesalahan awal, maksudnya ialah bahwa dosa yang diperbuat Adam ‘alaihis salam ketika memakan buah yang diharamkan dari pohon yang berada di surga, pasti seluruh anak manusia akan mewarisi dosa ini. Sekalipun janin yang berada dalam rahim ibu akan menanggung dosa ini dan akan lahir dalam keadaan berdosa. Apakah ini benar atau salah? Aku cari tentang kebenaran hal tersebut. Aku merujuk pada Perjanjian Lama, di tengah pencarianku aku menemukan pada hizqiyal sebagai berikut, “Seorang anak tidak menanggung dari dosa seorang bapak. Seorang bapak tidak menanggung dari dosa seorang anak …” (hizqiyal: 18: 20-21).
Barangkali yang cocok untuk kami sebutkan di sini apa yang dikatakan Al Qur’anul Karim pada masalah ini, “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain …” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitroh, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi atau menjadikannya Nashrani atau menjadikannya Majusi.” Inilah dia kaidah dalam Islam dan menyepakatinya apa yang ada / datang dalam injil, lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa kesalahan Adam akan berpindah dari satu generasi ke generasi lainnya, dan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa?

Bersambung
Walhamdulillahi robbil alamin.
Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari.
(Diringkas dari kitab ‘Uluwul Himmah).

 

Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin

Tanya:

Apakah seorang muslim boleh untuk memiliki Injil untuk mengetahui firman Allah kepada hamba dan rasul-Nya Isa ‘alaihish sholaatu was salaam?

Jawab:

Tidak boleh untuk memiliki sesuatupun dari kitab-kitab sebelum Al Quran, seperti Injil, Taurot, atau selain keduanya, karena dua sebab:
Sebab pertama: Sesungguhnya semua hal yang bermanfaat telah Allah subhanahu wa ta’ala terangkan dalam Al Quranul Karim
Sebab kedua: Sungguh yang terdapat di dalam Al Quran telah mencukupi dari kitab-kitab sebelumnya, karena firman Allah Ta’ala: “Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya…” (QS Ali Imron: 3). Dan firman Allah Ta’ala: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan…” (QS Al Maidah: 48). Maka sesungguhnya kebaikan yang ada di kitab-kitab sebelum Al Quran terdapat dalam Al Quran.

Adapun perkataan si penanya, bahwa dia ingin mengetahui firman Allah kepada hamba dan rasul-Nya Isa, maka hal-hal yang bermanfaat dari firman Allah tersebut pasti telah Allah kisahkan di dalam Al Quran sehingga tidak perlu untuk mencari di kitab lain. Selain itu, Injil yang ada sekarang telah diubah, dan yang menunjukkan hal itu adalah dengan adanya empat injil yang berselisih antara satu dengan yang lainnya dan itu bukan Injil yang satu, dengan demikian tidak boleh percaya padanya.

Adapun tholibul ilmi (penuntut ilmu) yang mempunyai ilmu yang mantap untuk mengetahui yang haq (benar) dari yang bathil maka tidak terhalang untuk mengetahui kitab tersebut untuk membantah kesalahan di dalam kitab itu dan menegakkan hujjah (bukti) atas para penganutnya.
(Sumber: Majmu’ Fatawa jilid 1).

Sumber: Bulletin Al Wala Wal Bara’

Dinukil dari: http://fdawj.atspace.org/awwb/th1/11.htm

Engkau Pergi… Setelah Merenggut Mahkotaku!!!

Penulis: Abu ‘Umar Salim Al-Ajmi Hafizahullah

Mawar MerahWalaupun seluruh kisah pacaran pada asalnya semuanya adalah semata-mata tipu muslihat, akan tetapi disana ada siasat dan permainan yang membuat orang lain keheranan dari kemampuan pelakunya mebuat tipu muslihat sedemikian rupa?! Bagaimanapun juga, tipu muslihat ini benar-benar terjadi dan tidak pernah disadari kecuali setelah terjadi.

Yang menjadikan sebab kita menamakannya dengan PERMAINAN, karena permainan sangatlah berbeda dengan hal lainnya dan karena sulitnya serta keberanian pelakunya.

Kalau kita ingin untuk mengutarakannya dengan ungkapan yang lebih tepat dan lebih jelas, maka dengan mengatakan:disana ada persengkokolan yang ditujukan kepada sebagian gadis. Melalui usaha yang ditempuh oleh pelaku persekongkolan yang dipoles dengan nama-nama yang indah dan janji-janji yang menggiurkan, sehingga dengan cepat berhasil menjerat gadis tersebut dengan tanpa disadari.

Sebagian pemuda nakal –semoga Allah memberi hidayah kepada mereka menuju keridloan-Nya- tidak merasa cukup dengan mingikat tali cinta dengan sebagian gadis lajang lagi menyeleweng, yang menjadikan kerusakan moral ini sebagai kebiasaan. Bahkan dia mendatangi sebagian gadis lugu dan tidak mengenal pacaran, kemudian dia melalui permainan ini menjadi penyebab dari kerusakan gadis ini, agama serta masa depannya. Yaitu dengan mengutarakan keinginan untuk menikah dengannya, akan tetapi kali ini dengan lain…
Bagaimana caranya?
Sangat disayangkan sekali, kejadian yang terjadi disebagian keluarga yang kurang perhatianadalah: apabila ada seorang lelaki yang datang untuk melamar anak gadis mereka, maka mereka mengizinkan kepadanya untuk mengajak anak gadis mereka pergi kesana-kemar dengan alasan untuk penjajakan pribadi dan watak gadis ini, sedang (lamaran adalah sekedar janji nikah dan bukan pernikahan). Perbuatan ini sangat jelek dan kesalahan yang dilarang oleh syari’at serta bertentangan dengan akhlak dan budi pekerti yang baik yang disandang oleh setiap muslim yang memiliki rasa cemburu akan agama dan kehormatan dirinya. Karena seandainya sampai terjadi lelaki tersebut menodai anak gadis mereka, maka dengan mudah dia melarikan diri dan meninggalkannya, karena tidak ada tali hubungan apapun yang mengikatnya. Gadis ini adalah orang yang asing bagi dirinya sebagaimana gadis lain dan bukan sebagai istrinya.
Oleh karena itu, sebagian pemuda merasa mendapatkan kesempatan apabila ia merencanakan niat jahat kepada seorang gadis, dia melamarnya seakan-akan hendak menikahinya. Dan dimasa-masa lamaran serta bepergian bersamanya kesana-kemari serta kelalaian keluarga gadis, dia merenggut mahkotanya lalu kabur meninggalkannya menanggung penyesalan dan penderitaan.
Mungkin ada yang bertanya, apa masuk akal kejadian ini terjadi?! Kami menjawab: Ya…
Srigala akan selalu menyerbu kandang yang tidak ada anjing penjaganya
Dan takut dari kandang milik orang yang selalu waspada dan berjaga-jaga

Perhatikan hal tersebut dengan seksama…
Salah seorang korban bercerita:”Aku adalah seorang gadis berusia 19 tahun, kuliah tingkat pertama. Aku selalu melihat dia setiap aku pergi dan pulang kuliah, dia selalu menyapaku setiap kali berpapasan denganku. Tanpa disengaja kami berjumpa di tempat keramaian, maka diapun menemuiku lalu kami mengikat janji untuk mengikat tali pernikahan, akupun sangat bahagia ketika dia datang melamarku.

Pada suatu hari terjadi perjumpaan antara kami, yang menyebabkan aku kehilangan mahkotaku. Dia berjanji untuk segera menikahiku, akan tetapi setelah berlalu beberapa bulan dari pertemuan tersebut, dia menghilang sama sekali dari kehidupanku, malah dia mengutus ibunya untuk membatalkan lamaran serta memutuskan seluruh hidupku. Semenjak itu, kesedihan tidak pernah pergi dari mataku, aku hidup bagaikan dalam kegelapan penjara yang dipenuhi oleh penyesalan dan duka.
Jangan sekali-kali Anda mengatakan bahwa dengan berjalannya hari aku akan mampu melupakan bencana yang telah menimpaku. Untuknya aku telah korbankan segalanya akan tetapi dia malah menyebabkan aku menjadi orang yang tidak berharga sedikitpun”.

Kisah yang memilukan ini aku (Syaikh Salim, pent) tunjukan kepada semua gadis, agar mereka menyadari akan hakikat permasalahannya yang sedang kita bicarakan, yaitu kalau ada seorang pemuda yang berkenalan dengan seorang gadis sebelum dia menikah, inilah akibatnya atau paling ringan dia tidak akan rela untuk terjalin tali pernikahan dengannya.
Aku tunjukkan juga kepada orang-orang yang terlalu ceroboh, mereka yang telah kehilangan rasa cemburu, sehingga tidak mengetahui kemana anak gadis mereka pergi, walaupun pergi lama mereka tidak akan mencarinya.

Kisah ini juga aku tujukan kepada para penyeru ikhtilat, karena mereka ikut andil dalam terjatuhnya gadis ini sebagai korban permainan hina ini. Bukan hanya gadis ini saja, bahkan disana banyak sekali yang lainnya.

Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan (QS. Al-Baqoroh: 79).

Seorang penyair berkata:

Janganlah sekali-kali mengharapkan dari orang rendah untuk mulia

Sesungguhnya kemuliaan tidak akan datang dari orang yang penakut

Keutamaan berlalu tanpa kesatria yang membelanya

Sedangkan untuk kehinaan seribu pelindung dan relawan

Perbuatan dosa banyak memiliki pintu-pintu yang terbuka

Dan yang terjelek pergaulan pemuda dengan dara perawan

Sumber:ضحية معاكسة

[judul asli : permainan]

http://abdurrahman.wordpress.com/2008/03/13/permainan/

http://muslimah-salafiyah.blogspot.com/2008/03/permainan.html

Dinukil dari: http://ummuammar88.wordpress.com/2009/01/27/rahmat-islam-untuk-rahmat-purnomo-bagian-ii-habis-3/