Arsip Kategori: MANHAJ

Menyampaikan Kajian dengan Seijin Pemerintah, Sebuah Manhaj As-Salaf

Penulis: dr. M Faiq Sulaifi

Termasuk manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah meminta ijin pemerintah dalam mengadakan kegiatan dakwah. Ketika melakukan kegiatan dakwah, mereka membangun lembaga dakwah atau yayasan dakwah sebagaimana peraturan pemerintah di negeri mereka. Begitu pula ketika mengadakan kegiatan daurah keilmuan, mereka juga harus mendapatkan ijin dari pemerintah setempat.

Sebaliknya, manhaj khawarij adalah melakukan dakwah tanpa seijin penguasa. Mereka berdakwah secara diam-diam tanpa mendirikan lembaga ataupun yayasan sehingga menyulitkan pemerintah untuk mengawasi mereka. Begitu pula ketika mengadakan daurah, mereka tidak meminta ijin pemerintah terlebih dahulu.

Matan Hadits

Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i t, ia berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah e bersabda:

لَا يَقُصُّ إِلَّا أَمِيرٌ أَوْ مَأْمُورٌ أَوْ مُخْتَالٌ

“Tidaklah menyampaikan kisah kecuali amir (penguasa) atau orang yang diperintah (oleh amir) atau orang yang sombong.” (HR. Abu Dawud: 3180, Ibnu Majah: 3743, Ahmad: 6374, Al-Bazzar: 2397 (7/226), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir: 14849 (18/76)).

Derajat Hadits

Al-Hafizh Al-Haitsami berkata tentang riwayat Ahmad: “Diriwayatkan oleh Ahmad dan isnadnya adalah hasan.” (Majma’uz Zawaid: 907 (1/451)). Beliau juga berkata tentang riwayat Ath-Thabrani: “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dan isnadnya hasan.” (Majma’uz Zawaid: 910 (1/452)).

Riwayat Abu Dawud dan Ath-Thabrani di atas juga dinilai jayyid oleh Al-Hafizh As-Suyuthi dalam kitab beliau Tahdzirul Khawash min Akadzibil Qashshash. (Tahdzirul Khawash: 173)

Al-Allamah Al-Muhaddits Al-Albani juga berkata: “Hadits ini shahih tanpa keraguan, dengan terkumpulnya 3 jalan ini. Apalagi riwayat yang terakhir juga hasan sebagaimana keterangan terdahulu. Wallahu a’lam.” (Silsilah Ash-Shahihah: 2020 (5/19)).

Makna Hadits

Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi berkata:

(لا يقص على الناس) أي لا يتكلم عليهم بالقصص والإفتاء

“Maksud hadits (Tidaklah menyampaikan kisah kepada manusia) adalah tidaklah berbicara tentang kisah dan berfatwa kepada mereka.” (Faidlul Qadir: 6587).

Beliau juga menjelaskan:

(أو مأمور) أي مأذون له في ذلك من الحاكم

“Maksud sabda beliau (atau orang yang diperintah (oleh amir)) adalah orang yang diijinkan oleh penguasa untuk berfatwa atau menyampaikan kisah.” (Faidlul Qadir: 6587).

Al-Allamah Ubaidullah Al-Mubarakfuri berkata:

وفي الحديث الزجر عن الوعظ بغير إذن الإمام؛ لأنه أعرف بمصالح الرعية، فمن رأى فيه حسن العقيدة وصدق الحال يأذن له أن يعظ الناس وإلا فلا

Di dalam hadits ini terdapat larangan yang keras dari kegiatan memberikan nasehat (ceramah) tanpa seijin imam (penguasa). Karena ia lebih mengetahui terhadap kemaslahatan rakyat. Maka orang-orang yang menurut pemerintah, memiliki kebaikan aqidah dan jujurnya keadaan maka mereka dapat diberikan ijin untuk menyampaikan nasehat kepada manusia dan begitu pula sebaliknya.” (Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 242 (1/336)).

Al-Imam Al-Baghawi menukilkan dari Ibnu Syuraih bahwa ia berkata:

وكان الأمراء يلون الخطبة يعظون فيها الناس. والمأمور : من يقيمه الإمام خطيبا ، والمختال : من نصب نفسه لذلك اختيالا وتكبرا ، وطلبا للرياسة من غير أن يؤمر به.

“Adalah pemerintah itu mengurusi masalah khutbah. Mereka berkhutbah untuk memberikan nasehat kepada manusia. Orang yang diperintah adalah orang yang ditunjuk oleh penguasa menjadi khatib. Dan orang yang sombong adalah yang menunjuk dirinya untuk berkhutbah dalam rangka berbangga-bangga, sombong dan mencari kedudukan dengan tanpa diperintahkan atau diijinkan terlebih dahulu.” (Syarhus Sunnah: 1/304).

Keterangan As-Salaf

Al-Imam Sahl bin Abdullah At-Tustari (wafat tahun 283 H) berkata:

إذا نهى السلطانُ العالمَ أن يُفتِيَ فليس له أن يُفتي، فإن أفتى فهو عاصٍ، وإنْ كان أميراً جائراً

“Jika sultan (pemerintah) melarang seorang alim untuk berfatwa, maka ia tidak boleh berfatwa. Jika ia tetap berfatwa maka ia telah berbuat maksiat meskipun  sultan tersebut merupakan pemimpin yang zhalim.” (Tafsir Al-Qurthubi: 5/259, Tafsir Al-Bahrul Muhith: 4/174).

Demikian pula sikap Ammar bin Yasir y ketika menyampaikan hadits tentang tayammum kepada Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab t. Umar berkata:

اتَّقِ اللَّهَ يَا عَمَّارُ قَالَ إِنْ شِئْتَ لَمْ أُحَدِّثْ بِهِ

“Bertakwalah kepada Allah, wahai Ammar!” Maka Ammar pun berkata: “Kalau engkau mau, maka aku tidak akan menyampaikan hadits itu lagi.” (HR. Muslim: 553 dan An-Nasa’i: 314).

Dahulu Abu Musa Al-Asy’ari t pernah berfatwa tentang haji tamattu’. Kemudian sampailah kepada beliau bahwa Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab t memerintahkan haji ifrad. Maka beliau pun berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ كُنَّا أَفْتَيْنَاهُ فُتْيَا فَلْيَتَّئِدْ فَإِنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَادِمٌ عَلَيْكُمْ فَبِهِ فَأْتَمُّوا

“Wahai manusia! Barangsiapa yang telah kami berikan kepadanya suatu fatwa maka hendaknya fatwa tersebut jangan dilaksanakan dulu. Karena Amirul Mukminin telah datang kepada kalian maka hanya dengannya hendaknya kalian bermakmum!” (HR. Muslim: 2143, Ad-Darimi: 1815, Ahmad: 18713 dan lain-lain).

Dari Amr bin Dinar , ia berkata:

أن تميم الداري استأذن عمر في القصص فأبى أن يأذن له ثم استأذنه فأبى أن يأذن له ثم استأذنه فقال : إن شئت وأشار بيده يعني الذبح

“Bahwa Tamim Ad-Dari meminta ijin kepada Umar untuk menyampaikan kisah-kisah maka Umar tidak mau memberikan ijin kepadanya. Kemudian ia meminta ijin lagi dan Umar tidak mengijinkannya. Pada kali yang ketiga Umar berkata: “Kalau kamu mau maka kamu akan disembelih.” Sambil berisyarat dengan tangannya.” (Atsar riwayat Ath-Thabrani dalam Al-Kabir: 1250 (2/49). Al-Haitsami berkata: “Perawinya adalah perawi Ash-Shahih kecuali bahwa Amr bin Dinar tidak pernah mendengar Umar (Majma’uz Zawaid: 905 (1/450) dan As-Suyuthi menilai jayyid isnadnya dalam Tahdzirul Khawash: 172).

Abdul Jabbar Al-Khaulani berkata:

دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا كَعْبٌ يَقُصُّ فَقَالَ مَنْ هَذَا قَالُوا كَعْبٌ يَقُصُّ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَقُصُّ إِلَّا أَمِيرٌ أَوْ مَأْمُورٌ أَوْ مُخْتَالٌ قَالَ فَبَلَغَ ذَلِكَ كَعْبًا فَمَا رُئِيَ يَقُصُّ بَعْدُ

“Salah seorang sahabat Nabi e memasuki masjid. Ternyata di sana ada Ka’ab (Al-Ahbar) yang sedang membacakan kisah. Maka Sahabi ini bertanya: “Siapa ini?” Mereka menjawab: “Ia adalah Ka’ab yang sedang membacakan kisah.” Maka Sahabi ini berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah e bersabda: “Tidaklah menyampaikan kisah kecuali amir (penguasa) atau orang yang diperintah (oleh amir) atau orang yang sombong.” Maka hadits ini akhirnya sampai kepada Ka’ab. Kemudian ia tidak pernah terlihat lagi membacakan kisah setelah itu.” (HR. Ahmad: 17358 dan isnadnya di-hasan-kan oleh Al-Haitsami: 907 (1/451)).

Kisah Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan Raja Al-Watsiq

Sesungguhnya dalam kisah ini terdapat pelajaran bagi kita. Al-Imam Ahmad pernah dicekal oleh rezim Raja Al-Watsiq yang bermanhaj mu’tazilah. Ini karena Al-Imam Ahmad mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yaitu Al-Quran adalah firman Allah, bukan makhluk. Sedangkan rezim Al-Watsiq menyatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk. Dan ini menjadi sebab pencekalan Al-Imam Ahmad. Beliau tidak boleh mengadakan perkumpulan, menyampaikan ilmu dan diharuskan bersembunyi. Dan beliau menaati perintah pencekalan ini sampai berakhirnya kekuasaan Al-Watsiq.

Al-Imam Hanbal bin Ishaq (sepupu Al-Imam Ahmad) berkata:

فبينانحن في أيام الواثق، إذ جاء يعقوب ليلا برسالة الامير إسحاق بن إبراهيم إلى أبي عبد الله: يقول لك الامير: إن أمير المؤمنين قد ذكرك، فلا يجتمعن إليك أحد، ولا تساكني بأرض ولا مدينة أنا فيها، فاذهب حيث شئت من أرض الله.

قال: فاختفى أبو عبد الله بقية حياة الواثق.

وكانت تلك الفتنة، وقتل أحمد بن نصر الخزاعي.

ولم يزل أبو عبد الله مختفيا في البيت لا يخرج إلى صلاة ولا إلى غيرها حتى هلك الواثق.

“Suatu ketika kami di masa kekuasaan Raja Al-Watsiq. Tiba-tiba Ya’qub datang pada malam hari dengan membawa sepucuk surat dari Amir (Gubernur) Ishaq bin Ibrahim kepada Al-Imam Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal). Gubernur berkata (dalam suratnya): “Sesungguhnya Amirul Mukminin (Raja Al-Watsiq) telah menyebutkanmu. Maka janganlah seorang pun berkumpul (bermajelis) kepadamu dan janganlah engkau berdiam denganku di bumi ataupun kota yang mana di situ ada aku! Pergilah ke tempat sesukamu dari bumi Allah!”

Hanbal bin Ishaq berkata: “Maka Al-Imam Abu Abdillah bersembunyi sampai masa sisa dari kehidupan Raja Al-Watsiq. Dan pada fitnah itu terbunuhlah Ahmad bin Nashr Al-Khuza’i. Dan Al-Imam Abu Abdillah senantiasa bersembunyi di rumah. Beliau tidak keluar rumah untuk menghadiri shalat jamaah tidak pula acara yang lainnya sampai Raja Al-Watsiq mati.” (Siyar A’lamin Nubala’: 11/263-264).

Ijin Pemerintah

Pada hakekatnya pemerintah RI telah memberikan jaminan kebebasan bagi warganya untuk berpendapat, berserikat dan berkumpul. Agar tertib administrasi dan hukum, pemerintah mengeluarkan UU no. 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan, Peraturan Pemerintah no. 18 tahun 1986 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Untuk sekala kecil pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah no. 63 tahun 2008 tentang Yayasan. Sehingga orang yang berkumpul baik dalam majelis ta’lim atau apapun kegiatannya, harus mendapatkan pengesahan dari pemerintah melalui lembaga yang diatur dalam peraturannya semisal organisasi kemasyarakatan atau yayasan atau lembaga dakwah.

Penutup

Maka orang-orang yang mengadakan majelis ta’lim tanpa seijin pemerintah –yaitu tanpa mendirikan yayasan- adalah orang-orang yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah. Sehingga kalau mereka konsisten dengan bid’ahnya yayasan maka hendaknya mereka tidak mengadakan majelis ta’lim dan cukup duduk-duduk di rumah mereka saja. Dan kalau mereka memaksa, maka mereka termasuk orang-orang yang sombong dan mencari kedudukan. Wallahu a’lam.

Dinukil dari: http://sulaifi.wordpress.com/2011/05/06/menyampaikan-kajian-dengan-seijin-pemerintah-sebuah-manhaj-as-salaf/

Tentang Kudeta Militer Terhadap Penguasa

Penulis: Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany rahimahullaahu ta’ala

Pertanyaan:
Apakah hari ini apa yang dikenal sebagai “kudeta militer” melawan penguasa, diatur dalam Agama atau itu perbuatan bid’ah?

Jawaban:
Tidak ada dasar bagi tindakan ini diatur dalam Islam. Dan itu adalah bertentangan dengan pemahaman yang Islami berkaitan dengan menyerukan dakwah kepada Islam dan menciptakan suasana yang tepat untuk itu (Amar ma’ruf nahi munkar. penerjemah). Sebaliknya, itu hanya sebuah perbuatan bid’ah yang diperkenalkan oleh orang-orang kafir, yang telah mempengaruhi beberapa kaum muslimin. Ini telah saya sampaikan dalam catatan saya pada penjelasan Al-’Aqeedah At-Tahaawiyyah.

Sumber: Al-Asaalah No 10
Diterjemahkan oleh Ismaal Alarcon

Terjemahan dari: http://www.fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&ID=68

Bantahan Terhadap Orang-orang Yang Membolehkan Ucapan Selamat Natal Dan Hari-hari Raya Lainnya

Penulis: al Ustadz Fahmi Abubakar Jawwas

بسم الله الحمن الرحيم


الحمد الله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله المبعوث رحمة للعالمين وحجة على أهل الزيغ والضلال أجمعين صلى الله عليه وعلى آله وصحبه

Allaah Azza Wajalla berfirman di dalam KitabNya

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (#)إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ ( النحل :36-37  )

Artinya:” dan sungguh  Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat agar kalian beribadah kepada Allah (saja), dan menjauhi Thaghut[1] ” Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allaah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, Maka Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong.(An-Nahl :36-37)

telah benar sabda Rasulallahu Shalallahu Alaihi Wasallam:”sesungguhnya Allaah Azza Wajalla tidak mematikan ilmu ini dengan sekali cabut dari dada-dada manusia,tetapi dgn mewafatkan ulama,sampai jika tidak tersisa seorang ulama pun,manusia menjadikan pemimpin-pemimpin mereka dari orang-orang yg bodoh,maka mereka berfatwa dengan tanpa ilmu kemudian sesatlah mereka dan mereka  menyesatkan(HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr Radiyallahu Anhuma)

dan diantara mereka yg menyesatkan manusia adalah Yusuf Al-Qardhawi yg mana banyak dari fatwa-fatwanya menyelisihi  Nash-Nash Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman ummat-ummat yg terdahulu dan mengikuti pemikiran akalnya dan telah tersebar bagaimana dia memposisikan dirinya dengan membantu musuh kaum muslimin dan menghilangkan kebaikan dan kemurnian agama ini dan dari kesesatan itu adalah fatwanya yg membolehkan memberikan selamat kepada yahudi dan nashroni di dalam hari-hari raya mereka.

Maka sebelumnya perlu kita perhatikan

1.sesungguhnya yg wajib bagi kaum muslimin adalah berserah diri untuk Agama Allaah Azza Wa Jalla yg mana telah diturunkan kepada makhlukNya dan memerintahkan mereka denganya,dan Allaah Azza Wa Jalla tidak akan menerima amalan mereka selainnya dan itu adalah agama Islam Allaah Azza Wa Jalla berfirman

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ( ال عمران : ٨٥)

Artinya:”Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.(Qs.Ali-‘Imraan :85)

Dan Islam adalah setiap segala sesuatu yg manusia diserukan kepadanya dari apa-apa yg ada di Kitab Rabb kita dan Sunnah yg shahih dari Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman salaf (para pendahulu) yg shaleh dari ummat ini sebagaimana firman Allaah Azza Wa Jalla

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ (الأععراف :٣)

Artinya:” ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (daripadanya).(Qs.Al-‘Araaf : 3).

Dan seperti firman Allaah Azza Wa Jalla

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (البقرة :١٣٧)

Artinya :”Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.(Qs.Al-Baqarah :137)

Dan Allaah Ta’ala berfirman

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دينا( المائدة :٣)

Artinya :” pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu. (Qs.Al-Ma’idah :3)

Berkata Umar bin Khathaab Radiyallahu Anhu:”kita zaman dahulu adalah kaum yg terhina kemudian Allaah Ta’ala memuliakan kita dengan Islam dan bilamana kita menginginkan kemuliayaan dengan tanpa apa-apa yg Allaah Ta’ala telah memuliakan dengannya maka Allaah akan menghinakan kita (dishahihkan Syaikh Albani Rahimahullah di As-Silsilah Ash-Shahiihah hal 1/62 no 51)maka tidak ada keyakinan kecuali keyakinan agama Islam,dan tidak ada ibadah kecuali ibadah agama Islam dan tidak ada jalan kecuali jalan agama Islam dan tidak ada akhlak kecuali akhlak agama  Islam,maka tidak boleh bagi seorang muslim setelah itu menolak dan menyelisinya dengan perasaan atau akal atau fikiran bahkan yg wajib baginya adalahh berserah diri secara keseluruhan seperti firman Allaah Azza Wa Jalla

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (النساء : 65(

Artinya:”Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(Qs.An-Nisaa’:65)

Dan janganlah kita menjadi orang-orang munafiq ( Wal-“iyyadzu billaah)yg mana memang sifat mereka adalah melawan dan menyelisihi agama Allaah Azza Wa Jalla,seperti firman Allaah Ta’ala

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (النساء :٦١)

Artinya: “apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu Lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.(Qs.An-Nisaa’ : 61)

2.sesungguhnya tidak boleh bagi seorang muslim menyelisihi Syari’at ini dengan akalnya  dan fikirannya,maka sesungguhnya itu adalah sebab rusak agamanya dan dunianya,berkata Ibnul Qayyim Rahimahullah:”dan setiap seseorang yg berpegang teguh kapada akalnya mengetahui sesungguhnya rusaknya seorang yg berilmu itu ditimbulkan karena dia mendahulukan akal fikirannya dari pada wahyu dan termasuk dosa yg paling besar yg diperbuat oleh akal adalah penolakannya terhadap Kitab Allaah dan wahyuNya yg dengannya para Rasul Shalawaatu Rabbii Wasalaamuhu ‘Alaihim memberi petunjuk dan menolaknya dengan perkataan selainnya maka dengan kerusakan apa yg lebih besar dari pada kerusakan akal ini?(‘Ilaam Al-Muwaqqi’iin hal 1/68)dan termasuk orang-orang yg menolak agama ini dengan akal adalah yusuf al-qardhawi dan Syaikhnya dan itu adalah runtunan masyayekh orang yg mendahulukan akal dan kebid’ahan,yg mereka nukilkan sebagian mereka kesebagian lainnya,dan dari contoh itu adalah penolakannya tentang hadits Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:”ayahku dan ayahmu di neraka.(HR.Muslim dari Anas bin Malik Radiyallahu Anhu)

Berkata al-qardhawi setelah itu di dalam kitabnya “bagaimana kita bermuamalah dengan Sunnah hal 97-98”(apa dosa Abdullah bin Abdil Muththalib sampai dia menjadi penghuni neraka)dan dia berkata setelahnya(apa dosa ayahnya laki-laki yg bertanya tersebut dan yg tampak bagiku adalah bahwasanya ayahnya telah wafat sebelum Islam untuk ini aku bimbang dengan hadits ini sampai tampak bagiku sesuatu yg melapangkan dadaku adapun Syaikh ku Syaikh Muhammad Al-Ghazaali dia telah menolak hadits ini dengan terus terang.

Maka lihatlah wahai Rahimakallah dengan keyakinan sufiyyah dan cara-cara yg baru di dalam agama Islam,maka dia telah menjadikan akal sebagai asas,dan apa yg diterima oleh akal maka dia akan diterima dan apa yg tidak diterima oleh akal maka dia akan tertolak,dan tidak tersembunyi lagi bagi seorang muslim rusaknya perkataan ini,dan Ali Radiyallahu Anhu berkata:”kalau seandainya agama ini dengan akal maka mengusap bawahnya khuff[2] itu lebih utama dari pada mengusap atasnya (HR Abu Daud dishahihkan Syaikh Albani Rahimahullah di Irwa’ Al-Ghaliil hal 1/140)

Dan dari arah fatwa qardhawi yg menyimpang ini di dalam pembolehannya memberikan selamat kepada kepada orang-orang kafir di hari raya mereka yg menolak dan tidak menggubris dengan dalil-dalil yg banyak dari Al-Qur’an dan Sunnah  dan perkataan salaf ummat ini dan juga perkataan Ahlil ilmi yg telah banyak dari Ahli Tafsiir,Hadiits dan Fiqh dan sesuatu yg Ijma’ tdk boleh keluar darinya dan menyelisinya.

Dan dari dalil-dalil kitab yg banyak,firman Allaaah Azza Wa Jalla

وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا (الفرقان :٧٢)

Artinya:”dan orang-orang yang tidak menyaksikan Az-Zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.(Qs.Al-Furqaan: 72)

Dan dari Ibnu Abbas Radiyallahu Anhuma,Mujaahid,Ar-Rabi’ bin Anas,Ikrimah dan Dhahak Rahimahumullah mereka berkata:”hari-hari raya orang-orang musyrik (maksudnya arti dari”Az-Zuur-pent) diriwayatkan oleh Khalaal di Jaami’nya dan semisal dengannya oleh Ibnu Jariir dan Al-Qurthubii di dalam Tafsiirnya dan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahaani dari ‘Amr bin Murrah Rahimahumullah(berkata :”tidak menyaksikan Az-Zuur artinya tidak menolong Ahli Syirik dengan perbuatan kesyirikan mereka dan tidak bercampur baur dengan mereka)dan semisalnya dari Atha’ bin Yasaar Rahimahullah,dan mengucapkan selamat dihari raya mereka termasuk menolong Ahli Syirik dengan perbuatan kesyirikan mereka.

Dan dari Sunnah sangatlah banyak,apa yg diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya dengan sanad yg hasan dari Anas Radiyallahu Anhu dengan sanad yg hasan berkata:”Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam telah tiba di Madinah,dan mereka mempunyai dua hari yg mereka bermain di hari itu,maka beliau Shalallahu Alaihi Wasallam  berkata:”apa yg dimaksud (dengan) dua hari ini?

Mereka berkata :”kami telah bermain-main di dua hari ini pada waktu jahiliyyah,maka Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:”sesungguhnya Allaah Azza Wajalla telah mengganti kalian dua hari yg lebih baik dari keduanya yaitu hari Adha dan Fithri.dan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam telah menyatakan tidak berlaku bagi setiap hari raya kecuali kedua hari raya ini,maka bagaimana dengan memberikan selamat dihari rayanya yg bathil.

Dan dari perkataan ulama salaf apa yg telah lalu dari tafsiir ayat dan dari suratnya Umar Radiyallahu Anhu kepada orang-orang kafir yg diberikan jaminan keamanan yg Ummat ini telah menerimanya dan ini adalah Ijma’ kaum muslimin yg terdahulu dan yg akan datang,dan itu adalah perkataan Khalifah kedua dari Khalifah Ar-Rasyidiin,dan di dalamnya,bahwa beliau Radiyallahu Anhu melarang orang-oang kafir yg diberikan jaminan keamanan untuk memperlihatkan sesuatu apapun dari hari raya mereka,dan lihatlah Ta’liiq Syarh Imam Ibnul Qayyiim Rahimahullah Fi Ahkaam Ahli Adz-Dzimmah hal (2/659)

Dan dari Umar Radiyallahu Anhu berkata:”menjauhlah kalian dari musuh-musuh Allaah di dalam hari-hari raya mereka (diriwayatkan oleh Al-Baihaqi Bab Karahatu Ad-Dukhuul ‘Ala Ahli Adz-Dzimmah Fi Kanaa’isihim Wa At-Tasyabbuhu Bihim Yauma Nairuuzihim Wa Mahrajaanihim dengan Sanadnya dari Al-Bukhari yg sampai sanadnya kepada Umar Radiyallahu Anhu yg dia adalah pengarang Kitab Shahiih Al-Bukhari

Dan Nairuuz adalah hari raya Alqibthi di Mesir dan itu adalah hari pertama disetiap tahunan AL-Qibthiyyah dan disebut dengan hari Syammun Nasiim

Dan jika kita diperintahkan untuk menjauhi hari-hari raya mereka dan dilarang mendirikan hari-hari raya mereka,maka bagaimana bisa dibolehkannya memberikan selamat di hari raya mereka !!!

Dan untuk menguatkan tambahan,yaitu apa yg disebutkan Al-Khalaal di Jaami’nya berkata:”Baab Fi Karaahati Khuruuj Al-Muslimiin Fi A’yaadil Musyrikiin…

Maka bagaimana dibolehkan kepada kita untuk memberikan selamat kepada orang-orang musyrik di dalam hari-hari raya mereka yg bathil setelah ini.

Dan Syaikh Al-Islaam Rahimahullah telah menukilkan di dalam kitabnya”AL-Iqtidhoo’ hal 1/454” kesepakatan para Shahabat Radiyallahu Anhum dan seluruh Ahli Fiqh atas apa yg telah disyaratkan Umar Radiyallahu Anhu bahwasanya Ahlu Dzimmah dari Ahli Kitab dan selainnya untuk tidak menampakkan hari-hari raya mereka….

Jika orang-orang Islam telah sepakat untuk melarang mereka menampakan hari raya mereka,maka bagaimana bisa dibolehkan bagi seorang muslim untuk melakukannya,maka sesungguhnya perbuatan orang muslim lebih-lebih lagi dari perbuatan orang kafir…(secara ma’na)

Dan berkata muridnya Al-Imaam Ibnul Qayyim Rahimahullah ”Fi Ahkaam Ahli Adz-Dzimmah (2/722)di dalam arah pembicaraannya terhadap hari-hari raya orang-orang musyrik”,dan sebagaimana mereka(orang-orang musyrik yg diberi jaminan keamanan-pent) tidak boleh bagi mereka menampakkan hari-hari raya mereka,maka tidak boleh bagi kaum muslimin menolong atau membantu mereka dan tidak boleh juga hadir bersama mereka dengan kesepakatan Ahlil Ilmi yg mana mereka adalah ahlinya dan para Ahli Fiqh dari pengikut Imam yg empat telah terang-terangan dengan itu di dalam buku-buku mereka.

Dan dari perkataan Ahlil Ilm di dalam permasalahan itu adalah apa yg disebutkan oleh pengarang buku Ad-Durr Al-Mukhtaar ‘Alaa’ Ad-Diin Al-Hashkafii (6/754):”dan pemberian barang dengan nama yg diagungkan orang-orang musyrik maka telah kufur” kemudian dia menyebutkan nukilan dari Abi Hafsh Al-Kabiir dengan tidak dibolehkannya,menerima,memberikan,menghadiahkan dan berjual beli dengan nama hari-hari orang-orang musyrik,maka sesungguhnya perbuatan itu kadang terjatuh kedalam kekufuran dengan pengagungannya pada hari raya ini.(secara ma’na)

Dan disebutkan di Baher Ar-Raa’iq(8/55)sesungguhnya yg menghadiahi telur di dalam hari-hari raya orang-orang musyrik dengan pengagungan terhadap hari raya tersebut itu adalah perbuatan kufur kepada Allaah Azza Wa Jalla

Dan disebutkan pengarang ‘Aunul Ma’buud (3/341)”dari Al-Qaadhi Abi Al-Mahaasin Al-Hasan bin Manshuur Al-Hanafi Rahimahullah:”sesungguhnya barang siapa yg membeli sesuatu di dalamnya dan tidak membeli kepada yg lainnya atau memberi hadiah di dalamnya,maka jika menginginkan dgn itu pengagungan kepada hari raya seperti pengagungan orang-orang kafir maka dia telah kafir,dan jika dia menginginkan dengan pembelian itu hanya meni’mati,bertamasya dan dengan pemberian hadiahnya mencintai seperti adat maka tidak kafir,tetapi menyerupai dengan orang-orang kafir dan untuk itu agar menjaga dari perbuatan itu.

Dan dinukilkan Syaikh Al-Islaam dari Abdil Malik bin Habiib sesungguhnya Imam Malik Rahimahumullah membenci dan mengharamkan makanan dari sembelihan orang-orang nashrani dihari-hari raya mereka dan selainnya

Dan disebutkan Hafidz Ibnu Hajar di hadits Anas Radiyallahu Anhu yg telah lalu untuk berkecukupan dengan hari raya Adha dan Fitri,setelah menyebutkan bahwasanya itu diriwayatkan dengan sanad yg shahih,berkata Rahimahullah dan intisari dari itu adalah dibencinya bersenang-senang di dalam hari-hari raya mereka dan menyerupai mereka.

Dan disebutkan Al-Manaawi di dalam Faidh Al-Qadhiir(4/511)kemudian dia menyebutkan hadits Anas Radiyallahu Anhu kemudian dia menyebutkan pelarangan dari pengagungan hari-hari raya orang-orang kafir dan sesungguhnya orang yg mengagunginya dikarenakan hari rayanya maka dia adalah kafir (secara ma’na)

Maka setelah ini bagaimanakah dibolehkan bagi seorang muslim untuk mengatakan dengan dibolehkannya mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir di dalam hari-hari raya mereka apa lagi kepada orang yg menyandarkan dirinya dengan ilmu seperti Qardhawi,Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan !!

Maka hati-hatilah wahai saudaraku yg muslim Rahimakallah dari penyeru-penyeru kepada kejelekan dan kesesatan yg Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam telah memperingatkan mereka di akhir zaman seperti dihadits Hudzaifah Radiyallahu Anhu di Shahihain

Dan ketauhilah Rahimakallah sesungguhnya penyeru-penyeru kepada kesesatan itu berargumen dengan dalil dan mereka mensamarkannya dengan Syubhat/sesuatu yg rancu,untuk itu kita diperintahkan untuk mengasingkan diri kita dari mereka bukan karena lemahnya ahlul haq di dalam membantah mereka,tetapi karena menjaga keselamatan keumuman kaum muslimin dan hati manusia itu lemah dan Syubhat itu dengan cepat menyambar-nyambar

Dan adapun hadits tentang larangan menyerupai orang-orang kafir adalah hadits Ibnu Umar Radiyallahu Anhuma,Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:”barang siapa yg menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka(HR.Abu Daud no 4031 dishahihkan Syaikh Albani di Irwa’ Al-Ghaliil hal 5/109)

Telah berkata Syaikh Islam Rahimahullah:”dan paling sedikit keadaannya itu menunjukan haramnya orang yg menyerupai orang-orang kafir walaupun secara dzohirnya itu menunjukan kafirnya orang yg menyerupai orang-orang kafir seperti diayat

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ (المائدة :٥١)

Artinya:”dan Barangsiapa diantara kalian yg mengambil mereka menjadi penolong, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. (Qs.Al-Ma’dah:51)

(Iqtidho’u Ash-Shiraath Al-Mustaqiim 1/214)

1.sesungguhnya menyerupai orang-orang musyrik itu terjadi walaupun dia tidak bermaksud dan berniat menyerupai mereka

dari Abi Umaamah Al-Baahili dari ‘Amr bin ‘Abasah As-Sulami Radiyallahu Anhu

didalam haditsnya yg panjang dan di dalam hadits tersebut Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:”shalatlah kamu shalat shubuh kemudian kamu ringkas shalat tersebut sampai terbitnya matahari sampai matahari naik (terbit-pent)maka sesungguhnya matahari terbit pada waktu terbitnya diantara dua tanduknya syaithan dan ketika itu orang-orang kafir melakukan sujud(HR.Muslim dll no 293 hal 1/569)

dan di dalam hadits ini Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam tidak keluar larangan penyerupaan itu dengan ikatan kata bermaksud niat menyerupai mereka dan Syaikh Islam Rahimahullah berkata:”dan sudah diketahui bahwasanya seorang mu’min tidak melakukan sujud kecuali kepada Allaah Azza Wa Jalla,dan kebanyakan manusia tidak mengetahui sesungguhnya terbit dan terbenamnya matahari diantara dua tanduknya syaithan dan tidak juga mengetahui bahwasanya orang-orang kafir melakukan sujud kepadanya (Iqtidho’u Ash-Shiraath Al-Mustaqiim 1/185)

dan berkata Syaikhul Islam Rahimahullah :”sesungguhnya apa-apa yg telah diperintahkan dengannya untuk menyelisihi mereka(musyrikin-pent)itu disyari’atkan,sama saja entah perbuatan itu dari apa-apa yg telah diniatkan pelakunya untuk menyerupai mereka atau tidak diniatkan untuk menyerupai mereka,dan juga apa-apa yg telah dilarang darinya untuk menyerupai mereka,itu adalah umum entah itu diniatkan pelakunya untuk menyerupai mereka atau tidak diniatkan,maka sesungguhnya keumuman perbuatan ini,orang-orang Islam tidak bermaksud untuk menyerupai mereka di dalamnya,dan di dalamnya juga sesuatu yg tidak pernah tergambarkan untuk menyerupai mereka di dalamnya seperti membiarkan rambut putih(tidak diwarnai selain warna hitam-pent)dan panjangnya kumis dan selainnya(Iqtidho’u Ash-Shiraath Al-Mustaqiim 1/373)

2.dan juga menyerupai orang-orang musyrik itu terdapat pula  pada permasalahan kebiasan dan tabi’at bukan hanya di dalam permasalahan ibadah saja

Dari Ibnu Umar Radiyallahu Anhuma berkata dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:”selisihilah orang-orang musyrik dan dan banyakanlah/biarkanlah jenggot kalian dan potonglah kumis kalian(HR.Bukhari dan Muslim)

Dan untuk itu di dalam kesempatan ini barang siapa dari golongan pria yg telah memotong jenggotnya maka dia telah menyerupai orang-orang musyrik,dia telah menyelisihi perbuatan Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam  dan menyelisi Ijma’ para shahabat Radiyallahu Anhum dan juga Ulama-ulama yg setelahnya,dan juga dia telah menyerupai wanita yg mana tabi’atnya wanita tidak mempunyai jenggot

Dari Ibnu Abbas Radiyallahu Anhuma berkata Rasulallahu Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:”Allaah mela’nat laki-laki yg menyerupai wanita dan wanita yg menyerupai laki-laki(HR.Bukhari,Ahmad dll)

Dan sesuatu dosa yg disebutkan la’nat Allaah di dalamnya itu adalah termasuk dosa besar.

Semoga Allaah Azza Wa Jalla menjadikan kita orang-orang yg mendengarkan perkataan dan mengikutinya dengan sebaik-baiknya sesungguhnya Allaah lah yg menjadi penolong di dalam perbuatan tersebut dan maha kuasa untuk berbuat itu Wal hamdulillahi Rabbil ‘Alamiin

Dan aku tidak lupa bersyukur kepada Syaikina Abdullah bin Umar bin Mar’I bin Buraik semoga Allaah memberikan Al-‘Afiyah kepadanya dan selalu menjaganya dari segala bentuk kejahatan dan sesuatu yg dibencinya,aamiin yg mana aku telah banyak mengambil faedah dari risalahnya yg berjudul Ar-Rod ‘Alal Qardhawi Fi Ijaazatihi Tahni’ah Al-Kuffaar(www.dar-sh.com) dan walaupun bentuknya yg sedikit maka sesungguhnya risalah itu penuh akan faedah

Dan barang siapa yg ingin melihat dan memperluas bahasan di dalam permasalan ini lihatlah buku-buku dibawah ini

1. Iqtidho’u Ash-Shiraath Al-Mustaqiim karya Syaikhul Islaam Rahimahullah

2. Ahkaamu Ahli Dzimmah karya Ibnul Qayyim Rahimahullah

3. Musyaabahatul Muslimiin Lil Kuffaar Fi A’yaadihim karya Syaikh Abdullah bin Abdil Aziiz bin Ahmad At-Tuwaijiri Rahimahullah

4. Ar-Rod ‘Alal Qardhawi Fi Ijaazatihi Tahni’ah Al-Kuffaar karya Syaikh Abdullah bin Umar bin Mar’ii bin Buraik Hafidzahullah

5. Madzoohir At-Tasyabbuh bil Kuffaar Fil Ashril Hadiits… karya Abu Yahya Asyraf bin Abdil Humaid Hafidzahullah

6.At-Tasyabbuh Al-Manhii’ Anhu Fil Fiqhil Islamii karya jamiil Habiib Al-Muthiiri Hafidzahullah dan itu adalah risalah pembukaan untuk mendapatkan gelar Majester di dalam faks Fiqh di Jaami’ah Ummul Quraa’ Hafidzahullah

7. At-Tadaabiir Al-Waaqiyah Min At-Tasyabbuh Bil Kuffaar karya Utsmaan Ahmad Ad-Daukarii dan itu adalah risalah pembukaan untuk mendapatkan gelar Majester di Jaami’ah Al-Imaam Muhammad bin Su’ud Hafidzahullah

8. As-Sunan Wal Atsaar fi An-Nahyi ‘An at- Tasyabbuh bil Kuffaar,ini adalah risalah pembukaan untuk Al-Jami’ah Al-Islaamiyyah Bil Madiinah Al-Munawwarah tahun (1401 H)faks Hadiits karya Suhail ‘Abdul Ghaffaar hafidzahullah

dan fatwa-fatwa AL-Masyayekh dll

[1] Thaghut adalah segala sesuatu yg disembah selain Allaah dan dia ridha disembah

[2] Al-khuff adalah sesuatu yg dipakai dikaki yg terbuat  dari kulit yg berlubang yg menutupi telapak kaki sampai mata kaki dan keatasnya lagi (Syarh Mumti’ hal 1/182,dan Hasyiyah Raudhul Murabba’ hal 1/213,Al-Bahru Ar-Raa’iq hal 1/287,Hasyiyah ibnu Abdiin hal 1/436 dan ‘Aridhatul Ahwadzi hal 1/117)

Dinukil dari:

http://www.facebook.com/notes/fahmi-abubakar-jawwas/bantahan-terhadap-orang-orang-yg-membolehkan-ucapan-selamat-natal-dan-hari-hari-/176078692422663

Menjadi Kaya, Siapa Takut?

Penulis: al Ustadz dr. M Faiq Sulaifi

Pendahuluan

Menjadi seorang salafy atau ahlus Sunnah yang kaya raya adalah sah-sah saja. Apalagi jika dengan niat yang benar, para Sahabat Nabi r pun ingin  dan iri terhadap orang kaya yang demikian.

Dari Abu Dzar  Al-Ghifari t:

أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ

“Bahwa sebagian orang dari kalangan sahabat Nabi r berkata kepada Nabi r: “Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya itu berangkat dengan membawa banyak pahala. Mereka melakukan shalat sebagaimana kami melakukan shalat. Mereka pun berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Tetapi mereka mampu bersedekah dengan kelebihan harta mereka….dst.” (HR. Muslim: 1674, Abu Dawud: 1286, Ahmad: 20500).

Menjadi kaya juga memerlukan motivasi dari generasi terdahulu yang menjadi teladan dalam kebaikan. Dengan mencontoh mereka, kita berharap agar mempunyai tujuan yang benar di dalam mencari  kekayaan yang halal seperti menegakkan agama Islam, menyambung silaturrahim, menyantuni kaum fakir miskin, dan sebagainya.

Pengertian Kaya dan Batasannya

Secara bahasa, menurut Al-Allamah Murtadla Az-Zubaidi “Al-Ghina” (kaya) adalah lawan kata faqir. Beliau berkata:

وهو على ضربين أحدهما ارتفاع الحاجات وليس ذلك الا الله تعالى والثانى قلة الحاجات وهو المشار إليه بقوله تعالى ووجدك عائلا فاغنى

“Kata ‘kaya’ ada 2 macam arti: Pertama adalah hilangnya hajat (kebutuhan). Dan ini adalah hanyalah Allah U. Kedua adalah sedikitnya hajat (kebutuhan). Inilah yang diisyaratkan oleh firman Allah U: “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan (kekayaan).” (QS. Adl-Dluha: 8).” (Tajul Arus: 8527).

Secara syariat, kaya memiliki 2 pengertian: pertama adalah kaya secara jiwa (batin) dan kedua adalah kaya secara ekonomi (lahir).

Tentang kaya secara jiwa, Rasulullah r bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukannya kaya itu dari sebab banyaknya materi duniawi. Tetapi kaya adalah kayanya jiwa.” (HR. Al-Bukhari: 5965, Muslim: 1741, At-Tirmidzi: 2295 dan Ibnu Majah: 4127 dari Abu Hurairah t).

Sedangkan kaya secara ekonomi, Al-Allamah Ibnu Muflih Al-Hanbali berkata:

فَالْغَنِيُّ فِي بَابِ الزَّكَاةِ نَوْعَانِ: نَوْعٌ يُوجِبُهَا، وَنَوْعٌ يَمْنَعُهَا؛ لِأَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمْ يُنْكِرْ عَلَى السُّؤَالِ إذَا كَانُوا مِنْ أَهْلِهَا، وَلِكَثْرَةِ التَّأَذِّي بِتَكْرَارِ السُّؤَالِ.

“Maka orang kaya dalam Bab Zakat ada 2 macam:

pertama adalah kaya yang mewajibkan dipungut zakat dan,

kedua adalah kaya yang menghalangi dari menerima zakat. Karena Rasulullah r tidak mengingkari orang yang meminta-minta jika memang mereka termasuk orang-orang yang berhak (menerima zakat) dan karena rasa risih sebab berulangnya meminta-minta.” (Al-Furu’: 4/310).

Orang kaya yang diwajibkan membayar zakat adalah orang yang jumlah kekayaannya sudah sampai nishab zakat (seperti 20 dinar atau 200 dirham atau 40 ekor kambing dll).

Rasulullah r berpesan kepada Mu’adz bin Jabal t:

فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

“Jika mereka menaatimu dalam urusan shalat, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka untuk dikembalikan kepada orang-orang faqir mereka.” (HR. Al-Bukhari: 1308, Muslim: 27, At-Tirmidzi: 567, An-Nasa’i: 2392, Abu Dawud: 1351 dan Ibnu Majah: 1773 dari Ibnu Abbas y).

Dari Ali bin Abi Thalib t bahwa Rasulullah r bersabda:

فَإِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ يَعْنِي فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ

“Jika kamu mempunyai uang 200 dirham dan mengendap 1 tahun maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 5 dirham. Dan tidak wajib atasmu mengeluarkan zakat emas sehingga uangmu mencapai 20 dinar dan mengendap 1 tahun, maka keluarkan zakatnya sebesar ½ dinar.” (HR. Abu Dawud: 1342 dan Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 7783 (4/137). Hadits ini di-hasan-kan oleh Az-Zaila’i dalam Nashbur Rayah: 2/328 dan isnadnya di-jayyid-kan oleh Al-Allamah Zakariya Al-Anshari dalam Asnal Mathalib Syarh Raudlatuth Thalib: 5/73).

Adapun orang kaya yang dilarang meminta-minta atau menerima zakat, maka terdapat beberapa nishab yang diterangkan oleh syariat.

Dari Sahl bin Al-Hanzhaliah t bahwa Rasulullah r bersabda:

مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْغِنَى الَّذِي لَا تَنْبَغِي مَعَهُ الْمَسْأَلَةُ قَالَ قَدْرُ مَا يُغَدِّيهِ وَيُعَشِّيهِ

“Barangsiapa meminta-minta, padahal ia masih mempunyai kekayaan yang mencukupinya, maka ia hanyalah memperbanyak api neraka.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah! Berapakah kekayaan yang mencukupi dari meminta-minta?” Beliau menjawab: “Sekedar uang (atau makanan) untuk sarapan pagi dan makan sore baginya.” (HR. Abu Dawud: 1388 dan Ahmad: 16967. Di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 1441).

Dari Abu Sa’id Al-Khudri t bahwa Rasulullah r bersabda:

مَنْ سَأَلَ وَلَهُ قِيمَةُ أُوقِيَّةٍ فَقَدْ أَلْحَفَ

“Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia masih mempunyai harta seharga 1 uqiyyah, maka ia telah meminta-minta dengan memaksa.” (HR. Abu Dawud: 1387, An-Nasa’i: 2548 dan Ahmad: 10622. Di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 6027).

Dalam riwayat Abu Dawud:

زَادَ هِشَامٌ فِي حَدِيثِهِ وَكَانَتْ الْأُوقِيَّةُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا

“Hisyam (bin Ammar) menambahkan dalam haditsnya: “1 uqiyyah di masa Rasulullah r adalah 40 dirham.” (HR. Abu Dawud: 1387).

Mana di antara ukuran nishab di atas yang bisa dipakai?

Al-Imam Al-Baghawi berkata:

وذهب الأكثرون إلى أن حده أن يكون عنده ما يكفيه وعياله، وهو قول مالك والشافعي، قال الشافعي: وقد يكون الرجل غنيا بالدرهم مع كسب، ولا يكون غنيا بألف لضعفه في نفسه، وكثرة عياله،

“Kebanyakan ulama berpendapat bahwa batasan kaya (yang diharamkan meminta-minta) adalah jika ia memiliki harta yang mencukupi dirinya dan keluarga yang ditanggungnya. Ini adalah pendapat Malik dan Asy-Syafi’i. Asy-Syafi’i berkata: “Kadang-kadang seseorang menjadi kaya dengan uang 1 dirham dengan usaha yang ia miliki. Dan kadang-kadang seseorang belum dianggap kaya dengan uang 1000 dirham, karena ia tidak mempunyai usaha dan memiliki banyak tanggungan.” (Syarhus Sunnah: 6/86).

Dan untuk perlu diketahui bahwa pada tanggal 01 Oktober 2011 (3 Dzulqa’dah 1432 H), 1 dinar (mata uang emas) setara dengan Rp. 2.177.000,-. Sedangkan 1 dirham (mata uang perak) setara dengan Rp. 53.000,-.

Sehingga nishab orang kaya yang diharamkan meminta-minta atau menerima zakat adalah 40 dirham yang setara dengan Rp. 2.120.000,-. Dan nishab orang kaya yang wajib zakat adalah 200 dirham (Rp. 10.600.000,-) atau 20 dinar (Rp. 43.540.000,-).

Motivasi Kaya dari Rasulullah r

Seorang muslim diperbolehkan bercita-cita menjadi orang kaya dengan niat untuk memperkuat agamanya.

Rasulullah r bersabda:

لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنْ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنْ اتَّقَى خَيْرٌ مِنْ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنْ النَّعِيمِ

“Tidak ada masalah dengan kekayaan bagi orang yang bertaqwa. Kesehatan itu lebih baik daripada kekayaan bagi orang yang bertaqwa. Dan jiwa yang bagus merupakan kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah: 2132, Ahmad: 22076 dari Ubaid bin Mu’adz t, di-shahih-kan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak: 2131 (2/3) dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 174).

Rasulullah r juga pernah berkata kepada Amr bin Al-Ash t:

يَا عَمْرُو نَعِمَّا بِالْمَالِ الصَّالِحِ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ

“Wahai Amr! Alangkah beruntungnya jika harta yang baik dipunyai oleh orang yang shalih.” (HR. Ahmad: 17134, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 22627 (7/18) dan di-shahih-kan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya: 2130 (2/3) dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Dan di-shahih-kan pula oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Takhrij Al-Misykat: 3756 (2/355)).

Dan orang yang paling beruntung adalah orang bisa mengumpulkan ilmu dan kekayaan. Rasulullah r bersabda:

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ…الخ

“Dunia hanyalah untuk 4 kelompok orang; yaitu seorang hamba yang diberikan rejeki harta dan ilmu oleh Allah kemudian ia menggunakannya untuk bertaqwa kepada Rabbnya, menyambung sanak saudaranya dan ia mengetahui hak-hak Allah yang harus ditunaikan dari harta itu. Orang ini berada pada kedudukan yang paling tinggi; dan seorang hamba…..dst.” (Ahmad: 17339, At-Tirmidzi: 2247 dan di-shahih-kan olehnya dari Abu Kabsyah Al-Anmari t. Hadits ini di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 3024).

Dan Rasulullah r berpesan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash t:

إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ

“Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, maka itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dengan meminta-minta belas kasihan manusia.” (HR. Al-Bukhari: 1213, Muslim: 3076, At-Tirmidzi: 2042, Ibnu Majah: 2699).

Do’a agar Menjadi Kaya

Di antara do’a-do’a agar menjadi kaya adalah hadits Abu Hurairah t, ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْفَقْرِ وَالْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ

“Bahwa Nabi e berdo’a: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefaqiran, sedikit harta benda, dan kehinaan, dan aku berlindung kepada-Mu daripada menzhalimi orang lain atau dizhalimi.” (HR. Abu Dawud: 1320, An-Nasa’i: 5365, Ahmad: 7708 dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 1287).

Al-Allamah Abdur Ra’uf Al-Munawi berkata:

“Makna (sedikit harta) dengan kasrahnya huruf qaf, yaitu sedikitnya harta yang ditakutkan dapat menyebabkan terjadinya sedikit rasa sabar atas kekurangan dan penguasaan syetan dengan mengingatkan akan kenikmatan orang kaya atau sedikitnya jumlah dan bilangan harta.” (At-Taisir bi Syarhil Jami’ish Shaghir: 1/449).

Dari Abdullah bin Mas’ud t bahwa Rasulullah e berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah (menjaga diri dari perkara haram), dan kekayaan.” (HR. Muslim: 4898, At-Tirmidzi: 3411 dan Ibnu Majah: 3822).

Motivasi Kaya dari Abu Bakar Ash-Shiddiq t

Beliau adalah  pengganti Rasulullah r di dalam kepemimpinan umat dan orang kedua setelah Rasulullah r dalam keutamaan. Beliau juga adalah pedagang yang paling mahir di kalangan kaum Quraisy.

Aisyah Ummul Mukminin t berkata:

كَانَ أَبُو بَكْرٍ أَتْجَرَ قُرَيْشٍ

“Abu Bakar adalah orang Quraisy yang paling ahli berdagang.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 22621 (7/16) dari Waki’ bin Jarrah dari Muhammad bin Syarik dari Abdullah bin Abi Mulaikah dari Aisyah. Mereka semua adalah orang-orang tsiqat).

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq t berkata:

دينك لمعادك و درهمك لمعاشك و لا خير في أمر بلا درهم

“Agamamu adalah untuk akhiratmu dan uang dirhammu adalah untuk penghidupanmu. Dan tidak ada kebaikan di dalam suatu perkara tanpa uang dirham.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1254 (2/93) dan Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan: 1648 (8/441)).

Motivasi Kaya dari Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab

Beliau adalah  pengganti Abu Bakar t di dalam kepemimpinan umat dan orang kedua setelah Abu Bakar t  dalam keutamaan. Beliau juga adalah pedagang yang dermawan.

Al-Harits bin Rabi’ Al-Adawi berkata:

سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ: كُتِبَتْ عَلَيْكُمْ ثَلاَثَةُ أَسْفَارٍ: الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ وَالْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَالرَّجُلُ يَسْعَى بِمَالِهِ فِي وَجْهٍ مِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ، أَبْتَغِي بِمَالِي مِنْ فَضْلِ اللهِ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ أَنْ أَمُوتَ عَلَى فِرَاشِي، وَلَوْ قُلْتُ: إنَّهَا شَهَادَةٌ، لَرَأَيْت أَنَّهَا شَهَادَةٌ

“Aku telah mendengar Umar Ibnul Khaththab berkata: “Diwajibkan 3 safar (bepergian) atas kalian: (pertama adalah) haji dan umrah, (kedua adalah) jihad dan (ketiga adalah) seseorang (yang bepergian) untuk mencari harta dalam rangka melaksanakan salah satu dari ketiga di atas (haji, umrah dan jihad, pen). Dan jika aku mati dalam keadaan mencari keutamaan rejeki dari Allah, maka itu lebih aku sukai daripada aku mati di atas tempat tidurku. Dan  andaikan aku katakan bahwa mati dalam safar tersebut adalah mati syahid maka menurutku itu merupakan mati syahid.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 22626 (7/17) dari Waki’ bin Al-Jarrah dari Abu Na’amah Amr bin Isa dari Al-Harits bin Rabi’, dan juga diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash-Shina’ah: 61 (62). Para perawi Ibnu Abi Syaibah adalah orang-orang tsiqat).

Umar bin Al-Khaththab t juga pernah berkata:

ما جاءني أجلي في مكان ما عدا في سبيل الله عز و جل أحب إلي من أن يأتيني و أنا بين شعبتي رحلي أطلب من فضل الله

“Tidaklah kedatangan ajalku di suatu tempat selain medan perang di jalan Allah U, lebih aku cintai daripada kedatangan ajalku ketika aku sedang di antara kedua kaki untaku (bermusafir, pen) untuk mencari keutamaan Allah (dari berdagang, pen).” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1256 (2/93). Dan juga diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannafnya: 21018 (11/464) dari Ma’mar bin Rasyid dari Az-Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin Umar. Sedangkan Ubaidullah belum pernah bertemu dengan kakeknya).

Qurrah bin Khalid berkata:

سألنا الحسن: أوصى عمر بن الخطاب بثلث ماله أربعين ألفا؟ قال: لا والله لماله كان أيسر من أن يكون ثلثه أربعين ألفا، ولكنه لعله أوصى بأربعين ألفا فأجازوها.

“Kami bertanya kepada Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri: “Benarkah Umar Ibnul Khaththab mewasiatkan 1/3 hartanya sebanyak 40.000 (dinar atau dirham)?” Beliau menjawab: “Tidak, demi Allah. Sungguh, 1/3 hartanya lebih banyak daripada 40.000. Tetapi mungkin beliau mewasiatkan 40.000 kemudian dilaksanakan oleh mereka (ahli waris beliau, pen).” (Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih: 679 (2/31)).

Motivasi Kaya dari Utsman bin Affan t

Beliau adalah khalifah ketiga setelah Umar Ibnul Khaththab t. Beliau juga seorang saudagar yang dermawan.

Amirul Mukminin Utsman bin Affan t berkata kepada para Khawarij yang mengepung rumah beliau:

أَنْشُدُكُمْ بِاللَّهِ وَالْإِسْلَامِ هَلْ تَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ يُسْتَعْذَبُ غَيْرَ بِئْرِ رُومَةَ فَقَالَ مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ فَيَجْعَلَ دَلْوَهُ مَعَ دِلَاءِ الْمُسْلِمِينَ بِخَيْرٍ لَهُ مِنْهَا فِي الْجَنَّةِ فَاشْتَرَيْتُهَا مِنْ صُلْبِ مَالِي فَأَنْتُمْ الْيَوْمَ تَمْنَعُونِي أَنْ أَشْرَبَ حَتَّى أَشْرَبَ مِنْ مَاءِ الْبَحْرِ

“Aku sumpah kalian dengan nama Allah dan Islam! Tahukah kalian bahwa Rasulullah r tiba di Madinah dan di Madinah tidak ada sumur yang berair tawar selain sumur Rumah. Beliau bersabda: “Siapa yang mau membeli sumur Rumah kemudian ia menjadikan timbanya bersama timba kaum muslimin (ia wakafkan, pen) dengan baik maka ia akan mendapat bagiannya di surga?” Maka aku (Utsman) membelinya dengan uangku sendiri dan kalian (Khawarij) hari ini menghalangiku untuk meminum airnya sehingga aku minum air laut.” (HR. At-Tirmidzi: 3636 dan di-hasan-kan olehnya, An-Nasa’i: 3551, Ahmad: 524 dan di-hasan-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: 2921).

Ibrahim Al-Harbi berkata:

واشترى بئر رومة بعشرين ألف درهم

“Utsman membeli sumur Rumah seharga 20.000 dirham.” (Tarikh Damsyiq: 39/20, Tahdzibul Asma’ wal Lughat: 454).

Abdurrahman bin Samurah t berkata:

جاء عثمان بن عفان رضي الله عنه إلى النبي صلى الله عليه وسلم في غزوة تبوك، وفي كمه ألف دينار، فصبها في حجر النبي صلى الله عليه وسلم ثم ولى قال عبد الرحمن: فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم يقلبها بيده في حجره ويقول: « ما ضر عثمان ما فعل بعدها أبدا»

“Ketika perang Tabuk, Utsman bin Affan t datang kepada Nabi r. Di lengan bajunya terdapat uang 1.000 dinar. Kemudian ia menuangkannya di pangkuan Nabi r dan berpaling (pulang).” Abdurrahman berkata: “Maka aku melihat Rasulullah r menerima uang tersebut di pangkuan beliau dengan tangan beliau sendiri dan berkata: “Tidak akan berbahaya apa yang dilakukan oleh Utsman setelah ini.” (HR. Al-Ajurri dalam Asy-Syariah: 1371 (4/55) dan ini adalah redaksinya, At-Tirmidzi: 3634 dan ia berkata: “Hadits hasan gharib.” Di-shahih-kan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya: 4553 (3/110) dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Ubaidullah bin Utbah berkata:

كان لعثمان عند خازنه يوم قتل، ثلاثون ألف ألف درهم وخمسمائة ألف درهم، ومائة ألف دينار ، فانتهبت وذهبت، وترك ألف بعير بالربذة، وترك صدقات كان تصدق بها، بئر أريس، وخيبر، ووادي القرى، فيه مائتا ألف دينار.

“Ketika terbunuh, Utsman masih mempunyai harta yang disimpan penjaga gudangnya, yaitu: uang 30.500.000 dirham, uang 100.000 dinar. Kemudian uang tersebut dirampas (oleh para khawarij, pen) dan hilang. Beliau juga meninggalkan 1.000 unta di Rabadzh. Beliau juga meninggalkan beberapa shadaqah yang mana beliau bersedekah dengannya; sumur Aris, Khaibar, Wadil Qura yang di dalamnya terdapat uang 200.000 dinar.” (Al-Bidayah wan Nihayah: 7/214).

Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain berkata:

ما قتل ابن عفان حتى بلغت غلة نخله علي مائة ألف

“Tidaklah Utsman bin Affan terbunuh kecuali hasil panen kebun kurmanya sudah sampai 100.000 (dinar).” (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash Shina’ah: 47 (48) dan Yahya bin Adam dalam Al-Kharaj: 255 (233)).

Motivasi Kaya dari Thalhah bin Ubaidillah t

Beliau adalah seorang shahabat Nabi r yang kaya dan dermawan selain berilmu dan menjadi 10 shahabat yang dijamin masuk surga. Beliau adalah contoh seorang manager yang berhasil mengelola kekayaannya untuk jalan Allah.

Amr bin Dinar berkata:

أخبرني مولى لطلحة قال: كانت غلة طلحة كل يوم ألف واف

“Telah menceritakan kepadaku Maula Thalhah bahwa penghasilan Thalhah tiap hari adalah 1000 (dinar) tepat.” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/33).

Ibrahim At-Taimi berkata:

كان طلحة يغل بالعراق أربع مائة ألف، ويغل بالسراة عشرة آلاف دينار أو  أقل أو  أكثر،  وبالاعراض  له غلات وكان لا يدع أحدا من بني تيم عائلا إلا كفاه، وقضى دينه، ولقد كان يرسل إلى عائشة  إذا جاءت غلته  كل سنة بعشرة آلاف، ولقد قضى عن فلان  التيمي ثلاثين ألفا

“Adalah Thalhah mendapatkan penghasilan di Iraq 400.000 (dinar), mendapatkan penghasilan di Sarah 10.000 dinar atau kurang atau lebih, di A’radl juga mendapatkan penghasilan. Dan beliau tidaklah meninggalkan orang miskin dari Bani Taim pun kecuali beliau telah mencukupinya dan membayarkan hutangnya. Dan beliau –ketika penghasilannya datang- mengirimkan setiap tahun 10.000 (dinar) untuk Ibunda Aisyah. Dan beliau telah membayarkan hutang Fulan At-Taimi 30.000 (dinar).” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/33).

Musa bin Thalhah berkata:

ترك ألفي ألف درهم ومئتي ألف درهم، ومن الذهب مئتي ألف دينار،

“Beliau meninggal dunia dengan meninggalkan 2.200.000 dirham dan uang emas sebanyak 200.000 dinar.” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/33).

Lihatlah! Beliau tidaklah mengumpulkan kekayaan untuk diri-sendiri tetapi untuk menyantuni orang-orang faqir miskin.

Motivasi Kaya dari Abdurrahman bin Auf t

Beliau adalah seorang shahabat Nabi r yang kaya dan dermawan selain berilmu dan menjadi 10 shahabat yang dijamin masuk surga. Beliau adalah contoh seorang manager yang berhasil mengelola kekayaannya untuk jalan Allah.

Beliau memulai hidup di Madinah dalam keadaan faqir dan mencari kekayaan dari nol. Beliau juga tidak mau menjadi beban kaum muslimin yang lainnya.

Al-Imam Adz-Dzahabi berkata:

ولما هاجر إلى المدينة كان فقيرا لا شئ له،

“Ketika berhijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf menjadi orang faqir yang tidak mempunyai apa-apa.” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/91).

Anas bin Malik t berkata:

قَدِمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فَآخَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ الْأَنْصَارِيِّ وَعِنْدَ الْأَنْصَارِيِّ امْرَأَتَانِ فَعَرَضَ عَلَيْهِ أَنْ يُنَاصِفَهُ أَهْلَهُ وَمَالَهُ فَقَالَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ فَأَتَى السُّوقَ فَرَبِحَ شَيْئًا مِنْ أَقِطٍ وَشَيْئًا مِنْ سَمْنٍ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَيَّامٍ وَعَلَيْهِ وَضَرٌ مِنْ صُفْرَةٍ فَقَالَ مَهْيَمْ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ فَقَالَ تَزَوَّجْتُ أَنْصَارِيَّةً قَالَ فَمَا سُقْتَ إِلَيْهَا قَالَ وَزْنَ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ قَالَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

“Abdurrahman bin Auf tiba di Madinah dan dipersaudarakan oleh Rasulullah r dengan Sa’id bin Rabi’ Al-Anshari. Sa’id memiliki 2 istri dan menawarkan kepada Abdurrahman untuk membagi 2 harta dan istrinya. Abdurrahman berkata: “Semoga Allah memberikan barakah kepadamu pada istri dan hartamu. Tunjukkan aku kepada pasar!” Kemudian Abdurrahman berangkat ke pasar (dan berdagang). Kemudian ia mendapatkan laba berupa sedikit aqith (sejenis bubur) dan minyak samin. Beberapa hari kemudian Rasulullah r melihat padanya bekas minyak wangi berwarna kuning (yang digunakan pada hari pernikahan, pen). Beliau berkata: “Bagaimana kabarmu, Wahai Abdurrahman?” Maka Abdurrahman menjawab: “Aku telah menikah dengan seorang wanita Anshar.” Beliau bertanya: “Berapa mahar yang kamu berikan untuknya?” Abdurrahman menjawab: “Emas seberat koin 5 dirham.” Maka beliau berkata: “Adakan walimah meskipun dengan seekor kambing.” (HR. Al-Bukhari: 3644, At-Tirmidzi: 1856).

Al-Imam Az-Zuhri berkata:

تصدق عبد الرحمن بن عوف على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم بشطر ماله ثم تصدق بعد بأربعين ألف دينار ثم حمل على خمسمائة فرس في سبيل الله وخمسمائة راحلة وكان أكثر ماله من التجارة

“Abdurrahman bin Auf mengeluarkan shadaqah pada masa Rasulullah r dari setengah hartanya, kemudian beliau mengeluarkan shadaqah 40.000 dinar setelahnya, kemudian beliau mengeluarkan shadaqah 500 ekor kuda dan 500 ekor unta di jalan Allah. Dan kebanyakan hartanya berasal dari perdagangan.” (Al-Ishabah fi Tamyizish Shahabah: 4/347).

Ummu Bakar bintu Miswar berkata:

ان عبد الرحمن باع أرضا له من عثمان بأربعين ألف دينار، فقسمه في فقراء بني زهرة، وفي المهاجرين، وأمهات المؤمنين.

“Bahwa Abdurrahman bin Auf membeli sebidang tanah dari Utsman seharga 40.000 dinar. Kemudian  beliau membagi-bagikan tanah tersebut untuk orang-orang faqir dari Bani Zuhrah, kaum Muhajirin, dan istri-istri Rasulullah r.” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/86).

Dari Abu Salmah bin Abdurrahman bin Auf bahwa Aisyah Ummul Mukminin t berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ إِنَّ أَمْرَكُنَّ مِمَّا يُهِمُّنِي بَعْدِي وَلَنْ يَصْبِرَ عَلَيْكُنَّ إِلَّا الصَّابِرُونَ قَالَ ثُمَّ تَقُولُ عَائِشَةُ فَسَقَى اللَّهُ أَبَاكَ مِنْ سَلْسَبِيلِ الْجَنَّةِ تُرِيدُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ وَكَانَ قَدْ وَصَلَ أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَالٍ يُقَالُ بِيعَتْ بِأَرْبَعِينَ أَلْفًا

“Sesungguhnya Rasulullah r bersabda: “Sesungguhnya urusan kalian (istri-istri Nabi) termasuk menjadi perhatianku setelahku. Dan tidak akan bersabar mengurusi kalian kecuali orang-orang yang bersabar.” Kemudian Aisyah berkata: “Semoga Allah memberikan minuman untuk ayahmu dari mata air Salsabil di surga, yakni Abdurrahman bin Auf. Ia telah menyambung (baca: menyantuni, pen) istri-istri Nabi r dengan harta yang dapat dijual senilai 40.000 dinar.” (HR. At-Tirmidzi: 3682 dan di-shahih-kan olehnya dan di-hasan-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: 2948).

Thalhah bin Abdirrahman bin Auf berkata:

كان أهل المدينة عيالا على عبد الرحمن بن عوف: ثلث يقرضهم ماله، وثلث يقضي دينهم، ويصل ثلثا.

“Adalah penduduk Madinah menjadi tanggungan atas Abdurrahman bin Auf; sepertiga dari mereka diberi pinjaman oleh Abdurrahman dari hartanya, sepertiga dari mereka dibayarkan hutang mereka olehnya dan sepertiganya disambung olehnya.” (Siyar A’lamin Nubala’:  1/88).

Al-Imam Az-Zuhri berkata:

أوصى عبد الرحمن بن عوف لكل من شهد بدرا بأربعمائة دينار فكانوا مائة رجل

“Abdurrahman bin Auf pernah berwasiat untuk (untuk membagikan dari hartanya sepeninggalnya, pen) kepada setiap orang yang ikut perang Badar dengan 400 dinar. Mereka berjumlah 100 orang.” (Al-Ishabah fi Tamyizish Shahabah: 4/349).

Dari Ayyub (As-Sakhtiyani) dari Muhammad (bin Sirin):

أن عبد الرحمن بن عوف توفي وكان فيما ترك ذهب قطع بالفؤوس حتى مجلت أيدي الرجال منه وترك أربع نسوة فأخرجت امرأة من ثمنها بثلاثين ألفا

“Bahwa Abdurrahman bin Auf wafat. Di antara harta yang ditinggalkannya adalah emas yang dipotong-potong dengan kapak yang menyebabkan tangan-tangan orang yang memotongnya bengkak karenanya. Beliau meninggalkan 4 istri. Seorang istri mendapatkan dari 1/8 warisan sebesar 30.000 (dinar).” (Shifatush Shafwah: 1/355, Usudul Ghabah: 1/711).

Lihatlah! Beliau  tidaklah mengumpulkan kekayaan untuk diri-sendiri tetapi untuk menyantuni orang-orang faqir miskin, berjihad di jalan Allah, menghidupi istri-istri Nabi r dan menyambung silaturahim.

Motivasi Kaya dari Az-Zubair bin Al-Awwam t

Al-Hafizh Abu Umar Ibnu Abdil Barr berkata:

كان الزبير تاجراً مجدوداً في التجارة، فقيل: بما أدركت في التجارة؟ قال: لأني لم أشتر معيبا، ولم أرد ربحا والله يبارك لمن يشاء.

“Adalah Az-Zubair seorang pedagang yang sukses (dermawan) dalam perniagaannya. Ditanyakan kepadanya: “Dengan sebab apa kamu mendapati (kesuksesan) dalam perdagangan?” Ia menjawab: “Karena aku tidak pernah membeli (menjual) barang yang cacat. Aku tidak menolak keuntungan. Dan Allahlah yang memberikan barakah kepada orang yang dikehendaki oleh-Nya.” (Ar-Riyadlun Nadlrah fii Manaqibil Asyrah: 310, Al-Isti’ab: 152).

Ummu Durrah berkata:

بعث الزبير إلى عائشة بغرارتين تبلغ ثمانين ومائة ألف درهم.

“Az-Zubair pernah mengirimkan 2 karung untuk Aisyah (Ummul Mukminin) yang mencapai 180.000 dirham.” (Ar-Riyadlun Nadlrah fii Manaqibil Asyrah: 310).

Motivasi Kaya dari Sa’ad bin Abi Waqqash t

Beliau termasuk 10 shahabat yang dijamin masuk surga. Beliau termasuk sahabat Nabi r yang menjauhi fitnah semenjak terbunuhnya Utsman t. Beliau juga tidak mengikuti pertempuran Jamal dan juga Shiffin. Untuk menghindari fitnah tersebut, beliau menyibukkan diri dengan berternak unta dan kambing.

Amir putra Sa’ad bin Abi Waqqash berkata:

كَانَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ فِي إِبِلِهِ فَجَاءَهُ ابْنُهُ عُمَرُ فَلَمَّا رَآهُ سَعْدٌ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الرَّاكِبِ فَنَزَلَ فَقَالَ لَهُ أَنَزَلْتَ فِي إِبِلِكَ وَغَنَمِكَ وَتَرَكْتَ النَّاسَ يَتَنَازَعُونَ الْمُلْكَ بَيْنَهُمْ فَضَرَبَ سَعْدٌ فِي صَدْرِهِ فَقَالَ اسْكُتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ

“Adalah Sa’ad bin Abi Waqqash sedang sibuk mengurusi untanya. Kemudian Umar, salah satu putranya mendatanginya. Ketika Sa’ad melihatnya maka ia berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari kejelekan penunggang ini.” Kemudian ia turun dan berkata kepadanya: “Engkau (wahai Sa’ad) sibuk mengurusi untamu dan kambingmu dan engkau tinggalkan manusia berselisih tentang kekuasaan di antara mereka?” Maka Sa’ad memukul dadanya dan berkata: “Diamlah (wahai Anakku)! Aku telah mendengar Rasulullah r bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang kaya dan yang menyendiri.” (HR. Muslim: 5266, Ahmad: 1364).

Aisyah bintu Sa’ad bin Abi Waqqash berkata:

أرسل أبي إلى مروان بزكاته خمسة آلاف، وترك يوم مات مائتي ألف وخمسين ألف درهم

“Ayahku mengirimkan zakat mal-nya kepada Khalifah Marwan sebesar 5.000 dirham. Dan beliau ketika wafat meninggalkan harta sebesar 250.000 dirham.” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/123).

Motivasi Kaya dari Qais bin Ashim t

Beliau adalah Qais bin Ashim bin Sinan At-Tamimi t, salah seorang sahabat Nabi r. Beliau datang kepada Rasulullah r bersama utusan Bani Tamim pada tahun 9 H. (Al-Isti’ab: 400).

Di antara wasiat beliau kepada anak-anak beliau adalah:

وعَليْكُم بالمَال واصطِنَاعِه فَإنَّهُ مَنبَهَةٌ للكَرِيم ويُستَغنَى بِه عَن اللئِيم ، وإِياكُم ومَسأَلة النَّاس فَإنَّها مِن آخر كَسبِ الرَّجُل

“Wajib bagi kalian untuk memiliki harta dan mata pencahariannya! Karena ia (harta dan mata pencahariannya) adalah kemuliaan bagi orang yang mulia dan bisa melindungi diri dari orang-orang yang curang. Hindarilah meminta-minta manusia! Karena ia adalah pekerjaan terakhir seseorang.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad: 381 (132) dan isnadnya di-hasan-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad: 277).

Motivasi Kaya dari Abdullah bin Umar bin Al-Khathathab y

Al-Imam Abdullah bin Umar y berkata:

مَا أُبَالِي لَوْ كَانَ لِي أُحُدٌ ذَهَبًا أَعْلَمُ عَدَدَهُ وَأُزَكِّيهِ وَأَعْمَلُ فِيهِ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Aku tidak peduli, seandainya aku mempunyai segunung Uhud emas yang mana aku mengetahui jumlahnya dan aku mengeluarkan zakatnya dan aku menggunakannya untuk menaati Allah U.” (Atsar riwayat Ibnu Majah: 1777, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 7021 (4/82) dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah: 1446).

Al-Imam Nafi’ berkata:

ان ابنا لعمر باع ميراثه من ابن عمر بمائة ألف درهم

“Bahwa salah seorang putra Umar menjual harta warisnya kepada Ibnu Umar seharga 100.000 dirham.” (Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih: 677 (2/30)).

Motivasi Kaya dari Abdullah bin Mas’ud t

Al-Imam Abdullah bin Mas’ud berkata:

والله الذي لا اله غيره ما يضر عبدا يصبح على الاسلام ويمسى عليه ما أصابه من الدنيا

“Demi Allah yang mana tiada ilah yang berhak disembah dengan haq selain-Nya, tidak akan membahayakan seorang hamba yang telah berada di atas Al-Islam di waktu pagi dan sore, seberapa pun harta dunia yang ia peroleh.” (Atsar riwayat Ahmad dalam Az-Zuhd: 159, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 35676 (13/291) dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1257 (2/94)).

Al-Imam Zurr bin Hubaisy Al-Kufi (ulama tabi’in) berkata:

مات عبد الله بن مسعود وترك سبعين ألف درهم

“Abdullah bin Mas’ud t meninggal dunia dan meninggalkan uang 70.000 dirham (uang perak).” (Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih: 679 (2/31)).

Motivasi Kaya dari Hakim bin Hizam bin Khuwailid t

Beliau adalah sahabat Nabi r yang masuk Islam ketika tahun Fathu Makkah dan islamnya menjadi baik. (Siyar A’lamin Nubala’: 3/44).

Hakim bin Hizam t berkata:

كنت تاجرا أخرج إلى اليمن وآتي الشام، فكنت أربح أرباحا كثيرة، فأعود على فقراء قومي. وابتعت بسوق عكاظ زيد بن حارثة لعمتي بست مائة درهم، فلما تزوج بها رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهبته زيدا، فأعتقه.

“Aku adalah pedagang yang keluar ke Yaman dan datang ke Syam. Dan aku mendapatkan laba yang banyak. Kemudian aku menjenguk orang-orang fakir dari kalangan kaumku. Dan aku membelikan untuk bibiku (Khadijah bintu Khuwailid t) di pasar Ukkazh seorang budak yaitu Zaid bin Haritsah. Ketika bibiku dinikahi oleh Rasulullah r maka aku hibahkan Zaid kepada beliau, kemudian beliau memerdekakannya.” (Siyar A’lamin Nubala’: 3/47).

Dan Hakim bin Hizam t adalah seorang pedagang yang dermawan baik ketika masih kafir maupun sesudah menjadi muslim.

Hakim bin Hizam bertanya kepada Rasulullah r:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ أُمُورًا كُنْتُ أَتَحَنَّثُ أَوْ أَتَحَنَّتُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صِلَةٍ وَعَتَاقَةٍ وَصَدَقَةٍ هَلْ لِي فِيهَا أَجْرٌ قَالَ حَكِيمٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ لَكَ مِنْ خَيْرٍ

“Wahai Rasulullah! Bagaimana menurutmu, perbuatanku yang aku lakukan ketika masih jahiliyyah dengan niat ibadah yang berupa shadaqah, memerdekakan budak, silaturrahim, apakah ada pahala untukku di dalamnya?”  Rasulullah r menjawab: “Kamu masuk Islam dengan membawa (pahala) kebaikan yang telah kamu lakukan pada masa lampau (jahiliyyah).” (HR. Al-Bukhari: 1346, Muslim: 175 dan Ahmad: 14779).

Urwah bin Az-Zubair berkata:

أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَعْتَقَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِائَةَ رَقَبَةٍ وَحَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ فَلَمَّا أَسْلَمَ حَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ وَأَعْتَقَ مِائَةَ رَقَبَة

“Bahwa ketika masih jahiliyyah Hakim bin Hizam t telah memerdekakan 100 budak dan menyedekahkan 100 unta. Ketika setelah masuk Islam, ia masih menyedekahkan 100 unta dan memerdekakan 100 budak.” (HR. Al-Bukhari: 2353, Muslim: 177).

Abu Hazim berkata:

ما بلغنا أنه كان بالمدينة أكثر حملا في سبيل الله من حكيم.

“Menurut berita yang sampai kepada kami, tidak ada seseorang yang paling banyak shadaqahnya untuk jalan Allah selain Hakim bin Hizam.” (Siyar A’lamin Nubala’: 3/50).

Said dan Urwah berkata: “Adalah Hakim bin Hizam t tidak mau menerima pemberian uang dari siapa pun sampai ia meninggal. Bahkan Umar t berkata -ketika Hakim bin Hizam menolak pemberian jatah uang dari baitul mal-:

اللهم إني أشهدك على حكيم أني أدعوه لحقه وهو يأبى.

“Ya Allah! Aku jadikan Engkau saksi atas Hakim (bin Hizam). Sesungguhnya aku telah menyerunya agar menerima haknya tetapi ia menolaknya.”

Said dan Urwah berkata:

فمات حين مات، وإنه لمن أكثر قريش مالا.

“Maka Hakim wafat di hari wafatnya dalam keadaan ia menjadi orang Quraisy yang paling banyak hartanya.” (Siyar A’lamin Nubala’: 3/48).

Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr berkata:

وكان عاقلا سريا فاضلا تقيا سيدا بماله غنيا

“Adalah Hakim bin Hizam seorang yang berakal, dermawan, mulia, bertakwa, menjadi manajer atas hartanya dan kaya.” (Al-Isti’ab: 107).

Motivasi Kaya dari Al-Imam Sa’id bin Al-Musayyib

Al-Imam Sa’id bin Al-Musayyib (ulama tabi’in) berkata:

لا خير فيمن لا يجمع المال، فيكف به وجهه، ويؤدي به أمانته، ويصل به رحمه.

“Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mengumpulkan harta, kemudian ia menahan wajahnya dengan harta itu (dari perkara haram dan syubhat, pen), ia juga menunaikan amanatnya dengan harta itu dan ia juga bisa menyambung sanak saudaranya dengan harta itu.” (Atsar riwayat Abu Bakar Ad-Dainuri dalam Al-Mujalasah: 2211 (5/336), Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash-Shina’ah: 51 (52) dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah: 14/291).

Yahya bin Sa’id Al-Anshari berkata:

عن سعيد بن المسيب، أنه ترك أربعمائة دينار. وقال: إني والله ما تركتها إلا لأصون بها عرضي أو وجهي

“Dari Al-Imam Sa’id bin Al-Musayyib, bahwa ketika mendekati ajal, beliau meninggalkan uang 400 dinar (mata uang emas) dan berkata: “Demi Allah, sesungguhnya saya tidaklah meninggalkan harta itu kecuali hanya untuk menjaga kehormatanku atau wajahku.” (Atsar riwayat Abu Bakar Ad-Dainuri dalam Al-Mujalasah: 2211 (5/336), Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash-Shina’ah: 51 (52) dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah: 14/291).

Motivasi Kaya dari Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri

Seseorang bertanya kepada Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri:

يا أبا سعيد أفتح مصحفي فاقرأه حتى أمسي قال الحسن :  اقرأه بالغداة و اقرأه بالعشي وكن سائر نهارك في منفعتك و ما يصلحك

“Wahai Aba Sa’id (Al-Hasan Al-Bashri)! Apakah aku harus membuka mush-hafku kemudian aku membacanya sampai sore?” Maka beliau menjawab: “Bacalah mush-hafmu pada waktu pagi dan bacalah pada waktu sore! Jadikan sepanjang siangmu untuk mencari manfaatmu (baca: rejeki, pen) dan untuk perkara yang memperbaikimu (dalam duniamu, pen)!” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1259 (2/94)).

Motivasi Kaya dari Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:

كان المال فيما مضى يكره، فأما اليوم، فهو ترس المؤمن، وقال: لولا هذه الدنانير لتمندل بنا هؤلاء الملوك.وقال: من كان في يده من هذه شيء، فليصلحه، فإنه زمان إن احتاج، كان أول من يبذل دينه، وقال: الحلال لا يحتمل السرف.

“Adalah harta pada masa lalu merupakan perkara yang dibenci. Adapun hari ini, maka ia merupakan perisai seorang mukmin.” Beliau berkata: “Seandainya tidak ada dinar-dinar ini (uang emas), maka para raja akan menjadikan kami seperti handuk (sapu tangan).” Beliau juga berkata: “Barangsiapa yang  memiliki sedikit perkara ini (dinar, pen), maka hendaknya ia memperbaiki cara mencarinya. Karena sekarang adalah jaman yang mana jika seseorang membutuhkan (harta) manusia, maka pertama kali yang ia serahkan adalah agamanya.” Beliau juga berkata: “Harta yang halal tidak untuk dihambur-hamburkan.” (Atsar riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’: 6/381 dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah: 14/291).

Al-Allamah Mulla Ali Al-Qari berkata: “Makna “menjadikan kami seperti handuk (sapu tangan)” adalah menjadikan kami sebagai obyek pembersih kotoran mereka dengan pemberian hadiah dan sadaqah dari para raja.” (Mirqatul Mafatih: 15/202).

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:

إذا أردت أن تتعبد فانظر فإن كان في البيت بر فتعبد و إلا فاطلب البر أولا ثم تعبد

“Jika kamu hendak beribadah maka lihatlah dulu! Jika di rumahmu terdapat gandum burr maka silakan beribadah! Jika tidak ada, maka carilah gandum burr dulu kemudian silakan beribadah.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1269 (2/96)).

Al-Imam Muhammad bin Tsaur berkata:

كان سفيان الثوري يمر بنا ونحن جلوس في المسجد الحرام، فيقول «ما يجلسكم؟» فنقول: فما نصنع؟ قال: « اطلبوا من فضل الله، ولا تكونوا عيالا على المسلمين»

“Adalah Sufyan Ats-Tsauri melewati kami yang sedang duduk-duduk di Masjidil Haram. Beliau berkata: “Untuk apa kalian duduk-duduk?” Maka kami bertanya: “(Kalau begitu) kami harus berbuat apa?” Maka beliau berkata: “Carilah dari rejeki Allah dan janganlah kalian menjadi beban bagi kaum muslimin.” (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash Shina’ah: 22 (23)).

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:

لان أخلف عشرة آلاف درهم، يحاسبني الله عليها أحب إلي من أن أحتاج إلى الناس.

“Jika aku mati meninggalkan uang 10.000 dirham yang akan dihisab oleh Allah atasnya, maka itu lebih aku sukai daripada aku membutuhkan manusia.” (Siyar A’lamin Nubala’: 7/241, Hilyatul Auliya’: 6/381).

Yusuf bin Asbath berkata:

مات سفيان الثوري وخلف مائتي دينار

“Sufyan Ats-Tsauri meninggal dunia dengan meninggalkan uang 200 dinar.” (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash-Shina’ah: 18 (19)).

Motivasi Kaya dari Al-Imam Sufyan bin Uyainah

Abul Hasan Az-Zahid berkata:

قال رجل لسفيان بن عيينة : يكون الرجل زاهدا وعنده مئة دينار؟ قال: « نعم » ، قال : وكيف ذلك ؟ قال: «إن نقصت لم يغتم، وإن زادت لم يفرح، ولا يكره الموت لفراقها»

“Seseorang bertanya kepada Sufyan bin Uyainah: “Apakah seseorang disebut zuhud padahal ia mempunyai uang 100 dinar?” Beliau menjawab: “Ya.” Ia bertanya: “Bagaimana bisa?” Beliau menjelaskan: “Jika uang tersebut berkurang maka ia tidak merasa sedih, jika bertambah maka ia tidak merasa senang dan ia tidak membenci kematian karena takut berpisah dengan uang itu.” (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash-Shina’ah: 19 (20)).

Motivasi Kaya dari Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak

Al-Abbas bin Mush’ab berkata:

جمع عبد الله الحديث، والفقه، والعربية، وأيام الناس، والشجاعة، والسخاء، والتجارة، والمحبة عند الفرق.

“Abdullah (bin Al-Mubarak) telah mengumpulkan Al-Hadits, ilmu fikih, bahasa Arab, hari-hari manusia (ilmu sejarah, pen), keberanian, sifat dermawan, perdagangan dan rasa cinta ketika berpisah.” (Siyar A’lamin Nubala’: 8/383).

Al-Imam Fudlail bin Iyadl bertanya kepada guru beliau yaitu Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak:

أنت تأمرنا بالزهد والتقلل، والبلغة، ونراك تأتي بالبضائع، كيف ذا ؟ قال: يا أبا علي، إنما أفعل ذا لاصون وجهي، وأكرم عرضي، وأستعين به على طاعة ربي.

“Engkau memerintahkan kami untuk berzuhud, mempersedikit harta dan bekal. Tetapi kami melihatmu datang dengan membawa banyak barang dagangan, bagaimana ini?” Abdullah bin Al-Mubarak berkata: “Wahai Abu Ali (Fudlail)! Saya melakukan seperti ini dalam rangka menjaga wajahku, memuliakan kehormatanku dan memperkuat diriku dengannya untuk menaati Rabbku.” (Siyar A’lamin Nubala’: 8/287).

Muhammad bin Ali bin Hasan bin Syaqiq berkata:

قال أبي وبلغنا أنه قال للفضيل بن عياض لولاك وأصحابك ما اتجرت قال أبي وكان ينفق على الفقراء في كل سنة مائة ألف درهم

“Ayahku berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa Abdullah bin Al-Mubarak berkata kepada Fudlail bin Iyadl: “Seandainya tidak ada kamu dan teman-temanmu (para penuntut ilmu, pen), niscaya saya tidak akan berdagang.” Ayahku juga berkata: “Adalah Abdullah bin Al-Mubarak ber-infaq kepada orang-orang faqir setiap tahun 100.000 dirham.” (Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal: 16/22, Siyar A’lamin Nubala’: 8/386).

Hibban bin Musa berkata:

عوتب ابن المبارك فيما يفرق من المال في البلدان دون بلده، قال: إني أعرف مكان قوم لهم فضل وصدق، طلبوا الحديث، فأحسنوا طلبه لحاجة الناس إليهم، احتاجوا، فإن تركناهم، ضاع علمهم، وإن أغناهم، بثوا العلم لامة محمد صلى الله عليه وسلم، لا أعلم بعد النبوة أفضل من بث العلم

“Ibnul Mubarak pernah dicela karena hartanya yang dibagi-bagikan olehnya di negeri-negeri lain selain negerinya. Beliau berkata: “Sesungguhnya aku mengetahui tempat kaum yang mempunyai keutamaan dan kejujuran (yakni para ulama dan penuntut ilmu, pen). Mereka mencari hadits dan telah berbuat baik dalam mencarinya karena manusia sangat membutuhkan mereka. Mereka sangat membutuhkan (bantuan nafkah, pen). Apabila kita membiarkan mereka maka hilanglah ilmu mereka. Dan jika kita menjadikan mereka kaya (dengan nafkah tersebut, pen), mereka akan mampu menyebarkan ilmu untuk ummat Muhammad r. Aku tidak mengetahui ada keutamaan setelah kenabian yang lebih utama daripada menyebarkan ilmu.” (Siyar A’lamin Nubala’: 8/387).

Al-Imam Adz-Dzahabi berkata:

وكان عبد الله غنيا شاكرا، رأس ماله نحو الاربع مئة ألف.

“Abdullah bin Al-Mubarak adalah seorang kaya yang bersyukur. Adalah jumlah modalnya sekitar 400-an ribu (dinar atau dirham).” (Siyar A’lamin Nubala’: 8/409).

Motivasi Kaya dari Al-Imam Abu Qilabah Abdullah bin Zaid Al-Jurmi

Al-Imam Ayyub As-Sakhtiyani berkata:

بعث إلي أبو قلابة بكتاب فيه الزم سوقك واعلم أن الغنى معافاة

“Al-Imam Abu Qilabah mengirimkan surat kepadaku. Di antara isinya adalah: “Tetaplah berada di pasarmu! Dan ketahuilah bahwa kekayaan itu keselamatan.” (Atsar riwayat Abdurrazzaq dalam Mushannafnya: 21021 (11/465), Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1261 (2/95)).

Al-Imam Ayyub As-Sakhtiyani berkata:

الزم سوقك فإن فيه غنى عن الناس و صلاحا في الدين

“Tetaplah berada di pasarmu! Karena di dalamnya terdapat kekayaan dari (bergantung kepada) manusia dan kebaikan dalam urusan agama.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1260 (2/94)).

Al-Imam Abu Qilabah berkata:

أي رجل أعظم أجرا من رجل ينفق على عيال له صغار يعفهم الله به ويغنيهم

“Lelaki mana yang lebih besar pahalanya daripada seorang laki-laki yang ber-infaq untuk keluarganya yang masih kecil-kecil yang dengannya Allah menjadikan mereka menjaga diri (dari meminta-minta) dan menjadikan mereka kaya?” (Shifatus Shafwah: 3/238).

Motivasi Kaya dari Al-Imam Ahmad bin Hanbal

Abu Bakar Al-Khallal berkata:

سمعت رجلا ، يقول لأبي عبد الله رحمه الله : إني في كفاية ، فقال : « الزم السوق تصل به الرحم وتعود به »

“Aku pernah mendengar seseorang berkata kepada Al-Imam Ahmad: “Sesungguhnya aku sudah dalam kecukupan hidup.” Maka beliau berkata: “Tetaplah berada di pasar (berdagang, pen)! Kamu bisa menyambung kerabatmu dan menjenguk orang sakit dengan hasil itu.” (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash Shina’ah: 1 (2)).

Abu Bakar Al-Khallal berkata:

قال رجل لأبي عبد الله رحمه الله من أصحاب ابن أسلم: ترى أن أعمل؟ قال : نعم، وتصدق بالفضل على قرابتك

“Seseorang dari sahabat Ibnu Aslam bertanya kepada Al-Imam Ahmad: “Apakah menurutmu aku harus bekerja?” Beliau menjawab: “Ya, dan sedekahkanlah kelebihan hasilnya kepada kerabatmu!” (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash Shina’ah: 2 (3)).

Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

قد أمرتهم يعني لولده أن يختلفوا إلى السوق، وأن يتعرضوا للتجارة

“Aku memerintahkan mereka (yaitu: anak-anak beliau) untuk mondar-mandir ke pasar dan melakukan perdagangan.” (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash Shina’ah: 3 (4)).

Penutup

Demikian motivasi dari mereka agar kita dapat meneladaninya sehingga Allah menjadikan kita orang kaya yang bersyukur. Amien

Dinukil dari: http://sulaifi.wordpress.com/2011/10/14/menjadi-kaya-siapa-takut/

Pelajaran dari Musibah yang Menimpa Ahlus Sunnah di Yaman

Penulis: al Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Tidak ada seorang muslim pun -insya Allah-, apalagi seorang Ahlus Sunnah; seorang salafi sejati, yang tidak bersedih dengan musibah yang menimpa saudara-saudaranya Ahlus Sunnah di Ma’had Darul Hadits Dammaj, Yaman, yang saat ini lagi dikepung oleh pemberontak Syi’ah –semoga Allah ‘azza wa jalla menghancurkan mereka-.

Alhamdulillah, banyak kaum muslimin di seluruh dunia menunjukkan simpati dan doa bagi keselamatan dan kemenangan Ahlus Sunnah atas pemberontak Syi’ah yang zalim ini.

Akan tetapi, hal itu tidak membuat kita lupa dengan kezaliman yang dilakukan sebagian orang di Dammaj berupa celaan-celaan mereka kepada para ulama yang telah mengakibatkan Ahlus Sunnah di seluruh dunia berpecah belah.

Kita tidak melupakan kezaliman sebagian mereka terhadap Ahlus Sunnah dengan penistaan yang mereka lakukan kepada Al-Walid Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ubaid Al-Jabiri, Asy-Syaikh Al-Faqih Abdullah Al-Mar’i, Asy-Syaikh Abdur Rahman Al-Mar’i, para masyaikh lainnya dan para penuntut ilmu –hafizhahumullah-.

Bahkan beberapa waktu lalu ketika perang sedang berkecamuk, masih ada diantara mereka yang merendahkan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah –wal’iyadzu billah-.

Oleh karena itu, termasuk bentuk pertolongan yang besar kepada mereka adalah dengan menasihati mereka agar bertaubat kepada Allah tabaraka wa ta’ala dari dosa besar ini, sehingga mereka mendapatkan pertolongan Allah ta’ala. Bagaimana pertolongan Allah ta’ala akan turun kepada mereka dalam keadaan mereka berlaku zalim kepada para wali Allah ta’ala.

“Takutlah kalian dari memakan daging para ulama dan penuntut ilmu, sesungguhnya daging mereka beracun.”

Dan hendaklah setiap kita mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa saudara-saudara kita Ahlus Sunnah di Yaman -semoga Allah ta’ala menjaga mereka-.

Allah jalla wa ‘ala telah memperingatkan:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah saja yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahan-kesalahanmu). ”[Asy-Syuro: 30]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas, “Musibah apapun yang menimpa kalian wahai manusia, penyebabnya tidak lain karena dosa-dosa yang kalian kerjakan.” [Tafsir Ibnu Katsir, 7/208, cetakan Dar Thaybah 1420 H]

Maka inilah nasihat Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan -hafizhahullah- kepada Ahlus Sunnah di Dammaj secara khusus dan kaum muslimin seluruhnya untuk bersatu dan meninggalkan perpecahan.

السائل: ما نصيحتكم لإخواننا أهل السنة في اليمن الذين يقاتلهم الحوثيون؟

جواب الشيخ –حفظه الله 

عليهم بالاعتماد على الله –عز وجل-، وكثرة الدعاء، والدفاع عن أنفسهم وعن ذراريهم وعن أموالهم، يدافعون بحسب مقدرتهم، نعم

وما أصاب أهل اليمن هذا إلا بسبب تخاذلهم وتفرقهم، ولو أنهم اجتمعوا تحت راية واحدة ما استطاع أحد أن يتدخّل فيهم، لكن لمّا تفرّقوا وصارت لهم أطماع، كلٌّ له طمع حصل عليهم ما حصل، نعم

ثم قال –وفقه الله-: أنا أوصيهم بالصبر، وأوصيهم بعمل الأسباب، ومنها الاجتماع وعدم التفرقّ، (ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم واصبروا)، (ولا تكونوا كالذين تفرّقوا واختلفوا)، عليهم بالاجتماع

الحزبيات والتفرّقات هذه ضرر على المسلمين، عليهم أن يجتمعوا جماعة واحدة على الكتاب والسنة، وأن يكونوا يداً واحدة على من سواهم، هذا شأن المسلمين، نعم

Penanya: ”Apa nasihat Anda bagi Ikhwan kita Ahlus Sunnah di Yaman yang sedang diperangi oleh orang-orang Hutsi (Syi’ah)?”

Jawaban Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafizhahullah-:

“Wajib bagi mereka bergantung hanya kepada Allah ‘azza wa jalla, memperbanyak doa dan berusaha membela diri, keluarga dan harta sesuai kemampuan mereka.

Dan tidaklah musibah ini menimpa penduduk Yaman kecuali karena mereka saling melemahkan dan berpecah belah. Andaikan mereka bersatu di bawah bendera yang satu maka tidak ada seorang pun yang mampu menyusup di tengah-tengah mereka. Akan tetapi, ketika mereka berpecah belah dan muncul kepentingan-kepentingan tertentu, sehingga setiap orang memiliki kepentingan sendiri, maka terjadilah apa yang terjadi saat ini, na’am.

Kemudian beliau (Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan) –waffaqahullah- berkata, “Aku wasiatkan kepada mereka untuk bersabar dan melakukan sebab-sebab (yang dapat menyelamatkan mereka), diantaranya dengan bersatu dan tidak berpecah belah.

وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan (berselisih), yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah.” [Al-Anfal: 46]

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang (umat terdahulu) yang bercerai-berai dan berselisih.” [Ali Imron: 105]

Maka wajib bagi mereka untuk bersatu. Sedangkan hizbiyah dan perpecahan merupakan bahaya bagi kaum muslimin.

Wajib bagi mereka bersatu dalam jama’ah yang satu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan hendaklah mereka bagaikan tangan yang satu dalam menghadapi musuh, inilah seharusnya sifat kaum muslimin, na’am.

Rekaman Pelajaran Syarh Muhktashar Zaadil Ma’ad, Pelajaran Ke-60, Menit Ke-57. Direkam pada tanggal 2 Muharram 1433 H. Download rekaman di sini.

Sumber: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=23045

Dinukil dari: http://nasihatonline.wordpress.com/2011/12/04/pelajaran-dari-musibah-yang-menimpa-ahlus-sunnah-di-yaman/