Arsip Kategori: MUTIARA SALAF

JANGAN DUDUK BERSAMA ORANG YANG TERFITNAH


Berkata Mus’ab bin Sa’ad: “Jangan kamu duduk bersama orang yang terfitnah, karena tidak akan meleset darimu karenanya salah satu dari dua perkara:

  1. Boleh jadi dia menjadikan kamu terfitnah sehingga kamu mengikutinya,
  2. Boleh jadi dia akan melukaimu sebelum kamu tinggalkan dia”.

[Dikeluarkan oleh Ibnu Batthoh al-'Akburiy di dalam "al-Ibanatul Kubro (2/442)]

قال مصعب بن سعد:« لا تُجالِس مفتوناً، فإنه لن يخطئك منه إحدى اثنتين: إما أن يَفتِنَك فتُتابعه، وإما أن يُؤذيَك قبل أن تُفارقه»
[أخرجه ابن بطة العكبري في« الإبانة الكبرى» (٢/٤٤٢)]

Dinukil dari: http://forumsalafy.net/?p=849

POKOK HIKMAH ADALAH DIAM


Muhammad bin ‘Ajlan t mengatakan,

“Ucapan manusia ada empat macam: (1) berzikir mengingat Allah l, (2) membaca al-Qur’an, (3) bertanya tentang sebuah ilmu lalu ia diberi tahu, dan (4) berkata tentang urusan dunia yang diperlukan.
Seseorang berkata kepada Salman al-Farisi z, ‘Berilah aku wasiat!’
Salman mengatakan, ‘Engkau jangan berbicara.’
Lelaki itu menjawab, ‘Orang yang hidup di tengah-tengah manusia tidak mungkin tidak berbicara.’
Salman menukas, ‘Jika demikian, kalau engkau berbicara, bicaralah yang benar. Kalau tidak, diamlah.’
Abdullah bin Mas’ud z mengatakan, ‘Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang benar selain Dia, tidak ada sesuatu di muka bumi ini yang lebih pantas dipenjara dalam waktu yang lama selain lisan.’
Wahb bin Munabbih t mengatakan, ‘Para ahli hikmah bersepakat bahwa pokok hikmah adalah diam’.”

(Jami’ al-‘Ulum wal Hikam hlm. 178)

Dinukil dari: http://asysyariah.com/pokok-hikmah-adalah-diam.html

Cara Memberi Nasehat


Ma’mar rahimahulloohu berkata,”Dahulu dinyatakan, orang yang paling bisa menasehatimu adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang dirimu. Apabila para salaf  hendak menasehati seseorang, mereka mengingatkannya secara diam-diam. Sampai-sampai sebagian mereka mengatakan,”Barang siapa memberi nasehat kepada saudaranya secara berdua saja, itulah nasehat. Adapun memperingatkannya di depan khalayak ramai, itu penghinaan.”

Al-Fudhail rahimahulloohu mengatakan,”Seorang mukmin menutupi aib (saudaranya) sekaligus menasehatinya, sedangkan seorang fajir menghancurkan kehormatan dan mencela.”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hlm. 111)

Dinukil dari: Majalah Asy Syariah Vol. VII/No. 81/1433 H/2012 hlm. 1 dalam rubrik Permat Salaf

“… bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian…”


Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan
berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang
paling shalih di antara kalian.
Sungguh, akupun telah banyak melampaui
batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya.
Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya. Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan. Maka terus meneruslah berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita. Bertaqwalah kalian semua kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Pada suatu hari beliau rahimahullah pergi menemui murid-muridnya dan
mereka tengah berkumpul, maka beliau rahimahullah berkata:

“Demi Allah ‘Azza wa Jalla, sungguh! Andai saja salah seorang dari
kalian mendapati salah seorang dari generasi pertama umat ini
sebagaimana yang telah aku dapati, serta melihat salah seorang dari
Salafus Shalih sebagaimana yang telah aku lihat, niscaya di pagi hari
dia dalam keadaan bersedih hati dan pada sore harinya dalam keadaan
berduka.
Dia pasti mengetahui bahwa orang yang bersungguh-sungguh dari kalangan kalian hanya serupa dengan orang yang bermain-main di antara mereka. Dan seseorang yang rajin dari kalangan kalian hanya serupa dengan orang yang suka meninggalkan di antara mereka. Seandainya aku ridha terhadap diriku sendiri pastilah aku akan memperingatkan kalian dengannya, akan tetapi Allah ‘Azza wa Jalla Maha Tahu bahwa aku tidak senang terhadapnya, oleh karena itu aku membencinya.”

(Mawai’zh lilImam Al-Hasan Al-Bashri, hal.185-187)

Dinukil dari:

http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/untaian-nasehat/mutiara-salaf-bukan-berarti-aku-orang-yang-terbaik-di-antara-kalian/#more-158