Arsip Kategori: RUANG DO’A

Doa Saat Telah Berusia 40 Tahun

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“ROBBII AUZI’NII AN ASYKUROO NI’MATAKALLATII AN’AMTA ‘ALAYYA WA’ALA WALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAA TAR DHOOHU WA ASHLIH LII FII DZURRAYYATII INNII TUBTU ILAYKA WAINNA MINAL MUSLIMIIN”

Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Zikir-Zikir Saat Pulang Pergi Mudik

Penulis:  al Ustadz Hammad Abu Muawiah

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -  كَانَ إِذَا استَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ كَبَّرَ ثَلاثًا ثُمَّ قَالَ: سُبحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقرِنِينَ * وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ{ اللهمَّ إِنَّا نَسأَلُكَ في سَفَرِنَا هَذَا البِرَّ وَالتَّقوَى، وَمِن العَمَلِ مَا تَرضَى، اللهمَّ هَوِّن عَلَينَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطوِ عَنَّا بُعدَهُ، اللهمَّ أَنتَ الصَّاحِبُ في السَّفَرِ، وَالخَلِيفَةُ في الأَهلِ، اللهمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِن وَعثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ المَنظَرِ، وَسُوءِ المُنقَلَبِ في المَالِ وَالأَهلِ.
وَإِذَا رَجَعَ قَالَهُنَّ وَزَادَ فِيهِنَّ: آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ
.

” Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berada di atas kendaraan hendak bepergian, maka terlebih dahulu beliau bertakbir sebanyak tiga kali. Kemudian beliau membaca doa sebagai berikut: “SUBHAANALLADZI SAKHKHARA LANAA HAADZA WAMAA KUNNAA LAHU MUQRINIIN WA INAA ILAA RABBINAA LAMUNQALIBUUN. ALLAHUMMA INNAA NASALUKA FI SAFARINAA HADZAL BIRRA WAT TAQWA WA MINAL ‘AMALI MAA TARDLA ALLAHUMMA HAWWIN ‘ALAINAA SAFARANAA HADZA WATHWI ‘ANNAA BU’DAHU ALLAHUMMA ANTASH SHAAHIBU FIS SAFARI WAL KHALIIFATU FIL AHLI ALLAHUMMA INNI `A’UUDZU BIKA MIN WA’TSAA`IS SAFAR WAKA`AABATIL MANZHARI WA SUU`IL MUNQALABI FIL MAAL WAL AHLI (Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridloi. Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga).” Dan jika beliau kembali pulang, beliau membaca do’a itu lagi dan beliau menambahkan di dalamnya, “AAYIBUUNA TAA`IBNUUNA ‘AABIDUUNA LIRABBINAA HAAMIDUUNA (Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji Rabb kami).” (HR. Muslim no. 1342)

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma dia berkata:

كُنَّا إِذَا صَعِدنَا كَبَّرنَا وَإِذَا تَصَوَّبنَا سَبَّحنَا

“Jika kami melewati jalanan yang menanjak maka kami bertakbir (membaca: ALLAHU AKBAR) dan jika jalanannya menurun maka kami bertasbih (membaca: SUBHANALLAH ).” (HR. Al-Bukhari no. 2994)

Dari Khaulah binti Hakim radhiallahu anha dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَن نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ لَم يَضُرَّهُ شَيءٌ حَتَّى يَرتَحِلَ مِن مَنْزِلِهِ ذَلِكَ

“Barangsiapa yang singgah pada suatu tempat kemudian dia berdoa: A’AUUDZU BI KALIMAATILLAHIT TAAMMAH MIN SYARRI MAA KHALAQ (Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan apa saja yang Dia ciptakan), niscaya tidak akan ada yang membahayakannya hingga di pergi dari tempat itu.” (HR. Muslim no. 2708)
Dari Ka’ab bin Malik radhiallahu anhu dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم -  كَانَ إِذَا قَدِمَ مِن سَفَرٍ ضُحًى دَخَلَ المَسجِدَ فَصَلَّى رَكعَتَينِ قَبلَ أَن يَجلِسَ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam jika beliau datang dari safar pada waktu dhuha, beliau masuk masjid lalu shalat dua rakaat sebelum duduk.”

Dalam riwayat lain: “Jika beliau datang dari safar maka beliau langsung ke masjid lalu shalat dua rakaat.” (HR. Al-Bukhari no 4418 dan Muslim no. 2769)

Penjelasan ringkas:

Safar baik untuk mudik maupun untuk tujuan lain mempunyai zikir-zikir yang seorang muslim hendaknya senantiasa mengusahakan untuk membacanya. Di antaranya ada yang dibaca ketika naik kendaraan seperti pada hadits Ibnu Umar di atas, bahkan Allah Ta’ala telah berfirman:

وَجَعَلَ لَكُم مِنَ الفُلكِ وَالأَنعَامِ مَا تَركَبُونَ  لِتَستَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذكُرُوا نِعمَةَ رَبِّكُم إِذَا استَوَيتُم عَلَيهِ وَتَقُولُوا سُبحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقرِنِينَ

“Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untuk kalian kapal dan binatang ternak yang kalian tunggangi. Supaya kalian duduk di atas punggungnya kemudian kalian mengingat nikmat Rabb kalian apabila kalian telah duduk di atasnya. Dan supaya kalian mengucapkan: “Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.” (QS. Az-Zukhruf: 12-14)

Di antaranya ada yang dibaca di tengah perjalanan seperti dalam hadits Jabir di atas. Ada juga yang dibaca ketika mampir di tengah perjalanan seperti pada hadits Khaulah di atas. Dan ada yang dibaca ketika dia pulang kembali ke rumahnya seperti zikir pada hadits Ibnu Umar di atas.

Di antara zikir yang dibaca ketika akan safar dan ketika sudah berada di atas kendaraan adalah yang tersebut dalam hadits Ali bin Abi Thalib dimana beliau menceritakan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika akan safar:

فَلَمَّا وَضَعَ رِجلَهُ في الرِّكَابِ قَالَ: بِسمِ اللهِ فَلَمَّا استَوَى عَلَى ظَهرِهَا قَالَ: الحَمدُ للهِ ثُمَّ قَالَ: سُبحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ ثُمَّ قَالَ: الحَمدُ للهِ ثَلاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ: الله أَكبَرُ ثَلاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ: سُبحَانَكَ إِنِّي ظَلَمتُ نَفسِي فَاغفِر لي فَإِنَّهُ لا يَغفِرُ الذُّنُوبَ إِلا أَنتَ

“Tatkala beliau meletakkan kakinya pada tunggangannya beliau membaca: BISMILLAH. Dan ketika beliau sudah berada di atasnya beliau membaca: ALHAMDULILLAH. Kemudian beliau membaca:  SUBHAANALLADZI SAKHKHARA LANAA HAADZA WAMAA KUNNAA LAHU MUQRINIIN WA INAA ILAA RABBINAA LAMUNQALIBUUN (Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami). Kemudian beliau membaca: ALHAMDULILLAH sebanyak 3 kali, kemudian membaca: ALLAHU AKBAR sebanyak 3 kali. Kemudian beliau membaca: SUBHANAKA INNI ZHOLAMTU NAFSI FAGHFIRLI, FA INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUBA ILLA ANTA (Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku maka ampunilah aku, karena tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau).” (HR. Ahmad: 1/97, Abu Daud no. 2602, dan At-Tirmizi no. 3446)

Dan setelah dia tiba di negerinya, maka disunnahkan dia langsung ke masjid sebelum ke rumahnya, lalu dia mengerjakan shalat dua rakaat, baru kemudian dia pulang ke rumahnya. Ini berdasarkan hadits Ka’ab bin Malik di atas dan juga dipertegas oleh hadits Jabir bin Abdillah dia berkata:

كُنتُ مَعَ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم -  في سَفَرٍ فَلَمَّا قَدِمنَا المَدِينَةَ قَالَ لي: ادخُل المَسجِدَ فَصَلِّ رَكعَتَينِ

“Saya pernah bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam perjalanan. Tatkala kami sudah pulang dan tiba di Madinah maka beliau berkata kepadaku, “Masuklah masjid lalu shalatlah dua rakaat.” (HR. Al-Bukhari: 6/193)

Dinukil dari:

http://al-atsariyyah.com/zikir-zikir-saat-saat-pulang-pergi-mudik.html

Do’a Malam Lailatul Qadar

Penulis: al Ustadz  Sofyan Chalid Ruray

Dari Aisyah radhiyallahu’anha, berkata, “Aku katakan, Ya Rasulullah, jika aku tahu lailatul qadr apa yg aku baca pada malam tersebut? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, bacalah:

[اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى]

Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anniy: Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Adapun tambahan [كَرِيمٌ] Kariimun: Maha Pemurah setelah [عَفُوٌّ] tidak shahih, tidak ada asalnya.

Al-Imam Al-Muhaddits Al-’Allamah Al-Albani rahimahullah berkata:

تنبيه : وقع في سنن الترمذي بعد قوله : ( عفو ) زيادة ( كريم ) ! ولا أصل لها في شيء من المصادر المتقدمة ، ولا في غيرها ممن نقل عنها ، فالظاهلر أنها مدرجة من بعض الناسخين أو الطابعين ، فإنها لم ترد في الطبعة الهندية من سنن الترمذي التي عليها شرح ( تحفة الأحوذي ) للمباركفوري ( 4 / 264 ) ولا في غيرها ، وإن مما يؤكد ذلك أن النسائي في بعض روا يته أخرجه من الطريق التي اخرجها الترمذي ، كلاهما عن شيخهما ( قتيبة بن سعيد ) بإسناده دون الزيادة

“Peringatan: Terdapat dalam Sunan At-Tirmidzi setelah [عَفُوٌّ] tambahan [كَرِيمٌ] ! Tidak ada asalnya pada satupun sumber-sumber terdahulu, tidak pula dari yang menukil dari sumber-sumber tersebut. Maka yg nampak lafaz tsb adalah tambahan dari sebagian penulis atau pencetak.

Lafaz tsb juga tdk terdapat dalam cetakan India yang menjadi rujukan syarah “Tuhfatul Ahwadzi” oleh Al-Mubarakfuri [4/264] dan tidak pula pada cetakan yg lain.

Dan yg lebih menguatkan hal ini, bahwa An-Nasa’i dalam sebagian riwayatnya telah mengeluarkan hadits ini dari jalan yang sama dengan At-Tirmidzi dari syaikh mereka berdua “Qutaibah bin Sa’id” dengan sanadnya tanpa ada tambahan tsb.” [Lihat Ash-Shahihah di bawah pembahasan hadits no. 3337]

Tanda-tanda Lailatul Qadr

Dalam Subulus Salam lis Shon’ani:

وقال الطبري ذلك غير لازم فإنها قد تحصل ولا يرى شيئا ولا يسمع

“Dan berkata Ath-Thobari, hal itu (tanda-tandanya) tidak harus (nampak), bisa jadi lailatul qadr ketika seorang tidak melihat dan tidak pula mendengar suatu (tanda) apapun.”

Oleh krn itu boleh insya Allah dibaca pada sepuluh malam terakhir, sebab Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencari lailatul qadr pada sepuluh malam terakhir, seperti dalam riwayat Al-Bukhari:

التمسوها في العشر الأواخر من رمضان

“Carilah ia (lailatul qadr) pada 10 malam terakhir Ramadhan.”

Dan oleh krn itu juga ada khilaf ulama “Apakah jika seorang membaca doa tsb mendapat pahala jika tidak bertepatan dengan malam lailatul qadr?” Seperti kata Al-Imam Ash-Shon’ani rahimahullah dlm As-Subulus salam:

واختلف العلماء هل يقع الثواب المترتب لمن اتفق أنه وافقها ولم يظهر له شيء أو يتوقف ذلك على كشفها ذهب إلى الأول الطبري وابن العربي وآخرون وإلى الثاني ذهب الأكثرون

-belum diterjemahkan-

Maka ini menunjukkan adanya ulama yg berpendapat bolehnya dibaca pada 10 malam terakhir, demi berhati-hati jangan sampai terlewatkan lailatul qadr. Wallahu A’lam.

Keterangan semisal ini pernah dinukil dari Syaikhuna Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdil Muhsin Al-’Abbad hafizhahumallah

Dinukil dari : status Facebook al Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Do’a Sebelum Bersenggama

Tanya:

Assalamu ‘alaikum. Apa ada do’a bersetubuh suami istri agar dapat berkah dan tidak didasari oleh nafsu syetan? Soalnya kami baru saja menikah dan ingin punya keturunan yang saleh. Nuhun! (0818823***)

Jawab:

Wa ‘alaikumussalaam. Ya ada doanya dimana Rasulullah mengajarkan bila seseorang hendak melakukan hubungan dengan istrinya, ia mengucapkan doa agar kita dan anak kita ketika lahir aman dari tusukan syaithan sehingga menjadi hamba yang shalih atau tidak menjadi kafir. (Lihat ‘Aunul Ma’bud 6/139). Adapun doanya sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut nama Allah jauhkanlah aku dari setan dan jauhkanlah setan dari rizki yang telah Engkau berikan kepadaku.” (HR Bukhari 6/141 dan Muslim 2/1028).

Dinukil dari: http://fdawj.atspace.org/awwb/th2/34.htm#sub2

Mengangkat Tangan Ketika Berdo’a

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum. Ustadz, semoga Allah menjagamu, ana ingin bertanya seputar berdo’a:

1. Apakah selesai shalat wajib kita boleh berdo’a sesuai dengan kehendak yang kita ingin minta? (artinya, bolehkah berbahasa Indonesia)

2. Kapankah waktu berdo’a yang amat baik?

3. Apakah waktu berdo’a di waktu-waktu tertentu tersebut kita mengangkat tangan? Atau jika tidak, bagaimana posisi tubuh kita dan wajah?

Jazaakallaahu khairaa. (Abu Aslam, angga***@yahoo.com)

Jawaban:

Wa’alaikumus salaam warahmatullaah. [bukan wa'alaikum salaam (lihat perbedaannya!)]

Semoga Allah juga menjagamu dan kaum muslimin secara umum agar tetap istiqomah di dalam menjalankan ajaran Islam dan menghidupkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun banyak godaan, gangguan dan tantangan baik dari diri kita sendiri, teman, guru/dosen ataupun yang lainnya.

Adapun pertanyaan di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Secara umum kita boleh berdo’a kapan saja sesuai dengan keinginan kita. Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhan kalian berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian.” (Al-Mu`min:60)
Akan tetapi akan lebih baik lagi kalau berdo’a pada waktu-waktu yang mustajaabah (waktu yang berpeluang besar terkabulkannya suatu do’a) dan dengan lafazh do’a yang terdapat dalam Al-Qur`an atau yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang shahih. Kalau tidak bisa atau tidak hafal maka boleh berdo’a dengan bahasa kita sehari-hari.

Adapun mengkhususkan berdo’a setelah shalat wajib dan dilakukan dengan rutin atau sering serta meyakini itu adalah sunnah maka ini tidak ada contohnya dari Rasulullah, para shahabatnya atau pun ‘ulama salaf setelah mereka.

Sebenarnya kalau kita perhatikan dzikir-dzikir yang kita baca setelah shalat wajib maka secara umum dzikir-dzikir tersebut mengandung do’a. Kita baca “Astaghfirullaah, Astaghfirullaah, Astaghfirullaah,  Allaahumma A’innii ‘alaa Dzikrika wa Syukrika wa Husni ‘Ibaadatik, ” Ini semua adalah do’a. Makanya kalau berdzikir harus mengetahui maknanya, dipahami, dihayati dan khusyu’ ketika membaca dzikir tersebut, jangan sampai melamun atau berdzikir tapi tidak mengetahui maknanya. Lihat bacaan dzikir setelah shalat wajib dalam kitab “Hishnul Muslim” (sudah diterjemahkan, Alhamdulillaah).

2. Waktu berdo’a yang amat baik atau mustajaabah di antaranya adalah pada malam lailatul qadr, tengah malam yang akhir atau sepertiga malam terakhir, antara adzan dan iqamah, ketika panggilan adzan untuk shalat wajib, ketika turunnya hujan, ketika berhadapan dengan musuh dalam jihad fii sabiilillaah, satu waktu dari waktu-waktu shalat ‘ashar pada hari jum’at, waktu tasyahhud akhir sebelum salam tapi harus dengan do’a-do’a yang ada dalam hadits (lihat Shifat Shalat Nabi karya Asy-Syaikh Al-Albaniy), dan lain-lainnya (Lebih lengkapnya lihat dalam kitab Adz-Dzikru wad Du’aa` wal ‘Ilaaj bir Ruqaa minal Kitaab was Sunnah karya Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaniy hal.101-118)

3. Dalam masalah mengangkat tangan ketika berdo’a memang terjadi ikhtilaf di antara para ‘ulama, ada yang membolehkannya secara umum, ada yang membatasinya dengan batasan-batasan tertentu. Di antara yang berpendapat dengan pendapat yang kedua ini seperti Al-’Izz bin ‘Abdissalam di mana beliau berkata: “Tidak disunnahkan mengangkat tangan dalam berdo’a kecuali pada keadaan yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan padanya (ketika berdo’a) dan tidaklah seorang yang mengusap wajah setelah berdo’a kecuali dia itu orang yang bodoh.” (Fataawaa Al-’Izz bin ‘Abdissalaam hal.46, dinukil dari Al-Luma’ fir Radd ‘alaa Muhsinil Bida’)

Adapun hadits yang mengatakan: “Sesungguhnya Rabb kalian Hayiyyun Kariimun, malu dari hamba-Nya apabila mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu dikembalikan dalam keadaan kosong.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidziy dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Hakim dari shahabat Salman Al-Farisiy)

Hadits ini dibatasi oleh perbuatan Rasulullah ketika berdo’a artinya kita hanya mengangkat tangan ketika memang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan dalam do’anya seperti do’a dalam shalat istisqaa`, do’a dalam khuthbah jum’at dengan mengangkat jari telunjuk tangan kanan ke langit.

Adapun hadits yang menerangkan tentang mengusap wajah setelah berdo’a adalah hadits dha’if sebagaimana didha’ifkan oleh para ‘ulama seperti Asy-Syaikh Al-Albaniy. (Lihat “Majmuu’ah Fataawaa Al-Madiinah Al-Munawwarah”)
Wallaahu A’lam.

Dinukil dari: http://fdawj.atspace.org/awwb/th2/36.htm#sub2