Tag Archives: adab berpakaian

Jilbab Sesuai Syariat


Tanya:

Ustadzah, saya mempunyai pertanyaan dan mohon untuk dijawab: Bagaimana jilbab yang sesuai dengan syariat?  Mohon penjelasannya, jazakillah khairan.
Halimah
asy…@plasa.com

Jawab:

Jilbab yang sesuai dengan syariat apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1, Menutupi seluruh badan.

2.  Tidak diberi hiasan-hiasan hingga mengundang pria untuk melihatnya.

Allah I berfirman:

“Katakanlah (wahai Nabi) kepada wanita-wanita yang beriman: hendaklah mereka menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluan mereka, dan jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa nampak darinya. Hendaklah mereka meletakkan dan menjulurkan kerudung di atas kerah baju mereka (dada-dada mereka)… (An-Nur: 31)

3. Tebal, tidak tipis.

Rasulullah r bersabda:

“Akan ada nanti di kalangan akhir umatku para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya mereka telanjang…”
Kemudian beliau r bersabda:

“…laknatlah mereka karena sesungguhnya mereka itu terlaknat.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamush Shaghir dengan sanad yang shahih sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam kitab beliau Jilbab Al-Mar`ah Al Muslimah, hal. 125)

Kata Ibnu Abdil Bar t: “Yang dimaksud Nabi r dalam sabdanya (di atas) adalah para wanita yang mengenakan pakaian dari bahan yang tipis yang menerawangkan bentuk badan dan tidak menutupinya maka wanita seperti ini istilahnya saja mereka berpakaian tapi hakikatnya mereka telanjang.”

4. Lebar, tidak sempit.

Usamah bin Zaid c berkata: “Rasulullah r memakaikan aku pakaian Qibthiyah yang tebal yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau maka aku memakaikan pakaian itu kepada istriku. Suatu ketika beliau r bertanya: ‘Mengapa engkau tidak memakai pakaian Qibthiyah itu?’ Aku menjawab: ‘Aku berikan kepada istriku.’ Beliau berkata: ‘Perintahkan istrimu agar ia memakai kain penutup setelah memakai pakaian tersebut karena aku khawatir pakaian itu akan menggambarkan bentuk tubuhnya.” (Diriwayatkan oleh Adh-Dhiya` Al-Maqdisi, Ahmad dan Al-Baihaqi dengan sanad hasan, kata Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Jilbab, hal. 131)

5, Tidak diberi wangi-wangian.

Karena Rasulullah r bersabda:

“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian lalu ia melewati sekelompok orang agar mereka men­cium wanginya maka wanita itu pezina.” (HR. An-Nasai, Abu Dawud dan lainnya, dengan isnad hasan kata Asy-Syaikh Al-Albani dalam Jilbab, hal. 137)

6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

Abu Hurairah z mengatakan: “Rasulullah r melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan lainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Jilbab, hal. 141)

6. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.

Karena Rasulullah r dalam banyak sabdanya memerintahkan kita untuk menyelisihi orang-orang kafir dan tidak menyerupai mereka baik dalam hal ibadah, hari raya/perayaan ataupun pakaian khas mereka.

7. Bukan merupakan pakaian untuk ketenaran, yakni pakaian yang dikenakan dengan tujuan agar terkenal di kalangan manusia, sama saja baik pakaian itu mahal/mewah dengan maksud untuk menyom­bong­kan diri di dunia atau pakaian yang jelek yang dikenakan dengan maksud untuk menampakkan kezuhudan dan riya‘.

Ibnul Atsir berkata: Pakaian yang dikenakan itu masyhur di kalangan manusia karena warnanya berbeda dengan warna-warna pakaian mereka, hingga manusia mengangkat pandangan ke arahnya. Jadilah orang tadi merasa bangga diri dan sombong. Rasulullah r bersabda:

“Siapa yang memakai pakaian untuk ketenaran di dunia maka Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan pada hari kiamat kemudian dinyalakan api padanya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dengan isnad hasan kata Asy-Syaikh Al-Albani dalam Jilbab, hal. 213)

Demikian kami nukilkan jawaban untuk saudari dari kitab Jilbab Al-Mar`ah Al-Muslimah yang ditulis oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t. Adapun pertanyaan-pertanyaan saudari yang lainnya Insya Allah akan kami jawab dalam Rubrik Mutiara Kata pada edisi-edisi mendatang. Wallahu a’lam.

Dinukil dari: http://asysyariah.com/jilbab-sesuai-syariat.html

Hukum Shalat Memakai Celana Jeans


Oleh Ustadz Muhammad Na’im Lc

Pertanyaan :

Apakah hukumnya jika sholat menggunakan celana jeans ? Apa hukumnya bila laki-laki selalu sholat di rumah, kecuali hari Jum’at ? (Najib, 085728535xxx)

Jawab :

Sholat adalah saat yang paling baik seorang hamba berhubungan langsung dengan Allah, berdo’a, bermunajat, mohon ampunan dan menampakkan rasa butuhnya kepada-Nya. Karena itu hendaknya selalu dengan penampilan yang terbaik, tidak harus dengan pakaian bagus dan baru akan tetapi rapi dan bersih dari najis serta menutup aurat dengan sempurna, tidak menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya. Bagaimana kita menghadap kepada Allah, sementara aurat kita tampak jelas dengan pakaian ketat yang kita kenakan. Maka tidak selayaknya kita menunaikan sholat dengan celana yang ketat baik itu jeans atau yang lainnya. Meskipun sah sholatnya akan tetapi kurang beradab, apalagi celana jeans adalah bukan dari kebiasaan yang dipakai oleh kaum muslimin, akan tetapi dari kebiasaan orang-orang fasik atau yang kurang pehatian dengan urusan agamanya yang diadopsi oleh sebagian kaum muslimin. Wallaahu a’lam.

Adapun hukum laki-laki yang selalu sholat wajib dirumahnya maka dia berdosa karena menyelisihi tuntunan Rasulullah shollaallohu ‘alahi wasallam yang mewajibkan laki-laki untuk menunaikan sholat wajib di masjid dengan berjamaah. Dalilnya adalah sebagai berikut :

  1. Rasulullah mengancam akan membakar rumah orang yang tidak hadir dalam sholat berjamaah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Demi yang jiwaku ada ditanganNya, sungguh aku telah berniat kuat untuk memerintahkan agar dikumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan sholat dan dikumandangkan adzan untuk sholat, kemudian aku perintah seseorang untuk mengimami manusia dan aku akan mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri sholat maka akan aku bakar rumah-rumah mereka. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka mengetahui bahwa dia akan mendapatkan sekerat daging atau dua iga kambing yang bagus pasti dia akan menghadiri sholat isya’. ” (Muttafaq alaih, dari lafadz Imam Bukhari)

  1. Rasulullah tidak memberikan udzur kepada orang yang buta untuk tidak hadir dalam sholat berjamaah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isya dan Shubuh, seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada dua sholat itu pasti akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih) Dari Abu Hurairah berkata : Seorang laki-laki yang buta datang kepada Rasulullah dan mengatakan : Ya Rasulallah, sesungguhnya aku tidak memiliki seorang yang menuntunku ke masjid. Maka Rasulullah memberikan rukhsoh (keringanan), ketika orang pergi kemudian dipanggilanya lagi dan ditanya : “Apakah kamu mendengar panggilan sholat (adzan)? Orang itu menjawab : Ya. Maka beliau bersabda : “Penuhilah panggilan itu.” (HR. Muslim)

  1. Meninggalkan berjamaah merupakan pembuka pintu kesesatan serta tanda-tanda munafik

Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiyallohu ‘anhu : Barang siapa yang menginginkan bertemu dengan Allah esok dalam keadaan muslim maka tunaikan sholat yang lima waktu dimana sholat itu diseru, maka sesungguhnya Allah ta’ala telah mensyari’atkan Nabi-Nya dengan sunah-sunah dengan petunjuk-Nya dan menunaikan sholat yang lima waktu di masjid-masjid adalah termasuk sunah-sunah petunjuk Allah. Jika kalian menunaikan sholat di rumah maka sungguh kalian telah meninggalkan sunah-sunah Nabi kalian dan jika kalian tinggalkan sunah Nabi kalian niscaya kalian akan tersesat. Dan kami telah menyaksikan bahwa tidaklah meninggalkan sholat berjamaah di masjid kecuali orang munafiq yang jelas nifaqnya.

Ibnul Qoyim rahimahullah berkata : Barang siapa yang memperhatikan sunah maka akan jelas baginya bahwa menunaikan sholat lima waktu di masjid-masjid adalah wajib ‘ain kecuali bagi yang mendapatkan udzur (syar’i) maka dibolehkan baginya tidak melaksanakannya dengan berjamaah. Dan sesuatu yang dimaklumi dalam agama bahwa Allah ta’ala telah mensyari’atkan sholat lima waktu di masjid-masjid, sebagaimana firman-Nya : “Hadapkanlah wajah-wajah kalian (dalam sholat) di setiap masjid.” Wallaahu a’lam.

Dinukil dari: Adab berpakaian dan Hukum Sholat Berjama’ah