Tag Archives: do’a masuk kamar mandi

Bagaimana Arah Yang Benar Saat Buang Air Besar/Kecil?


Makruhnya Buang Air Menghadap Kiblat

Penulis: Al Ustadz Abu Muawiyah Hammad

Anas bin Malik -radhiallahu anhu- berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Jika Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- hendak masuk ke dalam WC, maka beliau berdo’a: [ALLAHUMMA INNI A'UUDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHABA`ITS (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan)].” (HR. Al-Bukhari no. 242 dan Muslim no. 375)

Dari Abu Ayyub Al-Anshari  dia berkata: Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا قَالَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ الْقِبْلَةِ فَنَنْحَرِفُ وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى

“Jika kalian mendatangi tempat buang air maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Akan tetapi menghadaplah ke timurnya atau ke baratnya.” Abu Ayyub berkata, “Ketika kami datang ke Syam, kami dapati WC rumah-rumah di sana dibangun menghadap kiblat. Maka kami beralih darinya (kiblat) dan kami memohon ampun kepada Allah Ta’ala.” (HR. Al-Bukhari no. 245 dan Muslim no. 264)
Sabda beliau, “Akan tetapi menghadaplah ke timurnya atau ke baratnya,” berlaku bagi negeri-negeri yang kiblatnya di utara atau di selatan. Adapun bagi yang kiblatnya di timur atau di barat (seperti Indonesia) maka dia dianjurkan menghadap ke utara atau ke selatan.

Dari Abdullah bin Umar -radhiallahu anhu- dia berkata:

ارْتَقَيْتُ فَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ حَفْصَةَ لِبَعْضِ حَاجَتِي فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبِلَ الشَّأْمِ

“Aku pernah naik di rumah Hafshah untuk mengerjakan sesuatu. Maka (tanpa sengaja) aku melihat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- buang hajat membelakangi kiblat menghadap Syam.” (HR. Al-Bukhari no. 246 dan Muslim no. 266)

Penjelasan ringkas:
Dari Abdurrahman bin Yazid dari Salman dia berkata:

قِيلَ لَهُ قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ فَقَالَ أَجَلْ

“Ditanyakan kepadanya, ‘(Apakah) Nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu hingga tata cara buang air besar? “ ‘Abdurrahman berkata: Salman menjawab, “Ya.” (HR. Muslim no. 262)

Di antara kesempurnaan Islam adalah dia mengajarkan kepada pemeluknya segala sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi mereka dan semua perkara yang bisa menambah pahala bagi mereka, walaupun itu sampai tata cara buang air. Di antara tuntunan tersebut ada yang wajib hukumnya dan sebagian lagi ada yang sunnah, dan di antara tuntunan-tuntunan tersebut adalah:

a.    Disunnahkan untuk berlindung kepada Allah dengan dari gangguan setan sebelum memasuki tempat buang air, sebagaimana dalam hadits Anas di atas.
Mayoritas ulama menyatakan bahwa doa perlindungan ini dibaca sebelum masuk wc atau ketika akan menyingkap auratnya ketika dia buang air di tempat terbuka (di luar bangunan)

b.    Tidak ada yang shahih dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- dalam hal zikir keluar wc. Silakan baca pembahasannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=374

c.    Adapun dalam masalah hukum menghadap dan membelakangi kiblat dalam buang air besar dan kecil, maka ada tujuh pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Pendapat yang paling tepat dalam masalah ini -wallahu a’lam- adalah pendapat yang menyatakan: Makruhnya menghadap dan membelakangi kiblat dalam buang air besar dan kecil. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad, dan Abu Tsaur.

Dalil dari pendapat ini adalah mengompromikan dalil-dalil pihak yang membolehkan secara mutlak dan dalil-dalil pihak yang melarang secara mutlak. Di antara dalil yang melarang secara mutlak adalah hadits Abu Ayyub di atas, sementara di antara dalil yang membolehkan secara mutlak adalah hadits Ibnu Umar di atas dan juga hadits Jabir bin Abdillah dimana beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ نَهَانَا عَنْ أَنْ نَسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةَ أَوْ نَسْتَقْبِلَهَا بِفُرُوجِنَا إِذَا أَهْرَقْنَا الْمَاءَ قَالَ ثُمَّ رَأَيْتُهُ قَبْلَ مَوْتِهِ بِعَامٍ يَبُولُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang membelakangi kiblat atau menghadapnya dengan kemaluan kami, ketika kami mengucurkan air (kencing). Namun di kemudian hari saya melihat beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam- setahun sebelum wafatnya kencing menghadap kiblat.” (HR. Ahmad: 3/360)

Mereka menyatakan: Dalil yang menyatakan Nabi -alaihishshalatu wassalam- menghadap dan membelakangi kiblat menunjukkan bolehnya hal tersebut, sementara dalil yang melarangnya menunjukkan perbuatan itu makruh.

Adapun ucapan Ibnu Umar dalam riwayat Abu Daud no. 114, “Sesungguhnya hal itu (menghadap dan membelakangi kiblat) hanya dilarang jika buang airnya di ruangan terbuka. Akan tetapi jika ada sesuatu yang menghalangimu dengan kiblat maka hal tersebut tidak mengapa.”
Maka sanad ucapan beliau ini lemah, sebagaimana bisa dilihat penjelasannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1784

Kalaupun dianggap shahih, maka ini hanyalah pemahaman dari beliau -radhiallahu anhu-. Dan pemahaman beliau ini telah diselisihi oleh Abu Ayyub yang memahami larangan itu berlaku mutlak baik di dalam maupun di luar ruangan. Hal itu karena Abu Ayyub tetap berpaling dari arah ka’bah ketika buang air bahkan beliau beristighfar, padahal ketika itu beliau buang air di dalam bangunan, sebagaimana hadits di atas.

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/adab-buang-air.html

########

Boleh Menghadap Kiblat Ketika Buang Air di WC

Penulis: Al Ustadz Abu Muawiyah Hammad

Dari Marwan Al Ashfar dia berkata:

رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ثُمَّ جَلَسَ يَبُولُ إِلَيْهَا فَقُلْتُ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَلَيْسَ قَدْ نُهِيَ عَنْ هَذَا قَالَ بَلَى إِنَّمَا نُهِيَ عَنْ ذَلِكَ فِي الْفَضَاءِ فَإِذَا كَانَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ شَيْءٌ يَسْتُرُكَ فَلَا بَأْسَ

“Saya pernah melihat Ibnu Umar menderumkan untanya menghadap kiblat, lalu dia duduk dan buang air kecil dalam keadaan menghadapnya. Lalu saya bertanya, “Wahai Abu Abdirrahman, bukankah hal ini telah dilarang?” Dia menjawab, “Benar, akan tetapi hal itu dilarang jika dilakukan di tempat terbuka, tapi apabila antara dirimu dan kiblat ada sesuatu yang menutupimu, maka itu tidaklah mengapa.”

Takhrij:

Atsar ini diriwayatkan oleh Abu Daud no. 114, Ibnu Al-Jarud no. 32, Ibnu Khuzaimah no. 60, Ad-Daraquthni (1/58), Al-Hakim no. 551, dan Al-Baihaqi (1/92). Semuanya dari jalan Shafwan bin Isa dari Al-Hasan bin Dzakwan dari Marwan Al-Ashfar dari Ibnu Umar.

Sebab lemahnya atsar ini adalah Al-Hasan bin Dzakwan, berikut komentar para ulama tentangnya:
Yahya bin Main berkata, “Al-Hasan bin Dzakwan, dhaif.”
Abu Hatim Ar-Razi berkata, “Hasan bin Dzakwan, dhaiful hadits, tidak kuat.”
Ali bin Al-Madini berkata tentang gurunya (Yahya Al-Qaththan), “Yahya bin Said meriwayatkan hadits dari Al-Hasan bin Dzakwan, walaupun dia adalah rawi yang dhaif menurutnya.”
Ahmad berkata, “Hadits-haditsna batil.”
An-Nasai berkata, “Tidak kuat.”
Al-Hafizh berkata dalam At-Taqrib, “Jujur tapi banyak bersalah, dituduh berpemahaman Qadariah, dan dia juga seorang mudallis.”
Maka nampak dari keterangan ini bahwa atsar ini lemah dari dua sisi:
1.    Al-Hasan bin Dzakwan adalah rawi yang lemah.
2.    Dia juga seorang mudallis, dan dalam sanad ini dia meriwayatkan dengan lafazh ‘an (dari) yang menunjukkan dia tidak pasti mendengar hadits ini dari gurunya. Dan seorang mudallis jika meriwayatkan dengan lafazh yang tidak pasti dia mendengar atau tidak maka haditsnya tertolak.

Dinukil dari:

http://al-atsariyyah.com/boleh-menghadap-kiblat-ketika-buang-air-di-wc.html

 

Adab-Adab Istinja` (Buang Air)


Penulis: Al Ustadz Abu Muawiyah Hammad

Sebagai lanjutan dari pembahasan sebelumnya -yaitu seputar najis-, maka pada edisi ini kami akan membahas beberapa perkara mengenai tata cara buang air menurut sunnah Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Dan untuk mempermudah pembahasan, maka adab-adab ini secara umum kami bagi menjadi tiga bagian:

A. Hal-hal yang disyariatkan dalam istinja`:

1. Disunnahkan beristinja` dengan menggunakan air, karena dia lebih menyucikan dan lebih membersihkan tempat keluarnya najis.

Inilah yang ditunjukkan dalam kebanyakan hadits tentang istinja` Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dan ini juga yang merupakan sebab Allah memuji para sahabat di masjid Quba dalam firman-Nya, “Di dalamnya ada orang-orang yang senang untuk bersuci.” (QS. At-Taubah: 108) (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah)

2. Dianjurkan masuk ke wc dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan.

Telah tsabit dari Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bahwa beliau masuk masjid dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri, dari sini para ulama mengkiaskan bahwa memasuki tempat yang kotor adalah dengan kaki kiri dan keluar darinya dengan kaki kanan. Jadi dalil permasalahan ini dan yang semisalnya adalah dengan kias, karenanya kalau ada seseorang yang masuk ke wc dan keluar darinya dengan kaki kanan karena berdalil bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- senang memulai dengan yang kanan (HR. Muslim dari Aisyah) maka insya Allah hal tersebut juga tidak mengapa. Lihat Asy-Syarhul Mumti (1/108)

3. Sebelum masuk ke wc, disunnahkan membaca doa: “Bismillah, Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits (Bismillah, Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan lelaki dan setan wanita).”

Dari Ali -radhiallahu anhu- secara marfu’, “Penghalang antara jin dengan aurat anak Adam -ketika dia masuk ke dalam wc- adalah dengan membaca ‘bismillah’.” (HR. Ibnu Majah) Adapun doa “Allahumma inni …,” sampai akhir maka dari hadits Anas riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

Kalau seseorang membuang air di selain bangunan (misalnya di hutan atau padang pasir), maka doa ini dibaca ketika awal kali dia membuka auratnya. Lihat Subulus Salam: 1/289 dan Manarus Sabil: 1/38-39

4. Diwajibkan untuk menjaga aurat ketika istinja, jangan sampai auratnya terlihat oleh orang lain, selain istri dan budaknya.

Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Jagalah auratmu kecuali dari istrimu dan budakmu.” (HR. Abu Daud dari Muawiah bin Haidah). Karenanya Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kalau beliau ingin buang air maka beliau pergi menjauh sampai tidak ada seorang pun yang melihat beliau. (HR. Abu Daud dari Jabir). Tapi setelah dibangunnya wc di rumah beliau, maka beliau pun buang air di dalamnya, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits Ibnu Umar .

5. Diwajibkan untuk menjaga tubuh dan pakaian dari najis ketika buang air.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah melewati dua kubur yang kedua penghuninya tengah disiksa. Maka beliau bersabda, “Adapun salah satu dari keduanya, maka dia tidak berbersih ketika buang air.”

6. Disunnahkan menggosokkan tangan kiri ke tanah atau mencucinya dengan sabun setelah melakukan istinja`. Abu Hurairah berkata, “… Lalu beliau beristinja` dengannya (air) kemudian menggosokkan tangannya ke tanah.” (HR. Abu Daud).
Imam Ibnul Mundzir berkata, “Maka disunnahkan bagi orang yang telah beristinja` dengan air untuk mencuci tangannya dengan asynan (pembersih tangan) atau selainnya, atau menggosokkannya ke tanah, untuk membersihkannya dan menghilangkan bau najis kalau bau itu masih tersisa di tangannya. ” Lihat Al-Isyaf (1/186-187) dan As-Subul (1/291)

B. Hal-hal yang dilarang dalam istinja`:

1. Dimakruhkan berbicara dengan pembicaraan yang berhubungan dengan keagamaan. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala, “Demikianlah bagi yang memuliakan syiar-syiar Allah, maka itu termasuk dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 22) Juga ada seorang sahabat yang pernah memberi salam kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dalam keadaan beliau kencing, maka beliau tidak menjawab salamnya (HR. Muslim dari Ibnu Umar) Maka ini menunjukkan makruhnya hal tersebut, dan ini merupakan pendapat Ibnu Abbas, Ma’bad Al-Jubani, Atha` dan Mujahid. Ikrimah berkata, “Jangan dia berzikir dengan lisannya di dalam wc, akan tetapi dengan hatinya.” Lihat: Nailul Authar (1/91-92) dan Asy-Syarhul Mumti’ (1/117-118)

2. Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka dimakruhkan juga membawa mushaf atau buku atau yang semisalnya, kalau di dalamnya terdapat ayat Al-Qur`an atau zikir kepada Allah.

3. Diharamkan menghadap dan membelakangi kiblat (Ka’bah) dalam buang air secara mutlak, baik di luar bangunan maupun di dalam bangunan. Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Kalau kalian mendatangi wc, maka janganlah kalian menghadap kiblat dalam buang air besar dan kencing, dan jangan pula membelakanginya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Ayyub) Dan dalam hadits Salman, “Rasulullah melarang kami untuk menghadap kiblat ketika buang air besar dan kencing.” Ini adalah pendapat Abu Ayyub Al-Anshari, Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud dan Suraqah bin Malik dari kalangan sahabat, dan juga pendapat Mujahid, Ibrahim An-Nakhai, Ats-Tsauri, Abu Tsaur, Ahmad -dalam sebuah riwayat-, Atha`, Al-Auzai dan selainnya. Dan inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, Asy-Syaukani dalam An-Nail dan Al-Albani dalam Tamamul Minnah.

Adapun keberadaan Ibnu Umar -secara tidak sengaja- melihat Nabi -shallallahu alaihi wasallam- buang air sambil membelakangi kiblat, maka ketidaksengajaan tersebut menunjukkan bahwa beliau -shallallahu alaihi wasallam- melakukan hal tersebut bukan untuk dicontoh dan tidak ingin diketahui oleh siapa pun, sehingga perbuatan membelakangi Ka’bah ketika buang air adalah khususiah (kekhususan) beliau yang tidak boleh dicontoh oleh umatnya. Berbeda halnya ketika beliau melarang kencing berdiri lalu beliau ‘sengaja’ memperlihatkan kepada Huzaifah kalau beliau kencing berdiri, maka ini bertujuan untuk dicontoh sehingga kencing berdiri ini bukanlah kekhususan beliau.

Di antara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, “Barangsiapa yang meludah ke arah kiblat maka dia datang pada hari kiamat dalam keadaan ludahnya berada di antara kedua matanya.” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 222, 223) Kalau meludah ke arah kiblat di dalam bangunan (masjid dan selainnya) saja diharamkan, maka bukankah buang air menghadap kiblat di dalam ruangan -apalagi diluar- lebih pantas untuk diharamkan?! Berfikirlah wahai orang-orang yang mempunyai hari nurani.

Lihat pembahasan lengkap dan bantahan kepada yang membedakan antara dalam bangunan dengan di luar bangunan dalam: Nailul Authar (1/95-99), Sailul Jarrar (1/69), Tamamul Minnah (hal. 59-60) dan Asy-Syarhul Mumti’ (1/125-126) Dan lihat juga masalah hukum melakukan jima’ menghadap dan membelakangi kiblat dalam Ihkamul Ahkam (hal. 44, 46-47).

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/adab-adab-istinja-buang-air.html

Yuk, Mengajarkan Bayi Kita Tentang Adab-Adab Islami


Penulis: Ummu Harun As Salafyah

Sudah menjadi kewajiban para orangtua untuk mengajarkan anak-anaknya tentang Islam dan mendidik untuk mengamalkannya sebagai bentuk realisasi dari firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim: 6)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu)

Mendidik anak untuk mengenal adab-adab Islami sudah bisa dilakukan (bahkan harus) diajarkan sejak usia bayi. Pada umumnya bayi usia 12 bulan atau mulai 14 bulan sudah mulai memperhatikan apa yang dilakukan orangtuanya dan sang bayi akan mencoba untuk mengikuti gerakannya. Bahkan cara bicara pun akan untuk diikuti. Naaah saat-saat inilah kesempatan bagi orangtua untuk memberikan contoh-contoh adab Islami dan menghindarkan dari segala perilaku dan perkataan yang buruk karena yang baik maupun buruk dari gerakan dan perkataan orangtua, bayi akan mencoba untuk mengikutinya.

Telah tsabit bahwasanya bayi memiliki hati dan perilaku yang baik semenjak dilahirkan. Maka peran orangtuanya lah yang menjadikannya kelak memiliki adab yang baik atau yang buruk.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan di atas fitrah, kedua orangtuanyalah yang mengubahnya menjadi seorang Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Sebagian kaum Muslimin yang memang masih awam pemahaman agamanya cenderung mengajari bayi mereka tentang hal yang mereka anggap baik padahal buruk di mata Allah Subhanahu wata’ala. Sehingga amat sangat disayangkan bayi yang masih polos diajarkan berjoget dan bernyanyi. Hingga ketika dikatakan, “gimana jogetnya?” ketika mendengar musik sang bayi spontan berjoget, atau mengucapkan, “kaciaaan dech lo!” sambil menggerakkan telunjuk dari atas ke bawah di depan hidung. Wallahul musta’an.

Di sini saya akan beri contoh sedikit dari perkara-perkara adab Islami yang bisa diajarkan kepada bayi meskipun hanya gerakan dan ucapan. Bertujuan agar bayi bangga dengan peradaban yang tinggi dari ajaran Islam dan tidak mengikuti tingkah laku orang-orang kuffar.

1. Adab memakai pakaian. Ajarkanlah sejak bayi untuk memulai mengenakan pakaian dari sebelah kanan.

Aisyah Radhiallaahu ‘anha di dalam haditsnya berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam suka bertayammun (memulai dengan yang kanan) di dalam segala perihalnya, ketika memakai sandal, menyisir rambut dan bersuci’. (Muttafaq’-alaih).

Ajarkan pula untuk membiasakan pakaian Muslim, misal buatkan gamis atau jubah untuk bayi laku-laki dan celana di atas mata kaki Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Apa yang berada di bawah kedua mata kaki dari kain itu di dalam neraka” (HR. Al-Bukhari). Adapun untuk bayi perempuan adalah gamis plus jilbab agar mereka terbiasa berpakian Islami. Hindarkan dari pakaian bergambar makhluk hidup dan carikan motif kotak-kotak atau garis-garis atau kembang atau motif mobil-mobilan dan sebagainya selain manusia dan binatang.

2. Belajar adzan. Coba diajarkan agar bayi suka mendengar adzan dan ia tahu bahwa suara adzan adalah lafalnya seperti itu. Kita peragakan dengan gerakan menempelkan tangan di telinga. Maka jika sewaktu-waktu terdengar adzan dari masjid atau radio dengan serta merta gerakan reflek si bayi akan spontan menempelkan tangan ke telinga memberitahu kita bahwa ada yang adzan. Subhanallah.

3. Belajar sholat. Biasakan kita untuk sholat dalam keadaan sepengatahuan bayi. (Inilah hikmah dari rumah yang mungil..ihiks.) sehingga bayi sudah hapal gerakan sholat dari takbiratul ihram, bersedekap, ruku, sujud. Maka kalau kita katakan, “bagaimana sholatnya, sayang?” ketika kita ucapkan, “Allaahu akbar” dengan spontan bayi akan membuat gerakan takbir, bersedekap, lalu ruku, dan sujud. subhanallah.

4. Belajar berdoa. Hal ini bisa dilakukan dengan selalu berdoa dalam keadaan sepengatahuan bayi. Kita praktikkan berdoa dengan cara mengangkat kedua tangan dan menempelkan keduanya. Maka kalau kita katakan, “yuk kita berdoa, sayang?” maka dengan gerakan spontan bayi akan membuat gerakan berdoa. Subhanallah.

5. Ucapkan salam dan cium tangan. Perkara cium tangan (salim) adalah adat kebiasaan masyarakat untuk menghormati orangtua. Tidak mengapa dipraktikkan karena tidak menyalahi syariat dan sudah dipahami masyarakat untuk menghormati orang tua. Maka biasakan ketika abi mau kerja, abi mengucapkan salam dan umi menjawabnya lalu salim terlebih dahulu yang diikuti bayi, demikian pula ketika abi pulang kerja, ucapkan salam sebelum masuk rumah dan umi menjawabnya lalu salim terlebih dahulu yang diikuti bayi. Sehingga bayi akan terbiasa mendengarkan salam dan cium tangan kepada orangtua misal eyangnya, mbahnya, om, pakde, tante, atau bude dan selainnya. Allah Tabaroka wata’ala berfirman,

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Maka apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. (QS. An Nuur: 61)

6. Buang air. Naah ini perkara penting yang harus diajarkan sejak dini. Biasakan bayi pipis di kamar mandi, tidak boleh pipis dengan cara ngompol. Biasakan sebelum bayi bobo malam ajak dia ke kamar mandi untuk pipis, buka celananya dan ucapkan, “sss…sss…sss” insya Allah pipisnya akan keluar. Langsung dicebok ya, karena adab dalam Islam adalah cebok setelah pipis agar kemaluannya suci. Setelah itu biasakan bayi cuci tangan dan cuci kaki. Demikian juga ketika bangun bobo langsung kita bawa ke kamar mandi untuk pipis, buka celananya dan ucapkan, “sss…sss…sss” insya Allah pipisnya akan keluar, cebok, cuci tangan dan cuci kaki. Maka bayi ndak akan ngompol.

Ajarkan bayi doa masuk ke kamar mandi dengan kita mengeraskan bacaannya supaya ia mendengar,

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Dengan namamu, Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari godaan syaitan laki-laki dan perempuan”.

Dan doa keluar dari kamar mandi,

غُفْرَانَكَ

“Aku minta ampun kepadaMu”.

Dan dengan spontan akan tumbuh dengan sendirinya pemikiran bayi bahwa pipis harus di kamar mandi. Hingga ketika bayi merasakan akan pipis ia akan berceloteh (kan blm bisa ngomong) sambil menunjuk kemaluannya, ini menandakan ia mau pipis, dan segeralah kita bawa ke kamar mandi. Pola pikir seperti ini akan terus ada bila ziaroh ke rumah saudara-saudaranya yang lain. Subhanallah.

7. Adab maem dan mimik. Di sini bayi bisa kita biasakan untuk maem dan mimik dengan tangan kanan. Ini adalah sunnah untuk maem dan mimik dengan tangan kanan dan ancaman menyelisihinya.

Dari Salamah bin Al-Akwa’, bahwasanya seseorang pernah makan di sisi Rasulullah dengan tangan kirinya. Maka beliau berkata: “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang itu berkata: “Saya tidak bisa.” (Maka) beliau berkata: “Kamu tidak akan bisa.” Tidak ada yang menghalangi orang tersebut (untuk makan dengan tangan kanannya) melainkan hanya kesombongan.

Berkata (Salamah bin Al-Akwa’): “Maka orang itu pun (akhirnya) tidak bisa mengangkat tangan (kanan)nya ke mulutnya.” (HR. Muslim no.2021)

Jika terkadang bayi suka maem biscuit nya sendirian ia sudah terbiasa memegang biscuitnya dengan tangan kanan mungilnya. Subhanallah.

Kemudian, biasakan untuk mengucapkan “bismillah” ketika menyuapi bayi. Sehingga bayi sering mendengar kalimat tersebut dan suatu saat jika ia sudah bisa berbicara akan spontan mengucap “bismillah” sebelum maem dan mimik. Subhanallah.

8. Adab sebelum bobo dan bangun dari bobo. Hal ini bisa diajarkan ketika bayi mau bobo malam agar ia terbiasa mendengarkan lafal doa sebelum bobo dan suatu saat bisa cepat menghapalnya:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا.

“Dengan namaMu, ya Allah! Aku mati dan hidup.” Lalu meniup kedua telapak tangannya dan mengusapinya dari ujung kepala kepada sampai mata kaki.

Dan ketika bangun bobo baca doa:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“Segala puji bagi Allah, yang membangunkan kami setelah ditidurkanNya dan kepadaNya kami dibangitkan.”

Demikianlah contoh-contoh untuk mengajarkan adab Islami kepada bayi kita, dan di sana masih banyak lagi adab-adab Islami yang lainnya. Dan sering-seringlah memberikan pujian kepada bayi apabila ia mempraktikkan suatu gerakan yang baik dengan misalnya ucapan, “anak pintaaar” atau “anak shaaliiiih” dan semacamnya berupa doa-doa yang sering kita berikan sambil membelai rambutnya, “Baarokallaahu fiik” atau “Hadakallaah” atau “ashlahakallah”.

Oh ya, biasakan yach bayi bangun pagi sebelum jam 6.00 WIB dan langsung pakpung (mandi). karena sebagai pembelajaran nanti dia dewasa untuk sholat shubuh bersama abi di masjid. Kalau bayi pakpung siang maka akan membiasakan ia malas pakpung pagi. Dan tentu saja abi dan umi memberi teladan untuk mandi pagi sebelum sholat shubuh dan bagi abi sholat shubuh berjamaah di masjid.

Taklim rutin

Ajaklah bayi untuk menghadiri kajian rutin Ahlus Sunnah sehingga ia akan terbiasa mendengarkan kajian Islam dan bertemu dengan temen-temannya sesama bayi. Demikian pula setiap hari perdengarkanlah ia suara rekaman kajian via kaset atau mp3 agar ia sudah terbiasa mendengarkan kajian Islam, murottal (bacaan Al Quran) dan jauh darinya suara-suara musik seruling syaithan. Kan ada tuch mp3 Al Quran anak-anak, seperti si kecil Ahmad Saud, Muhammad Thoha Al Junayd, atau tadarus anak-anak bersama Al Minsyawi.

Yang perlu dipahami adalah bahwasanya usia bayi adalah usia pembelajaran yang siap untuk menerima segala pelajaran. Makanya inilah saatnya memberikan anak pemahaman yang benar tentang adab-adab Islami. Jangan pernah mengatakan, “jangan” atau “tidak” kepada anak karena hanya akan membentuk sebuah pola diktator. Namun berilah jawaban, “Sayang, kalau kamu melakukan ini akan berakibat ini dan itu, begini saja yach” Lalu berilah ia pengganti atau solusi yang benar.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala menjadikan anak kita sebagai anak yang shalih, Aamiin.

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau (Al Baqarah 128)

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. (Ali Imran:38)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (Ibrahim: 40)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Furqaan: 74)

Wallahu a’lam

Dinukil dari:

http://sunniy.wordpress.com/2008/11/20/yuk-mengajarkan-bayi-kita-tentang-adab-adab-islami/