Tag Archives: pendidikan anak

Kapankah Anak Diajari Agama?


Penulis: Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah

Tanya:

Pada usia berapa anak sudah harus saya ajarkan tentang perkara agama?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Pengajaran terhadap anak sudah harus dimulai ketika mereka telah mencapai usia tamyiz1. Tentunya dimulai dengan tarbiyah diniyah (pendidikan agama), berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.”2

Bila anak telah mencapai usia tamyiz, orangtuanya diperintah untuk mengajarinya dan mentarbiyahnya di atas kebaikan, dengan mengajarinya Al-Qur`an dan hadits-hadits yang mudah. Mengajarinya hukum-hukum syariat yang cocok dengan usia si anak, misalnya bagaimana cara berwudhu dan bagaimana cara shalat. Si anak juga diajari dzikir-dzikir ketika mau tidur, bangun tidur, ketika hendak makan, minum, dan sebagainya. Selain itu, anak dilarang melakukan perkara-perkara yang tidak pantas serta diterangkan kepadanya bahwa perkara tersebut tidak boleh ia lakukan, seperti berdusta, namimah, dan selainnya. Hingga si anak terdidik di atas kebaikan dan terdidik untuk meninggalkan kejelekan sejak kecilnya.

Kenapa pengajaran ini dilakukan pada usia tamyiz? Karena pada usia ini, si anak bisa menalar apa yang diperintahkan kepadanya dan apa yang dilarang. Urusan pengajaran anak ini sangatlah penting. Namun sayangnya sebagian manusia lalai melakukannya terhadap anak-anak mereka.

Mayoritas orang tidak mementingkan perkara anak-anak mereka. Tidak mengarahkannya dengan arahan yang baik, bahkan membiarkan mereka tersia-siakan dari sisi tarbiyah diniyyah. Sehingga si anak tidak diperintah mengerjakan shalat dan tidak dibimbing kepada kebaikan, bahkan dibiarkan tumbuh di atas kebodohan dalam perkara agamanya serta terbiasa melakukan perbuatan yang tidak baik. Anak-anak dibiarkan bercampur-baur dan bergaul dengan orang-orang yang jelek, berkeliaran di jalan-jalan, menyia-nyiakan pelajaran mereka (enggan untuk belajar) serta kemudaratan lainnya, yang mana kebanyakan para pemuda muslimin tumbuh di atasnya disebabkan sikap masa bodoh orangtua mereka. Padahal para orangtua ini akan ditanya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak, karena merekalah yang bertanggung jawab terhadap anak-anak mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Apa yang diperintahkan dalam hadits di atas adalah pembebanan kepada para orangtua yang harus mereka tunaikan. Dengan begitu, orangtua yang tidak menyuruh anak-anak mereka mengerjakan shalat pada umur yang telah disebutkan berarti ia telah bermaksiat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.3 Ia telah melakukan keharaman dan meninggalkan kewajibannya yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيًّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.”4

Sangat disesalkan, sebagian orangtua sibuk dengan perkara dunianya hingga mengabaikan anak-anaknya. Tidak pula mereka menyempatkan waktunya untuk anak-anaknya. Seluruh waktunya tersita untuk perkara-perkara dunia. Kejelekan yang besar ini banyak dijumpai di negeri muslimin, yang menjadi sebab buruknya tarbiyah anak-anak mereka. Jadilah anak-anak tersebut tidak baik agama dan dunianya. La haula wala quwwata illa billahil ‘azhim. (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Agung.” (Fatawa Nurun ‘Alad Darb, Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan, hal. 115-116)

Footnote:

1 Belum baligh, namun sudah bisa menalar dan memahami ucapan serta dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. (-pent)
2 HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa`ul Ghalil, no. 247.
3 Tidak patuh dan taat kepada perintah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan dalam firman-Nya:

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang didatangkan oleh Rasul kepada kalian maka ambillah dan apa yang beliau larang maka berhenti (tinggalkan)lah.” (Al-Hasyr: 7)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bersabda:

ماَ نَهَيْتُُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apa yang aku larang kalian darinya, tinggalkanlah. Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) -pent.
4 HR.Al-Bukhari dan Muslim

(Sumber: Majalah Asy Syari’ah, Vol.IV/No.37/1429H/2008, Kategori: Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, hal. 89-90. Dicopy dari http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=607)

Dinuki dari:

http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/fatwa-ulama/kapankah-anak-diajari-agama/#more-340

Bersamamu Menyusuri Duniamu


Penulis: Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran

Di balik keceriaan sang anak, sesungguhnya ia membutuhkan perhatian dan bimbingan. Ia terkadang juga menginginkan bisa bermain bersama ayah atau ibunya. Sayangnya, banyak orangtua yang justru menghabiskan waktunya untuk berbagai urusan di luar rumah. Rutinitas kantor, janji dengan relasi atau mitra bisnis, aktivitas organisasi dan sebagainya seakan menjadi pembenar untuk mengabaikan keluarga.

 Dunia anak seolah tak lepas dari canda cerianya. Menyaksikan mereka berlari, bercanda dan bertingkah dengan segala keriangan hatinya, menatap mereka bermain dan bergurau dalam iringan gelak tawanya. Terkadang semua itu membuat hati tergerak untuk turut menikmati dunia mereka, merasakan kegembiraan yang mereka rasakan.

Namun di belahan lain, ada orang tua yang tidak sempat meluangkan waktunya untuk bermain dan bercanda dengan anak-anak. Waktu mereka “terlalu berharga” untuk itu, sementara di sana menunggu setumpuk tugas kantor atau deretan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan. Tak perlulah orang tua “menyia-nyiakan” waktu sekedar untuk bermain bersama anak-anak. Toh itu bukan lagi menjadi dunia mereka.

Sebenarnya tidaklah salah jika suatu waktu ayah ibu menyempatkan diri mengajak buah hatinya bercanda dan bersenda gurau. Jika dibuka lagi lembaran yang menuliskan kehidupan Rasulullah r, akan didapati bahwa yang demikian ini juga dilakukan oleh beliau. Telah banyak kisah yang dituturkan di mana semua itu menggambarkan rasa kasih sayang beliau terhadap anak-anak.
Para shahabat beliau yang mulia radhiallahu ‘anhum menceritakan, dalam banyak kesempatan Rasulullah r memberikan perhatian kepada anak-anak. Di antara mereka ada yang menceritakan pengalamannya bersama beliau, seperti Mahmud bin Ar-Rabi’ z yang berkisah:

“Aku masih ingat semburan Nabi r yang beliau semburkan di wajahku dari ember. Waktu itu usiaku masih lima tahun.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 77)
Demikian pula Anas bin Malik z yang menceritakan:

“Rasulullah r adalah orang yang paling baik akhlaknya. Aku memiliki saudara laki-laki bernama Abu ‘Umair yang waktu itu dia telah disapih. Apabila Rasulullah r datang, beliau menyapa, ‘Wahai Abu ‘Umair, apa yang dilakukan burung kecilmu?’ Dia biasa bermain dengan burung kecil itu.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6129 dan Muslim no. 2150)

Kisah Abu ‘Umair ini menunjukkan bolehnya seorang anak bermain dengan burung. Diperkenankan juga bercanda dengan gurauan yang tidak mengandung dosa, serta berlemah lembut dan bersikap ramah terhadap anak kecil. Demikian pulalah kebaikan akhlak, kemuliaan pribadi, dan ketawadhuan Rasulullah r tergambar dari kisah ini. (Syarh Shahih Muslim, 14/129)

Tak ketinggalan seorang shahabiyyah, Ummu Khalid bintu Khalid x mengisahkan pengalaman masa kecilnya bersama Rasulullah r, ketika menemui beliau bersama ayahnya:
“Aku pernah datang kepada Rasulullah r bersama ayahku. Waktu itu aku memakai baju kuning. Rasulullah r pun berkata, ‘Sanah, sanah!’ Abdullah (Ibnul Mubarak) berkata: Kata ini dalam bahasa Habasyiyah berarti bagus. Ummu Khalid bercerita lagi: Lalu aku bermain-main dengan tanda kenabian, hingga ayahku menghardikku. Melihat itu, Rasulullah r mengatakan, ‘Biarkan dia!’ Kemudian beliau bersabda, ‘Pakailah sampai usang, pakailah sampai usang, pakailah sampai usang’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5993)

Yang tak boleh luput dari perhatian, Rasulullah r memberikan gambaran kasih sayang dengan pelukan seperti kepada cucu beliau, Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib c. Peristiwa ini dikisahkan oleh Ya’la bin Murrah z:
“Kami pernah keluar bersama Nabi r. Pada waktu itu, kami diundang makan. Tiba-tiba Al-Husain bermain-main di jalan. Rasulullah r pun segera mendahului orang-orang, kemudian membentangkan kedua tangan beliau, dan berlari kesana kemari, mencandai Al-Husain hingga berhasil memegangnya. Kemudian beliau letakkan salah satu tangan di dagu Al-Husain, dan tangan yang sebelah di kepalanya. Beliau pun memeluk dan menciumnya, lalu berkata, ‘Al-Husain adalah bagian dariku, dan aku bagian darinya. Allah mencintai orang yang mencintai Al-Hasan dan Al-Husain. Mereka itu dua orang dari anak cucu Ibrahim u’.” (Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 279)

Pengertian dan kasih sayang juga terlukis pada diri Rasulullah r ketika bersama ‘Aisyah bintu Abi Bakr c, istri yang masih sangat belia ketika dipersunting beliau. Kala itu, masih lekat kegemaran ‘Aisyah x dengan permainan sebagaimana gadis kecil seusianya. Hal ini dikisahkan sendiri oleh ‘Aisyah:

“Demi Allah, aku pernah melihat Rasulullah r berdiri di pintu kamarku. Ketika itu orang-orang Habasyah sedang bermain-main dengan alat perang mereka di masjid Rasulullah r. Beliau menutupiku dengan selendangnya agar aku dapat menyaksikan permainan mereka. Beliau berdiri hingga aku sendiri yang beringsut dari situ. Maka hendaknya kalian mengerti keadaan seorang gadis kecil yang masih muda usianya dan senang dengan permainan.” (Shahih, HR. Muslim, no. 892)

Dari sini terlihat kasih sayang, kebaikan akhlak dan pergaulan Rasulullah r terhadap keluarga dan istri-istri beliau, maupun yang lainnya. (Syarh Shahih Muslim, 6/184)

Dari sini pula tergambar bahwa saat itu ‘Aisyah x adalah seorang gadis kecil yang masih menyukai hiburan dan pertunjukan, teramat senang melihat permainan dan ingin menyaksikannya selama mungkin tanpa rasa bosan, kecuali setelah waktu yang lama. Ucapan ‘Aisyah di akhir penuturannya menunjukkan bahwa seorang gadis kecil masih berminat dan menyukai permainan. (Syarh Shahih Muslim, 6/185)

Demikian dunia mereka. Sarat canda dan permainan. Namun tentunya tak patut dilupakan pandangan syariat tentang jenis-jenis permainan yang boleh digunakan oleh anak. ‘Aisyah x menceritakan:

“Dulu aku biasa bermain boneka-boneka perempuan di sisi Rasulullah r, dan aku memiliki beberapa teman yang biasa bermain denganku. Apabila Rasulullah r datang, mereka bersembunyi dari beliau. Kemudian beliau menggiring mereka kembali padaku, lalu mereka bermain lagi bersamaku.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6130 dan Muslim no. 2440)

Kisah ‘Aisyah x ini membuahkan faidah tentang bolehnya anak-anak perempuan bermain boneka untuk mengajarkan dan melatih mereka tentang urusan yang berkaitan dengan diri mereka, rumah tangga dan anak-anak.  Hal ini termasuk pengkhususan dari keumuman gambar yang dilarang. Demikian diterangkan oleh Al-Imam An-Nawawi t. (Syarh Shahih Muslim, 15/204)1

Permainan ini pula yang diberikan oleh para ibu di kalangan shahabat ketika melatih anak-anak mereka berpuasa sehingga perhatian mereka beralih dari makanan. Hal ini diceritakan oleh Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz x:
“Nabi r mengutus seseorang kepada penduduk Anshar pada pagi hari ‘Asyura untuk mengumumkan, barangsiapa yang pada pagi harinya dalam keadaan tidak berpuasa, maka hendaknya menyempurnakan sisa harinya dengan berpuasa. Dan barangsiapa pada pagi harinya dalam keadaan berpuasa, maka hendaknya dia berpuasa pada hari itu. Maka kami pun berpuasa setelah itu dan menyuruh anak-anak kami turut berpuasa. Kami membuat mainan dari wol untuk mereka. Jika mereka menangis karena minta makan, kami berikan mainan itu, hingga tiba waktu berbuka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)

Asy-Syaikh Muqbil t membawakan hadits ‘Aisyah dan hadits Ar-Rubayyi’ ini dalam kitabnya Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah pada bab “Bolehnya menggunakan mainan dari wol dan kain untuk anak-anak”. (Hukmu Tashwir, hal. 59)

Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafizhahullah menjelaskan bolehnya anak-anak perempuan bermain dengan mainan berbentuk anak kecil yang dibuat dari perca, yang dapat dikenakan pakaian, dimandikan dan ditidurkannya. Ini bermanfaat dalam rangka mengajari mereka tentang pendidikan anak ketika kelak mereka menjadi ibu. Akan tetapi, tidak boleh membeli mainan (boneka) asing untuk mereka, terutama boneka-boneka yang berbentuk wanita asing yang membuka aurat, sehingga anak-anak akan belajar dan mengikuti mereka. (Kaifa Nurabbi Auladana, hal. 53)

Begitu pun masalah permainan ini dijumpai di kalangan para pendahulu kita yang shalih. Di antara mereka ada Ibrahim bin Yazid An-Nakha’i t yang menyatakan:

“Shahabat-shahabat kami memberikan keringanan bagi kami pada seluruh jenis permainan, kecuali anjing.” Abu Abdillah (Al-Imam Al-Bukhari) mengatakan: “Yang dimaksud di sini adalah permainan untuk anak-anak.” (Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 976: shahihul isnad maqthu’)

Namun ada hal yang tidak boleh dilalaikan oleh ayah bunda. Yakni agar melarang anak melakukan permainan yang dilarang oleh syariat, seperti permainan dadu. Rasulullah r bahkan memberikan ancaman kepada orang-orang yang bermain dadu. Ini disampaikan oleh Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah r bersabda:
“Barangsiapa bermain dengan dadu, maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 957: hasan)

Dijelaskan pula oleh Abdullah bin Mas’ud z yang mengatakan:
“Hati-hatilah kalian terhadap dua dadu ini, karena keduanya ini termasuk perjudian.” (Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 958: shahih)

Bahkan para shahabat tidak segan bersikap keras bila melihat salah seorang dari keluarganya bermain dadu. Hal ini pernah dilakukan oleh Abdullah bin ‘Umar c, sebagaimana dikisahkan oleh Nafi’:

“Apabila Abdullah bin ‘Umar mendapati salah seorang dari anggota keluarganya bermain dadu, maka beliau memukulnya dan memecahkan dadu itu.” (Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 960: shahihul isnad mauquf)

Inilah dunia anak. Dunia bermain dan canda tawa. Sebagai cerminan rasa kasih dari sanubari, tak inginkah ayah dan ibu turut bersama mereka menikmati kegembiraan dalam naungan pengajaran Nabi r…? Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.


Namun sebagian ulama, seperti Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berpendapat bahwa boneka-boneka mainan ‘Aisyah x bentuknya sederhana sekali dan tidak begitu persis menyerupai makhluk aslinya. Adapun boneka-boneka sekarang yang bentuknya begitu persis dengan aslinya bahkan bisa bergerak dan bersuara maka lebih baik (utama) menghindarinya. Bila hendak berhati-hati maka kepalanya dicopot atau dipanaskan sampai menjadi lembek lelu disederhanakan sehingga tidak persis dengan aslinya, atau yang semacamnya. Lihat Majmu’ah As-ilatin Tuhimmu Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 135-136. (ed)

Dinukil dari:

http://www.asysyariah.com/sakinah/permata-hati/858-bersamamu-menyusuri-duniamu-permata-hati-edisi-7.html

Bunda, Kemanakan Engaku Bawa?


Anak adalah amanah. Membesarkan anak bukan semata dengan memenuhi berbagai keinginannya. Lebih dari itu, yang paling penting adalah bagaimana menanamkan pemahaman agama sejak dini, sehingga anak bisa mengenal Allah l, Nabi-Nya, serta memiliki akhlak mulia.

Anak adalah karunia dan nikmat dari Allah l. Terasa bahagia hati tatkala melihat mereka, terasa sejuk mata saat memandang mereka. Begitu pun jiwa terasa bahagia dengan keceriaan mereka. Bahkan nikmat Allah l yang satu ini termasuk dalam doa Nabi Zakaria q. Beliau mengatakan, “Rabb-ku, janganlah Kau membiarkanku seorang diri, sesungguhnya Engkau sebaik-baik yang mewarisi.” (al-Anbiya: 89)

Anak adalah perhiasan hidup di dunia. Orang yang tidak dikaruniai anak akan mengetahui betapa besar nikmat ini.

Adapun dirimu, sungguh engkau adalah seorang ibu yang akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang telah Allah l bebankan kepadamu pada hari kiamat nanti, apakah engkau menjaganya ataukah menyia-nyiakannya?
Ketahuilah olehmu, kesempurnaan perhiasan seorang anak tidaklah akan diraih kecuali dengan agama dan kebaikan akhlaknya. Bila tidak demikian, anak hanya akan menjadi musibah bagi kedua orang tuanya di dunia dan akhirat.

Banyak masalah yang berkaitan dengan pendidikan mereka secara umum, akan tetapi kita tidak akan membahas panjang lebar, namun sekadar menyinggung beberapa perkara yang paling penting:

q Bersemangatlah untuk menyela-matkan akidah mereka dari perkara-perkara yang bisa mengotorinya. Hindarkanlah mereka dari memakai jimat-jimat, meramal nasib dengan melihat garis tangan, atau bentuk-bentuk ramalan yang lainnya. Jadikanlah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya n sebagai sesuatu yang agung dalam hati mereka.

q    Bersemangatlah dalam menanam-kan keimanan, kebaikan, dan perasaan selalu diawasi oleh Allah l dalam hati mereka. Renungkanlah wasiat Luqman kepada anak-anaknya:“Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah tetap mendatangkannya (membalasnya).” (Luqman: 16)
Mereka harus senantiasa diingatkan bahwa Allah Maha Mengawasi dan Maha Melihat amalan hamba-hamba-Nya.

Diriwayatkan dari Tsabit bin Qais dari Anas bin Malik z, ia mengisahkan, “Rasulullah mendatangiku ketika aku sedang bermain dengan teman-temanku. Beliau memberi salam kepada kami, kemudian mengutusku untuk suatu keperluan, sehingga aku terlambat datang kepada ibuku. Ketika aku datang, ibuku bertanya, ‘Apa yang membuatmu terlambat?’ Maka aku menjawab, ‘Rasulullah n mengutusku untuk suatu keperluan.’ Ibuku bertanya lagi, ‘Apa keperluan beliau?’ Aku katakan, ‘Ini rahasia.’ Maka ibuku pun mengatakan, ‘Kalau begitu, jangan sekali-kali kau ceritakan rahasia Rasulullah n kepada seorang pun.’ Anas berkata, ‘Demi Allah, seandainya aku memberitahukan rahasia itu kepada seseorang, sungguh aku juga akan memberitahukan kepadamu, wahai Tsabit!’.” (Sahih, HR. Muslim)

Perhatikanlah. Sang ibu tidaklah menghukum anaknya ketika merahasiakan urusan Rasulullah n terhadapnya. Berbeda dengan yang dilakukan oleh sebagian ibu yang lain. Bahkan beberapa di antara kaum ibu terlalu banyak bertanya kepada anak mereka tentang hal-hal yang tidak layak diketahui banyak orang dari suatu rumah yang dikunjungi si anak. Juga tentang segala yang terjadi di antara penghuni rumah tersebut. Dengan semua itu, tanpa disadari sang ibu telah menanamkan dalam diri anaknya sifat fudhul (terlalu ingin tahu urusan orang lain) dan suka menyebarkan rahasia.

q    Ingatkanlah mereka, bahwa Allah Mahaperkasa, menghukum hamba-hamba-Nya yang bermaksiat kepada-Nya, Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap orang-orang yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Ingatkanlah mereka tentang maut dan beratnya kematian, tentang alam kubur dan kegelapannya, serta tentang kiamat dan kengerian pada saat itu.
Perintahkanlah mereka untuk selalu taat kepada Allah l, terlebih lagi dalam perkara shalat. Dampingilah mereka dalam melaksanakannya dan bangunkan mereka dari tidurnya untuk shalat. Tanamkanlah dalam diri-diri mereka agungnya kedudukan shalat. Waspadalah dari perasaan kasih sayang terhadap mereka yang justru membuatmu tidak membangunkan mereka, yang dapat menyebabkan dirimu dan dirinya masuk ke dalam neraka. Wal ‘iyadzu billah.

Biasakanlah mereka berpuasa sejak kanak-kanak agar mudah melaksanakannya ketika usia mereka telah baligh dan sadarkanlah mereka terhadap pengawasan Allah l. Sesungguhnya puasa adalah pendidik paling besar bagi mereka agar mereka menyadari bahwa Allah Maha Mengawasi.

q    Awasilah anak-anakmu dan jangan biarkan mereka bermudah-mudah melakukan perkara-perkara yang mungkar, sementara engkau mengetahuinya. Janganlah berdiam diri sementara engkau mengetahui bahwa putrimu mendengarkan nyanyian (musik), mengenakan cat kuku (kuteks) lalu berwudhu tanpa menghilangkannya, mengerik alisnya, melepaskan hijab yang syar’i, keluar dengan memakai wewangian, bepergian sendiri baik ke pasar maupun ke tempat-tempat umum lainnya, mengendarai mobil berdua saja dengan sopir, atau ia suka membaca majalah-majalah yang dapat merusaknya!
Janganlah engkau meletakkan telepon di kamar pribadinya dan awasilah ia dari jauh. Janganlah bersikap terlalu percaya yang berlebihan atau merasa waswas yang keterlaluan yang dapat memengaruhi diri putrimu hingga ia kehilangan rasa percaya dirinya.

Wahai ibu yang mulia, hindarilah memberikan protes tanpa mampu berbuat sesuatu kepadanya atau engkau semata-mata membenci kemungkaran yang dilakukannya tanpa tindakan apapun. Akan tetapi, jadilah orang yang kuat memegang al-haq yang tidak akan ridha pada sesuatu yang batil, namun lemah lembut dan penyayang dalam perkara-perkara selain itu. Didiklah dengan baik putrimu karena kelak di hari akhir dia bisa menjadi tabir/penghalang api neraka darimu.

Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata, “Berbuat baik terhadap anak-anak perempuan diwujudkan dengan mendidik mereka dengan pendidikan Islami, mengajarkan ilmu kepada mereka, membesarkan mereka di atas al-haq dan semangat untuk menjaga kehormatan diri, serta menjauhkan mereka dari perkara-perkara yang diharamkan Allah l berupa tabarruj1 dan selainnya. Demikianlah metode mendidik anak-anak perempuan ataupun anak laki-laki, juga dengan hal-hal selain itu yang termasuk sisi-sisi kebaikan. Sehingga mereka semua terdidik untuk taat kepada Allah l dan Rasul-Nya, serta menjauhkan diri dari perkara-perkara yang diharamkan Allah l dan menegakkan hak-hak-Nya. Dengan demikian, kita ketahui bahwasanya maksud berbuat baik di sini bukanlah semata-mata memberi mereka makan, minum, dan pakaian saja. Bahkan maksudnya lebih besar daripada itu semua, yaitu berbuat kebaikan kepada mereka, baik dalam masalah agama maupun dunia.”
Beliau juga berkata, ”Hadits ini ditujukan kepada ayah atau ibu secara umum.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Muta’addidah, 4/377)

q Peringatkan putra-putrimu dari teman-teman yang jelek dan jelaskan bahayanya bergaul dengan mereka. Jagalah mereka dari bermain di jalanan serta bahayanya. Buatlah mereka sibuk dengan perkara-perkara yang memberi manfaat pada diri mereka, seperti menghafal Al-Qur’an di masjid.

Janganlah engkau memasukkan alat-alat yang diharamkan ke dalam rumah, terlebih lagi video (sekarang VCD, DVD, dsb), walaupun engkau memberikannya dengan maksud sekadar untuk menghibur mereka.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t berkata dalam tafsirnya, “Barang siapa meninggalkan sesuatu yang disukai oleh hawa nafsunya karena Allah l, maka Allah l akan memberi ganti yang lebih baik darinya di dunia dan akhirat. Demikianlah. Barang siapa meninggalkan maksiat karena Allah l, padahal hawa nafsunya ingin melakukannya, Allah l akan menggantikannya dengan keimanan dalam hatinya, berikut keluasan, kelapangan, dan berkah dalam rezekinya serta kesehatan badannya, disamping pahala dari Allah l yang ia tidak akan mampu menggambarkannya.” (Taisir al-Karimir Rahman)

Waspadalah, wahai saudariku muslimah, dari mendoakan kejelekan atas anak-anakmu, walaupun dirimu dalam keadaan marah. Bisa jadi doamu bertepatan dengan waktu terkabulnya doa, hingga doa jelekmu itu terkabul. Sebaliknya, perbanyaklah mendoakan kebaikan bagi mereka.

Kita memohon kepada Allah k untuk memperbaiki anak-anak kita serta menjadikan mereka penghibur hati bagi kita di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah l menolong kita dalam mengemban amanah ini.

(Diterjemahkan dengan ringkas oleh Ummu ‘Affan bintu Abi Salim dari tulisan aslinya yang bertajuk Tarbiyatul Abna’ ‘Ala Manhaj as-Salaf, sebuah artikel yang diambil dari Ruknul Mar’ah as-Salafiyah, http://www.sahab.net)


1 Tabarruj adalah bersolek dan berhias di hadapan selain mahram.

Dinukil dari: http://www.asysyariah.com/sakinah/mutiara-kata/600-bunda-kemanakan-engaku-bawa-mutiara-kata-edisi-1.html

Yuk, Mengajarkan Bayi Kita Tentang Adab-Adab Islami


Penulis: Ummu Harun As Salafyah

Sudah menjadi kewajiban para orangtua untuk mengajarkan anak-anaknya tentang Islam dan mendidik untuk mengamalkannya sebagai bentuk realisasi dari firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim: 6)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu)

Mendidik anak untuk mengenal adab-adab Islami sudah bisa dilakukan (bahkan harus) diajarkan sejak usia bayi. Pada umumnya bayi usia 12 bulan atau mulai 14 bulan sudah mulai memperhatikan apa yang dilakukan orangtuanya dan sang bayi akan mencoba untuk mengikuti gerakannya. Bahkan cara bicara pun akan untuk diikuti. Naaah saat-saat inilah kesempatan bagi orangtua untuk memberikan contoh-contoh adab Islami dan menghindarkan dari segala perilaku dan perkataan yang buruk karena yang baik maupun buruk dari gerakan dan perkataan orangtua, bayi akan mencoba untuk mengikutinya.

Telah tsabit bahwasanya bayi memiliki hati dan perilaku yang baik semenjak dilahirkan. Maka peran orangtuanya lah yang menjadikannya kelak memiliki adab yang baik atau yang buruk.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan di atas fitrah, kedua orangtuanyalah yang mengubahnya menjadi seorang Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Sebagian kaum Muslimin yang memang masih awam pemahaman agamanya cenderung mengajari bayi mereka tentang hal yang mereka anggap baik padahal buruk di mata Allah Subhanahu wata’ala. Sehingga amat sangat disayangkan bayi yang masih polos diajarkan berjoget dan bernyanyi. Hingga ketika dikatakan, “gimana jogetnya?” ketika mendengar musik sang bayi spontan berjoget, atau mengucapkan, “kaciaaan dech lo!” sambil menggerakkan telunjuk dari atas ke bawah di depan hidung. Wallahul musta’an.

Di sini saya akan beri contoh sedikit dari perkara-perkara adab Islami yang bisa diajarkan kepada bayi meskipun hanya gerakan dan ucapan. Bertujuan agar bayi bangga dengan peradaban yang tinggi dari ajaran Islam dan tidak mengikuti tingkah laku orang-orang kuffar.

1. Adab memakai pakaian. Ajarkanlah sejak bayi untuk memulai mengenakan pakaian dari sebelah kanan.

Aisyah Radhiallaahu ‘anha di dalam haditsnya berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam suka bertayammun (memulai dengan yang kanan) di dalam segala perihalnya, ketika memakai sandal, menyisir rambut dan bersuci’. (Muttafaq’-alaih).

Ajarkan pula untuk membiasakan pakaian Muslim, misal buatkan gamis atau jubah untuk bayi laku-laki dan celana di atas mata kaki Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Apa yang berada di bawah kedua mata kaki dari kain itu di dalam neraka” (HR. Al-Bukhari). Adapun untuk bayi perempuan adalah gamis plus jilbab agar mereka terbiasa berpakian Islami. Hindarkan dari pakaian bergambar makhluk hidup dan carikan motif kotak-kotak atau garis-garis atau kembang atau motif mobil-mobilan dan sebagainya selain manusia dan binatang.

2. Belajar adzan. Coba diajarkan agar bayi suka mendengar adzan dan ia tahu bahwa suara adzan adalah lafalnya seperti itu. Kita peragakan dengan gerakan menempelkan tangan di telinga. Maka jika sewaktu-waktu terdengar adzan dari masjid atau radio dengan serta merta gerakan reflek si bayi akan spontan menempelkan tangan ke telinga memberitahu kita bahwa ada yang adzan. Subhanallah.

3. Belajar sholat. Biasakan kita untuk sholat dalam keadaan sepengatahuan bayi. (Inilah hikmah dari rumah yang mungil..ihiks.) sehingga bayi sudah hapal gerakan sholat dari takbiratul ihram, bersedekap, ruku, sujud. Maka kalau kita katakan, “bagaimana sholatnya, sayang?” ketika kita ucapkan, “Allaahu akbar” dengan spontan bayi akan membuat gerakan takbir, bersedekap, lalu ruku, dan sujud. subhanallah.

4. Belajar berdoa. Hal ini bisa dilakukan dengan selalu berdoa dalam keadaan sepengatahuan bayi. Kita praktikkan berdoa dengan cara mengangkat kedua tangan dan menempelkan keduanya. Maka kalau kita katakan, “yuk kita berdoa, sayang?” maka dengan gerakan spontan bayi akan membuat gerakan berdoa. Subhanallah.

5. Ucapkan salam dan cium tangan. Perkara cium tangan (salim) adalah adat kebiasaan masyarakat untuk menghormati orangtua. Tidak mengapa dipraktikkan karena tidak menyalahi syariat dan sudah dipahami masyarakat untuk menghormati orang tua. Maka biasakan ketika abi mau kerja, abi mengucapkan salam dan umi menjawabnya lalu salim terlebih dahulu yang diikuti bayi, demikian pula ketika abi pulang kerja, ucapkan salam sebelum masuk rumah dan umi menjawabnya lalu salim terlebih dahulu yang diikuti bayi. Sehingga bayi akan terbiasa mendengarkan salam dan cium tangan kepada orangtua misal eyangnya, mbahnya, om, pakde, tante, atau bude dan selainnya. Allah Tabaroka wata’ala berfirman,

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Maka apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. (QS. An Nuur: 61)

6. Buang air. Naah ini perkara penting yang harus diajarkan sejak dini. Biasakan bayi pipis di kamar mandi, tidak boleh pipis dengan cara ngompol. Biasakan sebelum bayi bobo malam ajak dia ke kamar mandi untuk pipis, buka celananya dan ucapkan, “sss…sss…sss” insya Allah pipisnya akan keluar. Langsung dicebok ya, karena adab dalam Islam adalah cebok setelah pipis agar kemaluannya suci. Setelah itu biasakan bayi cuci tangan dan cuci kaki. Demikian juga ketika bangun bobo langsung kita bawa ke kamar mandi untuk pipis, buka celananya dan ucapkan, “sss…sss…sss” insya Allah pipisnya akan keluar, cebok, cuci tangan dan cuci kaki. Maka bayi ndak akan ngompol.

Ajarkan bayi doa masuk ke kamar mandi dengan kita mengeraskan bacaannya supaya ia mendengar,

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Dengan namamu, Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari godaan syaitan laki-laki dan perempuan”.

Dan doa keluar dari kamar mandi,

غُفْرَانَكَ

“Aku minta ampun kepadaMu”.

Dan dengan spontan akan tumbuh dengan sendirinya pemikiran bayi bahwa pipis harus di kamar mandi. Hingga ketika bayi merasakan akan pipis ia akan berceloteh (kan blm bisa ngomong) sambil menunjuk kemaluannya, ini menandakan ia mau pipis, dan segeralah kita bawa ke kamar mandi. Pola pikir seperti ini akan terus ada bila ziaroh ke rumah saudara-saudaranya yang lain. Subhanallah.

7. Adab maem dan mimik. Di sini bayi bisa kita biasakan untuk maem dan mimik dengan tangan kanan. Ini adalah sunnah untuk maem dan mimik dengan tangan kanan dan ancaman menyelisihinya.

Dari Salamah bin Al-Akwa’, bahwasanya seseorang pernah makan di sisi Rasulullah dengan tangan kirinya. Maka beliau berkata: “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang itu berkata: “Saya tidak bisa.” (Maka) beliau berkata: “Kamu tidak akan bisa.” Tidak ada yang menghalangi orang tersebut (untuk makan dengan tangan kanannya) melainkan hanya kesombongan.

Berkata (Salamah bin Al-Akwa’): “Maka orang itu pun (akhirnya) tidak bisa mengangkat tangan (kanan)nya ke mulutnya.” (HR. Muslim no.2021)

Jika terkadang bayi suka maem biscuit nya sendirian ia sudah terbiasa memegang biscuitnya dengan tangan kanan mungilnya. Subhanallah.

Kemudian, biasakan untuk mengucapkan “bismillah” ketika menyuapi bayi. Sehingga bayi sering mendengar kalimat tersebut dan suatu saat jika ia sudah bisa berbicara akan spontan mengucap “bismillah” sebelum maem dan mimik. Subhanallah.

8. Adab sebelum bobo dan bangun dari bobo. Hal ini bisa diajarkan ketika bayi mau bobo malam agar ia terbiasa mendengarkan lafal doa sebelum bobo dan suatu saat bisa cepat menghapalnya:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا.

“Dengan namaMu, ya Allah! Aku mati dan hidup.” Lalu meniup kedua telapak tangannya dan mengusapinya dari ujung kepala kepada sampai mata kaki.

Dan ketika bangun bobo baca doa:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“Segala puji bagi Allah, yang membangunkan kami setelah ditidurkanNya dan kepadaNya kami dibangitkan.”

Demikianlah contoh-contoh untuk mengajarkan adab Islami kepada bayi kita, dan di sana masih banyak lagi adab-adab Islami yang lainnya. Dan sering-seringlah memberikan pujian kepada bayi apabila ia mempraktikkan suatu gerakan yang baik dengan misalnya ucapan, “anak pintaaar” atau “anak shaaliiiih” dan semacamnya berupa doa-doa yang sering kita berikan sambil membelai rambutnya, “Baarokallaahu fiik” atau “Hadakallaah” atau “ashlahakallah”.

Oh ya, biasakan yach bayi bangun pagi sebelum jam 6.00 WIB dan langsung pakpung (mandi). karena sebagai pembelajaran nanti dia dewasa untuk sholat shubuh bersama abi di masjid. Kalau bayi pakpung siang maka akan membiasakan ia malas pakpung pagi. Dan tentu saja abi dan umi memberi teladan untuk mandi pagi sebelum sholat shubuh dan bagi abi sholat shubuh berjamaah di masjid.

Taklim rutin

Ajaklah bayi untuk menghadiri kajian rutin Ahlus Sunnah sehingga ia akan terbiasa mendengarkan kajian Islam dan bertemu dengan temen-temannya sesama bayi. Demikian pula setiap hari perdengarkanlah ia suara rekaman kajian via kaset atau mp3 agar ia sudah terbiasa mendengarkan kajian Islam, murottal (bacaan Al Quran) dan jauh darinya suara-suara musik seruling syaithan. Kan ada tuch mp3 Al Quran anak-anak, seperti si kecil Ahmad Saud, Muhammad Thoha Al Junayd, atau tadarus anak-anak bersama Al Minsyawi.

Yang perlu dipahami adalah bahwasanya usia bayi adalah usia pembelajaran yang siap untuk menerima segala pelajaran. Makanya inilah saatnya memberikan anak pemahaman yang benar tentang adab-adab Islami. Jangan pernah mengatakan, “jangan” atau “tidak” kepada anak karena hanya akan membentuk sebuah pola diktator. Namun berilah jawaban, “Sayang, kalau kamu melakukan ini akan berakibat ini dan itu, begini saja yach” Lalu berilah ia pengganti atau solusi yang benar.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala menjadikan anak kita sebagai anak yang shalih, Aamiin.

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau (Al Baqarah 128)

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. (Ali Imran:38)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (Ibrahim: 40)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Furqaan: 74)

Wallahu a’lam

Dinukil dari:

http://sunniy.wordpress.com/2008/11/20/yuk-mengajarkan-bayi-kita-tentang-adab-adab-islami/

 

“Sebelum Anak Terlanjur Cerdas”


Penulis: Al Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin

Terlanjur cerdas ? Cerdas koq bisa terlanjur ? Bukankah setiap orang mendambakan anaknya cerdas ? Apalagi kata “terlanjur”   konotasinya jelek . -suatu yang tidak diharapkan-,  seperti;  terlanjur basah, terlanjur jatuh, atau terlanjur menjadi bubur,

Anak cerdas, siapa tak mau ? Tetapi itu bukan segala-galanya. Terlebih kalau ia dijadikan dasar bagi segala pertimbangan, mengalahkan bekal-bekal hidup lainnya yang mutlak dimiliki setiap manusia. Apalagi jika yang dimaksud cerdas itu tak lebih dari sebentuk kemampuan menalar, memahami, dan menarik kesimpulan, atau sekedar mampu berpikir logis , menemukan dan memecahkan jawaban-jawaban matematis.

Bahkan sekalipun kecerdasan itu -juga- meliputi kemampuan mengenal dan mengelola perasaan diri,  yang dengannya seseorang mampu memahami kemudian merespon orang lain melalui sikap dan tindakan. Sejenis potensi -yang menurut teori Emotional Quotient (EQ)-nya Goleman- berupa kecerdasan emosional, yang berfungsi mengimbangi kecerdasan intelektual !

Bahkan sekalipun kecerdasan itu -juga- berupa kemampuan memahami akan  nilai-nilai dan makna kehidupan, menumbuhkan harapan-harapan serta keyakinan. Sejenis potensi -yang menurut teori Spiritual Quotient (SQ)-nya Danah Zohar dan Ian Marshall- berupa kecerdasan spiritual, yang berfungsi mengimbangi bahkan mengendalikan kecerdasan intelektual dan emosional sekaligus !

 

  • Latih Mereka Menjadi Orang Yang Amanah

Sesungguhnya amanah dan sifat-sifat yang menyertainya, seperti jujur, menepati janji, dan tidak khianat merupakan dasar dari segala bentuk tanggung-jawab pada setiap pribadi -sebagai apapun dia-. Karena jujur dan bersifat amanah adalah awal dan modal dasar bagi seseorang di dalam hidup bermasyarakat. Untuk mengemban inilah ALLAH -Subhaanahu wa ta’alaa- menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْأِنْسَانُ

إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً (الأحزاب:72)

(Sesungguhnya, telah Kami kemukakan amanat kepada langit, bumi ,dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu, khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh) (Al Ahzab: 72)

Melalui ayat di atas, tampaklah bahwa Amanah -berupa keta’atan dan kejujuran- adalah sesuatu yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa bebankan kepada manusia, namun manusia menganggapnya sebagai suatu perkara yang sepele. Karena itu ALLAH Subhaanahu wa ta’alla mencap manusia sebagai makhluq yang zalim dan bodoh. Artinya, menyepelekan perkara amanah merupakan satu di antara bentuk kezaliman. Dan seorang yang tidak amanah hanya mungkin cerdas dalam pandangan manusia, namun tidak dalam pandangan ALLAH.

Maka apa jadinya kecerdasan itu jika tidak dibarengi dengan kejujuran dan sifat amanah. Bukankah kezaliman yang ditimbulkannya akan menjadi berlipat ganda dibanding apabila tak disertai kecerdasan. Dengan kepandaian berbicara serta mengelola mimik dan tingkah laku secara meyakinkan -sebagaimana pemain sandiwara-, si cerdas tadi mengelabui manusia, menciptakan berjuta alasan untuk mengingkari janji, dan mengkhianati kepercayaan manusia kepadanya. Semua itu dengan modal kecerdasan.

Maka hendaknya sejak dini pendidikan harus mengutamakan perkara ini. Arti jujur dan amanah sudah harus diperkenalkan sejak pertama kali anak bisa diberi sedikit pengertian, Segala upaya dan sarana yang dapat menanamkan kejujuran dan menumbuhkan sifat amanah harus diciptakan. Dan segala suasana dan sarana yang dapat menghantarkan kepada sifat-sifat bohong, mungkir, dan khianat harus dihilangkan dari segala media pendidikan.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:آية المنافق ثلاث: إذا حدث كذب، وإذا وعد أخلف،

وإذا اؤتمن خان. (البخاري)

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- , dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabada: “Tanda kemunafiqan itu tiga. Jika bicara, dusta. Jika berjanji, ingkar. Jika diamanahi, khianat.” (HR; Al Bukhari)

Melalui Hadits di atas nampak bahwa  dusta, ingkar janji, dan khianat berasal dari akar sifat yang sama, yakni munafiq..Karena itu, jika kita mengajari anak berdusta, mengingkari janji, dan mengkhianati amanah, artinya kita telah menanamkan sifat-sifat munafiq pada anak.

Tentu saja tak ada orang tua yang menginginkan anaknya jadi orang munafiq. Tak ada orang tua -yang sehat- merasa atau mengaku telah mengajari anaknya berdusta, terbiasa mengingkari janji, atau mengkhianati amanah.  Tentu saja kita semua tidak merasa telah berbuat seperti itu.

Tetapi kenapa dongeng-dongeng khayali yang kita jejali ke telinga mereka sebagai pengantar tidurnya ? Kenapa kita biarkan mereka membaca cerita-cerita fiktif sejak pertama sekali mereka bisa membaca ? Kenapa sandiwara dan sinetron kita biarkan menjadi konsumsi mereka sehari-hari ? Apalagi kalau disertai harapan dapat mengambil pelajaran atau hikmah darinya -seperti kebanyakan orang yang menganggap film atau sandiwara bisa jadi media da’wah. Bukankah itu semua dusta ? Kalau tidak dusta dari sisi cerita, dusta dari sisi peran. Bagaimana mungkin kita mengajarkan nilai kejujuran lewat cara-cara dusta ?

Selain itu, mungkin kita sering mengingkari apa yang kita janjikan kepada anak kita  Beli sepeda baru, berlibur ke rumah nenek, atau tamasya ke pantai, yang berulang kali janji tersebut harus kita perbaharui sambil tak lupa mengumbar macam-macam alasan. Menyuruh anak -berbohong- menjawab telepon atau mengatakan kepada tamu di depan rumah , “Papa tidak ada!“, Atau kita pernah ancam mereka, “Awas, jangan kasih tahu Mama!

Sungguh ternyata kita sendiri lah yang telah membuat anak-anak terbiasa dengan dusta. Ya, ternyata kita sendiri yang menginginkan -tanpa kita sadari- mereka jadi orang munafiq. Ternyata kita sendiri yang mengajari -tanpa kita sadari- mereka suka mengingkari janji dan mengkhianati amanah.

Maka tindakan yang harus ditempuh untuk mencetak anak-anak yang jujur dan amanah adalah meninggalkan cara-cara atau kebiasaan di atas. Selain itu perlu ditempuh upaya-upaya berupa latihan dan pembiasaan guna menanamkan sifat jujur, menepati janji, dan menjaga amanah. Anak perlu dilatih mengemban amanah-amanah yang mampu ia pertanggungjawabkan. Beri kesempatan mereka berjanji dan ajarkan serta mudahkan agar mereka mampu menunaikannya. Berikan sanksi -walaupun ringan- atas pelanggaran janjinya. Ajarkan mereka bersikap jujur serta ceritakan kepada mereka keutamaan bersikap jujur, tetapi bukan melalui dongeng atau cerita fiktif. Sebab -ingat sekali lagi- mustahil menanamkan kejujuran melalui kedustaan. Sampaikan kepada mereka kisah-kisah orang jujur serta buah dari kejujuran, seperti kisah Ka’ab bin Malik -radhiallahu anhu-.

Ya, sebelum anak terlanjur cerdas, hendaknya kita tanamkan pada diri mereka kecenderungan kepada sifat jujur dan menjaga amanah.  Sebab, apalah artinya kecerdasan tanpa kejujuran dan sifat amanah. Bukankah kita tidak menghendaki anak kita menjadi orang yang pandai menipu.

  • Biasakan Mereka Bersikap Santun

Manusia adalah makhluq bermasyarakat yang tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Sopan-santun merupakan sifat mulia yang dapat menimbulkan rasa tenang dan hangat di dalam pergaulan bermasyarakat. Juga merupakan di antara sifat yang disukai ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah berkata kepada Abdul Qais -radhiallahu anhu- :

“إن فيك خصلتين يحبهما الله: الحلم والأناة”.(رواه مسلم)

“Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai ALLAH. Santun dan berhati-hati.” (HR; Muslim)

Sopan-santun adalah sifat yang membuat pemiliknya disukai oleh orang lain, yang dengannya orang lain merasa aman dari lisan dan perbuatannya, sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- :

عن عامر قال: سمعت عبد الله بن عمرو يقول:

قال النبي صلى الله عليه وسلم: المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده، (ألبخاري)

Muslim (-yang sempurna-) adalah yang orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR: Al Bukhari)

Betapa tidak, dengannya ia akan menjaga lisan dan perbuatannya agar tidak mengganggu atau menyakiti orang lain. Dengannya pula ia bisa menempatkan diri di tengah lingkungannya. Ia mampu bersikap secara tepat di hadapan orang yang lebih tua, orang yang lebih muda, bahkan di hadapan orang-orang selayaknya dia belajar kepadanya. Dan ini merupakan satu di antara tanda-tanda pengikut Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-, sebagaimana sabdanya:

عن عبادة بن الصامت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

ليس منا من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا

Dari Ubadah ibn Ash-Shaamit, bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Tidaklah termasuk umatku, mereka yang tidak hormat kepada  orang-orang tua kami, tidak sayang kepada orang-orang muda kami, dan tidak mengakui ulama-ulama kami.” (Mustadrak Al Hakim)

Lebih dari itu, santun juga merupakan wujud dari kelembutan hati pemiliknya. Karena mustahil seseorang bersikap santun jika tidak memiliki kelembutan hati. Kelembutan hati lah yang menyebabkan seseorang senantiasa berhati-hati ketika bersikap di hadapan orang lain. Dan ini merupakan sifat yang disukai ALLAH -Subhaanahu wa ta’alaa- , sebagaimana yang dikatakan  Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada Aisyah -radhiallahu anha-:

يا عائشة، إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله ( متفق عليه)

Ya, Aisyah. Sesungguhnya ALLAH bersifat Lemah-Lembut, menyukai kelemahlembutan di dalam segala perkara.” (Muttafaqun Alaih)

Disebabkan santun dan lemah lembut lah akan terjaga persahabatan, bahkan ukhuwah (persaudaraan) dan terlaksana tolong-menolong -”ta’awun alal birri wat taqwa“- , yang mustahil semua itu terjadi tanpa dilandasi sifat-sifat di atas. Yakni sifat yang dapat memperindah dan mempercantik seseorang. Sifat yang membuat sebuah pribadi laku di dalam pergaulan. Sifat yang dengannya ia tidak hanya memikirkan dirinya semata, bahkan senatiasa berupaya sekuat tenaga memberikan kebaikan kapada saudaranya sebagaimana ia harapkan kebaikan itu juga berlaku baginya. Lebih dari itu, dengan sifat tersebut ia mampu memiliki empati terhadap penderitaan saudaranya. Perhatikanlah sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di bawah ini:

عن أناس بن مالك عن النبي صلىالله عليه وسلم قال: لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

Tidak sempurna iman kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya.” (HR: Al Bukhari – Muslim)

عن النعمان بن بشير. قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :

“مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم، مثل الجسد.

إذا اشتكى منه عضو، تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى”.(رواه مسلم)

Dari An-Nu’man bin Basyir -radhiallahu anhu-, berkata, telah bersabda Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- :“Perumpamaan orang-orang mu’min di dalam cinta kasih sayangnya dan keterikatannya seperti jasad yang satu. Apabila sakit salah satu anggota tubuhnya, maka seluruh tubuhnya ikut merasakan sakitnya dengan panas dan demam.” (HR: Muslim)

Dengan demikian, segala upaya -sarana dan metode apa saja- yang dapat menumbuhkan sifat mulia ini harus ditempuh. Pendidikan sejak dini harus diarahkan untuk menumbuhkan sifat-sifat sopan-santun dan lemah-lembut. Orang tua harus memastikan sifat-sifat ini melekat pada anaknya sebelum anaknya terlanjur cerdas. Do’a, dzikir, shadaqah, menyantuni anak yatim, gotong-royong, atau menolong orang yang kesusahan adalah di antara hal yang dapat melembutkan hati.

Kemudian, hendaknya sejak kecil anak dibimbing bagaimana cara bertutur, duduk, bahkan berjalan di hadapan orang yang lebih tua. Juga bagaimana di hadapan orang yang lebih muda. Kesantunan dan sikap rendah hati mereka juga harus kita perhatikan manakala mereka berjalan dan mengeluarkan suara. Perhatikanlah wasiat Luqman kepada anaknya -sebagaimana yang diabadikan di dalam Al Qur’an- :

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

(Artinya: “Dan sederhanalah di dalam berjalan serta rendahkan suaramu. Karena seburuk-buruk suara adalah suara keledai.”) (Luqman: 19)

Di samping itu,  apa saja yang dapat menumbuhkan sifat-sifat sebaliknya, seperti kurang-ajar, tak tahu malu, atau beringas harus dihilangkan dari segala media pendidikan dan pemandangan mereka sehari-hari.  Perhatikanlah peringatan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- akan hal ini:

“ياعائشة ارفقي؛ فإِنَّ الرِّفقَ لم يكن في شىء قطُّ إلا زانه، ولا نزع من شىءٍ قطُّ إلاّ شانه”. (ابو داود)

Ya, A’isyah. Berlemahlembutlah. Karena sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu kecuali ia menjadi penghiasnya. Dan tidaklah kelembutan tercabut dari sesuatu kecuali ia menjadikan sesuatu itu jelek.”

Pada kesempatan lain:

“من يحرم الرفق يحرم الخير (رواه مسلم)

Siapa yang terhalang untuk bersikap lembut, maka terhalang pula baginya kebaikan.”

Maka untuk itu, jauhkan dari anak penampilan sifat-sifat yang tidak baik, seperti kasar, brutal, sadis, vulgarisme, dan sikap tak punya malu, mulai dari bacaan, tontonan, maupun bentuk-bentuk permainan dan lingkungan pergaulan mereka. Yang kesemua itu lambat laun akan membentuk keperibadiannya. Orang tua harus memastikan tanda-tanda dari sifat-sifat yang tidak baik ini tak ada pada anaknya sebelum anaknya terlanjur cerdas.

Ya, sebelum anak terlanjur cerdas, hendaknya mereka telah terbiasa bersikap santun dan lemah lembut. Sebab apalah artinya kecerdasan jika tidak dibarengi dengan pekerti santun dan lembut hati, bahkan sekalipun anak tersebut jujur.  Bukankah kita tak menghendaki mereka menjadi robot;  cerdas, jujur, kaku, dingin, dan berpotensi menjadi sadis!!!

 

  • Didik Mereka Untuk Rajin

Rajin merupakan satu sifat yang sangat dipuji dalam Islam. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- di dalam berbagai ungkapan menjelaskan akan keutamaannya . Di antara lain ucapannya -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah:

عن أبي هريرة ؛ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:
“لأن يغدو أحدكم فيحطب على ظهره، فيتصدق به ويستغني به من الناس، خير له من أن يسأل رجلا،

أعطاه أو منعه ذلك. فإن اليد العليا أفضل من اليد السفلى. وابدأ بمن تعول”. (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu-, berkata: Aku telah mendangar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda: “Sungguh seorang di antara kalian berangkat ke luar  mengikat kayu di atas punggungnya dan bersedakah dengannya serta menjaga diri dari manusia itu lebih baik dari pada meminta-minta, diberi ataupun tidak. Karena sesungguhnya tangan yang di atas lebih utama dari pada tangan yang di bawah.  Dan mulailah dari yang menjadi tanggunganmu.” (HR: Muslim)

عن أبي هريرة قال وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كان داود لا يأكل إلا من عمل يده

“Sesungguhnya Daud -Alaihissalaam- tidak makan kecuali dari hasil karya tangannya” (HR: Bukhari)

Ungkapan di atas -dan masih banyak lagi yang sema’na- menunjukkan betapa sifat rajin sangat ditekankan di dalam Islam. Syari’at diadakan tidak lain untuk memelihara lima hal. Memelihara agama, aqal, kehormatan, darah, dan harta. Dan rajin merupakan di antara sifat yang harus dimiliki demi menjaga kehormatan diri. Dengan sifat rajin pulalah seorang menjadi pribadi yang berguna bagi diri dan sekitarnya, bukan menjadi cela bagi diri dan beban bagi orang di sekitarnya.

Maka hendaknya segala sarana dan metode yang dapat menumbuhkan sifat rajin pada anak harus diupayakan. Melatih anak untuk bangun pagi, merapihkan kamar tidur, membersihkan kamar mandi, menyapu ruangan, teras, dan halaman, semua itu merupakan upaya pertama yang harus dilakukan untuk membiasakan anak bekerja dan menumbuhkan sifat rajin. Ketika sampai usia belajar, maka hendaknya dahulukan mengajar mereka menulis sebelum membaca. Biarkan anak belajar membaca dari apa yang dia tulis, karena menulis itu sifatnya aktif sedang membaca pasif. Perhatikan perkembangan kemampuan psikomotorik-nya untuk mengimbangi kemampuan kognitif-nya. Ajarkan pula mereka, misalnya,  terbiasa mengolah barang-barang bekas sebelum mengambil keputusan untuk membeli yang baru.

Sebaliknya, segala penyebab, sarana, dan metode yang dapat menumbuhkan sifat malas pada anak harus ditiadakan atau dijauhkan dari anak. Malas  -selain produk sistim sosial- asalnya adalah masalah fisik -seperti terlalu lemahnya tubuh untuk bergerak atau melakukan satu pekerjaan- . Namun jika tidak segera diambil tindakan ia berubah menjadi masalah mental. Karenanya, orang tua harus memperhatikan pertumbuhan fisik anak dan perkembangan motorik atau keterampilannya. Sudahkah gizi yang dibutuhkan bagi pertumbuhannya tercukupi ?Apakah ia terlalu kurus atau gemuk untuk umurnya ? Proporsionalkah berat badan dengan tingginya ? Apakah ia sudah bisa menjaga keseimbangan tubuhnya ? Cukup lincahkah gerakannya ? Bagaimana akurasi gerak atau bidikannya? Bagaimana kecepatan geraknya ? Bagaimana kekuatan tenaganya ? Bagaimana ketahanan tubuhnya, baik ketika menahan beban maupun ketika menahan lelah ? Keseluruhan masalah di atas -meski tidak selalu- sedikit banyak berpengaruh terhadap mentalnya.

Ulangi sering-sering sabda Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- berikut ini:

“المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف. وفي كل خير.

احرص على ما ينفعك واستعن بالله. ولا تعجز… (رواه مسلم)

Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai ALLAH ketimbang mu’min yang lemah. Dan pada seluruhnya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah di dalam hal yang mendatangkan manfa’at bagimu, serta mohonlah pertolongan kepada ALLAH dan jangan merasa lemah…. (HR; Muslim)

Karenanya, segala bentuk kamuflase, dari kemalasan -ngamen misalnya-, atau main kartu, dadu, dan segala bentuk permainan yang menghabiskan waktu tidak boleh kita biarkan dilihat oleh anak kita kecuali kita jelaskan kepada mereka, “Itu orang malas! Itu pekerjaan orang malas !” Karena sesungguhnya, melalui kamufalse kemalasan yang sering mereka lihat lah kemalasan -sadar atau tidak disadari-  menemukan pembenaran teorits, bahkan filosofisnya, Dan sifat licik merupakan hasil kombinasi cerdas dengan malas.

Kemudian,  jangan dikira bahwa malas itu sekedar masalah mental. Malas juga bisa menjadi masalah keyakinan. Sebagaimana hasad (dengki) mengurangi kesempurnaan iman akan Taqdir, begitu pula dengan malas. Ketahuilah, bahwa sifat rajin akan menumbuhkan optimisme, dan optimisme adalah bagian dari wujud husnudz-dzonn billah (berbaik sangka kepada ALLAH). Maka, sebaliknya, malas  akan menumbuhkan pesimisme, dan pesimisme adalah bagian dari wujud su’udz-dzon billah (berburuk sangka kepada ALLAH). Padahal Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah berwasiat::

لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله عز وجل“.

Jangan kalian mati, kecuali di dalam keadaan berbaik sangka kepada ALLAH.” (HR:Muslim dari Jabir bin Abdillah -radhiallahu anhu-)

Lebih dari itu, malas pulalah di antara  -selain ilmu dan keyakinan- yang menyebabkan manusia  -karena ingin menempuh jalan pintas- terjerumus ke dalam judi, lottre, bahkan ke dalam berbagai bentuk kesyirikan, seperti meminta kekayaan kepada kuburan, pohon, atau benda mati lainnya.

Ya, sebelum anak terlanjur cerdas, hendaknya mereka sudah terbiasa hidup rajin. Sebab, apalah jadinya jika anak terlanjur cerdas, sementara ia terbiasa dikuasai perasaan malasnya. Bukankah kita tidak menghandaki mereka menjadi orang yang licik.

 

  • Bina Mereka Menjadi Pribadi Yang Kuat

Badan yang kuat lebih berdaya guna ketimbang badan yang lemah. Dengan kekuatan bukan saja seseorang mampu menopang dirinya, bahkan mampu menolong orang lain. Dengan kekuatan seseorang mampu berlari dan melompat. Dengan kekuatan seseorang mampu memanggul beban di punggungnya atau bertahan melawan dorongan arus. Dengan kekuatan pulalah seseorang mampu menghadapi cuaca buruk dan memiliki kekebalan untuk melawan penyakit.

Maka demikian pula jiwa yang kuat. Islam memuji sifat kuat dan mengaitkannya dengan sabar. Kuat, sabar, atau tabah merupakan modal di dalam mengarungi kehidupan -yang memerlukan perjuangan dan penuh dengan cobaan-.   Dengannya ia lebih berdaya guna, bermanfaat bagi orang lain, bersemangat dan kreatif, mampu memikul tanggung jawab dan berpendirian, serta mampu beradaptasi dan menetralisir perasaan dirinya. Karenanya,  Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengajari kita memaknai kekuatan dengan kesabaran dan kemampuan mengendalikan hawa nafsu, sebagaimana sabdanya:

عن أبي هريرة رضي الله عنه:أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

ليس الشديد بالصرعة، إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب.(البخاري)

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu-, bahwasanya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda: “Bukanlah yang dikatakan kuat itu jago gulat. Akan tetapi yang dikatakan kuat adalah yang mampu menguasai hawa-nafsunya ketika marah.” (HR: Al Bukhari)

Ya, dengan kesabaran akan lahir berbagai macam kebaikan. Manusia menjadi semakin kuat kemauannya, semakin tegar menghadapi tantangan, serta semakin tenang menghadapi ujian dan cobaan. Maka, upaya dan metode apa saja yang dapat melahirkan serta menumbuhkan kepribadian yang kuat dan sabar harus diciptakan. Perkara kuat dan sabar sudah harus mulai diajarkan ma’nanya dan ditanamkan kepada anak sedini mungkin. Pendidikan harus menjadikannya sebagai program dasar pembinaan sebelum yang lainnya. Perhatikan bagaimana Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengajarkan beberapa kalimat kepada Ibnu Abbas -radhiallahu anhu- , yang ketika itu usianya belum mencapai sepuluh tahun:

“….Ketahuilah. Bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan manfa’at kepadamu, mereka tak akan mampu melakukannya lebih dari yang telah ALLAH tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka bersatu ingin mencelakakanmu, mereka tak akan mampu melakukannya lebih dari yang telah ALLAH tetapkan atas mu….” (HR: At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas -radhiallahu anhu-)

“…Ketahuilah. Bahwa pertolongan ALLAH datang melalui kesabaran, bersama perjuangan ada pengorbanan, dan bersama kesulitan ada kemudahan…”

Sebaliknya, segala sarana dan metode yang akan membentuk kepribadian cengeng, mudah marah, mudah patah semangat, dan mudah putus asa harus dihilangkan dari media pendidikan kita.  Karena sesungguhnya seluruh sifat-sifat tersebut bersumber dari yang satu, lemah.  Anak yang gampang menangis sebetulnya sama dengan anak yang gampang marah. Kemasannya saja yang berbeda, tetapi hakekatnya sama, lemahnya jiwa. Maka, jangan biarkan anak kita mengkonsumsi hal-hal yang melemahkan jiwanya, berupa sya’ir atau lagu-lagu cengeng, serta novel atau film-film picisan. Jangan biarkan anak terbiasa memanjakan perasaannya.

Ajarkan kepada mereka nilai-nilai kesatriaan, kesabaran dan ketangguhan yang diambil dari kisah para Nabi -alaihimussallam-, para Sahabat Nabi -radhiallahu anhum-, atau para Ulama dan Mujahid -rahimahumullah-, dan jangan sekali-kali lewat dongeng atau cerita fiktif. Jangan berlebihan memberikan perlindungan pada mereka. Biarkan mereka melatih diri menyelesaikan persoalan-persoalan mereka, baik di dalam menghadapi tantangan masalah, maupun terhadap teman-teman sebayanya. Jangan terlalu cepat memenuhi permintaan mereka, seandainya tidak mendesak.  Jika mereka minta 10, berikan 5. Jika mereka minta sekarang, berikan nanti. Ajari mereka bersabar manakala tidak terpenuhi permintaannya. Atau masih banyak lagi cara dan kesempatan untuk melatih kesabaran dan kekuatan mereka.

Ya, sebelum anak terlanjur cerdas, hendaknya mereka telah terlatih bersabar serta memiliki jiwa yang kuat. Lemah akan menjadikan mereka mudah dipengaruhi orang serta gampang lari dari tanggung jawab. Apalah artinya kecerdasan jika tidak diiringi sifat kuat dan sabar. Bukankah kita tidak menghendaki anak kita menjadi orang yang pengecut, karena ternyata pengecut itu merupakan kombinasi cerdas dengan lemah.

Ya, apalah artinya cerdas tanpa amanah, santun, rajin, dan kuat. Bukankah kita tak menginginkan anak kita menjadi seorang penipu sadis yang licik lagi pengecut.

 

Dinukil dari: http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2009/03/17/sebelum-anak-terlanjur-cerdas/#comment-322