Arsip Tag: sujud

Bekas Hitam Di Dahi Karena Sujud Adalah Tanda Orang Saleh ?


Penulis: Al Ustadz Muslim Abu Ishaq

Fadhilatusy Syaikh al-Imam Ibnu Utsaimin rahimahulloohu mengatakan,”Hal itu bukan tanda orang-orang saleh. Yang menjadi tanda justru cahaya yang tampak pada wajah (wajah yang tampak bercahaya/tidak suram dan menghitam), dada yang lapang, akhlak yang baik, dan yang semisalnya. Adapun bekas sujud yang tampak pada dahi, terkadang juga tampak pada wajah orang-orang yang mengerjakan shalat fardhu karena kulitnya yang tipis, sementara itu pada wajah orang yang banyak mengerjakan shalat dan sujudnya lama terkadang tidak tampak.” (Majmu Fatawa, fatwa no. 532,13/188)

Dinukil dari:

Majalah Asy Syariah Volume VII/No. 80/1433 H/2012 Halaman 74 dalam Rubrik Seputar Hukum Islam penggalan dari artikel yang berjudul “Tata Cara Sujud Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam (Sifat Shalat Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bagian ke-21)”

Kedua Tumit Dirapatkan Saat Sujud?


Penulis: Ustadz Hammad Abu Muawiah

Tanya:
Apakah dalil tentang merapatkan kedua tumit ketika sujud, itu shahih?
08164632795

Jawab:
Syaikh Bakar Abu Zaid -hafizhahullahu Ta’ala- berkata:
“Masalah yang kedua: Menggabungkan kedua tumit dalam sujud.
Masalah ini diberikan judul seperti ini, kadang dengan judul “Merapatkan kedua tumit dalam sujud,” kadang dengan, “Mengumpulkan kedua tumit,” dan kadang dengan, “Menggabungkan kedua kaki.”
Saya telah memeriksan ke sejumlah kitab yang masyhur dalam mazhab fiqhi yang empat mengenai keadaan kedua kaki ketika sujud, apakah dirapatkan atau dipisahkan. Akan tetapi saya tidak mendapatkan keterangan apa-apa dari mazhab Al-Hanafiah dan Al-Malikiah. Dalam mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah saya mendapatkan keterangan disunnahkannya memisahkan antara keduanya, dan Asy-Syafi’i menambahkan, “Dipisahkan dengan jarak sejengkal.”
An-Nawawi -rahimahullahu Ta’ala- berkata dalam Ar-Raudhah (1/259), “Saya berkata: Ashhab kami (Asy-Syafi’iyah) berkata: Disunnahkan untuk memisahkan antara kedua kaki.” Abu Ath-Thayyib berkata: Ashhab kami berkata: Jarak antara keduanya adalah sejengkal. (1)” Selesai
Adapun Al-Hanabilah, maka Al-Burhan Ibnu Muflih (2) -rahimahullahu Ta’ala- berkata dalam Al-Mubdi’ (1/457), “Antara kedua lutut dan kedua kakinya dipisahkan, karena jika beliau u bersujud maka beliau memisahkan antara kedua pahanya. Sedangkan Ibnu Tamim dan selainnya menyebutkan bahwa beliau menggabungkan kedua tumitnya.” Selesai”
Kemudian beliau -hafizhahullah- menjelaskan lemahnya hadits Aisyah yang mendukung pendapat Ibnu Tamim dari sisi ilmu hadits, dan keterangannya bisa dilihat di sini. Kemudian beliau berkata:
“Kesimpulannya: Asal hadits Aisyah ini terdapat dalam Shahih Muslim dan selainnya tapi tanpa lafazh, “Merapatkan kedua tumitnya,” dan hal ini tidak pernah disebutkan dalam hadits-hadits sahabat yang panjang lagi masyhur ketika mereka mengisahkan sifat shalat Nabi r. Lafazh ini, “Beliau merapatkan kedua tumitnya ketika sujud,” adalah syadz, yang Ibnu Khuzaimah -dan yang meriwayatkan darinya seperti Ibnu Hibban dan setelahnya- bersendirian dalam meriwayatkannya. Keadaan lafazh ini seperti yang Al-Hakim katakan, “Saya tidak mengetahui ada seorang pun yang menyebutkan penggabungan kedua tumit dalam sujud kecuali apa yang terdapat dalam hadits ini,” karena kalimat ini adalah hasil penelitian beliau yang menunjukkan syadz dan mungkarnya lafazh ini.” Selesai.
[Selesai nukilan dari risalah Laa Jadida fii Ahkam Ash-Shalah hal. 65-74 dengan sedikit perubahan]
______
(1)    Rujuk Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (3/373)
(2) Wafat tahun 884 H

Dinukil dari:

http://al-atsariyyah.com/kedua-tumit-dirapatkan-saat-sujud.html

~**~

Apakah Dalil Merapatkan Tumit Ketika Sujud?

Tanya:

Assalamu’alaykum,
Adakah dalil yang men-sunnahkan tumit dirapatkan ketika sujud?
Mohon informasinya dari para ikhwah sekalian.
Jazakumumullahu khairan katsira

“Donny Aliredja” <daliredja@…>

Dijawab Oleh: Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi

Syukran kepada Al-Akh Uuh Muhdy Zaeny –Semoga Allah membalas beliau
dengan kebaikan- atas informasinya dari Al-Ustadz Mundzir –semoga
Allah senantiasa mencurahkan taufiq-Nya kepada beliau- tentang dalil
ulama yang menganggap sunnah merapatkan kedua tumit ketika sujud.
Tapi perlu saya ingatkan bahwa pada hadits yang disebutkan oleh Al-Akh
Uuh Muhdy Zaeny tidak ada dalil tentang merapatkan kedua tumit ketika
sujud. Dalam riwayat Muslim yang disebutkan oleh Al-Akh Uuh Muhdy
Zaeny, juga diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzy,
An-Nasâ`iy, Ibnu Majah dan banyak imam lain dari jalan `Ubaidullah bin
Umar dari Muhammad bin Yahya bin Habban dari Al-A’raj dari Abu
Hurairah radhiyallâhu `anhu dari `Aisyah radhiyallâhu `anhâ, hanya
disebutkan, “…maka tanganku menimpa tengah tengah kedua telapak kaki
beliau dan beliau sedang sujud, dimana kedua kaki (beliau) tertegak…”
Hadits di atas tidaklah menunjukkan bahwa kedua kaki dirapatkan,
karena tangan bisa saja menyentuh kedua kaki dalam keadaan rapat
maupun tidak rapat. Demikian keterangan guru kami, Syaikh Abdul Muhsin
Al-Abbad dalam menjelaskan hadits tersebut dalam transkrip pelajaran
Sunan Abu Daud.

Dalil yang dipakai oleh ulama yang mengatakan sunnahnya merapatkan
kedua tumit adalah hadits dari jalan Yahya bin Ayyub Al-Ghafiqy dari
`Umarah bin Ghaziyyah dari Abu An-Nadhr dari `Urwah dari `Aisyah
radhiyallâhu `anhâ, dengan lafazh, “…(beliau) merapatkan kedua
tumit(nya)…”

Demikian dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (beliau memberi judul “Bab
menggabungkan kedua tumit dalam sujud”), Ibnu Hibban, Ath-Thahawy,
Al-Baihaqy (beliau memberi judul “Baba apa yang datang tentang
menggabungkan kedua tumit dalam sujud”), Al-Hakim (Beliau berkata,
“Shohih di atas syarat Asy-Syaikhain [Al-Bukhary dan Muslim] dan
keduanya tidak mengeluarkannya.”) dan Ibnu `Abdil Barr dalam At-Tamhid.
Syaikh Al-Albany ketika menyebutkan syariat merapatkan kedua tumit
dalam Ashlu Shifat Shola An-Nabiy 2/737, beliau menyebutkan Tash-hih
Al-Hakim di atas syarat Asy-Syaikhain dan Adz-Dzahaby menyetejuinya,
lalu beliau berkomentar bahwa hadits tersebut hanya di atas syarat
Muslim karena Al-Bukhâry tidak berhujjah dengan riwayat `Umarah, tapi
hanya beliau pakai dalam syawâhid saja sebagaimana keterangan
Adz-Dzahaby sendiri dalam Mîzânul I’tidâl. Dan beliau juga menyebutkan
ucapan Tash-hih Ibnu Hajar dalam Al-Talkhish terhadap riwayat Ibnu Hibban.
Demikian dalil ulama yang menganggap sunnah merapatkan kedua tumit
dalam sujud.

Tapi riwayat di atas sangat mengherankan, karena hadits dari `Aisyah
itu diriwayat pula oleh Imam Muslim dan selannya –sebagaimana telah
berlalu- dan mereka tidak menyebutkan lafazh merapat kedua tumit dalam
riwayat mereka.
Karena itu, sejumlah ulama kita melemahkan hadits yang menjadi dalil
sunnahnya merapatkan kedua tumit dalam sholat.

Diantara ulama yang melemahkannya:

1. Guru kami, Ahli Hadits dari negeri Yaman, Syaikh Muqbil bin Hadi
Al-Wâdi’iy dalam ta’liq beliau terhadap Mustadrak Al-Hakim jilid 1/340
no. 835. Beliau berkata, “Yahya bin Ayyub Al-Ghafiqy, walaupun beliau
terbilang dalam rawi-rawi Al-Bukhary dan Muslim namun padanya ada
pembicaraan. Maka yang nampak (bagi saya) bahwa lafazh `merapatkan
kedua tumi’ dalam hadits ini adalah syâdz (lemah).”

2. Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitabnya Lajadida fi Ahkam Ash-Sholah
hal. 68-75 juga melemahkannya dengan alasan yang disebut oleh Syaikh
Muqbil, dan beliau juga menyebutkan bahwa para ulama fiqih tidak ada
yang menyebutkan sunnah merapatkan kedua tumit kecuali dalam sebagian
nukilan yang masih dipertanyakan. Dan tidak atsar dari para salaf
tentang perakteknya.

Pendapat yang tenang di hati saya (penulis jawaban ini) adalah
pendapat yang melemahkannya. Wallahu A’lam.
Semoga jawaban ini bermanfaat. Wallâhu Al-Muwaffiq.

Dinukil dari: http://groups.yahoo.com/group/nashihah/message/19

Merapatkan Kedua Tumit Dalam Sujud


Penulis : Ustadz Hammad Abu Muawiah

فَقَدْتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي. فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا رَاصَّا عَقِبَيْهِ  مُسْتَقْبِلاَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ الْقِبْلَةَ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pergi dariku ketika saya sedang tidur bersamanya di atas tempat tidurku. Lalu saya menjumpai beliau dalam keadaan bersujud dengan merapatkan kedua tumit beliau, dan ujung jari-jari kaki beliau menghadap ke arah kiblat.”

Hadits ini diriwayatkan oleh: Ibnu Khuzaimah (654) dan dari jalannya: Ibnu Hibban (1933), Ath-Thahawi dalam Syarh Ma’ani Al-Atsar (1/234) dan Musykil Al-Atsar (hal. 111), Al-Hakim (1/228), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (2/116) dan Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid. Semuanya dari jalan: Said bin Abi Maryam (dia berkata) Yahya bin Ayyub mengabarkan kepada kami (dia berkata) Umarah bin Ghaziyah menceritakan kepadaku (dia berkata) saya mendengar Abu Nadhrah (dia berkata), saya mendengar Urwah dia berkata: Aisyah berkata … .

Yahya bin Ayyub -rahimahullah-, walaupun haditsnya diriwayatkan oleh ashhab as-sittah kecuali Al-Bukhari (beliau hanya beriwayatkan haditsnya sebagai pendukung), akan tetapi para imam jarh wat ta’dil berbeda pendapat tentangnya. Sebagiannya ada yang mentsiqahkan dan sebagian lagi ada yang melemahkannya, bahkan di antara mereka ada yang menjelaskan bahwa di dalam haditsnya ada ghara`ib dan manakir (hadits-hadits yang aneh lagi mungkar), sehingga harus dijauhi. Imam Ahmad menjelaskan alasan kenapa dia banyak bersalah dalam meriwayatkan hadits, “Dia menceritakan hadits dari hafalannya.” (Adh-Dhu’afa (hal. 211) karya Al-Uqaili)

Hadits ini adalah hadits yang mungkar, karena asal hadits Aisyah ini juga terdapat dalam Shahih Muslim dan yang lainnya, akan tetapi tidak ada penyebutan merapatkan kedua tumit. Dan ini menjadi indikasi yang kuat akan salahnya Yahya bin Ayyub dalam periwayatan hadits ini, tatkala para perawi lainnya tidak ada yang menyebutkan kalimat yang dia sebutkan. Lafazh yang diriwayatkan oleh para perawi selainnya adalah:

فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ

“Maka tanganku jatuh di atas kedua telapak kaki beliau.” (HR. Muslim: 1/352, Ahmad: 6/58, 201, Abu Daud: 1/547, An-Nasa`i: 1/102, Ad-Daraquthni: 1/143 dan Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid: 23/349 )

Dan dengan lafazh:

فَوَضَعْتُ يَدِي عَلَى قَدَمَيْهِ

“Maka saya meletakkan tanganku di atas kedua kaki beliau.” (HR. Malik: 1/214, At-Tirmidzi: 5/489, An-Nasa`i: 2/222, Ath-Thahawi dalam Syar Ma’ani Al-Atsar: 1/234 dan Al-Baghawi dalam Syarh As-Sunnah: 5/166)

Dinukil dari:

http://al-atsariyyah.com/merapatkan-kedua-tumit-saat-sujud.html