Arsip Tag: wali hakim

HUKUM ANAK “HARAM”: Akibat Perkosaan, Hamil Di Luar Nikah, Hukum Pernikahannya, Dan Hukum Mengadopsinya


Hukum Anak “Haram”

Penulis: Al Ustadz Hammad Abu Muawiyah

Tanya:

Bismillah,
Assalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh

Ya Ustadz, ana mau tanya berkenaan dengan nasab. Begini:
Ibu ana pernah cerita sama ana, kata beliau, ketika menikah sama bapak ana dulu, mereka menikah tanpa wali. beliau mengakui bahwa menikahnya dengan bapak ana adalah dengan cara “kawin lari”.

Setelah mengetahui hal itu, ana kemudian  bilang sama ibu ana agar menikah lagi sama bapak karena sebenarnya mereka belum sah nikahnya. beliau sebenarnya mau, tapi bapak ana yg gak mau.

Nah, yg ingin ana tanyakan. Pertama, masalah nasab ana ini gimana, ya Ustadz. Di blog ana, ana menuliskan fulan bin fulan (yakni nisbah kepada ayah). Apakah hal ini dibenarkan? Sedang ana terlahir sebagai “anak haram”. Bolehkah nasab kepada ibu? Misalnya seperti shahabat abdulloh bin ummi maktum yang nasab ke ibu, bukan bapak. Mohon petunjuknya ya Ustadz.
Yg kedua bagaimana solusinya biar orang tua ana bisa “resmi” menikahnya. sedang dari pihak bapak nggak mau, ya mungkin alasannya “malu”, begitu.
Demikian, atas jawabannya ana ucapkan jazakallohu khoiron katsiron wa barokallohufiikum.

[mohon maaf pertanyaan telah kami edit, serta nama dan email penanya tidak kami tampilkan, semuanya guna menjaga privasi penanya, (admin)]

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Sebagaimana yang sudah diketahui bahwa menikah tanpa wali (bagi wanita) adalah haram dan tidak syah sehingga dia dihukumi perzinahan. Karenanya anak yang terlahir dari pernikahan seperti itu adalah anak zina, dan nasabkan dikembalikan kepada ibunya, bukan kepada ayahnya. Ini berdasarkan hadits Aisyah dan Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ

“Anak yang lahir untuk pemilik kasur (yakni: anak yang dilahirkan oleh istri seseorang atau budak wanitanya adalah miliknya), dan seorang pezina adalah batu (yakni: tidak punya hak pada anak hasil perzinaannya).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hanya saja jika ‘kawin lari’ ini dilakukan karena mereka meyakini bolehnya atau meyakini syahnya ‘kawin lari’, maka pernikahan seperti ini dikategorikan ke dalam nikah syubhat. Dan hukum anak yang lahir dari pernikahan syubhat seperti ini bukanlah anak ‘haram’ akan tetapi syah sebagai anak dari ayah dan ibunya, karenanya dia bisa menisbatkan namanya kepada ayahnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Asy-Syafi’i, dan yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah dan Ibnu Al-Utsaimin -rahimahumullah- dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ (5/641).

Adapun setelah mengetahui bahwa hukum ‘kawin lari’ adalah tidak syah, maka keduanya (ayah dan ibunya) wajib untuk berpisah lalu keduanya menikah kembali dengan akad nikah yang benar dan sah, tanpa harus melakukan istibra` ar-rahim (satu kali haid). Ini adalah fatwa dari Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Mar’i -hafizhahullah-.

Kembali ke pertanyaan antum: Apakah boleh bernisbat kepada ibu?
Jawab: Jika ‘kawin lari’ orang tua antum termasuk dari nikah syubhat maka tidak ada masalah antum bernisbat kepada ayah. Jika bukan termasuk nikah syubhat, yakni keduanya sudah mengetahui tidak syahnya ‘kawin lari’ maka antum tidak boleh bernisbat kepada ayah tapi hanya bernisbat kepada ibu, berdasarkan hadits Abu Hurairah dan Aisyah di atas.

Adapun keengganan ayah untuk menikah kembali, ana kira bisa dimaklumi karena dia mengira nikah ulang itu harus adakan nikah dengan mengundang banyak orang plus resepsi lagi. Tapi saya kira antum sudah mengetahui bahwa yang menjadi rukun dan syarat syahnya nikah hanyalah adanya kedua mempelai, adanya ijab qabul, keridhaan kedua mempelai, wali bagi wanita, mahar, dan 2 orang saksi dari kalangan lelaki dewasa. Jadi kapan rukun dan syarat nikah ini terpenuhi maka nikahnya sudah syah walaupun tidak ada resepsi dan tidak mengundang orang lain. Jadinya antum tinggal memahamkan ayah antum akan masalah ini, semoga dia bisa paham. Dan antum juga bisa mengingatkan bahwa jika dia tidak mau menikah maka anak-anaknya adalah anak ‘haram’ dan bukan anaknya sehingga akan berlaku padanya hukum:

a.    Dia dan anak-anak istrinya (karena anak-anak dinisbatkan kepada ibunya) tidak saling mewarisi.

b.    Dia tidak wajib memberi nafkah kepada anak istrinya.

c.    Dia tersebut bukan mahram bagi anak wanita istrinya.

d.    Dia tidak bisa menjadi wali bagi anak wanita istrinya dalam pernikahan.
Wallahul muwaffiq, wahuwa a’lam wa ahkam

======================

ibnul masyriq said:
January 11th, 2010 at 1:07 am

bismillah, ustadz, apakah benar pemahaman ana bahwa nikah dalam keadaan perempuan hamil serta keduanya tidak mengetahui bahwa hal ini dilarang, maka nikah ini termasuk nikah syubhat ?, kemudian anaknya tetap bisa dinasabkan kepada bapaknya dalam setiap nikah yang digolongkan nikah syubhat ?, dan apakah dalam setiap nikah yang digolongkan nikah syubhat (setelah diketahui haramnya, admin), maka dihukumi tidak syah, harus nikah dg akad baru, tanpa harus dipersyaratkan istibro’ ? jazakallahu khoir

Jawab:

Ia sudah benar, demikian yang kami jelaskan di atas. Waiyyakum

================================

Bekam, Fatwa Kesehatan & Thibbunnabawiy said:
January 13th, 2010 at 2:12 am

Bismillah,
Ustadz Abu Muawiah Hafizahullah mohon penjelasan atas pertanyaan yang masuk ke blog ana sebagai berikut :

assalamu’alaikum.
ustadz hafidhokumullah. ana mau menanyakan tentang anak hasil perkosaan. ada seorang gadis (msih belajaiyg diperko di ponpes) ktika liburan diperkosa oleh seorang laki laki yg msih tetanggax. dan qodarullah akhirx gadis itu hamil.

sempat dari pihak keluarga laki laki minta diselesaikan secara kekeluargaan yaitu laki laki tsb bersedia untk menikahi sigadis. tetapi sigadis keluargax tdk mau. akhirx gadis tsb melahirkn dan anakx diadopsi oleh seseorang.kmudian gdis tsb kembali masuk ponpes(krna br umur 16 th) yg mau ana tanyakan:

1.bolehkah anak tsb diadopsi.
2.anak tsb bernasab kpd siapa.
3.apakah nantix anak tsb perlu dikasih tau riwayat kelahiranx.dan pada umur berapa sbaikx anak tsb mengetahuix
4.apkh anak tsb jg perlu di kenalkn dg bpakx.
5. bgmna hubungan anak tsb dg anak2 ibunya dn anak bapakx.

syukran/jazakumullahu khairo

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullah

1. Boleh saja selama ibunya menyetujui. Tapi tentunya sudah dimaklumi bahwa orang tua angkat dengan anak angkatnya bukanlah mahram. Karenanya hendaknya ibu angkatnya menyusuinya dengan ASI sebanyak 5 kali susuan yang mengenyangkan, barulah setelah itu dia menjadi mahram sebagai anak susuannya.

2. Bernasab kepada ibu kandungnya, bukan kepada ayah angkatnya dan bukan pula kepada lelaki yang memperkosa ibunya.

3. Itu semua kembalinya kepada pertimbangan maslahat. Kalau memang ada mashalat diberitahu maka diberitahu. Tapi kalau akan menimbulkan mudharat pada dirinya kalau dia tahu maka sebaiknya tidak perlu diberitahu, wallahu a’lam.

4. Ana nggak paham maksudnya. Kalau maksud antum hubungan anak ini dengan anak ibunya yang akan datang (setelah menikah dan punya anak) maka hubungan mereka adalah saudara seibu, bukan sebapak. Tapi kalau hubungan antara anak ini dengan anak ortu angkatnya maka mereka saudara susuan, kalau ibu angkatnya syah menjadi ibu susuannya. Wallahu a’lam.

===========

amaturrohman said:
January 20th, 2010 at 3:13 am

Assalamu’alaikum, ustadz, ibu ana pernah cerita bahwa waktu kawin dengan bapak ana (waktu itu status ibu ana janda, suami pertamannya meninggal dunia), ibu ana kawin tanpa persetujuan ortunya, ortu ibu ana (utamanya bapak dari ibu ana) tidak suka dengan bapak ana, akhirnya ibu dan bapak ana memutuskan menikah di KUA dengan wali Hakim… bagaimanakah status pernikahan bapak dan ibu ana ini? Setelah menikah di KUA, baru bapak dan ibu plang ke rumah ortu ibu ana, dan meminta maaf…setelah itu hubungan ortu ibu ana dengan bapak dan ibu ana menjadi baik kembali… apakah ini termasuk nikah syubhat?
kalo iya, bagaimana cara memperbarui akadnya sedang bapak ana -ghoffarollohulahu- telah meninggal?

bagaimanakah hukumnya bagi wanita yang tidak mengetahui hukum wajibnya mandi junub selama bertahun2 berumah tangga karena kejahilan terhadap ilmu dien, kemudian setelah suaminya meninggal baru mengetahui hal tersebut?

Jazaakumulloh khoiron katsiiron

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullah.
Ketika seorang muslimah (walaupun janda) tidak diizinkan oleh walinya untuk menikah, maka tidak seenaknya dan tidak segampang itu dia langsung lari ke wali hakim. Karena bagaimanapun juga, jika alasan wali wanita itu syar’i, maka tidak boleh seorang pun yang bisa menjadi wali bagi menikahi wanita tersebut.
Kalau memang alasannya tidak syar’i, maka masih ada wali lain dari pihak keluarga ayah. Jika semua wali tidak mau menikahkannya dengan alasan yang tidak syar’i maka wanita itu bisa meminta bantuan kepada KUA untuk membujuk dan bermusyawarah dengan baik dengan keluargannya. Jika semuanya buntu padahal alasannya tidak syar’i maka di negara Islam, pemerintah berhak memaksa sang wali untuk menikahkan anaknya.
Ala kulli hal, hukum paling buruk dari kasus di atas adalah nikah syubhat, kalau memang dia meyakini bolehnya perbuatan tersebut. Jika hukumnya baru diketahui setelah sang lelaki meninggal, maka tentunya tidak ada kewajiban untuk memperbaharui nikah. Wallahu a’lam.

Adapun pertanyaan yang kedua, maka dia berdosa karena kejahilannya tersebut. Karena itu termasuk dari ilmu yang sifatnya fardhu ain bagi lelaki dan wanita

==================

abu ismail said:
February 7th, 2010 at 3:36 pm

Bismilah…Apakah hukum anak zina?Apa yg seharusx ayah anak zina itu harus di perbuat..Apakah menelantarkanx atau tetap mengasuhx

Jawab:

Adapun dosa maka dia tentunya tidak mendapatkan dosa atas ulah orang tuanya, karena setiap orang tidak akan menanggung dosa orang lain. Maka anak zina mendapatkan hak dan kewajiban yang sama seperti anak kaum muslimin lainnya, kecuali dalam beberapa perkara:

a. Dia (jika wanita) dan lelaki yang berzina dengan ibunya bukanlah mahram.

b. Lelaki tersebut tidak wajib memberikan nafkah kepada dirinya, walaupun boleh saja lelaki tersebut melakukannya.

c. Dia tidak berhak mendapatkan warisan dari lelaki tersebut.

d. Lelaki tersebut bukanlah walinya (jika dia wanita) dalam pernikahan.

e. Dia tidak dinisbatkan kepada lelaki tersebut (baik dalam hal nama maupun yang lainnya) akan tetapi dia dinisbatkan kepada ibunya. Karenanya perawatan anak ini diserahkan kepada ibunya.

Hanya saja ada dua perkara yang bisa dilakukan oleh lelaki itu agar dia juga bisa mengasuh anak tersebut:

1. Menikahi wanita yang telah dia zinahi dengan syarat keduanya telah bertaubat dari perbuatan zina dan wanita itu telah melahirkan (jika wanita itu hamil). Dengan begitu dia (lelaki) itu bisa menjadi ayahnya yang syah, walaupun anak itu dihukumi sebagai rabibah (anak tiri)nya

2. Jika lelaki ini menikah dengan wanita lain selain wanita yang melahirkan anak zina ini, maka dia bisa menyuruh istrinya untuk menyusui anak tersebut (jika anaknya masih bayi). Dengan demikian dia bisa menjadi ayah susuannya.

Yang jelas, diharamkan bagi siapapun untuk menelantarkan anak yang tidak berdosa walaupun dia merupakan anak ‘haram’. Wallahu a’lam

==========================

abu muhammad said:
August 28th, 2010 at 10:55 pm

Bismillah
Assalamualaykum Warohmatullah Wabarokatuh…
Afwan Ustadz..ana mau tanya tentang nikah,dulu ana sewaktu menikah dengan istri yang sekarang dari pihak istri di walikan oleh wali hakim,di karena kan ketika kami menikah kami berada di pulau yang berjauhan dengan dengan tempat tinggal kedua orang tua istri ana,kalau naik kapal laut diperkirakan sekitar 1 malam perjalanan, pertanyaan ana apakah pernikahan ana sah, untuk ustadz ketahui ana sekarang sudah mempunyai 3 orang anak.
Apa yang seharusnya ana lakukan apabila pernikahan ana dianggap tidak sah?

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Kalau memang wali dari istri telah menyerahkan/mewakilkan perwaliannya kepada wali hakim maka pernikahannya syah. Tapi jika pernikahan itu terjadi tanpa izin dari wali istri maka pernikahannya dihukumi nikah syubhat kalau dulu dia menganggap nikahnya syah. Dan nikah syubhat harus diulangi akad nikahnya sementara anak-anaknya yang sudah ada tetap syah menjadi anaknya dan bukan termasuk anak zina. Wallahu a’lam

==============================

Ariani said:
December 5th, 2010 at 5:35 am

Assalammualaikum wr.wb

Afwan ustadz, Saya mau bertanya, 3 tahun lalu saya menikah dengan suami saya dan di karuniai seorang anak perempuan, tapi pernikahan tersebut terjadi setelah hamil di laur nikah/MBA (Maaf ustadz). saya di nikahkan resmi langsung ayah saya sbg wali. saya pernah dengar saran-saran dari keluarga suami,bahwa setelah nanti anak pertama saya itu lahir, saya dan suami harus menikah kembali. Tapi ustadz, masalahnya sekarang saya telah hamil lagi 2 bulan dan kami belum melaksanakan nikah kembali setelah melahirkan. yang ingin saya tanya bagaimana status anak saya yang pertama? dan bagaimana status calon bayi yang masih saya kandung? apa yang harus kami lakukan? apakah suami tidak bisa menjadi wali bagi anak2 saya? syukran ustadz..wassalammualikum wr.wb

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullah

Saran dari keluarga itu sangat benar, dan itulah yang wajib dikerjakan.
Anak pertama adalah anak zina, dia tidak mempunyai hubungan dengan suami saudari sekarang.

Adapun anak yang dalam kandungan maka hukumnya tergantung keyakinan saudari mengenai syah tidaknya nikah tersebut sebelum hamil. Jika saudari sudah tahu tidak syahnya nikah tersebut sebelum hamil yang kedua akan tetapi tetap melakukan hubungan dengan suami sehingga hamil anak kedua, maka anak kedua juga dihukumi sebagai anak zina. Wallahu a’lam
Kalau demikian maka suami bukanlah mahram (jika anaknya wanita) bagi kedua anak tersebut dan karenanya juga dia tidak bisa menjadi wali keduanya.

Yang wajib sekarang adalah segera bertaubat kepada Allah Ta’ala dari semua dosa, memutuskan pernikahan. Dan melangsungkan kembali pernikahan setelah anak kedua lahir. Karena sekarang saudari dalam masa iddah (hamil) sementara pernikahan yang diadakan dalam masa iddah adalah tidak syah. Masa iddah wanita hamil berakhir dengan dia melahirkan kandungannya.

====================

andi mualif said:
December 16th, 2010 at 3:14 am

hukum nikah siri yang sudah nikah

Jawab:

Nikah siri ada dua bentuk:

1. Yang terpenuhi rukun nikah (wali wanita, mahar, dan 2 saksi) tapi tidak tercatat di KUA. Hukum nikahnya adalah syah dalam Islam. Hanya saja tidak sepatutnya hal ini dilakukan bisa menimbulkan mudharat yang besar di kemudian hari, baik kepada keduanya jika keduanya bercerai, maupun kepada anak-anaknya kelak yang membutuhkan bukti dari negara untuk mendapatkan hak-haknya selaku warga negara.

2. Yang tidak terpenuhi rukun nikah, misalnya tidak ada wali wanita. Nikahnya haram dan tidak syah.

Dinukil dari:

http://al-atsariyyah.com/hukum-anak-%E2%80%98haram%E2%80%99.html#more-1665

*******************************************************************

* Hukum Mengadopsi Anak Zina

Tanya:
Assalaamu’alaikum ust,
Ana ingin bertanya beberapa soalan berkenaan anak angkat dan ibu susuan:
a)Apakah dibolehkan mengambil anak angkat dari hasil penzinaan dimana si ibu tidak mampu menjaga anak itu?

b)Bolehkah seorang wanita memakan pil dari doktor untuk memperbanyakkan susunya supaya ia boleh menjadi ibu susuan kepada anak angkatnya?

c)Siapakah yang berhak atas anak yang lahir dari perzinaan, ibu kandungnya atau ibu angkat/ibu susuannya?
“Ibnu Ismail” <ibnuismail@salafy.ws>

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullah.
1.    Ia boleh, bahkan itu termasuk perbuatan yang terpuji kalau memang ibu kandungnya tidak bisa merawatnya. Hanya saja anak itu tidak akan bisa menjadi mahramnya kecuali melalui jalur syar’i, yaitu dengan disusui sehingga dia menjadi anak susuannya. Adapun keberadaan dia sebagai anak zina maka dosa ibunya tidaklah menyebabkan dia boleh diperlakukan seenaknya, karena seorang tidak menanggung dosa yang tidak dia lakukan.

2.    Boleh saja, dengan syarat pil tersebut tidak menimbulkan mudharat baginya dan tentunya harus ada izin dari suaminya.

3.    Jika ibu kandungnya bisa merawat anaknya dengan baik, baik dari sisi ekonomi maupun akhlaknya ke depan, maka tentu saja ibu kandungnya lebih berhak untuk merawat karena dia merupakan darah dagingnya sendiri.
Demikian, wallahu Ta’ala a’lam.

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/hukum-mengadopsi-anak-zina.html

==========================================================

* Status Pernikahan Anak di Luar Nikah

Assalaamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh, Ustadz

Ada titipan pertanyaan dari seseorang sebagai berikut:

——————————-
Seorang akhwat bertanya pada saya perihal ayah yang tidak boleh
menjadi wali nikah bagi anak perempuannya lantaran si akhwat ini
adalah anak di luar pernikahan. Dengan arti kata, si ayah dan ibu ini
dulunya MBA (married by accident) lantas mereka menikah dan lahirlah
si akhwat ini sebelum bulan ke-sembilan. Ketika si akhwat ini nikah,
sang ayahlah yang menjadi wali nikahnya. Sekarang si akhwat baru tahu
kalau ternyata si ayah seharusnya tidak boleh menjadi wali nikahnya.
Pernikahan itu sudah terjadi delapan tahun lalu dan saat ini sudah
dikarunia dua orang putri.

Pertanyaan: bagaimana status pernikahan akhwat tersebut dengan
suaminya, sahkah? Kalau tidak, harus bagaimana mengatasinya. Apakah
harus nikah ulang atau apa? Dan bagaimana pula status kedua anaknya
jika memang pernikahan tersebut tidak sah.
——————————-

Jazakallahu khayran.


Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

Dijawab Oleh :

Al Ustadz Dzulqornain bin Muhammad Sunusi

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuhu

Pertanyaan antum sama dengan pertanyaan yang diajukan Redaksi Risalah
Ilmiyah An-Nashihah kepada Syaikh Sholih Al-Fauzan.
Fatwa beliau telah dimuat dalam Risalah Ilmiyah An-Nashihah Vol 14
hal. 6, sebagai berikut:

Pertanyaan no. 93
Seorang lelaki menikahi seorang perempuan dengan pelaksanaan akad oleh
saudara ayahnya. Kemudian setelah itu, lelaki tersebut tahu kalau ibu
istrinya menikah dengan ayahnya dalam keadaan hamil. Apakah hukum
nikah orang tersebut?

Syaikh Shalih Al-Fauzan -hafizhahullâh- menjawab sebagai berikut:
Hukum pernikahan tersebut sah dan batalnya (nikah) selainnya tidak
berpengaruh kepadanya.

Dinukil dari: http://groups.yahoo.com/group/nashihah/message/10

=========================

Hukum Menikahi Wanita Hamil karena Berzina

Penulis: Syaikh Khalid Ar-Raddadi

Telah ditanyakan kepada as Syaikh Abu Yaasir Khalid Ar Raddadiy (hafidhahumallah)
Pertanyaan Langsung via Telepon
Melalui: al-Ustadz Abu Abdirrahman Muhammad Wildan, Lc.
dari Sekretariat Yayasan Anshorus Sunnah, Batam
tentang Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Berzina

- Tanya :

Apakah sah pernikahan seorang wanita yang hamil karena zina dengan laki-laki yang berzina dengannya atau dengan selain laki-laki yang berzina dengannya ?

س : السلام عليكم
ج : وعليكم السلام
س : معذرة يا شيخنا انقطع الخط.
س : هل يصح نكاح المرأة الحامل من الزنا بمن زنى بها أو بغير من زنى بها ؟
ج : هل يصح نكاح من ؟
س : هل يصح نكاح المرأة الحامل من الزنا بالرجل الذي زنى بهذه المرأة أو بغير الرجل الذي زنى بهذه المرأة ؟

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

- Jawab (Syaikh Kholid ar Raddaadiy) :

Permasalahan ini berkaitan dengan pernikahan seorang laki-laki dengan wanita yang hamil karena zina, baik itu dengan laki-laki yang menzinainya atau dengan selain laki-laki yang menzinainya, maka permasalahan ini mengandung hal-hal sebagai berikut:

Pertama:
Bagi wanita yang berzina ini Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat An~Nuur :

3 [سورة النور]
. الزَّانِي لَا يَنكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Artinya:
Laki-laki yg berzina itu tidak menikahi kecuali wanita yg berzina atau wanita musyrikah. Dan wanita yang berzina itu tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yg berzina atau seorang laki-laki yang musyrik dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang beriman (Surat An-Nuur : 3)

Apabila kita membaca ayat yang mulia ini yang Allah akhiri ayat ini dengan “ dan hal itu diharamkan bagi orang-orang beriman “, maka kita bisa simpulkan dari hal ini satu hukum, yaitu HARAMNYA menikahi wanita yang berzina dan HARAMNYA menikahkan laki-laki yang berzina.

Artinya, seorang wanita yang berzina itu tidak boleh bagi orang lain yaitu bagi laki-laki lain untuk menikahinya dan bahwa seorang laki-laki yang berzina itu tidak boleh bagi seseorang untuk menikahkan anak perempuannya dengannya.

Dan apabila kita mengetahui hal tersebut dan bahwa hal itu diharamkan bagi orang-orang yang beriman, maka sesungguhnya orang yang melakukan perbuatan yang keji ini kondisi / keadaanya tidak terlepas dari keadaan orang yang mengetahui haramnya perbuatan tersebut, namun ia tetap menikahi wanita itu dikarenakan dorongan hawa nafsu dan syahwatnya, maka pada saat seperti itu, laki-laki yang menikahi wanita yang berzina itu juga tergolong sebagai seorang pezina sebab ia telah melakukan akad yang diharamkan yang ia meyakini keharamannya.

Dari penjelasan ini jelaslah bagi kita tentang hukum haramnya menikahi wanita yang berzina dan tentang haramnya menikahkan laki-laki yang berzina.

Jadi, hukum asal dalam menikahi seorang wanita yang berzina itu adalah tidak boleh dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina pula. Iya, ada diantara para ulama yang memfatwakan, apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita dan laki-laki ini bermaksud untuk menikahi wanita tersebut, maka wajib bagi keduanya untuk bertobat kepada Allah Azza wa Jalla. Kemudian hendaknya kedua orang tersebut melepaskan dirinya dari perbuatan yang keji ini dan ia bertobat atas perbuatan keji yang telah dilakukannya dan bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan itu serta melakukan amalan-amalan yang shalih.

Dan apabila laki-laki tersebut berkeinginan untuk menikahi wanita itu, maka ia wajib untuk membiarkan wanita itu selama satu masa haid yaitu 1 bulan, sebelum ia menikahi atau melakukan akad nikah terhadapnya. Apabila kemudian wanita itu ternyata hamil, maka tidak boleh baginya untuk melakukan akad nikah kepadanya kecuali setelah wanita tersebut melahirkan anaknya.

Hal ini berdasarkan larangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ” Seseorang untuk menyiramkan airnya ke sawah atau ladang orang lain”, dan ini adalah bahasa kiasan, yaitu menyiramkan maninya kepada anak dari kandungan orang lain.

(Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Albani dalam “Shahih Sunan Abu Dawud” hadits nomor 2158)

ج : نعم، هذه المسألة بالنسبة لنكاح الرجل بالمرأة الحامل من الزنا بمن زنى بها أو بغير من زنى بها، فانها تتضمن ما يلي : عليه أولا هذه المرأة الزانية
يقول الله عز وجل : (الزاني لا ينكح الا زانية أو مشركة والزانية لا ينكحها الا زان أو مشرك وحرم ذلك على المؤمنين ). اذا قرأنا هذه الآية
الكريمة التي ختمها الله بقوله ( وحرم ذلك على المؤمنين ) أخذنا من هذا حكما وهو تحريم نكاح الزانية وتحريم نكاح الزاني بمعنى أن الزانية
لا يجوز للانسان أن يتزوجها وأن الزاني لا يجوز للانسان أن يزوجه ابنته واذا عرفنا ذلك وحرم ذلك على المؤمنين فان من ارتكب هذا الجرم
فلا يخلو اما أن يكون ملتزما بالتحريم عالما به ولكنه تزوج بمجرد الهوى والشهوة فحينئذ يكون زانيا لأنه عقد عقدا محرما يعتقده محرما ملتزما
بتحريمه. نعم. و يعني من خلال هذا يتبين لنا كما قلنا من هذه الآية حكم تحريم نكاح الزانية وتحريم كذلك نكاح الزاني كونه زنى بها هو الذي
زنى بها أراد أن يتزوجها أو كونه شخص آخر فالأصل في النكاح أنه لا ينكح الزانية الا زان مثله اذا زنى بها كان زانيا مثله. نعم هناك من يفتي
يقول مثلا اذا كان زنى بها وأراد أن يتزوجها فان عليهما أن يتوبا الى الله أولا فيقلعا عن هذه الجريمة. هذا اذا كان هو زنى بها…… على ما حصل
منهما من فعل الفاحشة وأن لا يعود اليها وهي كذلك و …… من الأعمال الصالحة واذا أراد أن يتزوجها وجب عليه أن يستبرئها بحيضة حتى
لو زنى بها يستبرئها بحيضة قبل أن يعقد عليها النكاح. وان تبين حملها لم يجز له العقد عليها – وإلا كما قلت أنت انها حامل- لا يجوز له العقد عليها
الا بعد أن تضع حملها… لنهي النبي صلى الله عليه و سلم أن يسقي الانسان ماءه زرع غيره. والله أعلم
س : إذن في تلك الصورتين لا يجوز.
ج : لا يجوز، نعم لا اذا كان هو زنى بها وأراد أن يتزوجها وبينا وفصلنا في هذا.
س : جزاكم الله خيرا يا شيخنا. بقي عندي سؤالان من أبي المنذر اتصل بي اليوم وطلب مني أن أسألكم هذين السؤالين

Dinukil dari: http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=79