Hukum Shalat Iftitah Sebelum Shalat Tarawih


🔐 *P E R T A N Y A A N*
Bagaimana pendapat anda wahai Syaikh terkait seorang imam yang membuka shalat malam sebelas rakaat dengan dua rakaat ringan dan apakah benar tindakan tersebut?
🔑🔓 *J A W A B A N*
Tindakan ini (mengawali shalat tarawih dengan dua rakaat) tidak benar. Pembuka shalat malam pada shalat tarawih dengan dua rakaat ringan (shalat Iftitah) tidaklah benar. Dikarenakan shalat Iftitah dengan dua rakaat yang ringan untuk shalat malam ini bagi mereka yang tidur.

Dikarenakan apabila seorang tidur syaithan akan mengikat dengan tiga ikatan pada pangkal kepalanya.
Apabila dia bangun kemudian Berdzikir (berdoa) maka akan terlepas satu ikatan, dan apabila setelah itu dia bersuci akan terlepas satu ikatan berikutnya, dan apabila dia shalat maka akan terlepas ikatan yang ketiga.

Olah karena inilah lebih utama bagi mereka yang shalat malam setelah tidur untuk membuka shalat malamnya dengan dua rakaat ringan, hal ini ditetapkan oleh sunnah baik dari ucapan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan juga perbuatan beliau.

Adapun shalat tarawih, karena dia dikerjakan sebelum tidur maka tidak dibuka dengan shalat Iftitah,”

💻 http://binothaimeen.net/content/301
………
🔰Adapun hadits yang dimaksud adalah hadits:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيْلٌ فَارْقُدْ! فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللهَ اِنْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ اِنْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى اِنْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيْطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيْثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ.

“Syaitan mengikat di pangkal kepala seseorang darimu saat ia tidur dengan tiga ikatan yang pada masing-masingnya tertulis, ‘Malammu sangat panjang, maka tidurlah!’ Bila ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, maka satu ikatan lepas, bila ia berwudhu’ satu ikatan lagi lepas dan bila ia shalat satu ikatan lagi lepas. Maka di pagi hari ia dalam keadaan semangat dengan jiwa yang baik. Namun jika ia tidak melakukan hal itu, maka di pagi hari jiwanya kotor dan ia menjadi malas.” [HR. Al-Bukhari, kitab at-Tahajjud]

┄┄┉┉✽̶»̶̥🌼»✽̶┉┉┄┄

Dinukil dari: http://jendelasunnah.com/blog/2016/06/15/hukum-shalat-iftitah-sebelum-shalat-tarawih/

Ketika Anda Terlilit Hutang


Ditanyakan kepada Asy Syaikh Al Fauzan Hafizhohullah Ta’ala wa Ro’aahu :

◾️Apakah ada doa khusus yang bisa senantiasa saya baca sebagai sebab -setelah Allah Subhaanahu wa Ta’ala- untuk menyingkirkan kesulitan dan melunasi hutang atau suatu doa yang semakna dengannya❓

Jawab :

🔊Ya ada doa yang datang dari atsar

“اللهمَّ اجعل لي مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، ومِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، ومِنْ كُلِّ بَلَاءٍ عافِيَةً”

” Ya Allah jadikanlah setiap kesedihan ada kelapangan, setiap kesempitan ada jalan
keluar, setiap bala ada keselamatan.”

⭕️Hendaknya engkau ulang-ulang doa ini dan yang semisalnya.

💧Maka Allah adalah Zat yang sangat dekat lagi mengabulkan doa.

▪️سُئل الشَّـيْخ العلّامة صـالحُ بنُ فَـوزان الـفَوزَان -حَـفظهُ الله-:

❪📜❫ السُّــــ☟ـــؤَالُ:
• هل هناك دعاء مُعَيَّن ألزَمْهُ يكون سببًا بعد الله-سبحانه وتعالى- في كَشْفِ الكُربَةِ وقضاء الدَّين أو شيء مِنْ هذا القَبيل؟

❪📜❫ الجَـــ☟ـــوَابُ:
• نعم، مِنَ الدُّعاءِ المأثور: “اللهمَّ اجعل لي مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، ومِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، ومِنْ كُلِّ بَلَاءٍ عافِيَةً”، فتُكَرِّر هذا الدُّعاء وأمثاله، واللهُ قريبٌ مُجيبٌ “.

ــــ
🔊الرابـط الصوتي :
http://cutt.us/5AIbM

📝Alih Bahasa : Abu Sufyan Al Musy Ghofarohullah
____________________________
8 Sya’ban 1437
🌀Daarul Hadits Al Bayyinah🌀
Sidayu Gresik
Harrosahallah
🔊🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔊

   🔵Channel Telegram UI🔵
http://bit.ly/uimusy

Kunjungi Website Kami MUSY
[Muslim Salafy]
http://www.musy.salafymedia.com

🔺🔺🔺🔺🔺🔺🔺🔺🔺🔺

BOLEHKAH NONTON TELEVISI DI BULAN RAMADHAN


Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah

Pertanyaan: Wanita muslimah sekarang ini banyak yang menghabiskan malam (begadang) di depan televisi atau video atau siaran parabola, sedangkan pada siang hari dengan belanja ke pasar dan tidur, maka apa nasehat Anda terhadap muslimah yang seperti ini?

Jawaban: Yang disyariatkan bagi seorang muslim pria atau wanita adalah dengan menghormati bulan Ramadhan dan mengisinya dengan berbagai ketaatan serta menjauhi kemaksiatan dan perbuatan buruk setiap saat, dan di bulan Ramadhan lebih ditekankan lagi karena kesucian waktunya.

Begadang untuk menonton film dan sinetron yang ditampilkan di televisi atau video atau melalui parabola atau untuk mendengarkan musik dan nyanyian, semua itu haram dan merupakan kemaksiatan, sama saja dilakukan di bulan Ramadhan atau pada bulan yang lainnya, hanya saja pada bulan Ramadhan lebih besar dosanya.

Dan jika bulan yang suci ini ditambah dengan menyia-nyiakan kewajiban dan tidur saja di siang hari hingga meninggalkan shalat, maka ini merupakan kemaksiatan yang lain. Dan memang demikianlah kemaksiatan itu sebagiannya menyeret kepada yang lain, kita memohon keselamatan kepada Allah.

Sedangkan keluarnya para wanita ke pasar hukumnya haram, kecuali memang butuh untuk pergi ke pasar (darurat -pent), dia boleh keluar sesuai kadar keperluan, dengan syarat berhijab, tetap menjaga kehormatan, menghindari campur baur dengan pria yang bukan mahram atau dengan mereka kecuali sekedar kebutuhan tanpa menimbulkan fitnah (syahwat -pent), juga dengan syarat tidak lama jika perginya pada malam hari, karena bisa menyebabkan tertidur dari shalat (Shubuh) pada waktunya, atau menyebabkan terlantarnya salah satu hak suami atau anak-anaknya.

***

🌍 http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14891

Dinukil dari: http://forumsalafy.net/bolehkah-nonton-televisi-dibulan-ramadhan/

WAKTU IMSAK MENJELANG SHUBUH DIBULAN RAMADHAN ADALAH BID’AH


Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Fadhilatusy Syaikh rahimahullah ta’ala ditanya: Kami melihat pada sebagian kalender di bulan Ramadhan terdapat sebuah kolom yang disebut dengan kolom imsak, yaitu menjadikan sepuluh atau lima belas menit sebelum shalat shubuh (sebagai batasan untuk tidak lagi makan dan minum). Apakah yang seperti ini ada dasarnya dari Sunnah ataukah termasuk bagian dari bid’ah? Berilah kami fatwa, semoga Allah membalas anda dengan kebaikan

Fadhilatusy Syaikh menjawab: Ini termasuk dari bid’ah. Perbuatan ini tidak ada dasarnya dari Sunnah, bahkan bertolak belakang dengannya.

Allah ta’ala berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia:

{وَكُلُواْ وَٱشْرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ وَلاَ تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِي ٱلْمَسَـٰجِدِ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ }

“Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang hitam yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datangnya malam. Dan janganlah kalian mencampuri mereka ketika kalian sedang beri’tikaf di dalam masjid. Itulah ketentuan-ketentuan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.”

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda:

«إن بلالاً يؤذن بليل، فكلوا واشربوا حتى تسمعوا أذان ابن أم مكتوم، فإنه لا يؤذن حتى يطلع الفجر»

“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di waktu malam, maka makan dan minumlah hingga kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum karena ia tidaklah mengumandangkan adzan kecuali bila fajar telah terbit.”

Waktu imsak yang dibuat-buat oleh sebagian manusia ini merupakan tambahan terhadap apa yang telah Allah tetapkan sehingga merupakan perkara yang batil. Bahkan hal itu termasuk dari sikap tanathu’ (berlebih-lebihan/memberat-beratkan diri) dalam beragama kepada Allah. Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi was salam telah bersabda:

«هلك المتنطعون، هلك المتنطعون، هلك المتنطعون».

“Binasalah orang-orang yang memberat-beratkan diri, binasalah orang-orang yang memberat-beratkan diri, dan binasalah orang-orang yang memberat-beratkan diri.” Selesai penukilan beliau rahimahullah.

———-

سئل فضيلة الشيخ ـ رحمه الله تعالى ـ: نرى بعض التقاويم في شهر رمضان يوضع فيه قسم يسمى «الإمساك» وهو يجعل قبل صلاة الفجر بنحو عشر دقائق، أو ربع ساعة فهل هذا له أصل من السنة أم هو من البدع؟ أفتونا مأجورين؟

فأجاب فضيلته بقوله: هذا من البدع، وليس له أصل من السنة، بل السنة على خلافه، لأن الله قال في كتابه العزيز: {وَكُلُواْ وَٱشْرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ وَلاَ تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِي ٱلْمَسَـٰجِدِ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ }. وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «إن بلالاً يؤذن بليل، فكلوا واشربوا حتى تسمعوا أذان ابن أم مكتوم، فإنه لا يؤذن حتى يطلع الفجر». وهذا الإمساك الذي يصنعه بعض الناس زيادة على ما فرض الله ـ عز وجل ـ فيكون باطلاً، وهو من التنطع في دين الله، وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: «هلك المتنطعون، هلك المتنطعون، هلك المتنطعون».”إ.هـ كلامه رحمه الله تعالي.

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=138568

Dinukil dari: http://forumsalafy.net/waktu-imsak-menjelang-shubuh-dibulan-ramadhan-adalah-bidah/

PENGARUH DUDUK-DUDUK MASJID DISIANG HARI BERPUASA


Dari Abul Mutawakkil rahimahullah, bahwasanya Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dahulu bersama sahabat-sahabatnya jika mereka berpuasa, mereka terbiasa duduk-duduk di masjid-masjid. Mereka mengatakan: “Kami ingin membersihkan puasa-puasa kami”.

Aku katakan: “Karena berbaur bersama manusia (diluar masjid) dan menyibukkan diri bersama mereka (dalam urusan dunia) terkadang menjadi sebab cacatnya puasa. Maka betapa butuhnya kita untuk menghidupkan bimbingan ini di hari-hari puasa.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 8881 dan Ibnu Hazm di Al-Muhalla 6/179. Dan kalimat terakhir itu dari ucapan beliau (Abul Mutawakkil rahimahullah)

Sumber Channel Durus wa Fawaid Salafiyah

《 وعـن أبي المتوكّل أنَّ أبا هريرة – رضي الله عنه – وأصحابه كانوا إذا صاموا جلسوا في المساجد، وقـالـوا: نُطـهِّر صيامـنا.

قـلت: لأنَّ مخالطة النَّاس ومعافستهم قد تكون سببًا في خدش الصَّوم، فما أحوجنا إلى إحياء هذا الهدي في أيَّام الصَّوم. 》

📚 [ “رواه ابن أبي شيبة” (٨٨٨١) ].
📚 [ “وابن حزم في المحلى” (١٧٩/٦) ]. والجملة الأخيرة له.

  1. ══════ ❁✿❁ ══════j

Dinukil dari: http://forumsalafy.net/pengaruh-duduk-duduk-masjid-disiang-hari-berpuasa/