Tampakkan Sunnah dan Jangan Diperdebatkan !


Perdebatan yang Tercela

Kaidah kedua dalam beramal dengan sunnah adalah ditampakkannya sunnah tersebut dan jangan diperdebatkan.

Yang dimaksud dengan diperdebatkan di sini adalah debat yang mewarisi kebencian dan dendam. Kebanyakan perdebatan dalam masalah ilmu (agama) itu mengantarkan kepada permusuhan, (semata-mata) berbantahan, riya`, kedengkian, dendam dan berprasangka buruk kepada ‘ulama, mencelanya dan menuduhnya dengan kebathilan dan akibat jelek lainnya dari perkara-perkara yang diharamkan. Dan tidak ragu lagi, bahwa debat ini adalah siksaan (balasan jelek) dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Karena alasan inilah, Rasulullah memperingatkan dari berdebat apabila tidak dengan cara yang lebih baik, sebagaimana beliau telah bersabda:
“Tidaklah suatu kaum menjadi sesat setelah mendapatkan petunjuk yang mereka dulu berada di atasnya, kecuali setelah didatangkan jidal (perdebatan) kepada mereka.” (HR. Ahmad 5/252, 256, At-Tirmidziy no.3250 dan dia berkata: hasan shahih dan Ibnu Majah no.48 dari Abu Umamah)

Banyak sekali ungkapan para imam dalam memperingatkan manusia dari perdebatan dan penjelasan tentang kerusakannya. Hingga Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan: “Perdebatan dalam masalah agama akan menumbuhkan sifat riya`, menghilangkan cahaya ilmu dari hati dan mengeraskannya serta mewariskan dendam.” (Siyar A’laamin Nubalaa` 8/106 dan semisalnya dari Asy-Syafi’iy sebagaimana dalam As-Siyar 10/28)

Berkata sebagian ‘ulama Salaf: “Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap seorang hamba maka akan dibukakan baginya pintu amal dan akan ditutup darinya pintu perdebatan, dan (sebaliknya) apabila Allah menghendaki kejelekan terhadap seorang hamba, maka akan ditutup darinya pintu amal dan akan dibukakan untuknya pintu perdebatan.” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf hal. 86, Ibnu Rajab Al-Hambaliy)

Al-Hasan Al-Bashriy mendengar suatu kaum saling berdebat, maka beliau berkata: “Mereka ini adalah suatu kaum yang sudah bosan akan ibadah dan telah menjadi ringan atas mereka perkataan dan telah sedikit wara’ mereka lalu mereka pun berkata (suka berdebat -pent.).” (Ibid hal.89)

Berkata Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambaliy: “Sungguh telah terfitnah kebanyakan dari kalangan orang-orang belakangan dengan permasalahan ini (perdebatan), lalu mereka menyangka bahwa orang yang banyak pembicaraannya, perdebatannya dan perselisihannya dalam masalah-masalah agama maka dia adalah orang yang lebih tahu daripada orang yang keadaannya tidak demikian, dan ini (sebenarnya) adalah kebodohan yang murni maka bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat dan bukan pula dengan banyaknya ucapan, akan tetapi (ilmu itu adalah) cahaya yang dimasukkan ke dalam hati, yang seorang hamba akan memahami kebenaran dengan ilmu tersebut dan dia akan bisa membedakan dengan ilmu tersebut antara Al-Haq (kebenaran) dengan kebathilan.” (Ibid hal.93-94)

Berkata Al-Imam Abu Bakr Al-Ajurriy setelah memperingatkan dari perbantahan dalam masalah ilmu dan banyak berdebat padanya: “Maka apabila ada orang yang berkata: lalu apa yang akan bisa diperbuat pada ilmu yang telah menjadi samar atasnya?” Dikatakan untuknya: “Apabila keadaannya demikian dan dia menginginkan kemantapan dalam ilmu yang masih samar atasnya (hendaklah dia) menyengaja mendatangi seorang ‘alim dari golongan orang-orang yang mengetahui (dan katakan kepadanya) bahwasanya dia menginginkan dengan ilmunya tersebut (ridha) Allah … lalu dia mempelajarinya sebagaimana orang yang mencari faidah mempelajarinya dan beritahukan kepadanya bahwasanya perdebatanku kepadamu adalah perdebatannya orang yang mencari kebenaran, bukan perdebatannya orang yang ingin pertengkaran, perselisihan dan mencari kemenangan, kemudian ikatlah dirinya dengan sifat keadilan untuknya dalam perdebatannya itu.” (Akhlaaqul ‘Ulamaa` hal.41)

Al-Imam Ibnul Jauziy telah memperingatkan dari talbiis (tipu daya/makar/pengkaburannya) Iblis terhadap ‘ulama dan para penuntut ‘ilmu dalam masalah-masalah perdebatan, lalu beliau berkata: “Sesungguhnya salah seorang di antara mereka telah jelas baginya bahwa kebenaran itu berada pada lawan bicaranya dan dia tidak ruju’ (kembali kepada Al-Haq) dan dadanya menjadi sempit (dengan mengatakan) bagaimana tampak kebenaran itu bersama lawan bicaranya dan kadang-kadang ia bersungguh-sungguh dalam membantahnya bersamaan pengetahuannya bahwasanya (lawannya itu) benar, maka ini adalah dari sejelek-jeleknya kejelekan, karena sesungguhnya perdebatan itu digunakan untuk menerangkan kebenaran, dan sungguh berkata Al-Imam Asy-Syafi’i: “Tidaklah aku mendebat seorangpun, lalu dia mengingkari hujjah kecuali telah terputus dari kedua mataku (artinya aku tinggalkan dia -pent.) dan tidaklah dia menerimanya kecuali karena ketajamannya.” (Talbiisu Ibliis hal. 120) [Lihat Aadaabu Thaalibil ‘Ilm hal.58-60]

Maka kewajiban bagi seorang yang mencari hidayah (petunjuk) untuk menjelaskan sunnah kepada manusia dan menegakkan hujjah-hujjah atasnya, serta menggunakan di jalan tersebut cara-cara yang memuaskan, walaupun tidak diterima darinya (yang penting sunnah tersebut sudah diterangkan dan dijelaskan kepada manusia-pent.). Tidak ada kewajiban bagi seorang rasul, kecuali menyampaikan dengan jelas.

Al-Imam Ahmad berkata: “Kabarkan sunnah dan jangan saling berbantahan di atasnya.” (Thabaqaat Al-Hanaabilah, Ibnu Abi Ya’la 1/236)

Al-Haitsam bin Jamil berkata: “Aku berkata kepada Malik bin Anas: “Wahai Aba ‘Abdillah, seseorang yang berilmu (mengerti) tentang sunnah, bolehkah didebat?” Ia berkata: “Tidak. Akan tetapi hendaknya ia diberitahu tentang sunnah, jika diterima darinya (itulah yang diharapkan -pent.) dan jika tidak, diam saja.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih 2/94)

Semua ini adalah perdebatan yang tercela, yang akan tumbuh darinya sekian kerusakan sampai musnah kemaslahatan dari sisinya.

Perdebatan yang Terpuji

Adapun beradu pendapat (argumen) dengan cara yang baik, yaitu dengan tujuan mencari kebenaran dan tidak terkandung maksud yang akan mengeluarkannya dari tujuan tersebut, maka sangatlah baik hal itu, (yakni) diterangkannya kebenaran, pengarahan kepada jalan yang lurus serta bimbingan kepada tempat-tempat yang benar. (Al-Faqiih wal Mutafaqqih hal.222)

Maka ketika terjadi adu pendapat, berhati-hatilah agar tidak menjadi sebab perpecahan, pertentangan dan permusuhan antara sesama saudara sesama muslim. Dan sedikit sekali suatu perdebatan yang bisa lepas dari akibat yang seperti itu. Kita memohon kepada Allah kesehatan dan keselamatan.
Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i: “Tidaklah aku berbicara kepada seorangpun begitu saja kecuali aku menyukai kalau dia menunjuki aku, meluruskanku dan membantuku dan hal itu merupakan perhatian dan penjagaan dari Allah atasnya dan tidaklah aku berbicara kepada seorangpun begitu saja kecuali saya tidak peduli apakah Allah menjelaskan kebenaran melalui lisanku atau lisannya.” (Al-Faqiih wal Mutafaqqih 2/26 dari Aadaabu Thaalibil ‘Ilm hal.60)

Berkata Yunus Ash-Shafadiy: “Tidak pernah saya melihat seorang yang lebih berakal dari Asy-Syafi’iy. Suatu hari saya mendebatnya dalam suatu masalah, kemudian kami berpisah. Lalu ia menemuiku dan memegang tanganku kemudian berkata: “Wahai Abu Musa, tidakkah salah kita menjadi saudara, walaupun kita tidak sepakat dalam satu masalah?”
Adz-Dzahabiy berkata dalam mengomentari kejadian tersebut: “Saya berkata: Hal ini menunjukkan kesempurnaan akal dan kefaqihan imam ini, yang mana para ahli debat itu (biasanya) senantiasa berselisih.” (Siyar A’laamin Nubalaa` 10/16-17)

Ibnu ‘Abdil Barr mengeluarkan (riwayat): Dari Al-‘Abbas bin ‘Abdil ‘Azhim Al-‘Anbariy, ia berkata: “Pernah aku berada di tempat Al-Imam Ahmad bin Hambal, lalu datang ‘Ali ibnul Madiniy kepadanya dengan mengendarai tunggangannya.” Dia (Al-‘Anbariy) berkata: “Keduanya saling berdebat tentang asy-syahaadah (persaksian). Meninggi suara keduanya, sehingga aku khawatir akan terjadi kekerasan di antara mereka berdua. Al-Imam Ahmad berpendapat, bahwa asy-syahaadah itu ada, sedangkan ‘Ali Ibnul Madiniy menolak dan menentangnya. Maka ketika Ibnul Madiniy hendak pergi, Al-Imam Ahmad bangkit lalu memegang kendaraannya (Ibnul Madiniy).” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih 2/107)

Berkata Syaikhul Islam: “Demikianlah para ‘ulama dari kalangan shahabat, tabi’in dan orang setelah mereka, jika sedang bertentangan dalam suatu masalah, mereka mengikuti perintah Allah subhanahu wa ta’ala: “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya).” (An-Nisaa`:59)

Mereka berdebat dalam suatu masalah secara musyawarah dan saling menasehati yang mungkin saja terjadi perselisihan pendapat dalam suatu masalah ‘ilmiyyah atau ‘amaliyyah, namun mereka tetap menjaga kerukunan, kehormatan dan persaudaraan dalam agama.

Tidak Boleh Menyelisihi Dalil yang Jelas

Memang benar, barangsiapa yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah serta Ijma’ As-Salafush Shalih dengan bentuk penyelisihan yang tidak diberi ‘udzur di dalamnya, maka diperlakukan baginya sebagaimana ahli bid’ah. (Majmu’ Fatawa 24/172)

Yaitu bagi orang yang sudah jelas baginya dalil baik dari Al-Qur`an, As-Sunnah ataupun Ijma’nya ‘ulama ahlus sunnah namun ia menolaknya dikarenakan fanatik atau taqlid (membebek) terhadap madzhabnya atau pendapat gurunya, maka orang ini tidak dimaafkan, tidak boleh dihormati sedikitpun pendapatnya tersebut bahkan kita gabungkan dia dengan kelompok ahlul bid’ah.

Tidak Boleh Fanatik terhadap Madzhab

Dan Syaikhul Islam mencela orang-orang yang fanatik terhadap sunnah ijtihadiyyah yang mereka pegangi dan memusuhi orang yang menyelisihi mereka dalam masalah tersebut. Beliau mengatakan: “Adapun fanatik terhadap permasalahan tersebut dan semisalnya merupakan syi’ar perpecahan dan perselisihan yang kita telah dilarang darinya. Dan orang yang menyeru untuk itu, berarti dia lebih mengunggulkan syi’ar perpecahan di tengah-tengah ummat. Jika tidak, maka masalah-masalah ini termasuk masalah khilaf yang paling ringan, andai syaithan tidak menyeru kepadanya untuk menampakkan syi’ar-syi’ar perpecahan tersebut.” (Majmu’ Fatawa 22/405)

Artinya dalam permasalahan ijtihad fiqhiy yaitu perkara yang tidak nampak padanya sebuah dalil disertai dengan salah satu dari dua perkataan, bahkan kedua ucapan ini memungkinkan (untuk diambil -pent). Yang demikian ini tidak diingkari dalam perkara-perkara ijtihad, selama belum ada sesuatu yang merajihkan, tidak boleh mengingkari orang yang mengambil salah satu dari pendapat yang ada, dengan syarat tidak terdapat padanya sifat ta’ashshub (fanatik) atau hawa nafsu, tapi semata-mata tujuannya adalah kebenaran. (Syarh Masaa`il Al-Jaahiliyyah, Al-Fauzan hal.46). Wallaahu A’lamu bish Shawaab.

Maraji’: Dharuuratul Ihtimaam bis Sunanin Nabawiyyah; Aadaabu Thaalibil ‘Ilmi dan Syarh Masaa`il Al-Jaahiliyyah.

Sumber: Bulletin Al Wala’ Wal Bara’ Edisi ke-19 Tahun ke-2 / 02 April 2004 M / 12 Shafar 1425 H

Dinukil dari: http://fdawj.atspace.org/awwb/th2/19.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s