Saya Mu`min Insya Allah


Penulis: al Ustadz Hammad Abu Muawiah

Ucapan, “Saya mu`min insya Allah,” seperti di atas. Apa hukum seorang muslim mengucapkannya?

Sebelumnya perlu diketahui bahwa ucapan di atas -di kalangan para ulama- dikenal dengan nama ‘al-istitsna` fi al-iman’, yang artinya ‘pengecualian dalam masalah keimanan’.

Adapun hukumnya, berikut terjemahan dari ucapan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah:

Istitsna` dalam masalah keimanan adalah seseorang mengatakan, “Saya seorang mukmin insya Allah.”
Ulama berselisih paham menjadi tiga pendapat dalam permasalahan ini:

Pendapat pertama: Haramnya istitsna`.

Pendapat ini adalah pendapat sekte al-murji`ah, sekte al-Jahmiyah dan yang semisal mereka. Dasar pegangan pendapat ini bahwa iman itu adalah satu bagian yang diketahui oleh setiap orang di dalam dirinya, yaitu pembenaran sesuatu yang melekat didalam hatinya. Karenanya kalau seseorang mengucapkan istitsna` dalam keimanan maka pengecualian iman tersebut adalah bukti akan keraguanya. Olehnya itu mereka menamakan orang-orang yang membolehkan istitsna` sebagai kaum syakkakan (ragu-ragu).

Pendapat kedua: Wajibnya istitsna`dalam iman.

Dan pendapat ini mempunyai dua dasar argumentasi:

1.    Iman itu adalah keyakinan yang seseorang meninggal di atasnya, maka seseorang dihukumi mukmin atau kafir ditentukan dengan keadaan dia ketika meninggal, sementara hal ini adalah perkara yang terjadi di masa yang akan datang dan belum diketahui. Karena itu seorang tidak dapat memastikan bahwa dirinya beriman. Ini adalah landasan yang diutarakan oleh kalangan muta`akhkhirin dari pengikut sekte al-Kullabiyah dan selain mereka. Hanya saja argumen ini tidak diketahui oleh seorangpun dari ulama as-salaf yang berargumen dengannya, akan tetapi mereka (ulama as-salaf) hanya berargumen dengan landasan yang kedua, yaitu:

2.    Iman yang bersifat absolut (sempurna) mengandung pelaksanaan semua perintah dan meninggalkan semua larangan, dan sifat seperti ini tidak bisa dipastikan terdapat pada diri seseorang. Seandainya dia memastikannya maka berarti dia telah mengkultuskan dirinya dan telah menjamin bahwa dirinya termasuk dari orang-orang yang bertakwa lagi banyak kebaikannya. Hingga pada gilirannya dia mempersaksikan dirinya termasuk ke dalam penghuni surga. Kesemua kelaziman ini tertolak adanya.

Pendapat ketiga: Merinci makna al-istitsna` tersebut.

Kalau istitsna` itu lahir dari keraguan akan adanya asal (akar) keimanan dalam dirinya, maka itu diharamkan bahkan merupakan kekufuran. Karena keimanan adalah suatu ketetapan hati sementara keraguan bertentangan dengan ketetapan hati tersebut. Akan tetapi jika istitsna` itu lahir dari kekhawatiran pengkultusan dirinya dan persaksian bahwa dirinya telah menyempurnakan keimanan dengan ucapan, amalan dan keyakinannya, maka pengecualian (al-istitsna`) hukumnya wajib karena khawatir terjatuh dalam perkara yang terlarang. Dan kalau yang menjadi tujuan dalam istitsna` adalah untuk tabarruk (mengharap berkah) dengan menyebut masyi`ah (kehendak) Allah atau sebagai penjelasan sebab akibat, bahwa keimanan yang ada di dalam dirinya semata-mata karena kehendak Allah, maka ini hukumnya boleh.

Penggantungan sesuatu kepada masyiah Allah seperti di atas -maksud saya sebagai penjelasan sebab akibat- tidaklah meniadakan eksistensi keimanan, karena telah terdapat penggantungan –pada kehendak Allah- dalam konteks semacam ini dalam perkara-perkara yang sudah dipastikan terjadinya. Seperti firman Allah, “Bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman.” (QS. al-Fath: 27)

Dengan keterangan ini bisa diketahui tidak benarnya memberikan hukum yang bersifat absolut dalam masalah istitsna`/pengecualian iman, akan tetapi harus diberi perincian seperti yang dijelaskan sebelumnya, wallahu a’lam.
[Diterjemah dari Fathu Rabbi Al-Bariyah fasal terakhir]

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/saya-mumin-insya-allah.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s