Bantahan Terhadap Orang-orang Yang Membolehkan Ucapan Selamat Natal Dan Hari-hari Raya Lainnya


Penulis: al Ustadz Fahmi Abubakar Jawwas

بسم الله الحمن الرحيم


الحمد الله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله المبعوث رحمة للعالمين وحجة على أهل الزيغ والضلال أجمعين صلى الله عليه وعلى آله وصحبه

Allaah Azza Wajalla berfirman di dalam KitabNya

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (#)إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ ( النحل :36-37  )

Artinya:” dan sungguh  Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat agar kalian beribadah kepada Allah (saja), dan menjauhi Thaghut[1] ” Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allaah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, Maka Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong.(An-Nahl :36-37)

telah benar sabda Rasulallahu Shalallahu Alaihi Wasallam:”sesungguhnya Allaah Azza Wajalla tidak mematikan ilmu ini dengan sekali cabut dari dada-dada manusia,tetapi dgn mewafatkan ulama,sampai jika tidak tersisa seorang ulama pun,manusia menjadikan pemimpin-pemimpin mereka dari orang-orang yg bodoh,maka mereka berfatwa dengan tanpa ilmu kemudian sesatlah mereka dan mereka  menyesatkan(HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr Radiyallahu Anhuma)

dan diantara mereka yg menyesatkan manusia adalah Yusuf Al-Qardhawi yg mana banyak dari fatwa-fatwanya menyelisihi  Nash-Nash Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman ummat-ummat yg terdahulu dan mengikuti pemikiran akalnya dan telah tersebar bagaimana dia memposisikan dirinya dengan membantu musuh kaum muslimin dan menghilangkan kebaikan dan kemurnian agama ini dan dari kesesatan itu adalah fatwanya yg membolehkan memberikan selamat kepada yahudi dan nashroni di dalam hari-hari raya mereka.

Maka sebelumnya perlu kita perhatikan

1.sesungguhnya yg wajib bagi kaum muslimin adalah berserah diri untuk Agama Allaah Azza Wa Jalla yg mana telah diturunkan kepada makhlukNya dan memerintahkan mereka denganya,dan Allaah Azza Wa Jalla tidak akan menerima amalan mereka selainnya dan itu adalah agama Islam Allaah Azza Wa Jalla berfirman

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ( ال عمران : ٨٥)

Artinya:”Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.(Qs.Ali-‘Imraan :85)

Dan Islam adalah setiap segala sesuatu yg manusia diserukan kepadanya dari apa-apa yg ada di Kitab Rabb kita dan Sunnah yg shahih dari Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman salaf (para pendahulu) yg shaleh dari ummat ini sebagaimana firman Allaah Azza Wa Jalla

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ (الأععراف :٣)

Artinya:” ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (daripadanya).(Qs.Al-‘Araaf : 3).

Dan seperti firman Allaah Azza Wa Jalla

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (البقرة :١٣٧)

Artinya :”Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.(Qs.Al-Baqarah :137)

Dan Allaah Ta’ala berfirman

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دينا( المائدة :٣)

Artinya :” pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu. (Qs.Al-Ma’idah :3)

Berkata Umar bin Khathaab Radiyallahu Anhu:”kita zaman dahulu adalah kaum yg terhina kemudian Allaah Ta’ala memuliakan kita dengan Islam dan bilamana kita menginginkan kemuliayaan dengan tanpa apa-apa yg Allaah Ta’ala telah memuliakan dengannya maka Allaah akan menghinakan kita (dishahihkan Syaikh Albani Rahimahullah di As-Silsilah Ash-Shahiihah hal 1/62 no 51)maka tidak ada keyakinan kecuali keyakinan agama Islam,dan tidak ada ibadah kecuali ibadah agama Islam dan tidak ada jalan kecuali jalan agama Islam dan tidak ada akhlak kecuali akhlak agama  Islam,maka tidak boleh bagi seorang muslim setelah itu menolak dan menyelisinya dengan perasaan atau akal atau fikiran bahkan yg wajib baginya adalahh berserah diri secara keseluruhan seperti firman Allaah Azza Wa Jalla

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (النساء : 65(

Artinya:”Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(Qs.An-Nisaa’:65)

Dan janganlah kita menjadi orang-orang munafiq ( Wal-“iyyadzu billaah)yg mana memang sifat mereka adalah melawan dan menyelisihi agama Allaah Azza Wa Jalla,seperti firman Allaah Ta’ala

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (النساء :٦١)

Artinya: “apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu Lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.(Qs.An-Nisaa’ : 61)

2.sesungguhnya tidak boleh bagi seorang muslim menyelisihi Syari’at ini dengan akalnya  dan fikirannya,maka sesungguhnya itu adalah sebab rusak agamanya dan dunianya,berkata Ibnul Qayyim Rahimahullah:”dan setiap seseorang yg berpegang teguh kapada akalnya mengetahui sesungguhnya rusaknya seorang yg berilmu itu ditimbulkan karena dia mendahulukan akal fikirannya dari pada wahyu dan termasuk dosa yg paling besar yg diperbuat oleh akal adalah penolakannya terhadap Kitab Allaah dan wahyuNya yg dengannya para Rasul Shalawaatu Rabbii Wasalaamuhu ‘Alaihim memberi petunjuk dan menolaknya dengan perkataan selainnya maka dengan kerusakan apa yg lebih besar dari pada kerusakan akal ini?(‘Ilaam Al-Muwaqqi’iin hal 1/68)dan termasuk orang-orang yg menolak agama ini dengan akal adalah yusuf al-qardhawi dan Syaikhnya dan itu adalah runtunan masyayekh orang yg mendahulukan akal dan kebid’ahan,yg mereka nukilkan sebagian mereka kesebagian lainnya,dan dari contoh itu adalah penolakannya tentang hadits Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:”ayahku dan ayahmu di neraka.(HR.Muslim dari Anas bin Malik Radiyallahu Anhu)

Berkata al-qardhawi setelah itu di dalam kitabnya “bagaimana kita bermuamalah dengan Sunnah hal 97-98”(apa dosa Abdullah bin Abdil Muththalib sampai dia menjadi penghuni neraka)dan dia berkata setelahnya(apa dosa ayahnya laki-laki yg bertanya tersebut dan yg tampak bagiku adalah bahwasanya ayahnya telah wafat sebelum Islam untuk ini aku bimbang dengan hadits ini sampai tampak bagiku sesuatu yg melapangkan dadaku adapun Syaikh ku Syaikh Muhammad Al-Ghazaali dia telah menolak hadits ini dengan terus terang.

Maka lihatlah wahai Rahimakallah dengan keyakinan sufiyyah dan cara-cara yg baru di dalam agama Islam,maka dia telah menjadikan akal sebagai asas,dan apa yg diterima oleh akal maka dia akan diterima dan apa yg tidak diterima oleh akal maka dia akan tertolak,dan tidak tersembunyi lagi bagi seorang muslim rusaknya perkataan ini,dan Ali Radiyallahu Anhu berkata:”kalau seandainya agama ini dengan akal maka mengusap bawahnya khuff[2] itu lebih utama dari pada mengusap atasnya (HR Abu Daud dishahihkan Syaikh Albani Rahimahullah di Irwa’ Al-Ghaliil hal 1/140)

Dan dari arah fatwa qardhawi yg menyimpang ini di dalam pembolehannya memberikan selamat kepada kepada orang-orang kafir di hari raya mereka yg menolak dan tidak menggubris dengan dalil-dalil yg banyak dari Al-Qur’an dan Sunnah  dan perkataan salaf ummat ini dan juga perkataan Ahlil ilmi yg telah banyak dari Ahli Tafsiir,Hadiits dan Fiqh dan sesuatu yg Ijma’ tdk boleh keluar darinya dan menyelisinya.

Dan dari dalil-dalil kitab yg banyak,firman Allaaah Azza Wa Jalla

وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا (الفرقان :٧٢)

Artinya:”dan orang-orang yang tidak menyaksikan Az-Zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.(Qs.Al-Furqaan: 72)

Dan dari Ibnu Abbas Radiyallahu Anhuma,Mujaahid,Ar-Rabi’ bin Anas,Ikrimah dan Dhahak Rahimahumullah mereka berkata:”hari-hari raya orang-orang musyrik (maksudnya arti dari”Az-Zuur-pent) diriwayatkan oleh Khalaal di Jaami’nya dan semisal dengannya oleh Ibnu Jariir dan Al-Qurthubii di dalam Tafsiirnya dan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahaani dari ‘Amr bin Murrah Rahimahumullah(berkata :”tidak menyaksikan Az-Zuur artinya tidak menolong Ahli Syirik dengan perbuatan kesyirikan mereka dan tidak bercampur baur dengan mereka)dan semisalnya dari Atha’ bin Yasaar Rahimahullah,dan mengucapkan selamat dihari raya mereka termasuk menolong Ahli Syirik dengan perbuatan kesyirikan mereka.

Dan dari Sunnah sangatlah banyak,apa yg diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya dengan sanad yg hasan dari Anas Radiyallahu Anhu dengan sanad yg hasan berkata:”Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam telah tiba di Madinah,dan mereka mempunyai dua hari yg mereka bermain di hari itu,maka beliau Shalallahu Alaihi Wasallam  berkata:”apa yg dimaksud (dengan) dua hari ini?

Mereka berkata :”kami telah bermain-main di dua hari ini pada waktu jahiliyyah,maka Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:”sesungguhnya Allaah Azza Wajalla telah mengganti kalian dua hari yg lebih baik dari keduanya yaitu hari Adha dan Fithri.dan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam telah menyatakan tidak berlaku bagi setiap hari raya kecuali kedua hari raya ini,maka bagaimana dengan memberikan selamat dihari rayanya yg bathil.

Dan dari perkataan ulama salaf apa yg telah lalu dari tafsiir ayat dan dari suratnya Umar Radiyallahu Anhu kepada orang-orang kafir yg diberikan jaminan keamanan yg Ummat ini telah menerimanya dan ini adalah Ijma’ kaum muslimin yg terdahulu dan yg akan datang,dan itu adalah perkataan Khalifah kedua dari Khalifah Ar-Rasyidiin,dan di dalamnya,bahwa beliau Radiyallahu Anhu melarang orang-oang kafir yg diberikan jaminan keamanan untuk memperlihatkan sesuatu apapun dari hari raya mereka,dan lihatlah Ta’liiq Syarh Imam Ibnul Qayyiim Rahimahullah Fi Ahkaam Ahli Adz-Dzimmah hal (2/659)

Dan dari Umar Radiyallahu Anhu berkata:”menjauhlah kalian dari musuh-musuh Allaah di dalam hari-hari raya mereka (diriwayatkan oleh Al-Baihaqi Bab Karahatu Ad-Dukhuul ‘Ala Ahli Adz-Dzimmah Fi Kanaa’isihim Wa At-Tasyabbuhu Bihim Yauma Nairuuzihim Wa Mahrajaanihim dengan Sanadnya dari Al-Bukhari yg sampai sanadnya kepada Umar Radiyallahu Anhu yg dia adalah pengarang Kitab Shahiih Al-Bukhari

Dan Nairuuz adalah hari raya Alqibthi di Mesir dan itu adalah hari pertama disetiap tahunan AL-Qibthiyyah dan disebut dengan hari Syammun Nasiim

Dan jika kita diperintahkan untuk menjauhi hari-hari raya mereka dan dilarang mendirikan hari-hari raya mereka,maka bagaimana bisa dibolehkannya memberikan selamat di hari raya mereka !!!

Dan untuk menguatkan tambahan,yaitu apa yg disebutkan Al-Khalaal di Jaami’nya berkata:”Baab Fi Karaahati Khuruuj Al-Muslimiin Fi A’yaadil Musyrikiin…

Maka bagaimana dibolehkan kepada kita untuk memberikan selamat kepada orang-orang musyrik di dalam hari-hari raya mereka yg bathil setelah ini.

Dan Syaikh Al-Islaam Rahimahullah telah menukilkan di dalam kitabnya”AL-Iqtidhoo’ hal 1/454” kesepakatan para Shahabat Radiyallahu Anhum dan seluruh Ahli Fiqh atas apa yg telah disyaratkan Umar Radiyallahu Anhu bahwasanya Ahlu Dzimmah dari Ahli Kitab dan selainnya untuk tidak menampakkan hari-hari raya mereka….

Jika orang-orang Islam telah sepakat untuk melarang mereka menampakan hari raya mereka,maka bagaimana bisa dibolehkan bagi seorang muslim untuk melakukannya,maka sesungguhnya perbuatan orang muslim lebih-lebih lagi dari perbuatan orang kafir…(secara ma’na)

Dan berkata muridnya Al-Imaam Ibnul Qayyim Rahimahullah ”Fi Ahkaam Ahli Adz-Dzimmah (2/722)di dalam arah pembicaraannya terhadap hari-hari raya orang-orang musyrik”,dan sebagaimana mereka(orang-orang musyrik yg diberi jaminan keamanan-pent) tidak boleh bagi mereka menampakkan hari-hari raya mereka,maka tidak boleh bagi kaum muslimin menolong atau membantu mereka dan tidak boleh juga hadir bersama mereka dengan kesepakatan Ahlil Ilmi yg mana mereka adalah ahlinya dan para Ahli Fiqh dari pengikut Imam yg empat telah terang-terangan dengan itu di dalam buku-buku mereka.

Dan dari perkataan Ahlil Ilm di dalam permasalahan itu adalah apa yg disebutkan oleh pengarang buku Ad-Durr Al-Mukhtaar ‘Alaa’ Ad-Diin Al-Hashkafii (6/754):”dan pemberian barang dengan nama yg diagungkan orang-orang musyrik maka telah kufur” kemudian dia menyebutkan nukilan dari Abi Hafsh Al-Kabiir dengan tidak dibolehkannya,menerima,memberikan,menghadiahkan dan berjual beli dengan nama hari-hari orang-orang musyrik,maka sesungguhnya perbuatan itu kadang terjatuh kedalam kekufuran dengan pengagungannya pada hari raya ini.(secara ma’na)

Dan disebutkan di Baher Ar-Raa’iq(8/55)sesungguhnya yg menghadiahi telur di dalam hari-hari raya orang-orang musyrik dengan pengagungan terhadap hari raya tersebut itu adalah perbuatan kufur kepada Allaah Azza Wa Jalla

Dan disebutkan pengarang ‘Aunul Ma’buud (3/341)”dari Al-Qaadhi Abi Al-Mahaasin Al-Hasan bin Manshuur Al-Hanafi Rahimahullah:”sesungguhnya barang siapa yg membeli sesuatu di dalamnya dan tidak membeli kepada yg lainnya atau memberi hadiah di dalamnya,maka jika menginginkan dgn itu pengagungan kepada hari raya seperti pengagungan orang-orang kafir maka dia telah kafir,dan jika dia menginginkan dengan pembelian itu hanya meni’mati,bertamasya dan dengan pemberian hadiahnya mencintai seperti adat maka tidak kafir,tetapi menyerupai dengan orang-orang kafir dan untuk itu agar menjaga dari perbuatan itu.

Dan dinukilkan Syaikh Al-Islaam dari Abdil Malik bin Habiib sesungguhnya Imam Malik Rahimahumullah membenci dan mengharamkan makanan dari sembelihan orang-orang nashrani dihari-hari raya mereka dan selainnya

Dan disebutkan Hafidz Ibnu Hajar di hadits Anas Radiyallahu Anhu yg telah lalu untuk berkecukupan dengan hari raya Adha dan Fitri,setelah menyebutkan bahwasanya itu diriwayatkan dengan sanad yg shahih,berkata Rahimahullah dan intisari dari itu adalah dibencinya bersenang-senang di dalam hari-hari raya mereka dan menyerupai mereka.

Dan disebutkan Al-Manaawi di dalam Faidh Al-Qadhiir(4/511)kemudian dia menyebutkan hadits Anas Radiyallahu Anhu kemudian dia menyebutkan pelarangan dari pengagungan hari-hari raya orang-orang kafir dan sesungguhnya orang yg mengagunginya dikarenakan hari rayanya maka dia adalah kafir (secara ma’na)

Maka setelah ini bagaimanakah dibolehkan bagi seorang muslim untuk mengatakan dengan dibolehkannya mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir di dalam hari-hari raya mereka apa lagi kepada orang yg menyandarkan dirinya dengan ilmu seperti Qardhawi,Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan !!

Maka hati-hatilah wahai saudaraku yg muslim Rahimakallah dari penyeru-penyeru kepada kejelekan dan kesesatan yg Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam telah memperingatkan mereka di akhir zaman seperti dihadits Hudzaifah Radiyallahu Anhu di Shahihain

Dan ketauhilah Rahimakallah sesungguhnya penyeru-penyeru kepada kesesatan itu berargumen dengan dalil dan mereka mensamarkannya dengan Syubhat/sesuatu yg rancu,untuk itu kita diperintahkan untuk mengasingkan diri kita dari mereka bukan karena lemahnya ahlul haq di dalam membantah mereka,tetapi karena menjaga keselamatan keumuman kaum muslimin dan hati manusia itu lemah dan Syubhat itu dengan cepat menyambar-nyambar

Dan adapun hadits tentang larangan menyerupai orang-orang kafir adalah hadits Ibnu Umar Radiyallahu Anhuma,Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:”barang siapa yg menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka(HR.Abu Daud no 4031 dishahihkan Syaikh Albani di Irwa’ Al-Ghaliil hal 5/109)

Telah berkata Syaikh Islam Rahimahullah:”dan paling sedikit keadaannya itu menunjukan haramnya orang yg menyerupai orang-orang kafir walaupun secara dzohirnya itu menunjukan kafirnya orang yg menyerupai orang-orang kafir seperti diayat

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ (المائدة :٥١)

Artinya:”dan Barangsiapa diantara kalian yg mengambil mereka menjadi penolong, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. (Qs.Al-Ma’dah:51)

(Iqtidho’u Ash-Shiraath Al-Mustaqiim 1/214)

1.sesungguhnya menyerupai orang-orang musyrik itu terjadi walaupun dia tidak bermaksud dan berniat menyerupai mereka

dari Abi Umaamah Al-Baahili dari ‘Amr bin ‘Abasah As-Sulami Radiyallahu Anhu

didalam haditsnya yg panjang dan di dalam hadits tersebut Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:”shalatlah kamu shalat shubuh kemudian kamu ringkas shalat tersebut sampai terbitnya matahari sampai matahari naik (terbit-pent)maka sesungguhnya matahari terbit pada waktu terbitnya diantara dua tanduknya syaithan dan ketika itu orang-orang kafir melakukan sujud(HR.Muslim dll no 293 hal 1/569)

dan di dalam hadits ini Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam tidak keluar larangan penyerupaan itu dengan ikatan kata bermaksud niat menyerupai mereka dan Syaikh Islam Rahimahullah berkata:”dan sudah diketahui bahwasanya seorang mu’min tidak melakukan sujud kecuali kepada Allaah Azza Wa Jalla,dan kebanyakan manusia tidak mengetahui sesungguhnya terbit dan terbenamnya matahari diantara dua tanduknya syaithan dan tidak juga mengetahui bahwasanya orang-orang kafir melakukan sujud kepadanya (Iqtidho’u Ash-Shiraath Al-Mustaqiim 1/185)

dan berkata Syaikhul Islam Rahimahullah :”sesungguhnya apa-apa yg telah diperintahkan dengannya untuk menyelisihi mereka(musyrikin-pent)itu disyari’atkan,sama saja entah perbuatan itu dari apa-apa yg telah diniatkan pelakunya untuk menyerupai mereka atau tidak diniatkan untuk menyerupai mereka,dan juga apa-apa yg telah dilarang darinya untuk menyerupai mereka,itu adalah umum entah itu diniatkan pelakunya untuk menyerupai mereka atau tidak diniatkan,maka sesungguhnya keumuman perbuatan ini,orang-orang Islam tidak bermaksud untuk menyerupai mereka di dalamnya,dan di dalamnya juga sesuatu yg tidak pernah tergambarkan untuk menyerupai mereka di dalamnya seperti membiarkan rambut putih(tidak diwarnai selain warna hitam-pent)dan panjangnya kumis dan selainnya(Iqtidho’u Ash-Shiraath Al-Mustaqiim 1/373)

2.dan juga menyerupai orang-orang musyrik itu terdapat pula  pada permasalahan kebiasan dan tabi’at bukan hanya di dalam permasalahan ibadah saja

Dari Ibnu Umar Radiyallahu Anhuma berkata dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:”selisihilah orang-orang musyrik dan dan banyakanlah/biarkanlah jenggot kalian dan potonglah kumis kalian(HR.Bukhari dan Muslim)

Dan untuk itu di dalam kesempatan ini barang siapa dari golongan pria yg telah memotong jenggotnya maka dia telah menyerupai orang-orang musyrik,dia telah menyelisihi perbuatan Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam  dan menyelisi Ijma’ para shahabat Radiyallahu Anhum dan juga Ulama-ulama yg setelahnya,dan juga dia telah menyerupai wanita yg mana tabi’atnya wanita tidak mempunyai jenggot

Dari Ibnu Abbas Radiyallahu Anhuma berkata Rasulallahu Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:”Allaah mela’nat laki-laki yg menyerupai wanita dan wanita yg menyerupai laki-laki(HR.Bukhari,Ahmad dll)

Dan sesuatu dosa yg disebutkan la’nat Allaah di dalamnya itu adalah termasuk dosa besar.

Semoga Allaah Azza Wa Jalla menjadikan kita orang-orang yg mendengarkan perkataan dan mengikutinya dengan sebaik-baiknya sesungguhnya Allaah lah yg menjadi penolong di dalam perbuatan tersebut dan maha kuasa untuk berbuat itu Wal hamdulillahi Rabbil ‘Alamiin

Dan aku tidak lupa bersyukur kepada Syaikina Abdullah bin Umar bin Mar’I bin Buraik semoga Allaah memberikan Al-‘Afiyah kepadanya dan selalu menjaganya dari segala bentuk kejahatan dan sesuatu yg dibencinya,aamiin yg mana aku telah banyak mengambil faedah dari risalahnya yg berjudul Ar-Rod ‘Alal Qardhawi Fi Ijaazatihi Tahni’ah Al-Kuffaar(www.dar-sh.com) dan walaupun bentuknya yg sedikit maka sesungguhnya risalah itu penuh akan faedah

Dan barang siapa yg ingin melihat dan memperluas bahasan di dalam permasalan ini lihatlah buku-buku dibawah ini

1. Iqtidho’u Ash-Shiraath Al-Mustaqiim karya Syaikhul Islaam Rahimahullah

2. Ahkaamu Ahli Dzimmah karya Ibnul Qayyim Rahimahullah

3. Musyaabahatul Muslimiin Lil Kuffaar Fi A’yaadihim karya Syaikh Abdullah bin Abdil Aziiz bin Ahmad At-Tuwaijiri Rahimahullah

4. Ar-Rod ‘Alal Qardhawi Fi Ijaazatihi Tahni’ah Al-Kuffaar karya Syaikh Abdullah bin Umar bin Mar’ii bin Buraik Hafidzahullah

5. Madzoohir At-Tasyabbuh bil Kuffaar Fil Ashril Hadiits… karya Abu Yahya Asyraf bin Abdil Humaid Hafidzahullah

6.At-Tasyabbuh Al-Manhii’ Anhu Fil Fiqhil Islamii karya jamiil Habiib Al-Muthiiri Hafidzahullah dan itu adalah risalah pembukaan untuk mendapatkan gelar Majester di dalam faks Fiqh di Jaami’ah Ummul Quraa’ Hafidzahullah

7. At-Tadaabiir Al-Waaqiyah Min At-Tasyabbuh Bil Kuffaar karya Utsmaan Ahmad Ad-Daukarii dan itu adalah risalah pembukaan untuk mendapatkan gelar Majester di Jaami’ah Al-Imaam Muhammad bin Su’ud Hafidzahullah

8. As-Sunan Wal Atsaar fi An-Nahyi ‘An at- Tasyabbuh bil Kuffaar,ini adalah risalah pembukaan untuk Al-Jami’ah Al-Islaamiyyah Bil Madiinah Al-Munawwarah tahun (1401 H)faks Hadiits karya Suhail ‘Abdul Ghaffaar hafidzahullah

dan fatwa-fatwa AL-Masyayekh dll

[1] Thaghut adalah segala sesuatu yg disembah selain Allaah dan dia ridha disembah

[2] Al-khuff adalah sesuatu yg dipakai dikaki yg terbuat  dari kulit yg berlubang yg menutupi telapak kaki sampai mata kaki dan keatasnya lagi (Syarh Mumti’ hal 1/182,dan Hasyiyah Raudhul Murabba’ hal 1/213,Al-Bahru Ar-Raa’iq hal 1/287,Hasyiyah ibnu Abdiin hal 1/436 dan ‘Aridhatul Ahwadzi hal 1/117)

Dinukil dari:

http://www.facebook.com/notes/fahmi-abubakar-jawwas/bantahan-terhadap-orang-orang-yg-membolehkan-ucapan-selamat-natal-dan-hari-hari-/176078692422663

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s