Melakukan Jima’ Saat Safar (Bepergian) Pada Bulan Ramadhan


Penulis: Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa KSA

Pertanyaan kedua dari fatwa no. 5991 (Bab 10; Halaman No 203)

Pertanyaan 2:

Ada sepasang suami istri saat melakukan safar (bepergian) dapat mempermudah dirinya dengan mengambil rukhsah yang memungkinkan bagi seorang Musyafir untuk tidak melakukan Puasa dan menjamak shalatnya, apa hukumnya bila mereka melakukan jima’ (hubungan suami istri) pada siang hari di bulan Ramadhan?

Jawaban:

Musyafir diperbolehkan untuk tidak melakukan puasa pada siang hari di bulan Ramadhan, tetapi mereka harus membayar hutang puasanya di lain waktu, karena Allah Subhanahu wa ta’alla berfirman,”

 وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

… barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (QS. Al Baqarah: 185)

Dengan demikian, diperbolehkan bagi mereka untuk makan, minum, dan melakukan hubungan seksual selama mereka bepergian.

Wabillahi taufiq. Wa shalalloohu  wa salaman nabiyina muhammad wa ‘ala alihi wa shaibihi ajma’in.

Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa KSA

Ketua             : ‘Abdul `Aziz bin` Abdullah bin Baz

Wakil Ketua:` Abdul-Razzaq `Afify`

Anggota        :`Abdullah bin Ghudayyan

Anggota        : `Abdullah bin Qa` ud

Diterjemahkan dari link: http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=7&PageID=3580&back=true

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s