Kewajiban Penuntut Ilmu Dalam Masalah Tahdzir Ahlul Bid’ah di hadapan Awam


Pertanyaan :

Apa kewajiban para penuntut ilmu salafiyyin terhadap orang-orang awam terkait permasalahan tahdzir dari bahaya ahlul bid’ah?

Apa sikap seorang salafy terhadap orang yang melarang melakukan hal itu (tahdzir di hadapan orang awam), terutama tahdzir dari para tokoh, para tokoh ahlul bid’ah pada masa ini, seperti Muhammad Hassan dan lainnya?

Dijawab  asy-Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah al-Jabiri hafizhahullah:

كما قلت لكم، الأصل هو التحذير، تحذير العام والخاص، كما ذكرت لكم ذلك وبَيَّنت الحال، في حال ضعف السَّلفيين وسطوة المبتدعة تُرَد البدع، مثل قول التبليغيين في تفسير لا إله إلا الله؛ بأنَّه لا خالق إلا الله، ولا رازق إلَّا الله، ولا مُدَبِّر الأمر إلَّا الله، إلى آخر الشنشنة، يُقال هذه البدعة خاطئة ضالَّة مُضِلَّة، هذا تفسير لا إله إلا الله بتوحيد الربوبية الذي أقَرَّ به المشركون في زمنِ النبي – صلَّى الله عليه وسلَّم- ولم يُدخلهم في الإسلام، أمَّا عندنا فيُحَذَّر منهم ولا كرامة عين، وقد عَرَفَ القاصي والدَّاني بيان ولاة الأمور – حفظهم الله وسَدَّدهم في الأقوال والأعمال ورزقهم البطانة الصالحة وأَبْعَدَ عنهم بطانة السوء-. نعم.

Sebagaimana telah aku katakan kepada kalian, pada asalnya adalah tahdzir (tetap dilakukan), baik tahdzir di hadapan orang awam maupun orang khusus, sebagaimana telah aku sebutkan kepada kalian dan aku jelaskan kondisinya. Dalam kondisi Salafiyyin lemah, dan ahlul bid’ah memiliki kekuatan, bid’ah tetap dibantah. Seperti, ucapan para tablighiyyin (orang-orang Jama’ah Tabligh) tentang tafsir Laa-ilaha illallah, yaitu maknanya Tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada pemberi rizki selain Allah, tidak ada pengatur selain Allah,dan seterusnya. Maka harus dikatakan, bahwa ini bid’ah yang salah, sesat menyesatkan. Itu menafsirkan Laa-ilaha illallah dengan Tauhid Rububiyyah, yang tauhid tersebut telah diakui oleh kaum musyrikin pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  namun tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam.

Adapun jika pada kami, maka mereka harus ditahdzir, tidak ada kehormatan pada mereka sama sekali. Semua pihak telah tahu bagaimana penjelasan pemerintah (yakni pemerintah Saudi) – semoga Allah menjaga mereka dan meluruskan mereka dalam ucapan dan perbuatannya, serta memberikan karunia adanya bithanah (orang-orang kepercayaan) yang shalih, dan menjauhkan bithanah yang jelek dari mereka.

Sumber http://ar.miraath.net/fatwah/8504

Dinukil dari:

http://miratsul-anbiya.net/2014/05/27/kewajiban-penuntut-ilmu-dalam-masalah-tahdzir-ahlul-bidah-di-hadapan-awam/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s