Apakah Ahli Bid’ah Sekarang Diperlakukan Seperti Ahli Bid’ah Zaman Dulu?


Asy Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhali Hafizhahullah

Soal kedua:

Apakah ahli bidah di zaman kita sekarang itu disikapi dengan perlakuan terhadap ahli bidah di zaman dahulu, tidak ragu lagi kalau zaman imam Ahmad itu berbeda dengan zaman kita sekarang?

Asy-syaikh Robi’ hafizhahullah mengatakan:

Saya jawab, bahwasanya agama Allah itu tidak berubah dan tidak berganti warna seiring berubahnya manusia dan berganti warnanya mereka. Agama Allah itu tetap agama Allah, dakwah dijalan Allah itu tetap dakwah di jalan Allah. Memperlakukan (ahli bidah) di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaih wasallam, di zaman Imam Ahmad, di zaman Ibnu Taimiyah, zaman Ibnu Abdil wahhab dan setelahnya semuanya bersumber dari al-Kitab dan As-Sunnah. Manhaj mereka itu satu.

Akan tetapi diperlukan orang yang menerapkan manhaj ini dan mengetahui bagaimana memperlakukan ahli bidah dibawah cahaya al-Kitab dan As-Sunnah. Maka ahli bidah mesti ditahdzir (diperingatkan darinya), disingkap kejelekkan-kejelekkannya. Dan menjelaskan kesesatan-kesesatannya adalah termasuk kewajiban yg paling wajib dan keharusan yang paling harus. Dan yang mengatakan perbedaan keadaan dan perbedaan waktu itu menginginkan agar engkau tidak mengkritik ahli bidah.

Karena kelompok-kelompok hizbiyah ini tunduk dibawah kepemimpinan yg bidah dan sesat. Maka ketika engkau mengkritik kepemimpinan mereka yg sesat, engkau (dianggap) mencela mereka. Mereka ingin agar engkau diam, maka cara-cara ini jangan menyesatkanmu. Mereka mengatakan : Dahulu Ahmad demikian, dahulu Ibnu Taimiyah demikian.. Mereka menyelewengkan perkataan ulama dan menyimpangkan dari maksud mereka.
Semua ini bertujuan agar ahlussunnah diam, dan menutup mulut mereka dengan batu. Sebagaimana dikatakan : agar ahlussunnah diam, tidak mengkritik kepemimpinan mereka. Mereka telah mencurahkan segala upaya untuk membuat ahlussunnah diam. Akan tetapi, tidaklah ahlussunnah itu kecuali semakin menyingsingkan lengan baju untuk meninggikan kalimat Allah dan menyebarkan As-Sunnah dan menampakkannya dan memusnahkan bidah dengan segala yang mereka mampu. Di setiap negeri harus menjelaskan kepada manusia.

Dan memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan kesesatan, sunnah dan bidah. Ini semua yang tidak diinginkan oleh ahli bidah dan hizbiyun yang menjijikan. Yang bersembunyi dengan nama salafiyah dalam rangka makar dan tipu daya.

Maka sesungguhnya mereka memakai baju salafiyah dengan kuat agar memungkinkan untuk memusnahkannya. Oleh karena itu engkau lihat, mereka mengikuti dakwah salafiyah dan para pemudanya di setiap tempat untuk memusnahkannya. Kemudian mereka mendirikan manhaj mereka yang bidah dan rusak di atas reruntuhannya (yakni reruntuhan dakwah salafiyah yg telah mereka rusak-pent)

Bagaimanapun, mengkritik ahli bidah itu adalah kaharusan, memperingatkan umat dari mereka adalah suatu keharusan, hal itu adalah jihad. Manusia mengatakan di zaman Imam Ahmad : “Jihad melawan ahli bidah”. Atau mereka mengatakan : “Membela sunnah itu lebih utama daripada memukul dengan pedang.”

Ibnu Taimiyah di zamannya menyingsingkan lengan baju sampai melampaui imam-imam Islam sebelum beliau.
Maka sesungguhnya beliau telah menghadapi banyak bidah, beliau menghadapinya dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan menghancurkannya dan mengalahkan pelakunya bersamaan dengan kesantunan, keilmuan dan hikmahnya beliau.

Maka termasuk menjelaskan hikmah dan haknya ilmu adalah dipisahkannya antara kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan kesesatan, sunnah dan bidah. “Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang diberi al-Kitab : Hendaknya engkau menjelaskan isi kitab kepada manusia, dan jangan engkau menyembunyikannya.” (QS. Ali Imran 187).

Maka para Nabi-demi Allah- telah berjihad dan berjuang demi mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Dan para ulama adalah pewaris para nabi, maka (mereka) mesti berjihad menyingsingkan lengan baju demi menyelamatkan umat dari kegelapan kepada cahaya.

Maka saya katakan kepada para miskin ini : “Demi Allah, sungguh Ahlussunnah adalah orang yang paling tulus dan paling semangat dalam perkara yang bermanfaat bagi manusia dalam urusan agama dan dunia mereka. Dan sesungguhnya orang yang menginginkan diamnya ahlussunnah-demi Allah- justru merekalah yang memudhorotkan umat, mengkhianati dan menipu umat. Mereka tidak peduli, apakah umat ini akan masuk jurang neraka? Mereka selamat ataukah tidak selamat?

Adapun ahlussunnah-demi Allah- mereka tidak menginginkan untuk manusia kecuali kebaikan. Mereka tidak menginginkan untuk umat ini kecuali agar mereka meniti jalan nabi mereka,  shallallahu’alaihi wasallam, jalan beliau yang lurus. Agar mereka masuk sorga, atau orang-orang yang Allah kehendaki diantara mereka.

Maka Ahlussunnah jika berjihad dan berjuang bukan untuk tujuan tertentu. Hanya saja untuk menunjuki mereka untuk mempersembahkan apa yang bermanfaat bagi agama dan dunia mereka. Maka orang yang melindungi ahli bidah -demi Allah- mereka adalah musuh manusia, memudhorotkan mereka, dan membatasi antara manusia dengan kebenaran yang mungkin datang dari jalan da’i ahlisunnah.

Maka bagaimana dengan perbedaan zaman ini dengan zaman imam Ahmad? (Apakah) dizaman imam Ahmad boleh mengkritik ahli bidah dan mentahdzir mereka sementara zaman sekarang itu tidak boleh? Jelaskan apa yang kalian inginkan?! Apa yang kalian inginkan dari ucapan ini?! Apakah kalian menginginkan agar kami tidak menjelaskan kebenaran kepada manusia?!

Dan agar kami tidak memperingatkan mereka dari kesesatan? Agar kami tidak memperingatkan mereka dari kebidahan? Agar kami tidak mengajari mereka akidah yang benar dan manhaj yang benar? Apa yang kalian inginkan, jelaskan pada kami? Ungkapan ini ada talbis padanya, ada pen-global-an Baarakallahu fiikum.

Oleh karena itu seperti yg telah saya tandaskan pada kalian, bahwasanya mereka tidaklah menginginkan pembicaraan ini secara mutlak pada tokoh-tokoh bidah dan kesesatan. Dari sini mereka memunculkan manhaj muwazanah (menimbang) antara kebaikan dan kesalahan, setelah mereka berputus asa dari diamnya ahlussunnah. Maka mereka menggagas manhaj muwazanah sehingga engkau mesti memuji tokoh-tokoh mereka dan menyanjungnya kemudian setelah itu engkau membicarakan kesalahan-kesalahan mereka.

Terhina mereka itu, mereka hina, mereka tidak menginginkan engkau mengatakan : ”Tokoh mereka telah salah.” Akan tetapi jika engkau harus mengkritik maka sebutkan pula kebaikan-kebaikannya!!

Mereka membuat syariat dalam agama Allah yang Allah tidak ijinkan. Mereka mengharamkan apa yang telah Allah gariskan untuk menyampaikan risalah Allah, menasihati kaum muslimin dan memperingatkan dari apa-apa yang membahayakan mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. Mereka mengharamkan perkara-perkara ini.

Dengan hal ini, mereka lebih jahat daripada orang yang mereka juluki sebagai toghut yg mereka perangi untuk meraih kekuasaan. Na’am.

Sumber Artikel di Sini

Alih Bahasa: Al Ustadz AbuHafs Umar al Atsary

Dinukil dari: http://forumsalafy.net/?p=3816

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s