Category Archives: FATWA ULAMA

Ziarah Ke Kuburan Pada Hari Pertama Dan Hari Terakhir Pada Bulan Rajab


Pertanyaan Ketiga Fatwa no. 8818 (Bab 9, Halaman no 114)

Pertanyaan 3:

Beberapa orang terbiasa berziarah ke kuburan pada hari pertama dan terakhir pada bulan Rajab. Apakah hal ini diperbolehkan?

Jawaban:

Hal ini tidak diperbolehkan untuk menentukan pada hari dan tahun tertentu seperti pada hari Jumat atau hari pertama di bulan Rajab atau hari lain untuk berziarah ke kuburan karena hal ini tidak ada dalil yang mendukungnya. Akan tetapi diperbolehkan untuk berziarah ke kuburan pada hari biasa, tanpa menentukan hari tertentu.

Diperbolehkannya untuk berziarah ke kuburan hal ini didasarkan pada hadis dimana Rosululloh shalallohu ‘alaihi wassalam bersabda,” Berziarahlah ke kuburan untuk mengingatkan kamu tentang akhirat” (Shahih Muslim Dalam Kitab Jenazah No. 976).

Wabillahi taufiq Washalallohu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa shahibihi ajmain

Lajnah Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil Ketua: Abdul Razzaq` `Afify

Anggota :

‘Abdullah ibn Ghudayaan

`Abdullah ibn Qa`ud

Diterjemakan dari :

http://alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=en&View=Page&PageID=331&PageNo=1&BookID=10

HUKUM BERPINDAH TEMPAT UNTUK MENUNAIKAN SHOLAT SUNNAH ROWATIB


Silsilah Fatawa Fiqih Ibadah
——————————
HUKUM BERPINDAH TEMPAT UNTUK MENUNAIKAN SHOLAT SUNNAH ROWATIB.Fadhilatus Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh.

Pertanyaan:
Fadhilatus Syaikh -Jazakallohu khoiro- apa hukum berpindah tempat demi melakukan sholat sunnah rowatib, apakah ini amalan bid’ah?

Jawaban:

Para fuqoha rohimahumulloh: bahwasanya disunnahkan bagi seseorang untuk memisahkan antara sholat sunnah dari yang wajib, bisa dengan ucapan, atau berpindah dari tempatnya, berdasarkan hadits Mu’awiyah beliau katakan:

{أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن لا نَصِلَ صلاةً بصلاةٍ، حتى نخرج أو نتكلم}
“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kami agar tidak menyambung satu sholat dengan sholat lain, hingga kami keluar atau berkata-kata”.

Maka berdasarkan ini sehingga yang lebih utama ialah memisahkan antara sholat wajib dengan sholat Sunnah. Akan tetapi di sana ada sesuatu yang lebih utama dari itu, yaitu Anda lakukan sholat sunnah di rumah; karena sholat sunnah di rumah lebih utama dari sholat sunnah di masjid sekalipun di Masjidil Haram, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda padahal beliau tinggal di kota Madinah dan di masjid beliau yang sholat di dalamnya lebih baik dari seribu sholat di tempat lainnya kecuali Masjidil Haram, beliau bersabda:

«أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة»
“Seutama-utama sholat seseorang adalah di rumahnya kecuali sholat wajib”.

Dan beliau sendiri seringnya sholat sunnah di rumah, namun sebagian orang mengira bahwa sholat sunnah di masjid lebih utama, padahal tidak demikian, baiklah jika sekiranya kita terima bahwa dia seseorang yang memiliki sebuah pekerjaan yang dikhawatirkan apabila dia Keluar dari masjid dia lupa melakukan sholat sunnah rowatib, maka di sini kami katakan baginya: sholatlah di masjid itu lebih utama, dan demikian halnya jika di rumahnya terdapat anak-anak kecil yang banyak, dikhawatirkan akan mengganggu dirinya; maka sholat (sunnah) di masjid lebih utama, dan apabila seseorang bertanya: mengapa sholat di rumah lebih utama kecuali sholat wajib?!

Kami katakan: karena
lebih jauh dari penyakit riya'; dimana Anda di rumah Anda tidak terlihat diri Anda kecuali keluarga Anda jika mereka melihat, adapun di masjid maka setiap orang dapat melihat Anda.

dikarenakan padanya ada pembiasaan bagi penghuni rumah untuk sholat, dan oleh karenanya apabila Anda menegakkan sholat, dan di sisi Anda ada anak kecil 2 tahun atau 3 tahun maka Anda akan jumpai dia melakukan sholat bersama Anda, sekalipun Anda tidak memerintahkannya; akan tetapi dia suka meniru, maka padanya ada kemaslahatan yang besar.

juga… agar tidak masuk ke dalam sebuah larangan; karena Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لا تجعلوا بيوتكم قبوراً»
“Jangan kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan”.

:idea: Yakni jangan kalian jadikan rumah-rumah tersebut seperti kuburan yang tidak ditegakkan sholat padanya.

Maka inilah 3 manfaat keutamaan:
. Jauh dari penyakit riya’.

Faedah kedua:
. Membiasakan diri penghuni rumah untuk sholat, dan menjadikan sholat dicintai mereka.

Faedah ketiga:
. Tidak terjatuh ke dalam perkara yang telah dilarang Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam di dalam sabdanya:

«لا تجعلوا بيوتكم قبوراً»
“Jangan kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan”.

Silsilah liqoat al-bab al-maftuh› liqo al-bab al-maftuh [70]

Sholat> sifat sholat> sunnah-sunnah sholat.

Audio dapat didengar di:
http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/od_070_15.mp3

__ Alih Bahasa: Muhammad Sholehuddin Abu Abduh.
——————————
WA Ahlus Sunnah Karawang.

——————————
Silsilah Fatawa Fikih Ibadah
——————————
HUKUM BERPINDAH TEMPAT UNTUK MENUNAIKAN SHOLAT SUNNAH ROWATIB (EDISI ARABIC)
——————————
حكم تغيير المكان لأداء السنة الراتبة

السؤال:

فضيلة الشيخ -جزاك الله خيراً- ما حكم تغيير المكان بالنسبة لأداء سنة الراتبة؟ وهل هذا بدعة؟

♦الجواب:

ذكر الفقهاء -رحمهم الله-: أنه يُسَنُّ للإنسان أن يفصل النافلة عن الفريضة، إما بكلام، أو بانتقال من موضعه، لحديث معاوية قال:
(أمرنا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أن لا نَصِلَ صلاة بصلاة، حتى نخرج أو نتكلم).
وعلى هذا فالأفضل أن تفصل بين الفريضة والسنة. لكن هناك شيء أفضل منه، وهو أن تجعل السنة في البيت؛ لأن السنة في البيت أفضل من السنة في المسجد حتى في المسجد الحرام، قال النبي -صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وهو في المدينة وفي مسجده الذي الصلاةُ فيه خير من ألف صلاة فيما سواه إلا المسجد الحرام، قال:
«أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة»،
وكان هو نفسه يصلي النافلة في البيت. وبعض الناس يظن أن النافلة في المسجد أفضل، وليس كذلك، نَعَمْ لو فُرِضَ أنه رجل ذو عمل يخشى إن خرج من المسجد أن ينسى الراتبة، فهنا نقول له: صَلِّ في المسجد أفضل، وكذلك لو كان في بيته يوجد صبيان كثير، يخشى من التشويش عليه؛ فتكون الصلاة في المسجد أفضل. وإذا قال الإنسان: لماذا كانت الصلاة في البيت أفضل إلا الفريضة؟! نقول: لأنها أبعدُ عن الرياء؛ إذْ أنك في بيتك لا يطَّلع عليك إلا أهلُك إن اطَّلعوا، أما في المسجد فالكلُّ يَطَّلِع عليك. ولأن فيها تعويد أهل البيت على الصلاة، ولذلك إذا قمت تصلي، وكان عندك صبي له سنتان أو ثلاث سنوات تجده يصلي معك، حتى وإن لم تأمره؛ لكن يحب الاقتداء، ففيها هذه المصلحة العظيمة. أيضاً .. من أجل ألا تدخل في النهي؛ لأن الرسول -صلى الله عليه وعلى آله وسلم- قال: «لا تجعلوا بيوتكم قبوراً» أي: لا تجعلوها كالقبور لا تصلون فيها.
فهذه ثلاث فوائد الأولى:
البُعد عن الرياء.

الفائدة الثانية:
تعويدُ أهل البيت على الصلاة، وتحبيبُها إليهم.
الفائدة الثالثة:
عدمُ الوقوع فيما نهى عنه الرسول -عليه الصلاة والسلام- في قوله: «لا تجعلوا بيوتكم قبوراً».

المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح > لقاء الباب المفتوح [70]

الصلاة > صفة الصلاة > سنن الصلاة

رابط المقطع الصوتي
http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/od_070_15.mp3

Dinukil dari: https://artikelwhatsapp.wordpress.com/2015/01/28/hukum-berpindah-tempat-untuk-menunaikan-sholat-sunnah-rowatib/

Tidak Akan Terwujud Salafiyyah Dan Sunniyyah Pada Seseorang Hingga Dia Mewujudkan Dua Hal


Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah,

“Tidak akan terwujud Salafiyyah dan Sunniyyah pada seseorang hingga dia,

 Memisahkan diri dari Ahlul Bid’ah dan Ahlul Hizbiyyah secara lahir batin

 Konsisten berpegang teguh terhadap prinsip yang Salafus Shalih berada di atasnya, baik secara lahir maupun batin, aqidah maupun manhaj ucapan maupun perbuatan, ibadah maupun akhlaq

Sumber : Majmu’ ar-Rudud 375 , 376

————-
 WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

Dinukil dari: https://artikelwhatsapp.wordpress.com/2015/01/26/tidak-akan-terwujud-salafiyyah-dan-sunniyyah-pada-seseorang-hingga-dia-mewujudkan-dua-hal/

HUKUM MEMBACA AL QURAN DENGAN PENGERAS SUARA SEBELUM SHALAT JUM’AT


?🔸asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah

 

❓Pertanyaan :

Di sebagian masjid-masjid yang ada di dunia Islam, dibacakan ayat-ayat al quran dengan pengeras suara sebelum shalat jum’at. Apa hukumnya?

 

🅾Jawaban :

KAMI TIDAK MENGETAHUI ASAL PERBUATAN YANG DEMIKIAN ITU, tidak dalam al quran dan tidak pula dari sunnah atau amalan para Shahabat serta as salafush sholeh radhiyallahu ‘anhum.

 

🔎❌Maka perkara yang demikian sesuai dengan gambaran yang disebutkan, termasuk perkara baru yang diada-adakan dalam agama YANG SEHARUSNYA DITINGGALKAN.

 

⛔🔸Dikarenakan perbuatan tersebut merupakan perkara baru yang diada-adakan dalam agama.

 

❌📢Dikarenakan pula seringnya mengganggu orang yang sedang shalat, para pembaca dalam shalat serta bacaan mereka.

 

Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam wa shalallahu wassalam ‘ala Nabiyina Muhammad wa Alihi washahbihi

 

📕Kitabud Da’wah (Juz 2 hal. 131) – Fatawa wa Maqalat Mutanawi’ah juz 12.

 

http://www.binbaz.org.sa/mat/1354

 

■◎■◎■◎■

🌠Forum Salafy Purbalingga

APRIL MOP DALAM PANDANGAN ISLAM


OPERASI SERANGAN MILITER “BADAI YANG KOKOH (‘ASHIFATUL HAZM) adalah JIHAD YANG SYAR’I, dan Bantahan terhadap pihak yang menyatakan bahwa itu adalah Fitnah dan Terlarang


asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Ubaid al-Jabiri hafizhahullah dalam acara LIQA MAFTUH, Jum’at 8 Jumadal Akhirah 1436 H

Sebelum kita membahas tentang lanjutan ayat al-Mai’idah, aku ingin menyempurnakan apa yang aku dengar dari khutbah yang diberi taufiq dan barakah – insya Allah Ta’ala – yang disampaikan oleh saudara kami sekaligus murid dan shahabat kami, asy-Syaikh ‘Abdul Wahid bin Hadi bin Ahmad Thalibi al-Madkhali. Aku ingatkan dengan dua perkara :

PERKARA PERTAMA : Jangan ada yang mengira bahwa apa yang dilakukan oleh DAULAH TAUHID dan SUNNAH, yaitu Daulah (Negara) KERAJAAN ARAB SAUDI – semoga Allah menjaga negara Saudi dan negara-negara Islam lainnya dari berbagai kejelekan dan keburukan – merupakan semata-mata serangan. Namun serangan tersebut MEMENUHI PERMINTAAN TOLONG. Ketika Pimpinan Muslimin negeri Yaman negeri tetangga, yang mayoritas penduduknya berada di atas sunnah dan tauhid – alhamdulillah – meminta pertolongan secara langsung kepada Khadimul Haramain Raja Salman – waffaqahullah – dan negara-negara Teluk, maka PERMINTAAN TERSEBUT HARUS DIPENUHI.  Tidak diragukan bahwa Presiden Yaman Abduh Rabbi bin Manshur bin Hadi berbicara tentang kondisi penduduk negerinya dan apa yang menimpa mereka yaitu musibah Rafidhah Kafir Bathiniyah TERLAKNAT, kelompok Hutsiyyah, kaki tangan IRAN. Maka wajib adanya PEMBELAAN!!

Adapun penduduk Yaman, setiap Mukallaf yang mampu berjihad dengan hartanya, atau harta dan jiwanya sekaligus, maka BERGERAK untuk berjihad melawan kelompok terlaknat tersebut adalah FARDHU ‘AIN atas setiap individu. Karena Pemerintah dan pimpinan mereka telah menyeru dan menggerakkan mereka (untuk berjihad) dengan SERUAN UMUM/SEMESTA. Tidak ada lagi Fardhu Kifayah. Atau tidak ada lagi seorang yang wajib atasnya jihad sekarang ini dari penduduk Yaman, yang hukumnya Fardhu Kifayah. Barangsiapa yang mengatakan bahwa hukum fardhu kifayah, maka dia JAHIL, Jahil, LEBIH SESAT daripada keledai keluarganya.

PERKARA KEDUA : Para Muhaqqiq (Peneliti) dari kalangan Ulama Sunnah, di atas pendapat bahwa Rafidhah dan Jahmiyyah keluar dari kelompok-kelompok Islam, karena mereka adalah KAFIR. Perpecahan umat yang disebutkan oleh saudara dan shahabat kami, sekaligus murid kami dan khathib kita hari ini, yang dimaksud adalah kelompok-kelompok Islam, kelompok-kelompok yang fasiq, para pelaku maksiat dan dosa besar. Adapun kelompok yang KAFIR maka tidak termasuk kelompok-kelompok Islam. Mereka di luar 73 kelompok.

Kemudian, ada perkara KETIGA, yaitu apa yang dinukilkan oleh Syaikhul Islam – rahimahullah – bahwa IJMA (Kesepakatan) atas DIPERANGINYA RAFIDHAH dan KHAWARIJ apabila menyempal (memberontak) terhadap Jama’ah (negara muslimin).

Sementara Hutssiyyah Bathiniyyah Jarudiyyah para kaki tangan IRAN pada masa ini, mereka ada PARA PEMBERONTAK TERHADAP JAMA’AH (Negara muslimin). Bahkan, mereka tidak hanya menyempal/ memberontak dalam perkara yang wajib bersatu padanya, tapi juga MENYEMPAL/MEMBERONTAK dalam agama.
Mereka tidak beragama dengan agama Islam.

Dari sini, aku PERINGATKAN bahwa ucapan sebagian orang yang menisbahkan diri kepada ilmu di Yaman, yang dulu kami mengira bahwa dia termasuk masyaikh Sunnah, namun ternyata – wal’iyyadzu billah – menjadi “Khayyasy” (penjual goni) bukan termasuk masyaikh; dia MENGINGKARI peledakan masjid-masjid – yaitu masjid-masjid Rafidhah – dia menyeru dan meneriakkan hal ini, menangatkan suaranya.

SUBHANALLAH!!!

Di mana kamu ketika masjid-masjid Ahlus Sunnah di Shan’a diledakkan??!

Aku mengira bahwa ini – wahai miskin – adalah sebagai kelanjutan dari ucapanmu yang sudah kami dengar sekitar dua bulan lalu, yaitu celaan terhadap para mujahidin melawan Husyiyun, bahwa mereka (mujahidin) sedang memerangi sesama muslimin.

Yang dipahami dari pernyataanmu, bahkan merupakan isyarat yang tidak perlu ungkapan, bahwa KAMU BERKEYAKINAN mereka (Hustiyyin Rafidhah) adalah muslimin, wahai miskin.

Maka wahai kaum muslimin dan muslimat mohonlah kepada Allah kekokohan di atas Sunnah, dengan ucapan yang tsabit di kehidupan dunia dan akhirat.

Sumber audio

http://ar.miraath.net/sites/default/files/friday_meeting%20with_sh_ubayd_029_01.mp3
1.99 MB

sumber transkrip

http://ar.miraath.net/article/11106

Majmu’ah Manhajul Anbiya

( عاصفة الحزم جهاد مشروع وردٌ على من يزعم بأنه فتنة وممنوع )

لفضيلة الشيخ العلامة:

عبيد بن عبد الله الجابري

-حفظه الله تعالى ورعاه-

[ من لقاء الجمعة في جامع الرضوان بالمدينة

بتاريخ ٨ جمادى الثانية عام ١٤٣٦هـ ]

الحمدُ لله رب العالمين وصلَّى الله وسلَّم على نبينا محمد وعلى آلهِ وصحبهِ أجمعين.

أما بعد ..

فَقبل الحديث عن بقية آية المائدة أُحبُّ إكمالًا لِمَا استمعناهُ من الخُطبة الموفقة المباركة – إن شاء الله تعالى- من أخينا وتلميذنا وصاحبنا الشيخ عبد الواحد بن هادي بن أحمد طالبي المدخلي:

فأذكرُ أمرين:

الأمر الأول: لا يظنُّ ظان أنَّ ما قامت بهِ دولة التوحيد والسُّنّة، دولة المملكة العربية السعودية – حفظها الله- وسائر بلاد الإسلام من كُلِّ سوءٍ ومكروه هو حربٌ مُجرَّدة، بل هو إجابة استنصار، فمادامَ أنَّ إمامَ المُسلمين في اليَمن الجَارَة التي غالبية أهلها – ولله الحمد- على سُنَّة وَتَوحيد؛ قد استنصّر مُباشَرَةً بخادم الحرمين الملك سلمان – وفقّهُ الله- ودول الخليج فلابُدَّ من إجابة استنصاره، ولا شكَّ أنَّهُ – أعني الرئيس اليمني عبد ربهِ بن منصور بن هادي- يتحدثُ عن أهلِ بلدهِ، وما أصابهم من مُصيبة الرافضة الكافرة الباطنية الملعونة الطائِفة الحوثية سفيرةُ إيران، فوجَبَ النَّصر.

وأما أهلُ اليمن فكُلُ مُكلَّف قادِر على الجهاد بنفسهِ ومالِه أو بِماله أو بِنفسه فالنَّفير لجهاد هؤلاء الطائفة الملعونة فرضُ عينٍ على كل واحدٍ من هؤلاء، لأنَّ وليّ أمرهِم إمامهم دعاهُم استنفرهم الاستنفار العام، فليس هناك فرض كفاية، أو ليس هناك أحدٌ عليه الجهاد في هذه اللحظة من أهل اليمن فرضُ كفاية، ومن قالَ إنَّهُ فرضُ كفاية فهو جاهل، جاهل أضلُّ مِن حِمارِ أهله.

الأمر الثاني: المُحقِّقون من عُلماء السُّنَّة على أنَّ الرافضة والجهميّة خارِج الفِرَق الإسلامية لأنهم كُفَّار، فافتراق الأُمم الذي أشارَ إليه أخونا وصاحبُنا وتلميذنا خطيبنا هذا اليوم المقصود بهِ الفِرَق الإسلامية؛ الفُسَّاق، أهل المعاصي، أهلُ الكبائِر، أمَّا الكُفَّار فليسوا من الفِرَق الإسلامية، هم خارِج الثلاث والسبعين فِرقة.

وثَمَّةَ أمرٌ ثالِث وهو ما نقلهُ شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمهُ الله- من الإجماع على قِتال الرافضة والخوارِج إذا فارقوا الجماعة، والحوثية الباطنية الجاروديّة سفيرةُ إيران في هذا العصر، هُم مُفارِقون للجماعة، بل ليست مُفارَقة في أمرٍ يجبُ الاجتماعُ عليه فقط، بل هي مُفارِقَة في الدِّين، فهي لا تدينُ دين الإسلام.

ومن هنا نُنَبِّه إلى أنَّ قول بعض المُنتسبين إلى العلمِ في اليمن، وكُنا نظنهُ من أشياخ السُّنّة، وصار والعياذُ بالله من الخياش ليس من الأشياخ؛ يستنكر تفجير المساجِد – مساجِد الرافضة- ويصيح ويصرخ بهذا ويرفع بهذا عقيرته، سبحان الله! أينك حينما فُجِّرت مساجد أهل السُّنّة في صنعاء؟! أظنُّ أنَّ هذا يا مسكين امتدادًا لقولك الذي سمعناهُ قبل نحو شهرين من العيبِ على أهلِ جهاد الحَوَثَة وأنهم يُقتِّلونَ المسلمين، فمفهومُ كلمتَك بل إشارة التي تُغني عن عبارة تدلُّ على أنكَ تعتقد أنهم مُسلِمون يا مسكين.

فاسألوا الله أيها المسلمون والمسلمات الثبات على السُّنة بالقولِ الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة.

مجموعة منهج الأنبياء

Dinukil dari: http://www.manhajul-anbiya.net/operasi-serangan-militer-badai-yang-kokoh-ashifatul-hazm-adalah-jihad-yang-syari-dan-bantahan-terhadap-pihak-yang-menyatakan-bahwa-itu-adalah-fitnah-dan-terlarang/

NASEHAT DAN DOA KEMENANGAN UNTUK PENDUDUK YAMAN


Asy-Syaikh al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه، أما بعد :

Aku tujukan nasehat ini kepada penduduk Yaman, UNTUK BERPERANG melawan RAFIDHAH, musuh Allah, musuh Rasul-Nya, dan musuh para shahabat. Rafidhah itu adalah orang-orang yang menikam (mencela) para shahabat, menyimpangkan al-Qur’anul Karim, dan mencela para isteri Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Sungguh, Demi Allah, kehormatan Rasulullah, para shahabatnya, dan para isteri beliau benar-benar LEBIH MAHAL, LEBIH MAHAL, LEBIH MAHAL dibandingkan kehormatan, jiwa, dan harta kalian ribuan kali. Maka PERANGILAH mereka dalam rangka BERJIHAD FI SABILILLAH dan MENINGGIKAN KALIMAT ALLAH Tabaraka wa Ta’ala. Dan ikhlashkan dalam amal tersebut untuk Allah ‘Azza wa Jalla …. “Apabila kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kalian.” Tolonglah (belalah) agama Allah. Demi Allah, jihad ini adalah JIHAD DEMI MEMBELA AGAMA ALLAH. Maka ikhlaskan niat untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Bersemangatlah kalian dengan benar-benar semangat untuk MENGHANCURKAN ORANG-ORANG JAHAT TERSEBUT. Musuh Allah, musuh Rasul-Nya, dan musuh para shahabat yang mulia. Ikhlashkan niat untuk Allah Tabaraka wa Ta’ala , Ikhlashkan niat untuk Allah Tabaraka wa Ta’ala , “Apabila kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kalian.” Yakinlah KEMENANGAN bersama kalian, apabila IKHLASH karena Allah Tabaraka wa Ta’ala dan kalian berperang demi meninggikan kalimat Allah Tabaraka wa Ta’ala Yakinlah dengan pertolongan Allah. Janji Allah, Allah tidak akan melanggar janji. Hati-hati WASPADALAH kalian dari berperang dalam rangka tujuan-tujuan lain. Murnikanlah niat tersebut demi meninggikan kalimat Allah Tabaraka wa Ta’ala dan demi membela agama Allah ‘Azza wa Jalla, membela Rasul-Nya dan membela para shahabatnya yang mulia. Barakallah fikum

الله ينصركم، الله ينصركم، الله ينصركم

Semoga Allah MEMENANGKAN KALIAN, Semoga Allah MEMENANGKAN KALIAN, Semoga Allah MEMENANGKAN KALIAN,

Nasehat ini disampaikan pada Rabu, 5 Jumadal Akhirah 1436 H

Audio: http://bit.ly/1OyHuIo

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?s=dad50b1ba4b346a88ec0851bb7b130a0&showtopic=151349

Majmu’ah Manhajul Anbiya

Dinukil dari: http://www.manhajul-anbiya.net/nasehat-dan-doa-kemenangan-untuk-penduduk-yaman/