Category Archives: Masjid

Shalat Di Jalan Sebelah Masjid Ketika Masjid Penuh


Tanya :

Bagaimanakah batasan masjid menurut syariat? Apakah jalan yang bersebelahan dengan masjid termasuk masjid sehingga boleh Shalat Jum’at padanya ketika masjid penuh karena banyaknya jamaah, padahal masih ada masjid lain yang tidak dipenuhi oleh jamaah?

Jawab:

Batasan masjid yang menjadi tempat shalat lima waktu bagi kaum muslimin asalah apa yang dilingkupi oleh bangunan, kayu, pelepah kurma, bambu dan lainnya. Inilah masjid yang berlaku atasnya hukum-hukum masjid, semisal tidak bolehnya wanita haid, nifas, dan junub menetap di dalamnya.

Orang yang datang ke masjid yang sudah penuh, boleh melakukan shalat Jum’at atau shalat lainnya-baik yang wajib ataupun sunnah- di luar masjid, di jalanyang terdekat dengan masjid, dan selama dia bisa mengikuti gerakan imam. Sebab, hal ini  memang dibutuhkan; dengan syarat tidak di depan imam. Hanya saja tidak berlaku hukum-hukum masjid di tempat itu. Wallahu a’lam.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahibihi wa salam.

Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa KSA

Ketua         : ‘Abdul Aziz bin ‘Abdullah bin Baz

Wakil  Ketua : Abdur Razzaq Afifi

Anggota:

Abdullah Ghudayyan

Abdullah bin Mani’

Sumber: Fatwa Lajnah 6\223

Dinukil dari: Majalah Asy Syariah Vol. VIII\No. 87\1433 H\2012 Halaman  37

Membayar Utang dalam Masjid


Tanya:

Apakah hukum membayar utang-piutang dalam masjid?
+6285211XXXXXX

Dijawab oleh: al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Hukumnya diperbolehkan berdasar hadits Abdullah bin Ka’b z yang menagih piutangnya dari Hadrad bin Abi Hadrad. Hadits tersebut terdapat dalam Shahih al-Bukhari.

Dinukil dari: http://asysyariah.com/tanya-jawab-ringkas-edisi-79.html

Hukum Membangun Masjid Melingkar


Penulis: Asy Syaikh Abdullah bin Abdul Azis bin Baz rahimahulloohu

Tanya:

Ada masjid melingkar meniru bentuk bola, dimana baris pertama terdiri dari lima orang, dan baris berikut meningkatkan secara bertahap sampai mereka mencapai tengah Masjid. Baris-baris kemudian menurun secara bertahap sampai mereka mencapai jumlah mereka paling sedikit di baris terakhir. Apakah cara membangun seperti ini diperbolehkan berkaitan dengan masjid?

Jawab:

Saya tidak tahu tentang  dalil  yang menguatkan perbuatan ini. Telah tetap bahwa masjid harus luas dan berbentuk persegi sehingga mempunyai jumlah baris yang sama. Karena membuat masjid lebih luas bagi orang-orang, memberikan nilai manfaat lebih kepada mereka, mereka harus sejajar dan persegi. Inilah yang harus diberikan prioritas dan yang lebih baik.

Adapun membangun masjid seperti model yang disebutkan dalam pertanyaan, saya tahu tidak ada yang membawakan dalil apakah itu dilarang atau wajib. Namun, lebih baik untuk tidak melakukannya.

Sumber: Fatwa Syaikh Bin Baz (30/82)

Dengan sedikit perubahan terjemahan dari:

http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaSubjects.aspx?View=Page&&NodeID=3272&PageID=5844&SectionID=14&SubjectPageTitlesID=104165&MarkIndex=0&0#BuildingcircularMasjids

 

Membayar Utang Dalam Masjid


Tanya:

Apakah hukumnya membayar utang piutang dalam masjid?

+6285211xxxxxx

Dijawab oleh: Al Ustadz Muhammad Afifuddin

Hukumnya diperbolehkan berdasarkan hadits Abdullah bin Ka’b radhialloohu ‘anhu yang menagih piutangnya dari Hadrad bin Abi Hadrad. Hadits tersebut terdapat dalam Shahih Bukhari.

Dinukil dari: Majalah Asy Syariah Vol. VII/No. 79//1433 H/2012  Hal.38 dalam rubrik Tanya Jawab Ringkas

Mengambil Tanah Masjid Untuk Dibangun Rumah Untuk Imam Dan Muadzin


Penulis: Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA

Fatwa Nomor 1569 Bab 16; Halaman 55

Tanya:

Masjid di lingkungan kami sudah tua dan harus dihancurkan dan akan dibangun kembali dari sumbangan para dermawan. Beberapa orang yang tinggal di dekat masjid telah menawarkan rumah mereka untuk diwaqafkan ke masjid. Namun, rumah-rumah tersebut tidak cukup untuk mendirikan rumah bagi Imam dan satu lagi untuk Mu’adzin. Apa hukumnya mengambil bagian halaman Masjid untuk didirikan rumah bagi Imam dan satu lagi untuk Mu’adzin?

Jawab:

Hal ini tidak diperbolehkan untuk mendirikan rumah bagi Imam, Muadzin, ataupun keduanya dari bagian Masjid, karena tanahnya adalah Wakaf yang diperuntukkan untuk didirikan shalat (Ibadah) di atasnya. Dengan demikian, tidak diperbolehkan untuk menggunakannya untuk hal lain kecuali ada alasan yang sah. Bahkan mendirikan sebuah rumah bagi Imam atau Muadzin bukanlah alasan yang tepat untuk mendapatkan izin ini. Penguasa yang bertanggung jawab dan orang-orang kaya, terutama orang-orang dari lingkungan masjid harus bekerja sama mendirikan rumah untuk Imam dan Muadzin dekat Masjid, jika perlu memfasilitasi pekerjaan untuk mereka. Wabillaahi at taufiq. Semoga damai dan rahmat Allooh atas Nabi Muhammad shalalloohu ;alaihi wassalam, keluarganya, dan sahabat.

Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA

Ketua: ` Abdul `Aziz bin Abdullah bin Baz`
Wakil Ketua: ` Abdul Razzaq Afify `
Anggota:
`Abdullah bin Qa` ud
`Abdullah bin Ghudayyan

Terjemahan dari: http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=7&PageID=5848&back=true

Hukum Penguncian Masjid Di Malam Hari


Pertanyaan:

Masjid terkunci pada malam selama waktu utusan Allah, dan Muslim yang datang untuk mengunjungi tempat-tempat suci dikeluarkan dan dibuat untuk tidur di luar di sekitar teras  masjid?

Jawaban:

Masjid tidak terkunci pada masa Rasulullah sejauh yang kita tahu. Masjid tidak dilengkapi dan orang-orang terlalu takut Allah untuk melakukan sesuatu yang rusak di dalam diri mereka atau maksud menajiskan mereka. Namun, ketika Masjid yang dilengkapi dan hal-hal yang ditempatkan di dalam mereka yang ditakutkan mungkin dicuri oleh pencuri, dan ketidaktahuan orang-orang berkuasa dan beberapa dari mereka korup terhadap hal-hal mengenai Masjid, boleh siapa pun yang otoritas untuk mengunci apa pun yang dia melihat cocok dari mereka. Ini adalah jika ia (yang bertanggung jawab) melihat manfaat ini sebagai sarana untuk melindungi dan menjaga Masjid karena untuk apa yang ada di dalam mereka, dan membela mereka dari korupsi orang-orang bodoh. Mungkin Allah mengirim berkat dan Ketenteraman kepada Nabi kita Muhammad.

Komisi Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa

Fatawa Islamiyah, Vol.3, p.g 41, DARUSSALAM.

Dinukil dari: http://www.fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&ID=920

Hukum Belajar Di Masjid Dengan Buku-Buku Yang Berisi Gambar Mahluk Hidup


Pertanyaan:

Beberapa siswa mengingat pelajaran sekolah mereka di dalam Masjid dan mereka membawa buku-buku mereka bersama dengan mereka. Apakah hal ini dibolehkan bagi mereka untuk melakukannya, terutama karena ada gambar manusia dan hewan dalam buku sekolah? Apakah ada sesuatu yang salah dalam hal ini?

Jawaban: 

Tidak ada salahnya membaca dan belajar pelajaran sekolah di Masjid. Namun, wajib untuk melindungi rumah Allah dari bahaya, meninggikan suara, dan sejenisnya, serta masuknya orang-orang bodoh dan anak-anak yang tidak menghargai lantai Masjid, Mushaf Al-Qur’an, dinding dan hal-hal serupa. Jika ada mafsadah dari segala mudharat, maka ada tidak ada larangan untuk belajar. Tentang pelajaran dan surat-surat yang berisi gambar binatang, tidak diijinkan untuk membawa barang tersebut ke Masjid, hal ini untuk menghormati rumah Allah, dan menjaga masjid terbebas dari gambar, supaya malaikat tidak menjauh darinya. Oleh karena itu, mereka (siswa) tidak boleh membawa foto bersama dengan mereka atau mereka wajib menghapus gambar binatang atau kepala gambar binatang/manusia supaya  dikatakan gambar bukan mahluk hidup (agar  itu tidak menyerupai makhluk hidup).

Fatawa Islamiyah, Vol.3, p , p.g 31-32, DARUSSALAM.

Dinukil dari: http://www.fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&ID=907