Category Archives: Puasa

BOLEH MEMUTUS PUASA SUNNAH KETIKA ADA KEBUTUHAN


Yook Ngaji yang Ilmiah:

🍃🌼 BOLEH MEMUTUS PUASA SUNNAH KETIKA ADA KEBUTUHAN. 🌼🍃 

Seperti memuliakan tamu atau menjadi tamu.
Namun lebih utama menyempurnakannya.

————————
🔰Dari Ummul Mukminin; ’Aisyah -rodhiyallahu ‘anha-, Beliau mengatakan:
دَخَلَ عَلَيَّ اَلنَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – ذَاتَ يَوْمٍ. فَقَالَ: « هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ?» قُلْنَا: لَا. قَالَ: «فَإِنِّي إِذًا صَائِمٌ » ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ, فَقُلْنَا: أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ, فَقَالَ: «أَرِينِيهِ, فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا» فَأَكَلَ.
“Pada suatu hari, Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam- datang mengunjungiku, lantas mengatakan: 

“Apakah kalian memiliki sesuatu (yang bisa dimakan)?”
“Tidak” , Jawab Kami.
“Kalau begitu saya puasa.” , Kata beliau -shollallahu ‘alaihi wasallam-
☑️ Di lain hari beliau kembali mendatangi kami. Maka kami katakan kepada beliau: 

“Ada ‘makanan Haisah Tamer’ (📌) yang dihadiahkan kepada kita”
🌴 Beliau mengatakan: “Bawa sini, Sebenarnya dari pagi tadi aku sedang berpuasa.” , Kemudian beliau pun memakannya.
[ HR. Muslim no. (1154)-169; & (1154)-170) ] , Derajat Hadits: Shohih.

(📌) Haisah Tamer adalah makanan yang terbuat dari gandum, kurma, dan minyak samin.
〰〰〰〰〰〰

🌹 Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rohimahullah- menjelaskan bahwa di antara faedah dari hadits ini adalah:
“Bolehnya memutus (atau membatalkan) puasa Sunnah.
Para Ulama` menjelaskan; tidak diperkenankan untuk memutus puasa Sunnah kecuali jika ada hajat (kebutuhan) atau keperluan (kepentingan).
👉 Hajat (kebutuhan); Misalnya, Kesulitan untuk menyempurnakan puasa karena haus dan kelaparan, atau yang semisalnya.

👉 Keperluan (kepentingan); Misalnya, Untuk menyenangkan hati sahabat karibnya; ketika dijamu dengan makanan.
✅ Dan di dalam hadits ini mengandung dua kemungkinan tersebut. 
💯Adapun yang Afdhol (lebih utama) adalah tetap melanjutkan puasa Sunnahnya, kecuali jika ada hajat (kebutuhan) atau keperluan (kepentingan). 
📚 [Lihat Fathu Dzil-Jalal (3/190) ]
〰〰〰〰〰〰

📮 PENJELASAN TAMBAHAN DARI IMAM NAWAWI -rohimahullah
💯 DISUKAI UNTUK MENYEMPURNAKAN PUASA SUNNAH
An-Nawawi -rohimahullah- menjelaskan:

“Imam Asy-Syafi’I rohimahullah dan pengikutnya menjelaskan; Apabila seseorang telah masuk (melakukan) sebuah puasa sunnah atau sholat sunnah, disukai baginya untuk tetap menyempurnakannya. Hal ini berdasarkan firman Allah -Ta’ala-:
وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ
“Dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” [ Muhammad : 33 ]
〰〰〰〰〰〰

✅ DAN BOLEH BAGINYA UNTUK MEMUTUS PUASA SUNNAH TERSEBUT 

Jika ada tamu atau sedang bertamu.
🔘 Dalam Permasalahan ini ada dua keadaan:
1️⃣ Keadaan Pertama:

Jika puasanya memberatkan tamu atau orang yang menjamu, disukai baginya untuk berbuka dan makan bersama dengannya. 

👉 Hal ini berdasarkan sabda Rasul -shollallahu ‘alaihi wasallam-:
وَإِنَّ لِزُوَّارِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sungguh, ada sebuah hak yang harus engkau berikan kepada orang yang mengunjungimu. 

👉 Dan sabda  beliau -shollallahu’ alaihi wasallam-:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضيفه
”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” 
Dua hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (…)
2️⃣ Keadaan Kedua:

Jika puasanya tidak memberatkan tamu atau orang yang menjamu,  yang lebih utama baginya untuk tetap bersamanya dan tetap berpuasa. (…)
📚 [ Lihat ”Al-Majmu’ Syarhul Muhadzzab (6/393) ]

Wallahu A’lam bisshowab (AH)
#MembatalkanPuasa #PuasaSunnah #PuasaSyawwal #Puasa_6Hari 

〰〰➰〰〰

🔰 YOOK NGAJI YANG ILMIAH

🔻 (Memfasilitasi Kajian Islam secara Ilmiah)

🌐🔻 Situs Blog: https://Yookngaji.com

🚀🌐🔻 Gabung Saluran Telegram: https://t.me/yookngaji

BEBERAPA HUKUM SEPUTAR PUASA SYAWWAL


Ahlus Sunnah Bagi Ilmu:

🌙🌱 BEBERAPA HUKUM SEPUTAR PUASA SYAWWAL

➖➖🕋➖➖
📚 Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizhahullahu Ta’ala

Dari Abu Ayyub Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
📖 “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam hari dari bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa selama setahun penuh.” (HR. Muslim)

————-
📝 Beliau menjelaskan,
☑️ “Ini merupakan jenis lain dari jenis-jenis puasa sunnah, yaitu puasa enam hari di bulan syawwal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa selama setahun penuh.” 
👉🏻 Pada hadits ini terdapat keutamaan puasa enam hari Syawwal, yaitu enam hari di bulan syawwal bagi orang yang telah puasa Ramadhan. Maka ia menggabungkan dua kebaikan; (kebaikan) puasa ramadhan dan (kebaikan) puasa enam hari di bulan syawwal.
📡 Maka dia seperti seorang yang puasa ad-dahr yakni satu tahun. Yang dimaksud ad-dahr di sini ialah satu tahun. Dikarenakan satu kebaikan dilipatkan gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Maka satu bulan Ramadhan sama dengan sepuluh bulan, dan enam hari syawwal sama dengan dua bulan. Sehingga keseluruhannya berjumlah dua belas bulan atau satu tahun. 

👉🏻 Maka orang yang puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari syawwal akan mendapatkan pahala orang yang berpuasa selama satu tahun penuh. Ini merupakan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
💢 Dan ucapan beliau “enam hari syawwal” menunjukkan melakukannya boleh secara berurutan atau terputus-putus dalam satu bulan tersebut (syawwal). Boleh juga dilakukan di awal bulan, pertengahan bulan, atau di akhir bulan, ini berdasarkan sabda beliau “enam hari dari bulan syawwal”.
❌ Sebagaimana pula hadits ini menunjukkan, bahwasanya orang yang tidak puasa Ramadhan maka ia tidak disyariatkan puasa enam hari Syawwal. Dikarenakan beliau bersabda, “Barangsiapa berpuasa ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari dari bulan syawwal.” 
👉🏻 Sehingga orang yang tidak berpuasa ramadhan disebabkan udzur (alasan syar’i) maka tidak perlu puasa enam hari syawwal, bahkan ia harus bersegera berpuasa (membayar hutang puasa) ramadhan.
📛 Demikian juga orang yang tidak berpuasa selama beberapa hari di bulan Ramadhan karena udzur syar’i, maka ia tidak disyari’atkan berpuasa enam hari syawwal hingga ia mengqadha’ sejumlah hari yang ia berbuka padanya di bulan Ramadhan, setelah itu ia berpuasa enam hari syawwal jika masih tersisa. Hal ini berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Lalu ia mengikutinya dengan (puasa) enam hari dari bulan syawwal” 
👉🏻 beliau menyandingkan puasa enam hari syawwal dengan puasa bulan ramadhan sebelumnya. Jika ia memiliki hutang puasa Ramadhan satu bulan penuh atau beberapa hari saja maka hendaknya ia mulai dengan yang wajib (yaitu mengqadha Ramadhan), karena (mendahulukan) yang wajib lebih utama daripada yang sunnah.
🌻 Dan hukum puasa enam hari di bulan Syawwal menurut jumhur ahlul ilmi adalah mustahab (sunnah), kecuali Imam Malik rahimahullah. Beliau tidak berpendapat sunnahnya puasa enam hari syawwal, beliau mengatakan, “khawatir manusia menganggapnya bagian dari ramadhan.” Beliau ingin menutup celah agar orang-orang tidak menganggapnya bagian dari puasa Ramadhan.
▶️ Tetapi bagaimana pun, dalil lebih didahulukan ketimbang ro’yu (pendapat manusia). Sedangkan dalil menunjukkan sunnah. Ucapan Ar-Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentu saja lebih didahulukan di atas ucapan siapa pun.

🌏 Sumber: http://warisansalaf.com/2015/08/08/hukum-seputar-puasa-syawwal-syaikh-shalih-al-fauzan/

📝 Oleh: Tim Warisan Salaf
#bulansyawwal #puasasyawwal

〰〰➰〰〰

🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah

🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf 

💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

NASIHAT EMAS PERPISAHAN DENGAN RAMADHAN


Majalah Tashfiyah:

💦💦 NASIHAT EMAS PERPISAHAN DENGAN RAMADHAN
✍🏻 Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah
⏱ Meski telah berakhir bulan Ramadhan, maka hak Allah tidak berakhir, kecuali dengan kematian
☝🏻 “Dan sembahlah Rabbmu hingga mendatangimu kematian.” [QS. Al Hijr:99]
💐 Allah adalah Rabb Ramadhan, Rabb Syawwal, Rabb seluruh bulan, maka bertakwalah kalian dalam setiap bulan.
💐 Peliharalah agama kalian. Peliharalah agama kalian. Peliharalah agama kalian dalam seluruh hidup kalian. Karena itulah modal kalian di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala dan itu adalah keselamatan kalian dari neraka. Maka peliharalah agama kalian dan pegang teguhlah pada setiap bulan dan waktu.
🌙 Bulan Ramadhan dilanjutkan dengan syukur, istighfar, serta kegembiraan dengan keutamaan Allah. Dia yang telah memberi kita kesempatan untuk puasa dan salat padanya. Kita gembira dengan nikmat ini. Kita tidak gembira dengan selesainya bulan! Kita gembira karena kita bisa menyempurnakannya dengan beribadah kepada Allah. Karena inilah kita bergembira.
☝🏻 “Katakanlah dengan keutamaan Allah dan rahmat-Nya. Dengan itulah hendaknya kalian bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” [QS. Yunus:68]
💢‼️ Waspada kalian dari banyak kesia-siaan, permainan, dan lalai, serta berpaling dari ketaatan kepada Allah. Karena setan semangat untuk mengugurkan amalan kalian dan menghapus apa yang telah kalian lakukan dari kebaikan.
💢 Setan menghiasi sebagian manusia, jika selesai Ramadhan, dia menjadi bebas, merdeka, seolah dia keluar dari penjara. Maka dia pun memuaskan dirinya dalam kesia-siaan, permainan, dan kelalaian, serta menyia-nyiakan salat, juga kemungkaran lainnya.
🕸 Jangan, jangan kalian mengurai apa yang telah kalian tenun. Seperti orang yang mengurai tenunannya, setelah kuat, menjadi tercerai berai.
🔅 Bertakwalah kalian, hamba Allah! Pelihara apa yang telah kalian amalkan dari amalan saleh. Bertobatlah kpd Allah dari kekurangan dan kesalahan kalian. Karena Allah mengampuni siapa yang bertobat kepada-Nya.
🔊 Simak audio di: https://archive.org/download/BerpisahDenganRamadhan/BerpisahDenganRamadhan.mp3
#audio #Fauzan #Ramadhan #IdulFitri #puasa
bit.ly/tashfiyah

HUKUM MENGQADHA PUASA ENAM HARI SETELAH SYAWAL


Salafy Indonesia:

📂🌅🌔✅ HUKUM MENGQADHA PUASA ENAM HARI SETELAH SYAWAL
📪 Pertanyaan:
امرأة تصوم ستة أيام من شهر شوال كل سنة ، وفي إحدى السنوات نفست بمولود لها في بداية شهر رمضان ، ولم تطهر إلا بعد خروج رمضان ، ثم بعد طهرها قامت بالقضاء ، فهل يلزمها قضاء الست كذلك بعد قضاء رمضان حتى ولو كان ذلك في غير شوال أم لا يلزمها سوى قضاء رمضان؟ وهل صيام هذه الستة الأيام من شوال تلزم على الدوام أم لا؟
Ada seorang wanita yang berpuasa enam hari bulan syawal tiap tahun. Pada salah satu tahun, dia mengalami nifas karena melahirkan anaknya di awal  ramadhan. Dia tidak suci kecuali setelah habis bulan ramadhan. Kemudian setelah sucinya, dia mengqadha puasanya. Apakah dia juga harus mengqadha puasa enam hari Syawal setelah mengqadha puasa ramadhannya, walaupun hal itu di luar bulan syawal? Ataukah tidak ada keharusan atasnya selain mengqadha ramadhan saja? Apakah puasa enam hari syawal ini harus terus menerus (setiap tahun-pent) atau tidak?
🔓 Jawaban:
صيام ست من شوال سنة وليست فريضة
Puasa enam hari bulan Syawal itu hukumnya sunnah tidak wajib.
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam:
من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر
”Barang siapa yang berpuasa bulan Ramadhan kemudian mengiringkannya dengan puasa enam hari bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti berpuasa selama setahun.” (Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya.)
 والحديث المذكور يدل على أنه لا حرج في صيامها متتابعة أو متفرقة؛ لإطلاق لفظه
Dan hadits tersebut menunjukkan bahwa tidak mengapa berpuasanya secara berurutan atau berpisah-pisah karena kemutlakkan lafazhnya.
والمبادرة بها أفضل
Dan bersegera dengannya itu lebih utama.
Berdasarkan firman-Nya :
وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى
”Dan aku bersegera kepada-Mu wahai Rabb ku agar Engkau ridha kepadaku.” (QS. Thaha )
 ولما دلت عليه الآيات القرآنية والأحاديث النبوية  من فضل المسابقة والمسارعة إلى الخير . ولا تجب المداومة عليها ولكن ذلك أفضل
Dan juga berdasarkan apa yang ditunjukkan ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits nabawi tentang kutamaan berlomba-lomba dan bersegera kepada kebaikan. Dan puasa syawal itu tidak wajib terus-menerus (tiap tahun-pent), akan tetapi (terus-menerus) itu lebih utama.
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam:
أحب العمل إلى اللَّه ما داوم عليه صاحبه وإن قل.
”Amalan yang paling dicintai Allah itu adalah yang terus menerus dilakukan pelakunya walaupun  sedikit.”
 ولا  يشرع قضاؤها بعد انسلاخ شوال؛ لأنها سنة فات محلها سواء تركت لعذر أو لغير عذر . واللَّه ولي التوفيق 
Dan tidak disyari’atkan mengqadhanya setelah habis bulan syawal, karena hal itu adalah (amalan) sunnah yang sudah terluput kesempatannya, sama saja apakah ditinggalkan karena udzur ataukah tanpa udzur. Wallahu waliyyut taufiq.
📚 Sumber || http://bit.ly/2s7uSpl
🌎 Kunjungi || http://bit.ly/2s7lVfM
⚪ WhatsApp Salafy Indonesia

⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy
💎💎💎💎💎💎💎💎💎

BOLEHKAH NONTON TELEVISI DI BULAN RAMADHAN


Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah

Pertanyaan: Wanita muslimah sekarang ini banyak yang menghabiskan malam (begadang) di depan televisi atau video atau siaran parabola, sedangkan pada siang hari dengan belanja ke pasar dan tidur, maka apa nasehat Anda terhadap muslimah yang seperti ini?

Jawaban: Yang disyariatkan bagi seorang muslim pria atau wanita adalah dengan menghormati bulan Ramadhan dan mengisinya dengan berbagai ketaatan serta menjauhi kemaksiatan dan perbuatan buruk setiap saat, dan di bulan Ramadhan lebih ditekankan lagi karena kesucian waktunya.

Begadang untuk menonton film dan sinetron yang ditampilkan di televisi atau video atau melalui parabola atau untuk mendengarkan musik dan nyanyian, semua itu haram dan merupakan kemaksiatan, sama saja dilakukan di bulan Ramadhan atau pada bulan yang lainnya, hanya saja pada bulan Ramadhan lebih besar dosanya.

Dan jika bulan yang suci ini ditambah dengan menyia-nyiakan kewajiban dan tidur saja di siang hari hingga meninggalkan shalat, maka ini merupakan kemaksiatan yang lain. Dan memang demikianlah kemaksiatan itu sebagiannya menyeret kepada yang lain, kita memohon keselamatan kepada Allah.

Sedangkan keluarnya para wanita ke pasar hukumnya haram, kecuali memang butuh untuk pergi ke pasar (darurat -pent), dia boleh keluar sesuai kadar keperluan, dengan syarat berhijab, tetap menjaga kehormatan, menghindari campur baur dengan pria yang bukan mahram atau dengan mereka kecuali sekedar kebutuhan tanpa menimbulkan fitnah (syahwat -pent), juga dengan syarat tidak lama jika perginya pada malam hari, karena bisa menyebabkan tertidur dari shalat (Shubuh) pada waktunya, atau menyebabkan terlantarnya salah satu hak suami atau anak-anaknya.

***

🌍 http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14891

Dinukil dari: http://forumsalafy.net/bolehkah-nonton-televisi-dibulan-ramadhan/

WAKTU IMSAK MENJELANG SHUBUH DIBULAN RAMADHAN ADALAH BID’AH


Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Fadhilatusy Syaikh rahimahullah ta’ala ditanya: Kami melihat pada sebagian kalender di bulan Ramadhan terdapat sebuah kolom yang disebut dengan kolom imsak, yaitu menjadikan sepuluh atau lima belas menit sebelum shalat shubuh (sebagai batasan untuk tidak lagi makan dan minum). Apakah yang seperti ini ada dasarnya dari Sunnah ataukah termasuk bagian dari bid’ah? Berilah kami fatwa, semoga Allah membalas anda dengan kebaikan

Fadhilatusy Syaikh menjawab: Ini termasuk dari bid’ah. Perbuatan ini tidak ada dasarnya dari Sunnah, bahkan bertolak belakang dengannya.

Allah ta’ala berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia:

{وَكُلُواْ وَٱشْرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ وَلاَ تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِي ٱلْمَسَـٰجِدِ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ }

“Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang hitam yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datangnya malam. Dan janganlah kalian mencampuri mereka ketika kalian sedang beri’tikaf di dalam masjid. Itulah ketentuan-ketentuan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.”

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda:

«إن بلالاً يؤذن بليل، فكلوا واشربوا حتى تسمعوا أذان ابن أم مكتوم، فإنه لا يؤذن حتى يطلع الفجر»

“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di waktu malam, maka makan dan minumlah hingga kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum karena ia tidaklah mengumandangkan adzan kecuali bila fajar telah terbit.”

Waktu imsak yang dibuat-buat oleh sebagian manusia ini merupakan tambahan terhadap apa yang telah Allah tetapkan sehingga merupakan perkara yang batil. Bahkan hal itu termasuk dari sikap tanathu’ (berlebih-lebihan/memberat-beratkan diri) dalam beragama kepada Allah. Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi was salam telah bersabda:

«هلك المتنطعون، هلك المتنطعون، هلك المتنطعون».

“Binasalah orang-orang yang memberat-beratkan diri, binasalah orang-orang yang memberat-beratkan diri, dan binasalah orang-orang yang memberat-beratkan diri.” Selesai penukilan beliau rahimahullah.

———-

سئل فضيلة الشيخ ـ رحمه الله تعالى ـ: نرى بعض التقاويم في شهر رمضان يوضع فيه قسم يسمى «الإمساك» وهو يجعل قبل صلاة الفجر بنحو عشر دقائق، أو ربع ساعة فهل هذا له أصل من السنة أم هو من البدع؟ أفتونا مأجورين؟

فأجاب فضيلته بقوله: هذا من البدع، وليس له أصل من السنة، بل السنة على خلافه، لأن الله قال في كتابه العزيز: {وَكُلُواْ وَٱشْرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ وَلاَ تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِي ٱلْمَسَـٰجِدِ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ }. وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «إن بلالاً يؤذن بليل، فكلوا واشربوا حتى تسمعوا أذان ابن أم مكتوم، فإنه لا يؤذن حتى يطلع الفجر». وهذا الإمساك الذي يصنعه بعض الناس زيادة على ما فرض الله ـ عز وجل ـ فيكون باطلاً، وهو من التنطع في دين الله، وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: «هلك المتنطعون، هلك المتنطعون، هلك المتنطعون».”إ.هـ كلامه رحمه الله تعالي.

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=138568

Dinukil dari: http://forumsalafy.net/waktu-imsak-menjelang-shubuh-dibulan-ramadhan-adalah-bidah/

PENGARUH DUDUK-DUDUK MASJID DISIANG HARI BERPUASA


Dari Abul Mutawakkil rahimahullah, bahwasanya Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dahulu bersama sahabat-sahabatnya jika mereka berpuasa, mereka terbiasa duduk-duduk di masjid-masjid. Mereka mengatakan: “Kami ingin membersihkan puasa-puasa kami”.

Aku katakan: “Karena berbaur bersama manusia (diluar masjid) dan menyibukkan diri bersama mereka (dalam urusan dunia) terkadang menjadi sebab cacatnya puasa. Maka betapa butuhnya kita untuk menghidupkan bimbingan ini di hari-hari puasa.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 8881 dan Ibnu Hazm di Al-Muhalla 6/179. Dan kalimat terakhir itu dari ucapan beliau (Abul Mutawakkil rahimahullah)

Sumber Channel Durus wa Fawaid Salafiyah

《 وعـن أبي المتوكّل أنَّ أبا هريرة – رضي الله عنه – وأصحابه كانوا إذا صاموا جلسوا في المساجد، وقـالـوا: نُطـهِّر صيامـنا.

قـلت: لأنَّ مخالطة النَّاس ومعافستهم قد تكون سببًا في خدش الصَّوم، فما أحوجنا إلى إحياء هذا الهدي في أيَّام الصَّوم. 》

📚 [ “رواه ابن أبي شيبة” (٨٨٨١) ].
📚 [ “وابن حزم في المحلى” (١٧٩/٦) ]. والجملة الأخيرة له.

  1. ══════ ❁✿❁ ══════j

Dinukil dari: http://forumsalafy.net/pengaruh-duduk-duduk-masjid-disiang-hari-berpuasa/