Category Archives: Thaharah

WANITA MENGUSAP KERUDUNG SAAT BERWUDHU 


Penuhilah Harimu Dengan Ilmu:

📜SILSILAH FATWA ULAMA

📚Oleh Asy-syeikh Al-allamah Muhammad Bin Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah:
❓Tanya:
هل يجوز للمرأة ان تمسح على الخمار ؟
Bolehkah bagi wanita mengusap kerudung (ketika berwudhu)?
✅Jawab:
المشهود في مذهب الامام أحمد أنها تمسح على الخمار اذا كان مدارا تحت حلقها لان ذلك قد ورد عن بعض نساء الصحابة رضي الله عنهم 

وعلى كل حال اذا كانت هنالك مشقة  كالبرودة أو المشقة في النزع واللف مرة أخرى  فالتسامح في مثل هذا لا بأس به وإلا فالأولى ألا تمسح .
Yang masyhur dalam mazhab imam Ahmad bahwa ia mengusap kerudung jika itu terlilit dibawah rahang sebab hal itu telah datang dari sebahagian istri-istri para sahabat —radhiyallahu anhum—, bagaimanapun keadaannya jika disana terdapat kesulitan seperti dingin atau kesulitan di dalam melepaskannya dan melilitnya kembali  maka mengusap pada semisal ini tidaklah mengapa kalau tidak maka yang lebih utama ialah ia tidak mengusap”.

📚[majmu fatawa ibnu Utsaimin (11/171)]

🌐 https://telegram.me/manhaj_salafy

JANGAN TERBURU-BURU DALAM BERWUDHU’


Yook Ngaji yang Ilmiah:

🍃📕  JANGAN TERBURU-BURU DALAM BERWUDHU` 📒🍃 

Karena ada ancaman bagi orang yang masih membiarkan kering sebagian anggota tubuhnya.

———————
🔰 Dari Shahabat Abdullah bin ‘Amr –rodhiyallahu ‘anhu- , beliau menceritakan; 
“Pada satu waktu, Kami pulang bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dari kota Mekkah menuju kota Madinah.

Di tengah perjalanan, tatkala kami mendapatkan air di suatu tempat. Sebagian shahabat tergesa-gesa melaksanakan sholat ‘Ashar. Sampai-sampai mereka terburu-buru dalam melakukan wudhu`.
☑️ Tatkala rombongan kami (bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam) menyusul mereka. Didapati keadaan tumit-tumit mereka masih kering belum tersentuh air wudhu`.
‼️ Saat itulah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan mereka ( Dalam riwayat Al-Bukhori no.60 disebutkan: “Dengan suara keras” , pen.);
وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ !!!  أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ!
🔥 “Kebinasaan dari api Neraka bagi tumit-tumit itu !!!,

Sempurnakanlah wudhu` kalian !.”
💯 ( Dalam riwayat Al-Bukhori no.163 disebutkan: “Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- mengulanginya dua kali sampai tiga kali” , pen. )
📚[ HR. Al-Bukhori no.60, 96, & 163 dan Muslim no. (241)-26, (241)-27]

〰〰〰〰

🔘 Derajat Hadits: Shohih.

〰〰〰〰

————

✅ Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk berhati-hati dalam berwudhu`, tidak terburu-buru, tenang dalam setiap basuhan wudhu`. Aamiin
Wallahul Muwaffiq (AH)
#Fikih #Wudhu #Larangan

〰〰➰〰〰

🔰  YOOK NGAJI YANG ILMIAH

🔻(Memfasilitasi Kajian Islam secara Ilmiah)

🌐🔻 Blog: https://Yookngaji.blogspot.com

🚀🌐🔻 Gabung Saluran Telegram: https://t.me/yookngaji.

HARUSKAH WUDHU SETELAH MANDI JANABAH❓


KajianIslamTemanggung:

════════════════════
       ⚖ FATWA ULAMA ⚖
════════════════════
🚿🌸🛁HARUSKAH WUDHU SETELAH MANDI JANABAH❓
📌  Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin  Rahimahullah.
 _🔒  P e r t a n y a a n :_

Apakah seseorang harus mengulangi wudhunya setelah mandi janabah❓
_🗝   J a w a b a n :_

_🚰  Dia tidak perlu mengulangi wudhunya selama dia telah :_
_💧Berkumur-kumur,_  

_💧Menghirup air ke hidung_  

_💧Dan meratakan penyucian seluruh bagian tubuhnya,_ 
_maka tidak ada kewajiban berwudhu baginya_
 📜  Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala yang artinya :

“Jika kalian junub maka bersucilah.”

Dan ini sudah mencukupi karena konteks ayat ini berkenaan dengan pelaksanaan shalat,  yaitu firman-Nya 

” Wahai orang-orang yang beriman jika kalian hendak mengerjakan shalat maka cucilah wajah kalian dan tangan kalian sampai siku ”

sampai firman-Nya

[••dan jika kalian junub maka bersucilah••]
 _☝🏻  Ayat ini menunjukkan bersucinya orang junub yaitu penyuciannya terhadap seluruh tubuhnya sudah cukup untuk mengangkat janabah._    
_📼  Sumber : Silsilah Fatawa Nur ‘alad Darb. Nomor kaset : 353_
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

هل يعيد الوضوء بعد الغسل من الجنابة  
🗝 الجواب:
 لا يعيد الوضوء ما دام قد تمضمض واستنشق وعم بدنه للغسل فلا وضوء عليه؛ لقول الله تبارك وتعالى: ﴿وإن كنتم جنباً فاطهروا﴾، وهو يكفي؛ لأن الآية في سياق القيام إلى الصلاة: ﴿يا أيها الذين آمنوا إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق﴾ إلى قوله﴿وإن كنتم جنباً فاطهروا﴾، فدل ذلك على أن تطهر الجنب أي غسله جميع بدنه كافٍ في رفع الجنابة.
📼 المصدر: سلسلة فتاوى نور على الدرب  الشريط رقم [353]
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
_✍🏻WhatsApp_

Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ

_Bagi-bagi faedah ilmiahnya….ayo segera  bergabung_

_🌐📲 Join Channel Ⓚ①Ⓣ_

https://bit.ly/KajianIslamTemanggung
_📻📡 Dengarkan Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia_

http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Hukum Potong Kuku Dan Rambut ketika Haid dan Nifas


Penulis: al Ustadz Muhammad Rijal, Lc

Soal: Bolehkah seorang wanita memotong kuku atau rambut pada saat haid atau nifas ? Haruskah rambut dan kuku yang dipotong saat haidh, nifas atau janabah dikumpulkan untuk dicuci bersamaan saat mandi?

Jawab:

Memotong kuku demikian pula membersihkan rambut  di sekitar kemaluan atau mencabut bulu ketiak termasuk fitrah, disyareatkan dalam islam  sebagaimana disebutkan dalam riwayat shahih dari Rasulullah saw.

Syareat ini berlaku umum bagi laki-laki atau wanita dalam segala keadaan baik suci atau tidak. Kecuali jika seorang dalam keadaan ihram (haji atau umrah) ketika itu dilarang –baik lelaki atau wanita, suci atau berhadats- dengan sengaja menggunting kuku atau mencukur rambut.

Walhasil,  seorang wanita dalam keadaan haidh, nifas atau hadats besar tidak ada halangan untuk melaksanakan sunah fitrah ini, tidak ada dalil yang melarang. Silahkan menggunting kuku atau membersihkan rambut walaupun masih dalam keadaan haidh, nifas atau hadats akbar.

Tidak terdapat riwayat yang melarang wanita haid untuk memotong kuku maupun rambut. Demikian pula, tidak terdapat riwayat yang memerintahkan agar rambut wanita haid yang rontok untuk di cuci bersamaan dengan mandi besar.

Bahkan sebaliknya, Rasulullah saw membolehkan wanita haid menyisir rambutnya, padahal bisa dipastikan adanya rambut yang  rontok saat  wanita menyisir. Disebutkan dalam hadis dari A’isyah, bahwa ketika Aisyah mengikuti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesampainya di Mekkah beliau mengalami haid. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

دعي عمرتك وانقضي رأسك وامتشطي

“Tinggalkan umrahmu (yakni niatkanlah haji qiran), lepas ikatan rambutmu dan ber-sisir-lah…” (HR. Bukhari 317 & Muslim 1211)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan A’isyah yang sedang haid untuk menyisir rambutnya. Padahal beliau baru saja datang dari perjalanan. Sehingga kita bisa menyimpulkan dengan yakin, pasti akan ada rambut yang rontok. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh A’isyah untuk menyimpan rambutnya yang rontok untuk dimandikan setelah suci haid.

Hadis ini menunjukkan bahwa rambut rontok atau potong kuku ketika haid hukumnya sama dengan kondisi suci. Artinya, tidak ada kewajiban untuk memandikannya bersamaan dengan mandi haid. Jika hal ini disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan jelaskan kepada A’isyah agar menyimpan rambutnya dan memandikannya bersamaan dengan mandi haidnya, karena tidak boleh bagi Rasulullah saw mengakhirkan penjelasan di saat dibutuhkan sebagaimana kaedah ini disebutkan oleh para ulama: “Ta`khirul Bayan ‘Inda waqtil Hajah Laa Yajuz/Mumtani’.

Dalam Fatawa Al-Kubra, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terdapat pertanyaan, “Ketika seorang sedang junub, kemudian memotong kukunya, atau kumisnya, atau menyisir rambutnya. Apakah dia salah dalam hal ini? Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa orang yang memotong rambutnya atau kukunya ketika junub maka semua bagian tubuhnya ini akan kembali pada hari kiamat dan menuntut pemiliknya untuk memandikannya, apakah ini benar?”

Syaikhul Islam memberi jawaban

قد ثبت عن النبي صلى الله عليه و سلم من حديث حذيفة ومن حديث أبي هريرة رضي الله عنهما : أنه لما ذكر له الجنب فقال : إن المؤمن لا ينجس. وفي صحيح الحاكم : حيا ولا ميتا  وما أعلم على كراهية إزالة شعر الجنب وظفره دليلا شرعيا بل قد قال النبي للذي أسلم : ألق عنك شعر الكفر واختتن. فأمر الذي أسلم أن يغتسل ولم يأمره بتأخير الاختتان وإزالة الشعر عن الاغتسال فإطلاق كلامه يقتضي جواز الأمرين

“Terdapat hadis shahih dari Hudzifah dan Abu Hurairah radliallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang orang yang junub, kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.’ Dalam shahih Al-Hakim, ada tambahan, ‘Baik ketika hidup maupun ketika mati.’

Sementara saya belum pernah mengetahui adanya dalil syariat yang memakruhkan potong rambut dan kuku, ketika junub. Bahkan sebaliknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang masuk islam, “Hilangkan darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah.” Beliau juga memerintahkan orang yang masuk islam untuk mandi. Dan beliau tidak memerintahkan agar potong rambut dan khitannya dilakukan setelah mandi. Tidak adanya perintah, menunjukkan bolehnya potong kuku dan berkhitan sebelum mandi…’” (Fatawa Al-Kubra, 1:275) Allahu a’lam.

Diskusi Pendapat Yang Melarang Dalam Madzhab Syafi’i,

Pendapat yang tidak memperbolehkan memotong kuku dan rambut pada saat haid bagi wanita atau juga umumnya bagi laki-laki dalam keadaan junub adalah salah satu pendapat dalam madzhab Syafi’I (bukan kesepakatan dalam madzhab Syafi’i) sebagaimana disebutkan dalam kitab I’anat at-Tholibin, dan sumber lain dari kitab-kitab syafi’iyyah

Pendapat ini bersumber dari pernyataan Imam al-Ghozali dalam Ihya’ ’ulum al-Din sebagaimana dikutip dalam Mughni al-Muhtaj (1/72 al-Maktabah as-Syamilah) dan dalam Syarh Al-Iqna li Matni Abi Syuja’ (1/60),

قال فى الإحياء-أى إحياء علوم الدين للأمام الغزالى- لا ينبغى أن يحلق أو يقلم أو يستحد-يحلق عانته -أو يخرج دما ، أو يُبين -يقطع -من نفسه جزًا وهو جنب ، إذْ ترد سائر أجزائه فى الآخرة فيعود جنبا ، ويقال : إن كَل شعرة تطالبه بجنابتها .

Berkata Al-Ghazali dalam al-Ihya’: Tidak semestinya memotong (rambut) atau menggunting kuku atau memotong ari-ari, atau mengeluarkan darah atau memotong sesuatu bagian tubuh dalam keadaan junub, mengingat seluruh anggota tubuh akan dikembalikan kepada tubuh seseorang. Sehingga (jika hal itu dilakukan) maka bagian yang terpotong tersebut kembali dalam keadaan junub. Dikatakan: setiap rambut dimintai pertanggungjawaban karena janabahnya.

Dari beberapa kitab dalam madzbab Syafi’i sendiri, diketahui bahwa para ulama madzhab Syafi’I tidak semuanya sepakat dengan pendapat Imam Ghozali tersebut, sebagaimana diisyaratkan dalam kitab I’anat Tholibin (1/96 Maktabah syamilah) dengan pernyataan:

وفي عود نحو الدم نظر، وكذا في غيره، لان العائد هو الاجزاء التي مات عليها.

“Tentang akan kembalinya (anggota tubuh) semisal darah, pendapat ini perlu diselidiki lagi. Demikian pula (bagian tubuh) yang lainnya. Karena (bagian tubuh) yang kembali (dibangkitkan bersama dengan pemilik bagian tubuh itu) adalah bagian-bagian tubuh yang pemilik tubuh itu mati bersamanya (ada pada saat kematian orang tersebut)”

Dalam kitab Syafi’i yang lain yaitu Niyatul Muhtaj Syarh al-Minhaj disebutkan:

( قَوْلُهُ : تُرَدُّ إلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ ) هَذَا مَبْنِيٌّ عَلَى أَنَّ الرَّدَّ لَيْسَ خَاصًّا بِالْأَجْزَاءِ الْأَصْلِيَّةِ وَفِيهِ خِلَافٌ .

وَعِبَارَةُ الشَّيْخِ سَعْدِ الدِّينِ فِي الْعَقَائِدِ نَصُّهَا : رَدًّا عَلَى الْفَلَاسِفَةِ : وَذَلِكَ لِأَنَّ الْمَعَادَ إنَّمَا هُوَ الْأَجْزَاءُ الْأَصْلِيَّةُ الْبَاقِيَةُ مِنْ أَوَّلِ الْعُمُرِ إلَى آخِرِهِ ( قَوْلُهُ : فَيَعُودُ جُنُبًا ) ظَاهِرُ هَذَا الصَّنِيعِ أَنَّ الْأَجْزَاءَ الْمُنْفَصِلَةَ قَبْلَ الِاغْتِسَالِ لَا تَرْتَفِعُ جَنَابَتُهَا بِغَسْلِهَا سم عَلَى حَجّ ( قَوْلُهُ : وَيُقَالُ إنَّ كُلَّ شَعْرَةٍ ..إلَخْ ) فَائِدَتُهُ التَّوْبِيخُ وَاللَّوْمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِفَاعِلِ ذَلِكَ ،

Lebih jelas lagi dalam kitab Hasyiah al-Bujairimi ’ala al-Khotib (2/335 al-Maktabah as-Syamilah), mengkritisi pendapat Imam al-Ghozali tersebut yang intinya menyatakan bahwa pendapat Imam al-Ghozali tersebut perlu dikaji lagi sebab bagian tubuh yang kembali adalah yang ada disaat kematian pemiliknya dan bagian badan asli yang pernah terpotong, bukan seluruh kuku dan rambut yang pernah dipotong selama hidupnya. Beliau membawakan perkataan Ibnu Hajar untuk menguatkan pendapatnya. Disebutkan dalam kitab tersebut:

قَوْلُهُ : ( إذْ يُرَدُّ إلَيْهِ سَائِرُ أَجْزَائِهِ ) فِيهِ نَظَرٌ ، لِأَنَّ الَّذِي يُرَدُّ إلَيْهِ مَا مَاتَ عَلَيْهِ لَا جَمِيعُ أَظْفَارِهِ الَّتِي قَلَّمَهَا فِي عُمُرِهِ ، وَلَا شَعْرِهِ كَذَلِكَ فَرَاجِعْهُ .

ا هـ .

ق ل . أَيْ لِأَنَّهَا لَوْ رُدَّتْ إلَيْهِ جَمِيعُهَا لَتَشَوَّهَتْ خِلْقَتُهُ مِنْ طُولِهَا .

وَعِبَارَةُ م د إذْ يُرَدُّ إلَيْهِ سَائِرُ أَجْزَائِهِ أَيْ الْأَصْلِيَّةُ فَقَطْ كَالْيَدِ الْمَقْطُوعَةِ بِخِلَافِ نَحْوِ الشَّعْرِ وَالظُّفْرِ ، فَإِنَّهُ يَعُودُ إلَيْهِ مُنْفَصِلًا عَنْ بَدَنِهِ لِتَبْكِيتِهِ أَيْ تَوْبِيخِهِ حَيْثُ أُمِرَ بِأَنْ لَا يُزِيلَهُ حَالَةَ الْجَنَابَةِ أَوْ نَحْوِهَا ا هـ .

وَقَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ : إنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يَكُونُ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ ثُمَّ عِنْدَ دُخُولِ الْجَنَّةِ يَصِيرُونَ طِوَالًا . وَفِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ فِي صِفَةِ أَهْلِ الْجَنَّةِ : { إنَّهُمْ عَلَى صُورَةِ آدَمَ وَطُولُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي عَرْضِ سَبْعَةِ أَذْرُعٍ أَبْنَاءُ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً وَإِنَّهُمْ جُرْدٌ مُرْدٌ } .

Masalah ini pernah ditanyakan  kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan beliau jelaskan dalam Majmu’ Fatawa, intinya: setahu beliau tidak ada dalil syar’i yang menunjukkan makruhnya memotong rambut dan kuku bagi orang yang sedang junub, bahkan terdapat hadis shohih riwayat Bukhari-Muslim yang menegaskan bahwa (tubuh) seorang mukmin itu tidak najis. Dengan tambahan riwayat dari Shohih al-Hakim: ”baik dalam keadan hidup ataupun mati”. Demikian pula adanya hadis tentang perintah bagi yang haid untuk menyisir rambut pada waktu mandi, padahal sisiran bisa menyebabkan rontoknya rambut. Berikut petikannya:

فَأَجَابَ : قَدْ ثَبَتَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حَدِيثِ حُذَيْفَةَ وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا { : أَنَّهُ لَمَّا ذَكَرَ لَهُ الْجُنُبَ قَالَ : إنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ}[3] . وَفِي صَحِيحِ الْحَاكِمِ : { حَيًّا وَلَا مَيِّتًا } . وَمَا أَعْلَمُ عَلَى كَرَاهِيَةِ إزَالَةِ شَعْرِ الْجُنُبِ وَظُفْرِهِ دَلِيلًا شَرْعِيًّا بَلْ قَدْ { قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلَّذِي أَسْلَمَ : أَلْقِ عَنْك شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ }[4] فَأَمَرَ الَّذِي أَسْلَمَ أَنْ يَغْتَسِلَ وَلَمْ يَأْمُرْهُ بِتَأْخِيرِ الِاخْتِتَانِ . وَإِزَالَةِ الشَّعْرِ عَنْ الِاغْتِسَالِ فَإِطْلَاقُ كَلَامِهِ يَقْتَضِي جَوَازَ الْأَمْرَيْنِ . وَكَذَلِكَ تُؤْمَرُ الْحَائِضُ بِالِامْتِشَاطِ فِي غُسْلِهَا مَعَ أَنَّ الِامْتِشَاطَ يَذْهَبُ بِبَعْضِ الشَّعْرِ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .

Dalam Fatwa ketua lajnah Fatwa ulama al-Azhar, Syaikh ’Atiyah Shaqr (Fatwa Mei 1997 al-Maktabah as-Syamilah)  menyebutkan bahwa pernyataan yang melarang memotong kuku dan rambut ketika dalam keadaan junub tidak berdasarkan dalil. Beliau membawakan penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas dan menambahkan:

(dengan hadis tersebut) kita ketahui bahwa hal demikian tidaklah dimakruhkan. Pendapat yang menyatakan makruh adalah pendapat yang la ashla lahu (tidak ada dasarnya). ’Atho—yaitu ’Atho bin Abi robah ra, seorang tabi’in senior—menyatakan:

وَقَالَ عَطَاءٌ يَحْتَجِمُ الْجُنُبُ وَيُقَلِّمُ أَظْفَارَهُ ، وَيَحْلِقُ رَأْسَهُ ، وَإِنْ لَمْ يَتَوَضَّأْ .

Seorang yang junub (diperbolehkan) melakukan hijamah (pengobatan dengan cara mengeluarkan darah kotor) dan memotong kuku dan menggunting rambutnya, walaupun ia belum berwudhu” (Shohih al-Bukhari 1/496 al-Maktabah al-Syamilah babal-Junubu yakhruju wayamsyi fis suq waghairihi)

Berdasarkan dalil ini maka tidak dimakruhkan untuk memotong rambut dan kuku ketika janabah. Adapun hukum menimbun potongan kuku dan rontokan rambut dari sisir ada dalam bahasan lain (tidak termasuk dalam bahasan ini)”.

Dalam Fath al-Bari Syarah Shohih al-Bukhari oleh Ibnu Rajab 2/54 terhadap perkataan ‘Atho di atas menyebutkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan la ba’sa (tidak mengapa) untuk mengeluarkan darah (hijamah) atau memotong kuku dan rambut ketika junub. Ibnu Rajab al-Hanbali menyatakan: tidak ada khilaf tentang bolehnya ini di antara ashabina (ulama mazhab Hanbali) kecuali Abu al-Farj al-Syirozi yang memakruhkan untuk mengambil kuku dan rambut dari orang yang junub, dan menyebutkan hadis yang marfu’ riwayat al-Isma’ily dalam Musnad ‘Ali dengan Isnad yang dho’if jiddan dari ‘Ali :

عَن علي – مرفوعاً – : (( لا يقلمن أحد ظفراً ، ولا يقص شعراً ، إلا وَهوَ طاهر ، ومن اطلى وَهوَ جنب كانَ [ علته ] عليهِ )) ، وذكر كلاماً ، قيل لَهُ : لَم يا رسول الله ؟ قالَ : (( لأنه لا ينبغي أن يلقي الشعر إلا وَهوَ طاهر )) . وهذا منكر جداً ، بل الظاهر أنَّهُ موضوع . والله أعلم .

Ibnu Rajab menjelaskan bahwa hadis tersebut adalah hadis yang Munkar jiddan bahkan secara eksplisit menunjukkan kualitasnya maudhu’ (palsu).

Kesimpulan bahasan di atas:

  1. Tidak dalil dari Al-Qur’an maupun Sunnah yang shohih yang menjadi dasar hukum larangan bagi orang yang memotong kuku dan rambut bagi orang yang sedang junub khususnya wanita yang haid. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah..
  2. Pendapat tersebut bersumber dari pendapat Imam al-Ghozali dalam madzhab Syafi’i. Imam al-Ghozali sendiri tidak menyatakan larangan itu dengan kalimat yang tegas yang menunjukkan hukum haram. Beliau menggunakan lafadz: “la yanbaghi” yang artinya “tidak semestinya, tidak seharusnya atau tidak seyogyanya…”dst
  3. Sementara itu tidak semua ulama madzhab Syafi’I sepakat dengan Imam al-Ghozali dalam masalah tersebut (sebagaimana disebutkan tentang khilaf itu dalam beberapa kitab mazhab Syafi’I, antara lain Nihayat al-Muhtaj di atas). Wallahu A’lam bi as-Showab

Dinukil dari: http://salafartikel.wordpress.com/2013/09/07/hukum-potong-kuku-dan-rambut-ketika-haid-dan-nifas/#comment-327

Tentang Bekas Darah Haid


Pertanyaan

Saya mohon penjelasan mengenai bekas darah haid di kursi (bangku bambu) yang diduduki, tetapi bekasnya sudah kering. Apakah harus dibersihkan? Masihkah najis bekas darah haid yang sudah mengering itu? Kalaupun harus dibersihkan, bolehkah membersihkannya hanya dengan tisu basah? Terimakasih atas penjelasannya.

Jawaban

Ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan berkaitan dengan pertanyaan:

Pertama, darah haidh adalah darah najis menurut kesepakatan ulama.

Kedua, menghindarkan diri dan pakaian dari najis adalah suatu keharusan sebagaimana yang diterangkan dalam banyak dalil.

Ketiga, bila masih bisa dibersihkan, bekas darah haidh yang disebutkan dalam pertanyaan boleh dibersihkan dengan apa saja yang menghilangkan zat najis itu dari benda, baik dengan tisu basah maupun dengan selainnya. Bila sudah meresap ke dalam bangku dan tidak bisa lagi dibersihkan, bekas tersebut sudah tidak dipermasalahkan karena Allah tidak membebani seorang untuk membersihkan sesuatu yang tidak dia mampu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا                                                                                                           

“Allah tidak membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” [Al-Baqarah: 286]

Wallahu A’lam.

Dinukil dari: http://dzulqarnain.net/tentang-bekas-darah-haid.html

Cara Mengusap Kepala Wanita Saat Berwudhu


Tanya:

Bagaimana cara mengusap kepala bagi wanita saat berwudhu?
+6281233XXXXXX

Dijawab oleh: al-Ustadz Muhammad Afifuddin, al-Ustadz Qomar Suaidi

Tata caranya sama seperti kaum lelaki. Apabila rambutnya panjang, cukup diusap sampai tengkuk, tidak sampai ujung rambut. Tidak ada dalil khusus untuk wanita.

Dinukil dari: http://asysyariah.com/tanya-jawab-ringkas-edisi-79.html

Apakah Membatalkan Wudhu Ketika Seorang Ibu Menyentuh Bagian Pribadi Bayinya?


Penulis: Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA
Pertanyaan ketiga dari fatwa no. 16814 (IV/116)

Pertanyaan 3:

Apakah wudhu seorang ibu menjadi batal jika dia menyentuh bagian pribadi bayinya saat memandikannya?

Jawaban:

Wudhu menjadi batal ketika seorang ibu menyentuh bagian pribadi bayinya, apakah bagian depan atau belakang, tanpa penghalang. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan wudhunya diulang karena menyentuh bagian pribadi.

wabillahi taufiq. Wa shalallahu wa salaman nabiyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain.

Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA

Ketua: ` Abdul `Aziz bin` Abdullah bin Baz

Anggota :`Abdullah bin Ghudayyan

Anggota:`Abdul` Aziz Al al-Syaikh

Anggota  : Sholih Al-Fawzan

Anggota: Bakr Abu Zaid

Dengan sedikit perubahan diterjemahkan dari:

http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=7&PageID=11536&back=truez