Category Archives: Permata Hati

JIKA INGIN MEMILIKI ANAK-ANAK YANG BERBAKTI


Salafy Indonesia:

💐🌹🌻🌷 JIKA INGIN MEMILIKI ANAK-ANAK YANG BERBAKTI
✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:
إنّ من المعتاد المُجرَّب أنّ الإنسان إذا بَرَّ والديه وُفِقَ لِبرِّ أولاده به.
“Sesungguhnya termasuk kebiasaan yang telah terbukti berdasarkan pengalaman bahwasanya siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya maka dia akan mendapatkan bakti dari anak-anaknya.”
🌍 Sumber || https://twitter.com/aljuned77/status/771546845151506433
⚪ WhatsApp Salafy Indonesia

⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy
💎💎💎💎💎💎💎💎

JAGALAH BUAH HATI ANDA DARI RADIKALISME SEJAK DINI


💥⛔❌🔥 JAGALAH BUAH HATI ANDA DARI RADIKALISME SEJAK DINI

✍🏻 Asy-Syaikh Dr. Ali bin Yahya al-Haddady hafizhahullah berkata:

‏للعبرة: طفل قريب لي ابن ثمان سنوات وجدته مدمنا على أناشيد إخوانية ومتعلقاً برموز خارجية.
السبب: مدرس نشاط إخواني وإدمان على اليوتيوب دون رقابة.

“Sebagai pelajaran; seorang anak kecil yang merupakan kerabat saya yang masih berumur 8 tahun, saya jumpai dia kecanduan nasyid-nasyid al-Ikhwanul Muslimun dan gandrung dengan simbol-simbol Khawarij. Penyebabnya adalah gurunya seorang aktifis al-Ikhwanul Muslimun dan kecanduan youtube tanpa ada pengawasan.”

🌍 Sumber || https://twitter.com/dar_alsalaf/status/789368025866698752

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎

DAMPAK BURUK SERING MARAH dan MEMBENTAK ANAK


💡 Info Psikologis:

〰📢〰📢〰📢〰

DAMPAK BURUK SERING MARAH dan MEMBENTAK ANAK
〰🔇🔇🔇〰

💧Apakah Antuna suka marah dan membentak pada anak?

Wahai Ummah, ketahuilah, sebaik-baik teladan adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dalam segala aspek kehidupan. Termasuk dalam hal mendidik anak.

Sekian banyak kitab-kitab ulama membahas mengenai tarbiyah aulad-pendidikan anak-.

Maka kita wajib mengilmuinya terutama Bagi kita yang telah menyandang gelar “orang tua”.

⚠Dan artikel Psikologis berikut sama sekali tidak ditujukan untuk mengesampingkan sebaik-baik ajaran yakni – Islam ‘ala fahmi salafyl ummah-

〰Akan tetapi, dengan ini penulis harapkan dapat menjadi ilmu tambahan bagi ummahat khususnya agar termotivasi lagi untuk menghindari membentak atau pun marah-marah.

🌙Dan inilah hasungan syariat untuk meninggalkan akhlak tercela tersebut:

➖🌹➖🌹➖🌹➖

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي،

قَالَ: لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً،
قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

((رواه البخاري))

[Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Janganlah engkau marah”.
Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau:

“Janganlah engkau marah”.

(HR. al-Bukhari)
➖🌹➖🌹➖🌹➖

Dan membentak itu identik dengan amarah. Bagi sebagian orang- terutama yang bertipe temperamental-maka jika marah, cenderung lisan dekat sekali dengan membentak.

❌Subhaanallah, Dari segi syariat maka telah jelas marah-marah Dan membentak itu merupakan akhlak tercela.

🔎Adapun Dari segi Psikologis, tahukah Anda bahwa :
“sering memarahi anak dengan membentaknya juga termasuk dalam bentuk kekerasan verbal yang bisa memengaruhi psikis anak”

Seorang psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi, M.Psi mengutarakan bahwa

“Terbiasa dimarahi dan dibentak, apalagi anak pada dasarnya tidak merasa mendapat kekerasan karena hal itu dilakukan orang terdekat seperti orang tua atau saudara, terbentuklah pemikiran bahwa membentak, memukul dan tindak kekerasan lain adalah bentuk kasih sayang,”

🌾Aduhai,
Alangkah berdosanya kita, jika membiasakan marah-marah Dan membentak pada putra/i kita. Disamping jelas melanggar syariat yang mulia ini, ternyata secara Psikologis dampaknya :

❌Disadari atau tidak,kebiasaan membentak anak sama dengan menanamkan persepsi pada buah hati kita bahwa itu adalah sebuah bentuk kasih sayang.
Na’udzubillah.

❌Selain hal diatas, kebiasaan MARAH dan membentak anak dapat berakibat sbb:

Akibatnya;
1⃣Anak akan meniru hal tersebut dalam kesehariannya.

2⃣Dia jadi mudah marah, sulit mengendalikan, emosi, dan suka teriak-teriak.

3⃣ Anak bisa jadi selalu cemas, merasa tidak aman, tidak nyaman

4⃣Anak menjadi tidak percaya diri dan tidak bisa memposisikan dirinya dengan tepat,

Itu masih 4 poin,
إنّا لله و إّنا إليه راجعون…

Mungkin ada sekian poin dampak negatif lain dalam ilmu Psikologi.

Wahai Ummah….
Setidaknya yang 4 ini saja sudah membuat hati kita terpanggil untuk menyudahi kebiasaan jelek dalam mendidik selama ini.

🌹Adapun yang sudah diberi taufiq-Nya selalu sabar dalam mendidik anak-anak, bisa menahan emosi, amarah Dan meninggalkan membentak-bentak ..maka bersyukurlah Anda…
Sungguh Nikmat yang luar biasa karena disana ada makhluk Allah yang dilahirkan dengan watak temperamental MUDAH marah, membentak bahkan memukul

Na’udzubillah…

Sebelum menyudahi tulisan ini ana ingin mengajak Antuna untuk merenungi ucapan Ulama Salaf berikut:

💎‘Umar bin Abdul ‘Aziz t berkata:
“Telah beruntung orang yang dijaga dari hawa nafsu, kemarahan, dan ketamakan.”

💎Ja’far bin Muhammad berkata:
“Kemarahan itu adalah kunci dari segala macam kejelekan.”

💎Dikatakan kepada Ibnul Mubarak:
“Himpunkanlah untuk kami akhlak-akhlak yang baik dalam satu kata!”
Beliau mengatakan: “Meninggalkan marah.”

(Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam, hal. 372, 379)

💎Ibnul Qayyim berkata:
“Kemarahan itu membinasakan. Dia merusak akal sebagaimana khamr dapat menghilangkan kesadaran.”

(An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi hal. 155)

🌸 Akhir kata,
Sungguh tak ada kebaikan sama sekali pada amarah yg didasari emosi belaka.

Maka sebagai ibu,
Sudah menjadi kemestian untuk berSABAR.
Menghadapi anak-anak, yang itu adalah amanah dari Allah dengan sebaik-baik akhlak.
Ingatlah: “Ibu adalah sekolah pertama”

🏡Darimu kami belajar Ibu..
Kami ingin menjadi anak shalih Dan shalihah, maka didiklah Kami dengan akhlak mulia…

بارك الله فيكم..
الحمد لله..
Semoga tulisan ini menjadi pengingat untuk penulis secara pribadi.
Kita memohon Hidayah Dan taufiq-Nya…

أختكن في الله
أم عبد الله ناجية

📚sumber bacaan:

http://asysyariah.com/marah/
http://m.detik.com/health/read/2014/07/23/171510/2646327/1301/sering-membentak-anak-saat-marah-ini-dampak-negatifnya-bagi-psikis-anak

salafy kolaka

🌹WA MANHAJ SALAF

📬Diposting ulang oleh
🎀WA Nisaa` As-Sunnah🎀

Seputar fenomena pendirian sekolah formal di kalangan Ahlussunnah | (Sebuah tinjauan Ringkas)


Oleh Abu Dawud Al-Pasimy (salah satu thulab di Darul Hadits Fuyus,Yaman)

Sekolah formal atau pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan formal terdiri dari pendidikan formal berstatus negeri dan pendidikan formal berstatus swasta.

Dalam sistim pendidikan ini dikenal juga dengan istilah kurikulum, yaitu perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.

Dalam ketentuan pendidikan formal, kurikulum yang dipakai bersumber dari badan pihak pemerintah. Sehingga yang menjadi target pendidikan adalah bagaimana nantinya para siswa bisa menimba ilmu dari kurikulum tersebut dan bisa memahaminya, tanpa memilih dan memilah sisi pandang keselamatan aqidah.

Di kalangan ahlussunnah, hukum mengikuti kegiatan belajar dan mengajar di sekolah umum telah jelas akan madhorotnya. Namun yang menjadi syubhat banyak di kalangan ahlussunnah sekarang ini adalah tentang hukum mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah yang beratribut islami. Dengan alasan supaya anak-anak salafiyah bisa mendapatkan ijazah dan untuk menjembatani anak-anak awam agar bisa mengenal dakwah ahlussunnah, ‘meluncurlah’ ide dari beberapa pihak untuk menerapkan sistim pendidikan formal yang islami.

Sebutlah SDIT sebagai contoh jenjang sekolah ini yang sudah mulai diterapkan di sebagian tempat dengan basis yang berlabelkan ahlussunnah. Padahal sebagian kita telah mengetahui akan keburukan-keburukan sistim pendidikan formal. Berikut ini beberapa contoh dampak buruk tersebut:

Dampak buruk mengikuti Sekolah Formal bagi anak-anak ahlussunnah
Akan menjembatani anak-anak ahlussunah dengan berbagai pelajaran yang banyak mengandung unsur kesyirikan, bid’ah, khurofat dan seterusnya karena konsekuensi dari menerapkan sekolah formal adalah mengikuti ketentuan kurikulum.

Akan terjatuh kepada perbuatan latah lantaran ketika sedang menghadapi soal latihan atau ujian, para santri harus menjawab pertanyaan sebagaimana yang telah dipatrikan di dalam buku kurikulumnya.

Berikut beberapa contoh soal ujiannya:

Contoh soal Ilmu Pengetahuan Alam (IPA):

?Zaman prasejarah tertua dinamakan apa? Jawabannya harus “zaman batu”
?Siapakah manusia pertama? Jawabannya harus “Megantropus erectus”
?Apakah bumi menglilingi matahari? Jawabannya harus “YA”
Contoh soal PPKN:

Bagaimana sikapmu jika orangtuamu pindah agama katolik? Maka jawabannya harus “harus saling menghormati”
Antar umat beragama kita harus saling…..Jawabannya harus “toleransi”
Jika teman anda non muslim sedang merayakan hari rayanya, apa sikapmu sebagai teman yang baik? Jawabannya harus “memberikan ucapan selamat hari raya kepadanya”
Jika di kampungmu sedang dibangun gereja, maka apa sikapmu? Jawabannya harus “Memberikan dukungan antar umat beragama”
????????

Pada contoh-contoh latah di atas, kita khawatir atas anak-anak kita terhadap perubatan tasyabbuh sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Nabiyyuna Shollallahu ‘Alaihi Wasallam:

( ??? ???? ???? ??? ???? (?? ??? ??? ???? ???? ?? ??????

“Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut”

?Dan di antara pelajaran-pelajaran yang ada, kurikulum yang juga banyak meracuni anak-akan kaum muslimin adalah pelajaran Bahasa Indonesia. dan Bahasa Inggris.

?Seringnya anak didik dilatih untuk dapat memahami suatu alur cerita. Macam-macam kisah cerita yang sering dimuat di dalam pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa inggris adalah:

Dongeng-dongeng rakyat seperti Si Kancil yang cerdik, Bawang putih dan Bawang merah dan lain-lain.
Kisah-kisah rakyat kuno seperti kisah Si pitung, Si pahit lidah dan si mata empat, Ratu pantai selatan dan lain-lain.
Kisah sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia yang tidak jelas sanad dan keabsahannya seperti asal mula candi borobudur, kisah kerajaan kutai dan lain-lain.
Kisah sejarah nasional Indonesia yang juga tidak bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya.
Kisah-kisah yang menggambarkan aspek kehidupan rakyat umum.
Sebagai ta’kid, setelah usai membaca anak-anak akan diuji dengan berbagai pertanyaan yang harus dijawab berdasarkan bacaan tadi.

Demikian juga termasuk pelajaran yang banyak merusak kemurnian aqidah anak-anak didik adalah pelajaran agam islam sendiri sebab mayoritas kurikulum yang dijejalkan adalah pemahaman al  asy’ariyyah.

?Tak sedikit pula di dalamnya disertai dengan aqidah serta pemahaman sufiyyah.  Berikut contoh soal:

Contoh-contoh soal aqidah:

Berapa jumlah sifat Allah? Jawabannya harus 14
Berapa jumlah Nama Allah? Jawabannya harus 99
Berapa jumlah malaikat? Jawabnya harus 10
Berapa jumlah nabi dan rosul Allah? Jawabannya harus 25
Contoh-contoh soal fiqih:

?(Meskipun perkara fiqih itu luas namun apa-apa yang kami jadikan sebagai contoh di bawah ini merupakan pendapat yang jauh dari pertimbangan para ulama fiqih)

Ketika berwudhu, bagian kaki yang harus dibasuh adalah…..Jawabannya harus “dari mata kaki hingga lutut”
Apa hukum melafadzkan niat sebelum sholat? Jawabannya harus “wajib. Jika tidak maka sholatnya batal”
Apa hukum qunut dalam sholat subuh? Jawabannya harus “wajib”
Apa hukum melafadzkan niat puasa di malam hari puasa? Jawabannya harus “wajib. Jika tidak maka tidak sah puasanya”
Saat kamu sedang sahur lalu kamu mendengar suara serine tanda masuk imsak. Maka apa yang akan kamu lakukan? Jawabannya harus “berhenti dari makan dan minum”
Apa hukum merayakan isro’ mi’roj dan maulid nabi? Jawabannya harus “sunnah”
Apa hukum merayakan malam nuzul Qur’an? Jawabannya harus “mustahab”
Apa yang kamu ucapkan ketika hari raya idul fitri? Jawabannya harus “Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin”
????????

?Harus mengikuti peraturan-peraturan nasional yang berlaku pada sekolah-sekolah formal lainnya, seperti mengikuti upacara bendera setiap hari senin yang tak asing lagi akan berbagai ketentuannya seperti menyanyikan lagu kebangsaan, lagu mengheningkan cipta, hormat bendera dan lain-lain.

?Begitu pula dengan kewajiban mengikuti upacara hari kemerdekaan 17 Agustus, bergabung dengan sekolah-sekolah lain di suatu lapangan tertentu.

????????

?Banyak waktu yang terbuang sia-sia dengan sibuknya mempelajari hal-hal yang tak terlalu penting bahkan berdalam-dalam dengannya. Katakan sebagai contohnya adalah bahasa inggris, sejarah nasional dan lainnya.

Dampak buruk mengikuti Sekolah Formal bagi pihak pengelolah dan staff guru:
?Sedikitnya sikap baro’ah – atau bisa jadi hilang sama sekali – terhadap ahlul ma’ashi (maksiat_red).  Tidak banyak yang bisa mereka lakukan selain sikap basa-basi dan prinsip

“Apa boleh buat yang penting bisa lancar”.

Sementara mereka tidak bisa menutup mata terhadap segudang kemungkaran yang ada.

???????

?Mengabaikan amalan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Yang demikian ini terjadi sebab mereka telah terkait dan terikat dengan dinas pendidikan serta telah berhubungan dengan sekolah-sekolah yang sederajat lainnya.

Bagaimana mereka mampu melarang wanita bertabarruj sementara rekan-rekan mereka melakukannya?
Bagaimana mereka melarang rokok sementara atasan mereka sendiri merokok?
Bagaimana mereka melarang nyanyian sementara pihak dinas pendidikan mewajibkan lagu Indonesia Raya?
???????

?Pihak pengelolah sekolah dan segenap staf tenaga pengajar akan banyak berinteraksi dengan pihak dinas pendidikan. Suka ataupun tidak suka mereka akan bermuamalah sebagaimana yang telah menjadi peraturan badan pendidikan nasional seperti harus ikhtilath dan sebagainya.

???????

?Banyak kedustaan-kedustaan yang mewarnai proses keberlangsungan pendidikan.

Contoh kecil, ketika ada undangan rapat dari pihak dinas pendidikan atau yang semisalnya untuk membahas suatu pemasalahan yang berkenaan dengan pendidikan sementara mereka mengetahui bahwa di sana terdapat banyak kemaksiatan, maka apa yang bisa diperbuat oleh pihak sekolah islam terpadu?
jika dia memenuhi undangan tersebut maka jelas kemungkarannya tidak bisa dielakkan. Jika menolak, status formalitas sekolahnya bisa dicabut. Maka cara yang paling mudah dan aman adalah dengan mengajukan alasan yang dibuat-buat.
???????

*  Menjawab syubhat:

?Mereka mengatakan:

“Sesungguhnya yang pertama kali mengenal sistim pendidikan itu adalah kaum muslimin dan pada hakekatnya justru orang-orang kafirlah yang meniru sistim pendidikan dari kaum muslimin.”

?Jawaban:

Kalau saja benar apa yang kalian sebutkan bahwa kaum muslimin lebih dahulu mengenal sistim pendidikan daripada orang-orang kafir. Namun pendidikan seperti apa yang dahulu mereka terapkan?

Apakah mereka mengajarkan upacara bendera?
Apakah mereka berikhtilath dengan mudarrisah-mudarrisahnya?
Apakah mereka bersikap ‘cengar-cengir’ terhadap ahlul bid’ah dan ahlul ma’ashi?
Maka tidak ada kaitannya antara siapa yang pertama kali menerapkan sistim pendidikan dengan keinginan kalian untuk mendirikan sekolah formal sebab sistim pendidikan itu masih bersifat sangat umum, tak cuma berhubungan dengan urusan sekolah semata karena pendidkan anak-anak di ma’had ,TK atau TA pun termasuk sistim pendidikan.

???????

?Mereka mengatakan:

“Kita mendirikan sekolah dengan sistim pendidikan formal ini dalam rangka untuk    menjembatani anak-anak kaum muslimin awam kepada pemahan ahlussunnah.”

?Jawaban:

Yang terbukti malah sebaliknya. Justru pendidikan model seperti itu telah menjembatani anak-anak ahlussunnah untuk mengenal ‘dunia bebas’.

?Bahkan lebih para dari itu, aqidah-aqidah sesat kaum kafir telah menjangkiti pemikiran anak-anak kaum mislimin. Hal ini telah kita sebutkan di dalam penjelasan sebelumnya.

???????

?          Mereka mengatakan:

“Selain itu, kita juga bertujuan supaya anak-anak ahlussunnah bisa mendapatkan ijazah untuk melanjutkan studi ke Universitas Islamiyah madinah, Al Azhar mesir dan lainnya.”

?Jawaban:

Alhamdulillah untuk mendapatkan ilmu tidak hanya terbatas pada perguruan tinggi semata. Ilmu bisa didapatkan di ponok-pondok pesantren yang bisa kita temui hampir di setiap provinsi di negeri kita.

?Ilmu juga bisa didapatkan di halaqoh-halaqoh ta’lim di masjid-masjid. Dan jika mampu melakukan safar bisa melanjutkan pelajarannya ke negeri arab Saudi, yaman ataupun ke negeri islam lainnya. Disana terdapat banyak marokiz ataupun majlis-majlis ilmu di masjid masjid.

?Menurut pengakuan salah seorang ikhwah kita yang belajar di salah satu universitas Saudi, mereka lebih banyak mengikuti pelajaran yang diadakan oleh para masyayeikh di masjid-masjid daripada di kampusnya sendiri. Ini menunjukkan bahwa tempat menggali ilmu itu bukan hanya di universitas saja.

???????

?Mereka mengatakan:

“Di beberapa daerah di negeri kita sangat memperhatikan gelar seorang da’i. mereka tidak mau menerima dakwah apabila sang da’I tidak memiliki title Lc, MA atau Dr.

?Jawaban:

Yang penting untuk kita ingat selalu adalah bahwasanya hidayah itu urusan Allah semata. Dia berhak memberikan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki. Dan  Dialah pula yang menyesatkan siapapun yang Dia kehendaki.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al Qoshosh :56)

?Memang terkadang titel seorang da’i menjadi salah satu wasilah untuk menarik simpatik para mad’u. Namun harus kita ingat bahwa titel bukanlah sebab kedua setelah hidayah Allah yang bisa menggugah hati umat untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Di sana ada beberapa hal lain yang menjadi sebab besar, di antaranya adalah keikhlasan sang da’i, kesadaran dari diri mad’u itu sendiri, isi materi, cara penyampaian dari sang da’i tersebut serta pengamalan sang da’i terhadap ilmunya di tengah masyarakat.

?Betapa banyak da’i bertitel namun dakwahnya tidak diterima oleh umat lantaran amalan kesehariannya tidak berkesesuaian dengan apa yang dia dakwahkan.

?Dan perhatikanlah olehmu siapa di antara tokoh-tokoh yang menyebarkan dakwah salafiyah di negeri ini. Mereka adalah para asatidzah yang mayoritas mereka tidak memliki title apapun. Jangankan doktor, MA pun tidak. Tapi hasilnya sebagaimana yang kita saksikan bersama. Tidaklah satu kota di bumi pertiwi ini melainkan di sana terdapat ahlussunnah insya Allah.

?Bahkan tak jarang di perkampungan terpencil, di gubuk-gubuk sawah atau di kapal-kapal nelayan terdengar  suara ta’lim salah seorang di antara asatidzah. Ini menunjukkan bahwa dakwah salafiyah telah mendapat nilai positif di tengah-tengah umat tanpa harus mengandalkan gelar dari sang da’i.

???????

?          Mereka mengatakan:

“Sebagian ulama kibar membolehkan mendirikan sekolah formal sebagaimana yang telah ditanyakan oleh beberapa ustadz.”

?Jawaban:

Sebagian mereka mengabarkan bahwa syaikh Sholeh Al Fauzan telah ditanya tentang hukum mendirikan sekolah yang mereka maksud.

?Maka hal ini telah dijelaskan pula oleh al ustadz Luqman Ba’abduh Hafizhohullah di salah satu daurohnya yang intinya bahwa fatwa yang disandarkan kepada syaikh Fauzan tersebut tidak bisa dijadikan ‘modal’ pembolehan sekolah formal disebabkan karena sang penanya hanya bertanya tentang hukum mengikuti Ebtanas.

?Sementara mengikuti Ebtanas tidaklah mengharuskan anak untuk sekolah karena yang kita tahu bahwa sekarang ini pemerintah memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengikuti Ebtanas dalam rangka mendapatkan ijazah, meskipun tanpa sekolah. Itupun  kalau seandainya fatwa itu benar dan sang penanya juga memberikan pertanyaan secara detail. Bahkan para asatidzah tidak meyakini akan keshohihan berita tersebut.

???????

?Mereka mengatakan:

“Sebagian dari peraturan resmi sekolah selama ini telah bisa ditangani.  Seperti peraturan mengikuti upacara bendera setiap hari senin diganti dengan acara tausiyah yang diadakan di tengah lapangan sambil berdiri. Untuk materi pelajaran kurikulum diganti dengan pelajaran-pelajaran ahlussunnah dengan menggunakan kitab-kitab yang disusun oleh pihak madrasah sendiri”.

?Jawaban:

Maka ketahuilah bahwa semua alasan mereka di atas hanyalah tipu muslihat dengan menyamarkan antara kebenaran dan kebatilan.

?Pada laporan ke pihak pendidikan nasional mereka menyebutkan apa yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Mereka menyebutkan bahwa mereka mengikuti upacara bendera, mereka juga mengikuti kurikulum yang berlaku, dan banyak lagi hal-hal yang harus mereka selamatkan untuk kepentingan mereka dengan cara berdusta.

???????

?Mereka mengatakan:

“Di Negara-negara islam seperti Arab Saudi juga mendirikan sekolah-sekolah formal. Mengapa di Indonesia tidak boleh?”

?Jawaban:

Jawabannya telah disebuatkan oleh al ustadz Luqman Ba’abduh Hafizhohullah di dalam sebuah daurohnya yang berjudul “Dosa terhadap ilmu dan ulama”.

?Beliau menyebutkan sebuah kaidah fiqhiyah “Laa yajuuz al qiyaas ma’al farqi” yakni tidak boleh melakukan qiyas (penyamaan hukum) pada hal yang terdapat perbedaan di dalamnya. Maka sebagaimana yang telah maklum bahwasanya Saudi Arabia adalah negeri tauhid. Dari pihak pemerintah juga sangat antusias di dalam memerangi bentuk-bentuk khurofat dan kesyirikan dalam berbagai sisi, baik di dalam praktek kehidupan ataupun di dalam sistim pendidikan sendiri.

?Sebaliknya sistim pendidikan formal di negeri kita maka sebagaimana sebagian kita dahulu pernah merasakannya. Dan hingga sekarang materi-materi pembelajaran yang dijejalkan kepada anak-anak didik sangatlah banyak yang bertentangan dengan aqidah islamiyah yang tak selamat dari berbagai kesyirikan, kebid’ahan serta kekufuran.

?Tak jarang anak-anak didik diperkenalkan dengan praktek-praktek kekufuran yang terjadi di tengah-tengah masyarakat muslim, sehingga mendorong mereka untuk lebih akrab lagi dengan perkara-perkara tersebut.

?Tak jarang setelah menyelesaikan materi bacaan dan latihan kemudian tugas berikutnya adalah praktek memperagakan adegan drama sesuai dengan apa yang telah dituliskan di modul pelajarannya.

?Maka mulailah anak-anak didik mempraktekkan kisah cerita tersebut, sebagian ada yang berperan sebagai tukang sihir, ada juga yang berperang sebagai pendekar sakti, ada lagi yang berperan sebagai penjahatnya, bahkan terkadang ada yang berperan sebagai iblis, wal ‘iyadzu billah.

?Masih berkenaan dengan materi aqidah, tak sedikit materi pelajaran yang menggiring anak-anak didik kepada aqidah yang menjauhkan anak-anak didik kepada rambu-rambu syar’i yang sesuai dengan aqidah seorang muslim.

?Yang diperkenalkan justru pemahaman liberalisme yang menuntut kesama-rataan antara muslim dan kafir, yaitu sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Yang mana secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.

???????

Demikianlah gambaran materi pendidikan yang diterapkan di negara kita yang tercinta sehingga tidak bisa dikiaskan antara sistim pendidikan Saudi Arabia dengan apa yang ada di negeri kita mengingat terlalu banyaknya perbedaan yang ada.

?????????

?Dikirim oleh Al-Akh Abu Dawud Al-Pasimy (salah satu thulab di Darul Hadits Fuyus,Yaman) dari WA Salafy Lintas Negara.

Dinukil dari: http://walis-net.blogspot.com/2014/10/seputar-fenomena-pendirian-sekolah_29.html

Berlatih Puasa


Penulis: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran

Anak yang belum baligh memang tidak memiliki kewajiban untuk berpuasa Ramadhan. Namun, tentu tidak ada salahnya bila para orang tua mulai melatih mereka untuk berpuasa yang dengan latihan ini akan memberi banyak manfaat pada diri anak.

Ramadhan telah tiba kembali. Seluruh kaum muslimin menyongsong bulan ini dengan penuh kerinduan dan merenda harapan, semoga mendapatkan pahala yang berlipat dalam segala kebaikan yang ditunaikan. Mereka bersemangat menyambut perintah Allah I:

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Anak-anak kecil pun tak luput dari kegembiraan ini. Mereka berlomba-lomba untuk berpuasa. Orang tua pun turut meng-hasung mereka untuk menunaikan ibadah ini, bahkan terkadang dengan iming-iming hadiah bila berhasil menyelesaikan puasa hingga Ramadhan berakhir.

Namun, bagaimana sesungguhnya yang dilakukan para shahabat Rasulullah n terhadap anak-anak mereka yang belum baligh saat menghadapi perintah puasa? Adakah di antara mereka yang menyuruh anak-anak mereka berpuasa sebagaimana yang banyak dilakukan kaum muslimin sekarang ini?
Dikisahkan oleh seorang shahabiyah, Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz x tentang hal ini, ketika datang perintah puasa ‘Asyura`, puasa wajib sebelum difardhukannya puasa Ramadhan:

“Nabi n pernah mengutus seseorang pada pagi hari ‘Asyura ke kampung-kampung Anshar untuk memerintahkan: ‘Barangsiapa yang pagi hari itu dalam keadaan tidak berpuasa, hendaknya dia sempurnakan hari itu dengan puasa, dan barangsiapa yang pagi itu berpuasa, hendaknya melanjutkan puasanya.’ Maka kami pun menunaikan puasa ‘Asyura setelah itu, dan kami suruh anak-anak kami untuk berpuasa, dan kami buatkan untuk mereka mainan dari wol. Apabila mereka menangis karena minta makanan, kami berikan mainan itu. Demikian hingga tiba waktu berbuka.” (HR. Al-Bukhari, kitab Ash-Shaum bab Shaum Ash-Shibyan no. 1961 dan Muslim, kitab Ash-Shiyam bab Man Akala fi ‘Asyura’ falyakuffa Baqiyyata Yaumihi no. 1136)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t menyebutkan bahwa dalam hadits ini terdapat hujjah disyariatkannya melatih anak-anak untuk berpuasa, karena siapa pun yang masuk dalam usia kanak-kanak sebagaimana yang disebutkan dalam hadits belumlah mukallaf (dibebani pelaksanaan syariat). Namun perintah untuk berpuasa itu semata sebagai latihan. (Fathul Bari, 4/257)

Demikian pula Al-Imam An-Nawawi t dalam penjelasan beliau tentang hadits ini. Beliau mengatakan bahwa hadits ini menunjuk-kan adanya latihan bagi anak-anak untuk melaksanakan ketaatan, membiasakan mereka untuk beribadah, namun mereka bukanlah mukallaf. Al-Qadhi mengatakan bahwa telah diriwayatkan dari ‘Urwah bahwa ketika anak-anak itu mampu berpuasa, maka mereka wajib berpuasa. Ini adalah pendapat yang keliru yang terbantah dengan hadits shahih:

Pena (catatan amalan) diangkat dari tiga golongan, (di antaranya) dari anak kecil sampai dia ihtilam1.” Dalam riwayat yang lain: “Hingga dia baligh.” Wallahu a’lam. (Al-Minhaj, 8/13)

Adapun mengenai batasan usia seorang anak mulai dilatih untuk berpuasa, ada perse-lisihan di dalam hal ini. Al-Imam Asy-Syaukani t mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan disenanginya memerintahkan anak-anak berpuasa untuk melatih mereka apabila mereka mampu. Yang berpendapat seperti ini adalah sekelompok dari kalangan salaf, di antaranya Ibnu Sirin, Az-Zuhri, Asy-Syafi’i dan yang lainnya. Murid-murid Al-Imam Asy-Syafi’i berselisih dalam hal batasan usia seorang anak mulai diperintahkan untuk puasa. Di antaranya ada yang berpendapat tujuh tahun, ada pula yang berpendapat sepuluh tahun, dan ini pula yang dipegangi oleh Al-Imam Ahmad. Ada pula yang berpendapat duabelas tahun, demikian pendapat Ishaq. Sementara Al-Imam Al-Auza’i berpendapat, apabila seorang anak mampu berpuasa tiga hari berturut-turut dan dia tidak menjadi lemah dengan puasanya, maka diperintahkan untuk berpuasa. Pendapat yang masyhur dari kalangan Malikiyah, puasa tidaklah disyariatkan pada anak-anak. Namun pendapat ini terbantah dengan hadits di atas, karena sungguh sangat tidak mungkin Nabi n tidak mengetahui hal ini. (Nailul Authar, 4/250-251)

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t pernah ditanya, apakah anak-anak kecil di bawah usia limabelas tahun diperintahkan untuk berpuasa sebagaimana mereka diperintah shalat? Beliau t menjawab, “Ya. Anak-anak yang belum mencapai baligh diperintahkan untuk berpuasa jika mereka mampu, sebagaimana hal ini dilakukan pula oleh para shahabat g terhadap anak-anak mereka. Ahlul ilmi telah menyatakan pula bahwa wali memerintahkan anak-anak yang ada di bawah perwaliannya untuk berpuasa agar mereka terlatih dan terbiasa melakukannya, dan pokok-pokok agama Islam pun terbentuk dalam jiwa mereka sehingga menjadi tabiat pada diri mereka. Akan tetapi, apabila hal ini berat atau membahayakan mereka, maka mereka tidak diharuskan berpuasa.

Di sini saya juga memperingatkan tentang suatu permasalahan yang dilakukan oleh sebagian ayah atau ibu, yaitu melarang anak-anak mereka berpuasa, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para shahabat g. Mereka beranggapan, mereka melarang anak-anak berpuasa karena rasa sayang dan iba terhadap anak-anak. Padahal pada kenyataan-nya, kasih sayang terhadap anak-anak itu dilakukan dengan memerintahkan mereka untuk melaksanakan syariat Islam dan membi-asakan mereka terhadapnya. Tidak diragukan lagi, yang demikian ini merupakan pendidikan yang baik dan penjagaan yang sempurna. Telah tsabit dari Nabi n, beliau bersabda:

Sesungguhnya seorang laki-laki adalah penanggung jawab terhadap keluarganya dan kelak akan ditanyai tentang tanggung jawabnya.”2

Maka yang selayaknya dilakukan oleh wali terhadap orang yang Allah jadikan di bawah perwaliannya, baik keluarga maupun anak-anak kecil, hendaknya dia bertakwa kepada Allah dalam mengurusi mereka dan memerintahkan mereka dengan segala sesuatu yang dia diperintahkan untuk memerintahkan-nya, berupa syariat Islam.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatisy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, 19/83-84)

Berkaitan dengan hal ini, ada satu catatan penting yang diberikan oleh Fadhilatusy Syaikh Al-’Utsaimin t. Beliau pernah ditanya tentang seorang anak kecil yang ingin terus menunaikan puasa, sementara orang tuanya khawatir karena usianya yang masih kecil dan ditakutkan mengganggu kesehatan-nya. Beliau t menjawab, “Apabila dia masih kecil dan belum baligh, maka tidak diharuskan puasa. Akan tetapi jika dia mampu dan tidak merasa berat, maka dia diperintahkan untuk berpuasa. Dahulu para shahabat menyuruh anak-anak mereka berpuasa. Sampai-sampai jika ada di antara anak-anak itu menangis, mereka memberikan mainan untuk membuat mereka lupa. Namun jika memang hal ini benar-benar membahayakan, maka orang tua boleh melarangnya, karena Allah I melarang kita memberikan harta milik anak-anak kepada mereka karena khawatir akan rusaknya harta tersebut. Maka tentunya kekhawatiran akan bahaya yang menimpa badan lebih utama untuk dicegah. Akan tetapi, larangan tersebut bukan dengan cara yang keras, karena hal ini tidaklah layak dilakukan terhadap anak-anak pada saat mendidik mereka.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatisy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, 19/83)

Demikian yang dapat terbaca dari teladan para shahabat g di saat menyong-song perintah berpuasa. Mereka menghasung anak-anak mereka untuk melaksanakan syariat Allah yang mulia, hingga syariat Allah nantinya menjadi sesuatu yang menyatu dalam diri mereka.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Ihtilam yang dimaksud di sini adalah baligh.
2 Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Kitab Al-Jumu’ah, Bab Al-Jumu’ah fil Qura wal Mudun (893) dan Muslim, Kitab Al-Imarah, Bab Fadhilatil Imamil ‘Adil wa ‘Uqubatil Ja`ir (1829)

Dinukil dari: http://asysyariah.com/berlatih-puasa.html

TIDUR BERSAMA IBU


Pertanyaan:

Apakah anak laki-laki yang telah baligh boleh tidur bersama ibunya atau saudara perempuannya?

Jawab:

Anak-anak laki-laki yang telah baligh atau telah mencapai usia sepuluh tahun, tidak boleh lagi tidur bersama ibu atau saudara perempuan mereka di kamar tidur atau di kasur mereka. Hal ini demi menjaga kemaluan dan menjauhkan dari kobaran fitnah serta menutup celah yang mengantarkan kepada kejelekan.
Nabi n telah memerintah umatnya untuk memisah tempat tidur anak-anak mereka apabila usia mereka telah genap sepuluh tahun. Beliau n bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْر سِنِيْنَ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka bila enggan mengerjakannya pada usia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah di antara mereka pada tempat tidurnya.”2

Dalam al-Qur’an, Allah l memerintahkan agar anak-anak yang belum baligh meminta izin ketika masuk rumah/kamar pada tiga waktu yang aurat biasanya tersingkap dan tampak. Allah l menekankan hal tersebut dengan menamakan tiga waktu itu adalah aurat.

Allah l berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak yang kalian miliki dan anak-anak yang belum baligh di antara kalian, meminta izin kepada kalian (bila hendak masuk ke tempat kalian) tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat subuh, ketika kalian menanggalkan pakaian luar kalian di tengah hari dan setelah shalat Isya. Itulah tiga aurat bagi kalian.” (an-Nur: 58)

Anak yang telah baligh diperintah oleh Allah l untuk meminta izin setiap akan masuk rumah/kamar. Allah l berfirman,

“Apabila anak-anak kalian telah sampai usia baligh, hendaklah mereka meminta izin (di setiap waktu ketika hendak masuk ke tempat kalian) seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin.” (an-Nur: 59)

Semua itu dimaksudkan untuk mecegah gangguan/godaan, menjaga kehormatan, dan menutup celah yang mengantarkan kepada kejelekan.
Adapun anak laki-laki yang berusia di bawah sepuluh tahun masih boleh tidur bersama ibu atau saudara perempuannya di tempat tidurnya, karena adanya kebutuhan untuk menjaganya dan mencegah bahaya darinya bersamaan dengan aman dari fitnah. Ketika aman dari fitnah, mereka boleh tidur sama-sama di satu tempat/kamar walaupun sudah mencapai usia baligh, hanya saja masing-masing tidur di kasurnya sendiri. Wa billahi at-taufiq.

(Fatwa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta. Ketua: Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz. Wakil ketua: asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi. Anggota: asy-Syaikh Abdullah ibn Ghudayyan, asy-Syaikh Abdullah ibn Qu’ud, no. 1600, Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 17/408—409)

Catatan kaki:

2 HR. Abu Dawud no. 495, dinyatakan hasan dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

Dinukil dari: http://asysyariah.com/tidur-bersama-ibu.html

Belajar Bahasa Inggris, Haramkah?


Penulis: al Ustadz dr. M Faiq Sulaifi hafidzahullohu ta’ala

Sekarang ini telah terjadi kesalahfahaman tentang hukum belajar bahasa Inggris di kalangan ikhwan salafiyyin. Sebagian mereka jatuh ke dalam ghuluw karena mengharamkan belajar bahasa Inggris secara mutlak dan mencela madrasah yang mengajarkan bahasa Inggris padahal madrasah tersebut juga bermanhaj salaf sebagaimana rekomendasi sebagian ulama’ dakwah salafiyah. Bahkan di antara mereka ada yang keterlaluan dalam bersikap dan meng-hizbi-kan saudara mereka yang sedang belajar bahasa Inggris padahal ia dalam posisi sangat membutuhkannya.

Tulisan ini akan sedikit memberikan pencerahan kepada para pembaca tentang sikap para ulama salaf terhadap bahasa Ajam (non-Arab) termasuk juga bahasa Inggris. Dengan demikian kita dapat merancang porsi bahasa dalam pendidikan anak-anak kita.

Para ulama membagi hukum belajar bahasa Ajam menjadi 2 keadaan:

  • Membiasakan bahasa Ajam dalam percakapan sehari-hari
  • Menjadikan bahasa Ajam sebagai wasilah (perantara) untuk kepentingan dakwah atau untuk kebutuhan duniawi

Larangan Membiasakan Bahasa Ajam

Telah datang larangan dari Salafush Shalih tentang larangan mempelajari bahasa Ajam (termasuk bahasa Inggris) dengan tujuan pemakaian sehari-hari atau sebagai kebiasaan.

Umar bin Al-Khaththab t berkata:

لاَ تَعَلَّمُوا رَطَانَةَ الأَعَاجِمِ وَلاَ تَدْخُلُوا عَلَى الْمُشْرِكِينَ فِى كَنَائِسِهِمْ يَوْمَ عِيدِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَنْزِلُ عَلَيْهِمْ.

“Janganlah kalian mempelajari ‘rathanah’ (bercakap-bercakap) bahasa Ajam. Dan janganlah kalian memasuki gereja-gereja orang-orang musyrik ketika hari raya mereka karena murka (Allah) turun kepada mereka.” (HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 19333 (9/234), Abdur Razzaq dalam Mushannafnya: 1609 (1/411) dan isnadnya di-shahih-kan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidla’ Shirathil Mustaqim: 199).

Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar t:

أنه كره رطانة الأعاجم

“Bahwa beliau (Ibnu Umar) membenci bercakap-cakap dengan bahasa Ajam.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Kitabul Adab: 53 (1/64) dari Ibnu Numair dari Al-Umari dari Nafi’)

Al-Imam Atha’ juga berkata:

لاَ تَعَلَّمُوا رَطَانَةَ الأَعَاجِمِ ، وَلاَ تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ كَنَائِسَهُمْ ، فَإِنَّ السَّخَطَة تَنْزِلُ عَلَيْهِمْ

“Janganlah kalian mempelajari ‘rathanah’ (bercakap-bercakap) bahasa Ajam. Dan janganlah kalian memasuki gereja-gereja mereka karena murka (Allah) turun kepada mereka.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 9/11).

Muhammad bin Sa’d bin Abi Waqqash (putra Sa’d bin Abi Waqqash t, mati dibunuh oleh Hajjaj bin Yusuf) -ketika mendengar sebuah kaum yang berbicara bahasa Persia- berkata:

ما بال المجوسية  بعد الحنيفية

“Bagaimana keadaan agama Majusi setelah agama yang lurus (Islam, pen)?” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitabul Adab: 52 (1/63) dari Ismail bin Ulayyah dari Dawud bin Abi Hindin dari Muhammad bin Sa’d bin Abi Waqqash)

Al-Imam Ibnu Abi Syaibah mengumpulkan atsar-atsar di atas dalam Kitabul Adab dalam judul:

باب من كره الكلام بالفارسية

“Bab Orang Yang Membenci Berbicara dengan Bahasa Persia.” (Kitabul Adab: 1/60).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وأما اعتياد الخطاب بغير العربية التي هي شعار الإسلام ولغة القرآن حتى يصير ذلك عادة للمصر وأهله ولأهل الدار وللرجل مع صاحبه ولأهل السوق أو للأمراء أو لأهل الديوان أو لأهل الفقه فلا ريب أن هذا مكروه فإنه من التشبه بالأعاجم وهو مكروه كما تقدم

“Dan adapun membiasakan berbicara dengan selain bahasa Arab yang merupakan syi’ar Al-Islam dan bahasa Al-Quran sampai bahasa tersebut menjadi adat (kebiasaan) bagi suatu negeri dan penduduknya, juga bagi penghuni rumah tangga, juga antara seseorang dengan temannya, bagi penduduk pasar, bagi pemerintahan atau dinas pemerintah atau menjadi kebiasaan bagi ahli fiqih, maka tidak diragukan lagi bahwa ini (membiasakan selain bahasa Arab) adalah dibenci karena termasuk tasyabbuh dengan orang-orang Ajam dan perkara tersebut adalah dibenci sebagaimana keterangan terdahulu.” (Iqtidla’ Shirathil Mustaqim: 206).

Mempelajari Bahasa Inggris atau Ajam sebagai Wasilah

Termasuk dalam Bab ‘mempelajari bahasa Ajam sebagai wasilah’ yaitu mempelajarinya untuk kepentingan dakwah, untuk mendekatkan pemahaman, saling berkomunikasi atau juga untuk memenuhi kebutuhan duniawi seperti belajar ilmu kedokteran atau teknologi yang lainnya.

Ini karena semua manusia di muka bumi ini memiliki bahasa yang berlainan sebagai tanda kekuasaan Allah U. Allah U berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 22).

Al-Imam Al-Qurthubi berkata:

(وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوانِكُمْ) اللسان في الفم، وفية اختلاف اللغات: من العربية والعجمية والتركية والرومية. واختلاف الألوان في الصور: من البياض والسواد والحمرة، فلا تكاد ترى أحدا إلا وأنت تفرق بينه وبين الآخر

“Firman Allah: “berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu” maksudnya adalah lisan yang ada di dalam mulut. Dan di dalamnya ada perbedaan bahasa: bahasa Arab, bahasa Ajam, bahasa Turki dan bahasa Rum. Dan juga perbedaan warna dalam rupa: kulit putih, kulit hitam, kulit merah. Maka kamu tidaklah melihat seseorang kecuali kamu dapat membedakan antaranya dan orang lain.” (Tafsir Al-Qurthubi: 14/18).

Dan mereka butuh untuk saling mengenal dan berkomunikasi. Allah U berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ketika seseorang berdakwah kepada suatu kaum yang belum mengerti bahasa Arab maka hendaknya ia berdakwah dengan bahasa mereka. Allah U berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ibrahim: 4).

Al-Imam Qatadah (seorang ulama tabiin) berkata:

قوله:(وما أرسلنا من رسول إلا بلسان قومه) ، أي بلغة قومه ما كانت . قال الله عز وجلّ:(ليبين لهم) الذي أرسل إليهم ، ليتخذ بذلك الحجة

“Firman Allah: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya” maksudnya adalah dengan bahasa kaumnya apapun bahasanya. Dan firman Allah: “supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka” maksudnya adalah agar ia (penjelasan tersebut) dijadikan sebagai hujjah.” (HR. Ibnu Jarir: 16/517, dan isnadnya di-hasan-kan oleh DR. Hikmat Basyir Yasin dalam Ash-Shahihul Masbur fit Tafsiril Ma’tsur: 3/128).

Dari Ubay bin Ka’ab t, ia berkata:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتٍ مِنْ كِتَابِ يَهُودَ قَالَ إِنِّي وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابِي قَالَ فَمَا مَرَّ بِي نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى تَعَلَّمْتُهُ لَهُ قَالَ فَلَمَّا تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُودَ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ وَإِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ

“Rasulullah r menyuruhku untuk mempelajari -untuk beliau- kalimat-kalimat (bahasa)  dari buku (suratnya) orang Yahudi, beliau berkata: “Demi Allah, aku tidak merasa aman dari (pengkhianatan) yahudi atas suratku.” Maka tidak sampai setengah bulan aku sudah mampu menguasai bahasa mereka. Ketika aku sudah menguasainya maka jika beliau menulis surat untuk yahudi maka aku yang menuliskan untuk beliau. Dan ketika mereka menulis surat untuk beliau maka aku yang membacakannya kepada beliau.” (HR. At-Tirmidzi: 2639, ia berkata hadits hasan shahih, Ahmad: 20605, Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 7136 (16/84), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 12556 (6/211) dan ini adalah redaksi At-Tirmidzi. Isnadnya di-shahih-kan oleh Al-Arna’uth dalam Ta’liq Musnad Ahmad, dan di-shahih-kan pula oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah hadits: 187)

Dalam riwayat lain:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ السُّرْيَانِيَّةَ

“Rasulullah r memerintahkanku untuk mempelajari bahasa Suryani.” (HR. At-Tirmidzi: 2639).

Al-Allamah Al-Mubarakfuri berkata:

قال القارىء قيل فيه دليل على جواز تعلم ما هو حرام في شرعنا للتوقي والحذر عن الوقوع في الشر  كذا ذكره الطيبي في ذيل كلام المظهر وهو غير ظاهر إذ لا يعرف في الشرع تحريم تعلم لغة من اللغات سريانية أو عبرانية أو هندية أو تركية أو فارسية وقد قال تعالى ومن آياته خلق السماوات والأرض واختلاف ألسنتكم أي لغاتكم بل هو من جملة المباحات نعم يعد من اللغو ومما لا يعني وهو مذموم عند أرباب الكمال إلا إذا ترتب عليه فائدة فحينئذ يستحب كما يستفاد من الحديث انتهى

“Al-Qari menyatakan bahwa di dalam hadits ini terdapat dalil atas bolehnya mempelajari sesuatu yang haram dalam syariat kita untuk berhati-hati dan berjaga-jaga dari terjatuh dalam keburukan. Demikianlah disebutkan oleh Ath-Thibi dalam dzail ucapan Al-Mudzhir. Ucapan beliau ini tidak jelas karena tidak diketahui dalam syara’ ini sebuah dalil yang yang mengharamkan mempelajari satu bahasa pun dari bahasa-bahasa Suryani, Ibrani, India, Turki ataupun Persia. Dan Allah U berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan lisanmu” maksudnya adalah bahasa-bahasa kamu. Bahkan itu (mempelajari bahasa-bahasa Ajam) termasuk dari perkara mubah. Benar, itu bisa dianggap sesuatu yang sia-sia sehingga mempelajarinya adalah tercela menurut orang-orang yang menginginkan kesempurnaan. Kecuali jika terdapat faidah yang berturut-turut dari mempelajarinya maka ketika itu dianjurkan (mempelajarinya) sebagaimana faidah yang dapat diambil dari hadits ini. Selesai.” (Tuhfatul Ahwadzi: 7/413).

Dari Jabir bin Abdillah t, ia berkata:

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَبَحْنَا بُهَيْمَةً لَنَا وَطَحَنْتُ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ فَتَعَالَ أَنْتَ وَنَفَرٌ فَصَاحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَهْلَ الْخَنْدَقِ إِنَّ جَابِرًا قَدْ صَنَعَ سُؤْرًا فَحَيَّ هَلًا بِكُمْ

Aku berkata: “Wahai Rasulullah, kami menyembelih anak binatang ternak kami dan membikin bubur dari gandum. Silakan Engkau ke sini dan sebagian orang saja!” Maka Rasulullah r berteriak: “Wahai Ahli Khandaq, sesungguhnya Jabir membikin As-su’r. Silakan kalian kemari!” (HR. Al-Bukhari: 2841).

Al-Allamah Al-Aini berkata: As-Su’r adalah makanan yang dibuat dan mengundang orang lain untuk menghadirinya. Ada yang menyatakan bahkan ia (as-su’r) adalah makanan secara mutlak. Ia (as-su’r) adalah lafazh berbahasa Persia.” (Umdatul Qari: 22/175).

Dari Ummu Khalid bin Khalid t (ketika ia masih kecil), ia berkata:

أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَبِي وَعَلَيَّ قَمِيصٌ أَصْفَرُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَنَهْ سَنَهْ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَهِيَ بِالْحَبَشِيَّةِ حَسَنَةٌ قَالَتْ فَذَهَبْتُ أَلْعَبُ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ

“Aku mendatangi Rasulullah r bersama ayahku. Aku memakai gamis kuning. Maka Rasulullah r berkata: “Sanah, sanah.” Abdullah (seorang perawi) berkata: “Ia (sanah) dalam bahasa Etiopia berarti “bagus.” Maka aku pergi bermain dengan tanda kenabian.” (HR. Al-Bukhari: 2842, 5534, Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab: 6290 (5/183), Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus Shahabat: 7276 (24/156)).

Dari Abu Hurairah t, ia berkata:

أَنَّ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ أَخَذَ تَمْرَةً مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ فَجَعَلَهَا فِي فِيهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْفَارِسِيَّةِ كِخْ كِخْ أَمَا تَعْرِفُ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ

“Bahwa Hasan bin Ali mengambil sebuah kurma dari kurma shadaqah dan meletakkannya pada mulutnya. Maka Rasulullah r berkata dalam bahasa Persia: Kikh, kikh. Apakah kamu (wahai Hasan) tidak mengetahui bahwa kami (Ahlul bait) tidak boleh memakan shadaqah?” (HR. Al-Bukhari: 2843, Muslim: 1778, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 13611 (7/29)).

Al-Imam An-Nawawi berkata:

قال القاضي يقال كخ كخ بفتح الكاف وكسرها وتسكين الخاء ويجوز كسرها مع التنوين وهي كلمة يزجر بها الصبيان عن المستقذرات فيقال له كخ أي اتركه وارم به قال الداودى هي عجمية معربة بمعنى بئس

“Al-Qadli Iyadl berkata: “Dibaca kakh, kakh atau kikh, kikh (dengan fathah atau kasrah kaf dengan sukun kha’) dan boleh dibaca kakhin, kakhin atau kikhin, kikhin (dengan kasrah kha’ dengan tanwin) merupakan kalimat untuk melarang anak-anak dari sesuatu yang dianggap menjijikkan. Maka dikatakan: “Kakh” maksudnya adalah tinggalkan dan buanglah ia! Ad-Dawudi berkata: “Ia (lafazh ‘kakh’) adalah bahasa Ajam yang di-arab-kan dengan makna sesuatu yang jelek.” (Syarhun Nawawi ala Shahih Muslim: 7/175).

Al-Imam Al-Bukhari mengumpulkan hadits-hadits di atas dalam Shahihnya dalam judul bab:

بَاب مَنْ تَكَلَّمَ بِالْفَارِسِيَّةِ وَالرَّطَانَةِ وَقَوْلِهِ تَعَالَى { وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ } { وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ }

“Bab Orang-orang Yang Berbicara dengan Bahasa Persia dan Bahasa Ajam dan Firman-Nya U “berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu” dan Firman-Nya “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya.” (Shahihul Bukhari: 10/295 Kitabul Jihad was Siyar).

Abu Khaldah Khalid bin Dinar berkata:

كلمني أبو العالية بالفارسية

“Al-Imam Abul Aliyah (ulama tabiin, pen) pernah berbicara kepadaku dengan bahasa Persia.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Kitabul Adab: 54 (1/66) dari Waki’ bin Jarrah dari Abu Khaldah).

Mundzir Ats-Tsauri berkata:

سأل رجل ابن الحنفية عن الجبن ، فقال : « يا جارية اذهبي بهذا الدرهم فاشترى به نبيرا » – يعني الجبن – فاشترت نبيرا ثم جاءت به

“Seseorang bertanya kepada Al-Imam Muhammad bin Al-Hanafiyah (seorang ulama tabi’in putra Ali bin Abi Thalib t dari wanita budak, pen) tentang keju. Maka beliau berkata: “Wahai Jariyah (budak perempuan, pen), pergilah untuk membeli ‘nabir’ –yakni keju (dalam bahasa Persia)- dengan uang dirham ini!” Kemudian ia membeli nabir dan datang dengannya.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Kitabul Adab: 57 (1/69) dari Muhammad bin Fudlail dari Habib bin Abi Amrah dari Mundzir Ats-Tsauri).

Dari Al-Imam Al-Aswad bin Hilal Al-Kufi (ulama tabiin murid Ibnu Mas’ud t) bahwa ia berkata:

« اندرايم ، يعني الاستئذان على أهل الذمة »

“Andraem,” yakni meminta ijin kepada orang kafir dzimmi (bahasa Persia).” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Kitabul Adab: 58 (1/70) dari Waki’ dari Sufyan dari Hammad dari Ibrahim An-Nakha’i dari Al-Aswad).

Al-Imam Ibnu Abi Syaibah mengumpulkan atsar-atsar di atas dalam Kitabul Adab dengan judul bab:

باب من رخص في الكلام بالفارسية

“Bab Orang-orang Yang Memberikan Rukhshah dalam Berbicara dengan  Bahasa Persia.” (Kitabul Adab: 1/65).

Hadits  dan atsar di atas menunjukkan bolehnya menggunakan bahasa Ajam (termasuk bahasa Inggris) sebagai wasilah dakwah untuk memudahkan pemahaman ataupun wasilah duniawi seperti mempelajari ilmu pengetahuan, teknologi dan kedokteran karena sampai sekarang masih sedikit buku-buku teknologi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dan menggunakan bahasa Inggris adalah seperlunya saja dan tidak boleh dimasyhurkan.

Berikut ini adalah fatwa-fatwa ulama sekarang yang berjalan di atas manhaj Salafush Shalih:

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ nomer 4967, pertanyaan ketiga:

س3: هل تعلم اللغة الإنجليزية حرام أم حلال؟

ج3: إذا كان هناك حاجة دينية أو دنيوية إلى تعلم اللغة الإنجليزية، أو غيرها من اللغات الأجنبية؛ فلا مانع من تعلمها، أما إذا لم يكن حاجة فإنه يكره تعلمها.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس

عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Tanya: “Apakah mempelajari bahasa Inggris itu haram ataukah halal?”

Jawab: “Jika di sana ada kebutuhan agama atau duniawi untuk mempelajari bahasa Inggris atau bahasa Asing lainnya maka tidak ada larangan untuk mempelajarinya. Adapun jika tidak ada kebutuhan maka dibenci mempelajarinya.

Wabillahit taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wasallam.”

Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (ketua), Abdur Razzaq Afifi (wakil ketua), Abdullah bin Ghudayyan (anggota), Abdullah bin Qu’ud (anggota) (12/133)

Fatwa Al-Allamah Al-Faqih Ibnu Utsaimin:

س 16: سئل فضيلة الشيخ- رحمه الله-: عن حكم تعلم اللغة الإنجليزية في الوقت الحاضر؟

فأجاب بقوله: تعلمها وسيلة، فإذا كنت محتاجًا إليها كوسيلة في الدعوة إلى الله فقد يكون تعلمها واجبًا، وإن لم تكن محتاجًا إليها فلا تشغل وقتك بها، واشتغل بما هو أهم وأنفع، والناس يختلفون في حاجتهم إلى تعلم اللغة الإنجليزية، وقد أمر النبي – صلى الله عليه وسلم – زيد بن ثابت أن يتعلم لغة اليهود. فتعلم اللغة الإنجليزية وسيلة من الوسائل إن احتجت إليها تعلمتها، وإن لم تحتج إليها فلا تُضِع وقتك فيها.

Beliau ditanya tentang hukum mempelajari bahasa Inggris di waktu sekarang?

Beliau menjawab: “Mempelajarinya adalah wasilah. Jika engkau membutuhkannya seperti sebagai wasiah dakwah kepada Allah maka kadang-kadang menjadi wajib. Jika kamu tidak membutuhkannya maka jangan kamu sibukkan waktumu untuknya dan sibukkan dirimu dengan sesuatu yang lebih penting dan lebih bermanfaat. Manusia berbeda-beda kebutuhan mereka terhadapa bahasa Inggris. Dan Rasulullah r telah memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa Yahudi. Maka mempelajari bahasa Inggris termasuk wasilah dari sekian banyak wasilah. Kalau kamu membutuhkannya silakan kamu pelajari. Dan jika tidak maka jangan kamu sia-siakan waktumu dengannya.” (Majmu Fatawa wa Rasail Al-Utsaimin: 26/52).

Bahasa Arab Tetap Nomor Satu

Meskipun kita mendapatkan keringanan untuk mempelajari bahasa Inggris sesuai dengan kebutuhan masing-masing, kita hendaknya mengutamakan untuk mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa resmi Agama Islam. Allah U berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2).

Al-Imam Ibnu Katsir berkata:

وذلك لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس؛ فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة  أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه

“Yang demikian karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, yang paling jelas dan yang paling luas dan yang paling banyak membawa makna yang ditegakkan oleh jiwa-jiwa. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (Al-Quran) diturunkan dengan bahasa yang paling mulia kepada rasul yang paling mulia melalui perantaraan malaikat yang paling mulia. Dan terjadinya pada tempat yang paling mulia di muka bumi. Dan dimulai  turunnya pada bulan yang paling mulia dalam setahun yakni Ramadlan. Maka Al-Quran menjadi sempurna dari berbagai segi.” (Tafsir Ibnu Katsir: 4/366).

Dari Umar bin Zaid, ia berkata:

كَتَبَ عُمَرُ إِلَى أَبِي مُوسَى : أَمَّا بَعْدُ فَتَفَقَّهُوا فِي السُّنَّةِ , وَتَفَقَّهُوا فِي الْعَرَبِيَّةِ , وَأَعْرِبُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ عَرَبِيٌّ ..

“Umar t menulis surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari t: “Amma ba’du, maka carilah pemahaman dalam As-Sunnah, carilah pemahaman dalam bahasa Arab, I’rabilah Al-Quran..” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 30534 (10/456) dari Isa bin Yunus dari Tsaur dari Umar bin Zaid).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ومعرفتها فرض واجب فإن فهم الكتاب والسنة فرض ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب ثم منها ما هو واجب على الأعيان ومنها ما هو واجب على الكفاية

“Dan lagi, bahwa bahasa Arab sendiri termasuk agama (Islam). Mengetahuinya adalah fardlu dan wajib. Karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah adalah fardlu. Dan tidak dapat difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Segala sesuatu yang mana perkara wajib tidak akan sempurna kecuali dengannya maka ia menjadi wajib. Kemudian di antara bahasa Arab ada yang fardlu ain dan ada yang fardlu kifayah.” (Iqtidla’ Shirathil Mustaqim: 207).

Peringatan

Orang-orang yang secara ekstrim mengharamkan belajar bahasa Ajam (termasuk Inggris) secara mutlak mungkin berpedoman pada hadits Nabi r yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari Ibnu Umar t bahwa Rasulullah r bersabda:

من يحسن أن يتكلم بالعربية فلا يتكلم بالعجمية فإنه يورث النفاق

“Barangsiapa yang mampu berbicara dalam bahasa Arab maka janganlah ia berbicara dengan bahasa Ajam karena dapat mewariskan kemunafikan.” (Iqtidla’ Shirathil Mustaqim: 205).

Hadits di atas diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak: 7001 (4/98). Di dalam sanadnya ada Amr bin Harun Al-Balkhi. Adz-Dzahabi berkata: “Amr bin Harun didustakan oleh Ibnu Ma’in dan ditinggalkan oleh jamaah ulama’.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

وأشار المصنف إلى ضعف ما ورد من الأحاديث الواردة في كراهة الكلام بالفارسية كحديث كلام أهل النار بالفارسية وكحديث من تكلم بالفارسية زادت في خبثه ونقصت من مروءته أخرجه الحاكم في مستدركه وسنده واه وأخرج فيه أيضا عن عمر رفعه من أحسن العربية فلا يتكلمن بالفارسية فإنه يورث النفاق الحديث وسنده واه أيضا

“Pengarang (Al-Imam Al-Bukhari) mengisyarahkan (dalam judul Bab tentang bolehnya berbicara dalam bahasa Persia, pen) tentang lemahnya hadits yang datang tentang dibencinya berbicara dalam bahasa Persia, seperti hadits: “Ucapan ahli neraka adalah bahasa Persia.” Dan juga hadits: “Barangsiapa yang berbicara dengan bahasa Persia maka bertambahlah keburukannya dan berkuranglah muru’ahnya.” Dikeluarkan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya dan sanadnya lemah. Dan Al-Hakim mengeluarkan pula hadits marfu’ dari Umar:  “Barangsiapa yang mampu berbicara dalam bahasa Arab maka janganlah ia berbicara dengan bahasa Ajam karena dapat mewariskan kemunafikan.” Dan sanadnya juga lemah.” (Fathul Bari: 6/184).

Kesimpulan

Mempelajari bahasa asing adalah dihukumi sebagai wasilah saja dan boleh dipelajari jika ada kebutuhan agama atau duniawi.

Untuk kepentingan pendidikan anak-anak, kita harus memprioritaskan bahasa Arab sebagai bagian dari pendidikan Al-Quran dan As-Sunnah. Porsi kedua adalah bahasa Indonesia sehingga mereka bisa berdakwah di lingkungan masyarakatnya. Porsi ketiga adalah bahasa asing seperti bahasa Inggris karena anak-anak kita juga memiliki hak untuk mengerti teknologi duniawi.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Amien. Wallahu a’lam.

Dinukil dari:

http://sulaifi.wordpress.com/2010/04/09/belajar-bahasa-inggris-haramkah/#comment-81