Category Archives: KHUSUS PASUTRI

FOREPLAY SEBELUM SENGGAMA 


🔥🌺 “PEMANASAN” SEBELUM JIMA’
✍  Asy Syeikh Al Utsaimin rohimahullah:
☝ Selayaknya bagi seorang suami sebelum melakukan jima’ untuk melakukan “pemanasan” untuk membangkitkan syahwat sang istri, sehingga syahwat suami istri menjadi sama.
🍊 Yang demikian ini lebih kuat kenikmatannya dan lebih bermanfaat bagi kedua belah pihak.
🎉 Maka seorang suami melakukan hal hal yang membangkitkan syahwat istrinya, dari ciuman, meraba, dan yang lainnya.
••••••••••••••••••••••••••
📥 Sumber: Syarhul Mumti’ 12/415
📠 Dikutip dari channel @Berbagiilmuagama
🚀 Dipublikasikan oleh: 

👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC 

👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC
📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang

Pada Kamis 16 Dzulhijjah 1438 H || 07 September 2017 M || #pemanasan #jimak #suami #istri 

______________________________

HUKUM ISTERI MENARI DI DEPAN SUAMI


💿 HUKUM ISTERI MENARI DI DEPAN SUAMI
🔭 Berkata Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah:
أما رقص المرأة أمام زوجها وليس عندهما أحد : فلا بأس به ؛ لأن ذلك ربما يكون أدعى لرغبة الزوج فيها ، وكل ما كان أدعى لرغبة الزوج فيها : فإنه مطلوب ، ما لم يكن محرَّماً بعينه ، ولهذا يسن للمرأة أن تتجمل لزوجها ، كما يسن للزوج أيضاً أن يتجمل لزوجته كما تتجمل له ” انتهى .

📜 “Adapun tarian seorang wanita di depan suaminya dan tidak ada seorangpun bersamanya: hal itu tidak mengapa, sebab hal itu boleh jadi lebih mendorong hasrat suaminya kepadanya, dan setiap hal yang dapat menguatkan hasrat seorang suaminya kepadanya, hal itu dianjurkan, selama tidak mengandung perkara yang haram. 

Oleh karenanya, dianjurkan bagi seorang wanita berhias untuk suaminya, sebagaimana dianjurkan pula seorang suami berhias untuk isterinya, seperti berhiasnya isteri untuk suaminya.”
📙 (Al-liqa asy-syahri: soal ke-12 no:9)

Kutipan dari Channel Telegram : @Askarybinjamal

HUBUNGAN INTIM DIMALAM JUM’AT


Dari Aus bin Aus Radliallahu’anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ‎​Shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ ، وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا

“Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at dan memandikan istri (menyebabkan istri mandi karena menyetubuhinya), lalu ia pergi di awal waktu atau ia pergi dan mendapati khutbah pertama, lalu ia mendekat pada imam, mendengar khutbah serta diam, maka setiap langkah kakinya terhitung seperti puasa dan shalat setahun.” (HR. Tirmidzi no. 496. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ada ulama yang menafsirkan maksud hadits penyebutan mandi adalah “ghosal” bermakna mencuci kepala, sedangkan “ightasal” berarti mencuci anggota badan lainnya. Demikian disebutkan didalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi 3:3.

Ada tafsiran lain mengenai makna mandi dalam hadits di atas. Sebagaimana kata Ibnul Qayyim didalam Kitab Zaadul Ma’ad,

قال الإمام أحمد : (غَسَّل) أي : جامع أهله ، وكذا فسَّره وكيع

Imam Ahmad berkata, makna ghossala adalah menyetubuhi istri. Demikian pula yg ditafsirkan oleh Waki’.

Dan tafsiran di atas disebutkan pula didalam Tuhfatul Ahwadzi 3:3. Dan sudah tentu hubungan intim menjadikan seseorang wajib untuk mandi junub.

Namun kalau kita lihat tekstual hadits di atas, yang dimaksud hubungan intim disini adalah pada pagi hari pada hari Jum’at, bukan pada malam harinya. Sebagaimana hal ini dipahami oleh para ulama dan mereka (para ulama) tidak memahaminya pada malam Jum’at.

وقال السيوطي في تنوير الحوالك: ويؤيده حديث: أيعجز أحدكم أن يجامع أهله في كل يوم جمعة، فإن له أجرين اثنين: أجر غسله، وأجر غسل امرأته. أخرجه البيهقي في شعب الإيمان من حديث أبي هريرة.

Imam As Suyuthi dalam Tanwirul Hawalik, menguatkan hadits tersebut dan berkata: “Apakah kalian lemas (karena) menyetubuhi istri kalian pada setiap Jum’at (artinya bukan di malam hari, -pen). Karena menyetubuhi saat itu mendapat dua pahala: (1) pahala mandi Jum’at, (2) pahala menyebabkan istri mandi (karena disetubuhi)”.

Hadits yang dimaksud dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman dari hadits Abu Hurairah.

Dan tentunya sah-sah saja jika mandi Jum’at digabungkan dengan mandi junub.

Imam Nawawi rahimahullah mnjelaskan, “Jika seseorang meniatkan mandi junub dan mandi Jum’at sekaligus, maka maksud tersebut dibolehkan.” (Silahkan periksa Al Majmu’, 1: 326)

Intinya, bersetubuh pada malam Jum’at adalah pemahaman keliru yang tersebar di masyarakat. Yang tepat dan yang dianjurkan, adalah hubungan intim pada pagi hari ketika mau berangkat Jumatan, dan bukan di malam hari.

Tentang anjurannya pun masih diperselisihkan oleh para ulama karena tafsiran yang berbeda dari mereka.

Semoga kita selalu mendapatkan taufiq dari Allah Ta’ala agar senantiasa kokoh diatas Sunnah. Dan Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam.
_______________________
Catatan:
(Sumber: Pesan ini disebarluaskan oleh BB Da’wah Ahlussunnah)

Dinukil dari: http://www.forumdakwahahlussunnah.com/hubungan-intim-dimalam-jumat/

Keabsahan Pernikahan Dengan Seorang Wanita Yang Ternyata Sudah Tidak Perawan


Penulis: Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA

Fatwa no. 12314 (Bab 19; Halaman  7)

Tanya:

Saya menikah dengan seorang wanita dari negara lain, dimana keluarganya mengatakan ia masih perawan saat usia 17 tahun dan belum pernah tidur dengan siapa pun sebelum saya, tapi saya kemudian menemukan kejadian saat dia berusia 25 tahun sudah tidak perawan. Saya kemudian membawanya  ke Arab Saudi dan tinggal bersamanya selama empat bulan, selama itu saya tidak menemukan kesalahan apapun yang dia lakukan. Mohon berikanlah saya fatwa berdasarkan pertanyaan saya: Apakah saya harus menjaganya atau memulangkannya kembali ke negaranya? Apakah hal ini akan merupakan perbuatan dosa atau kebaikan, tolong jelaskan hal ini padaku. Semoga Allah melindungi, dan membimbing anda.

Jawaban:

Jika pernikahan anda dengan wanita tersebut disetujui oleh walinya , serta prasyarat dan rukun dari akad pernikahan terpenuhi, dan tidak ada penghalang untuk melangsungkan pernikahan, maka pernikahan tersebut syah. Apa yang anda sebutkan dalam pertanyaan tentang dia sudah tidak perawan atau lebih tua dari usia tidaklah membatalkan akad pernikahan. Jika perselisihan terjadi antara anda dalam hal ini, anda harus merujuk ke pengadilan.

Wabillahi taufiq. Wa shalallahu wa salaman ‘ala nabiyina muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA

Ketua: ` Abdul `Aziz bin` Abdullah bin Baz

Wakil Ketua : ` Abdul-Razzaq `Afify

Anggota :`Abdullah bin Ghudayyan

Dengan sedikit perubahan diterjemahkan dari: http://www.alifta.net/Search/ResultDetails.aspx?lang=en&view=result&fatwaNum=&FatwaNumID=&ID=7116&searchScope=7&SearchScopeLevels1=&SearchScopeLevels2=&highLight=1&SearchType=exact&SearchMoesar=false&bookID=&LeftVal=0&RightVal=0&simple=&SearchCriteria=allwords&PagePath=&siteSection=1&searchkeyword=110111032118105114103105110#firstKeyWordFound

 

Haruskah Mandi Janabah Seusai Bercumbu


Penulis: Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA

Fatwa no. 11063 (V/295)

Tanya:

Apa hukumnya suami yang tidur dengan istrinya dalam satu tempat tidur kemudian bercumbuan dengan penuh hasrat, tanpa melakukan hubungan seksual atau mengeluarkan  air mani, Apakah dia harus melakukan mandi janabah dalam perkara  ini?

Jawab:

Alhamdulillah, wa shalallahu wa salamun ‘ala nabiyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in

Jika seorang pria tidur dengan istri dan menyentuh dengan penuh hasrat tapi tidak memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan istrinya atau tidak terjadinya ejakulasi, mandi junub tidaklah dituntut darinya.

Tanya:

Saya berharap bahwa Anda akan menjelaskan kepada kita perbedaan antara najis besar dan najis kecil. Bagaimana  jika seseorang mengalami mimpi basah dan keluar satu atau dua tetes air mani, apakah diperbolehkan baginya untuk menghilangkannya dengan air tidak dengan melakukan Mandi Wajib  setelah terkena najis besar?

Jawab:

Najis kecil membatalkan wudhu  seperti tidur, buang air kecil, makan daging unta dan sejenisnya, sedangkan najis besar  memerlukan pelaksanaan Mandi, seperti ketika mani dipancarkan dalam dorongan disertai dengan perasaan nikmat, dan ketika kemaluan pria menembus ke kelamin wanita. Dalam kasus seorang pria mengalami mimpi basah dan keluar air  mani, bahkan bila hanya satu tetes saja, wajib atas dia untuk melakukan Mandi Wajib (Janabah).

Wabillahi taufiq. Wa shalallahu wa salamun ‘ala nabiyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA

Ketua: ` Abdul `Aziz bin` Abdullah bin Baz

Wakil Ketua: ` Abdul-Razzaq `Afify

Anggota  : `Abdullah bin Ghudayyan

Dengan sedikit perubahan diterjemahkan dari:

http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=7&PageID=1631&back=true

Berjima’ Saat Istri Sedang Hamil


Penulis: Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia

Pertanyaan kedua dari fatwa no. 7269

Pertanyaan 2:

Apakah boleh bagi saya berhubungan seksual (jima’) dengan  istri saya yang hamil sembilan bulan, karena saya takut kalau tidak saya dapat terjatuh dalam perzinahan?

Jawaban:

Hal itu diperbolehkan bagi seorang suami untuk berhubungan seksual dengan istrinya yang sedang hamil sampai ia menginginkannya. Tidak ada salahnya dalam hal ini sebagaimana yang telah diatur oleh syariat bahwa  istri halal baginya dan tidak ada bukti dalam syariat yang menunjukkan sebaliknya.

Wabillaahi taufiq. Ashalatu wassalamu ‘ala nabiyuna Muhammad wa’ala alihi washabihi ajmain.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Ketua: ‘Abdul `Aziz bin Abdullah bin Baz`

Anggota:

`Abdullah bin Qa` ud

`Abdullah bin` Abdul Ghudayyan

Terjemahan dari:

http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=7&PageID=7359&back=true

Seorang Istri Menolak Berjima’ Dengan Suaminya Yang Seorang Pemabuk


Penulis: Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi

Pertanyaan kelima dari fatwa no. 6948

Pertanyaan 5:

Apakah diperbolehkan bagi seorang istri untuk meninggalkan tempat tidurnya dalam ikatan perkawinan dengan suaminya yang seorang pemabuk serta menolak ketika suamunya mengajaknya berjima’, karena dia tidak tahan dengan perilakunya yang suka mabuk-mabukan tersebut? Apakah dia dianggap berdosa karena menolak untuk tidur (jima’) dengan dia dan dilaknat oleh para malaikat sampai pagi seperti yang dinyatakan dalam sebuah hadis?

Jawaban:

Jika kenyataannya adalah seperti yang Anda sebutkan, dia tidak dianggap berdosa. Dia harus menasihati suaminya dan jika dia bertaubat (bertaubat kepada Allah), Alhamdulillaah. Namun, jika ia menolak dan tetap melakukan kemaksiatan ini, ia dapat mengajukan talak (perceraian yang diprakarsai oleh suami) untuk berlepas diri dari kemungkaran tersebut (yang tidak dapat diterima atau ditolak dari oleh hukum Islam dan mayoritas ulama). Jika ia menolak untuk menceraikannya, dia dapat merujuk hal tersebut kepada pengadilan.

Wabillahi taufiq. Ashalatu wassalamu ‘ala nabiyuna Muhammad wa’ala alihi wa shahbihi ajmain.

Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa

Ketua: ` Abdul `Aziz bin Abdullah bin Baz`

Wakil Ketua: ` Abdul Razzaq Afify `

Anggota:

`Abdullah bin Qa` ud

`Abdullah bin Ghudayyan

Terjemahan dari:

http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=7&PageID=7303&back=true