Category Archives: KISAH HIKMAH

KISAH MENAKJUBKAN DALAM TAWAKAL KEPADA ALLAH


✋🏻💥🌺🌹 KISAH MENAKJUBKAN DALAM TAWAKAL KEPADA ALLAH
Hasrat hatinya untuk berhaji di suatu tahun, dalam keadaan tidak memiliki biaya haji.
Hatim Al-Asham (yang tuli) rahimahullah termasuk pembesarnya orang shalih, hatinya berkeinginan untuk haji pada suatu tahun dalam keadaan dia tidak memiliki biaya. Dia tidak boleh safar, bahkan tidak wajib berhaji tanpa meninggalkan nafkah kepada anak-anak yang mereka tidak ridha.
Dan ketika tiba saatnya (berhaji), putrinya melihatnya dalam keadaan sedih dan menangis, putrinya memang anak yang shalih.

Maka ia berkata kepada ayahnya: Apa yang membuatmu bersedih wahai ayahku?

Ayahnya menjawab: Musim haji telah datang.

Putrinya berkata: Kenapa engkau tidak berhaji? 

Ayahnya menjawab: Tidak memiliki biaya.

Putrinya berkata: Allah akan memberi dirimu rezeki.

Sang Ayah berkata: Bagaimana nafkah kalian?

Putrinya menjawab: Allah akan memberikan rezeki kepada kami.

Sang ayah berkata: Akan tetapi urusan ini tergantung ibumu.
Maka sang putri pergi menghadap ibunya untuk mengingatkan ibunya. Dan akhirnya sang ibu dan anak-anaknya yang lain mengatakan kepada sang ayah: Pergilah engkau berhaji, Allah akan memberikan rezeki kepada kami.
Maka iapun meninggalkan nafkah untuk tiga hari, diapun pergi berangkat haji dalam keadaan dia tidak memiliki biaya yang mencukupi.
Adalah dia berjalan di belakang suatu kafilah rombongan. Di awal perjalanan pimpinan kafilah disengat kalajengking, maka mereka mencari orang yang bisa meruqyahnya dan mengobatinya. Maka mereka menemukan Hatim Al-Asham. Maka diapun meruqyahnya dan Allah menyembuhkannya di saat itu.
Maka pimpinan kafilah mengatakan: Biaya berangkat dan pulang (berhaji) saya yang tanggung.
Maka Hatim berkata: Ya Allah ini adalah kemudahan untukku, maka perlihatkanlah kemudahan untuk keluargaku.
Telah berlalu tiga hari, maka habislah nafkah pada anak-anaknya,rasa lapar mulai meliputi mereka. Maka mereka mulai menyalahkan sang putri dan sang putri malah tertawa.
Mereka berkata: Apa yang membuatmu tertawa sementara kelaparan hampir-hampir membunuh kita?

Sang putri berkata: Ayah kita ini yang memberi rezeki atau yang memakan rezeki?

Mereka menjawab: Yang memakan rezeki, sesungguhnya yang memberi rezeki hanya Allah.

Sang putri berkata: Telah pergi yang memakan rezeki dan tetap ada (bersama kita) yang memberi rezeki.

Sang putri terus mengajak mereka bicara.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Mereka berkata: Siapa di pintu? Orang yang mengetuk menjawab: Amirul mukminin meminta minum kepada kalian.

Maka sang putri mengisi penuh gentong airnya, dan khalifahpun minum, kemudian ia mendapatkan kelezatan dalam air tersebut yang belum pernah dia rasakan.

Maka khalifah berkata: Darimana kalian mendapatkan air ini? Mereka menjawab: Dari rumahnya Hatim.

Khalifah berkata: Panggillah dia, aku akan memberinya hadiah.

Mereka menjawab: Hatim sedang berhaji.

Maka amirul mukminin melepaskan sabuk mewahnya yang penuh dengan hiasan permata, lalu ia mengatakan: Sabuk ini untuk mereka.

Kemudian ia berkata kembali: Barang siapa yang menyukai diriku, maka lakukanlah seperti aku! 
Maka seluruh menteri dan para saudagar ikut melepaskan sabuk mewah mereka. Maka terkumpullah sabuk-sabuk mewah lalu dibeli oleh salah seorang pedagang dengan uang emas yang memenuhi rumah yang bisa mencukupi mereka hingga wafat. Lalu sabuk-sabuknya dikembalikan kepada mereka.
Merekapun membeli makanan dalam keadaan tertawa, lalu menangislah sang putri!

Maka sang ibu berkata kepadanya: Kamu ini aneh wahai putriku, dulu ketika kita menangis karena  kelaparan engkau malah tertawa, ketehuilah sekarang Allah memberikan kemudahan kepada kita, mengapa engkau menangis?

Sang putri berkata: Makhluk ini yang tidak mampu memberikan manfaat kepada dirinya tidak pula mencegah mudharat (yakni khalifah) telah memandang kita dengan pandangan kebaikan, yang bisa menyelamatkan kita dari kematian. Terus bagaimana dengan pandangan Rajanya segala raja (yakni Allah Ta’ala)?
Sesungguhnya ini adalah keyakinan kepada Allah. Yakin dengan Dzat yang memberi rezeki, yang maha kuat dan perkasa. Sesungguhnya ini adalah kekuatan iman, kekuatan tawakal kepada Allah.  Maha suci Allah dimana kita dibandingkan mereka?!
Ketika Allah memilihmu untuk menempuh jalan petunjuk-Nya bukan karena engkau istimewa atau karena ketaatanmu. Bahkan itu adalah rahmat dari-Nya yang meliputimu. Terkadang Dia bisa melepaskannya darimu  kapan saja.
Oleh karena itu janganlah engkau tertipu dengan amalanmu, janganlah engkau tertipu dengan ibadahmu, janganlah engkau memandang remeh orang-orang yang tersesat dari jalan-Nya. 
Maka kalau bukan karena rahmat Allah kepadamu niscaya engkau menduduki posisi dia.
Ulangilah lagi membacanya dengan seksama.
Laa ilaaha illallahu
📚 Sumber || https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=137426 

🌏 Kunjungi || http://forumsalafy.net/kisah-menakjubkan-dalam-tawakal-kepada-allah/ 

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia

⏩ Channel Telegram || http://telegram.dog/forumsalafy 

💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Potret Para Wanita Salaf -rahimahallahu-


مجموعــة طريق السلف:

🌸🌷Potret Para Wanita Salaf -rahimahallahu-
☁ Kamu dapati para ulama salaf, anak-anak mereka, hamba-hamba sahaya mereka sama dalam masalah fadhilah (ilmu). 
1⃣: Lihatlah puteri Imam Said bin Musayyib, setelah menikah dan keesokan harinya, suaminya bersiap untuk pergi mendatangi majlis Said bin Musayyib, dia bertanya kepada suaminya, “Mahu pergi ke mana?” Sang suami menjawab, “Ke majlis Said untuk belajar ilmu.” Maka puteri Said bin Musayyib berkata, “Duduklah akan aku ajarkan padamu ilmu Said (bin Musayyib).” 
(Hal itu kerana sang puteri telah lama belajar kepada ayahnya)
2⃣: Disebutkan bahawa puteri Imam Malik bin Anas, ketika dibacakan Muwatho pada ayahnya dan si pembaca salah, menambah atau mengurangi kata, maka dia mengetuk pintu (sebagai tanda ada kesalahan) maka Imam Malik katakan pada si pembaca kamu salah, dan ketika diperiksa, ternyata benar memang ada kesalahan. 
3⃣: Abu Muhamad Syaikh Ibnul Haaj, isterinya membacakan padanya Al-Qur’an hingga khatam hingga dia pun telah menghafalnya. 
4⃣: Demikian pula dengan kedua-dua puterinya, sama seperti ibunya. 
📂 (Al-Madkhol Ibnul Haaj 1/215)

 

☝🏼Mereka adalah panutan para muslimah.
✍🏼 Al-Ustadz Usamah Mahri حفظه الله
📚 ll مجموعة طريق السلف ll 📚

🌐 www.thoriqussalaf.com

🌐 http://telegram.me/thoriqussalaf

HIDUP TAK INGIN DIKENAL


Salafy Solo:

HIDUP TAK INGIN DIKENAL
🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃
📝Al Imam Ibnul Jauzy meriwayatkan sebuah kisah dalam kitabnya yang berjudul ﺒﺤﺭ ﺍﻟﺩﻤﻭﻉ  , berikut kisahnya:
Diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Abi Ibad al-Makki, dia berkata: Seorang syaikh (kakek-kakek) yang dijuluki Abu Abdillah mendatangi kami. Dia berkisah:

🌅 “Pada waktu sahur aku pergi ke sumur Zam Zam. Di tempat ini aku bertemu dengan seorang kakek-kakek yang menutupi wajahnya dengan kain. Dia datang ke sumur, lalu minta diambilkan air. Kemudian aku mengambilkan air untuk kakek tersebut. Aku juga meminum sebagian air dari sisa air tersebut. Ternyata rasa air tersebut seperti air bercampur madu yang aku belum pernah merasakan semanis itu. Ketika aku me-noleh, syaikh tersebut telah pergi.

🌃Pada waktu sahur hari kedua, aku pergi ke sumur Zam Zam lagi. Aku melihat seorang syaikh masuk dari arah pintu masjid dengan menutupkan kain di wajahnya juga. Beliau menuju sumur dan minta diambilkan air. Setelah minum beliau pergi. Lantas ku minum air sisanya, ternyata rasanya lebih manis dari sebelumnya.

🌄Pada malam ketiga, beliau datang lagi ke sumur dan minta air. Sebelum syaikh tersebut datang, aku sudah berniat untuk menangkapnya, lantaran rasa kekaguman ku padanya. Seketika itu juga, ku pegang ujung selimut tebalnya (kain yang menutupi wajahnya). Namun, kakek tersebut malah menangkap tanganku. Beliau meminta kembali untuk diambilkan air dari sumur zamzam tersebut. Setelah ku ambilkan, ku minum sisa dari air tersebut. Air tersebut terasa seperti air susu manis, yang aku belum pernah merasakan minum senikmat itu.

🛡Dengan segera, sebelum kakek tersebut kabur. Aku bertanya kepada kakek tersebut: ‘Demi Pemilik Baitullah ini, sebenarnya siapa anda?’ Sebelum dia menjawab, kakek tersebut bertanya: ‘Sanggupkah kamu mera-hasiakannya?’. Aku menjawab: ‘Ya!’. Barulah kakek tersebut menyebutkan jati dirinya, sembari berkata: ‘Aku Sufyan Ats Tsauri’.”
🌿Subhanallah, sosok ulama besar yang tak ingin terkenal. Sampai-sampai beliau mencari nafkah diwaktu- waktu manusia masih terlelap dalam tidur mereka. Kenapa beliau melakukan hal tersebut?. Jawabannya tidak lain dan tidak bukan ialah, Hanya tidak mau diketahui keberadaannya. 

☘Faedah lain ialah, bahwa manusia-manusia yang senantiasa menjalankan keta’atan2 dan meninggalkan kemaksiatan2, bisa jadi akan menemui dikehidupannya hal-hal yang ajaib.
Wallhu a’lam bishowab
Semoga bermanfa’at. . . 
📚(Faedah dari ustadz Abu Thalhah Yahya pada ta’lim malam)
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

🌾  KASYAF

📤@karyasyababdaarussalaf

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
🌅 WhatsApp Salafy Solo

📮 Channel Telegram || https://telegram.me/salafysolo

╚═══════🔎📚

Kisah Salaf Saat Hari Ied 


KajianIslamTemanggung:

════════════════════
       📫 PERMATA SALAF 📫
════════════════════ 
☝💦🕌💯 TAHUKAH ANDA APA YANG DILAKUKAN SALAF PADA HARI ID ❓ JANGAN LEWATKAN KISAH BERIKUT ❗ 
🗯 Berkata sebagian shahabat Sufyan ats-Tsauri, “Aku pernah keluar bersama Sufyan pada hari Id lantas beliau mengatakan, “Sesungguhnya hal yang pertama kali akan kita lakukan hari ini adalah menjaga pandangan.”
📚 Sumber: at-Tabshiroh karya Ibnul Jauzi 106
__________________
👣 🛣 Suatu ketika Hassan bin Abi Sinan kembali dari shalat Id, maka istrinya bertanya, “Sudah berapa wanita cantik yang engkau lihat?” Ia pun menjawab, “Tidak ada yang aku pandang sejak aku berangkat shalat Id sampai pulang kecuali ibu jariku❗”
📜 Sumber: at-Tabshiroh karya Ibnul Jauzi 106 
::: السّلف وغضّ البصر يوم العيد :::
قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ:

 

خَرَجْتُ مَعَهُ يَوْمَ عِيدٍ، فَقَالَ:
” إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا غَضُّ الْبَصَرِ”
(التبصرة لابن الجوزي، ص: [106]).

 

“وقد رجع حسان بن أبي سنان من عيده فقالت امرأته:

 

كم من امرأة حسناء قد رأيت ؟
فقال :
ما نظرت إلا في إبهامي منذ خرجت إلى أن رجعت !” 
(التبصرة لابن الجوزي، ص: [106]).
•••┈••••○❁🌖❁○••••┈•••
✍🏻WhatsApp

Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ

Bagi-bagi faedah ilmiahnya….ayo segera  bergabung

🌐📲 Join Channel Ⓚ①Ⓣ

https://bit.ly/KajianIslamTemanggung
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

AKHIR TRAGIS SEORANG SYIAH RAFIDHAH PENCELA ABU BAKR DAN UMAR RADHIYALLAHU ANHUMA


💥⚠️⛔️🔥 AKHIR TRAGIS SEORANG SYIAH RAFIDHAH PENCELA ABU BAKR DAN UMAR RADHIYALLAHU ANHUMA

Dahulu ada seorang Syi’ah Rafidhah yang bekerja sebagai penjual tepung gandum, dia memiliki dua ekor bighal (peranakan keledai jantan dan kuda betina -pent) yang keduanya dia namakan Abu Bakr dan Umar, maka pada suatu hari salah satu dari kedua bighal tersebut menendangnya hingga menyebabkan kematiannya.

Berita tersebut didengar oleh Abu Hanifah, maka beliau berkata, “Semoga yang membunuhnya adalah bighal yang dia beri nama Umar.” Maka ternyata memang demikian yang terjadi.

📚 Tarikh Baghdad, jilid 13 hlm. 364

🌍 Sumber || https://twitter.com/fzmhm12121/status/860848840890605569

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎

MATIKAN API SEBELUM TIDUR (Kisah Seekor Tikus Yang Disuruh Setan Untuk Melemparkan Api Ke Hadapan Rasululloh Shalallohu ‘Alaihi Wassalam)


Judul Asli : TIKUS DISURUH SETAN ? Kisah seekor tikus melempar Api dihadapan Ar-Rasul; Matikan Api sebelum tidur

Penulis: al Ustadz Muhammad Rijal, Lc

Tidak jarang kita mendengar berita kebakaran. Satu komplek pasar, perumahan bisa ludes dilalap api. Sebabnya kadang sepele, hanya kompor atau lilin yang lupa dimatikan atau pemanas air listrik yang ditancapkan lalu dibiarkan ditinggal tidur.

Yang seperti ini insyaallah tidak akan terjadi apabila setiap muslim berpegang dengan adab-adab islam yang diajarkan sebelum tidur seperti mematikan api atau yang semakna dengannya.

Sungguh, Islam telah menunjukkan segala perkara yang mendatangkan manfaat dan menolak madarat.

Saudaraku muslim, sejenak kita baca sebuah kisah yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunan, Kitab Adab. Tidak panjang kisah ini namun demikian besar faedah yang bisa kita petik. Insyaallah.

Abu Dawud As-Sijistani meriwayatkan dari guru beliau Sulaiman bin Abdurrahman At-Tammar dari Amr bin Thalhah dari Asbath dari ‘Ikrimah dari Abdullah bin Abbas bin Abdil Muththalib Ra beliau mengisahkan:

جاءت فأرة فأخذت تجر الفتيلة فجاءت بها فألقتها بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم على الخمرة التي كان قاعدا عليها فأحرقت منها مثل موضع الدرهم فقال

Seekor tikus keluar, menarik sumbu (lentera) lalu ia lemparkan sumbu api di depan Rasulullah saw, persis pada tikar yang beliau duduki, api pun sempat membakar tikar seukuran uang dirham. Ketika itu Rasulullah saw bersabda:

إذا نمتم فأطفئوا سرجكم فإن الشيطان يدل مثل هذه على هذا فتحرقكم

Jika kalian hendak tidur, matikanlah lentera-lentera api kalian, sesungguhnya Setan menunjuki tikus untuk melakukan yang seperti ini, hingga api membakar kalian.

Kisah ini juga diriwayatkan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (Al-Ihsan (12/327 no. 5519), demikian pula Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/284.285). Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, seorang Jariyah (anak kecil)  berlari mengejar tikus, Rasulullah bersabda: tinggalkan tikus itu.

Al-Hakim berkata tentang hadits ini: Sanadnya Shahih. Dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

Syaikh Al-albani berkata: Hadits ini sesuai syarat Muslim. (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 3/413).

 

Hadits-Hadits Dalam Masalah ini

Cukup banyak hadits-hadits Rasulullah saw berisi perintah mematikan api dan larangan membiarkannya menyala disaat-saat lalai.

Dari Abu Musa Al-Asy’ari Rasulullah saw pernah bersabda:

إن هذه النار إنما هي عدو لكم، فإذا نمتم فأطفئوها عنكم

Sungguh, api ini musuh bagi kalian, jika kalian tidur matikanlah api dari kalian!

Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari (11/88 no. 6294) dan diriwayatkan pula oleh Imam Muslim (3/1596 no. 2016)

Disebutkan dalam Asbabul Wurud (sebab datangnya) hadist ini, kebakaran menimpa suatu kaum di waktu malam pada masa Rasulullah saw, sampailah berita kepada Rasulullah saw, beliau bersabda sebagaimana hadits diatas.

Shahabat Abdullah bin Umar Ra meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda:

لا تتركوا النار في بيوتكم حين تنامون

“Jangan sekali-kali kalian tinggalkan api (menyala) di rumah-rumah kalian saat kalian tidur.!” Al-Bukhari no. 6293 dan muslim (3/1596 no.2015)

 

Hikmah Perintah Mematikan Api Sebelum Tidur

Tidak diragukan, semua perintah dan larangan syareat mengandung hikmah yang sangat luas dan dalam.

Diantara hikmah perintah mematikan api seperti lilin dan semisalnya saat tidur adalah terjaganya harta dan jiwa. Api yang masih menyala boleh jadi ditarik oleh tikus kemudian dilemparkan di tempat-tempat yang mudah terbakar. Atau tikus menarik bahan-bahan yang mudah terbakar seperti kertas dan kain dia lemparkan pada api yang menyala.

Dan sungguh setan juga memiliki peran dalam kejadian-kejadian tersebut. Sebagaimana dalam sabda beliau:

فإن الشيطان يدل مثل هذه على هذا فتحرقكم

Sesungguhnya setan menunjuki tikus untuk melakukan yang seperti ini, hingga api membakar kalian.

Jika bukan peran tikus dan setan, bisa jadi Api itu sendiri yang membakar tempat ia menyala, seperti alat-alat listrik di zaman ini.

Banyak cerita bisa digali dari kejadian disekitar kita. Penulis sendiri pernah lupa menyalakan seterika di atas karpet, tidak lama kemudian tercium bau tidak sedap, asap karpet terbakar mulai membumbung. Alhamdulilah kita dalam keadaan terjaga, dengan segera seterika dimatikan. Kita tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi seandainya kita dalam keadaan tidur… Allahua’lam, Hanya Allah sajalah yang menyelamatkan jiwa dan harta kita.

Itu beberapa hikmah perintah dimatikannya api sebelum tidur. Namun disini perlu diingatkan: Sebagian hikmah tersebut mungkin diketahui,dan masih banyak hikmah lain yang tidak diketahui. Yang pasti, kewajiban hamba adalah menerima seluruh syareat Allah baik ia mengetahui hikmah dibalik perintah dan larangan atau pun ia tidak mengetahuinya.

Tunduk kepada syareat Allah, inilah hikmah yang paling penting: Iya, syareat Allah adalah ujian apakah seorang hamba menerima dengan lapang hukum Allah atau menolaknya hanya semata-mata akalnya belum menjangkau sebagian hikmah dibalik sebuah syareat.

Dinukil dari: http://salafartikel.wordpress.com/2014/03/18/tikus-disuruh-setan-kisah-seekor-tikus-melempar-api-dihadapan-ar-rasul-matikan-api-sebelum-tidur/

Kisah Isra’ dan Mi’raj


Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib

Banyak penggal kisah Isra’ Mi’raj yang telah terdistorsi. Sebagian ada yang menolak karena sulit dicerna oleh logika manusia. Sebagian lain justru membumbuinya dengan deskripsi dan tafsir yang tidak ada sumbernya sama sekali dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bagaimana kisah sesungguhnya dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj?

Allah l berfirman:
“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (al-Isra: 1)

Asy-Syaikh as-Sa’di t dalam tafsirnya (Taisir al-Karimirrahman, hlm. 453) menerangkan bahwa dalam ayat ini, Allah l menyucikan dan mengagungkan diri-Nya Yang Mahasuci, karena Dia memiliki aktivitas dan kenikmatan yang demikian besar dan mulia. Di antara aktivitas dan kenikmatan itu, Dia memperjalankan hamba dan Rasul-Nya Muhammad  n dari Masjidil Haram di Makkah (Saudi Arabia), yang merupakan masjid paling mulia, menuju ke Masjidil Aqsha di Palestina yang juga sarat dengan berbagai keutamaan dan kemuliaan, di antaranya sebagai tempat (markas) para nabi r.

Beliau diperjalankan dalam satu malam menempuh jarak yang demikian jauhnya dan kembali pada malam itu juga. Dalam rihlah (perjalanan) ‘supercepat’ itu, Allah l memperlihatkan kepada kekasih-Nya Muhammad n sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Sehingga menambah petunjuk, bashirah, keteguhan, dan furqan pada diri beliau.

Semua itu merupakan salah satu bentuk perhatian dan menunjukkan betapa lemah lembutnya Allah l terhadap kekasih-Nya Muhammad n. Allah l memberikan kemudahan kepada Muhammad n dalam setiap urusannya. Mencurahkan berbagai nikmat kepadanya sehingga melebihi orang-orang yang terdahulu maupun yang belakangan.

Secara lahiriah, ayat ini menyatakan beliau di-isra‘kan dari Masjidil Haram. Namun hadits-hadits yang sahih menyebutkan bahwa beliau diberangkatkan dari rumah Ummu Hani’ x. Dengan demikian, keutamaan Masjidil Haram meliputi pula seluruh wilayah al-Haram (Makkah), sehingga pahala ibadah yang dilakukan di tempat ini sama seperti di masjid itu sendiri. Wallahu a’lam.

Adapun perjalanan malam itu terjadi pada diri Nabi Muhammad n dengan ruh dan jasad (fisik)nya, dalam keadaan terjaga dan bukan mimpi. Hal ini menjadi tanda kebesaran Allah l, serta mukjizat bagi diri beliau serta meninggikan kedudukan beliau. Hal ini sebagaimana ditunjukkan ayat di atas.

Di dalam ayat tersebut, juga ayat tentang turunnya Al-Qur’an (al-Furqan: 1), dan ayat tantangan yang Allah l lontarkan ke hadapan orang-orang kafir (al-Baqarah: 23), juga ditegaskan bahwa beliau hanyalah seorang hamba. Kedudukan yang justru sangat mulia ini beliau dapatkan karena Allah l telah menyempurnakannya untuk mengabdikan diri kepada Rabbnya.
Rasulullah n sendiri dalam sebuah riwayat menyatakan:

لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

“Janganlah kamu memujiku secara berlebihan sebagaimana orang-orang Nasrani memuji ‘Isa bin Maryam. Dan  sesungguhnya aku ini seorang hamba, maka katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (Sahih, HR. al-Bukhari)

Ibnu Hajar al-’Asqalani t menerangkan (al-Fath, 1/460) bahwa hadits Isra’ Mi’raj ini diriwayatkan dari beberapa orang sahabat. Namun diisyaratkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, semua periwayatan itu bersumber dari Anas bin Malik z dengan beberapa perbedaan di antara rawi-rawi yang mengambil hadits ini dari beliau. Misalnya, az-Zuhri (Ibnu Syihab) meriwayatkan dari beliau dari Abu Dzar z, Qatadah dari Anas dari Malik bin Sha’sha’ah z, Syarik bin Abi Namr dan Tsabit al-Bunani meriwayatkan dari Anas langsung dari Nabi n tanpa perantara.

Bahkan masing-masing jalan periwayatan itu memuat redaksi hadits yang tidak ada pada jalan yang lain.

Anas bin Malik z menceritakan, “Suatu kali Abu Dzar z menyampaikan sebuah hadits bahwasanya Rasulullah n berkata, ‘Suatu ketika atap tempat tinggalku di Makkah terbuka lalu turunlah Jibril. Dia membelah dadaku dan mencucinya dengan air Zamzam. Kemudian dia membawa sebuah mangkok besar dari emas, penuh dengan hikmah dan iman lalu menumpahkannya ke dalam dadaku. Setelah itu, dia menutupnya kembali.
Lalu dibawakan ke hadapanku seekor Buraq—lebih besar daripada keledai tapi lebih kecil daripada bighal (peranakan kuda dengan keledai) —. Dia (Buraq tersebut) melangkahkan kakinya sejauh mata memandang. Aku mengendarainya hingga tiba di Baitul Maqdis. Kemudian aku menambatkannya di tempat para nabi menambatkan kendaraan mereka. Aku memasuki masjid dan shalat dua raka’at.

Setelah selesai, aku keluar. Tiba-tiba, Jibril datang membawa semangkok susu dan semangkok khamr. Aku memilih susu. Jibril berkata, “Engkau telah memilih fitrah.”

Kemudian dia menarik tanganku dan membawaku naik ke langit dunia. Ketika sampai di langit dunia, Jibril berkata kepada penjaganya, “Bukalah!” Penjaga itu berkata, “Siapa ini?”
“Jibril.”
Penjaga itu bertanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Jibril menjawab, “Muhammad n.” Penjaga itu bertanya lagi, “Apakah dia sudah diutus?”
Kata Jibril, “Ya.”

Setelah pintu itu dibuka, kami naik ke langit dunia dan di sana telah ada seseorang yang sedang duduk. Di sebelah kanan dan kirinya ada bayangan sosok hitam-hitam. Jika menoleh ke kanan, dia tertawa, tapi jika menengok ke kiri, dia menangis. Kemudian dia berkata, “Selamat datang nabi yang saleh dan putra yang saleh.”

Aku bertanya kepada Jibril, “Siapa dia?” Jibril menjawab, “Dia Adam. Adapun yang di sebelah kanan dan kirinya itu adalah ruh anak-anak cucunya. Yang di sebelah kanan adalah ahlul jannah (penduduk surga), sedangkan yang di sebelah kiri adalah penduduk neraka. Kalau dia melihat ke kanan dia tertawa dan bila melihat ke kiri dia menangis.”

Nabi n naik melewati langit demi langit, bertemu dengan sejumlah nabi r. Di langit ke-2, beliau bertemu dengan Nabi Yahya dan ‘Isa, di langit ke-3 dengan Nabi Yusuf, di langit ke-4 dengan Nabi Idris, di langit ke-5 dengan Nabi Harun, dan di langit ke-6 dengan Nabi Musa r.

Di langit ke-7, Nabi n bertemu dengan Nabi Ibrahim q yang bersandar di Baitul Ma’mur yang setiap harinya sekitar 70.000 malaikat memasukinya. Bila mereka keluar darinya, maka tidak akan masuk lagi selamanya. Setelah itu beliau dibawa ke Sidratul Muntaha yang tak satu pun makhluk Allah l dapat menerangkan keindahannya.

Sesampainya di Sidratul Muntaha, Allah l mewahyukan kepada Rasulullah n apa yang Dia kehendaki. Kemudian menetapkan kewajiban shalat lima puluh kali sehari semalam.

Setelah menerima perintah ini, beliau kembali turun. Di langit ke-6, beliau bertemu dengan Nabi Musa q dan bertanya, “Apa yang Allah l perintahkan terhadap umatmu?”

Beliau n mengatakan, “Lima puluh kali shalat.”
Nabi Musa q menyarankan, “Kembalilah, mintalah keringanan! Karena umatmu tidak akan sanggup. Aku sudah pernah menguji Bani Israil.”

Nabi Muhammad n kembali menghadap Allah l dan meminta keringanan hingga beberapa kali. Kemudian Allah l menyatakan, “Wahai Muhammad. Itulah lima shalat fardhu sehari semalam, masing-masing shalat pahalanya sepuluh kali lipat, maka sama dengan lima puluh kali shalat. Siapa yang berniat mengerjakan kebaikan namun tidak mengerjakannya, ditulis untuknya satu kebaikan. Bila dia kerjakan, ditulis untuknya sepuluh kebaikan. Sebaliknya, siapa yang berniat mengerjakan kejelekan dan tidak dikerjakannya, maka tidak dicatat. Bila dia kerjakan maka ditulis satu kejelekan.”

Demikian sekelumit kisah ini. Selengkapnya tentu dapat dirujuk dalam  Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dan memang ada beberapa perbedaan antara satu riwayat dengan riwayat lainnya, ada yang bertambah dan ada yang berkurang, dan sebagainya.

Ibnu Hajar t menyebutkan (Fathul Bari, 1/460) bahwa beliau diberangkatkan (Isra’) dalam keadaan terjaga sebagaimana ditunjukkan oleh lahiriah ayat Al-Qur’an ini. Apalagi orang-orang Quraisy mendustakan beliau ketika pada pagi harinya beliau menyampaikan berita tersebut. Seandainya memang hal itu terjadi dalam mimpi, tentu mereka tidak akan menganggap aneh yang demikian.
Ibnu Hajar t menyebutkan pula hikmah diwajibkannya shalat lima waktu pada malam Isra‘ Mi’raj ini. Beliau berkata, “Ketika itu beliau disucikan lahir batin dengan air Zamzam serta dipenuhi dengan keimanan dan hikmah. Demikian juga dengan urusan shalat, hendaknya didahului dengan bersuci. Maka, sangat sesuai ditetapkannya kewajiban shalat ketika itu. Di samping itu, juga untuk menampakkan kedudukan beliau yang mulia di hadapan para penduduk langit dari kalangan malaikat dan para nabi.”

Hadits Isra‘ Mi’raj ini juga menunjukkan bahwa shalat diwajibkan ketika Rasulullah n masih berada di Makkah.
Dalam hadits Isra’ Mi’raj ini terkandung pula dalil yang menunjukkan bahwa Allah l mempunyai sifat Mahatinggi di atas segenap makhluk-Nya.

Wallahu a’lam.

Dinukil dari: http://asysyariah.com/kisah-isra-dan-miraj/