Tag Archives: ahlul bid’ah

MEWASPADAI “MAKAR” AHLUL AHWA WAL BID’AH


?Berkata al Imam al Barbahariy rahimahullah :

 

“وإذا ظهر لك من إنسانٍ شيءٌ من البدع فاحْذَره، فإن الذي أَخْفَى عنك أكثر مما أظهَر”

 

💥🔰”Apabila nampak bagimu dari seseorang sesuatu dari kebid’ahan, maka berhati-hatilah darinya.

 

⚠Maka sesungguhnya yang tidak nampak atasmu lebih banyak dari pada yang ditampakkan.”

 

📖Syarhus Sunnah

〰〰〰〰

🔸Berkata asy Syaikh al Allamah Rabi’ bin Hadiy al Madkhaliy hafidzahullah :

 

“أهل البدع والأهواء معروفون بالتستر والتَّقِيّة، أهل البدع لا يُظهِرون لك كل شيءٍ من عقائدهم ومناهجهم، فالمبتدع يُعطيك شيئًا فشيئًا، كما قِيل عن أهل البدع إنه لا يُطعِمُك السم من أول جلسة، وإنما يُطعِمُك العسل أولاً، وهكذا حتى إذا أَنِسْتَ إليه دَسَّ سمومه عليك، ولبّس عليك، وأدخَلَك في بدعته. فإذا ظهر لك شيءٌ من البدع عند أحد فخُذ حذرك منه، فإنهم أهل مكر وأهل خِدَاع” .

 

📖 [عون الباري ص 876]

 

⛔”Ahlul bid’ah wal ahwa mereka dikenal dengan menyembunyikan hakikat mereka dan taqiyyah (dusta). Mereka ahlul bid’ah tidak menampakkan kepadamu sedikitpun dari aqidah mereka, tidak pula manhaj mereka.

 

🔥Maka mereka ahlul bid’ah, memberimu sedikit demi sedikit (dari kebid’ahan mereka). 💐Sebagaimana dikatakan tentang ahlul bid’ah, bahwa mereka tidaklah memberimu racun diawal (majelismu dengannya). Tapi mereka memberimu madu terlebih dahulu.

⚠Demikianlah sampai tatkala engkau telah senang dengannya, maka ia akan menghembuskan racun atasmu dan menyamarkan kebid’ahan atasmu dan memasukkanmu ke dalam kebid’ahannya.

 

🔰Maka apabila nampak bagimu dari seseorang dari kebid’ahannya, maka berhati-hatilah darinya.

SESUNGGUHNYA DIA ADALAH AHLI MAKAR, AHLI TIPU DAYA.

 

📕Aunul Barriy (hal. 876)

■◎■◎■◎■

🌠Forum Salafy Purbalingga

Bagaimana Jika Ada Orang Awam Menjadi Pendukung Ahlul Bid’ah?


Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

Pertanyaan :

هذا يقول: إذا كان أحد عَوَام النَّاس يكون واقفًا مع صاحب بدعة، وأُمِرَ بمُجَانَبَتِهم؛ فهل أُفشي عليه السلام؟

Apabila ada seorang awam menjadi pendukung seorang ahli bid’ah, dan sudah diperintahkan untuk menjauhi mereka. Apakah dia diberi salam?

Jawab :

أنتَ تُبَيِّن له أوّلًا أنَّ هذا الرَّجل الذي أنتَ معه صاحب بدعة، وأنَّ بدعته كذا وكذا؛ فلا تُخَالطه، فإنِّي أخاف عليك منه أن يفتنك، فإذا أَبَى فأنتَ تُلْحِقْهُ به كما قال الإمام أحمد – رحمه الله تعالى-.

Pertama kali kamu jelaskan kepadanya bahwa orang yang kamu bersamanya itu adalah ahlul bid’ah. Bid’ahnya adalah ini dan itu, maka kamu jangan bergaul dengannya, aku khawatir dia akan memberikan fitnah padamu.

Kalau dia menolak nasehat tersebut, maka gabungkanlah dia bersama ahlul bid’ah tersebut, sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah ta’ala.

Sumber http://ar.miraath.net/fatwah/8402

Dinukil dari: http://miratsul-anbiya.net/2014/05/13/bagaimana-jika-ada-orang-awam-menjadi-pendukung-ahlul-bidah/

Saya Masih Belajar, Tidak Usah Sibuk Dengan Fitnah!!


Pertanyaan : Sebagian Ikhwah apabila dinasehati untuk tidak berjalan bersama Ahlul Bid’ah dan tidak duduk dengan mereka,  dia menjawab, ‘Aku ini masih (dalam tahap) belajar.’ Bagaimana penjelasan anda?

asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menjawab,

Kami katakan kepadanya : Kalau memang kamu seorang yang belajar, maka kamu jangan berjalan bersama mereka. Kalau kamu seorang yang belajar, dan kamu tahu manhaj salaf, serta kamu tahu bahaya yang bakal muncul dari sikap tersebut, dan juga apabila kamu tahu korban-korban yang telah berjatuhan dari orang-orang semisal kamu yang dulunya juga tertipu (dengan para ahli bid’ah tersebut) seperti kamu ini, Demi Allah jika kamu seperti ini, NISCAYA KAMU TIDAK AKAN BERJALAN BERSAMA MEREKA.

Banyak orang berjalan bersama ahlul bid’ah, dengan alasan bahwa dia bisa memberikan manfaat kepada mereka!! Ya Akhi… mereka (ahlul bid’ah) itu tidak bisa mengambil manfaat dari para ‘ulama, maka bagaimana bisa mereka mengambil manfaat dari kamu??!

Mereka (ahlul bid’ah) itu, telah menolak ucapan Ibnu Baz, al-Albani, Ibnu ‘Utsaimin, dan para imam Islam lainnya, lalu mereka akan menerima dari kamu??!

Ini kurang akal.

Kemudian Sembilan puluh Sembilan persen kemungkinan kamu akan menjadi termasuk pengekor mereka.

Sumber http://rabee.net/show_fatwa.aspx?id=52#top

link di atas sudah tidak aktif.  Berikut revisinya :

http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=29&id=271

bisa juga dicek di http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=128868

Dinukil dari: http://miratsul-anbiya.net/2014/06/03/saya-masih-belajar-tidak-usah-sibuk-dengan-fitnah/

Kenapa Orang yang Duduk dengan Ahlul Bid’ah Lebih Berat Atas Kita?


Ibnu ‘Aun berkata, “Orang yang duduk dengan ahlul bid’ah lebih berat atas kami dibandingkan ahlul bid’ahnya itu sendiri!!” [ al-Ibanah : 486 ]

Pertanyaan : Kenapa orang yang duduk dengan Ahlul Bid’ah lebih berat atas kita?

Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menjawab :

Karena, kalau ahlul bid’ah maka telah terlihat urusan mereka dan jelas kondisi mereka, sehingga umat pun waspada darinya. Namun ini, yang menampakkan bahwa dia seorang sunni, di atas aqidah ahlus sunnah, dan jalan ahlus sunnah, namun dia duduk dengan mereka (ahlul bid’ah), maka dia ini LEBIH BERAT ATAS KITA DIBANDINGKAN MEREKA (ahlul bid’ah itu sendiri). Kenapa?

KARENA YANG TERPERDAYA DAN TERTIPU DENGAN DIA LEBIH BANYAK. DIA AKAN AKAN MENGECOH KEBANYAKAN ORANG, MENGECOH AWAM.

Banyak orang tertipu dengan dia dari dua sisi :

Sisi Pertama, mereka akan duduk dengan ahlul bid’ah, yaitu duduk dengan orang yang mereka lihat bahwa dia duduk dengannya. Mereka akan mengatakan, ‘Kalau seandainya padanya (ahlul bid’ah itu) ada sesuatu, maka si fulan tidak akan duduk dengannya, sementara si fulan itu sunni, kita kenal dengan dia.’ Maka orang-orang pun terjatuh dengan sebab dia.

Sisi Kedua, dia menyeret mereka pelan-pelan dari ahlus sunnah dan dari jalan ahlus sunnah dalam prinsip berpisah dengan ahlul bid’ah. Sampai dia mengajak mereka untuk mendatangi ahlul bid’ah. Karena kalau dia membela, setelah dia duduk dan berteman (dengan ahlul bid’ah), maka dengan demikian jadilah dia sejenis (mencocoki) jalan mereka (ahlul bid’ah).

Maka dia menyeret orang yang tertipu dengannya, yang dulu mengenal dia berada di atas sunnah. Maka orang itu pun terjatuh (kepada bid’ah) dengan sebab dia.

Sumber http://ar.miraath.net/fawaid/4962

Dinukil dari:

http://miratsul-anbiya.net/2014/06/03/kenapa-orang-yang-duduk-dengan-ahlul-bidah-lebih-berat-atas-kita/

Tampakkan Sunnah dan Jangan Diperdebatkan !


Perdebatan yang Tercela

Kaidah kedua dalam beramal dengan sunnah adalah ditampakkannya sunnah tersebut dan jangan diperdebatkan.

Yang dimaksud dengan diperdebatkan di sini adalah debat yang mewarisi kebencian dan dendam. Kebanyakan perdebatan dalam masalah ilmu (agama) itu mengantarkan kepada permusuhan, (semata-mata) berbantahan, riya`, kedengkian, dendam dan berprasangka buruk kepada ‘ulama, mencelanya dan menuduhnya dengan kebathilan dan akibat jelek lainnya dari perkara-perkara yang diharamkan. Dan tidak ragu lagi, bahwa debat ini adalah siksaan (balasan jelek) dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Karena alasan inilah, Rasulullah memperingatkan dari berdebat apabila tidak dengan cara yang lebih baik, sebagaimana beliau telah bersabda:
“Tidaklah suatu kaum menjadi sesat setelah mendapatkan petunjuk yang mereka dulu berada di atasnya, kecuali setelah didatangkan jidal (perdebatan) kepada mereka.” (HR. Ahmad 5/252, 256, At-Tirmidziy no.3250 dan dia berkata: hasan shahih dan Ibnu Majah no.48 dari Abu Umamah)

Banyak sekali ungkapan para imam dalam memperingatkan manusia dari perdebatan dan penjelasan tentang kerusakannya. Hingga Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan: “Perdebatan dalam masalah agama akan menumbuhkan sifat riya`, menghilangkan cahaya ilmu dari hati dan mengeraskannya serta mewariskan dendam.” (Siyar A’laamin Nubalaa` 8/106 dan semisalnya dari Asy-Syafi’iy sebagaimana dalam As-Siyar 10/28)

Berkata sebagian ‘ulama Salaf: “Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap seorang hamba maka akan dibukakan baginya pintu amal dan akan ditutup darinya pintu perdebatan, dan (sebaliknya) apabila Allah menghendaki kejelekan terhadap seorang hamba, maka akan ditutup darinya pintu amal dan akan dibukakan untuknya pintu perdebatan.” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf hal. 86, Ibnu Rajab Al-Hambaliy)

Al-Hasan Al-Bashriy mendengar suatu kaum saling berdebat, maka beliau berkata: “Mereka ini adalah suatu kaum yang sudah bosan akan ibadah dan telah menjadi ringan atas mereka perkataan dan telah sedikit wara’ mereka lalu mereka pun berkata (suka berdebat -pent.).” (Ibid hal.89)

Berkata Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambaliy: “Sungguh telah terfitnah kebanyakan dari kalangan orang-orang belakangan dengan permasalahan ini (perdebatan), lalu mereka menyangka bahwa orang yang banyak pembicaraannya, perdebatannya dan perselisihannya dalam masalah-masalah agama maka dia adalah orang yang lebih tahu daripada orang yang keadaannya tidak demikian, dan ini (sebenarnya) adalah kebodohan yang murni maka bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat dan bukan pula dengan banyaknya ucapan, akan tetapi (ilmu itu adalah) cahaya yang dimasukkan ke dalam hati, yang seorang hamba akan memahami kebenaran dengan ilmu tersebut dan dia akan bisa membedakan dengan ilmu tersebut antara Al-Haq (kebenaran) dengan kebathilan.” (Ibid hal.93-94)

Berkata Al-Imam Abu Bakr Al-Ajurriy setelah memperingatkan dari perbantahan dalam masalah ilmu dan banyak berdebat padanya: “Maka apabila ada orang yang berkata: lalu apa yang akan bisa diperbuat pada ilmu yang telah menjadi samar atasnya?” Dikatakan untuknya: “Apabila keadaannya demikian dan dia menginginkan kemantapan dalam ilmu yang masih samar atasnya (hendaklah dia) menyengaja mendatangi seorang ‘alim dari golongan orang-orang yang mengetahui (dan katakan kepadanya) bahwasanya dia menginginkan dengan ilmunya tersebut (ridha) Allah … lalu dia mempelajarinya sebagaimana orang yang mencari faidah mempelajarinya dan beritahukan kepadanya bahwasanya perdebatanku kepadamu adalah perdebatannya orang yang mencari kebenaran, bukan perdebatannya orang yang ingin pertengkaran, perselisihan dan mencari kemenangan, kemudian ikatlah dirinya dengan sifat keadilan untuknya dalam perdebatannya itu.” (Akhlaaqul ‘Ulamaa` hal.41)

Al-Imam Ibnul Jauziy telah memperingatkan dari talbiis (tipu daya/makar/pengkaburannya) Iblis terhadap ‘ulama dan para penuntut ‘ilmu dalam masalah-masalah perdebatan, lalu beliau berkata: “Sesungguhnya salah seorang di antara mereka telah jelas baginya bahwa kebenaran itu berada pada lawan bicaranya dan dia tidak ruju’ (kembali kepada Al-Haq) dan dadanya menjadi sempit (dengan mengatakan) bagaimana tampak kebenaran itu bersama lawan bicaranya dan kadang-kadang ia bersungguh-sungguh dalam membantahnya bersamaan pengetahuannya bahwasanya (lawannya itu) benar, maka ini adalah dari sejelek-jeleknya kejelekan, karena sesungguhnya perdebatan itu digunakan untuk menerangkan kebenaran, dan sungguh berkata Al-Imam Asy-Syafi’i: “Tidaklah aku mendebat seorangpun, lalu dia mengingkari hujjah kecuali telah terputus dari kedua mataku (artinya aku tinggalkan dia -pent.) dan tidaklah dia menerimanya kecuali karena ketajamannya.” (Talbiisu Ibliis hal. 120) [Lihat Aadaabu Thaalibil ‘Ilm hal.58-60]

Maka kewajiban bagi seorang yang mencari hidayah (petunjuk) untuk menjelaskan sunnah kepada manusia dan menegakkan hujjah-hujjah atasnya, serta menggunakan di jalan tersebut cara-cara yang memuaskan, walaupun tidak diterima darinya (yang penting sunnah tersebut sudah diterangkan dan dijelaskan kepada manusia-pent.). Tidak ada kewajiban bagi seorang rasul, kecuali menyampaikan dengan jelas.

Al-Imam Ahmad berkata: “Kabarkan sunnah dan jangan saling berbantahan di atasnya.” (Thabaqaat Al-Hanaabilah, Ibnu Abi Ya’la 1/236)

Al-Haitsam bin Jamil berkata: “Aku berkata kepada Malik bin Anas: “Wahai Aba ‘Abdillah, seseorang yang berilmu (mengerti) tentang sunnah, bolehkah didebat?” Ia berkata: “Tidak. Akan tetapi hendaknya ia diberitahu tentang sunnah, jika diterima darinya (itulah yang diharapkan -pent.) dan jika tidak, diam saja.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih 2/94)

Semua ini adalah perdebatan yang tercela, yang akan tumbuh darinya sekian kerusakan sampai musnah kemaslahatan dari sisinya.

Perdebatan yang Terpuji

Adapun beradu pendapat (argumen) dengan cara yang baik, yaitu dengan tujuan mencari kebenaran dan tidak terkandung maksud yang akan mengeluarkannya dari tujuan tersebut, maka sangatlah baik hal itu, (yakni) diterangkannya kebenaran, pengarahan kepada jalan yang lurus serta bimbingan kepada tempat-tempat yang benar. (Al-Faqiih wal Mutafaqqih hal.222)

Maka ketika terjadi adu pendapat, berhati-hatilah agar tidak menjadi sebab perpecahan, pertentangan dan permusuhan antara sesama saudara sesama muslim. Dan sedikit sekali suatu perdebatan yang bisa lepas dari akibat yang seperti itu. Kita memohon kepada Allah kesehatan dan keselamatan.
Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i: “Tidaklah aku berbicara kepada seorangpun begitu saja kecuali aku menyukai kalau dia menunjuki aku, meluruskanku dan membantuku dan hal itu merupakan perhatian dan penjagaan dari Allah atasnya dan tidaklah aku berbicara kepada seorangpun begitu saja kecuali saya tidak peduli apakah Allah menjelaskan kebenaran melalui lisanku atau lisannya.” (Al-Faqiih wal Mutafaqqih 2/26 dari Aadaabu Thaalibil ‘Ilm hal.60)

Berkata Yunus Ash-Shafadiy: “Tidak pernah saya melihat seorang yang lebih berakal dari Asy-Syafi’iy. Suatu hari saya mendebatnya dalam suatu masalah, kemudian kami berpisah. Lalu ia menemuiku dan memegang tanganku kemudian berkata: “Wahai Abu Musa, tidakkah salah kita menjadi saudara, walaupun kita tidak sepakat dalam satu masalah?”
Adz-Dzahabiy berkata dalam mengomentari kejadian tersebut: “Saya berkata: Hal ini menunjukkan kesempurnaan akal dan kefaqihan imam ini, yang mana para ahli debat itu (biasanya) senantiasa berselisih.” (Siyar A’laamin Nubalaa` 10/16-17)

Ibnu ‘Abdil Barr mengeluarkan (riwayat): Dari Al-‘Abbas bin ‘Abdil ‘Azhim Al-‘Anbariy, ia berkata: “Pernah aku berada di tempat Al-Imam Ahmad bin Hambal, lalu datang ‘Ali ibnul Madiniy kepadanya dengan mengendarai tunggangannya.” Dia (Al-‘Anbariy) berkata: “Keduanya saling berdebat tentang asy-syahaadah (persaksian). Meninggi suara keduanya, sehingga aku khawatir akan terjadi kekerasan di antara mereka berdua. Al-Imam Ahmad berpendapat, bahwa asy-syahaadah itu ada, sedangkan ‘Ali Ibnul Madiniy menolak dan menentangnya. Maka ketika Ibnul Madiniy hendak pergi, Al-Imam Ahmad bangkit lalu memegang kendaraannya (Ibnul Madiniy).” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih 2/107)

Berkata Syaikhul Islam: “Demikianlah para ‘ulama dari kalangan shahabat, tabi’in dan orang setelah mereka, jika sedang bertentangan dalam suatu masalah, mereka mengikuti perintah Allah subhanahu wa ta’ala: “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya).” (An-Nisaa`:59)

Mereka berdebat dalam suatu masalah secara musyawarah dan saling menasehati yang mungkin saja terjadi perselisihan pendapat dalam suatu masalah ‘ilmiyyah atau ‘amaliyyah, namun mereka tetap menjaga kerukunan, kehormatan dan persaudaraan dalam agama.

Tidak Boleh Menyelisihi Dalil yang Jelas

Memang benar, barangsiapa yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah serta Ijma’ As-Salafush Shalih dengan bentuk penyelisihan yang tidak diberi ‘udzur di dalamnya, maka diperlakukan baginya sebagaimana ahli bid’ah. (Majmu’ Fatawa 24/172)

Yaitu bagi orang yang sudah jelas baginya dalil baik dari Al-Qur`an, As-Sunnah ataupun Ijma’nya ‘ulama ahlus sunnah namun ia menolaknya dikarenakan fanatik atau taqlid (membebek) terhadap madzhabnya atau pendapat gurunya, maka orang ini tidak dimaafkan, tidak boleh dihormati sedikitpun pendapatnya tersebut bahkan kita gabungkan dia dengan kelompok ahlul bid’ah.

Tidak Boleh Fanatik terhadap Madzhab

Dan Syaikhul Islam mencela orang-orang yang fanatik terhadap sunnah ijtihadiyyah yang mereka pegangi dan memusuhi orang yang menyelisihi mereka dalam masalah tersebut. Beliau mengatakan: “Adapun fanatik terhadap permasalahan tersebut dan semisalnya merupakan syi’ar perpecahan dan perselisihan yang kita telah dilarang darinya. Dan orang yang menyeru untuk itu, berarti dia lebih mengunggulkan syi’ar perpecahan di tengah-tengah ummat. Jika tidak, maka masalah-masalah ini termasuk masalah khilaf yang paling ringan, andai syaithan tidak menyeru kepadanya untuk menampakkan syi’ar-syi’ar perpecahan tersebut.” (Majmu’ Fatawa 22/405)

Artinya dalam permasalahan ijtihad fiqhiy yaitu perkara yang tidak nampak padanya sebuah dalil disertai dengan salah satu dari dua perkataan, bahkan kedua ucapan ini memungkinkan (untuk diambil -pent). Yang demikian ini tidak diingkari dalam perkara-perkara ijtihad, selama belum ada sesuatu yang merajihkan, tidak boleh mengingkari orang yang mengambil salah satu dari pendapat yang ada, dengan syarat tidak terdapat padanya sifat ta’ashshub (fanatik) atau hawa nafsu, tapi semata-mata tujuannya adalah kebenaran. (Syarh Masaa`il Al-Jaahiliyyah, Al-Fauzan hal.46). Wallaahu A’lamu bish Shawaab.

Maraji’: Dharuuratul Ihtimaam bis Sunanin Nabawiyyah; Aadaabu Thaalibil ‘Ilmi dan Syarh Masaa`il Al-Jaahiliyyah.

Sumber: Bulletin Al Wala’ Wal Bara’ Edisi ke-19 Tahun ke-2 / 02 April 2004 M / 12 Shafar 1425 H

Dinukil dari: http://fdawj.atspace.org/awwb/th2/19.htm

Menukil Kebenaran Dari Selain Ahlussunnah


Penulis: al Ustadz Hammad Abu Muawiah

Copas (copy-paste) artikel atau link (dari blog lain) dalam dunia bloging sudah merupakan hal yang lumrah dan merupakan salah satu cara para bloger untuk mengisi content blog mereka. Dan sudah diketahui bersama bahwa ketika sebuah blog menukil artikel atau link dari blog lain, maka itu sama sekali tidak menunjukkan kalau kedua blog tersebut mempunyai koneksi atau hubungan atau kerjasama yang lebih khusus. Dan ini insya Allah yang dipahami oleh para bloger dan para pembaca blog. Hal itu karena terkadang seorang bloger menukil artikel dari blog lain dikarenakan dia setuju dengan isi artikel tersebut dan dia tidak bisa menulis sendiri atau dia tidak mempunyai referensi yang lengkap sebagaimana artikel yang akan dia nukil tersebut. Karenanya kita tidak bisa memastikan dua blog atau lebih itu mempunyai hubungan ‘khusus’ hanya berdasarkan salah satunya menukil artikel atau link dari blog yang lainnya.

Ini jika artikel yang dinukil adalah dalam masalah keduniaan, insya Allah bisa dipahami. Hanya saja permasalahan itu muncul jika artikel yang dinukil itu berkenaan dengan agama, dimana sebagian orang yang tidak jelas lagi jahil serta merta menghukumi dua blog atau lebih itu mempunyai koneksi dan hubungan ‘khusus’ hanya karena salah satunya menukil artikel keagamaan dari yang lainnya. Padahal alasan bloger yang menukil dari blog lain biasanya juga sama seperti alasan penukilan artikel keduniaan di atas. Yakni: Karena bloger tersebut memandang isi artikel itu adalah kebenaran dan dia tidak mempunyai waktu untuk menulis seperti itu ataukah dia tidak mempunyai referensi yang dimiliki oleh artikel yang akan dinukil tersebut. Wallahul Musta’an. Dan tentunya, sudah menjadi etika dalam dunia bloging secara umum dan copas secara khusus, bahwa blog yang menukil haruslah menyertakan link asal artikel, sebagai bentuk amanat ilmiah darinya.

Demikian gambaran permasalahannya secara umum. Adapun secara khusus, masalahnya adalah: Ketika sebuah blog ahlussunnah menukil atau copas dari blog selain ahlussunnah, apakah langsung divonis jika kedua blog ini mempunyai koneksi dan hubungan ‘khusus’?

Dari sisi kebiasaan yang berkembang dan ‘kode etik’ dalam dunia bloging sebagaimana yang tersebut di atas, jawabannya saya rasa sudah jelas bahwa: Kita tidak bisa langsung memvonis hal itu hanya karena masalah copas artikel atau penukilan link, dengan alasan yang sudah dijelaskan di atas.

Adapun dari sisi hukum syar’i keagamaan, maka jawabannya sebenarnya juga sudah jelas, yakni boleh menukil ucapan selain ahlussunnah selama itu merupakan kebenaran dan itu tidak menunjukkan ahlussunnah tersebut mentazkiyah (merekomendasi) selain ahlussunnah tersebut. Jadi, sebenarnya hukum masalah ini sudah jelas. Akan tetapi ucapan dan tindakan dari sebagian orang yang tidak jelas yang dibangun di atas ketergesa-gesaan, kejahilan, dan kedengkian, membuat semuanya menjadi tidak jelas. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, “Ilmu itu hanya setitik, akan tetapi dibuat banyak oleh orang-orang yang jahil.”

Karenanya artikel ini sengaja kami buat untuk meluruskan kesalahpahaman dan kejahilan yang terjadi dalam masalah ini, juga sebagai jawaban pertanyaan dari beberapa pertanyaan yang masuk kepada kami mengenai masalah ini, dan sekaligus sebagai panduan bagi para bloger secara umum. Berikut penjabarannya:

Dalil-dalil akan wajibnya menerima kebenaran dan bahwa menerima kebenaran dari siapapun berada merupakan sifat orang-orang yang beriman.

Allah Ta’ala berfirman:

فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata menjelaskan ayat di atas, “Maka siapa saja yang Allah Subhanahu berikan hidayah kepadanya untuk mengambil kebenaran dimanapun kebenaran itu berada dan bersama siapapun kebenaran itu berada -walaupun kebenaran itu bersama dengan orang yang dia benci dan dia musuhi- dan untuk menolak kebatilan bersama siapapun kebatilan tersebut -walaupun kebatilan itu bersama dengan orang yang dia sayangi dan dia tolong-, maka orang seperti inilah yang tergolong ke dalam orang-orang yang diberi hidayah menuju kebenaran dalam setiap masalah yang diperselisihkan. Inilah orang yang paling berilmu, paling benar jalannya, dan paling kuat ucapannya.” (Ash-Shawa’iq Al-Mursalah: 2/516)

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوأَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah : 8 )

Dan di antara bentuk berbuat adil kepada musuh adalah menerima dan menyetujui kebenaran yang ada pada mereka. As-Si’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya menafsirkan ayat di atas, “Sebagaimana kaliam bersaksi menguatkan teman kalian maka kalian juga harus bersaksi melawan teman kalian (jika dia memang salah, pent.). Dan sebagaimana kalian bersaksi melawan musuh kalian maka kalian juga harus bersaksi mendukungnya (jika dia memang benar, pent.). Maka walaupun musuh itu adalah orang kafir atau penganut bid’ah maka tetap wajib berlaku adil kepadanya dan wajib menerima kebenaran yang mereka bawa. Kita terima kebenaran itu bukan karena dia yang mengucapkannya (akan tetapi karena ucapannya itu memang kebenaran, pent.). Dan kebenaran tidak boleh ditolak hanya karena dia (musuh) yang mengucapkannya, karena perbuatan seperti ini adalah kezhaliman terhadap kebenaran.”

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا لَنَا لاَ نُؤْمِنُ بِاللّهِ وَمَا جَاءنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَن يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ

“Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Maidah: 84)

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُوْلَئِكَ هُمْ الْمُتَّقُونَ

“Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 33)

Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata menjelaskan ayat di atas, “Maka wajib atas setiap manusia untuk membenarkan (baca: menerima) kebenaran yang diucapkan oleh orang lain, sebagaimana jika kebenaran itu diucapkan oleh dirinya sendiri. Dia tidak boleh mengimani makna ayat yang dia gunakan berdalil namun dia menolak makna ayat yang digunakan berdalil oleh lawannya. Dia tidak boleh menerima kebenaran hanya dari satu kelompok lalu dia menolak kebenaran dari kelompok lainnya.” (Dar`u At-Ta’arudh Al-Aql wa An-Naql: 8/404)

Dari Qutailah radhiallahu anha -seorang wanita dari Juhainah-, bahwa seorang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata:

أَنَّ يَهُودِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ وَإِنَّكُمْ تُشْرِكُونَ تَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ وَتَقُولُونَ وَالْكَعْبَةِ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادُوا أَنْ يَحْلِفُوا أَنْ يَقُولُوا وَرَبِّ الْكَعْبَةِ وَيَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شِئْتَ

“Sesungguhnya kalian membuat tandingan (untuk Allah) dan sungguh kalian telah berbuat syirik. Kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak kamu’. Dan kalian katakan, ‘Demi Ka’bah’.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat apabila hendak bersumpah untuk mengucapkan, ‘Demi Tuhan Pemilik Ka’bah’, dan mengucapkan, ‘Atas kehendak Allah, kemudian atas kehendak kamu’.” (HR. An-Nasai no. 3713)

Hadits ini jelas menunjukkan bagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam menerima kebenaran yang diucapkan oleh orang-orang Yahudi. Lalu beliau menetapkan hukum berdasarkan kebenaran yang beliau dengar dari Yahudi tersebut. Kebencian beliau kepada orang-orang Yahudi tidak menjadikan beliau menolak kebenaran yang mereka ucapkan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia bercerita:

وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَصَّ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskanku untuk menjaga harta zakat. Lalu pada suatu hari ada seseorang yang menyusup hendak mengambil makanan, maka aku pun menyergapnya seraya berkata, “Aku benar-benar akan menyerahkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam..” lalu ia bercerita dan berkata, “Jika kamu hendak beranjak ke tempat tidur maka bacalah ayat kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan syetan tidak akan mendekatimu hingga pagi.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Ia telah berkata benar padamu, padahal ia adalah pendusta. Si penyusup tadi sebenarnya adalah setan.” (HR. Al-Bukhari no. 4624)

Hadits ini yang paling sering digunakan oleh para ulama untuk berdalil wajibnya menerima kebenaran dari siapapun walaupun dari pihak musuh. Sisi pendalilannya jelas, bagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam membenarkan dan menyetujui ucapan setan yang menganjurkan Abu Hurairah untuk membaca ayat kursi sebelum tidur.

Dan sebaliknya, di antara karakteristik orang-orang kafir adalah menolak kebenaran jika kebenaran tersebut tidak diucapkan oleh golongan mereka.

Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah:
Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ نُؤْمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرونَ بِمَا وَرَاءهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاء اللّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 91)

Allah Ta’ala berfirman:

فَقَدْ كَذَّبُواْ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءهُمْ فَسَوْفَ يَأْتِيهِمْ أَنبَاء مَا كَانُواْ بِهِ يَسْتَهْزِؤُونَ

“Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang haq (Al-Quran) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.” (QS. Al-An’am: 5)

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُل لَّسْتُ عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ

“Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: “Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu.” (QS. Al-An’am: 66)

Allah Ta’ala berfirman:

بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَّرِيجٍ

“Sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.” (QS. Qaf: 5)

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengabarkan bahwa menolak kebenaran, di pihak manapun kebenaran itu berada merupakan tindakan kesombongan yang nyata. Di dalam sabdanya:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain.” (HR. Muslim no. 131)

Menerima kebenaran dari siapapun merupakan fitrah manusia.

Allah Ta’ala berfirman:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

“Dan kami tunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Manusia dilahirkan secara fitrah untuk menerima kebenaran.”

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata dalam Syirkiyat wa ‘Aqa`id Shufiah (1/1), “Maka tidak ada seorangpun di antara kita kecuali Allah telah memberinya fitrah untuk menerima dan mencintai kebenaran.”

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Si’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Karena Allah Ta’ala telah menciptakan hamba-hambaNya dalam keadaan hanif (bertauhid) dan mereka difitrahkan untuk menerima dan lebih mendahulukan kebenaran.”

Karenanya orang yang menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu diucapkan oleh selain ahlussunnah, maka sungguh dia telah melenceng dari fitrahnya yang lurus, wallahul musta’an.

Ucapan para ulama ahlussunnah dalam wajibnya menerima kebenaran dari selain ahlussunnah.

Muadz bin Jabal radhiallahu anhu berkata:

اِقْبَلُوا الْحَقَّ مِنْ كُلِّ مَنْ جَاءَ بِهِ، وَإِنْ كَانَ كَافِراً – أَوْ قَالَ فَاجِراً –

“Terimalah kebenaran dari siapa saja yang membawanya, walaupun dia adalah orang kafir -atau beliau berkata: Orang fasik-.” (Riwayat Al-Baihaqi)

Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, “Dan Allah memerintahkan kita untuk berlaku adil dan lurus. Karenanya, jika ada orang yahudi atau nashrani -apalagi hanya orang syiah rafidhah- yang mengucapkan kebenaran, maka kita tidak boleh meninggalkannya atau menolaknya mentah-mentah. Akan tetapi yang kita tolak hanyalah yang mengandung kebatilan, bukannya yang mengandung kebenaran.” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiah: 2/342)

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata, “Terimalah kebenaran dari setiap orang yang mengucapkannya walaupun dia orang yang kamu benci. Dan tolaklah kebatilan dari siapa saja yang mengucapkannya walaupun dia orang yang kamu sayangi.” (Madarij As-Salikin: 3/522)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafizhahullah berkata dalam sebuah artikel yang berudul Qubul Al-Haq, “Kalian sudah mengetahui -semoga Allah menjaga kalian- bahwa dakwah ahlussunnah tegak di atas kebenaran: Mencari kebenaran, mempelajarinya, menerimanya, berdakwah kepadanya, bersabar menapakinya, dan membuang yang menentangnya.” Beliau juga berkata, “Maka terimalah kebenaran secara mutlak, baik kebenaran itu mendukungmu maupun kebenaran itu menentangmu.” [Artikel selengkapnya bisa dibaca di: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=237449%5D

Harus dibedakan antara menerima kebenaran dengan mencari kebenaran.

Maka harus dibedakan antara menerima kebenaran dengan mencari kebenaran, dan antara menerima ilmu yang benar dengan menuntut ilmu yang benar. Pembedaan ini dari sisi bahwa menerima kebenaran dan ilmu yang benar itu dari siapa saja -walaupun dari selain ahlussunnah- berdasarkan semua dalil yang telah berlalu. Sementara mencari kebenaran dan menuntut ilmu yang benar harus hanya kepada para ulama ahlussunnah, tidak kepada selain mereka.

Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah pernah ditanya dengan nash pertanyaan:

Apakah ucapan berikut ini benar? Dan tolong ditambahkan penjelasan tentangnya, semoga Allah membalas anda dengan kebaikan, amin. Ucapan yang dimaksud adalah: Kebenaran diterima dari siapa saja yang mengucapkannya dan kebatilan ditolak dari siapa saja yang mengucapkannya. Karenanya jika seorang penganut bid’ah -bahkan walaupun itu setan- mengucapkan ucapan yang benar, maka kebenaran ini diterima dan disetujui darinya. Hal ini sebagai pengamalan dari firman Allah Ta’ala:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8)

Akan tetapi tidak boleh mengambil ilmu dan mencari kebenaran dari penganut bid’ah tersebut, sebagaimana yang sudah menjadi manhaj as-salaf ash-shaleh. Akan tetapi kebenaran hanya dicari dari para ulama yang beramal dengan kebenaran tersebut, yaitu para ulama ahlussunnah, bukan selain mereka.

Maka beliau menjawab:
Kaidah ini benar insya Allah. Kebenaran diterima dari siapapun yang membawanya, namun tidak semua orang mengucapkan kebenaran itu menjadi imam dalam kebenaran. Setan yang mengajari Abu Hurairah radhiallahu anhu ayat kursi, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda tentangnya, “Ia telah berkata benar padamu, padahal ia adalah pendusta.” Dan juga sang rahib yahudi yang berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Wahai Abu Al-Qasim, sesungguhnya kami mendapati di dalam Taurat bahwa Allah mengangkat langit-langit di atas satu jari,” sampai akhir hadits. Mendengar hal itu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bertasbih dengan membaca, “Subhanallah, subhanallah,” seraya tertawa hingga nampak geraham beliau karena membenarkan ucapan sang rahib.” (Dhawabith fi Mu’amalah As-Sunni li Al-Bid’i, pertanyaan no. 6)

Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahullahu berkata, “Kebenaran diterima dari siapa saja yang datang membawanya walaupun dia adalah orang kafir. Sebagaimana diterimanya kebenaran dari setan, seperti yang tersebut dalam kisah yang masyhur antara Abu Hurairah bersama setan di dalam peristiwa penjagaan zakat fithri. Dimana setan datang mengambil (baca: hendak mencuri) namun Abu Hurairah menangkapnya. Kemudian dia datang lagi namun ditangkap lagi, kemudian dia datang lagi namun ditangkap lagi. Kemudian setan berkata kepadanya, “Maukah engkau aku tunjukkan sebuah ucapan yang apabila engkau mengucapkannya maka engkau akan menjadi aman atau kamu akan terjaga sepanjang malam? Bacalah ayat kursi setiap malam karena sesungguhnya engkau akan senantiasa pendapatkan penjagaan dari Allah sampai datangnya waktu pagi.” Kemudian Abu Hurairah mengabarkan hal ini kepada Nabi alaihishsholatu wassalam. Lalu Nabi alaihishsholatu wassalam bersabda: “Dia telah jujur padamu padahal dia adalah pendusta.” Beliau menerima pengajaran (setan) ini dan beliau mengambilnya padahal pengajaran ini berasal dari setan.” (Diterjemah dari Masaa`il fi Al-Hajri wa Maa Yata’allaqu Bihi via: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=23982)

Menukil dari selain ahlussunnah bukanlah tazkiah (rekomendasi) terhadap mereka.
Asy-Syaikh Saleh Alu Asy-Syaikh hafizhahullah berkata, ”Dan hal ini termasuk manhaj yang bersifat umum dalam penegakkan hujjah dan penjelasan hujjah dalam semua bab-bab permasalahan agama. Yaitu bahwasanya tidaklah melazimkan seseorang yang menukil dari sebuah buku bahwa itu artinya dia mentazkiyahnya secara mutlak. Seseorang terkadang menukil darinya yang sesuai dengan kebenaran dalam rangka menyokong kebenaran, walaupun dia (penulis buku itu) menyelisihi kebenaran dalam masalah lainnya. Maka tidaklah tercela orang yang menukil dari buku yang mengandung kebenaran dan kebatilan, apabila yang dia nukil adalah bagian mengandung kebenaran. Lagipula, memperbanyak penukilan (sebuah kebenaran, pent.) dari orang-orang bersamaan dengan berbeda-bedanya mazhab dan pemikiran mereka, hal ini menunjukkan bahwa kebenaran (yang dinukil) itu bukanlah hal yang tersembunyi, namun kebenaran tersebut sudah banyak tersebar luas.” (Diterjemah dari Masaa`il fi Al-Hajri wa Maa Yata’allaqu Bihi via: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=23982)
Kami juga pernah bertanya langsung kepada Asy-Syaikh Abdullah Mar’i tentang hukum membaca dan mengambil manfaat dari kitab yang ditulis oleh ulama yang dulunya ahlussunnah lalu belakangan dia menyimpang dari ahlussunnah, sementara kitab tersebut ditulis ketika dia masih berada dalam mazhab ahlussunnah.
Maka beliau hafizhahullah menyatakan bolehnya dengan catatan tetap mengingatkan (jika dia mengajarkan buku itu) bahwa penulisnya sekarang bukan lagi ahlussunnah. Maka ini juga menunjukkan kalau beliau membenarkan mengambil kebenaran yang ditulis oleh selain ahlussunnah.

Insya Allah inilah manhaj yang benar dan sikap yang inshaf serta adil dalam permasalahan ini, yaitu:

a.    Wajib menerima kebenaran walaupun yang mengucapkannya adalah selain ahlussunnah.

b.    Menukil kebenaran dari selain ahlussunnah tidak sama seperti menuntut ilmu dari selain ahlussunnah. Yang pertama dibenarkan dan yang kedua dilarang.

c.    Menukil kebenaran dari selain ahlussunnah bukanlah bentuk dukungan dan rekomendasi terhadap selain ahlussunnah tersebut, akan tetapi ini merupakan penunaian hak dari kebenaran. Dimana hak kebenaran adalah dia harus diterima darimanapun datangnya.

Contoh amalan ulama dalam masalah ini:

Karenanya, kita mendapati para ulama ahlussunnah dari dahulu hingga belakangan, mereka tidak segan-segan untuk menukil ucapan selain ahlussunnah di dalam tulisan atau ucapan mereka, jika ucapan tersebut memang mengandung kebenaran. Berikut di antara contohnya:

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdasi rahimahullah mengumpulkan hal-hal yang baik dari kitab Ihya` Ulum Ad-Din karya Al-Ghazali rahimahullah lalu menyusunnya menjadi kitab Minhaj Al-Qashidin. Dan para ulama menyatakan bahwa Al-Ghazali rahimahullah tidak pernah menulis karya apapun setelah dia bertaubat. Sementara status kitab Al-Ihya` ini saya rasa sudah cukup jelas di kalangan para penuntut ilmu, mengenai banyaknya kekeliruan dan kesalahan yang tersebut di dalamnya, dan kitab itu jelas ditulis oleh Al-Ghazali rahimahullah sebelum dia bertaubat. Maka amalan Ibnu Qudamah ini jelas menunjukkan bolehnya menukil kebenaran dari buku yang ditulis oleh selain ahlissunnah.

Di dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Asy-Syaikh Al-Mubarakfuri, beliau mengutip ucapan dari kitab Husain Haikal, Sayyid Quthub, dan selainnya.

Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah menukil ucapan Sayyid Quthb dan Umar At-Tilmisani dalam Manhaj Al-Anbiya` fi Ad-Da’wah ilalllah hal. 181-186, yang berisi anjuran keduanya kepada para politikus untuk memperhatikan akidah.

Asy-Syaikh Saleh Al-Fauzan hafizhahullah di dalam kitab Al-Ath’imah beberapa kali menukil ucapan Sayyid Quthb dari tafsir Fii Zhilal Al-Qur`an.
Dan masih banyak lagi contoh lainnya, insya Allah akan ditambahkan jika memang dirasa perlu untuk ditambahkan. Akan tetapi insya Allah contoh-contoh ini sudah mencukupi bagi orang yang berakal dan yang inshaf dalam berbuat. Wallahu a’lam bishshawab.

Dinukil dari:

http://al-atsariyyah.com/menukil-kebenaran-dari-selain-ahlussunnah.html#more-3433

Artikel Terkait:

Hukum Menukil Ucapan Ahli Bid’ah

Hukum Berdakwah Bersama Kelompok Menyimpang


Penulis: Al Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Sebagian kaum muslimin menganggap tidak masalah berdakwah bersama kelompok menyimpang, sampai-sampai menjadikan seorang yang menyimpang dari manhaj Salaf sebagai pemateri dalam acara-acara mereka, dengan dalih hal itu termasuk ifadah (memberi manfaat) dan istifadah (mengambil manfaat). Pada kesempatan yang lain, mereka pun menghadiri majelis-majelis yang diadakan oleh kelompok-kelompok yang menyimpang dan ber-ta’awun bersama mereka dalam dakwah.

Seperti apa bimbingan ulama dalam masalah ini, mari kita simak fatwa berikut ini:

س : بناء على قوله تعالى : { وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ } (سورة المائدة الآية 2) ، يقال إنه يجب التعاون مع كل الجماعات الإسلامية ، وإن كانت تختلف بينها في مناهج وطريق دعوتهم ، فإن جماعة التبليغ طريق دعوتها غير طريق الإخوان المسلمين أو حزب التحرير أو جماعة الجهاد أو السلفيين . فما هو الضابط لهذا التعاون ؟ وهل ينحصر مثلا في المشاركة في المؤتمرات والندوات ؟ وماذا عند توجيه الدعوة إلى غير المسلمين ؟ حيث قد يكون هناك التباس كبير لدى المسلمين الجدد ، فإن كل جماعة من هذه الجماعات سوف توجههم إلى مراكزهم وإلى علمائهم ، فيكونون في حيرة من أمرهم . فكيف يمكن تفادي هذه الأمر ؟

ج : الواجب التعاون مع الجماعة التي تسير على منهج الكتاب والسنة وما عليه سلف الأمة في الدعوة إلى توحيد الله سبحانه ، وإخلاص العبادة له ، والتحذير من الشرك والبدع والمعاصي ، ومناصحة الجماعات المخالفة لذلك ، فإن رجعت إلى الصواب فإنه يتعاون معها ، وإن استمرت على المخالفة وجب الابتعاد عنها والتزام الكتاب والسنة ، والتعاون مع الجماعة الملتزمة لمنهج الكتاب والسنة يكون في كل ما فيه خير وبر وتقوى من الندوات والمؤتمرات والدروس والمحاضرات ، وكل ما فيه نفع للإسلام والمسلمين .وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Pertanyaan: “Berangkat dari firman Allah Ta’ala:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan lah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran , dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” (AlMaidah: 2)

Dikatakan bahwa wajib untuk tolong-menolong bersama setiap jama’ah Islamiyah, meskipun berbeda antara satu sama lain dalam manhaj dan metode dakwah mereka. Seperti Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, demikian pula Hizbut Tahrir, Jama’ah Jihad dan Salafiyin. Masing-masing berbeda metode dakwahnya. Jadi, apakah yang menjadi dhabit (ketentuan) dalam ta’awun ini? Apakah terbatas –misalkan- dalam kerja sama pada muktamar dan seminar? Lalu seperti apa mengarahkan dakwah kepada selain kaum muslimin? Karena bisa saja terjadi kebingungan yang besar pada diri orang-orang yang baru masuk Islam, jika setiap jama’ah berusaha mengarahkan mereka ke markas-markas mereka dan ulama-ulama mereka. Akhirnya, jadilah orang-orang yang baru masuk Islam tersebut kebingungan. Bagaimana solusi perkara ini?”

Jawab: “Yang wajib adalah ta’awun dengan jama’ah yang berjalan di atas manhaj Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengikuti Salaful Ummah dalam dakwah kepada tauhidullah, memurnikan ibadah hanya kepada-Nya dan men-tahdzir dari syirik, bid’ah dan maksiat.

Dan hendaklah menasihati jama’ah yang menyimpang. Jika jama’ah tersebut kembali kepada kebenaran, maka hendaklah ber-ta’awun bersamanya. Namun jika jama’ah tersebut tetap dalam penyimpangan maka wajib menjauh darinya dan berpegang dengan Al-Quran dan As-Sunnah.

Ta’awun haruslah bersama jama’ah yang berpegang teguh dengan manhaj Al-Qur’an dan As-Sunnah, dalam setiap kebaikan, kebajikan dan takwa, baik bentuknya seminar, muktamar, pelajaran maupun ceramah, serta segala yang bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin.” [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, (2/41-42)]

Bahaya Bermajelis dengan Kelompok Menyimpang

Hadirnya seseorang di majelis kelompok-kelompok yang menyimpang dari manhaj Salaf juga termasuk bentuk ta’awun kepada mereka dalam menyebarkan kesesatan dan menghancurkan Islam -secara sadar maupun tidak-. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim tersebut sesudah teringat (akan larangan itu).” ( Al-An’am: 68)

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menerangkan, “Dalam ayat ini terkandung nasihat yang agung bagi mereka yang mentolerir duduk bermajelis dengan ahlul bid’ah, yaitu dengan orang-orang yang suka mengubah-ubah perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mempermainkan Kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, serta mengembalikan pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah kepada hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan bid’ah mereka yang rusak. Maka, jika seseorang tidak mampu mengingkari atau mengubah kebid’ahan mereka, paling tidak dia harus meninggalkan majelis mereka, dan tentu ini mudah baginya, tidak susah”.

Kemudian Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan diantara bahaya duduk bersama orang-orang yang menyimpang, “Terkadang orang-orang yang menyimpang tersebut menjadikan kehadiran seseorang bersama mereka (meskipun orang tersebut bersih dari kebid’ahan yang mereka lakukan) sebagai syubhat, dengannya mereka mengaburkan (permasalahan) atas orang-orang awam. Jadi, dalam kehadirannya (di majelis mereka) terdapat tambahan mudharat dari sekedar mendengarkan kemungkaran.” [Lihat Fathul Qodir, 2/185)]

Berikut beberapa atsar yang menunjukkan sikap Salaf dalam bermajelis dengan ahlul bid’ah dari kitab Lamud Durril Mantsur Minal Qoulil Ma’tsur (hal. 36-37) :

“Dua orang dari kalangan pengikut hawa nafsu mendatangi Ibnu Sirin seraya berkata, “Wahai Abu Bakr, bolehkah kami menyampaikan satu hadits kepadamu?” Beliau menjawab, “Tidak”. Keduanya berkata lagi, “Kalau begitu kami bacakan satu ayat Al-Qur’an kepadamu?” Beliau menjawab, “Tidak, kalian pergi dari sini atau saya yang pergi”. Lalu keduanya pun keluar. Sebagian orang berkata, “Wahai Abu Bakr, mengapa engkau tidak mau mereka membacakan ayat Al-Qur’an kepadamu?” Beliau menjawab, “Sungguh aku khawatir mereka bacakan kepadaku satu ayat lalu mereka selewengkan maknanya sehingga tertanam dalam hatiku”.” [HR. Ad Darimy, (1/120/no. 397)]

Sallam rahimahullah berkata, “Seorang pengikut kesesatan berkata kepada Ayyub, “Saya ingin bertanya kepadamu tentang satu kalimat?” Maka Ayyub segera berpaling dan berkata, “Tidak, meski setengah kalimat, meski setengah kalimat”. Beliau mengisyaratkan jarinya.” [HR. Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (2/447 no. 402), Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul Al-I’tiqod (1/143/no. 291), Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah (1/138/no. 101) dan Ad-Darimi dalam Sunan-nya (1/121 no. 398)]

Al-Fudlail bin Iyyadh rahimahullah berkata, “Jauhilah olehmu duduk dengan orang yang dapat merusak hatimu (aqidahmu) dan janganlah engkau duduk bersama pengekor hawa nafsu (ahli bid’ah) karena sungguh saya khawatir kamu terkena murka Allah.” [HR. Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (2/462-463 no. 451-452) dan Al-Lalika’i dalam Syarhul Ushul (262)]

Maka Janganlah kita menolong seorang pelaku kebid’ahan dan orang-orang yang sangat dikhawatirkan darinya suatu kesesatan, yaitu dengan memuliakan orang tersebut sebagai pemateri pada dauroh-dauroh ataupun seminar-seminar yang kita adakan, sehingga dia bisa menghembuskan syubhat-syubhatnya dan menipu manusia seakan mereka layak mempelajari agama ini darinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan lah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran , dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” (AlMaidah: 2)

Al-Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang memuliakan pelaku kebid’ahan maka sungguh dia telah menolongnya untuk menghancurkan Islam.” (Lihat Syarhus Sunnah (hal. 128), karya Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah]

Al-Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama ini.” [HR. Muslim (no. 26)]

Dan telah dimaklumi bahwa bid’ah dalam agama serta mengajak kepada kelompok bid’ah, termasuk sebesar-besarnya kezaliman. Sedang Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

Dan janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka. ( QS . Hud: 113)

“Dikatakan bahwa makna ayat ini umum, mencakup orang-orang kafir maupun orang-orang beriman yang melakukan maksiat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka.” (Al-An’am: 68), telah berlalu penjelasan ayat ini. Pendapat inilah yang benar tentang makna ayat ini (yaitu juga mencakup orang-orang beriman yang melakukan pelanggaran). Jadi, ayat ini menunjukkan wajibnya meninggalkan para pelaku kekafiran dan pelaku maksiat dari kalangan ahlul bid’ah dan selain mereka, karena bersahabat dengan mereka juga termasuk kekafiran atau kemaksiatan, sebab suatu persahabatan tidak terjadi kecuali karena atas dasar cinta. Seorang yang bijaksana telah berkata:

عَنِ الْمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ, وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ, فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْمُقَارِنِ يَقْتَدِيْ

“Tentang seseorang tidak usah engkau tanyakan, namun tanyakanlah siapa temannya, karena setiap orang menyerupai temannya”.” [Lihat Tafsir al-Qurthubi, (9/112)]

Wallahu A’la wa A’lam.

(Dialihtuliskan untuk umum dari artikel khusus kami di http://www.almakassari.com)

Abu Rifqah says:

Assalamu alaikum,
Jazakallah khoir atas artikelnya ustadz. Bagaimana dengan mesjid di tempat ana. Pengurus mesjid adalah campuran dari berbagai mazhab dan golongan, dan sering melakukan pengajian gabungan untuk masyarakat di sana. Apakah ana tidak boleh hadir dalam pengajian tersebut bersama mereka ? Sampai batas mana kita membatasi pergaulan dengan mereka? Mohon nasehatnya ustadz.
Barakallahu fiik.

Wa’alaykumussalam, wa jazaakumullahu khairon.

1. Jika pemateri pengajian yang diadakan masjid Antum berasal dari selain Ahlus Sunnah atau seorang yang dikhawatirkan kesesatan darinya maka hendaklah Antum menjauhi pengajian tersebut karena tiga hal yang sangat berbahaya:

Pertama: Hadirnya Antum bisa jadi bentuk pertolongan kepada kebatilan.
Kedua: Bisa menjadi syubhat bagi orang awam yang melihat kehadiran Antum, sehingga mereka berprasangka baik kepada penyebar kesesatan.
Ketiga: Bahaya terpengaruh syubhatnya, Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Salaf memandang hati itu lemah sedang syubhat menyambar-nyambar”.

Dan hendaklah Antum berusaha agar pematerinya dari kalangan Ahlus Sunnah saja, sehingga pengurus dan jama’ah masjid bisa diarahkan kepada manhaj yang haq.

2. Batas pergaulan dengan orang-orang menyimpang disesuaikan dengan kadar penyimpangannya dan tidak boleh menjadikan mereka sebagai teman-teman akrab. Bersamaan dengan itu, kita pun berusaha berdakwah kepada mereka sesuai dengan kemampuan kita dan bermuamalah dengan mereka dengan akhlaq seorang Ahlus Sunnah pengikut As-Salafus Shalih.

Semoga bermanfaat, baarokallahu fiyk.

Dinukil dari: http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/16/hukum-berdakwah-bersama-kelompok-menyimpang/#more-256