Tag Archives: anak

KERUSAKAN YANG TIMBUL PADA ANAK BERSUMBER DARI ORANG TUANYA


Salafy Indonesia:

⚠💥🔥‼ KERUSAKAN YANG TIMBUL PADA ANAK BERSUMBER DARI ORANG TUANYA
✍🏻 Al-Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
وكم ممَّن أشقى وَلَدَه وفلذةَ كبده في الدنيا والآخرة
Betapa banyak orang tua yang menjadi penyebab sengsaranya sang anak dan buah hatinya didunia dan diakhirat.
بإهماله وتركِ تأديبه , وإعانته له على شهواته
Dengan cara sang orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan adab terhadap anaknya.

Atau membantu sang anak untuk sebebas-bebasnya memenuhi syahwatnya
 ويزعم أنه يُكرمه وقد أهانه , وأنه يرحمه وقد ظَلَمَه وحرمه،
Dengan anggapan yang demikian itu adalah bentuk memuliakan dan kasih sayang terhadap anak, padahal justru tindakan dia ini adalah kezhaliman terhadap anak dan merupakan keharaman
ففَاتَهُ انتفاعُه بولده، وفوَّت عليه حظَّه في الدنيا والآخرة
Dia juga (Orang tua) dengan tindakannya tersebut telah menyebabkan dia terluputkan dari mendapat kemanfaatan dari si anak di dunia dan akhirat.
وإذا اعتبرتَ الفسادَ في الأولاد رأيتَ عامَّتَه من قِبَل الآباء
Dan jika anda mau mencermati sungguh mayoritas kerusakan yang ada pada anak itu bersumber dari orang tuanya.
[Kitab Tuhfatul Maudud 242]
📚 Sumber || http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=41817
⚪ WhatsApp Salafy Indonesia

⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy
💎💎💎💎💎💎💎💎💎

JIKA INGIN MEMILIKI ANAK-ANAK YANG BERBAKTI


Salafy Indonesia:

💐🌹🌻🌷 JIKA INGIN MEMILIKI ANAK-ANAK YANG BERBAKTI
✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:
إنّ من المعتاد المُجرَّب أنّ الإنسان إذا بَرَّ والديه وُفِقَ لِبرِّ أولاده به.
“Sesungguhnya termasuk kebiasaan yang telah terbukti berdasarkan pengalaman bahwasanya siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya maka dia akan mendapatkan bakti dari anak-anaknya.”
🌍 Sumber || https://twitter.com/aljuned77/status/771546845151506433
⚪ WhatsApp Salafy Indonesia

⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy
💎💎💎💎💎💎💎💎

Keutamaan Mengasuh Anak Wanita


Penulis: Al Ustadz Abu Muawiah

Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Saya pernah dikunjungi oleh seorang wanita yang mempunyai dua orang anak perempuan. Kemudian wanita tersebut meminta makanan kepada saya. Sayangnya, pada saat itu, saya sedang tidak mempunyai makanan kecuali sebiji kurma yang langsung saya berikan kepadanya. Kemudian wanita itu menerimanya dengan senang hati dan membagikannya kepada dua orang anak perempuannya tanpa sedikitpun dia makan. Setelah itu, wanita tersebut bersama dua orang anak perempuannya pergi. Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam rumah. Lalu saya menceritakan kepada beliau tentang wanita dan kedua anak perempuannya itu. Mendengar cerita saya ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ ابْتُلِيَ مِنْ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنْ النَّارِ
“Barangsiapa yang diuji dengan memiliki anak-anak perempuan, lalu dia dapat mengasuh mereka dengan baik, maka anak perempuannya itu akan menjadi penghalangnya baginya dari api neraka kelak.” (HR. Al-Bukhari no. 1329 dan Muslim no. 2629)

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
“Barangsiapa yang mengasuh dua orang anak perempuannya hingga dewasa, maka dia dan aku akan datang bersamaan pada hari kiamat kelak.” Beliau jari-jemarinya.” (HR. Muslim no. 2631)

Penjelasan ringkas:
Anak wanita adalah insan yang lemah, dia tidak diciptakan untuk bisa berdiri sendiri, karenanya biasanya dia membutuhkan seseorang yang bisa mengasuhnya. Tatkala orang-orang di masa jahiliah sudah menjadi adat mereka merendahkan dan menghinakan kaum wanita, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang dengan memberikan motifasi dan janji pahala yang besar kepada siapa saja yang mendidik mereka, memuliakan mereka, serta berbuat baik kepada mereka.

Kedua hadits di atas menunjukkan besarnya keutamaan orang yang mempunyai anak wanita lalu dia mendidik dan mengasuh mereka dengan baik. Nabi shallallahu alaihi wasallam menjamin kedekatan orang itu dengan diri beliau dan beliau mengabarkan bahwa anak-anak perempuan tersebut bisa menjadi syafaat bagi mereka yang akan melindungi mereka dari api neraka.

Hanya saja butuh diingat bahwa keutamaan terlindung dari api neraka ini hanya berlaku bagi yang mempunyai anak wanita kemudian dia mengasuh dengan baik serta mendidik mereka dengan pendidikan yang islami. Adapun bagi yang mempunyai anak wanita tapi dia tidak memperdulikan pengasuhan dan pendidikan mereka maka dia tidak mendapatkan janji pahala di atas. Syafaat ini juga hanya didapatkan oleh orang yang muslim, karena sudah dimaklumi bersama bahwa orang kafir atau yang berbuat kesyirikan tidak berhak mendapatkan syafaat sama sekali.

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/quote-of-the-day/keutamaan-mengasuh-anak-wanita.html

Wajibnya Berbuat Adil di Antara Semua Anak


Penulis: Al Ustadz Abu Muawiah

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiallahu anhuma dia berkata:

تَصَدَّقَ عَلَيَّ أَبِي بِبَعْضِ مَالِهِ فَقَالَتْ أُمِّي عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقَ أَبِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِي فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَعَلْتَ هَذَا بِوَلَدِكَ كُلِّهِمْ قَالَ لَا قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا فِي أَوْلَادِكُمْ فَرَجَعَ أَبِي فَرَدَّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ
“Ayahku pernah memberikan sebagian hartanya kepadaku, lantas ibuku yang bernama ‘Amrah bintu Rawahah berkata, “Saya tidak akan rela akan hal ini sampai kamu meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai saksinya.” Maka ayahku pergi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta beliau menjadi saksi atas pemberian tersebut, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Apakah kamu berbuat demikian kepada semua anak-anakmu?” dia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah di antara anak-anakmu.” Kemudian ayahku pulang dan meminta kembali pemberiannya kepadaku.” (HR. Al-Bukhari no. 2650 dan Muslim no. 1623)

Dalam riwayat lain:

إِنِّي لاَ أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ
“Sesungguhnya saya tidak mau menjadi saksi atas kecurangan.”

Dalam riwayat lain:

قَالَ: أَيَسُرُّكَ أَنْ يَكُوْنُوا إِلَيْكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟قَالَ: بَلَى، قَالَ: فَلاَ إِذاً
“Beliau bersabda, “Apakah kamu senang kalau mereka semua berbuat baik kepadamu?” dia menjawab, “Ia,” maka beliau bersabda, “Kalau begitu kamu jangan melakukan hal itu (tidak adil dalam hadiah).”

Penjelasan ringkas:
Keadilan merupakan hal yang dituntut dalam syariat Islam, bagaimana tidak sementara semua perintah Allah dibangun di atas keadilan dan Allah Ta’ala juga mengabarkan bahwa keadilan merupakan wasilah menuju ketakwaan dalam firman-Nya, “Berbuat adillah kalian, karena perbuatan adil itu lebih dekat kepada ketakwaan.”

Terkhusus dalam pendidikan anak, keadilan merupakan hal yang darurat dan wajib ada. Karena keadilan di antara mereka adalah di antara sebab mereka saling menyayangi, dan sebaliknya ketidakadilan di antara mereka merupakan sebab terbesar lahirnya kebencian, permusuhan, serta hasad di antara mereka. Dan tidak diragukan bahwa ketiga kejelekan ini bisa mengantarkan kepada terjadinya kemungkaran yang besar di muka bumi sebagaimana yang nampak dari kisah pembunuhan anak adam pertama di muka bumi ini. Bahkan ketidakadilan di antara anak-anak juga bisa membuat anak-anak yang merasa di ‘anak tiri’ kan tersebut justru akan membenci orang tuanya. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam mengingatkan, kalau kita ingin semua anak kita berbuat baik kepada kita maka kita juga harus berbuat baik kepada mereka semua secara merata.

Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak mau menjadi saksi atas semua perbuatan ketidakadilan, sampai pada masalah ketidakadilan dalam pemberian hadiah di antara anak-anak, bahkan beliau shallallahu alaihi wasallam menamakan hal itu (ketidakadilan di antara anak-anak) sebagai kecurangan. Tatkala perbuatan curang diharamkan dalam syariat Islam, maka sudah barang tentu ketidakadilan dalam memberikan hadiah di antara anak-anak juga merupakan amalan yang diharamkan. Karenanya para ulama as-salaf senantiasa berusaha untuk menyamaratakan pemberian kepada anak-anak mereka sampai dalam masalah kecupan/ciuman, demikian yang disebutkan oleh Ibnu Al-Qayyim dalam Tuhfah Al-Maudud.

Setelah hal ini dipahami, masih tersisa satu masalah besar, yaitu: Kapan pemberian kepada anak-anak dianggap adil? Keadilan adalah semua yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, karena Dia tidak pernah memerintahkan kecuali dengan keadilan. Karenanya, semua yang dirinci pembagiannya oleh syariat Islam maka itulah yang merupakan keadilan yang hakiki, bukan apa yang dianggap oleh akal manusia. Karenanya tatkala Islam menetapkan dalam masalah warisan bahwa anak lelaki mendapat 2 kali lipat dari bagian anak wanita, maka inilah keadilan yang sebenarnya. Membagi warisan selain dengan apa yang Allah tetapkan merupakan kezhaliman yang besar.

Akan tetapi jika Islam tidak merinci jumlah pemberian kepada anak-anak, maka dalam hal ini ukuran keadilan dikembalikan kepada keadaan orang tua dan anak-anak itu sendiri, selama hal tersebut tidak melanggar aturan syariat lainnya. Orang tua yang kaya tentu berbeda pemberiannya dengan orang tua yang miskin. Anak yang sudah menikah tentu berbeda jumlah pemberian kepada mereka dengan anak yang belum menikah. Demikian pula pemberian yang diberikan kepada anak yang sudah sekolah tentu berbeda dengan anak yang belum sekolah, dan demikian seterusnya.

Contoh:
Ada tiga orang anak, yang pertama sudah menikah dan punya pekerjaan, yang kedua sudah menikah dan belum punya pekerjaan, dan yang ketiga belum menikah bahkan mungkin masih kecil. Ketiga sang ayah memberikan uang untuk modal usaha kepada anak keduanya, apakah dia juga wajib memberikan uang (walaupun besarnya tidak sama) kepada anak yang ketiga? Tentu saja tidak karena dia belum membutuhkannya. Akan tetapi si ayah harus berniat, jika suatu saat anak ketiganya membutuhkan modal maka dia juga akan memberikan sesuai dengan yang dia butuhkan.

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/quote-of-the-day/wajibnya-berbuat-adil-di-antara-semua-anak.html#more-2214

Anak di Ma’had yang Sesat


Penulis: Abu Muawiah

Tanya:
Apa hukum memasukkan anak ke ma’had (tempat belajar) yang nampak darinya kesesatan, dan apakah boleh bagi sang ayah untuk mengeluarkannya?

Abu Habibah (081355??????)

Jawab:
Jika ma’had tersebut, nampak darinya bid’ah dan kesesatan, maka tidak boleh bagi siapapun untuk memasukkan anaknya ke ma’had ini atau ke tempat-tempat lain yang terdapat kerusakan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian dari api neraka”.

Maka engkau diperintahkan untuk menjauhkan keluargamu dari api neraka dan dari semua sebab yang bisa mengantarkan kepada neraka. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya”.

[Dijawab oleh Asy-Syaikh Jamil Ash-Shilwi -hafizhahullah-, pengajar di Ma’had Darul Hadits Dammaj]

Tanya:

Ustadz, masalahnya di Jakarta (dan beberapa kota lain) belum ada sekolah salafy (setingkat SD-SMA). Dan maklum bahwa sekolah umum dan Islam yang ada di negeri ini jarang (mungkin tidak ada) yang tidak ada kemaksiatan, kesesatan, dan kebid’ahannya. Maka ikhwah yang telah memiliki anak usia SD-SMA pun kesulitan utk menyekolahkan anak2 mereka ke sekolah yang baik.

Abu Maulid (http://www.antosalafy.wordpress.com/)

Jawab:

Kami hanya bisa mengatakan: Ilallahil musytaka (hanya kepada Allah tempat mengadu). Hal itu termasuk dari musibah dan kejelekan zaman ini. Hanya saja -alhamdulillah-, ikhwan salafiyin kini sudah satu persatu mulai membuka sekolahan yang insya Allah lepas dari semua itu, baik yang berdiri sendiri maupun yang berada di bawah naungan Depag dan Depdiknas. Antum bisa cari tahu di situs salafiyin lainnya mengenai tempat-tempatnya.
Dan ini juga mungkin bisa sebagai bahan pemikiran: Kenapa kita (salafiyin) tidak bahu membahu dan bekerja sama membangun sebuah sekolah Islami di Jabotabek -misalnya-? Kalau orang-orang selain salafiyin bisa, kenapa kita tidak?!

Ala kulli hal. Allah Ta’ala telah berfirman, “Bertakwalah kalian sesuai dengan kemampuan kalian,” tapi Dia juga berfirman, “Tidak boleh bagi seorang mukmin dan tidak pula mukminah, kalau Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, dia memiliki pilihan lain dalam perkaranya. Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya dia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.”

Maka sepanjang kita masih mempunyai kemampuan maka kita tidak boleh lemah dan bergampangan dalam menjalankan syariat, kecuali kalau dia betuk-betul tidak sanggup melaksanakannya. Dan hanya Allah kemudian kita sendiri yang mengetahui seberapa maksimal kemampuan yang kita miliki.

Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Bersemangatlah dalam mendapatkan apa yang bermanfaat bagi kamu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan sekali-kali kamu merasa lemah.” Wallahu a’lam.

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/?p=477

Anak Tanggung Jawab Ayah


Penulis: Abu Muawiah

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

Para ulama menyatakan: ‘Diri-diri kalian,’ yakni: Anak-anak kalian, karena anak itu merupakan bagian dari diri ayahnya. Dan ‘keluarga-keluarga kalian,’ yakni: Istri-istri kalian.
Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ
“Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian tidak lain kecuali ujian.” (QS. At-Taghabun: 15)

Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 844 dan Muslim no. 1829)

Dari Ma’qil bin Yasar radhiallahu anhu dia berkata: Sesunguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Tidak ada seorang hambapun yang Allah berikan kepadanya beban untuk memimpin, lalu dia mati dalam keadaan menipu orang-orang yang dia pimpin, kecuali Allah akan mengharamkan surga atasnya.” (HR. Muslim no. 142)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat baginya, dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Penjelasan ringkas:
Anak-anak, pendidikannya, serta pengurusannya adalah amanah yang Allah berikan kepada para ayah, karenanya para ayah adalah pimpinan mereka dan penanggung jawab atas keadaan mereka. Wajib atas para ayah untuk menasehati anak-anak mereka dengan kebaikan dan menjadikan pendidikan serta perbaikan mereka merupakan pekerjaan dan urusannya yang paling utama dan paling penting. Tidak boleh bagi seorang ayah untuk hanya memenuhi semua kebutuhan jasad dari anaknya berupa makanan dan pakaian lalu setelah itu dia menganggap kewajibannya hanya itu kemudian menyibukkan dirinya sendiri dengan pekerjaan dunianya dan tidak mengurusi kebutuhan ruhani dari anak-anaknya. Karena barangsiapa yang mengerjakan hal tersebut niscaya dia akan menyesal pada akhirnya, baik di dunia ketika dia sudah tua dan anak-anaknya juga tidak mau mengurusinya, terlebih lagi di akhirat ketika dia dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang telah dibebankan kepadanya tersebut.

Memenuhi kebutuhan ruhani anak-anak -berupa keimanan dan amal saleh- jauh lebih penting daripada memenuhi kebutuhan jasadnya. Karenanya Allah Ta’ala dalam Al-Qur`an tidak pernah memerintahkan para ayah untuk melindungi anaknya dari panasnya terik matahari atau dari panasnya rasa lapar, akan tetapi justru Allah memerintahkan mereka untuk melindungi anak-anak mereka dari api neraka. Sudah dipastikan bahwa setiap ayah tentu sangat menyayangi dan mencintai anak-anaknya dan tidak akan tega membiarkan anak-anaknya tidak makan atau tidak berpakaian, maka apakah dia tega jika anaknya dijadikan sebagai bahan bakar neraka atau berpakaian dengan pakaian dari api neraka?!

Karenanya Allah Ta’ala mengingatkan bahwa kecintaan kepada anak-anak jangan sampai membuat mereka mencelakai anak-anak mereka sendiri, karena anak-anak itu hanya merupakan ujian bagi mereka. Dengan alasan kasih sayang, dia tidak mau menyuruh anaknya shalat padahal dia sudah berumur 7 tahun, tidak mau memukulnya jika tidak mau shalat padahal anaknya sudah berumur 10 tahun. Tidak mengajari dan menyuruhnya berpuasa padahal puasa sudah wajib atasnya hanya karena alasan kasihan melihatnya kelaparan. Memenuhi semua apa yang anaknya dengan alasan kasih sayang, walaupun permintaan si anak bisa mencelakai anak itu sendiri baik mencelakai jasadnya maupun mencelakai imannya. Intinya, Allah Ta’ala memerintahkan para ayah untuk mencintai dan menyayangi anak-anaknya akan tetapi tetap dalam aturan syariat dan tidak berlebihan dalam memanjakannya hingga menelantarkan pengajaran keagamaan anak-anaknya.

Hendaknya para ayah mengingat bahwa sikap keras -sesekali- kepada anak dan gemblengan keagamaan yang benar kepada mereka -walaupun merupakan amalan yang berat dan melelahkan- akan tetapi amalan ini termasuk dari penentu nasibnya di akhirat kelak. Jika dia berhasil maka dia akan bisa menjawab pertanyaan Allah kepadanya tentang tanggung jawabnya, dan dia senantiasa mendapatkan limpahan pahala dan keutamaan sampai walaupun dia telah meninggal, karena adanya doa dan amal saleh dari anak-anaknya. Tapi sebaliknya jika dia gagal dalam amalan ini karena keteledoran dia atau sikap acuh tak acuh dia terhadap pendidikan keagamaan anaknya, maka dia akan menyesal pada hari kiamat tatkala dia tidak bisa menjawab pertanyaan Allah terhadapnya yang akan menyebabkan dia diharamkan untuk masuk ke dalam surga, wal ‘iyadzu billah. Adapun jika dia telah berusaha memenuhi kewajibannya sebagai seorang ayah dalam memenuhi pendidikan keagamaan anaknya akan tetapi Allah dengan takdir-Nya yang penuh hikmah menetapkan anaknya tidak menjadi anak yang saleh, maka insya Allah dia tidak akan dituntut pada hari kiamat karena dia telah menunaikan amanah yang dibebankan kepadanya.

Bukan yang dimaksudkan dengan memenuhi kebutuhan keagamaan anak di sini adalah dengan sekedar memasukkannya ke ponpes atau pondok tahfizh atau SDIT sejak usia dini lalu setelah itu dia berlepas tangan dan tidak mau tahu pokoknya anaknya harus bias ngaji harus hafal Al-Qur`an dan hadits, dan seterusnya dari target-target yang mulia tapi tidak diiringi dengan keseriusan sang ayah dalam mendidiknya kecuali keseriusan dia dalam membayarkan kewajibannya kepada sekolah. Yang dia ketahui hanya wajib membayar SPP setiap bulan lalu menyerahkan sisanya kepada para guru dan penanggung jawab di sekolah. Tentunya bukan tanggung jawab seperti ini yang kami maksudkan, karena bagaimanapun juga peran orang tua di rumah jauh lebih mempengaruhi keadaan sang anak daripada pendidikan para guru. Wallahul musta’an.

Terakhir, sebagai langkah awal bagi setiap ayah dalam memperbaiki keadaan keagamaan anak-anaknya adalah memperbaiki keadaan keagamaan diri sendiri baik sebelum maupun setelah dia menikah, serta wajib atasnya untuk memilih istri yang salehah karena ‘buah biasanya tidak jatuh jauh dari pohonnya’. Wallahul muwaffiq.

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/?p=2192

Pelajaran Lain Tentang Anak


Dari Abdullah bin Amir radhiallahu anhu dia berkata:

دَعَتْنِي أُمِّي يَوْمًا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ فِي بَيْتِنَا فَقَالَتْ: هَا تَعَالَ أُعْطِيكَ! فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَمَا أَرَدْتِ أَنْ تُعْطِيهِ؟ قَالَتْ: أُعْطِيهِ تَمْرًا. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِهِ شَيْئًا كُتِبَتْ عَلَيْكِ كِذْبَةٌ

“Suatu hari ibuku memanggilku, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah duduk di dalam rumah kami. Ibuku berkata, “Ayo kesini, aku akan memberikan sesuatu kepadamu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang akan engkau berikan kepadanya?” Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya kurma.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Ketahuilah, seandainya kamu tidak memberikan sesuatu kepadanya, maka itu akan ditulis sebagai satu kedustaan atasmu.” (HR. Abu Daud no. 4991 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 478)

Allah Ta’ala berfirman tentang saudara-saudara Nabi Yusuf alaihissalam bahwa mereka berkata:
أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Izinkanlah dia (Yusuf) ikut bersama kami besok, agar dia bias bersenang-senang dan bermain-main, karena kami pasti akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12)

Aisyah radhiallahu anha berkata:

وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ عَلَى بَابِ حُجْرَتِي وَالْحَبَشَةُ يَلْعَبُونَ بِحِرَابِهِمْ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتُرُنِي بِرِدَائِهِ لِكَيْ أَنْظُرَ إِلَى لَعِبِهِمْ ثُمَّ يَقُومُ مِنْ أَجْلِي حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّتِي أَنْصَرِفُ. فَاقْدِرُوا قَدْرَ الْجَارِيَةِ الْحَدِيثَةِ السِّنِّ حَرِيصَةً عَلَى اللَّهْوِ
“Demi Allah, saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di pintu kamarku, sementara orang-orang Habasyah sedang bermain tombak di dalam masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menutupiku dengan kainnya agar aku dapat melihat permainan mereka. Kemudian beliau berdiri (agar aku lebih leluasa melihat), sampai saya sendiri yang berhenti (setelah bosan) melihatnya. Karena itu, berilah keleluasaan kepada anak-anak wanita untuk bermain.” (HR. Al-Bukhari no. 549 dan Muslim no. 1481)

Penjelasan ringkas:

Di antara metode pendidikan anak yang paling jitu adalah metode pendidikan dengan menjadi contoh dalam setiap perkara yang akan diajarkan kepada anak-anak. Karenanya jika kita menghendaki anak menjadi anak yang jujur maka jangan sekali-kali berdusta kepadanya, karena kedustaan kepadanya -apalagi jika sampai berulang- akan menyebabkan anak meyakini bolehnya atau menganggap baik yang namanya berdusta. Padahal kedustaan termasuk dari dosa-dosa yang paling besar, walaupun kedustaan itu ditujukan kepada anak kecil. Jika seseorang ingin agar anaknya kelak bisa menjadi orang yang berilmu maka jangan dia menampakkan kepada anaknya sikap malas dalam menghadiri majelis taklim atau malas dalam menuntut ilmu agama. Jika dia menghendaki anaknya kelak bisa berpakaian yang islami maka hendaknya dia sendiri jangan berpakaian yang tidak islami, dan demikian seterusnya. Betapa banyak orang tua yang menghendaki agar anaknya menjadi orang yang berilmu sementara dia sendiri tidak menampakkan kecintaan dia kepada majelis-majelis ilmu. Betapa banyak orang tua yang menghendaki agar anaknya berbakti kepadanya sementara dia sendiri adalah orang yang tidak berbakti kepada kedua orang tuanya.

Pelajaran lain berkenaan dengan pendidikan anak-anak baik adalah hendaknya orang tua atau yang mengasuh mereka memberikan toleransi yang besar kepada anak-anak dalam bermain atau dalam menyaksikan suatu permainan, selama permainan tersebut tidak memudharatkan dunia dan agamanya. Hal itu karena jiwa anak-anak belum terbiasa untuk serius dan berpikir keras, karenanya hendaknya mereka diberikan keluasan dalam bersenang-senang (me time), tapi tentunya tetap dalam pengawasan dan bimbingan orang tua agar mereka tidak melampui batas dalam permainan sehingga bisa memudharatkan diri mereka dan agar mereka tidak bersenang-senang dengan amalan yang dilarang oleh syariat yang bisa memudharatkan sisi keagamaan mereka kelak. Pada dalil-dalil di atas terdapat pelajaran yang baik bagi setiap orang tua, bagaimana ayah Nabi Yusuf alaihissalam memberikan waktu kepada anak-anaknya untuk bermain dan bersenang-senang. Demikian pula Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan kesempatan kepada Aisyah radhiallahu anha -yang ketika itu masih kecil- untuk menyaksikan permainan para sahabat, dan beliau tidak menyuruhnya berhenti sampai Aisyah sendiri yang merasa bosan melihatnya.

Pelajaran lain yang bisa dipetik dari dalil-dalil di atas:
1.    Bolehnya mengadakan permainan di dalam masjid selama tidak disertai dengan teriakan yang tinggi dan tidak mengotori masjid.

2.    Bolehnya bermain tombak selama tidak memudharatkan.

3.    Disunnahkan mengadakan permainan di hari raya, karena kejadian dalam hadits Aisyah di atas terjadi pada hari raya.

4.    Tidak ada dalil dari hadits Aisyah bagi yang membolehkan wanita memandang kepada lelaki yang bukan mahramnya. Hal itu karena Aisyah melihat para sahabat itu dari jauh itupun dari balik kain, dan sudah dimaklumi jika demikian keadaan maka Aisyah tidaklah bisa melihat wajah-wajah mereka akan tetapi hanya melihat gerakan-gerakan mereka dengan tombak. Demikian jawaban secara ringkas, adapun jawaban detailnya insya Allah akan datang pada tempatnya.

5.    Dalam masalah toleransi dalam permainan, anak-anak wanita dalam hal ini sama dengan anak laki-laki.

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/?p=2198