Tag Archives: dosa

JIKA ANDA ‘MERASA’ BERDOSA, LAKUKANLAH HAL INI 


Ahlus Sunnah Bagi Ilmu:

🍃🌸 JIKA ANDA ‘MERASA’ BERDOSA, LAKUKANLAH HAL INI 🌸🍃 

Semoga Allah -Ta’ala- mengampuni dosa-dosamu!
Jangan bunuh diri, karena itu dosa besar!

——————
🔰 Dari shahabat Abu Bakr Ash-Shiddiq -rodhiyallahu ‘anhu- , Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:
«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَتَوَضَّأُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِذَلِكَ الذَّنْبِ، إِلَّا غَفَرَ لَهُ»
🌷 ”Tidaklah seorang muslim melakukan dosa, lantas…
👉 Ia berwudhu` ,
🔻 Kemudian sholat dua roka’at,
🔻 Lalu beristighfar (meminta ampun) kepada Allah atas dosa itu.
💯 Kecuali pasti Allah akan mengampuninya.”
وَقَرَأَ هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ: 

{وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا} [النساء: 110]،

{وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ} [آل عمران: 135]
🌹 Kemudian beliau -shollallahu ‘alaihi wasallam- membaca dua ayat ini; (artinya):
”Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [ An-Nisaa : 110 ]
”Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” [ Ali-Imron : 135 ]
📚 [ HR. Ahmad no. 2, 47, & 56, Ibnu Majah no. 1396, Abu Dawud no. 1521, At-Tirmidzi no. 406, 3006, Ibnul Mubarok dalam ”Az-Zuhud” no. 1088, Ibnu Abi Syaibah dalam ”Al-Mushonnaf” no. 7642. ] , 📎 Derajat Hadits: Shohih. 

Dishohihkan Asy-Syaikh Al-Albani –rohimahullah- dalam “Shohih Al-Jami’” no. 5738.
〰〰〰〰

📌✅ Ya Allah, Ampunilah dosa-dosa kami. Karena sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali hanya Engkau. 
Wallahul Muwaffiq. (AH)
#Istighfar #Meminta_Ampunan #Anti_BunuhDiri

〰〰➰〰〰

🔰 YOOK NGAJI YANG ILMIAH

🔻(Memfasilitasi Kajian Islam secara Ilmiah)

🌐🔻 Situs Blog: https://Yookngaji.com

🚀🌐🔻 Gabung Saluran Telegram: https://t.me/yookngaji

KALAU BUKAN KARENA KARUNIA ALLAH, NISCAYA AIB-AIB KITA AKAN TERBONGKAR


Salafy Indonesia:

💐🌷🌻🌹 KALAU BUKAN KARENA KARUNIA ALLAH, NISCAYA AIB-AIB KITA AKAN TERBONGKAR
✍🏼 Abu Tamimah Tharif bin Mujalid al-Hujaimy rahimahullah berkata:
أصبحت بين نعمتين: ذنوب سترها الله فلا يستطيع أن يعيرني بها أحد، ومودة قذفها في قلوب العباد لا يبلغها عملي.
“Aku berada diantara dua kenikmatan; yang pertama adalah dosa-dosa yang Allah tutupi, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa mencelaku dengannya, yang kedua adalah kecintaan yang Allah letakkan di hati hamba-hamba-Nya yang tidak mungkin bisa kuraih dengan amalku.”
📚 Uddatush Shabirin, hlm. 126
🌍 Sumber || https://t.me/aalmakki
⚪ WhatsApp Salafy Indonesia

⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy
💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Dosa


Umar bin ‘Abdul Aziz t
“Aku tidak pernah berdusta saat aku mengetahui bahwa kedustaan merugikan pelakunya.” (Siyar A’lam An-Nubala, 5/121)

Ibn Syubrumah t
“Aku heran terhadap orang yang menjaga makanannya dalam keadaan takut terhadap penyakit, akan tetapi dia tidak menjaga dari perbuatan dosa dalam keadaan takut ancaman neraka.” (Siyar A’lam An-Nubala, 6/348)

Thalaq bin Habib t
“Sesungguhnya hak-hak Allah itu lebih besar dari yang bisa hamba tunaikan dan nikmat Allah itu lebih banyak dari yang bisa dihitung. Maka hendaknya seseorang itu bertaubat di pagi dan sore hari.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4/602)

Syaqiq bin Ibrahim t
“Tanda taubat ialah menangis (menyesal) atas perbuatan (dosa) yang telah dilakukan dan takut akan terjatuh kembali ke dalam dosa (tersebut), tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat dan senantiasa bersama dengan orang-orang yang baik.” (Siyar A’lam An-Nubala, 9/315)

Dinukil dari: http://asysyariah.com/dosa/

Dosa Turunan Dalam Pandangan Syariat Islam


Tanya:

Ustadz ana mau tanya tentang dosa turunan memang nya ada? Namun yang dimaksud bukan karma.

* Jawaban ust. Dzulqarnain:
Tentang dosa keturunan
Tidak ada yang disebut dosa keturunan itu dalam Islam, karena Allah Ta’ala telah berfirman,
أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
“Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” [An-Najm: 38]
Berkata Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat di atas,
“Yakni setiap jiwa yang menzhalimi dirinya sendiri dengan berbuat kekafiran atau dosa apapun,
sesungguhnya dosanya adalah terhadap dirinya sendiri, tidak seorang pun yang menanggungkan dosa itu untuk dirinya.”

Juga Allah Ta’âlâ berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا
“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat
menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun.” [Luqmân: 33]
Berkata Imam Al-Qurthuby dalam Tafsirnya,
“Yang dimaksud dengan ayat ini adalah seorang ayah tidak menanggung dosa anaknya,
dan seorang anak tidak menanggung dosa ayahnya. Salah seorang dari keduanya tidaklah disiksa
karena dosa yang lainnya.”

Dinukil dari: http://www.facebook.com/pages/As-Sunnah/236041046517220

Tiga Perkara Yang Tidak Dicatat Sebagai Dosa


Sahabat Ibnu ‘Abbas Radliyallahu ‘anhuma meriwayatkan dari Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku karena aku (apa yang mereka lakukan) tanpa ada kesengajaan, lupa dan apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” [Hadits Hasan riwayat Ibnu Majah dan Al Baihaqi]

Hadits diatas menunjukkan bahwa orang yang melakukan suatu larangan Allah atau meninggalkan sesuatu dari perintah Allah tanpa ada kesengajaan untuk melakukan larangan Allah atau meninggalkan perintahNya maka orang yang seperti ini tidak dicela di dunia dan tidak diadzab di akherat.

Demikan pula orang yang melakukan hal-hal tadi karena lupa atau karena dipaksa. Ini dimaafkan oleh Allah sebagai nikmat dan karunia dariNya.

Keutamaan Allah atas umat ini.

Seperti inilah agungnya karunia Allah atas umat ini, dimana Allah meringankan beban atas umat ini yang pada umat sebelum kita tidak mendapatkan keringanan seperti itu. Dahulu Bani Israil jika di perintah dengan sesuatu lalu mereka lupa untuk mengerjakannya atau di larang dari sesuatu lalu mereka tidak sengaja melakukannya maka Allah menghukum mereka karenanya, sementara umat ini Allah maafkan apa yang dilakukan karena lupa atau tidak sengaja. Allah kabulkan permohonan do’a umat ini.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.”(QS. Al Baqaroh: 286)

Allah Ta’ala berfirman:

ولَيْس عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.”(QS. Al Ahzab: 5)

Demikian pula, Allah tidak membebani hambaNya sesuatu yang mereka tidak mampu untuk melakukannya. Allah berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al Baqarah: 286)

Dan merupakan hikmah atau kebijaksanaan Allah bahwa Ia tidak menghukum seorang dari umat ini kecuali bila ada unsur kesengajaan untuk bermaksiat dan menyelisihi perintah. Karena suatu siksaan atas amal atau pahala dikaitkan dengan adanya niatan. Namun hal ini bukan berarti dia lepas dari hukum yang berkaitan dengan perbuatannya. Terutama yang berkaitan dengan hal-hal manusia. Sebagai contoh: Orang yang memecahkan piring orang lain tanpa ada kesengajaan maka dia tidak berdosa namun dia dituntut untuk menggantinya atau memberikan senilai piring yang ia pecahkan. Contoh lain: orang yang lupa suatu sholat wajib hingga habis waktunya maka dia tidak berdosa, namun dia dituntut untuk mengerjakan sholat yang ia tinggalkan karena lupa.

Beberapa contoh dari Al Qur’an dan hadits

Disana ada sekian contoh dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah yang menunjukkan tentang tidak dicatatnya sebagai dosa dari orang yang melakukan pelanggaran karena tidak sengaja atau lupa meskipun dia tetap dibebani dengan hukum yang lain, diantara contohnya:

1.Pembunuhan tanpa ada kesengajaan.

Orang yang menyengaja memanah binatang buruan atau memanah musuh (yang kafir) lalu panah tadi mengenai seorang muslim (hingga mati) atau seorang yang darahnya terjaga menurut agama, maka orang yang memanah tersebut tidak berdosa meskipun tidak berarti bebas dari tuntutan untuk membayar tebusan dan kaffarot.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ

“Dan tidak layak bagi seorang mu’min membunuh seorang mu’min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mu’min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu’min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. An Nisa: 92)

2.Mengakhirkan sholat dari waktu yang telah ditentukan.

Barangsiapa mengakhirkan sholat dari waktunya karena ada udzur (halangan bukan atas kesengajaan) seperti karena tertidur atau lupa maka dia tidak berdosa. Namun dia dituntut untuk mengkodlo (membayar dengan mengerjakannya) seketika ia terbangun dari tidurnya atau ketika ia ingat.

Al Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Anas bin Malik Radliyallah ‘anhu dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ

“Barangsiapa yang lupa suatu sholat hendaknya dia melakukannya ketika mengingatnya, tidak ada kaffarot (tebusan) kecuali hanya itu.”

Dan disebutkan dalam riwayat Imam Muslim: “Barangsiapa lupa suatu sholat atau tertidur dari sholat hendaknya ia melakukan sholat bila mengingatnya…..”

3.Mengucapkan Kekufuran.

Orang yang dipaksa untuk mengucapkan ucapan kekafiran (jika tidak mau akan dibunuh atau dipotong anggota tubuhnya atau yang semisalnya) maka kalau dia mampu untuk mengatakan sesuatu yang mengesankan dihadapan orang yang memaksanya bahwa dia telah mengucapkan apa yang diinginkan, hendaknya ini yang dilakukan yaitu tidak berterus terang. Namun jika tidak memungkinkan kecuali harus berterus terang maka dalam kondisi seperti ini boleh mengucapkannya tanpa diyakini dalam hatinya. Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”(QS. An Nahl: 106)

Tetapi bila orang yang dipaksa ini tetap bersabar dengan tidak mau mengucapkan ucapan kekafiran, bersabar atas gangguan dan hal yang menyakitkan dan mengharap pahala dari Allah tentunya hal ini lebih mulia. Seandainya dia terbunuh karena memegang perinsip akidahnya yang benar dan tidak mau mengucapkan ucapan kekafiran maka dia termasuk orang yang mati syahid. Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَاتُشْرِكْ بِاللِه شَيْئًا وَإِنْ قُطِعْتَ أَوْحُرِّقْتَ

“Janganlah kamu menyekutukan Allah sedikitpun meski kamu di potong atau di bakar.” [HR. Ibnu Majah]

Maksudnya: janganlah kamu mengucapkan ucapan kesyirikan dan semisalnya bila kamu dipaksa untuk melakukan demikian meskipun berakibat seperti yang disebutkan dalam hadits.

Perincian penjelasan tentang perbuatan yang dilakukan tanpa ada kesengajaan karena lupa.

Sesungguhnya konsekuensi atas perbuatan yang di kerjakan karena tidak sengaja atau lupa itu berbeda-beda dengan perbedaan perbuatan atau ucapan yang dilakukan. Hal ini bisa dilihat pada empat macam berikut.

Pertama: Jika ketidaksengajaan atau lupa terjadi pada meninggalkan apa yang di perintahkan maka tidak gugur kewajiban itu, bahkan harus disusul dengan dilakukan. Misalnya seandainya seorang memberikan zakat hartanya kepada orang yang ia sangka fakir namun ternyata ia kaya maka tidak sah dan harus ia berikan kepada orang fakir. Orang yang memberi zakat tersebut boleh menarik zakatnya yang keliru itu. Misal karena lupa: seandainya seorang bertayamum karena lupa padahal dia punya air, maka wajib atasnya untuk berwudhu dan seandainya dia sudah sholat dengan tayamum tersebut maka dia harus mengulang sholatnya.

Kedua: Jika ketidaksengajaan dan lupa terjadi pada perkara yang dilarang dan bukan termasuk merusak maka tidak ada tuntutan atasnya, contohnya: seorang minum suatu minuman dia tidak tahu kalau itu adalah khomer atau arak, dia tidak berdosa dan tidak dihukum. Dan demikian pula orang yang sedang ihrom (ketika haji atau umroh) bila lupa memakai minyak wangi, ia tidak dikenai hukuman apa-apa.

Ketiga: Bila ketidaksengajaan atau lupa terjadi pada bentuk melakukan sesuatu yang dilarang dan larangan itu termasuk dari bentuk merusak maka tidak gugur dari tuntutan. Contohnya: Seorang yang disuguhi makanan dari merampas miliknya orang, dan orang yang disuguhi itu tahu namun ketika makan ia lupa bahwa makanan tersebut dari merampas maka ia menanggung.

Demikan pula orang yang membunuh binatang buruan disaat ihrom dalam kondisi ia lupa atau tidak tahu hukumnya maka dia dituntut membayar fidyah sebagai kaffarat atas perbuatannya.

Keempat: Jika ketidaksengajaan atau lupa terjadi pada bentuk melakukan sesuatu yang dilarang dan perbuatan tersebut sesuatu yang bisa menyebabkan seorang dikenai hukuman maka ketidak sengajaan atau lupa adalah bentuk kesamaran yang hukuman itu gugur dari pelaku.

Misalnya, bila ada seorang membunuh orang muslim dinegeri kafir yang dinyatakan statusnya sebagai negeri perang maka si pembunuh tadi tidak dikenai hukuman kishosh dan tebusan.

Yang tidak dimaafkan dari orang yang lupa

Apa yang telah lalu dari penjelasan seputar tidak adanya tuntutan atas suatu perbuatan karena lupa itu bagi orang yang lupa yang tidak ada upaya untuk terjadinya kelupaan. Adapun orang menyebabkan dirinya terjatuh kedalam kelupaan maka lupa yang seperti ini terkadang tidak menjadikannya lepas dari tuntutan. Misalnya ada seorang yang mengetahui pakaiannya ada najis lalu dia menunda-nunda untuk menghilangkan najis tadi sampai dia lupa dan sholat dengan pakaian najis tadi maka orang seperti ini dianggap orang yang meremehkan disamping dia mengkodlo sholatnya.

Tentang lupa membaca basmalah ketika menyembelih

Orang yang menyengaja tidak membaca basmalah ketika menyembelih maka sembelihannya tidak halal. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.”(QS. Al An’am: 121)

Adapun apabila karena lupa maka boleh dimakan sebelihannya.

Bercakap-cakap dalam sholat karena lupa

Orang yang seperti ini tidak batal sholatnya menurut madzhab Imam Syafii.

Lupa makan, minum dan bersetubuh saat puasa

Tidak batal puasa orang yang makan atau minum karena lupa ini berdasarkan hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

“Barangsiapa lupa, lalu dia makan atau minum dalam keadaan puasa, hendaknya ia menyempurnakan puasanya, karena Allahlah yang memberi makan dan minum kepadanya.” [HR. Al Bukhari dan Muslim]

Yang berkaitan dengan perbuatan orang yang dipaksa

Komsekuensi hukum yang berkaitan dengan perbuatan orang yang dipaksa berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemaksaan dan tabiat dari perbuatan yang orang dipaksa untuk melakukannya.

Orang yang dipaksa adakalanya ada pada kondisi yang dia tidak ada pilihan dan tidak ada kemampuan untuk mengelak, ini seperti orang yang diikat lalu dibawa paksa memasuki tempat yang ia telah bersumpah untuk tidak memasukinya. Orang yang seperti ini tidak dikatakan melanggar sumpah dan tidak berdosa.

Terkadang ada bentuk paksaan yang seorang bisa mengelak, jika dia melakukannya maka perbuatannya ada konsekuensi. Misalnya orang yang dipaksa untuk membunuh orang lain, jika tidak mau membunuh maka dia yang akan dibunuh. Dalam kondisi ini maka tidak boleh seorang membunuh hanya karena ingin menyelamatkan nyawanya.

Dipaksa untuk melakukan zina dan perkara yang diharamkan selain membunuh

Mayoritas ulama berpendapat bahwa orang yang dipaksa untuk melakukan yang diharamkan seperti mencuri, minum khomer dan semisalnya maka boleh baginya melakukannya dengan menanggung apa yang ia rusak dari hak manusia.

Catatan: Pemaksaan yang seorang tidak dicatat sebagai dosa bila melakukan pelanggaran adalah jika sampai pada tingkatan terancam nyawanya, anggota tubuhnya, hartanya dan yang semisalnya dimana dia tidak bisa mengelaknya.

Pemaksaan atas perkataan

Mayoritas ulama menyatakan bahwa pemaksaan bisa terjadi pada segala ucapan. Maka, siapa dipaksa atas suatu ucapan yang di haramkan, tidak ada dosa atasnya dan ucapannya tidak berkonsekuensi apapun. Contoh dari ini adalah orang yang dipaksa mengucapkan kata-kata kekufuran. Allah tidak mencatatnya sebagai dosa sebagaimana firmanNya:

إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ

“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)”(QS. An Nahl: 106)

Pemaksaan atas ucapan juga berlaku pada akad nikah, jual beli, dan pembatalan seperti pemaksaan atas cerai, rujuk, sumpah dan nadzar. Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَاطَلَاقَ وَلَاعِتَاقَ فِى إِغْلاقٍ

“Tidak ada perceraian dan pemerdekaan budak dalam keadaan dipaksa.” [Hadits hasan riwayat Abu Daud]

Keridloan orang yang dipaksa

Bila nampak pada orang yang dipaksa keridloan terhadap apa yang ia dipaksa dengannya dan adanya keinginan dari dirinya untuk melakukannya maka dianggap sah apa yang dia jalani dari akad dan semisalnya.

Pemaksaan yang dianggap sah

Bila seorang dipaksa untuk mengucapkan atau melakukan sesuatu yang ia diwajibkan atasnya maka pemaksaannya tidak menghalangi dari ditetapkannya hukum atasnya. Sebagai contoh.

1.Orang kafir yang berada dinegeri yang dihukumi negeri perang bila dipaksa masuk islam lalu dia mengucapkan syahadat maka sah islamnya.

2.Bila penguasa memaksa seseorang yang punya hutang untuk menjual hartanya guna membayar hutang-hutangnya maka dianggap sah penjualannya.

[Dinukil dengan ringkas dan sedikit tambahan dari kitab Al Wafi fi syarhil arbain hal 328-341]

Dinukil dari: http://assalafiyahkebumen.wordpress.com/page/5/

Penyakit Demam Menghapuskan Dosa


Penulis: Al Ustadz  Abu Muawiah

 

Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku pernah menjenguk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah. Maka aku berkata:

إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قُلْتُ إِنَّ ذَاكَ بِأَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ قَالَ أَجَلْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى إِلَّا حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat, oleh karena itukah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.” Beliau menjawab, “Benar, tidaklah seorang muslim yang terkena gangguan melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana gugurnya daun-daun di pepohonan.” (HR. Al-Bukhari no. 5647 dan Muslim no. 2571)
Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang berkunjung ke rumah Ummu Sa`ib atau Ummu Musayyab, maka beliau bertanya:

مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ أَوْ يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ تُزَفْزِفِينَ قَالَتْ الْحُمَّى لَا بَارَكَ اللَّهُ فِيهَا فَقَالَ لَا تَسُبِّي الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Ada apa denganmua wahai Ummu Sa`ib -atau Ummu Musayyab- sampai menggigil begitu?” Dia menjawab, “Demam! Semoga Allah tidak memberkahinya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kamu mencela penyakit demam, karena dia dapat menghilangkan kesalahan (dosa-dosa) anak Adam, seperti halnya kir (alat peniup atau penyala api) membersihkan karat-karat besi.” (HR. Muslim no. 4575)

Penjelasan ringkas:

Di antara bentuk kesabaran terhadap takdir Allah yang menyakitkan adalah bersabar atas semua penyakit yang menimpa. Dan sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa kesabaran hukumnya adalah wajib dan bukan sunnah. Karenanya barangsiapa yang tidak bersabar menghadapi penyakit yang menimpanya maka sungguh dia telah terjatuh ke dalam dosa yang sangat besar.

Bagaimana caranya seseorang bisa bersabar?

Banyak faktor yang bisa membantu dan memudahkan seseorang untuk bersabar. Di antaranya adalah dengan mengetahui keutamaan orang yang terkena musibah termasuk sakit. ‘Tidak kenal maka tak sayang’, karenanya siapa yang tidak mengenal hakikat dari musibah dan penyakit niscaya dia tidak akan senang untuk sakit, dan sebaliknya siapa yang mengetahui hakikat dari semua musibah dan penyakit niscaya dia bukan hanya akan bersabar tapi justru dia akan bersyukur karena telah tertimpa musibah dan penyakit.

Trus, apa keutamaan orang yang tertimpa musibah dan penyakit?
Sebagiannya sudah disebutkan dalam hadits-hadits di atas yaitu dosa-dosanya akan diampuni selama dia terkena musibah dan penyakit. Dan banyak lagi yang lain bisa dibaca dalam kitab Riyadh Ash-Shalihin karya Imam An-Nawawi pada bab-bab pertama tentang keutamaan sabar.

Karenanya, semakin lama seseorang sakit atau semakin sering seseorang tertimpa musibah maka dosa-dosa yang terhapus akan lebih banyak. Kalau begitu, bukankah orang yang terkena musibah dan penyakit sangat pantas untuk bersyukur kepada Allah.
Karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menyebutkan 4 tingkatan manusia dalam menghadapi musibah, mulai dari yang terendah sampai ke yang tertinggi:
1.    Marah dan tidak bersabar. Baginya dosa yang besar.
2.    Sabar. Dia telah selamat dari dosa dan mendapatkan pahala karena kesabarannya
3.    Ridha terhadap musibah yang menimpa. Dia mendapatkan pahala tambahan yang jauh lebih besar daripada pahala kesabaran.
4.    Syukur. Inilah jenjang tertinggi dalam menghadapi musibah.

Apakah terhapusnya dosa dipersyaratkan sabar?

Ada silang pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Hanya saja yang lebih tepat insya Allah: Bahwa terhapusnya dosa itu sudah terjadi hanya dengan seseorang tertimpa musibah atau penyakit, baik dia bersabar menghadapinya maupun tidak. Hal itu karena dalil-dalil di atas bersifat umum bahwa Allah akan mengampuni dosa hanya dengan seseorang terkena musibah, tanpa menyinggung apakah dia bersabar atau tidak.

Yang jelas orang yang tertimpa musibah dan penyakit akan terhapus dosa-dosanya. Jika dia bersabar maka dia mendapatkan tambahan pahala, tapi jika dia tidak bersabar maka dia telah berbuat dosa yang besar.

 

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/akhlak-dan-adab/penyakit-demam-menghapuskan-dosa.html#more-2398

Keberuntungan dan Kebahagiaan


Penulis: Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan

Siapa gerangan yang tak hendak mendapatkan untung? Siapa pula yang tak ingin meraih bahagia? Semua orang tentu mendambakan keberuntungan sekaligus kebahagiaan. Namun banyak orang menyangka keberuntungan dan kebahagiaan itu dapat diraih bila seseorang berhasil mendapatkan dunia berupa harta, pangkat, jabatan, dan kedudukan. Karena pandangan seperti itu, mereka pun menghabiskan waktu, umur, dan tenaga mereka guna meraih apa yang menurut mereka sebagai sebab (faktor) keberuntungan dan kebahagiaan. Padahal, sungguh mereka telah salah dan tidaklah mereka di atas petunjuk. Lihatlah Qarun yang hidup di zaman Nabi Musa q, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya saja harus dipikul oleh sekelompok lelaki yang kuat. Namun apa akhirnya kisahnya? Karena kedurhakaannya, ia ditenggelamkan ke dalam bumi bersama hartanya, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan dalam Al-Qur’an:

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Kami pun membenamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi, maka tidak ada suatu golongan pun yang menolongnya selain Allah (dari azab-Nya).” (Al-Qashash: 81)

Sampai pula kabar kepada kita tentang Fir‘aun si durjana yang binasa dengan kerajaan dan kekuasaannya. Demikian pula umat-umat terdahulu yang memiliki kekuatan hebat dan kekuasaan yang besar, namun ingkar kepada Rabb semesta alam.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ. إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ. الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ. وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ. وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ. الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ. فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ. فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ. إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

“Apakah kamu tidak memerhatikan bagaimana Rabbmu telah berbuat terhadap kaum ‘Ad, (yaitu) penduduk Iram yang memiliki bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain. Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah. Dan kaum Fir’aun yang mempunyai tentara yang banyak, yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu. Oleh sebab itulah Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab. Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi.” (Al-Fajr: 6-14)

Lalu, apakah kemajuan teknologi dalam berbagai bidang yang di zaman ini dikuasai oleh orang-orang kafir merupakan sebab keberuntungan dan kebahagiaan mereka? Sekali-kali tidak!

Ketahuilah wahai saudariku, bila iman tidak menjadi pegangan dan akidah yang shahihah tidak menjadi landasan, akan rusak binasalah dunia dan jadilah seluruh amalan tiada berfaedah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengabarkan tentang amalan orang-orang kafir:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا

“Dan amal-amal orang-orang kafir adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapati apa-apa….” (An-Nur: 39)

مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

“Permisalan amalan-amalan orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan di dunia. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (Ibrahim: 18)

Kehidupan orang kafir di dunia ini –dengan segenap harta yang ada pada mereka berikut kekuasaan, kekuatan, dan teknologi– Allah Subhanahu wa Ta’ala namakan dengan perhiasan sementara, yang akan berakhir dengan kerugian dan api neraka.

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah Jahannam dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (Ali ‘Imran: 196-197)

Sebagian kaum muslimin yang lemah imannya teperdaya manakala melihat orang-orang kafir diberi keluasan dan kelapangan dalam kehidupan dunia. Akibatnya ia kagum dan mengagungkan mereka di dalam hatinya.

Sebaliknya, bila ia melihat kelemahan yang menimpa kaum muslimin dan terbelakangnya kehidupan mereka, ia menyangka semua itu gara-gara Islam. Islam berikut pemeluknya pun jadi hina di dalam jiwanya.
Ketahuilah, kebangkrutan dan kerugian orang kafir di dunia dan di akhirat merupakan suatu kemestian, karena mereka telah kehilangan penegak keberuntungan dan kebahagiaan. Di antara yang paling inti adalah iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir. Keberuntungan hanyalah bagi orang-orang beriman dan bertakwa, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ. أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ. الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak wanita yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan janjinya, dan orang-orang yang menjaga shalat mereka. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yaitu) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (Al-Mu’minun: 1-11)

الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ. أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugrahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Al-Qur’an yang telah diturunkan kepadamu dan beriman kepada kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat. Mereka itulah yang tetap beroleh petunjuk dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqarah: 1-5)

Sebab-sebab keberuntungan yang bisa kita sebutkan di sini di antaranya:

Bertaubat dari dosa-dosa, beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beramal shalih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَعَسَى أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُفْلِحِينَ

“Adapun orang yang bertaubat dan beriman serta mengerjakan amal shalih maka semoga ia termasuk orang-orang yang beruntung.” (Al-Qashash: 67)

Terus-menerus berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya:

وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Berzikirlah kalian kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.” (Al-Anfal: 45)

Menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji dan menjauh dari sifat-sifat tercela. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Berinfaklah dengan infak yang baik untuk diri kalian. Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (At-Taghabun: 16)

Dalam surah yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى. وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya. Dia ingat nama Rabbnya kemudian ia mengerjakan shalat.” (Al-A’la: 14-15)

Demikianlah wahai saudariku… Akan datang suatu hari kelak di mana tampak bagi seluruh manusia siapa yang beruntung dan siapa yang merugi. Hari yang pasti itu adalah hari ditimbangnya seluruh amalan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran. Maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu berlaku zalim terhadap ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 8-9)

Sebelum datang hari itu, masih terbuka kesempatan bagi kita. Selama hayat masih dikandung badan, (masih ada kesempatan) untuk berbenah diri sehingga kita mengatur amalan kita, memperbaiki apa yang rusak dari amalan kita dan memperbanyak amal kebaikan agar berat dalam timbangan pada hari kiamat kelak. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Disarikan dari Al-Khuthab Al-Minbariyyah fil Munasabat Al-’Ashriyyah, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, 2/183-186)

Dinukil dari: http://asysyariah.com/print.php?id_online=825