Tag Archives: fatwa lajnah da’imah

Ziarah Ke Kuburan Pada Hari Pertama Dan Hari Terakhir Pada Bulan Rajab


Pertanyaan Ketiga Fatwa no. 8818 (Bab 9, Halaman no 114)

Pertanyaan 3:

Beberapa orang terbiasa berziarah ke kuburan pada hari pertama dan terakhir pada bulan Rajab. Apakah hal ini diperbolehkan?

Jawaban:

Hal ini tidak diperbolehkan untuk menentukan pada hari dan tahun tertentu seperti pada hari Jumat atau hari pertama di bulan Rajab atau hari lain untuk berziarah ke kuburan karena hal ini tidak ada dalil yang mendukungnya. Akan tetapi diperbolehkan untuk berziarah ke kuburan pada hari biasa, tanpa menentukan hari tertentu.

Diperbolehkannya untuk berziarah ke kuburan hal ini didasarkan pada hadis dimana Rosululloh shalallohu ‘alaihi wassalam bersabda,” Berziarahlah ke kuburan untuk mengingatkan kamu tentang akhirat” (Shahih Muslim Dalam Kitab Jenazah No. 976).

Wabillahi taufiq Washalallohu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa shahibihi ajmain

Lajnah Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil Ketua: Abdul Razzaq` `Afify

Anggota :

‘Abdullah ibn Ghudayaan

`Abdullah ibn Qa`ud

Diterjemakan dari :

http://alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=en&View=Page&PageID=331&PageNo=1&BookID=10

Berjabat Tangan Dengan Kedua Tangan


Pertanyaan:
Apakah diperbolehkan  berjabat tangan dengan menggunakan kedua tangan?

Jawaban:
Untuk laki-laki muslim berjabat tangan dengan saudaranya diperbolehkan karena telah shahih riwayatnya. Adapun seorang pria berjabat tangan dengan seorang wanita yang bukan Mahram, maka hal ini tidak diperbolehkan. Adapun berjabat dengan kedua tangan, tidak boleh dilakukan. Lebih baik hal itu dilakukan dengan hanya satu tangan.

Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa
Fatwa Islamiyah Vol. 8 Page 217

Walloohu ta’ala a’lam bishowab

Telah mengalami perubahan yang dinukil dari:

http://www.fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&ID=1281

Berhaji Atas Nama Orang Yang Sudah Meninggal


Penulis: Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa KSA

Pertanyaan kedua Fatwa no. 1.241 (Bab XI Halaman 100 )

Pertanyaan:

Seorang pria meninggal sedangkan dia belum melakukan kewajiban haji dan meninggalkan sebuah surat wasiat bahwa sebagian dari kekayaannya harus digunakan untuk melakukan haji atas namanya. Pertanyaan saya adalah tentang keabsahan haji tersebut, apakah yang melakukan haji atas nama orang lain sama dengan melakukan haji untuk diri sendiri?

Jawaban:

Jika seorang Muslim meninggal belum melakukan kewajiban haji, sedangkan dia telah memenuhi semua syarat yang membuat haji itu wajib baginya , maka  wajib untuk melakukan haji atas nama dirinya dengan uang dia sendiri, apakah mereka meninggal dengan menyatakannya ataupun tidak. Jika orang lain melakukan haji atas nama orang yang telah meninggal, maka berlaku bagi mereka untuk syarat-syarat melakukan ibadah haji (memenuhi syarat yaitu  muslim, sehat, dewasa(baligh)), dan telah melakukan haji untuk diri mereka sendiri, mereka melakukan ibadah haji atas nama orang telah meninggal akan berlaku dan cukup akan melepaskan kewajiban di pihaknya. Apakah haji yang dilakukan atas nama orang lain sama dengan haji yang dilakukan untuk diri sendiri, atau lebih kurang sama pahalanya, hal ini semua kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala. Tidak ada keraguan bahwa orang-orang yang diwajibkan untuk melakukan ibadah haji dan memiliki kemampuan untuk itu harus mempercepat dan melakukannya sebelum kematian mereka, sebagai bukti dari syariat (hukum Islam) memerintahkan ibadah  ini dan untuk menghapus dosa yan telah lalu.

Wabillaahi taufiq. Wa shalalloohu wa salam ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shabihi ajmain.

Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Ifta

Anggota Ketua: `Abdul-Aziz ibn` `Abdullah bin Baz

Wakil Ketua`Abdul Razzaq` Afify-

Anggota:

` Abdullah ibn Ghudayyan

`Abdullah ibn Mani

Dengan sedikit perubahan diterjemahkan dari: http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=7&PageID=3902&back=true

Puasa Enam Hari pada Bulan Syawwal


Tanya:

Apa pandangan Anda tentang puasa enam hari pada bulan Syawal setelah Ramadhan? Di kitab al-Muwaththa karya al-Imam Malik t disebutkan, beliau mengatakan tentang puasa enam hari setelah selesai Ramadhan, bahwa beliau tidak melihat seorang pun ulama ahli fiqih yang melakukan puasa tersebut. Belum sampai berita kepada beliau tentangnya dari seorang ulama salaf pun, dan para ulama membenci hal tersebut serta khawatir itu termasuk bid’ah, serta khawatir diikutkan dengan Ramadhan sesuatu yang bukan darinya. Ucapan ini ada dalam kitab al-Muwaththa hlm. 228 juz I.

Jawab:

Telah sahih dari sahabat Abu Ayyub z bahwa Rasulullah n bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ

“Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, berarti itu puasa satu tahun.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)

Ini adalah hadits yang sahih. Hadits ini menunjukkan bahwa berpuasa enam hari pada bulan Syawwal adalah sunnah. Di antara ulama yang telah mengamalkannya adalah al-Imam asy-Syafi’i, Ahmad, dan sekelompok imam yang lain. Tidak benar jika hadits ini dibenturkan dengan apa yang diungkapkan oleh sebagian ulama sebagai dasar untuk menganggap makruhnya puasa Syawwal, baik itu kekhawatiran akan dianggapnya bagian dari Ramadhan oleh orang jahil, atau dianggap wajib, atau belum sampai berita kepadanya dari orang-orang yang mendahuluinya. Itu semua hanya sangkaan, tidak mampu menghadapi hadits yang sahih. Orang yang mengetahui adalah hujjah bagi orang yang tidak mengetahui.

Allah l-lah yang memberi taufiq. Semoga shalawat dan salam-Nya tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.

Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah Ghudayyan dan Abdullah bin Qu’ud

Tanya:

Apakah puasa enam hari (bulan Syawwal) harus setelah bulan Ramadhan setelah hari id langsung, atau boleh setelah id beberapa hari secara berurutan di bulan Syawwal?

Jawab:

Berpuasa Syawwal tidak harus langsung setelah Idul Fitri. Bahkan, boleh untuk memulai puasa satu atau dua hari setelah Idul Fitri. Boleh berpuasa secara berurutan atau terpisah-pisah pada bulan Syawwal sesuai dengan yang mudah baginya. Dalam hal ini ada kelonggaran. Puasa ini hukumnya tidak wajib, melainkan sunnah.

Allah -lah yang memberi taufiq. Semoga shalawat dan salam-Nya tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.

Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah Ghudayyan dan Abdullah bin Qu’ud.

Tanya:

Saya telah memulai puasa enam hari Syawwal. Akan tetapi, saya belum bisa melengkapinya karena kondisi tertentu dan pekerjaan. Masih tersisa dua hari bagi saya. Apa yang mesti saya lakukan, wahai Syaikh? Apakah saya harus mengqadhanya atau berdosakah saya karenanya?

Jawab:

Puasa enam hari pada bulan Syawwal adalah ibadah yang sunnah, bukan wajib. Maka dari itu, Anda mendapatkan pahala dari puasa yang telah dikerjakan tersebut (walaupun belum sempurna, red.). Anda diharapkan mendapatkan pahalanya secara utuh apabila penghalang Anda untuk menyempurnakannya adalah alasan yang syar’i, berdasarkan sabda Nabi n:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا

“Apabila seorang hamba sakit atau safar, Allah menuliskan baginya pahala apa yang biasa dia lakukan ketika dia sehat dan berada di tempat tinggalnya.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya)

Anda tidak berkewajiban mengqadha puasa Syawwal yang belum Anda lakukan.
Allah l-lah yang memberi taufiq.

(Fatwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz)

Tanya:

Seseorang berpuasa enam hari dari bulan Syawwal setelah Ramadhan tetapi belum menyempurnakan puasa Ramadhannya selama seratus hari karena alasan syar’i. Apakah dia tetap mendapatkan pahala orang berpuasa Ramadhan secara sempurna dan mengikutinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal sehingga seperti orang yang berpuasa setahun penuh? Mohon berikan jawaban yang bermanfaat bagi kami. Semoga Allah l memberikan balasan kepada Anda.

Jawab:

Penetapan pahala amalan yang dilakukan oleh hamba karena Allah l adalah hak Allah l secara khusus. Apabila seorang hamba mencari pahala dari Allah l dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan, Allah l tidak akan menyia-nyiakannya. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik.” (al-Kahfi: 30)

Orang yang memiliki utang puasa Ramadhan semestinya mengqadhanya dahulu, baru berpuasa enam hari pada bulan Syawwal. Dengan demikian, dia mengamalkan (sabda Nabi n):

ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ

“Mengikuti puasa Ramadhan dengan enam hari pada bulan Syawwal.”

Lain halnya kalau dia sudah telanjur menyempurnakan puasa enam hari pada bulan Syawwal (tanpa tahu hukumnya, red.).

Allah l-lah yang memberi taufiq. Semoga shalawat dan salam-Nya tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.

Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah Ghudayyan dan Abdullah bin Qu’ud

Tanya:

Seseorang biasa puasa tiga hari (hari-hari putih, yakni tanggal 13, 14, 15 bulan qamariah) setiap bulan. Apabila dia berpuasa pada bulan ini (Syawwal) pada hari-hari tersebut lalu ditambah tiga hari yang lain, apakah ini cukup (bisa dianggap) puasa enam hari pada bulan Syawwal?

Jawab:

Puasa tiga hari pada bulan Syawwal adalah puasa yang tersendiri, tidak termasuk dari tiga hari (hari-hari putih). Keduanya tidak sama. Yang disunnahkan adalah berpuasa enam hari pada bulan Syawwal secara tersendiri dan berpuasa pada hari-hari putih secara tersendiri agar pahalanya besar. Adapun berpuasa enam hari dari Syawwal dan dia niatkan untuk puasa enam hari Syawwal sekaligus hari-hari putih, yang tampak bagi saya itu hanya menjadi puasa enam hari pada bulan Syawwal saja. Oleh karena itu, dia mendapatkan pahala berpuasa enam hari bulan Syawwal saja. Disunnahkan pula berpuasa hari-hari putih dengan niat tersendiri.

(Fatwa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan)

Dinukil dari: http://asysyariah.com/puasa-enam-hari-pada-bulan-syawwal.html

Keabsahan Pernikahan Dengan Seorang Wanita Yang Ternyata Sudah Tidak Perawan


Penulis: Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA

Fatwa no. 12314 (Bab 19; Halaman  7)

Tanya:

Saya menikah dengan seorang wanita dari negara lain, dimana keluarganya mengatakan ia masih perawan saat usia 17 tahun dan belum pernah tidur dengan siapa pun sebelum saya, tapi saya kemudian menemukan kejadian saat dia berusia 25 tahun sudah tidak perawan. Saya kemudian membawanya  ke Arab Saudi dan tinggal bersamanya selama empat bulan, selama itu saya tidak menemukan kesalahan apapun yang dia lakukan. Mohon berikanlah saya fatwa berdasarkan pertanyaan saya: Apakah saya harus menjaganya atau memulangkannya kembali ke negaranya? Apakah hal ini akan merupakan perbuatan dosa atau kebaikan, tolong jelaskan hal ini padaku. Semoga Allah melindungi, dan membimbing anda.

Jawaban:

Jika pernikahan anda dengan wanita tersebut disetujui oleh walinya , serta prasyarat dan rukun dari akad pernikahan terpenuhi, dan tidak ada penghalang untuk melangsungkan pernikahan, maka pernikahan tersebut syah. Apa yang anda sebutkan dalam pertanyaan tentang dia sudah tidak perawan atau lebih tua dari usia tidaklah membatalkan akad pernikahan. Jika perselisihan terjadi antara anda dalam hal ini, anda harus merujuk ke pengadilan.

Wabillahi taufiq. Wa shalallahu wa salaman ‘ala nabiyina muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA

Ketua: ` Abdul `Aziz bin` Abdullah bin Baz

Wakil Ketua : ` Abdul-Razzaq `Afify

Anggota :`Abdullah bin Ghudayyan

Dengan sedikit perubahan diterjemahkan dari: http://www.alifta.net/Search/ResultDetails.aspx?lang=en&view=result&fatwaNum=&FatwaNumID=&ID=7116&searchScope=7&SearchScopeLevels1=&SearchScopeLevels2=&highLight=1&SearchType=exact&SearchMoesar=false&bookID=&LeftVal=0&RightVal=0&simple=&SearchCriteria=allwords&PagePath=&siteSection=1&searchkeyword=110111032118105114103105110#firstKeyWordFound

 

Hukum Olahraga Tinju


Penulis: Komisi Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA

Fatwa no. 16443 (XXVI/296)

Pertanyaan:

Saya seorang pemuda dari Aljazair. Saya adalah seorang petinju profesional dan sekarang saya seorang pelatih. Saya tidak tahu tentang hukum jenis olahraga ini. Mohon diberitahukan kepada saya serta saudara-saudara sesama di kota Djelfa tentang hukum jenis olahraga ini ? Apakah halal atau haram? Saya harap anda menyertakan  dalilnya. Perlu diketahui bahwa saya menerima gaji sebagai pelatih yunior.

Jawaban:

Hal ini tidak diperbolehkan untuk bermain Tinju karena berbahaya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

…..janganlah kamu menjatuhkan dirimu dalam kebinasaan (QS. Al Baqarah : 195)

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah itu Maha Penyayang kepada kalian. (An Nisa: 29)

Tinju menyebabkan kerugian besar tanpa ada manfaat apapun dan karena itu adalah Haram. Anda harus meninggalkan jenis olahraga ini dan berolahragalah  olahraga lain yang bermanfaat.

Wabillaahi taufiq. Wa shalallahu ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Komisi  Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa

Ketua: ` Abdul `Aziz bin` Abdullah bin Baz

Wakil Ketua: ` Abdul-Razzaq `Afify

Anggota : `Abdullah bin Ghudayyan

Anggota :  Sholih Al-Fawzan
Anggota : `Abdul` Aziz Al al-Syaikh

Anggota : Bakr Abu Zaid

Dengan sedikit perubahan diterjemahkan dari: http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&PageNo=1&FromMoeasrID=26104&PageID=10342&BookID=7

Menghadiri Prosesi Pemakaman Orang Kristen


Penulis: Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA

Fatwa no. 13509

Pertanyaan 2.:

Apakah diperbolehkan untuk mengikuti prosesi pemakaman seorang Kristen dan meninggalkannya saat penguburan dan memasuki gereja ?

Jawaban: 

Tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk mengikuti prosesi pemakaman Kristen.

Wabillahi taufiq. Semoga kedamian dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, keluarganya, dan sahabatnya.

Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA

Ketua: ` Abdul `Aziz bin` Abdullah bin Baz

Wakil Ketua : ` Abdul-Razzaq `Afify

Anggota : `Abdullah bin Ghudayyan

Dengan sedikit perubahan diterjemahkan dari: http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=7&PageID=10175&back=true