Tag Archives: sa’i

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM THAWAF DAN SA’I (BAG 3)


🇸🇦🌘🕋🕌KESALAHAN-KESALAHAN DALAM THAWAF DAN SA’I (BAG 3)

1⃣5⃣Tidur ketika melakukan thawaf.

Barangsiapa yang tidur ketika melakukan thawaf maka tidak sah thawafnya dan wajib baginya mengulangi thawaf apabila bangun dari tidurnya, dan pada umumnya tidur terjadi pada orang yang melakukan thawaf dalam keadaan ia dipikul diatas kereta dorong atau tandu.
1⃣6⃣Menjadikan ka’bah di sebelah kanan anak kecil ketika ia digendong pada saat thawaf. Dan ini kesalahan, apabila anak kecil melakukan ihram dan digendong oleh walinya maka wajib sang wali menjadikan ka’bah berada di sebelah kiri anak kecil bukan di sebelah kanannya, dikarenakan apabila ia menjadikan ka’bah di sebelah kanannya maka tidak sah thawafnya.
1⃣7⃣Melakukan shalat dua raka’at di belakang Maqam Ibrahim ketika kondisi berdesak-desakan dengan manusia, ini merupakan kesalahan dan bisa membahayakan orang-orang yang sedang melakukan thawaf dan itu tidak boleh.
Berkata Abu Sa’id Al Khudry radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :
((لا ضرر ولا ضرار))
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain”.
Melakukan shalat di belakang Maqam Ibrahim hukumnya sunnah dan memudharatkan orang lain hukumnya haram, maka hendaknya seorang muslim melakukan shalat dua rakaat di tempat manapun yang mudah baginya dari Masjidil Haram dan tidak boleh memudharatkan orang lain.
1⃣8⃣Memperlama dalam beristirahat ketika melakukan thawaf tanpa adanya hajat, dan ini merupakan kesalahan dikarenakan berkesinambungan hukumnya wajib pada thawaf.
Barangsiapa yang merasa lelah maka boleh baginya beristirahat sebentar kemudian ia menyempurnakan thawafnya dan tidak boleh baginya memperlama istirahatnya.
1⃣9⃣Menetapi doa-doa khusus ketika melakukan thawaf dan ini merupakan kesalahan dikarenakan tidak ada doa khusus  pada thawaf namun seorang muslim berdoa dengan doa yang ia kehendaki kecuali ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad maka ia mengucapkan doa :
((ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار))
2⃣0⃣Melakukan thawaf di kawasan Hijr dan ini kesalahan dan tidak sah thawaf seseorang yang melakukannya, dikarenakan Hijr yang disebut oleh manusia dengan sebutan Hijr Ismail termasuk bagian Ka’bah sedangkan thawaf harus dilakukan di luar Ka’bah bukan dari dalam Ka’bah, maka wajib bagi orang yang berhaji atau melakukan umrah untuk melakukan thawaf dari luar Hijr bukan dari dalam Hijr.
2⃣1⃣Melafazhkan niat thawaf, dan ini merupakan kesalahan dikarenakan niat tempatnya di hati bukan di lisan dan melafazhkan niat merupakan kebid’ahan dengan kesepakatan para ulama’.
2⃣2⃣Melakukan shalat dua raka’at dibelakang Maqam Ibrahim dalam keadaan ber-idhtiba’, ini merupakan kesalahan dikarenakan idhtiba’ khusus pada thawaf.
Dan barangsiapa yang ingin melakukan shalat maka hendaknya ia menutupi kedua bahunya dan tidak menyingkap kedua bahunya tersebut dikarenakan Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang seorang laki-laki melakukan shalat dalam keadaan tidak ada yang menutupi bahunya.
2⃣3⃣Terus melakukan thawaf setelah iqamat shalat dikumandangkan, ini merupakan kesalahan dikarenakan apabila shalat fardhu telah diiqomati maka harus memutus thawafnya dan menunaikan shalat dan ia melanjutkan thawafnya setelah shalat, ia menyempurnakannya dari mana ia berhenti dan tidak mengulangi putaran thawaf dari awal.
◾️الأخطاء في الطواف والسعي◾️

           _الجزء الثاني_
▪️الخامس عشر: النوم أثناء الطواف.

مَن نام أثناء الطواف لم يصح طوافه وعليه إعادة الطواف إذا قام من نومه ، ويحصل النوم غالباً لمن يطوف محمولاً على عربة أو سرير.
▪️السادس عشر: جعل الكعبة عن يمين الصغير أثناء حمله في الطواف.

وهذا خطأ ، إذا أحرم الصغير وحمله وليه ، يجب عليه أن يجعل الكعبة عن يساره لا يمينه ، لأنه إذا جعل الكعبة يمينه لم يصح طوافه.
▪️السابع عشر: صلاة ركعتين خلف المقام مباشرة أثناء الزحام.

وهذا خطأ ، وفيه مضايقة ومضرة للطائفيين ، والمضارة لا تجوز ، قال أبو سعيد الخدري -رضي الله عنه-:قال النبي عليه -ﷺ- : (لاضرر ولا ضرار)١.

الصلاة خلف المقام سنة والمضارة محرمة ، فعلى المسلم أن يصلي الركعتين في أي مكان متيسر في المسجد الحرام ولا يضايق الناس.
▪️الثامن عشر: إطالة الاستراحة أثناء الطواف

لغير حاجة.

وهذا خطأ ، لأن الموالاة واجبة في الطواف ، ومن أحس بتعب جاز له أن يستريح قليلاً ثم يكمل طوافه ، ولا يجوز له أن يطيل الاستراحة.
▪️التاسع عشر: التزام أدعية خاصة بالطواف.

وهذا خطأ ، لأن الطواف ليس دعاء خاص ، بل يدعو المسلم بما شاء ، سوى بين الركن اليماني والحجر الأسود فإنه يقول: (ربنا ءاتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة حسنة وقنا عذاب النار).
▪️العشرون: الطواف بين الحجر.

وهذا خطأ ، ولا يصح طواف مَن فعله ، لأن الحجر ، المسمى عند الناس بحجر إسماعيل من الكعبة ، والطواف لابد أن يكون من وراء الكعبة ، لا من داخلها ، فعلى الحاج والمعتمر أن يطوف من وراء الحجر لا من داخله.
▪️الحادي والعشرون: التلفظ بنية الطواف.

وهذا خطأ ، لأن النية محلها القلب لا اللسان ، والتلفظ بها بدعة باتفاق العلماء.
▪️الثاني والعشرون: صلاة ركعتين خلف المقام مضطبعاً.

وهذا خطأ ، لأن الاضطباع خاص في الطواف ، ومن أراد الصلاة فعليه أن يغطي منكبيه ولا يكشفهما ، لأن النبي -ﷺ- (نهى أن يصلي الرجل وليس على منكبه شيء)٢.
▪️الثالث والعشرون: الاستمرار في الطواف بعد إقامة الصلاة.

وهذا خطأ ، لأنه إذا أقيمت الصلاة المفروضة لزم قطع الطواف وأداء الصلاة ويواصل طوافه بعد الصلاة ، يكمل من حيث وقف ولا يعد الشوط من جديد.
ـــــــــ

١-حديث حسن رواه ابن ماجه.

٢-رواه البخاري.
📚Sumber : “Al Akhtha’ Fit Thawaf Was Sa’i” tulisan Asy Syaikh Badr Bin Muhammad Al Badr Al ‘Anazy حفظه اللّٰه .
📲http://www.albader1.com/
🌏http://cutt.us/EX4li
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

telegram.me/dinulqoyyim

Makalah Ringkas Manasik Haji Dan Umrah


Penulis: Al-Ustadz .Abdul Qodir Abu Fa’izah,Lc

Manasik Haji & Umroh

Manasik haji yang afdhol dan utama adalah tamattu’, yaitu seorang melakukan
umrah pada bulan-bulan haji (Syawwal, Dzulqo’dah, dan  awal bulan Dzulhijjah) yang diakhiri tahallul. Kemudian dilanjutkan kegiatan haji pada tanggal 8  Dzulhijjah dengan memakai ihram menuju Mina.Intinya, dimulai dengan umrah, lalu dilanjutkan dengan haji.

Tata Cara Umrah (bagi haji tamattu’)

Ihram:

Sebelum pakai ihram, maka mandilah, pakailah minyak wangi
pada badan , bukan pada pakaian.q

Lalu pakailah ihram bagi pria. Wanita tetap memakai jilbab
panjang/kerudung.q

Ketika di miqot   ,menghadaplah ke kiblat sambil
membaca doa masuk ihram:q

 

لَبََّيْـكَ اللهُمَّ بعُمْرَََةٍ

“Ya Allah aku penuhi panggilanmu melaksanakan umrah”.

Setelah itu, perbanyak membaca talbiyah yang berbunyi:q

لـَبَّيْـكَ اللهُمَّ لـَبَّيْكَ, لـَبََّيْكَ لا شَريْكَ لَكَ لَبَّيْكَ,
إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَة لَكَ وَالْمُلْكَ لا شَريْكَ لَكَ

 

Talbiyah ini dibaca hingga tiba di Makkah.

Jika seorang sudah ihram dan baca doa ihram di miqot, maka
telahq diharamkan baginya melakukan perkara berikut: Jimak beserta
pengantarnya,melakukan dosa, debat dalam perkara sia-sia,memakai pakaian biasa yang berjahit, tutup kepala bagi pria, pakai parfum, memotong/cabut rambut dan bulu, memotong kuku, berburu, melamar, dan akad nikah.

Namun dibolehkan perkara berikut: Mandi, garuk badan,
menyisiriq kepala, bekam, cium bau harum, menggunting kuku yang hampir patah,melepas gigi palsu, bernaung pada sesuatu yang tak menyentuh kepala-seperti, payung, mobil, pohon, bangunan, dll-, memakai ikat pinggang, memakai sandal, cincing, jam dan kaca mata.

Tawaf

Putuskan talbiyah, jika tiba di Makkah.q

Masuk masjidil Haram sambil baca doa masuk masjid:

اللّهُمَّ افـْتَحْ لِيْ أبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Tawaflah dari Hajar Aswad sambil menampakkan lengan kananq

Jika tiba di Hajar Aswad , bacalah doa: “Bismillahi wallahu akbar” sambil cium Hajar Aswad atau jika tak bisa diisyaratkan dengan tangan kanan. Lalu mulailah berputar dengan perbanyak doa dan dzikir.

Tiba di Rukun Yamani, maka usap Rukun Yamani. Setelah itu
baca doa ini:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَة وَقِـنَا
عَـذَابَ النَّار

Baca doa ini dari Rukun Yamani Sampai ke Hajar Aswad.

Demikianlah seterusnya sampai selesai 7 putaran yang diakhiri di Hajar Aswad atau garis lurus ke Hajar Aswad.q

Usai tawaf, sholat sunnatlah dua raka’at di belakang maqom Ibrahim menghadap kiblat dengan membaca Al-Fatihah dan Al-Kafirun dalam raka’at
pertama.Lalu Al-Fatihah dan Al-Ikhlash dalam raka’at.

Belakangilah kiblat untuk menuju ke kran-kran air Zam-Zam. Minum
air Zam-Zam sebanyaknya, lalu siram kepala, tapi jangan mandi atau wudhu
disitu!! Usai minum, datanglah ke Hajar Aswad/garis lurus HajarAswad
untukq mencium atau isyarat kepadanya sambil baca: “Bismillahi wallahu akbar”.

Setelah itu, belakangi kiblat. Maka disana anda temukan bukit Shofa untuk melaksanakan sa’i.

Sa’i

Mendakilah ke shofa sambil berdoa:q

إنَّ الصَّفا وَالْمَرْوَة مِنْ شَعَائِر ِاللهَ, أبْدَأ بمَا بَدَأ اللهُ
به

Jika telah berada di atas Shofa, menghadap ke kiblat , maka
bacalahq

Allahu akbar (3X), dan Laa ilaaha illallah (3X) sambil angkat tangan berdoa:

 

لا إلهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَريْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ
الْحمد وهو على كل شيئ قدير

لا إله إلا الله وحده , أنجز وعده ونصر عبده  وهزم الأحزاب وحده

 

Ini dilakukan tiga kali. Setiap kali selesai membaca doa ini, maka dianjurkan
berdoa banyak dan doanya bebas. Tak ada doa khusus. Silakan pilih doa sendiri.

Setelah itu berjalanlah dengan pelan menuju bukit Marwah. Jika
tiba dibatas/isyarat lampu hijau, berlarilah semampunya hingga diisyarat berikutnya yang juga warna hijau.

Jika telah lewat isyarat tsb, jalanlah pelan hingga tiba di Marwah.q

Kalau sudah di atas Marwah, baca lagi Allahu akbar (3X), dan
Laa ilaaha illallah (3X) sambil angkat tangan berdoa:

لا إله إلا الله وحده لا شريك له, له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير

لا إله إلا الله وحده , أنجز وعده ونصر عبده  وهزم الأحزاب وحده

 

Ini dilakukan tiga kali. Setiap kali selesai membaca doa ini, maka dianjurkan
berdoa banyak dan doanya bebas. Tak ada doa khusus. Silakan pilih doa sendiri.

Dari Shofa ke Marwah, terhitung satu putaran. Lalu dari Marwah ke  Shofa, itu sudah dua putaran. Intinya: bilangan genap selalu di Shofa, dan ganjil di Marwah. Jadi, 7 putaran yang akan kita lakukan berakhir di Marwah Jika selesai 7 putaran yang tetap diakhiri doa di atas, maka keluarlah dari Marwah ke tukang cukur dan lakukan tahallul. Bagi pria rambut dicukur rata-tanpa digundul-, dan bagi wanita potong ujung rambut seukuran 1 ruas jari.Wanita usahakan bawa gunting sendiri sehingga bisa potong sendiri.

Nah, selesailah umrah kita dengan tahallul tsb. Sekarang boleh pakai baju biasa dan melakukan beberapa hal yang dilarang dalam umrah, selain ma’shiyat. Boleh jimak dengan istri, pakai parfum, potong kuku,dll.

Tata Cara Haji

Adapun tata haji secara ringkas dan sesuai sunnah, maka silakan ikuti petunjuk
dan amalan-amalan berikut ini:

Ihram

Usai melaksanakan umrah, kita tunggu tanggal 8 Dzulhijjah
yang disebut “Hari Tarwiyah”.Maka mulailah ihram di hotel masing-masing di Makkah yang diawali dengan mandi, dan pakai parfum di badan, bukan di pakaian ihram.

Setelah pakai ihram, bacalah doa ihram:

 

لبيك اللهم حجة

Mabit/Bermalam di Mina

Lalu berangkatlah ke Mina pada pagi hari setelah terbit matahari, tanggal 8 Dzulhijjah tsb. Sesampai di Mina, qoshor ,tanpa di jama’ antara  sholat
Zhuhur dan Ashar. Artinya: Kerjakan sholat Zhuhur 2 raka’at pada waktunya dan Ashar dua raka’at pada waktunya.

Demikian pula Sholat Maghrib dan Isya’ diqoshor, tanpa dijama’. Bermalamlah di Mina agar bisa sholat Shubuh disana sebagaimana sunnah Nabi –Shollallahu alaihi wasallam-.

 

Wuquf/Berdiam Diri di Arafah

Usai sholat Shubuh di Mina, berangkatlah ke Arafah setelah terbit matahari.Waktu itu sudah tanggal 9 Dzulhijjah.Sambil bertalbiyah.

Tiba di Arafah lakukan sholat Zhuhur dan Ashar dua-dua raka’at, yaitu dijama’taqdim dan qoshor. Jika anda sudah jelas berada dalam batas Arafah, berdolah sambil angkat tangan.Disini tak ada doa yang diwajibkan, bebas berdoa. Namun jika mau berdoa, maka pakailah doa Nabi-Shollallahu alaih wasallam- dan perbanyak baca:

 

لا إله إلا الله وحده لا شريك له, له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير

 

Tetaplah berdoa sampai tenggelam matahari. Ingat jangan
sampai waktu kalian habis bicara dan jalan. Gunakan baik-baik untuk berdoa karena Allah Ta’ala mendekat ke langit dunia di hari Arafah. Ingat jangan sampai tinggalkan Arafah sebelum  matahari
terbenam !!

Mabit/Bermalam di Muzdalifah

Tinggalkanlah Arafah setelah matahari terbenam menuju
Muzdalifah.Setiba di Muzdalifah, langsung kerjakan sholat Maghrib dan
Isya’  dengan jama’ta’khir dan qoshor.Artinya: Maghrib dikerjakan di waktu Isya’ tetap 3 raka’at, dan Isya’ 2 raka’at.

Usai sholat, istirahat dan tidurlah, jangan ada kegiatan
karena  besok ada kegiatan berat. Jika mau, berwitir sebelum tidur seperti kebiasaan anda sehari-hari. Tak usah pungut batu di malam itu seperti sebagian orang
karena itu juga tak ada sunnahnya !

Bermalamlah di Muzdalifah sampai shubuh agar bisa kerjakan
sholat shubuh disana.q

Usai sholat shubuh, duduklah banyak berdzikir dan berdoa
sambilq
angkat tangan atau bertalbiyah. Hindari dzikir jama’ah karena tak ada
tuntunannya dalam agama kita.

Jangan tinggalkan Muzdalifah selain orang-orang lemah,
sepertiq
orang tua lansia, wanita, anak kecil, dan petugas haji. Orang ini boleh pergi
setelah pertengahan malam.

Melempar Jumrah Aqobah/Kubro

Tinggalkan Muzdalifah sebelum terbit matahari pada tanggal
10q
Dzulhijjah hari ied , sambil bertakbir, dan bertalbiyah menuju Mina melempar.

Boleh pungut batu yang seukuran antara biji coklat dan biji
kacangq
dimana saja, baik di perjalanan menuju Mina atau di Mina sendiri ataupun dimana
saja.

Lemparlah Jumrah Aqobah setelah terbitnya matahari sebanyak
7q
lemaparan batu kecil yang anda pungut tadi. Ketika melempar menghadap Jumrah,
maka jadikan Makkah sebelah kirimu, dan Mina (lokasi perkemahan) sebelah
kananmu.

Setiap kali melemparkan batu kecil tsb, ucapkanlah “Allahu
akbar”q
dan usahakan masuk ke dalam kolam. Jika meleset dari kolam, ulangi.Dan Seusai
melempar, putuskan talbiyah.

Mencukur Rambut/Tahallul Pertama

Seusai melempar, maka gundullah rambut kalian  atau
pendekkan/cukurq
rata. Adapun wanita, maka potong rambut sendiri dengan gunting yang dibawa
seukuran 1 ruas jari.

Dengan ini berarti anda telah melakukan tahallul awal. Maka
andaq
sekarang boleh pakaian biasa, gunakan parfum, gunting kuku dan bulu, dll. Namun
Jimak dengan istri belum boleh !!

Menyembelih Kambing

Sembelihlah kambing pada tanggal 10 Dzulhijjah atau
setelahnya pada hari-hari tasyriq (tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah).q

Dilarang keras menyembelih kambing sebelum tanggal 10
Dzulhijjah.q
Barangsiapa yang menyembelih sebelum tgl tsb, maka sembelihannya tidak sah,
harus diganti, atau puasa 3 hari pada hari-hari tasyriq, dan 7 hari di
Indonesia.

Bagi petugas pembeli dan penyembelih kambing yang biasanya
dijabatq
oleh ketua kloter atau pembimbing, maka kami nasihatkan agar takut kepada Allah
jangan sampai menyembelih hadyu/kambingnya sebelum tgl 10.Jika kalian lakukan
itu, maka kalian telah berdosa karena membuat ibadah orang kurang paahalanya.
Jika pengurus ambil keuntungan dari kambing yang disembelih sebelum tgl 10
tersebut, maka ia telah memakan harta orang dengan cara yang haram dan batil.
Bertaqwalah kepada Allah dan takut pada hari kalian akan diadili di padang
Mahsyar !!

Menyembelih hewan korban bagi jama’ah haji tidaklah wajib, yangq
wajib hari itu adalah menyembelih kambing yang memang wajib dilakukan oleh haji tamattu’ atau qiron. Kambing ini disebut “hadyu”. Jangan sampai tertipu dengan sebagian orang yang tidak takut kepada Allah yang mewajibkan potong hewan korban di waktu itu, padahal tidak wajib karena hanya semata-mata ingin meraih keuntungan yang banyak !!

Tawaf  Ifadhoh

Setelah cukur dan memakai baju biasa, berangkatlah menuju
Makkah untuk tawaf ifadhoh. Lakukan tawaf sebagaimana waktu umrah sebanyak 7 putaran, lalu sholat sunnat 2 raka’at di belakang maqom Ibrahim.Kemudian mengarahlah ke kran-kran air Zamzam untuk minum sebanyak-banyak dan siram kepala. Setelah itu kembali ke Hajar Aswad cium atau lambaikan tangan pada garis lurus dengan Hajar Aswad.

Sa’i

Berikutnya anda menuju ke shofa dan lakukan amalan-amalanq
sebagaimana telah dijelaskan pada “Tata Cara Umrah”, tadi di atas.

Usai 7 Putaran, maka anda dianggap telah bertahallul
kedua, namun tanpa bercukur lagi. Maka dengan ini anda dibolehkan melakukan jimak dengan istri.

Tawaf Ifadhoh dan sa’I boleh dilakukan hari-hari tasyriq atau sisaq hari-hari haji lainnya selama Anda disana. Tapi lebih cepat lebih bagus. Namun ingat, jangan sampai jimak sebelum lakukan 2 hal ini.

Mabit/Bermalam di Mina

Selesai tawaf Ifadhoh dan sa’I di Makkah,maka kembalilah ke
Minaq untuk bermalam selama 2 atau 3 hari. Bermalam disana wajib.

Selama 3 hari di Mina, sholat Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya’  dikerjakan secara qoshor. Artinya dikerjakan Zhuhur dua raka’at pada waktunya, Ashar 2 raka’at pada waktunya, dan Maghrib tetap pada waktunya, serta Isya’ 2 raka’at pada waktunya.

Siang harinya tgl 11 setelah shalat zhuhur, berangkatlah ke 3 jumrah untuk melempar, dan ambil batu dimana saja sebanyak 21 biji.

Berikut anda berangkat ke tempat pelemparan, dan lemparlah 3 jumrahq
tsb, yang dimulai dengan Jumrah Shughra dekat Masjid Khoif sebanyak 7 lemparan.

Di Jumrah Shughra ini, lakukan beberapa amalan berikut:

1-
Ketika melempar disini menghadaplah ke arah Jumrah dengan menjadikan Makkah sebelah
kirimu & Mina (lokasi perkemahan) sebelah kananmu, 2- Lemparlah Jumrah
shughra dengan batu kecil sambil ucapkan “Allahu akbar” setiap kali melempar,
3-Carilah tempat sunyi untuk berdo’a disini menghadap kiblat sambil angkat
tangan.

Lalu anda menuju ke Jumrah Wustho (tengah) dan lakukanlah 3
amalan yang anda lakukan tadi di Jumrah Wustho.q

Selanjutnya menuju ke Jumrah Kubro yg biasa disebut “Jumrahq
Aqobah”, dan lakukan juga amalan disini yang anda lakukan di Jumrah Shughro dan
Wustho. Cuma disini anda tak dianjurkan berdoa. Tapi lansung pergi !! Inilah
yang dilakukan pada tgl 11.

Pada tgl 12q & 13 Dzulhijjah, lakukanlah saat itu apa yang anda
lakukan pada tgl 11 tadi di atas.

Jika anda tergesa-gesa karena ada hajat, anda boleh
tinggalkan Minaq
pada tgl 12 Dzulhijjah. Ingat jangan sampai kedapatan waktu maghrib. Jika
kedapatan maghrib sementara masih di Mina, maka anda harus bermalam lagi.

Jika anda selesai melempar tgl 13 Dzulhijjah-dan inilah yg
afdhol-,q
maka anda dianggap telah menyelesaikan ibadah haji. Semoga ibadah hajinya
ikhlash dan mabrur.

Tawaf Wada’/Tawaf Perpisahan

Tawaf wada’ hukumnya wajib dilakukan jika seseorang sudah
hendakq
bersafar meninggalkan Makkah. Kota kenangan dalam beribadah dan taat kepada
Allah. Semoga Allah masih perkenankan kita kembali lagi ke Makkah.

Lakukanlah tawaf wada’ sebagaimana halnya tawaf ifadhoh dan
tawaf umrah. Tapi dengan memakai pakaian biasa.q

Jika anda ingin-sebelum keluar dari Masjidil, berdoalah diq
Multazam, yaitu suatu tempat antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Berdoa’alah
disini banyak-banyak tanpa harus angkat tangan. Doa dengan sungguh-sungguh
sambil menempelkan dada, wajah, kedua lengan dan tangan untuk mengingat akan
kondisi kita di padang Mahsyar dan menunjukkan di hadapan Allah akan kelemahan
kita dan butuhnya kita kepada-Nya. Ini merupakan sunnah. Namun jangan diyakini
bahwa kita tempelkan badan kita disitu karena ada berkahnya. Itu hanya sekedar
menunjukkan perasaan butuh dan rendah diri kita kepada Allah,serta sekedar
ikuti sunnah.

Sebelum kembali, berilah kabar gembira keluarga di
Indonesia. Laluq
sesampai di Indonesia, jangan langsung ke rumah, tapi ke masjid dulu sholat
sebagaimana sunnah Nabi –Shollallahu alaihi wasallam.

Demikian manasik yang bisa tuliskan disini menurut sunnah.
Wallahuq
a’lam. Semoga ini merupakan amal sholeh kami. Akhir doa kami, alhamdulillah
washollallahu alaih wasallam.

Dinukil dari: http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1814

Beberapa Kesalahan yang Sering Terjadi di Musim Haji


Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc

Perjalanan suci menuju Baitullah membutuhkan bekal yang cukup. Di samping bekal harta, ilmu pun merupakan bekal yang mutlak dibutuhkan. Karena dengan ilmu, seseorang akan terbimbing dalam melakukan ibadah hajinya sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih dari itu, akan terhindar dari berbagai macam bid’ah dan kesalahan, sehingga hajinya pun sebagai haji mabrur yang tiada balasan baginya kecuali Al-Jannah.

Berangkat dari harapan mulia inilah, nampaknya penting sekali untuk diangkat berbagai kesalahan atau bid’ah (hal-hal yang diada-adakan dalam agama) yang sekiranya dapat menghalangi seseorang untuk meraih predikat haji mabrur. Di antara kesalahan-kesalahan itu adalah sebagai berikut:

Beberapa Kesalahan Sebelum Berangkat Haji

1. Mengadakan acara pesta (selamatan) dengan diiringi bacaan doa atau pun shalawat tertentu. Bahkan terkadang dengan iringan musik tertentu. Perbuatan semacam ini tidak ada contohnya dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

2. Mengiringi keberangkatan jamaah haji dengan adzan atau pun musik.

3. Mengharuskan diri berziarah ke kubur sanak-famili dan orang-orang shalih.

4. Keyakinan bahwasanya calon jamaah haji itu selalu diiringi malaikat sepekan sebelum keberangkatannya, sehingga doanya mustajab.

5. Kepergian wanita ke Baitullah tanpa disertai mahramnya. Atau melakukan apa yang diistilahkan dengan ‘persaudaraan nisbi/semu’, yaitu menjadikan seorang jamaah haji pria sebagai mahram bagi si wanita dalam perjalanan hajinya (padahal pria tersebut bukan mahram yang sesungguhnya), yang kemudian dapat bermuamalah sebagaimana layaknya dengan mahramnya sendiri. Demikian pula ‘nikah nisbi/semu’, yaitu dinikahkannya seorang calon jamaah haji wanita (baik sudah bersuami atau belum) dengan calon jamaah haji pria, yang kemudian keduanya dapat bermuamalah sebagaimana layaknya suami-isteri. Tentu, yang demikian ini adalah kemungkaran yang tidak diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

6. Melakukan perjalanan haji semata-mata bertujuan ingin ziarah ke makam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

7. Melakukan shalat dua rakaat ketika akan berangkat haji.

8. Bersalaman bahkan berpelukan dengan seseorang yang bukan mahramnya menjelang keberangkatan ke tanah suci.

Beberapa Kesalahan Ketika Berihram dan Bertalbiyah

1. Melewati miqatnya dalam keadaan tidak berihram. Hal ini sering terjadi pada sebagian jamaah haji Indonesia kelompok kedua yang melakukan perjalanan dari tanah air (langsung) menuju Makkah. Mereka tidak berihram ketika melewati miqat (di atas pesawat terbang) dan baru berihram setibanya di Jeddah. Padahal kota Jeddah bukanlah miqat menurut pendapat yang benar.

2. Bertalbiyah bersama-sama dengan dipimpin seseorang di antara mereka.

3. Selalu dalam keadaan menampakkan pundak kanan ketika berihram (idhthiba’), padahal yang demikian itu hanya disunnahkan pada thawaf qudum.

4. Meninggalkan bacaan talbiyah dan menggantinya dengan tahlil dan takbir.

Beberapa Kesalahan Ketika Thawaf

1. Mengharuskan diri untuk mandi sebelum berthawaf.

2. Melafadzkan niat thawaf.

3. Mengangkat kedua tangan saat berisyarat kepada Hajar Aswad, seperti ketika takbiratul ihram dalam shalat.

4. Memulai putaran thawaf sebelum rukun Hajar Aswad.

5. Melakukan shalat tahiyyatul masjid sebelum thawaf.

6. Hanya mengelilingi bangunan Ka’bah yang bersegi empat saja dan tidak mengelilingi Hijr.

7. Melakukan jalan cepat (raml) pada seluruh putaran thawaf, padahal itu hanya dilakukan pada 3 putaran pertama dan itu pun khusus pada thawaf qudum saja.

8. Berdesak-desakan untuk mencium Hajar Aswad, yang terkadang sampai mendzalimi jamaah haji lainnya.

9. Mengusap-usap Hajar Aswad dalam rangka tabarruk (mengais berkah) dan berkeyakinan bahwa yang demikian itu dapat mendatangkan manfaat dan menolak bala.

10. Mencium dan mengusap-usap sebagian sudut Ka’bah atau keseluruhannya. Bahkan terkadang ada yang menarik-narik kiswah (kain penutup Ka’bah) untuk menyobeknya guna dijadikan jimat.

11. Membaca doa/dzikir khusus pada setiap putaran thawaf, karena yang demikian itu tidak ada tuntunannya dari baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

12. Berthawaf dalam keadaan bersedekap.

13. Keyakinan bahwasanya barangsiapa mampu menggapai dinding atas dari pintu Ka’bah, maka dia telah berhasil memegang Al-‘Urwatul Wutsqa, yaitu: لاَ

إِلَهَ إِلاَّ اللهُ.

14. Berdesak-desakan untuk shalat (persis) di belakang maqam Ibrahim, karena dapat mengganggu jamaah lainnya yang sedang melakukan thawaf. Padahal diperbolehkan baginya untuk melakukannya walaupun agak jauh di belakang maqam Ibrahim.

15. Lebih parah lagi bila shalat setelah thawaf tersebut dilakukan lebih dari 2 rakaat.

16. Berdiri dan berdoa bersama seusai thawaf dengan satu komando. Lebih tragis lagi manakala doa itu dibaca dengan suara yang amat keras dan mengganggu kekhusyukan ibadah jamaah haji lainnya.

Beberapa Kesalahan Ketika Melakukan Sa’i

1. Berwudhu’ terlebih dahulu sebelum bersa’i, walaupun masih dalam keadaan suci.

2. Mengharuskan diri untuk naik ke Bukit Shafa dan menyentuhkan badan ke dindingnya.

3. Mengangkat kedua tangan sebagaimana layaknya takbiratul ihram sambil bertakbir tiga kali ketika berada di atas Shafa dan Marwah.

4. Berlari-lari kecil pada seluruh putaran di antara Shafa dan Marwah. Padahal yang dituntunkan hanyalah ketika lewat di antara dua tanda hijau saja.

5. Melakukan shalat dua rakaat seusai sa’i.

Beberapa Kesalahan ketika di Arafah

1. Mengharuskan diri mandi untuk menyambut hari Arafah.

2. Melakukan wuquf di Arafah pada tanggal 8 Dzul Hijjah dalam rangka ihtiyath (berhati-hati), atau karena adanya keyakinan bahwa hari Arafah itu pada tanggal 8 Dzul Hijjah sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian sekte sesat Syi’ah Rafidhah.

3. Melakukan wuquf di luar batas wilayah Arafah.

4. Meninggalkan pembicaraan (membisu) dan meninggalkan doa.

5. Masuk ke dalam kubah yang berada di atas Jabal Rahmah, lalu shalat padanya atau mengelilinginya (berthawaf) sebagaimana layaknya berthawaf di Ka’bah.

6. Berangkat dari Makkah ke Arafah sejak tanggal 8 Dzul Hijjah.

7. Keyakinan bahwa wuquf di Arafah pada Hari Jum’at merupakan haji akbar dan senilai dengan 72 kali haji.

8. Meninggalkan Arafah sebelum terbenamnya matahari tanggal 9 Dzul Hijjah.

Beberapa Kesalahan ketika di Muzdalifah

1. Tergesa-gesa saat beranjak dari Arafah menuju Muzdalifah.

2. Mengharuskan diri mandi untuk menginap di Muzdalifah.

3. Tidak segera melaksanakan shalat Maghrib dan ‘Isya saat tiba di Muzdalifah, bahkan sibuk mengumpulkan batu-batu kerikil.

4. Tidak menginap di Muzdalifah tanpa ada udzur syar’i.

5. Mengisi malamnya dengan shalat malam dan dzikir. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan malam tersebut untuk istirahat.

Beberapa Kesalahan ketika Melempar Jumrah

1. Mengharuskan diri untuk mandi sebelum melempar jumrah.

2. Mencuci batu kerikil terlebih dahulu sebelum dilemparkan.

3. Melempar jumrah dengan menggunakan batu besar, sepatu, dan lain sebagainya.

4. Keyakinan bahwa melempar jumrah itu dalam rangka melempar setan. Sehingga tidak jarang dari sebagian jamaah haji yang melemparkan benda-benda yang ada di sekitarnya, seperti sandal, payung, botol, dsb, agar lebih menyakitkan bagi setan.

5. Berdesak-desakan (saling mendorong) jamaah haji yang lainnya untuk bisa melakukan pelemparan.

6. Melemparkan kerikil-kerikil tersebut secara sekaligus. Padahal yang dituntunkan oleh baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melemparkannya satu demi satu sambil diiringi takbir.

7. Mewakilkan pelemparan kepada orang lain, padahal ia mampu untuk melakukannya.

Beberapa Kesalahan Ketika Menyembelih Hewan Kurban dan Bertahallul

1. Enggan untuk menyembelih hewan kurban yang merupakan kewajiban untuk haji Tamattu’-nya, dan lebih memilih untuk bershadaqah senilai harga hewan kurban tersebut.

2. Menyembelih hewan kurban untuk haji tamattu’ di Makkah sebelum hari nahr (tanggal 10 Dzulhijjah).

3. Mencukur dari sebelah kiri, atau menggundul/mencukur sebagian kepala saja bagi laki-laki.

4. Melakukan thawaf di seputar masjid yang berada di dekat tempat pelemparan jumrah.

5. Tidak melakukan sa’i setelah thawaf ifadhah dalam haji tamattu’.

Beberapa Kesalahan Ketika Thawaf Wada’

1. Meninggalkan Mina pada hari nafar (12 atau 13 Dzulhijjah) sebelum melempar jumrah dan langsung melakukan thawaf wada’, kemudian kembali ke Mina untuk melempar jumrah. Setelah itu mereka langsung pulang ke negara masing-masing. Padahal semestinya, thawaf wada’-lah yang merupakan penutup dari seluruh manasik haji.

2. Berjalan mundur seusai thawaf wada’, dengan anggapan sebagai tanda penghormatan terhadap Ka’bah.

3. Membaca doa-doa tertentu yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai “ucapan selamat tinggal” terhadap Ka’bah.

Beberapa Kesalahan ketika Berada di Kota Madinah

1. Meniatkan safar untuk menziarahi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal niat yang benar adalah dalam rangka mengunjungi Masjid Nabawi dan shalat di dalamnya.

2. Menitipkan pesan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui jamaah haji dan para penziarah, agar disampaikan di kuburan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih aneh lagi disertai foto/KTP yang bersangkutan.

3. Adanya praktik-praktik kesyirikan yang dilakukan di kuburan Nabi, antara lain:

  • Menyengaja shalat dengan menghadap ke kubur.
  • Bertawassul atau meminta syafaat kepada beliau secara langsung.
  • Mengusap-usap dinding kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ngalap berkah, yang tidak jarang disertai dengan tangisan histeris.
  • Berdoa secara langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mencukupi kebutuhannya.

4. Meyakini bahwa ziarah ke kubur Nabi merupakan bagian dari manasik haji.
5. Keyakinan bahwa haji seseorang tidaklah sempurna tanpa menetap di Madinah selama 8 hari untuk melakukan shalat wajib selama 40 waktu, yang diistilahkan dengan “Arba’inan”1.

Beberapa Kesalahan Setiba Di Kampung Halaman

1. Memopulerkan gelar ’Pak Haji’ atau ‘Bu Haji’. Sampai-sampai ada yang marah/tersinggung bila tidak dipanggil dengan panggilan tersebut.

2. Merayakannya dengan aneka pesta sambil diiringi shalawat Badar dan yang sejenisnya.

3. Meminta barakah kepada orang yang pulang haji, dengan keyakinan bahwa para malaikat sedang mengelilinginya.

Sumber Bacaan:
1. At-Tahqiq wal-Idhah Lilkatsir Min Masa`ilil Hajji wal Umrah waz Ziyarah, karya Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz.
2. Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Kama Rawaha ‘Anhu Jabir radhiyallahu ‘nhuma, karya Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani.
3. Manasikul Hajji Wal ‘Umrah, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
4. Al-Manhaj limuridil ‘Umrah wal Hajj, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
5. Shifat Hajjatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu.
6. Dalilul Haajji wal Mu’tamir wa Zaairi Masjidr Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Majmu’ah minal Ulama’, terbitan Departemen Agama Saudi Arabia.
7. Mu’jamul Bida’, karya Asy-Syaikh Ra`id bin Shabri bin Abi Alfah.

Footnote:

1 Hal ini berdasarkan sebuah hadits:

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِيْنَ صَلاَةً لاَ يَفُوْتُهُ صَلاَةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ وَبَرِيْءٌ مِنَ النِّفَاقِ

“Barangsiapa yang shalat di masjidku (Masjid Nabawi) sebanyak empat puluh (40) shalat, tanpa ada satu pun yang terlewati, maka ditetapkan baginya: bebas dari an-naar, selamat dari adzab, dan terlepas dari nifaq.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani, dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)
Namun derajat hadits ini munkar (lebih parah daripada dha’if atau lemah). Hal itu dikarenakan tidak ada yang meriwayatkannya kecuali seorang perawi yang bernama Nabith, dan ia adalah seorang yang majhul (tidak dikenal). Kemudian apa yang ia riwayatkan menyelisihi riwayat seluruh perawi hadits tersebut. (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah no. 364 atau Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 6/318 karya Asy-Syaikh Al-Albani)

Sumber: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=385

Dinukil dari: http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=491