Category Archives: MUTIARA SALAF

MEWASPADAI “MAKAR” AHLUL AHWA WAL BID’AH


?Berkata al Imam al Barbahariy rahimahullah :

 

“وإذا ظهر لك من إنسانٍ شيءٌ من البدع فاحْذَره، فإن الذي أَخْفَى عنك أكثر مما أظهَر”

 

💥🔰”Apabila nampak bagimu dari seseorang sesuatu dari kebid’ahan, maka berhati-hatilah darinya.

 

⚠Maka sesungguhnya yang tidak nampak atasmu lebih banyak dari pada yang ditampakkan.”

 

📖Syarhus Sunnah

〰〰〰〰

🔸Berkata asy Syaikh al Allamah Rabi’ bin Hadiy al Madkhaliy hafidzahullah :

 

“أهل البدع والأهواء معروفون بالتستر والتَّقِيّة، أهل البدع لا يُظهِرون لك كل شيءٍ من عقائدهم ومناهجهم، فالمبتدع يُعطيك شيئًا فشيئًا، كما قِيل عن أهل البدع إنه لا يُطعِمُك السم من أول جلسة، وإنما يُطعِمُك العسل أولاً، وهكذا حتى إذا أَنِسْتَ إليه دَسَّ سمومه عليك، ولبّس عليك، وأدخَلَك في بدعته. فإذا ظهر لك شيءٌ من البدع عند أحد فخُذ حذرك منه، فإنهم أهل مكر وأهل خِدَاع” .

 

📖 [عون الباري ص 876]

 

⛔”Ahlul bid’ah wal ahwa mereka dikenal dengan menyembunyikan hakikat mereka dan taqiyyah (dusta). Mereka ahlul bid’ah tidak menampakkan kepadamu sedikitpun dari aqidah mereka, tidak pula manhaj mereka.

 

🔥Maka mereka ahlul bid’ah, memberimu sedikit demi sedikit (dari kebid’ahan mereka). 💐Sebagaimana dikatakan tentang ahlul bid’ah, bahwa mereka tidaklah memberimu racun diawal (majelismu dengannya). Tapi mereka memberimu madu terlebih dahulu.

⚠Demikianlah sampai tatkala engkau telah senang dengannya, maka ia akan menghembuskan racun atasmu dan menyamarkan kebid’ahan atasmu dan memasukkanmu ke dalam kebid’ahannya.

 

🔰Maka apabila nampak bagimu dari seseorang dari kebid’ahannya, maka berhati-hatilah darinya.

SESUNGGUHNYA DIA ADALAH AHLI MAKAR, AHLI TIPU DAYA.

 

📕Aunul Barriy (hal. 876)

■◎■◎■◎■

🌠Forum Salafy Purbalingga

DUA SEBAB KELUARNYA SESEORANG DARI MANHAJ AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH


Ibnu Baththah rahimahullah berkata,

“Ketahuilah  wahai saudara-saudaraku, aku telah berpikir tentang sebab yang mengeluarkan sekelompok orang dari As Sunnah dan al Jamaah, lantas menggiring mereka menuju bid’ah dan keburukan, sekaligus membuka pintu bencana bagi hati mereka dan menghalangi cahaya kebenaran dari pandangan mereka.

Aku dapati bahwa  sebabnya ada dua sisi:

(Sebab) pertama: Membahas, berdalam-dalam, dan banyak bertanya tentang hal-hal yang tidak membahayakan apabila orang berakal tidak tahu, tidak pula bermanfaat bagi orang beriman apabila memahaminya.

(Sebab) yang lain:  Duduk bergaul dengan orang yang tidak dirasa aman dari fitnahnya, yang bersahabat dengannya justru merusak kalbu.”

[al Ibanah al Kubra, 1/390, karya Ibnu Baththah]

Alih Bahasa: Syabab Forum Salafy Indonesia

Dinukil dari: http://forumsalafy.net/?p=9938

***

: قال ابن بطة رحمه الله

«اعلموا إخواني أنِّي فكَّرتُ في السبب الذي أخرج أقوامًا من السنَّة والجماعة، واضطرَّهم إلى البدعة والشناعة، وفتح باب البليَّة على أفئدتهم، وحجب نور الحقِّ عن بصيرتهم، فوجدتُ ذلك من وجهين

 أحدهما:  البحث والتنقير وكثرة السؤال عمَّا لا يغني ولا يضرُّ العاقلَ جهلُه،

.ولا ينفع المؤمنَ فهمُه

.والآخر: مجالسة من لا تُؤْمَن فتنتُه، وتُفسد القلوبَ صحبتُه»

الإبانة الكبرى» لابن بطَّة (1/ 390

Dosa


Umar bin ‘Abdul Aziz t
“Aku tidak pernah berdusta saat aku mengetahui bahwa kedustaan merugikan pelakunya.” (Siyar A’lam An-Nubala, 5/121)

Ibn Syubrumah t
“Aku heran terhadap orang yang menjaga makanannya dalam keadaan takut terhadap penyakit, akan tetapi dia tidak menjaga dari perbuatan dosa dalam keadaan takut ancaman neraka.” (Siyar A’lam An-Nubala, 6/348)

Thalaq bin Habib t
“Sesungguhnya hak-hak Allah itu lebih besar dari yang bisa hamba tunaikan dan nikmat Allah itu lebih banyak dari yang bisa dihitung. Maka hendaknya seseorang itu bertaubat di pagi dan sore hari.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4/602)

Syaqiq bin Ibrahim t
“Tanda taubat ialah menangis (menyesal) atas perbuatan (dosa) yang telah dilakukan dan takut akan terjatuh kembali ke dalam dosa (tersebut), tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat dan senantiasa bersama dengan orang-orang yang baik.” (Siyar A’lam An-Nubala, 9/315)

Dinukil dari: http://asysyariah.com/dosa/

JANGAN DUDUK BERSAMA ORANG YANG TERFITNAH


Berkata Mus’ab bin Sa’ad: “Jangan kamu duduk bersama orang yang terfitnah, karena tidak akan meleset darimu karenanya salah satu dari dua perkara:

  1. Boleh jadi dia menjadikan kamu terfitnah sehingga kamu mengikutinya,
  2. Boleh jadi dia akan melukaimu sebelum kamu tinggalkan dia”.

[Dikeluarkan oleh Ibnu Batthoh al-‘Akburiy di dalam “al-Ibanatul Kubro (2/442)]

قال مصعب بن سعد:« لا تُجالِس مفتوناً، فإنه لن يخطئك منه إحدى اثنتين: إما أن يَفتِنَك فتُتابعه، وإما أن يُؤذيَك قبل أن تُفارقه»
[أخرجه ابن بطة العكبري في« الإبانة الكبرى» (٢/٤٤٢)]

Dinukil dari: http://forumsalafy.net/?p=849

POKOK HIKMAH ADALAH DIAM


Muhammad bin ‘Ajlan t mengatakan,

“Ucapan manusia ada empat macam: (1) berzikir mengingat Allah l, (2) membaca al-Qur’an, (3) bertanya tentang sebuah ilmu lalu ia diberi tahu, dan (4) berkata tentang urusan dunia yang diperlukan.
Seseorang berkata kepada Salman al-Farisi z, ‘Berilah aku wasiat!’
Salman mengatakan, ‘Engkau jangan berbicara.’
Lelaki itu menjawab, ‘Orang yang hidup di tengah-tengah manusia tidak mungkin tidak berbicara.’
Salman menukas, ‘Jika demikian, kalau engkau berbicara, bicaralah yang benar. Kalau tidak, diamlah.’
Abdullah bin Mas’ud z mengatakan, ‘Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang benar selain Dia, tidak ada sesuatu di muka bumi ini yang lebih pantas dipenjara dalam waktu yang lama selain lisan.’
Wahb bin Munabbih t mengatakan, ‘Para ahli hikmah bersepakat bahwa pokok hikmah adalah diam’.”

(Jami’ al-‘Ulum wal Hikam hlm. 178)

Dinukil dari: http://asysyariah.com/pokok-hikmah-adalah-diam.html