Category Archives: FIQH

TIDAK PERLU MENGUMUMKAN KAPAN TERJADINYA GERHANA


📡 TIDAK PERLU MENGUMUMKAN KAPAN TERJADINYA GERHANA
al-‘Allamah al-Faqih Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah,
📰🗞🚫 “Adapun menyampaikan berita/informasi kepada manusia kapan terjadi gerhana sebelum terjadinya, maka AKU MEMANDANG TIDAK PERLU MEMBERIKAN BERITA/INFORMASI TENTANGNYA (KAPAN GERHANA/SHALAT GERHANA, pen). Karena apabila mereka diberi kabar/info tentangnya, maka mereka akan bersiap untuknya seakan-akan itu merupakan shalat yang diharapkan. Seakan-akan mereka bersiap untuk shalat ‘id. Sehingga mereka datang di atas kesiapan melakukannya, bukan di atas rasa takut.
🎯 Namun apabila itu terjadi mendadak, akan terwujud perasaan ngeri dan takut, tidak seperti pada orang yang telah tahu sebelumnya.

….
⛴ Karena itu aku berharap agar tidak disebut-sebut dan tidak disebarkan di tengah-tengah manusia, termasuk di mass media, jangan disebarkan. 
🚨 Biarkan manusia tidak tahu, supaya kejadian tersebut datang dalam keadaan mereka tidak siap dan tidak menanti-nantikannya. Sehingga peristiwa gerhana itu menjadi LEBIH MENGENA DALAM JIWA masing-masing.”
📚 Majmu’ Fatawa Ibn ‘Utsaimin 16/299-300

 

وأما إخبار الناس بها قبل حدوثها ، فأنا أرى أنه لا ينبغي أن يخبروا بها ، لأنهم إذا أخبروا بها استعدوا لها وكأنها صلاة رغبة ، كأنهم يستعدون لصلاة العيد ، وصارت تأتيهم على استعداد للفعل لا على تخوف، لكن إذا حدثت فجأة ، حصل من الرهبة والخوف ما لا يحصل لمن كان عالماً . 

…… 
فلهذا أتمنى أن لا تذكر ولا تنشر بين الناس ، حتى لو نشرت في الصحف لا تنشرها بين الناس ، دع الناس حتى يأتيهم الأمر وهم غير مستعدين له وغير متأهبين له ، ليكون ذلك أوقع في النفوس .ا.هـ.

 

📚 مجموع فتاوى ابن عثيمين (16/299-300 )
📮📶 Join Channel telegram kami:

📟 https://t.me/manhajulhaqcom

🌏 http://www.manhajulhaq.com

•••••••••••••••••••••

Sumber:

💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

HUKUM SALAT DI DALAM MIHRAB


🕋❓ HUKUM SALAT DI DALAM MIHRAB
✍🏻 Syaikh Abu Anas Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah
❓ Tanya:

Apa hukum salat di dalam mihrab?
💡 Jawab:

💐 Boleh dan tidak mengapa melakukannya. Malik rahimahullah dan sebagian salaf terdahulu membenci untuk salat di dalam thaq yang itu adalah mihrab sekarang. Akan tetapi, setelah itu, ulama seluruhnya menyelisihi hal ini dan amalan pun tetap pada hal tersebut. Segala puji bagi Allah tabaraka wata’ala.
🔊 Audio:

https://archive.org/download/syaikhmuhammad/syaikhmuhammad.mp3
•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•

#salat #fatwa
🌍 Website: tashfiyah.com ||| telegram.tashfiyah.com

📱 Gabung Channel Majalah Tashfiyah : bit.ly/telegram_tashfiyah

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM THAWAF DAN SA’I (BAG 3)


🇸🇦🌘🕋🕌KESALAHAN-KESALAHAN DALAM THAWAF DAN SA’I (BAG 3)

1⃣5⃣Tidur ketika melakukan thawaf.

Barangsiapa yang tidur ketika melakukan thawaf maka tidak sah thawafnya dan wajib baginya mengulangi thawaf apabila bangun dari tidurnya, dan pada umumnya tidur terjadi pada orang yang melakukan thawaf dalam keadaan ia dipikul diatas kereta dorong atau tandu.
1⃣6⃣Menjadikan ka’bah di sebelah kanan anak kecil ketika ia digendong pada saat thawaf. Dan ini kesalahan, apabila anak kecil melakukan ihram dan digendong oleh walinya maka wajib sang wali menjadikan ka’bah berada di sebelah kiri anak kecil bukan di sebelah kanannya, dikarenakan apabila ia menjadikan ka’bah di sebelah kanannya maka tidak sah thawafnya.
1⃣7⃣Melakukan shalat dua raka’at di belakang Maqam Ibrahim ketika kondisi berdesak-desakan dengan manusia, ini merupakan kesalahan dan bisa membahayakan orang-orang yang sedang melakukan thawaf dan itu tidak boleh.
Berkata Abu Sa’id Al Khudry radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :
((لا ضرر ولا ضرار))
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain”.
Melakukan shalat di belakang Maqam Ibrahim hukumnya sunnah dan memudharatkan orang lain hukumnya haram, maka hendaknya seorang muslim melakukan shalat dua rakaat di tempat manapun yang mudah baginya dari Masjidil Haram dan tidak boleh memudharatkan orang lain.
1⃣8⃣Memperlama dalam beristirahat ketika melakukan thawaf tanpa adanya hajat, dan ini merupakan kesalahan dikarenakan berkesinambungan hukumnya wajib pada thawaf.
Barangsiapa yang merasa lelah maka boleh baginya beristirahat sebentar kemudian ia menyempurnakan thawafnya dan tidak boleh baginya memperlama istirahatnya.
1⃣9⃣Menetapi doa-doa khusus ketika melakukan thawaf dan ini merupakan kesalahan dikarenakan tidak ada doa khusus  pada thawaf namun seorang muslim berdoa dengan doa yang ia kehendaki kecuali ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad maka ia mengucapkan doa :
((ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار))
2⃣0⃣Melakukan thawaf di kawasan Hijr dan ini kesalahan dan tidak sah thawaf seseorang yang melakukannya, dikarenakan Hijr yang disebut oleh manusia dengan sebutan Hijr Ismail termasuk bagian Ka’bah sedangkan thawaf harus dilakukan di luar Ka’bah bukan dari dalam Ka’bah, maka wajib bagi orang yang berhaji atau melakukan umrah untuk melakukan thawaf dari luar Hijr bukan dari dalam Hijr.
2⃣1⃣Melafazhkan niat thawaf, dan ini merupakan kesalahan dikarenakan niat tempatnya di hati bukan di lisan dan melafazhkan niat merupakan kebid’ahan dengan kesepakatan para ulama’.
2⃣2⃣Melakukan shalat dua raka’at dibelakang Maqam Ibrahim dalam keadaan ber-idhtiba’, ini merupakan kesalahan dikarenakan idhtiba’ khusus pada thawaf.
Dan barangsiapa yang ingin melakukan shalat maka hendaknya ia menutupi kedua bahunya dan tidak menyingkap kedua bahunya tersebut dikarenakan Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang seorang laki-laki melakukan shalat dalam keadaan tidak ada yang menutupi bahunya.
2⃣3⃣Terus melakukan thawaf setelah iqamat shalat dikumandangkan, ini merupakan kesalahan dikarenakan apabila shalat fardhu telah diiqomati maka harus memutus thawafnya dan menunaikan shalat dan ia melanjutkan thawafnya setelah shalat, ia menyempurnakannya dari mana ia berhenti dan tidak mengulangi putaran thawaf dari awal.
◾️الأخطاء في الطواف والسعي◾️

           _الجزء الثاني_
▪️الخامس عشر: النوم أثناء الطواف.

مَن نام أثناء الطواف لم يصح طوافه وعليه إعادة الطواف إذا قام من نومه ، ويحصل النوم غالباً لمن يطوف محمولاً على عربة أو سرير.
▪️السادس عشر: جعل الكعبة عن يمين الصغير أثناء حمله في الطواف.

وهذا خطأ ، إذا أحرم الصغير وحمله وليه ، يجب عليه أن يجعل الكعبة عن يساره لا يمينه ، لأنه إذا جعل الكعبة يمينه لم يصح طوافه.
▪️السابع عشر: صلاة ركعتين خلف المقام مباشرة أثناء الزحام.

وهذا خطأ ، وفيه مضايقة ومضرة للطائفيين ، والمضارة لا تجوز ، قال أبو سعيد الخدري -رضي الله عنه-:قال النبي عليه -ﷺ- : (لاضرر ولا ضرار)١.

الصلاة خلف المقام سنة والمضارة محرمة ، فعلى المسلم أن يصلي الركعتين في أي مكان متيسر في المسجد الحرام ولا يضايق الناس.
▪️الثامن عشر: إطالة الاستراحة أثناء الطواف

لغير حاجة.

وهذا خطأ ، لأن الموالاة واجبة في الطواف ، ومن أحس بتعب جاز له أن يستريح قليلاً ثم يكمل طوافه ، ولا يجوز له أن يطيل الاستراحة.
▪️التاسع عشر: التزام أدعية خاصة بالطواف.

وهذا خطأ ، لأن الطواف ليس دعاء خاص ، بل يدعو المسلم بما شاء ، سوى بين الركن اليماني والحجر الأسود فإنه يقول: (ربنا ءاتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة حسنة وقنا عذاب النار).
▪️العشرون: الطواف بين الحجر.

وهذا خطأ ، ولا يصح طواف مَن فعله ، لأن الحجر ، المسمى عند الناس بحجر إسماعيل من الكعبة ، والطواف لابد أن يكون من وراء الكعبة ، لا من داخلها ، فعلى الحاج والمعتمر أن يطوف من وراء الحجر لا من داخله.
▪️الحادي والعشرون: التلفظ بنية الطواف.

وهذا خطأ ، لأن النية محلها القلب لا اللسان ، والتلفظ بها بدعة باتفاق العلماء.
▪️الثاني والعشرون: صلاة ركعتين خلف المقام مضطبعاً.

وهذا خطأ ، لأن الاضطباع خاص في الطواف ، ومن أراد الصلاة فعليه أن يغطي منكبيه ولا يكشفهما ، لأن النبي -ﷺ- (نهى أن يصلي الرجل وليس على منكبه شيء)٢.
▪️الثالث والعشرون: الاستمرار في الطواف بعد إقامة الصلاة.

وهذا خطأ ، لأنه إذا أقيمت الصلاة المفروضة لزم قطع الطواف وأداء الصلاة ويواصل طوافه بعد الصلاة ، يكمل من حيث وقف ولا يعد الشوط من جديد.
ـــــــــ

١-حديث حسن رواه ابن ماجه.

٢-رواه البخاري.
📚Sumber : “Al Akhtha’ Fit Thawaf Was Sa’i” tulisan Asy Syaikh Badr Bin Muhammad Al Badr Al ‘Anazy حفظه اللّٰه .
📲http://www.albader1.com/
🌏http://cutt.us/EX4li
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

telegram.me/dinulqoyyim

KETELITIAN FIQIH IMAM AHMAD رحمه الله تعالى 


🔭📚. KETELITIAN FIQIH IMAM AHMAD رحمه الله تعالى  (ANTARA MENGANTAR JENAZAH DAN MENGHADIRI WALIMATUL ‘URS) 
💐. Ibnul-Qoyyim -rohimahulloh- berkata:
📝. “Imam Ahmad -rohimahulloh- menyebutkan secara nash (tekstual) bahwa seseorang, jika mengiringi jenazah kemudian dia melihat kemungkaran padanya, dan dia tidak mampu menghilangkannya, sesungguhnya dia TIDAK PULANG (artinya, dia tetap mengantarkannya).
📝. Dan dia juga menyebutkan bahwa jika seseorang diundang untuk menghadiri walimah ‘urs (resepsi pernikahan), kemudian dia melihat kemungkaran dan tidak mampu menghilangkannya, maka hendaknya dia PULANG (tidak menghadirinya).”
💐. Ibnul-Qoyyim berkata : Maka aku bertanya kepada guru kami, Ibnu Taimiyyah -rohimahullloh ta’ala- tentang perbedaan (dua kasus tersebut). 

Beliau mengatakan :
[•]. “(Dalan kasus pertama), sesungguhnya hak dalam mengiringi jenazah adalah HAK SI MAYIT. Maka tidak boleh haknya ditinggalkan karena kemungkaran yang dilakukan oleh orang yang hidup. 
[••]. (Dalam kasus kedua), hak menghadiri walimah adalah HAK TUAN RUMAH (pemilik acara).

Maka jika dia melakukan kemungkaran, gugurlah haknya dengan TIDAK DIPENUHI UNDANGANNYA.”
📋. (I’laamul-muwaqqi’in 4/209)
✅ من دقة فقه الإمام أحمد -رحمه الله-
💯 وَ حـُسـْنِ فــهـم شيخ الإسلام ابن تيمية لأقواله.

❀ فقــه دقيــــق :
❏  قال ابن القيم رحمه الله” :
 نص الإمام أحمد على أن الرجل إذا شهد الجنازة فرأى فيها منكراً ﻻ يقدر على إزالته إنه ﻻ يرجع. 
ونص على إنه إذا دعي إلى وليمة عرس فرأى فيها منكراً ﻻ يقدر على إزالته أنه يرجع. 

❐  قال” فسألت شيخنا ابن تيمية رحمه الله تعالى عن الفرق فقال:
💯  ﻷن الحق في الجنازة للميت فﻻ يترك حقه لما فعله الحي من المنكر.
💯  والحق في الوليمة لصاحب البيت فإذا أتى فيها بالمنكر فقد أسقط حقه من الإجابة. 
📔 إعلام الموقعين (٤/٢٠٩)
Channel : araalfawaiid
📇 Join Channel Telegram :

🔘 http://telegram.me/KEUTAMAANILMU

🔘 http://telegram.me/SERIAKHLAQULKARIMAH

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM THAWAF DAN SA’I (BAG 2)


🇸🇦🌕🕋🌘KESALAHAN-KESALAHAN DALAM THAWAF DAN SA’I (BAG 2)
9⃣Tertawa ketika melakukan thawaf, ini tidak boleh dikarenakan thawaf merupakan ibadah dan shalat sebagaimana yang datang dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhu yang diriwayatkan oleh An Nasai.

Maka tidak boleh tertawa ketika beribadah, dan hendaknya orang yang melakukan thawaf untuk menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang bermanfaat dengan berdzikir, berdoa dan selainnya dari amalan-amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan berpaling dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat.
🔟Seseorang dari jamaah haji memfoto dirinya ketika melakukan thawaf, ini tidak boleh dan termasuk perbuatan riya’ dan sum’ah serta syuhrah (kemasyhuran) yang dilarang serta bertentangan dengan keikhlasan yang diperintahkan oleh Allah dalam beribadah.

Allah berfirman :
فاعبد اللّٰه مخلصا له الدين ألا لله الدين الخالص
“Maka beribadahlah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepadaNya”.
Dan Allah berfirman :
((وما أمروا إلا ليعبدوا اللّٰه مخلصين له الدين))
“Tidaklah mereka diperintah melainkan agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepadaNya”.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
(اللهم أسألك حجة لا رياء فيها ولا سمعة)
“Ya Allah aku meminta kepadamu haji yang tidak ada riya’ dan sum’ah padanya”.
1⃣1⃣Sebagian kaum wanita bertabarruj (pamer aurat) ketika melakukan thawaf, dan ini haram dan tidak boleh. Dan yang wajib bagi seorang wanita untuk menutup auratnya ketika melakukan thawaf sehingga tidak nampak sedikitpun dari rambutnya,tubuhnya dan perhiasannya dikarenakan perempuan adalah aurat.

Berkata Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu : Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : 
“المرأة عورة فإذا خرجت استشرفها الشيطان”.
“Wanita adalah aurat, maka apabila ia keluar rumah maka syaithan akan menghias-hiasinya”.
1⃣2⃣Sebagian jamaah haji dan umrah memulai thawafnya setelah Hajar Aswad, dan ini kesalahan.

Thawaf harus dimulai dari Hajar Aswad dan mengakhiri thawafnya darinya baik thawaf haji atau thawaf umroh atau thawaf tathawwu’, dan tidak sah memulai thawaf setelah Hajar Aswad walaupun sedikit.
1⃣3⃣Mewakilkan thawaf kepada orang lain, dan ini kesalahan.

Thawaf tidak diperbolehkan untuk diwakilkan kepada orang lain, barangsiapa yang tidak mampu melakukan thawaf dengan sebab lanjut usia atau sakit maka boleh baginya melakukan thawaf dengan berkendaraan sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Ummu Salamah :
“طوفي من وراء الناس راكبة”.
“Thawaflah engkau di belakang manusia dengan berkendaraan”.
1⃣4⃣Mengambil jumlah bilangan terbesar apabila ragu tentang jumlah putaran-putaran thawaf, dan ini kesalahan.

Barangsiapa yang ragu apakah ia melakukan thawaf sebanyak 6 putaran ataukah 5 putaran maka ia mengambil jumlah yang diyakini yaitu jumlah terkecil lalu ia menyempurnakan thawafnya dan tidak boleh baginya mengambil jumlah terbesar dikarenakan jumlah terkecil diyakini kebenarannya dan jumlah terbesar masih diragukan kebenarannya maka yang dianggap ialah sesuatu yang diyakini.

◾️الأخطاء في الطواف والسعي◾️

           _الجزء الأول_
▪️التاسع: الضحك والقهقهة أثناء الطواف.

وهذا لا يجوز لأن الطواف عبادة وهو صلاة كما جاء في حديث ابن عباس 

-رضي الله عنه- الذي رواه النسائي ، فلا يصح الضحك أثناء العبادة ، وعلى الطائف أن يشتغل أثناء طوافه بما ينفعه من ذكر ودعاء وغيرهما من القُرب ، ويعرض عما لا نفع له به.
▪️العاشر: تصوير الحاج نفسه أثناء الطواف.

وهذا لا يجوز ، وهو من الرياء والسمعة والشهرة المنهي عنها ، وينافي الإخلاص الذي أمر الله به في العبادة ، قال تعالى: (فاعبد الله مخلصاً له الدين ألا لله الدين الخالص) وقال:(وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين)

وقال النبي -ﷺ- لما حج:(اللهم أسألك حجة لا رياء فيها ولا سمعه)١ 
▪️الحادي عشر: تبرج بعض النساء أثناء الطواف.

وهذا محرم ولا يجوز ، والواجب على المرأة أن تستر أثناء طوافها ولا تظهر شيء من شعرها ولا جسدها ولا زينتها لأن المرأة كلها عورة ، قال ابن مسعود

 -رضي الله عنه-: قال النبي -ﷺ- :

(المرأة عورة فإذا خرجت استشرفها الشيطان)٢.
▪️الثاني عشر: يبدأ بعض الحجاج والمعتمرين طوافه بعد الحجر الأسود.

وهذا خطأ ، الطواف سواء كان طواف حج أو طواف عمرة أو تطوع ، لابد أن يبدأ من الحجر الأسود

ويختم طوافه منه ، ولا يصح ابتداء الطواف بعد الحجر ولو بقليل.
▪️الثالث عشر: الوكالة في الطواف.

وهذا خطأ ، الطواف لا يجوز فيه التوكيل ، من عجز عن الطواف بسبب كبر سنه أو مرضه جاز له أن يطوف راكباً ، كما قال النبي -ﷺ- لأم سلمة طوفي من وراء الناس راكبة. 
▪️الرابع عشر: البناء على الأكثر إذا شك في عدد أشواط الطواف.

وهذا خطأ ، مَن شك هل طاف ستة أشواط أو خمسة ، فإنه يبني على اليقين وهو الأقل ويكمل طوافه ، ولا يبنِ على الأكثر ، لأن الأقل متيقن والأكثر مشكوك فيه والعبرة بالمتيقن.
ــــــــ

١-رواه ابن ماجه عن أنس.

٢-رواه ابن خزيمة وابن حبان.
📚Sumber : “Al Akhtha’ Fit Thawaf Was Sa’i” tulisan Asy Syaikh Badr Bin Muhammad Al Badr Al Anazy حفظه اللّٰه.
🌎http://www.albader1.com/

📲http://cutt.us/EX4li

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

telegram.me/dinulqoyyim

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM THAWAF DAN SA’I (BAG 1)


🇸🇦🌕🕋🌘KESALAHAN-KESALAHAN DALAM THAWAF DAN SA’I (BAG 1)
الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده وأله وصحبه وبعد :
▫️Berikut ini beberapa kesalahan yang terjatuh padanya para jamaah haji dan umrah dalam permasalahan thawaf dan sa’i :
▪️Kesalahan-kesalahan dalam thawaf :
1⃣Melakukan thawaf dengan tanpa bersuci, ini keliru dan tidak boleh dikarenakan thaharah (bersuci) merupakan syarat sahnya thawaf menurut pendapat shahih dari dua pendapat ulama’.

Dalil-dalil syar’i telah menunjukkan dipersyaratkannya thaharah pada thawaf, maka barangsiapa yang melakukan thawaf dengan tanpa bersuci maka mengharuskannya untuk mengulangi thawaf dengan bersuci.
2⃣Mendorong manusia di sisi Hajar Aswad, ini kesalahan dan tidak boleh bagi jamaah haji atau umrah untuk menyakiti kaum muslimin ketika melakukan thawaf baik dengan mendorong maupun mendesak mereka.

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang Umar Bin Khattab radhiallahu anhu dari tindakan mendesak manusia di sisi hajar aswad.

Dan apabila salah seorang jamaah haji atau umrah tidak mampu menyentuhnya maka cukup dengan menunjuk kepadanya disertai ucapan takbir.
3⃣Tidak melakukan idhthiba’*(1) pada Thawaf Qudum, ini kesalahan dikarenakan idhthiba’ hukumnya sunnah menurut jumhur ulama pada Thawaf Qudum dan Thawaf Umrah, adapun Thawaf ifadhah dan Thowaf Wada’ maka tidak ada idhtiba’ padanya.

Dan barangsiapa yang tidak melakukan idhthiba’ baik lupa maupun sengaja maka tidak ada dosa baginya dikarenakan ia meninggalkan sesuatu yang sunnah dan tidak meninggalkan kewajiban.
4⃣Melakukan Ar Raml*(2) pada tujuh putaran ketika melakukan Thawaf Qudum, dan ini kesalahan dikarenakan Ar Raml hukumnya sunnah pada tiga putaran pertama saja, adapun putaran-putaran thawaf selanjutnya maka tidak ada Ar Raml padanya.

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukan Ar Raml pada tiga putaran pertama dan berjalan pada sisa-sisa putaran thawaf.
5⃣Sebagian kaum wanita melakukan Ar Raml ketika thawaf, ini kesalahan dikarenakan Ar Raml khusus bagi kaum laki-laki tanpa kaum wanita menurut jumhur ulama; seorang lelaki melakukan Ar Raml pada tiga putaran pertama dan berjalan pada sisa putaran thawaf dan seorang wanita berjalan pada semua putaran thawaf dan tidak melakukan Ar Raml sedikitpun dan hikmah dari tidak adanya Ar Raml pada kaum wanita ialah agar tidak tersingkap auratnya.
6⃣Sebagian jamaah haji dan umrah menduga bahwa jika thaharahnya batal maka ia mengulangi thawaf dari awal.

Dan yang benar ialah ia tidak mengulangi thawaf namun ia berwudhu’ dan menyempurnakan apa yang tersisa dari thawaf dan tidak mengulangi thawaf dari awal.
7⃣Berdoa secara berjamaah ketika melakukan thawaf, ini kesalahan, dan yang wajib bagi jamaah haji atau umrah agar masing-masing dari mereka berdoa sendiri-sendiri, dikarenakan berdoa secara berjamaah tidak ada dasarnya dalam syariat dan bisa mengganggu orang-orang yang sedang melakukan thawaf.
8⃣Mencari berkah dengan mengusap-usap dinding-dinding Ka’bah atau Hajar Aswad atau Maqam Ibrahim.

Dan ini kesalahan dan tidak boleh serta termasuk bentuk penyelisihan syariat, dan hendaknya bagi jamaah haji dan umrah untuk menyentuh Hajar Aswad dan Rukun Yamani ketika thawaf jika ia dimudahkan dan tidak menyentuh selain keduanya dikarenakan Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak mencari berkah dengan mengusap-usap dinding-dinding Ka’bah, tidak pula Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim namun beliau menyentuh Rukun Yamani dengan tangannya dan tidak menciumnya dan menyentuh Hajar Aswad dan menciumnya.
🗒Catatan kaki :

*(1)Idhtiba’ ialah menyingkap bahu yang kanan dan menutup bahu yang kiri.

*(2)Ar Raml ialah mempercepat langkah disertai mendekatkan langkah-langkah kaki.
◾️الأخطاء في الطواف والسعي◾️

           _الجزء الأول_
الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده وآله وصحبه وبعد:
فهذه جملة من الأخطاء التي يقع بها الحجاج والمعتمرون في الطواف والسعي:
🔻أخطأ الطواف:
▪️الأول: الطواف على غير الطهارة.

وهذا خطأ ، ولا يجوز لأن الطهارة شرط في صحة الطواف في أصح قولي العلماء ، وقد دلت الأدلة الشرعية على اشتراط الطهارة في الطواف ، فمن طاف على غير طهارة لزمه إعادة الطواف بطهارة.

Dinukil dari : Channel Telegram http://telegram.dog/dinulqoyyim

Ketika Untaian Kalamullah Sekedar Jadi Hiasan


🖨. KALIGRAFI
Ketika Untaian Kalamullah Sekedar Jadi Hiasan

___________________
2⃣ Terhadap fenomena yang ada ini, kita katakan kepada saudara kita kaum muslimin: Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya, sebagaimana Dia nyatakan dalam Tanzil-Nya:
ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ
✈. “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian”. (al-Maidah: 3)
📮. Karena agama ini telah sempurna, ia tidak butuh lagi terhadap penambahan dan tidak pula pengurangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pengemban risalah dari Allah telah amanah dalam menyampaikan seluruh risalah Islam ini, tanpa kecuali.
⤴. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus-menerus menegakkan perintah Allah subhanahu wa ta’ala, orang yang ingin memalingkan (beliau) tidak dapat memalingkan. Beliau juga menyeru kepada Allah subhanahu wa ta’ala tanpa ada seorang pun yang dapat merintangi, sampai akhirnya menjadi terang-benderang bumi ini dengan risalah yang beliau bawa setelah sebelumnya dalam keadaan gelap gulita. Menjadi jinaklah (bersatu) hati-hati manusia setelah sebelumnya bercerai berai. Dan berjalanlah dakwah beliau seperti perjalanan mentari di penjuru langit hingga sampailah agamanya sebagaimana sampainya malam dan siang….” (Miftah Daris Sa’adah, 1/105)
((📢. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam kitabnya al-Ushuluts Tsalatsah mengatakan, “Tidak ada satu kebaikan pun melainkan telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tunjukkan kepada umatnya dan tidak ada satu kejelekan pun kecuali telah beliau peringatkan umat darinya.”
📂. Menjadikan al-Qur’an dan hadits nabawi sebagai hiasan dalam bentuk kaligrafi, sama sekali tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah dikenal dan dilakukan oleh para sahabat beliau dan tidak pula oleh orang-orang sesudah mereka dari kalangan para imam yang diberi petunjuk, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai dan merahmati mereka semua.
☝ Seandainya perbuatan tersebut baik, pasti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkannya dan para sahabat, sebagai manusia yang paling bersemangat dalam melakukan kebaikan, pasti telah mendahului kita dalam berbuat demikian.
Bersambung..

________________
📊. Sumber, Asysyariah edisi 008, 4 November 2011. Mutiara Kata
✍.  http://bit.ly/FadhlulIslam
↪ Turut Menyebarkan >> http://telegram.me/KEUTAMAANILMU

_____________________